Tampilkan postingan dengan label Kemenkes RI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kemenkes RI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Agustus 2023

Dua SD di Ngebruk Dapat Kunjungan Kemenkes dan UNICEF Dalam Rangka Kampanye Generasi Muda Sehat Tanpa Rokok

Setelah kemarin berkegiatan di MA An-Nur Bululawang, hari ini (Rabu, 30/08), Kemenkes dan UNICEF mengadakan Kampanye Generasi Muda Sehat Tanpa Rokok di dua Sekolah Dasar (SD) yang ada di Desa Ngebruk, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang.

Kedua SD tersebut, yaitu SD Negeri 1 Ngebruk dan SD Negeri 4 Ngebruk. SD Negeri (SDN) 1 Ngebruk berada di Jalan Nasional III, Dusun Krajan RT 20 RW 03 Desa Ngebruk, dan SDN 4 Ngebruk beralamatkan di Jalan Kodari No. 116 Dusun Mentaraman, Desa Ngebruk. Jarak dari SDN 1 Ngebruk ke SDN 4 Ngebruk adalah 1,1 kilometer.

UNICEF Chief of Java Field Office berdialog dengan murid-murid SDN 1 Ngebruk dalam Kampanye Generasi Muda Sehat Tanpa Rokok

Hadir dalam kegiatan tersebut adalah dari Kemenkes, UNICEF, Forum Anak Kabupaten Malang, Dinkes Kabupaten Malang, Puskesmas Sumberpucung, Korwil Dinas Pendidikan Kecamatan Sumberpucung, kader SMARThealth Desa Ngebruk, dan seorang anggota Tim SMARThealth Universitas Brawijaya (UB).

Kemenkes diwakili dua staf, yaitu Yolmi Satri, SKM dan Fika Destari, S.E. Lalu, rombongan UNICEF terdiri dari Riana Wulandari (Health Officer UNICEF Indonesia Country Office), Hafiz Al Asad (Communication Officer UNICEF Indonesia Country Office), Tubagus Arie Rukmantara, M.Sc., M.H. (UNICEF Chief of Java Field Office), dan Dr. Armunanto, MPH (Health Specialist Office Java Field Office).

Dari Dinkes Kabupaten Malang, terlihat dua staf PTM dan Keswa, yaitu Bastamil Anwar Aziz, S.Kep.Ners dan Candra Hernawan, S.Kom. Sementara itu, dari Puskesmas Sumberpucung ada Sugianto, S.Kep.Ners, M.Kes (KTU), Istitik Wahyuni, S.Kep.Ners (PP PTM), dr. Mentari Indah Bramanti (dokter fungsional), Nur Kusniati, A.Md. Keb (Petugas UKS), Rahmad Kurniawan, A.Md.Kep (perawat desa Ngebruk), dan Iik Cahyo Putri Suciningati, A.Md.Kep (bidan desa Ngebruk).

Skrining CO Analyzer murid-murid SDN 1 Ngebruk berumur 10 tahun ke atas

Lalu, dari Forum Anak Kabupaten Malang tampak Aryasta Keananda Pradipa Yudha, dan dari Korwil Dinas Pendidikan Sumberpucung adalah Eko Susanto, M.Pd, serta kader SMARThealth Desa Ngebruk ada tiga orang, yakni Nikmatul Ajizah Gumi Ariani, Sriati Gita Rahayu, dan Siti Aisyah.

Berbeda dengan saat Kampanye Generasi Muda Sehat Tanpa Rokok di MA An-Nur Bululawang, kegiatan di dua SD ini tidak ada skrining PTM. Skrining yang dilakukan hanya dengan menggunakan Serenity CO Analyzer Pro, yaitu perangkat skrining Karbon Monoksida untuk membantu setiap orang yang ingin mengetahui seberapa banyak tingkat CO ada di tubuh mereka atau di lingkungan mereka yang dapat membahayakan kehidupan.

Rombongan yang hadir diterima dengan ramah oleh Kepala SDN 1 Ngebruk, Sri Rahayu, S.Pd., beserta jajarannya. Acara dimulai pada pukul 09.09 WIB di SDN Ngebruk 1. Mula-mula murid kelas 4, 5, dan 6 dikumpulkan di ruang kelas III dan II terhubung. Mereka mendengarkan terlebih dahulu pengantar dari Kemenkes, lalu dilanjutkan dengan pemberian materi bahaya merokok dari Aryasta Keananda Pradipa Yudha (Forum Anak Kabupaten Malang).

