“For breath is life, so if you breathe well you will live long on earth.” – Sanskrit Proverb
Di Desa Sarimulyo, angka bukan sekadar angka. Ketika empat kali tes spirometri meninggalkan hasil yang tak terbaca, puluhan warga kembali duduk di kursi yang sama, bukan karena gagal, melainkan karena napas mereka layak diperjuangkan.
Udara pagi di Dusun Pandansari, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, Senin (12/10) itu terasa sumuk. Tidak ada yang istimewa dari langit yang cerah atau jalan kampung yang lengang. Namun di Rumah Kamituwo Pandansari, Agus Salim di RT 03 RW 01, ada kegiatan. Kursi-kursi plastik ditata rapi. Meja-meja panjang disiapkan.
![]() |
| Kades Sarimulyo dan Kamituwo Sempu hadir dalam pemeriksaan ulang spirometri di Dusun Pandansari |
Bagi sebagian orang, tes spirometri mungkin hanya prosedur medis biasa seperti meniup udara sekuat mungkin ke dalam sebuah alat, lalu selesai. Tapi di Desa Sarimulyo, tes ini telah menjadi bagian dari perjalanan panjang sebuah program kolaborasi antara NIHR Universitas Brawijaya dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi, sebelumnya dengan RS NU terus.
Sejak Juli hingga Agustus lalu, empat kali pemeriksaan spirometri digelar. Menyasar 151 responden hasil pre-screening yang terindikasi memiliki faktor risiko Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Namun, tidak semua hasil bisa dibaca. Ada yang tidak valid, ada yang tidak memenuhi kriteria kualitas. Dan sebagaimana praktik standar dalam dunia spirometri, hasil yang tidak dapat dibaca bukanlah akhir dari segalanya. Itu adalah awal dari pengulangan.
![]() |
| Rumah Kamituwo Pandansari jadi lokasi pemeriksaan ulang spirometri |
Itulah yang dilakukan dua enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Sarimulyo, Kiki Antikawati Rustandi, S.Kep., dan Triana Rahmah, S.AB.
Sejak pagi, mereka telah bersiap. Dibantu dua kader kesehatan setempat, Tri Nur Umala dan Siti Maesyaroh, mereka mengatur meja pendaftaran, memverifikasi data, dan memastikan setiap responden yang datang merasa diprioritaskan.
![]() |
| Dokter RS Yasmin Banyuwangi periksa responden dengan menggunakan stetoskop |
Alur pemeriksaan hari itu sama persis dengan empat spirometri sebelumnya. Responden memulai dengan registrasi dan verifikasi data. Setelah itu, mereka menuju meja TTV (Tanda-Tanda Vital). Di sana, Perawat Tria Firnasari, A.Md.Kep., mengukur tekanan darah dan oksimetri. Di sampingnya, dr. Dewangga Sakti melakukan anamnesis menggunakan aplikasi SMARThealth dan pemeriksaan fisik dengan stetoskop. Semua dilakukan dengan tenang, teliti, dan penuh empati.
Usai TTV, responden duduk di kursi antrean. Sambil menunggu panggilan, enumerator Ana memanfaatkan waktu untuk mengajarkan teknik penyebulan - cara meniup udara yang benar, yang efektif, yang tidak membuang tenaga.
![]() |
| Tes spirometri |
Tes tahap pertama, atau pre-nebulisasi, dimulai. Responden meniup. Alat merekam. Kurva terbentuk. Setelah itu, mereka bergeser ke meja sebelah timur untuk mendapatkan nebulisasi.
Di sana, Ns. Mahendra, S.Kep., menyiapkan nebulizer - alat yang mengubah obat cair menjadi uap halus yang dihirup langsung ke saluran pernapasan. Nebulisasi bukan sekadar terapi. Ia adalah upaya membuka jalan napas, memberikan kesempatan kedua bagi paru-paru untuk bekerja lebih baik.
![]() |
| Nebulisasi |
Jika tes tahap kedua berjalan lancar, maka rangkaian pemeriksaan selesai. Responden kembali ke meja pendaftaran. Enumerator Kiki memberikan konsumsi, gift, dan subsidi transportasi, disaksikan oleh kader Tri Nur. Senyum pun merekah. Bukan karena hadiahnya, tetapi karena mereka telah menyelesaikan sesuatu yang penting bagi kesehatan mereka.
Pemeriksaan ulang spirometri perdana itu juga dihadiri oleh Rahmanurraudhotul Amin, SKM, yang ditunjuk Theme 1: Primary Healthcare Strengthening untuk melakukan observasi dengan checklist.
![]() |
| Enumerator lakukan antar jemput responden |
Namun, dari lima catatan yang diberikan Ns. Elik, terdapat lima responden yang hasilnya kurang maksimal. Empat di antaranya memiliki riwayat sesak napas. Satu lagi sedang batuk.
Kondisi-kondisi seperti inilah yang membuat spirometri tidak selalu bisa memberikan hasil sempurna dalam sekali coba. Batuk, sesak, kelelahan - semua bisa memengaruhi kualitas tiupan. Dan ketika hasilnya tidak memenuhi standar, mengulang adalah pilihan yang paling bertanggung jawab.
![]() |
| Field Facilitator NIHR UB diajak ngopi bareng sama Kamituwo di ruang tamu |
Ada pepatah Sanskerta yang berbunyi:
“Karena napas adalah kehidupan, maka jika Anda bernapas dengan baik, Anda akan berumur panjang di bumi.”
Pepatah ini bukan sekadar kalimat puitis. Ia adalah pengingat bahwa napas adalah fondasi dari segala aktivitas manusia. Tanpa napas yang baik, tubuh melemah, pikiran kabur, dan hidup kehilangan kualitas.
Spirometri, dengan segala kerumitannya, adalah alat untuk menjaga napas tetap terukur. Ia bukan sekadar tes, melainkan upaya untuk memastikan bahwa setiap tarikan dan embusan udara yang kita lakukan benar-benar menghidupkan.
Ada kalanya hasilnya tidak terbaca, ada kalanya responden harus kembali, ada kalanya waktu tidak berpihak. Namun selama masih ada kursi yang disiapkan, undangan yang disebar, dan napas yang masih mengalir, pemeriksaan ulang akan selalu punya tempat.
Karena pada akhirnya, napas yang baik adalah hak setiap orang. Dan mereka yang datang, duduk, meniup, dan menunggu - mereka adalah bukti bahwa kehidupan di desa kecil itu terus berdenyut, satu tarikan napas demi satu tarikan napas. *** [131026]
Oleh: Budiarto Eko KusumoEditor: Budiarto Eko Kusumo



















