Selasa, 27 Oktober 2026

Pamitan di Ruang Kerja Kades Tamanagung: Ketika Angka Berpisah dari Wajah-Wajah

आमुखं समागच्छ, पृष्ठं प्रदर्श्य प्रगच्छ। -- संस्कृत सुभाषित

(Āmukhaṃ samāgaccha, pṛṣṭhaṃ pradarśya pragaccha -- Sanskrut subhashit/Sanskrit proverb)

Ada perpisahan yang terdengar seperti pintu tertutup. Namun, ada pula perpisahan yang terasa seperti jeda napas - bukan akhir, melainkan ruang di antara dua pertemuan. Di Ruang Kerja Kepala Desa Tamanagung, Senin (26/10), tiga enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) memilih perpisahan yang kedua, yaitu berpamitan dengan tenang, berterima kasih dengan tulus, lalu pergi membawa cerita yang tidak selalu tertulis dalam aplikasi.

Mereka datang sebagai enumerator – seseorang yang bertugas melakukan pengumpulan data di lapangan dan memfasilitasi pemeriksaan spirometri. Mereka pergi sebagai bagian dari kisah desa.

Enumerator baseline survey berpose dengan Kades Tamanagung, Sekdes, dan perangkat desa lainnya

Jeda di Tengah Jalan Panjang

Siang itu, Field Facilitator NIHR UB sempat undur diri dari kegiatan pemeriksaan ulang spirometri kedua di Desa Kaliploso. Ia menuju Balai Desa Tamanagung untuk mendampingi enumerator baseline survey NIHR-GHRC NCDs & EC dalam acara pamitan bersama Kepala Desa dan perangkat desa terkait.

Tiga enumerator hadir pada pagi itu adalah Fahmi Ahmad Fauzan, S.Sos.; Dysa Fitri Permatasari, S.Tr.Kes., M.Kes.; dan Nisaul Rofifah, S.Gz. Mereka datang bukan untuk melapor angka, melainkan untuk mengucapkan terima kasih - sebuah kalimat sederhana yang kerap tersimpan paling lama dalam ingatan.

Ruang kerja Kades Drs. Suharto di Jalan Sraten No. 07, Dusun Krajan RT 02 RW 04, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, menjadi saksi perpisahan itu. Di sana, rombongan enumerator diterima Kades Suharto, Sekretaris Desa Hendir Bernadi, serta lima staf desa yang selama empat bulan terakhir telah mendampingi jalannya pengumpulan data baseline survey.

Empat bulan bukan waktu yang singkat. Empat bulan adalah rangkaian pagi yang dimulai dari rumah ke rumah, pertanyaan yang diulang dengan sabar, jawaban yang dicatat dengan hati-hati, dan hubungan yang perlahan tumbuh dari sekadar kunjungan menjadi keakraban.

Lewat meja layanan masyarakat ketika menuju ruang kerja Kades

Ketika Data Menyimpan Manusia

Dalam ruangan ber-AC itu, Fauzan menyampaikan maksud kedatangan mereka, yaitu berpamitan atas selesainya tugas lapangan pengumpulan data baseline survey yang telah berlangsung selama empat bulan.

Kalimat itu mungkin terdengar administratif. Namun di baliknya ada beban yang baru saja dilepaskan: daftar rumah tangga yang telah dikunjungi, pertanyaan yang telah dijawab, pengumpulan data yang telah rampung, serta wajah-wajah warga yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan kerja lapangan.

Sebab, di balik setiap pertanyaan yang selesai, tidak pernah hanya ada angka. Ada manusia. Ada cerita. Ada komunitas yang membuka pintu, menyediakan kursi, menjawab pertanyaan, dan sesekali berbagi perhatian kepada orang asing yang datang membawa formulir.

Kades Suharto menanggapi dengan hangat. Ia menyampaikan rasa senang Pemerintah Desa Tamanagung karena desanya terpilih dalam penelitian NIHR UB. Ia juga memohon maaf apabila selama enumerator bertugas ada sambutan yang kurang berkenan.

Permintaan maaf itu terasa seperti buah tangan dari kerendahan hati. Sebab dalam kerja lapangan, kesempurnaan memang jarang hadir. Ada jadwal yang berubah, ada komunikasi yang perlu diperbaiki, ada kondisi lapangan yang menuntut penyesuaian. Namun justru di sanalah relasi diuji: bukan pada saat semuanya mudah, melainkan ketika kedua pihak memilih untuk tetap saling memahami.

Kades Suharto kemudian mengingatkan satu hal penting. Meskipun jadwal baseline survey telah berakhir, silaturahmi hendaknya tetap dijaga. Kalimat itu seperti benang yang menyambung perpisahan dengan pertemuan berikutnya.