Suasana skrining CO Analyzer di Aula SDN 1 Ngebruk

Setelah rombongan UNICEF tiba di SDN 1 Ngebruk, acara langsung diisi dengan Kampanye Generasi Muda Sehat Tanpa Rokok. Tubagus Arie Rukmantara selaku UNICEF Chief of Java Field Office senantiasa menyempatkan diri untuk berdialog dengan murid-murid. Dipanggil satu persatu untuk beberapa orang murid.

Dalam berdialog tersebut, Arie selalu menyelipkan pesan untuk memastikan murid-murid di sini mempunyai cita-cita tanpa harus merokok. Makanya, setiap usai berdialog, Arie selalu mengingatkan kepada murid, “Kalau mencapai cita-cita tidak boleh merokok.”

Usai kampanye yang sarat dengan pesan-pesan dari UNICEF, murid-murid dipanggil secara berkelompok menuju ke aula untuk mengikuti skrining CO Analyzer yang dilakukan oleh Bastamil Anwar Aziz (Dinkes), Istitik Wahyuni (Puskesmas Sumberpucung), dan dr. Mentari Indah Bramanti (Puskesmas Sumberpucung).

Usai diskrining CO Analyzer, murid-murid membubuhkan tanda tangan dan menulis pesan untuk tidak merokok dengan kata-kata mereka sendiri

Di SDN 1 Ngebruk ini ada 100 orang yang diskrining CO Analyzer, yang diambil dari murid kelas 4, 5, dan 6. Setelah ikut skrining, murid-murid membubuhkan tanda tangan dan kata-kata berisi anjuran tidak merokok di banner Siap Menerapkan Sekolah Sebagai Kawasan Tanpa Rokok, dan setelah itu diteruskan dengan mengisi daftar hadir sambil mengambil snack maupun nasi kotak yang telah disediakan oleh Kemenkes.

Selesai skrining CO Analyzer bagi 100 murid SDN 1 Ngebruk, rombongan bergerak menuju ke SDN 4 Ngebruk untuk berkegiatan yang sama dengan apa yang telah dilakukan di SDN 1 Ngebruk. 

Tiba di SDN 4 Ngebruk, rombongan diterima dengan ramah oleh Kepala SDN 4 Ngebruk, Suci Wulandari, S.Pd.SD beserta jajarannya. Di SDN 4 Ngebruk dilakukan skrining CO Analyzer terhadap 105 orang murid, yang diambil dari kelas 3, 4, 5, dan 6 SD. Syaratnya minimal berumur 10 tahun.

Suasana skrining CO Analyzer di SDN 4 Ngebruk

Jadi, total skrining CO Analyzer dari dua SD di Ngebruk itu ada 205 murid, sama banyaknya saat melakukan skrining CO Analyzer tatkala melakukan Kampanye Generasi Muda Sehat Tanpa Rokok di MA An-Nur Bululawang, sehari sebelumnya. Hasil skrining sebanyak 205 murid dari dua SD itu, untuk entry datanya dibantu oleh tiga kader SMARThealth dari Desa Ngebruk.

Pulang dari SDN 4 Ngebruk usai mencicipi hidangan yang telah disediakan, rombongan kembali ke SDN 1 Ngebruk untuk berpamitan karena tadi mengejar waktu sebelum murid SDN 4 Ngebruk pada pulang semua. Sekitar pukul 13.00 WIB, rombongan berpamitan kepada Kepala SDN 1 Ngebruk setelah disuguhi aneka hidangan dan bakso. *** [300823]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Selasa, 29 Agustus 2023

UNICEF dan Kemenkes Kampanye Generasi Muda Sehat Tanpa Rokok di MA An-Nur Bululawang

Sebuah mobil Kijang berplat nomor CD memasuki halaman Madrasah Aliyah (MA) An-Nur yang terletak di Jalan Diponegoro 4 No. 262 Desa Bululawang, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur.

Kepanjangan dari CD adalah Corps Diplomatic atau disebut juga dengan Corps Consulaire (CC). Biasanya yang menggunakan plat berkode CD merupakan kendaraan milik kedutaan besar dari negara-negara yang membuka kantor perwakilannya di Indonesia, juga bisa merupakan kendaraan dari organisasi internasional.

