Tampilkan postingan dengan label Desa Sarimulyo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Desa Sarimulyo. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Oktober 2026

Di Rumah Kamituwo, Napas-Napas Itu Kembali Ditiupkan: Cerita Pemeriksaan Ulang Spirometri di Sarimulyo

“For breath is life, so if you breathe well you will live long on earth.” – Sanskrit Proverb

Di Desa Sarimulyo, angka bukan sekadar angka. Ketika empat kali tes spirometri meninggalkan hasil yang tak terbaca, puluhan warga kembali duduk di kursi yang sama, bukan karena gagal, melainkan karena napas mereka layak diperjuangkan.

Udara pagi di Dusun Pandansari, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, Senin (12/10) itu terasa sumuk. Tidak ada yang istimewa dari langit yang cerah atau jalan kampung yang lengang. Namun di Rumah Kamituwo Pandansari, Agus Salim di RT 03 RW 01, ada kegiatan. Kursi-kursi plastik ditata rapi. Meja-meja panjang disiapkan. 

Kades Sarimulyo dan Kamituwo Sempu hadir dalam pemeriksaan ulang spirometri di Dusun Pandansari

Hari itu, 31 warga diundang. Bukan untuk acara hajatan, bukan pula untuk pengajian. Mereka datang untuk satu hal yang mungkin terdengar sederhana namun menentukan, yaitu mengulang tes spirometri.

Bagi sebagian orang, tes spirometri mungkin hanya prosedur medis biasa seperti meniup udara sekuat mungkin ke dalam sebuah alat, lalu selesai. Tapi di Desa Sarimulyo, tes ini telah menjadi bagian dari perjalanan panjang sebuah program kolaborasi antara NIHR Universitas Brawijaya dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi, sebelumnya dengan RS NU terus.

Sejak Juli hingga Agustus lalu, empat kali pemeriksaan spirometri digelar. Menyasar 151 responden hasil pre-screening yang terindikasi memiliki faktor risiko Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Namun, tidak semua hasil bisa dibaca. Ada yang tidak valid, ada yang tidak memenuhi kriteria kualitas. Dan sebagaimana praktik standar dalam dunia spirometri, hasil yang tidak dapat dibaca bukanlah akhir dari segalanya. Itu adalah awal dari pengulangan.

Rumah Kamituwo Pandansari jadi lokasi pemeriksaan ulang spirometri

Mengulang tes spirometri bukanlah kegagalan. Itu justru bentuk kehati-hatian. Kualitas spirometri bergantung pada tiga pilar, yakni perawat terlatih, peralatan akurat, dan upaya maksimal pasien. Ketika salah satu pilar goyah - misalnya pasien batuk, sesak, atau kurang memahami manuver - hasilnya bisa cacat secara teknis. Dan data yang cacat, jika dipaksakan ditafsirkan, bisa menyesatkan. Maka, mengulang adalah jalan terbaik. Mengabaikan hasil buruk, lalu memulai lagi di hari lain, adalah keputusan yang bijak.

Itulah yang dilakukan dua enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Sarimulyo, Kiki Antikawati Rustandi, S.Kep., dan Triana Rahmah, S.AB. 

Sejak pagi, mereka telah bersiap. Dibantu dua kader kesehatan setempat, Tri Nur Umala dan Siti Maesyaroh, mereka mengatur meja pendaftaran, memverifikasi data, dan memastikan setiap responden yang datang merasa diprioritaskan. 

Dokter RS Yasmin Banyuwangi periksa responden dengan menggunakan stetoskop

Undangan telah disebar beberapa hari sebelumnya. Bahkan, antar-jemput disiapkan bagi mereka yang membutuhkan. Tidak ada yang boleh tertinggal hanya karena jarak atau kesulitan transportasi.

Alur pemeriksaan hari itu sama persis dengan empat spirometri sebelumnya. Responden memulai dengan registrasi dan verifikasi data. Setelah itu, mereka menuju meja TTV (Tanda-Tanda Vital). Di sana, Perawat Tria Firnasari, A.Md.Kep., mengukur tekanan darah dan oksimetri. Di sampingnya, dr. Dewangga Sakti melakukan anamnesis menggunakan aplikasi SMARThealth dan pemeriksaan fisik dengan stetoskop. Semua dilakukan dengan tenang, teliti, dan penuh empati.

Usai TTV, responden duduk di kursi antrean. Sambil menunggu panggilan, enumerator Ana memanfaatkan waktu untuk mengajarkan teknik penyebulan - cara meniup udara yang benar, yang efektif, yang tidak membuang tenaga. 

Tes spirometri

Di meja spirometri, Perawat Meira Safira, A.Md.Kep., memandu manuver. Ns. Yusi Ayu Permatasari, S.Kep., mengoperasikan laptop yang terhubung dengan alat spirometri. Semua berada di bawah pengawasan Ns. Elik Anistina, S.Kep., yang dipercaya NIHR UB untuk mengawal jalannya tes.