Sekapur sirih dari eumerator baseline survey dalam acara pamitan

Pergi, Namun Belum Purna

Field Facilitator NIHR UB menambahkan bahwa penelitian ini sebenarnya belum purna. Masih ada kelanjutannya, tetapi waktunya harus diiringi jeda.

Karena itu, Tim Enumerator Baseline Survey Desa Tamanagung berpamitan untuk menyudahi jadwal baseline survey. Di tahun depan, mereka akan kembali ke desa ini dalam rangkaian Endline Survey. Atas dasar itu, Field Facilitator NIHR UB memohon izin untuk datang kembali kelak.

Pamitan, dalam konteks ini, bukanlah kata selamat tinggal yang mutlak. Ia lebih tepat disebut sebagai janji yang ditunda. Sebuah pernyataan bahwa perjalanan penelitian belum selesai; bahwa desa ini akan dijumpai lagi, bukan sebagai lokasi survei semata, melainkan sebagai mitra dalam sebuah usaha memahami kesehatan masyarakat.

Usai rangkaian percakapan, dilanjutkan pemberian bingkisan kepada perangkat desa yang selama ini mendampingi kegiatan enumerator. Bingkisan itu mungkin sederhana, tetapi ia membawa makna, yaitu ucapan terima kasih yang tidak cukup diucapkan hanya dengan kata-kata.

Kemudian foto bersama diabadikan. Tangan-tangan saling berjabat. Senyum-senyum terukir. Dan pada saat itulah perpisahan tidak lagi terasa seperti kehilangan, melainkan seperti penutup sebuah bab yang akan kelak dilanjutkan pada bab berikutnya.

Bingkisan kenang-kenangan dari enumerator kepada Kades

Datang Tampak Muka, Pergi Tampak Punggung

Ada peribahasa dari khazanah Sansekerta yang mengingatkan: 

“Datanglah dengan menghadap ke depan atau memperlihatkan wajahmu; dan pergilah dengan memperlihatkan punggungmu.”

Secara harfiah, frasa itu menggambarkan orientasi tubuh manusia. Ketika tiba, kita menghadap ke depan dan wajah kita terlihat. Ketika pergi, kita berjalan membelakangi dan punggung kita yang tampak. Namun makna sesungguhnya tidak berhenti pada posisi tubuh.

Peribahasa ini termasuk idiom yang membawa makna asosiatif dan kultural. Ia mengajarkan nilai kesantunan dan etika bertamu. Ketika datang, seseorang memberi salam dan kabar; ketika pulang, seseorang berpamitan. Tidak ada ruang untuk pergi diam-diam, lari dari tanggung jawab, atau meninggalkan tempat tanpa pesan - sesuatu yang dalam bahasa populer kini disebut ghosting.

Wajah melambangkan kehormatan, niat baik, dan perkenalan awal. Punggung melambangkan penutup interaksi yang bersih, tanpa meninggalkan kesan buruk atau prasangka di kemudian hari.

Dalam budaya Indonesia, pesan itu dikenal pula melalui peribahasa “datang tampak muka, pulang tampak punggung,” yang berarti datang dan pergi hendaknya memberi tahu serta dilakukan dengan baik dan sopan.

Pamitan enumerator di Ruang Kerja Kades Tamanagung adalah perwujudan nyata dari nilai itu. Mereka tidak hanya menyelesaikan tugas, tetapi juga menutup perjalanan dengan cara yang terhormat, yaitu mengucapkan terima kasih, menerima masukan, menjaga hubungan, dan memohon izin untuk kembali.

Bingkisan kenang-kenangan dari enumerator kepada Sekdes

Yang Dibawa Pulang

Meninggalkan lapangan merupakan ritual penyelesaian - tahap akhir dari sebuah ritus peralihan. Setelah lama terintegrasi dalam kehidupan komunitas, enumerator kembali ke posisi awalnya, namun dengan status yang telah berubah, bukan lagi orang asing yang baru datang, melainkan kenalan yang membawa kenangan.

Itulah kisah enumerator. Setiap angka menyimpan cerita. Setiap rumah tangga yang dikunjungi menjadi bagian dari perjalanan mereka. Mereka mendata rumah tangga dan mengumpulkan informasi, tetapi hal paling berharga yang mereka peroleh bukan sekadar data. Yang paling berharga adalah pengalaman, seperti belajar mendengar, belajar bersabar, belajar menghormati kehidupan orang lain, dan belajar bahwa ilmu tidak pernah lahir dari ruang kosong.

Tugas mereka mungkin telah usai. Namun kenangan dan persahabatan yang terjalin akan tetap membekas.