Berpose bersama siswa santriwan MA An-Nur Bululawang

Mobil Kijang berplat nomor CD itu ternyata mobil rombongan dari United Nations International Children’s Emergency Fund (UNICEF) atau Dana Darurat Anak Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Hari ini, Selasa (29/08), UNICEF bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia mengadakan Kampanye Generasi Sehat Tanpa Rokok di MA An-Nur Bululawang yang dipusatkan di Aula MA yang berada di lantai 3 di dalam kompleks sekolahan, yang merupakan milik Pondok Pesantren (Ponpes) An-Nur.

Sambutan dari perwakilan Kemenkes RI

Rombongan UNICEF terdiri dari empat orang. Tiga orang datang duluan, terdiri dari Riana Wulandari (Health Officer UNICEF Indonesia Country Office), Hafiz Al Asad (Communication Officer UNICEF Indonesia Country Office) dan Dr. Armunanto, M.PH (Health Specialist Java Field Office), sedangkan Tubagus Arie Rukmantara, M.Sc., M.H. (UNICEF Chief of Java Field) datang menyusul. Sementara dari Kemenkes, terlihat Yolmi Satri, SKM dan Fika Destari, S.E.

Selain UNICEF dan Kemenkes, acara ini juga dihadiri oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang, dan Puskesmas Bululawang serta seorang anggota Tim SMARThealth Universitas Brawijaya (UB). 

Siswa santriwan ikuti skrining dengan CO Analyzer

Dari Dinkes ada dua orang dari Sub Substansi PTM dan Keswa, yakni Bastamil Anwar Aziz, S.Kep. Ners dan Candra Hernawan, S.Kom. Kemudian dari Puskesmas Bululawang hadir enam orang, meliputi drg. Lely Kumalasari (Kepala Puskesmas), dr. Nugraha Saputra (dokter fungsionalis), dan empat perawat (Intati, Ike Sri Mey Wulan, Nur Azizah, dan Anis Indah Sari).

Kehadiran mereka semua disambut langsung oleh Kepala MA An-Nur Bululawang, K.H. Mursidi, S.Ag, M.Pd.I beserta sejumlah jajaran guru dan siswa santriwan. Siswa santriwatinya belum tampak. Karena dalam tradisi ponpes, jam sekolah antara siswa santriawan dan siswa santriwati harus dipisah.

Staf Kemenkes bersama UNICEF berdialog dengan siswa santriwan

Pada acara kampanye ini berisikan sejumlah kegiatan, seperti pemaparan materi, skrining faktor risiko PTM dan diagnostik menggunakan Serenity CO Analyzer PRO, yaitu perangkat skrining Karbon Monoksida untuk membantu setiap orang yang ingin mengetahui seberapa banyak tingkat CO ada di tubuh mereka. Alat ini dapat membantu keberhasilan orang dalam berhenti merokok.

Pemaparan materi dengan judul “Zaman sekarang ga ngerokok? Emang keren?” disampaikan oleh Aryasta Keananda Pradipa Yudha dari Forum Anak Kabupaten Malang, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Malang, yang  juga Koordinator Divisi Teknologi dan Informasi.

Berpose bersama siswa santriwati MA An-Nur Bululawang

Usai pemparan materi, acara langsung dilanjutkan dengan kegiatan skrining PTM maupun CO Analyzer yang dilakukan oleh tenaga kesehatan (nakes) Puskesmas Bululawang, baik dokter maupun perawatnya.

Dari banyaknya siswa yang berjumlah sekitar 670-an orang itu, akan diambil 205 orang untuk mengikuti skrining PTM dan CO Analyzer dalam kegiatan tersebut, yang dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama diikuti oleh siswa santriwan, dan lepas Dhuhur dan makan siang acara disambung dengan skrining PTM dan CO Analyzer bagi siswa santriwati.

Siswa santriwati ikuti skrining dengan CO Analyzer

Setiap sesi diisi juga pembagian kaos biru bertuliskan "I Support UNICEF untuk setiap anak" bagi mereka yang bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh UNICEF, dan sekaligus ajakan untuk hidup sehat tanpa rokok. Pada sesi siswa santriwan dibagikan tiga kaos, begitu pula pada sesi siswa santriwati juga dibagikan tiga kaos.

Dari hasil skrining PTM, diketahui bahwa siswa baik santriwan maupun santriwati nihil dalam memiliki faktor risiko PTM. Namun pada skrining dengan CO Analyzer diketahui terdapat dua siswa santriwan yang mendapatkan hasil pengukuran yang di atas normal. Artinya, dua orang siswa santriwan tersebut mempunyai faktor risiko terhadap risiko PTM yang disebabkan oleh rokok.

