"Breathing isn't only the automatic exchange of oxygen and carbon dioxide, after all. The way we breathe is influenced by our emotions and environment, and vice versa." -- Shayla Love
Pagi itu, di Pendopo Dusun Kalirejo, Desa Kaliploso, sejumlah warga kembali bersiap menghadapi alat spirometri. Mereka datang bukan untuk memulai pemeriksaan dari awal, melainkan menyempurnakan hasil yang sebelumnya belum dapat terbaca dengan baik. Di balik tiupan napas yang berulang, ada satu hal yang hendak dipastikan, yakni pengukuran fungsi paru yang akurat agar kondisi kesehatan responden dapat dinilai secara lebih tepat.
Senin (26/10), dua enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Kaliploso, Rahmanurraudhotul Amin, SKM, dan Rafini Aminatul Hidayah, S.Tr.Gz., kembali menjadwalkan pemeriksaan ulang spirometri melalui kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi. Kegiatan berlangsung di Pendopo Dusun Kalirejo, RT 02 RW 07, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi.
![]() |
| Suasana pemeriksaan ulang spirometri kedua di Pendopo Dusun Kalirejo, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi |
Mengulang spirometri bukan sekadar mengulang prosedur. Dalam pemeriksaan fungsi paru, hasil yang tidak terbaca (unreadable), tidak valid, atau tidak memenuhi standar kualitas tidak seharusnya dipaksakan untuk ditafsirkan. Pemeriksaan ulang menjadi langkah penting untuk memastikan bahwa data yang diperoleh benar-benar menggambarkan fungsi paru, bukan akibat teknik yang kurang tepat, kendala peralatan, atau kondisi sementara.
Kualitas hasil spirometri sendiri bergantung pada tiga unsur yang saling berkaitan, yaitu tenaga pemeriksa yang terlatih, peralatan yang akurat, serta upaya maksimal responden dalam mengikuti instruksi. Karena itu, ketelitian dan kesabaran menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pemeriksaan.
![]() |
| Meja pendaftaran di area parkir Pondes Kalirejo |
Dari meja pendaftaran hingga embusan napas
Sebanyak 30 responden diundang untuk mengikuti pemeriksaan ulang kali ini. Lima kader setempat - Eva Hariana, Siti Zulaihah Harum Wijayanti, Rio Dita Wibawa, Sri Hidayati, dan Sundari, bersama Sutiyani Eka Rahayu - turut mendukung mobilisasi warga, penyebaran undangan, pendaftaran, hingga antar-jemput responden yang membutuhkan bantuan.
Alur pemeriksaan berlangsung seperti kegiatan sebelumnya. Responden terlebih dahulu melakukan registrasi dan verifikasi data di meja pendaftaran yang dilayani Rafini bersama para kader. Berikutnya, mereka menuju meja tanda-tanda vital (TTV) untuk menjalani pengukuran tekanan darah dan oksimetri oleh Perawat Tria Firnasari, A.Md.Kep. Di meja yang sama, dr. Sapto Aji melakukan anamnesis berdasarkan lembar data serta pemeriksaan fisik menggunakan stetoskop.
Sambil menunggu giliran, Rahman memberikan penjelasan mengenai teknik peniupan udara agar responden lebih siap menjalani tes. Tahap ini penting karena spirometri membutuhkan kerja sama aktif, yakni responden harus mengikuti instruksi dan mengembuskan napas dengan teknik yang tepat.
![]() |
| Dokter dari RS Yasmin Banyuwangi sedang periksa fisik responden |
Tes pertama dilakukan sebelum nebulisasi (pre-nebulisasi). Setelah itu, responden berpindah ke meja di sebelah barat untuk menjalani nebulisasi oleh Meira Safira, S., A.Md.Kep. Prosedur ini menggunakan nebulizer untuk mengubah obat cair menjadi kabut halus yang dihirup melalui saluran pernapasan.
Selesai nebulisasi, responden kembali menunggu panggilan untuk menjalani tes kedua (post-nebulisasi). Dengan demikian, petugas memperoleh pengukuran sebelum dan sesudah pemberian terapi inhalasi sesuai protokol pemeriksaan. Setelah seluruh tahapan selesai, responden kembali ke meja pendaftaran untuk menerima konsumsi, bingkisan, dan subsidi transportasi.
![]() |
| Tes spirometri |
Di antara angka dan kondisi manusia
Pemeriksaan ulang hari itu berakhir pukul 12.45 WIB. Dari 30 responden yang diundang, 26 orang berhasil menjalani pemeriksaan. Dua orang tidak hadir karena berbagai pertimbangan. Seorang responden lainnya, perempuan berusia 74 tahun, tidak dapat melanjutkan pemeriksaan karena mengeluhkan sesak napas dan nyeri dada. Ia tampak menangis; menurut informasi kader, ia juga mengalami depresi. Sementara itu, seorang responden yang telah mengantre terpaksa pulang setelah menerima kabar duka bahwa mertuanya meninggal dunia.
Catatan tersebut mengingatkan bahwa pemeriksaan kesehatan tidak berlangsung di ruang hampa. Kondisi fisik, emosi, dan peristiwa kehidupan dapat memengaruhi kesiapan seseorang untuk menjalani prosedur medis.
Hal ini sejalan dengan pemikiran Shayla Love, seorang jurnalis sains dan penulis kontributor di The New Yorker dan Psyche:
“Bagaimanapun, bernapas bukan sekadar pertukaran oksigen dan karbon dioksida secara otomatis. Cara kita bernapas dipengaruhi oleh emosi dan lingkungan kita, begitu pula sebaliknya.”
![]() |
| Nebulisasi |
Pada akhirnya, pemeriksaan ulang spirometri di Kaliploso bukan hanya tentang melengkapi data penelitian. Ada ketelitian tenaga kesehatan, koordinasi enumerator dan kader, serta pengalaman setiap warga yang ikut menentukan jalannya pemeriksaan. Sebab, di balik setiap angka pada layar spirometer, terdapat manusia dengan kondisi tubuh, kemampuan, dan kisah hidup yang berbeda-beda.
Memastikan hasil terbaca dengan baik berarti memberi ruang bagi data yang lebih dapat dipercaya. Dan memastikan proses berjalan dengan cermat berarti menghargai napas yang menjadi dasar dari setiap pengukuran. *** [271026]
Oleh: Budiarto Eko KusumoEditor: Budiarto Eko Kusumo












0 komentar:
Posting Komentar