Kami datang sebagai enumerator, bekerja sebagai tim, dan pergi membawa kenangan indah. Survei ini berakhir di sini, tetapi pelajaran dan persahabatan yang didapat akan terus hidup.

Selamat tinggal pada kerja lapangan, segala tantangan, dan momen-momen tak terlupakan. Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan ini.

Sampai jumpa kembali, Tamanagung - di waktu ketika jeda telah selesai dan langkah-langkah itu kembali mengarah ke depan. *** [271026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Mengulang Napas, Memastikan Hasil: Pemeriksaan Ulang Spirometri Kedua di Desa Kaliploso

"Breathing isn't only the automatic exchange of oxygen and carbon dioxide, after all. The way we breathe is influenced by our emotions and environment, and vice versa." -- Shayla Love

Pagi itu, di Pendopo Dusun Kalirejo, Desa Kaliploso, sejumlah warga kembali bersiap menghadapi alat spirometri. Mereka datang bukan untuk memulai pemeriksaan dari awal, melainkan menyempurnakan hasil yang sebelumnya belum dapat terbaca dengan baik. Di balik tiupan napas yang berulang, ada satu hal yang hendak dipastikan, yakni pengukuran fungsi paru yang akurat agar kondisi kesehatan responden dapat dinilai secara lebih tepat.

Senin (26/10), dua enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Kaliploso, Rahmanurraudhotul Amin, SKM, dan Rafini Aminatul Hidayah, S.Tr.Gz., kembali menjadwalkan pemeriksaan ulang spirometri melalui kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi. Kegiatan berlangsung di Pendopo Dusun Kalirejo, RT 02 RW 07, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi.

Suasana pemeriksaan ulang spirometri kedua di Pendopo Dusun Kalirejo, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi

Pemeriksaan ini merupakan kelanjutan dari rangkaian pemeriksaan spirometri yang telah dilaksanakan terdahulu. Sebelumnya, enam kali pemeriksaan telah digelar untuk menjangkau 164 target responden hasil pre-screening yang terindikasi memiliki faktor risiko penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Namun, tidak semua hasil pengukuran dapat dibaca atau memenuhi kriteria kualitas. Sejumlah responden pun perlu kembali menjalani pemeriksaan.

Mengulang spirometri bukan sekadar mengulang prosedur. Dalam pemeriksaan fungsi paru, hasil yang tidak terbaca (unreadable), tidak valid, atau tidak memenuhi standar kualitas tidak seharusnya dipaksakan untuk ditafsirkan. Pemeriksaan ulang menjadi langkah penting untuk memastikan bahwa data yang diperoleh benar-benar menggambarkan fungsi paru, bukan akibat teknik yang kurang tepat, kendala peralatan, atau kondisi sementara.

Kualitas hasil spirometri sendiri bergantung pada tiga unsur yang saling berkaitan, yaitu tenaga pemeriksa yang terlatih, peralatan yang akurat, serta upaya maksimal responden dalam mengikuti instruksi. Karena itu, ketelitian dan kesabaran menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pemeriksaan.

Meja pendaftaran di area parkir Pondes Kalirejo


Dari meja pendaftaran hingga embusan napas

Sebanyak 30 responden diundang untuk mengikuti pemeriksaan ulang kali ini. Lima kader setempat - Eva Hariana, Siti Zulaihah Harum Wijayanti, Rio Dita Wibawa, Sri Hidayati, dan Sundari, bersama Sutiyani Eka Rahayu - turut mendukung mobilisasi warga, penyebaran undangan, pendaftaran, hingga antar-jemput responden yang membutuhkan bantuan.

Alur pemeriksaan berlangsung seperti kegiatan sebelumnya. Responden terlebih dahulu melakukan registrasi dan verifikasi data di meja pendaftaran yang dilayani Rafini bersama para kader. Berikutnya, mereka menuju meja tanda-tanda vital (TTV) untuk menjalani pengukuran tekanan darah dan oksimetri oleh Perawat Tria Firnasari, A.Md.Kep. Di meja yang sama, dr. Sapto Aji melakukan anamnesis berdasarkan lembar data serta pemeriksaan fisik menggunakan stetoskop.

Sambil menunggu giliran, Rahman memberikan penjelasan mengenai teknik peniupan udara agar responden lebih siap menjalani tes. Tahap ini penting karena spirometri membutuhkan kerja sama aktif, yakni responden harus mengikuti instruksi dan mengembuskan napas dengan teknik yang tepat.

Dokter dari RS Yasmin Banyuwangi sedang periksa fisik responden

Di meja spirometri, Ns. Imelda Arofah, S.Kep., memandu manuver pemeriksaan dengan bantuan Ns. Yusi Ayu Permatasari, S.Kep., yang mengoperasikan laptop terhubung ke alat spirometri. Perawat Elik Anistina, S.Kep., turut mengawal pelaksanaan pemeriksaan.