Usai diajak berdialog dengan bahasa Inggris  bersama UNICEF Chief of Java Field, santriwati mendapatkan kaos biru I Support UNICEF untuk setiap anak

Oleh karena itu, UNICEF melakukan sosialisasi untuk tidak merokok. Karena merokok adalah salah satu faktor yang paling berbahaya menimbulkan PTM, seperti jantung, stroke, diabetes, hipertensi, dan sebagainya.

UNICEF ingin membantu anak-anak Indonesia untuk bertahan hidup dan berkembang maksimal dari usia dini hingga remaja. Dengan semakin meningkatnya prevalensi perokok anak, maka UNICEF bersama Kemenkes menginisiasi Kampanye Generasi Muda Sehat Tanpa Rokok. *** [290823]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Rabu, 01 Februari 2023

Dari Ngurusi Keswa, Puskesmas Bantur Bergema

Dari bimtek Keswa, dua mobil warna hitam meluncur dari halaman Kantor Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang menuju Puskesmas Bantur. Dua mobil itu berisi 4 rombongan. Mobil warna hitam berplat L merah membawa rombongan Kemenkes dan Dinkes Provinsi Jawa Timur (Dinkes Jatim).

Sementara itu, mobil warna hitam yang satunya berplat N putih diisi oleh rombongan Substansi PTM dan Kesehatan Jiwa (Keswa) Dinkes Kabupaten Malang, peneliti Universitas Brawijaya (UB), peneliti Manchester Metropolitan University (MMU), dan salah seorang Tim SMARThealth UB.

Rombongan Kemenkes berpose di depan pintu Puskesmas Bantur

Dua mobil empat rombongan itu akan melakukan kunjungan ke Puskesmas Bantur untuk beraudiensi dan sekaligus melihat implementasi program Keswa yang ada di Puskesmas Bantur. Perjalanan dari Kantor Dinkes Kabupaten Malang ditempuh dengan waktu sekitar satu jam.

Begitu tiba di Puskesmas Bantur yang beralamatkan di Jalan Raya Bantur No. 2203 Dusun Krajan RT 38 RW 08 Desa Bantur, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, rombongan disambut oleh sejumlah tenaga kesehatan dan Kepala Puskesmas (Kapus), dan kemudian langsung diajak menuju ke Ruang Pertemuan Puskesmas yang berada di lantai 2.

Di ruang itu, Kapus Bantur Soebagijono, S.Kep, Ns, M.M.Kes memberikan sambutan dan sekaligus penjelasan mengenai “Kesehatan Jiwa Di Masyarakat.” Melalui slide yang ditransmisi ke TV Lead, Soebagijono menjelaskan latar belakangnya.

Dimulai dengan adanya problematika kesehatan jiwa yang terjadi di masyarakat, seperti dtelantarkan, dikucilkan, dan dipasung. Kesalahan pemahaman di masyarakat yang diperparah dengan adanya stigma di masyarakat terkait ODGJ, menyebabkan kesehatan jiwa selalu identik dengan perawatannya harus di rumah sakit jiwa (RSJ).

Suasana audiensi di Ruang Pertemuan Lt. 2 Puskesmas Bantur

Kompleksitas kesehatan jiwa bisa ada di individu itu sendiri, di keluarganya, atau di masyarakat. Oleh karena itu, penanganan masalah gangguan jiwa itu harus lintas sektor. Puskesmas tak akan mampu menangani jika tidak mendapat dukungan dari organisasi sosial lainnya.

Selesai penjelasan dari Kapus Bantur, Ketua Tim Kerja Surveilans Kesehatan Jiwa & Napza Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI, dr. Herbert Sidabutar, Sp.KJ memberikan sambutan secara singkat. Dalam sambutannya, dr. Herbert mengatakan bahwa kunjungan kami kemari, ingin melihat dengan nyata program Keswa yang telah dijalankan di Puskesmas Bantur hingga bereputasi nasional.

Pukul 13.29 WIB dilakukan sesi tanya jawab. Ada 3 penanya dalam sesi tersebut. Pertanyaan pertama datang dari dr Herbert. “Apa yang mendorong Pak Bagijo melakukan ini?” tanyanya dihadapan lainnya yang ikut beraudiensi.

