Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. La ilaha illallah. Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil-hamd
Suasana hangat Idul Adha 1447 Hijriah terasa begitu hidup di Musholla Miftakhul Khoir, Dusun Sonokembang RT 05 RW 04 Desa Sepanjang, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang.
Sehari sebelum pelaksanaan kurban, seorang Field Facilitator NIHR UB yang juga anggota Tim SMARThealth UB menerima voice invitation dari Ibu Masito, kader SMARThealth Desa Sepanjang, untuk hadir menyaksikan prosesi penyembelihan hewan kurban di musholla tersebut.
Undangan sederhana itu membawa pada sebuah pemandangan penuh makna, yaitu semangat gotong royong, kebersamaan, dan pengabdian yang tumbuh dari sebuah musholla kecil berukuran sekitar 6 x 7 meter di bawah asuhan takmir sepuh, Bapak Modin H. Hasan Bisri.
![]() |
| Musholla Miftakhul Khoir di Dusun Sonokembang RT 05 RW 04 Desa Sepanjang, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang |
Meski bangunan mushollanya sederhana, jumlah hewan kurban yang disembelih tidak kalah dengan daerah lain. Tahun ini, Musholla Miftakhul Khoir menyembelih satu ekor sapi limosin (Bos taurus) berbadan besar dan dua belas ekor kambing.
Sekitar 90 warga terlibat dalam seluruh proses kurban. Penyembelihan dilakukan di tepi jalan kampung, sementara proses pemotongan dan pengemasan daging dipusatkan di halaman RA Miftakhul Khoir.
![]() |
| Pencacahan daging dan tulang |
Namun sebelum pembagian dilakukan, seluruh warga yang bekerja terlebih dahulu diajak makan bersama. Tradisi “kembul bujono” menjadi momen yang tak kalah dinanti. Di tengah aroma gulai dari daging kurban yang mengepul hangat, warga duduk bersama tanpa sekat, menikmati hidangan sambil bercengkerama. Kebersamaan itu menghadirkan suasana yang sulit ditemukan dalam rutinitas sehari-hari.
Idul Adha di Musholla Miftakhul Khoir bukan sekadar kegiatan tahunan menyembelih hewan kurban. Lebih dari itu, ia menjadi ruang perjumpaan antara nilai spiritual, solidaritas sosial, dan tradisi budaya yang terus hidup di tengah masyarakat desa.
![]() |
| Penimbangan daging hewan kurban yang akan dibagikan kepada masyarakat |
Menurutnya, kurban bukan hanya praktik keagamaan, tetapi juga bentuk penyerahan diri manusia kepada kehendak Tuhan, sekaligus sarana membangun solidaritas dan makna hidup bersama.
Dalam tradisi Islam, kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam menjadi inti dari ritual pengorbanan tersebut. Pengorbanan tidak semata dimaknai sebagai mempersembahkan hewan, melainkan kesediaan manusia melepaskan keterikatan terhadap apa yang dimilikinya demi mendekatkan diri kepada Allah. Di situlah makna qurbiyet atau kedekatan spiritual menemukan bentuknya.
![]() |
| Masyarakat yang bertugas dalam penyembelihan hewan kurban melakukan makan bersama gulai sebelum membagikan kepada masyarakat |
Sejalan dengan makna tersebut, seorang penyair, penulis, jurnalis, dan cendekiawan Belanda yang berasal dari Pakistan, Ehsan Sehgal, pernah mengatakan:
“Idul Adha merupakan ungkapan syukur kepada Nabi Ibrahim dan mempersembahkan kurban yang paling Anda cintai, di jalan Allah, untuk menyucikan perjalanan hidup, takdir, dan tujuan Anda.”
![]() |
| Modin Desa Sepanjang mengucapkan terima kasih kepada warga yang sudah cancut taliwondo dalam penyembelihan hewan kurban |
Di Musholla Miftakhul Khoir, nilai-nilai itu hadir dalam bentuk yang sangat sederhana namun nyata, yakni tangan-tangan warga yang bekerja bersama, makanan yang disantap bersama, dan daging kurban yang dibagikan dengan penuh rasa syukur.
Dari musholla kecil di sudut Desa Sepanjang itu, Idul Adha menjelma menjadi pelajaran tentang bagaimana pengorbanan dapat mempererat hubungan manusia dengan Tuhan sekaligus dengan sesamanya. *** [270526]
