Tes pertama dilakukan sebelum nebulisasi (pre-nebulisasi). Setelah itu, responden berpindah ke meja di sebelah barat untuk menjalani nebulisasi oleh Meira Safira, S., A.Md.Kep. Prosedur ini menggunakan nebulizer untuk mengubah obat cair menjadi kabut halus yang dihirup melalui saluran pernapasan.

Selesai nebulisasi, responden kembali menunggu panggilan untuk menjalani tes kedua (post-nebulisasi). Dengan demikian, petugas memperoleh pengukuran sebelum dan sesudah pemberian terapi inhalasi sesuai protokol pemeriksaan. Setelah seluruh tahapan selesai, responden kembali ke meja pendaftaran untuk menerima konsumsi, bingkisan, dan subsidi transportasi.

Tes spirometri


Di antara angka dan kondisi manusia

Pemeriksaan ulang hari itu berakhir pukul 12.45 WIB. Dari 30 responden yang diundang, 26 orang berhasil menjalani pemeriksaan. Dua orang tidak hadir karena berbagai pertimbangan. Seorang responden lainnya, perempuan berusia 74 tahun, tidak dapat melanjutkan pemeriksaan karena mengeluhkan sesak napas dan nyeri dada. Ia tampak menangis; menurut informasi kader, ia juga mengalami depresi. Sementara itu, seorang responden yang telah mengantre terpaksa pulang setelah menerima kabar duka bahwa mertuanya meninggal dunia.

Catatan tersebut mengingatkan bahwa pemeriksaan kesehatan tidak berlangsung di ruang hampa. Kondisi fisik, emosi, dan peristiwa kehidupan dapat memengaruhi kesiapan seseorang untuk menjalani prosedur medis.

Hal ini sejalan dengan pemikiran Shayla Love, seorang jurnalis sains dan penulis kontributor di The New Yorker dan Psyche: 

“Bagaimanapun, bernapas bukan sekadar pertukaran oksigen dan karbon dioksida secara otomatis. Cara kita bernapas dipengaruhi oleh emosi dan lingkungan kita, begitu pula sebaliknya.”

Nebulisasi

Pengamatan Ns. Elik juga mencatat tiga hasil pengukuran yang kurang maksimal. Dua responden memiliki riwayat asma atau sesak napas, sedangkan seorang responden perempuan berusia 70 tahun kerap batuk selama tes berlangsung. Catatan seperti ini penting untuk menempatkan hasil pengukuran dalam konteks kondisi responden, sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi tim pemeriksa.

Pada akhirnya, pemeriksaan ulang spirometri di Kaliploso bukan hanya tentang melengkapi data penelitian. Ada ketelitian tenaga kesehatan, koordinasi enumerator dan kader, serta pengalaman setiap warga yang ikut menentukan jalannya pemeriksaan. Sebab, di balik setiap angka pada layar spirometer, terdapat manusia dengan kondisi tubuh, kemampuan, dan kisah hidup yang berbeda-beda.

Memastikan hasil terbaca dengan baik berarti memberi ruang bagi data yang lebih dapat dipercaya. Dan memastikan proses berjalan dengan cermat berarti menghargai napas yang menjadi dasar dari setiap pengukuran. *** [271026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Senin, 26 Oktober 2026

Saat Napas Dipanggil Kembali di Kaliploso

“[B]reath is the animated, nonphysical aspect of your being. So that when you look in the direction of breath, when you focus your attention on your breath, you are really looking at your spiritual self.” – Andrew Weil, MD

Di sebuah pendopo di Dusun Kalirejo, responden menarik napas dalam-dalam, menahan sejenak, lalu meniup sekuat tenaga ke dalam alat kecil yang terhubung dengan laptop. Layar itu merekam kurva pernapasannya - bukan sekadar angka, melainkan potret kerja parunya. Namun pada pemeriksaan sebelumnya, sebagian kurva itu tidak dapat dibaca. Karena itu, pada Sabtu (24/10), mereka diundang kembali untuk mengulang pemeriksaan spirometri lagi.

Pemeriksaan ulang spirometri perdana ini digelar di Pendopo Dusun Kalirejo, RT 02/RW 07, Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan merupakan kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi, dengan mengundang 28 responden hasil pre-screening yang terindikasi memiliki faktor risiko penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

Personel RS Yasmin Banyuwangi berpose dengan enumerator baseline survey dan kader setempat

Mengapa Hasil Harus Diulang?

Spirometri adalah pemeriksaan yang menilai seberapa besar dan seberapa cepat seseorang dapat menghirup serta menghembuskan udara. Tes ini menjadi pintu penting untuk mendeteksi gangguan pernapasan, termasuk PPOK yang sering berkembang diam-diam.