Kapus pun menjawabnya. Bermula dari melihat orang di pasung, saya kasihan dan tertarik untuk memahaminya. Kebetulan ada adik saya menjadi Kepala ODGJ di sebuah RSJ. Dari situ kemudian Soebagijono melakukan advokasi kepada kader.

Penjelasan Kapus Bantur dihadapan rombongan Kemenkes

Ia pun pernah difasilitasi untuk pelatihan di UI dan diberi tantangan di Bogor. Setelah pulang, Kapus merasa bisa mengembangkan ke desa lainnya. Pada saat itu program Keswa baru dalam pegembangan, namun setelah tahu bahwa sumber pasung adalah keluarga, maka dimulailah pendekatan kepada keluarga dan sekaligus melakukan promkes.

Pertanyaan berikutnya datang dari Syaifudin Ridwan, S.Psi, M.Psi dari Keswa Dinkes Jatim. “Bagaimana strategi pembebasan pasung yang Pak Bagijo lakukan selama ini? tanyanya kepada Kapus Bantur.

Pada kesempatan ini, Kapus Bagijo menerangkan bahwa ada tahapan-tahapannya. Melibatkan perawat, keluarga, masyarakat, dan pemerintah desa. Prosesnya bisa memakan waktu 3 sampai 6 bulan.

Terakhir, peneliti MMU pun bertanya untuk mendapat gambaran perlakuan selama ini. “Dalam masyarakat, ada kelompok sehat dan ada kelompok risiko. Apa tindakannya agar tidak berlanjut?” tanyanya kepada Kapus Bagijo.

Kapus Bantur menjelaskan kepada rombongan Kemenkes tentang hal yang ada di Poli Jiwa

Kata Kapus Bagijo, dalam kelompok risiko akan diberikan pelatihan manajemen stress, termasuk kepada kelompok yang sehat. Sementara itu, untuk yang terindikasi ODGJ harus mendapat penanganan khusus berupa pengobatan atau farmakologi.

Setelah sesi tanya jawab, dr. Herbert pun memberikan kesempatan kepada Kapus Bagijo untuk menyampaikan apa yang dikehendaki dengan kunjungan Kemenkes ke Puskesmas Bantur ini. Pada kesempatan ini, Kapus Bagijo berharap agar program jiwa menjadi program yang diprioritaskan.

Mengapa demikian? Menurut Kapus Bagijo, karena dalam kesehatan jiwa ada banyak persoalan di dalamnya, termasuk sosial ekonomi. Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya target penanganan dari Puskesmas Bantur bukan ke arah klinis saja tetapi juga sosial.

Selesai diskusi itu, rombongan diajak menuju ke Poli Jiwa yang dimiliki Puskesmas Bantur. Poli Jiwa berada di lantai 2 bangunan lain di sebelah timur dari ruang pertemuan. Poli itu menghadap ke utara dipojok timur laut dari gedung itu.

Rombongan Kemenkes disambut di halaman parkir setibanya di Puskesmas Bantur

Di Poli Jiwa itu, Kapus Bagijo memperlihatkan peta kesehatan jiwa wilayah kerja Puskesmas Bantur bulan Desember tahun 2022, dan etalase yang berisi hasil kerajinan ODGJ. Kata Kapus Bantur, hasil karya berupa kerajinan ini akan selalu dipromosikan di sela-sela ada kegiatan yang dihadiri banyak orang.

Dari Poli Jiwa ini, berakhirlah rangkaian kunjungan rombongan Kemenkes yang disertai rombongan Dinkes Jatim, Dinkes Kabupaten Malang, serta dua peneliti dan salah seorang Tim SMARThealth UB. 

“Dari Ngurusi Keswa, Puskesmas Bantur Bergema”, begitulah kira-kira yang dirasakan rombongan tersebut setelah berkunjung ke sana, dan mendapat penjelasan serta bukti-bukti dokumentasinya. *** [010223]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Selasa, 31 Januari 2023

Kemenkes Adakan Bimtek dan Monev Pelayanan Keswa di Kabupaten Malang

Ditengarai mendung tebal yang sesekali gerimis, hari ini, Selasa (31/01/2023), Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia (RI) mengadakan Bimtek dan Monev Pelayanan Kesehatan Jiwa (Keswa) di Kabupaten Malang.

Kegiatan yang difasilitasi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang melalui Substansi PTM dan Keswa ini diselenggarakan di Ruang Multimedia Lantai 2 yang berada di Jalan Panji No. 120 Kepanjen, Kabupaten Malang.