Tes tahap pertama, atau pre-nebulisasi, dimulai. Responden meniup. Alat merekam. Kurva terbentuk. Setelah itu, mereka bergeser ke meja sebelah timur untuk mendapatkan nebulisasi. 

Di sana, Ns. Mahendra, S.Kep., menyiapkan nebulizer - alat yang mengubah obat cair menjadi uap halus yang dihirup langsung ke saluran pernapasan. Nebulisasi bukan sekadar terapi. Ia adalah upaya membuka jalan napas, memberikan kesempatan kedua bagi paru-paru untuk bekerja lebih baik.

Nebulisasi

Selesai nebulisasi, responden duduk sebentar. Lalu, dipanggil lagi untuk tes tahap kedua, atau post-nebulisasi. Prosedurnya sama. Yang berbeda hanya waktu dan kondisi paru-paru. 

Jika tes tahap kedua berjalan lancar, maka rangkaian pemeriksaan selesai. Responden kembali ke meja pendaftaran. Enumerator Kiki memberikan konsumsi, gift, dan subsidi transportasi, disaksikan oleh kader Tri Nur. Senyum pun merekah. Bukan karena hadiahnya, tetapi karena mereka telah menyelesaikan sesuatu yang penting bagi kesehatan mereka.

Pemeriksaan ulang spirometri perdana itu juga dihadiri oleh Rahmanurraudhotul Amin, SKM, yang ditunjuk Theme 1: Primary Healthcare Strengthening untuk melakukan observasi dengan checklist. 

Enumerator lakukan antar jemput responden

Acara selesai pukul 13.42 WIB. Dari 31 responden yang diundang, menurut catatan Field Facilitator NIHR UB, dua orang suami-istri tidak datang. Selain itu, seorang responden datang sebelum pukul 08.00 WIB, namun karena tim dari RS Yasmin baru tiba pukul 08.30 WIB, ia memilih pulang. Ia harus memperingati 1000 hari kematian istrinya. Tidak ada yang bisa menahan waktu, begitu pun dengan jadwal yang telah disusun.

Namun, dari lima catatan yang diberikan Ns. Elik, terdapat lima responden yang hasilnya kurang maksimal. Empat di antaranya memiliki riwayat sesak napas. Satu lagi sedang batuk. 

Kondisi-kondisi seperti inilah yang membuat spirometri tidak selalu bisa memberikan hasil sempurna dalam sekali coba. Batuk, sesak, kelelahan - semua bisa memengaruhi kualitas tiupan. Dan ketika hasilnya tidak memenuhi standar, mengulang adalah pilihan yang paling bertanggung jawab.

Field Facilitator NIHR UB diajak ngopi bareng sama Kamituwo di ruang tamu

Ada pepatah Sanskerta yang berbunyi: 

“Karena napas adalah kehidupan, maka jika Anda bernapas dengan baik, Anda akan berumur panjang di bumi.” 

Pepatah ini bukan sekadar kalimat puitis. Ia adalah pengingat bahwa napas adalah fondasi dari segala aktivitas manusia. Tanpa napas yang baik, tubuh melemah, pikiran kabur, dan hidup kehilangan kualitas. 

Spirometri, dengan segala kerumitannya, adalah alat untuk menjaga napas tetap terukur. Ia bukan sekadar tes, melainkan upaya untuk memastikan bahwa setiap tarikan dan embusan udara yang kita lakukan benar-benar menghidupkan.

Personel RS Yasmin yang baru pertama kali melakukan pemeriksaan di Desa Sarimulyo, berpose dengan Kamituwo Pandansari, enumerator baseline survey, pengawas tes spirometri, dan Field Facilitator NIHR UB

Di Desa Sarimulyo, pemeriksaan ulang spirometri bukanlah sekadar prosedur teknis. Ia adalah bentuk perhatian pada warga yang mungkin tidak pernah menyadari bahwa paru-paru mereka sedang berjuang. Ia adalah bukti bahwa kesehatan tidak pernah selesai hanya dengan satu kali pengukuran. 

Ada kalanya hasilnya tidak terbaca, ada kalanya responden harus kembali, ada kalanya waktu tidak berpihak. Namun selama masih ada kursi yang disiapkan, undangan yang disebar, dan napas yang masih mengalir, pemeriksaan ulang akan selalu punya tempat.

Karena pada akhirnya, napas yang baik adalah hak setiap orang. Dan mereka yang datang, duduk, meniup, dan menunggu - mereka adalah bukti bahwa kehidupan di desa kecil itu terus berdenyut, satu tarikan napas demi satu tarikan napas. *** [131026] 

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Risk Checker

Risk Checker

Indeks Massa Tubuh

Supplied by BMI Calculator Canada

Statistik Blog

Sahabat eKader

Label

Arsip Blog