Namun, alat canggih sekalipun tidak dapat bekerja sendiri. Kualitas spirometri bergantung pada tiga hal, yaitu teknisi atau perawat yang terlatih, peralatan yang akurat, dan usaha maksimal dari responden. Jika salah satunya terganggu, misalnya responden batuk di awal hembusan, kurva tidak sempurna, atau nilai antar-manuver tidak konsisten, hasil dapat menjadi tidak valid. Standar kualitas umumnya menuntut minimal tiga kurva yang dapat diterima dan hasil FVC serta FEV1 yang konsisten, dengan selisih tidak lebih dari 150 ml.

Karena itu, bila rekaman sebelumnya “tidak dapat dibaca” atau mengandung cacat teknis, langkah yang tepat bukan memaksakan interpretasi. Hasil tersebut sebaiknya diabaikan dan pemeriksaan diulang pada hari lain. Sebaliknya, jika masih ada data yang layak digunakan, klinisi dapat melaporkan hasil terbaik disertai catatan keterbatasan teknis dan menafsirkannya secara hati-hati.

Di Kaliploso, kebutuhan itu menjadi nyata. Dari enam gelombang pemeriksaan spirometri sebelumnya - 28 Agustus, 29 Agustus, 12 September, 18 September, 2 Oktober, dan 3 Oktober - sejumlah responden dari 164 target pre-screening harus mengikuti tes ulang karena hasil awalnya tidak terbaca.

Suasana pemeriksaan ulang spirometri perdana di Pendopo Dusun Kalirejo, Dusun Kalirejo RT 02 RW 07 Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi

Alur yang Sama, Tekad yang Baru

Pukul 08.00 WIB, pendopo itu perlahan hidup. Meja pendaftaran sudah siap, kursi antrean tertata, dan lima kader setempat bergerak cekatan - Eva Hariana, Siti Zulaihah Harum Wijayanti, Rio Dita Wibawa, Sri Hidayati, Sundari, dan Sutiyani Eka Rahayu. Mereka membantu enumerator di meja pendaftaran, memobilisasi warga, menyebarkan undangan sejak beberapa hari sebelumnya, hingga mengantar-jemput responden yang membutuhkan.

Dua enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC), Rahmanurraudhotul Amin, SKM, dan Rafini Aminatul Hidayah, S.Tr.Gz., memastikan alur berjalan seperti pemeriksaan-pemeriksaan sebelumnya. Responden pertama-tama melakukan registrasi dan verifikasi data di meja pendaftaran yang dilayani enumerator Rafini bersama para kader.

Dari sana, mereka menuju meja tanda-tanda vital (TTV). Perawat Mesra Safira, A.Md.Kep., mengukur tekanan darah dan saturasi oksigen melalui oksimetri. Di sampingnya, dr. Rika Hardiyanti melakukan anamnesis melalui spreadsheet sekaligus pemeriksaan fisik dengan stetoskop.

Baru setelah itu responden duduk menunggu panggilan ke meja spirometri. Di sela waktu menunggu, Rahman memberikan latihan teknik penyebulan, yaitu bagaimana menarik napas penuh, memasang bibir rapat pada mouthpiece, lalu menghembuskan udara dengan kuat dan tahan lama. Latihan sederhana ini ternyata menentukan. Tanpa teknik yang tepat, alat akan merekam kurva yang tidak dapat dinilai.

Pengukuran tekanan darah dan oksimetri

Saat Napas Diuji Dua Kali

Ketika namanya dipanggil, responden mendekati meja spirometri. Ns. Imelda Arofah, S.Kep., memandu manuver pernapasan, dibantu Ns. Rizki Indrawangi, S.Kep., yang mengoperasikan laptop dan perangkat spirometri. Perawat Elik Anistina, S.Kep., mengawal pelaksanaan tes sebagai bagian dari dukungan NIHR UB.

Tes pertama disebut tahap pre-nebulisasi. Setelah selesai, responden bergeser ke meja nebulisasi di sisi barat. Di sana, Mahendra, S.Kep.Ns., memberikan terapi inhalasi menggunakan nebulizer, sebuah alat yang mengubah obat cair menjadi kabut halus untuk dihirup langsung ke saluran pernapasan.

Setelah beristirahat sejenak, responden dipanggil kembali untuk tahap post-nebulisasi. Mereka mengulangi manuver yang sama. Perbedaannya hanya satu, yakni kali ini paru mereka telah menerima bantuan obat inhalasi. 

Jika hasil tahap kedua berjalan lancar, rangkaian pemeriksaan selesai dan responden kembali ke meja pendaftaran untuk menerima konsumsi, gift, serta subsidi transportasi yang disaksikan enumerator.