Sesuai Lampiran Bimtek dan Monev Layanan Kesehatan Jiwa Provinsi Jawa Timur Nomor 005/482/35.07.103/2023, yang diundang ada 15 penanggung jawab Keswa Puskesmas: Wonokerto, Dampit, Pamotan, Turen, Bululawang, Gondanglegi, Ketawang, Pagelaran, Kepanjen, Sumberpucung, Kromengan, Pakisaji, Wagir, Ngajum, dan Wonosari.

Kadinkes berpose dengan rombongan Kemenkes dan Dinkes Provinsi Jawa Timur serta semua peserta bimtek

Selain itu, tampak hadir pula peneliti Universitas Brawijaya (UB) yang sekaligus menjadi Team Leader SMARThealth UB, peneliti Manchester Metropolitan University (MMU), dan salah seorang Tim SMARThealth UB.

Acara bimtek ini dimulai setelah rombongan Kemenkes yang didampingi dari Dinkes Provinsi Jawa Timur memasuki Ruang Multimedia pada pukul 09.50 WIB. Sebelumnya di ruang itu telah diadakan diskusi antara penanggung jawab Keswa dengan peneliti Universitas Brawjijaya (UB) dan Manchester Metropolitan University (MMU).

Master of Ceremony Gatot Sujono, S.S.T., M.Pd menyambut rombongan Kemenkes dan Dinkes Provinsi Jawa Timur dengan ucapan selamat datang dan mempersilakan untuk menempati tempat duduk yang telah disediakan.

Acara pun langsung dilanjutkan dengan sambutan dari dr. Herbert Sidabutar, Sp.KJ selaku Ketua Rombongan Kemenkes, tepatnya dari Tim Kerja Surveilans Kesehatan Jiwa & Napza Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat. Dalam sambutannya, dr. Herbert tidaklah lama. Ia mengatakan bahwa rombongan Kemenkes kemari berempat.

Sambutan Kadinkes Kabupaten Malang

Kunjungannya kemari dalam rangka bimtek terkait dengan tata kelola dalam pelayanan kesehatan jiwa. Dalam tata kelola ini, ada sejumlah indikator baru yang perlu dipelajari oleh penanggung jawab Keswa Puskesmas yang hadir di ruangan ini.

Sambutan kedua disampaikan oleh Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Malang, Tri Awignami Astoeti, SKM, M.M.Kes. Pada kesempatan itu, Awi mengingatkan bahwa dalam pelayanan Keswa yang diperlukan bagaimana tindak lanjut setelah ditemukan hasil skriningnya.

Sementara itu, dalam sambutan berikutnya, Syafiudin Ridwan, S.Psi., M.Psi, dari Keswa Dinkes Provinsi Jawa Timur menandaskan bahwa kita akan belajar banyak mengenai Keswa dan Napza. Mulai dari indikatornya hingga pelaporannya. Oleh karena itu, Ridwan meminta agar peserta bimtek untuk senantiasa fokus.

Selesai sambutan, acara diteruskan dengan pemaparan materi dari Kabid P2P Dinkes Kabupaten Malang dengan titel “Capaian Program Keswa Napza Tahun 2022 Dinkes Kabupaten Malang,”  dan disimak oleh rombongan Kemenkes.

Presentasi materi dari Kabid P2P Dinkes Kabupaten Malang itu kemudian ditanggapi oleh dr. Herbert dengan sejumlah pertanyaan usai ia menjelaskan “Capaian Indikator Pembinaan Kesehatan Jiwa Tahun 2022.”

Kabid P2P mempresentasikan Capaian Program Keswa Napza Tahun 2022 Dinkes Kabupaten Malang

Menurut dr. Herbert ada 3 indikator dan RPJMN. Indikator 1: Persentase Penduduk Usia ≥ 15 Tahun Dengan Risiko Masalah Kesehatan Jiwa yang Mendapatkan Skrining. Indikator 2: Persentase Penyandang Gangguan Jiwa yang Memperoleh Layanan di Fasyankes. Indikator 3: Jumlah Penyalahguna NAPZA Yang Mendapatkan Pelayanan Rehabilitasi Medis, dan RPJMN: ODGJ Berat Yang Mendapat Layanan Sesuai Standar (%).

Ada grafik dalam Capaian Program Keswa Napza Tahun 2022 Dinkes Kabupaten Malang  yang ditanyakan oleh dr. Herbert, dan kemudian disesuaikan dengan mengacu kepada materi yang dipaparkan oleh dr. Herbert.