Pemeriksaan ulang spirometri yang pertama ini selesai pada pukul 13.20 WIB. Dari 28 responden yang diundang, 25 orang berhasil terperiksa, sementara tiga orang dikeluarkan dari pemeriksaan dengan berbagai pertimbangan medis dan kondisi responden.

Tes spirometri

Ketika Keterbatasan Ikut Bicara

Di balik angka kehadiran, ada cerita yang tidak selalu tampak di layar spirometri. Ada lansia perempuan berusia 62 tahun dengan kemampuan memori sensorik yang menurun; ia telah dua kali hadir, tetapi belum berhasil melakukan manuver dengan baik. Ada pula lansia perempuan 62 tahun lain yang mengalami gejala stroke dan sakit perut kanan, sering kambuh saat bergerak, hingga akhirnya hanya bisa ditemukan dalam kondisi berbaring sehingga tak bisa hadir dalam undangan pemeriksaan ulang spirometri yang pertama ini.

Satu lansia perempuan berusia 72 tahun hadir pada hari itu, tetapi hasil skrining dr. Rika menunjukkan adanya keluhan pada jantung. Denyut nadinya cukup kencang, sehingga manuver spirometri dinilai berisiko bila tetap dilanjutkan. 

Sementara itu, dua responden yang tidak dapat hadir tersebut kemudian dicarikan penggantinya oleh enumerator Rahman dari daftar reschedule pada hari berikutnya.

Meski demikian, dari 27 responden yang terperiksa, Ns. Elik mencatat lima orang memiliki hasil yang belum maksimal. Tiga lansia laki-laki menghadapi kendala karena riwayat stroke, penurunan pendengaran, dan sesak napas. Dua perempuan - satu pra-lansia dan satu lansia - juga menghadapi hambatan akibat riwayat sesak napas dan stroke yang disertai gangguan kognitif.

Kondisi-kondisi ini menegaskan satu hal, bahwa spirometri bukan sekadar “meniup ke alat.” Ia menuntut koordinasi tubuh, pemahaman instruksi, kekuatan, dan ketenangan. Bagi sebagian lansia, itu adalah tantangan yang tidak ringan.

Nebulisasi

Napas sebagai Cermin Diri

Dokter dan penulis  kedokteran integrative asal Amerika, Andrew Weil, MD pernah mengatakan: 

“Napas adalah aspek nonfisik yang hidup dari diri Anda. Jadi, saat Anda mengarahkan pandangan ke arah napas, saat Anda memusatkan perhatian pada napas Anda, sebenarnya Anda sedang menatap diri spiritual Anda.”

Di Kaliploso, kalimat itu terasa dekat dengan keseharian. Setiap responden yang kembali menduduki kursi pemeriksaan tidak hanya mengulang tes teknis. Mereka juga mengulang kesempatan untuk didengar - agar riwayat sesaknya, keterbatasan geraknya, dan usahanya menarik napas tidak berakhir sebagai data yang gagal terbaca.

Pemeriksaan ulang ini mungkin tampak sederhana di mana satu pendopo, beberapa meja, alat kecil, dan warga yang datang membawa napas mereka. Namun di dalamnya ada upaya kolektif untuk memastikan satu hal penting, bahwa setiap napas warga Kaliploso mendapat kesempatan untuk terbaca, dipahami, dan dideteksi sejak dini. *** [261026] 

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Minggu, 25 Oktober 2026

Napas Kecil, Cerita Besar: Spirometri Kedelapan di Tamanagung

“I feel very strongly…that proper breathing is a master key to good health.” – Andrew Weil, MD

Di tengah kesibukan pagi Pendopo Desa Tamanagung, terdengar instruksi sederhana yang menyimpan makna besar: “Tarik napas, lalu tiup sekuat mungkin.” Di balik satu tiupan ke alat spirometer, kesehatan paru sejumlah warga mulai terbaca, sekaligus membuka peluang deteksi dini penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

Di balik gerakan yang tampak sepele itu, ada upaya serius membaca kesehatan paru, sebab, seperti kata Andrew Thomas Weil, seorang dokter dan penulis Amerika yang dikenal karena menganjurkan pengobatan integrative ini:

“Saya sangat yakin… bahwa pernapasan yang tepat merupakan kunci utama menuju kesehatan yang baik.”

Sabtu (24/10), pemeriksaan spirometri kedelapan digelar di Pendopo Desa Tamanagung, Jalan Sraten No. 07, Dusun Krajan, RT 02/RW 04, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RS NU) Banyuwangi, serta menjadi bagian dari rangkaian survei baseline NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC). Karena hari itu juga terdapat kegiatan spirometri lain di Desa Kaliploso, Field Facilitator NIHR UB mengatur kunjungan agar dapat hadir terlebih dahulu di Tamanagung.

Sejak pukul 07.30 WIB, tiga enumerator baseline survey - Fahmi Ahmad Fauzan, S.Sos.; Dysa Fitri Permatasari, S.Tr.Kes., M.Kes.; dan Nisaul Rofifah, S.Gz. - menyiapkan alur pemeriksaan bagi 16 responden hasil pre-screening. Mereka adalah warga yang terindikasi memiliki faktor risiko penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), kondisi yang sering berjalan diam-diam hingga napas mulai terasa berat.

Personel RS NU Banyuwangi berpose dengan enumerator baseline survey dan kader kesehatan Desa Tamanagung

Dari Undangan hingga Pendaftaran

Mobilisasi tidak dimulai pada hari-H. Dua kader kesehatan setempat, Binti Qori’ah dan Ninik Sutriani, telah membantu menyampaikan undangan sejak dua hari sebelumnya. Pada hari pelaksanaan, keduanya kembali bergerak mendampingi enumerator, memastikan warga yang diundang benar-benar mengetahui waktu, tempat, dan tujuan pemeriksaan.

Alur pelayanan berjalan melalui empat meja. Di Meja 1, kader Binti dan Ninik, serta enumerator Nisa menerima responden, melakukan registrasi, serta memverifikasi data. Setelah itu, warga dipersilakan duduk di bangku antrean. Sementara menunggu, Fauzan memberikan penjelasan mengenai teknik menyembul - cara meniup yang benar agar hasil pengukuran dapat dibaca dengan akurat.

Bagi sebagian warga, instruksi itu bukan sekadar teknis. Meniup ke alat spirometri menuntut konsentrasi, tenaga, dan keberanian menghadapi angka yang mungkin tidak selalu menyenangkan. Namun justru di situlah letak pentingnya, bahwa spirometri mengukur secara objektif jumlah udara maksimum yang dapat dihirup dan dikeluarkan paru-paru.

Meja 1: registrasi dan verifikasi data

Membaca Sinyal dari Paru

Di Meja 2 atau meja tanda-tanda vital, Perawat Dwi Warsa, S.Kep.Ns., menimbang berat badan, mengukur tekanan darah, dan melakukan oksimetri. Selanjutnya, Dewi Sumarsih melakukan anamnesis melalui aplikasi SMARThealth. Data-data sederhana itu kemudian menjadi bagian dari gambaran kesehatan yang lebih utuh.

Pemeriksaan inti berlangsung di Meja 3. Perawat Marni Erlina, S.Kep.Ns., memimpin manuver spirometri tahap pertama atau pre-semprotan salbutamol, dibantu Ratna Lauranita yang mengoperasikan alat MIR SpiroLab milik NIHR UB. Pemeriksaan yang memenuhi syarat harus dilakukan minimal tiga kali dengan hasil yang valid dan dapat direproduksi untuk menentukan forced vital capacity (FVC). Apabila belum memenuhi kriteria, tes dapat diulang hingga delapan kali.

Setelah tahap pertama, responden menerima semprotan salbutamol melalui mulut, lalu beristirahat selama 20 menit. Tahap kedua, atau post-semprotan salbutamol, dilakukan dengan cara yang sama. Perbandingan hasil sebelum dan sesudah obat pembuka saluran napas membantu menilai respons saluran pernapasan. Seluruh proses itu diawasi langsung oleh Ns. Elik Anistina, S.Kep., yang mendampingi NIHR UB di meja spirometri.

Responden yang telah menyelesaikan rangkaian tes kemudian menuju Meja 4. Di sana, Dysa memberikan konsumsi, vitamin, dan subsidi transportasi sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka. Pemeriksaan berakhir pada pukul 10.16 WIB.

Meja 2: TTV

Tujuh Bangku yang Kosong

Dalam pemeriksaan spirometri yang kedelapan ini dihadiri sebentar oleh Perawat Yofi Agung Prastyawan dari RS NU Banyuwangi. Pemeriksaan spirometri kedelapan ini berakhir pada pukul 10.16 WIB.

Dari 16 undangan, sembilan responden hadir. Tujuh lainnya tidak dapat ditemui, dengan alasan yang beragam dan mencerminkan realitas kehidupan di lapangan.

Ada perempuan berusia 58 tahun yang sejak September keluar kota ke rumah orangtuanya. Ada pula perempuan 40 tahun yang menolak diperiksa karena dilarang suaminya, serta perempuan 52 tahun dan laki-laki lansia 73 tahun yang tidak mendapat izin dari keluarga. Seorang laki-laki 41 tahun merasa sudah rutin kontrol setiap bulan, sementara laki-laki 49 tahun menjalani kontrol rutin di Malang. Laki-laki lansia 63 tahun tidak dapat hadir karena bertugas sebagai pengawas proyek dan hanya libur pada hari Minggu.