Dalam pertanyaan itu, selain ditujukan kepada Dinkes Kabupaten Malang juga diarahkan kepada sejumlah laporan grafik dari beberapa Puskesmas yang ada. Setelah itu, dr. Herbert mengajak membahas dari Google Form yang telah diisi oleh peserta yang hadir.

Namun baru dua menit membahas, Kadinkes Kabupaten Malang memasuki Ruang Multimedia, dan oleh MC dipersilakan untuk memberikan sambutan. Dalam sambutannya, Kadinkes drg. Wiyanto Wijoyo, M.M.Kes mengatakan bahwa dalam bimtek ini, saya berharap agar penanggung jawab Keswa bersemangat dalam mengerjakan program jiwanya.

Suasana bimtek Keswa Kemenkes di Ruang Multimedia Lt. 2 Dinkes Kabupaten Malang

Diakui oleh Kadinkes, masih banyak kendala yang dijumpai dalam penanganan ODGJ, khususnya menyangkut masalah rujukan ke rumah sakit. Menurutnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang telah menggelontorkan anggaran untuk penanganan masalah tersebut, namun terkadang ketiadaan identitas menjadi persoalan.

Usai sambutan Kadinkes, dr. Herbert kembali meneruskan membahas isian dalam Google Form yang telah diisi oleh peserta bimtek ini, dan setelahnya dilanjutkan dengan sesi tanya jawab hingga acara bimtek ini berakhir pada pukul 11.39 WIB.

Selesai acara bimtek, rombongan Kemenkes dan Dinkes Provinsi Jawa Timur tidak langsung kembali melainkan melakukan kunjungan ke Puskesmas Bantur untuk beraudiensi dan melihat dari dekat program pelayanan Keswa yang telah dikembangkan di sana yang telah berprestasi di tingkat nasional. *** [310123]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Peneliti UB dan MMU Ajak Diskusi 15 Penanggung Jawab Keswa di Kabupaten Malang

Ruang Multimedia Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang sekitar pukul 07.45 WIB sudah dibuka. Staf Kesehatan Jiwa (Keswa) telah mempersiapkan untuk acara Bimtek dan Monev Pelayanan Keswa oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI yang didampingi dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur.

Pukul 08.12 WIB, peserta bimtek mulai berdatangan. Ada 15 penanggung jawab Keswa dari 15 Puskesmas diundang oleh Dinkes Kabupaten Malang untuk mengikuti Bimtek dan Monev Pelayanan Keswa, meliputi Wonokerto, Dampit, Pamotan, Turen, Bululawang, Gondanglegi, Ketawang, Pagelaran, Kepanjen, Sumberpucung, Kromengan, Ngajum, Wonosari, Wagir, dan Pakisaji.

Peneliti UB dan MMU berdiskusi dengan penanggung jawab Keswa Puskesmas di Ruang Multimedia Dinkes Kabupaten Malang

Sambil menunggu kedatangan Tim dari Kemenkes dan Dinas Provinsi Jawa Timur, Sub Koordintator Substansi PTM dan Keswa Dinkes Kabupaten Malang mempersilakan kepada dua peneliti, yaitu dari Universitas Brawijaya (UB) dan Manchester Metropolitan University (MMU), untuk mengisinya dengan diskusi terlebih dahulu kepada 15 penanggung jawab Keswa tersebut.

Dari meja depan yang ada hiasan bunga warna biru muda dan pink itu, peneliti UB Sujarwoto, S.IP, M.Si, MPA, Ph.D dan peneliti MMU dr. Asri Maharani, MMRS, Ph.D akan mulai mengawali diskusi tentang permasalahan Keswa di Kabupaten Malang.

Namun sebelum masuk ke acara diskusi, terlebih dahulu acara diisi dengan prolog dari Sub Koordinator Substansi PTM dan Keswa Dinkes Kabupaten Malang, Paulus Gatot Kusharyanto, SKM, yang menyebut 15 peserta itu sebagai pejuang jiwa yang tak pernah mengenal lelah.

Setelah itu, peneliti UB  Sujarwoto juga dipersilakan memberikan sambutan oleh Master of Ceremony Gatot Sujono, S.S.T., M.Pd. Dalam sambutan yang singkat itu, Sujarwoto mengatakan bahwa sambil menunggu kedatangan dari Tim Kemenkes dan Dinkes Provinsi Jawa Timur, marilah waktu ini kita gunakan untuk mengobrol santai berkenaan dengan program Keswa di Kabupaten Malang.

Suasana Ruang Multimedia di awal diskusi tentang Keswa

Usai sambutan singkat, Sujarwoto pun langsung memandu diskusi dengan mempersilakan peneliti MMU Asri Maharani untuk memulainya. Diawali dengan memperkenalkan diri, Asri menjelaskan perihal diskusi ini. 

“Kita sudah mengenalkan SMARThealth di Kabupaten Malang semenjak tahun 2016. Awalnya fokus pada PTM utamanya menyangkut penyakit kardiovaskular dan pembuluh darah lainnya. Dalam pengembangan ini, saya ingin mengarah ke program jiwa,” kata Asri Maharani dihadapan 15 peserta dari 15 Puskesmas yang ada di Kabupaten Malang.

Di Inggris, tambah Asri, mental health menjadi prioritas yang utama. Mengapa? Karena angka prevalensinya cukup tinggi, di atas 30% setelah adanya pandemi COVID-19. Dengan lockdown total, masyarakat di Inggris mengalami loneliness (kesepian) dan social isolation (isolasi sosial) yang diperparah dengan kenyataan di sana budaya individual begitu menonjol.

Oleh karena itu di Inggris, perawatan terkait mental health cukup berkembang dan maju. Dari situ, kita tertarik untuk melihat kasus-kasus di Indonesia agar bisa mengembangkan pelayanan Keswa dari yang sudah ada menjadi semakin terlembaga dengan baik.

Salah seorang peserta perempuan menceritakan pengalamannya dan juga bertanya kepada peneliti

Pada kesempatan itu, peneliti UB dan MMU ingin sekali mendengar pengalaman-pengalaman penanggung jawab Keswa agar berkenan menceriterakan suka dukanya dalam melaksanakan program Keswa tersebut.

Kemudian ada 4 penanggung jawab Keswa mulai berkisah, dan sesekali juga bertanya kepada peneliti tersebut. Ceritera diawali dari penanggung jawab Keswa Puskesmas Pakisaji, Nur Asih Yuli Purwanti, A.Md.Kep yang punya pengalaman bekerja di RSJ Menur Surabaya.

Pengalaman kedua dituturkan oleh penanggung jawab Keswa Puskesmas Bululawang, Siti Aisa, A.Md.Keb., dan diteruskan dengan penanggung jawab Keswa Puskesmas Turen, Dwi Cahyono, A.Md.Kep, dan diakhiri dengan kisah dari penanggung jawab Keswa Puskesmas Gondanglegi, Rindang Kurniawan, A.Md. Kep.

Dari cerita pengalaman-pengalaman itu, peneliti akan menanyakan sejumlah pertanyaan untuk mengetahui lebih lanjut mengenai bagaimana kendala yang dihadapi selama ini, yang pada umumnya keempat penanggung jawab itu mengatakan bahwa dengan keterbatasan dana dan waktu, Puskesmas tidak bisa melakukan skrining seluruhnya. Dengan tidak adanya skrining yang menyeluruh tentunya berimplikasi pada kesulitan memprediksi masyarakat yang mengalami gangguan jiwa atau mental lainnya.

Salah seorang peserta laki-laki menceritakan pengalaman di Puskesmasnya dan kemudian bertanya kepada peneliti

Pengalaman itu tidak hanya datang dari penanggung jawa Keswa Puskesmas saja. Staf Keswa Dinkes Kabupaten Malang juga urun rembug dalam mengisahkan pengalaman suka duka dalam menangani masalah ODGJ di Kabupaten Malang.

Dari diskusi ini, setidaknya peneliti UB dan MMU sudah mendapat gambaran awal pelaksanaan program Keswa di Kabupaten Malang dengan segala suka dukanya di lapangan yang penuh dengan tantangan.

Diskusi yang memakan waktu sekitar 1 jam 7 menit ini berakhir setelah Tim Kemenkes dan Dinkes Provinsi Jawa Timur tiba di Kantor Dinkes Kabupaten Malang, karena acara akan dilanjutkan dengan Bimtek dan Monev Pelayanan Keswa di Kabupaten Malang. *** [310123]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Risk Checker

Risk Checker

Indeks Massa Tubuh

Supplied by BMI Calculator Canada

Statistik Blog

Sahabat eKader

Label

Arsip Blog