Ketidakhadiran itu bukan sekadar catatan administratif. Ia menunjukkan bahwa akses layanan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan alat atau tenaga medis, tetapi juga oleh izin keluarga, jadwal kerja, persepsi masyarakat, dan kebiasaan kontrol kesehatan. Dalam konteks PPOK, keterlambatan pemeriksaan dapat berarti keterlambatan pula dalam mengenali gangguan pernapasan sejak dini.

Koordinator kerja sama RS NU dalam NIHR-GHRC NCDS & EC hadir menyaksikan jalannya pemeriksaan spirometri di hari terakhir kerja sama

Ketika Hasil Belum Maksimal

Dari sembilan responden yang hadir, Ns. Elik menyampaikan bahwa terdapat dua laporan hasil yang kurang maksimal. Seorang lansia perempuan berusia 68 tahun memiliki riwayat asma dan rutin mengonsumsi obat. Responden lain, perempuan lansia 70 tahun, memiliki riwayat asma, tidak rutin minum obat, serta mengalami keterbatasan pendengaran.

Kedua kasus ini menegaskan pentingnya kepatuhan pengobatan dan komunikasi yang tepat dalam layanan kesehatan lansia. Hasil spirometri yang belum optimal bukan akhir dari segalanya, melainkan sinyal untuk evaluasi lanjutan, edukasi, dan tindak lanjut yang lebih personal.

Pemeriksaan spirometri kedelapan di Tamanagung mungkin berlangsung hanya dalam beberapa jam. Namun, ia meninggalkan pesan yang lebih panjang: napas adalah indikator kesehatan yang sering diabaikan, padahal menjadi pintu awal untuk mengenali risiko PPOK. 

Melalui deteksi dini, kolaborasi lintas lembaga, dan keterlibatan kader, harapan untuk menjaga paru warga Tamanagung terus berjalan - satu tiupan napas demi satu tiupan napas. *** [251026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Napas yang Diukur, Kehidupan yang Dijaga: Pemeriksaan Spirometri Ketujuh di Tamanagung

“You just took a breath. You're about to take another. Inhale, then exhale, then another inhale. In and out. There's a rhythm to your breathing. It's the same with nature.” -- Rob Bell, How to Be Here: A Guide to Creating a Life Worth Living

Pagi itu, udara di Pendopo Desa Tamanagung terasa sederhana. Ada deru sepeda motor di Jalan Sraten, aroma kopi dari termos warga, dan hembusan napas yang satu per satu diukur dengan cermat. Di balik rutinitas itu, sebuah upaya kesehatan berjalan tenang - mencari tahu apakah paru-paru warga masih bekerja sebagaimana mestinya.

Rob Bell, seorang penulis dan pembicara asal Amerika, pernah bilang dalam How to Be Here: A Guide to Creating a Life Worth Living (2016):

“Anda baru saja menarik napas. Anda akan menarik napas lagi. Tarik napas, lalu embuskan, kemudian tarik napas lagi. Masuk dan keluar. Ada irama dalam napas Anda. Begitu pula dengan alam.”

Kalimat itu terasa dekat di Desa Tamanagung, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, pada Jumat (23/10). Sebab, sepanjang pagi hingga siang, napas warga menjadi pusat perhatian dalam pemeriksaan spirometri yang ketujuh kalinya.

Suasana pemeriksaan spirometri ketujuh di Pendopo Desa Tamanagung, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi

Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara NIHR Universitas Brawijaya (NIHR UB) dan Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RS NU) Banyuwangi. Pemeriksaan dimulai pukul 08.00 WIB di Pendopo Desa Tamanagung, Jalan Sraten No. 07, Dusun Krajan RT 02 RW 04.

Sebanyak 25 warga hasil pre-screening diundang karena terindikasi memiliki faktor risiko penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Pada akhirnya, 20 orang hadir, sementara lima lainnya tidak dapat memenuhi undangan karena berbagai alasan.

Kehadiran warga tidak muncul begitu saja. Tiga kader kesehatan setempat - Binti Qori’ah, Ninik Suriani, dan Ratna Mujayanah - menjadi penghubung penting. Dua hari sebelum pelaksanaan, mereka menyalurkan undangan dari rumah ke rumah. Pada hari-H, mereka kembali membantu memastikan warga datang dan proses berjalan tertib.

Kegiatan ini juga merupakan kelanjutan perjalanan panjang tim lapangan. Pagi yang sama, Field Facilitator NIHR UB baru saja pulang dari mendampingi tiga enumerator baseline survey NIHR-GHRC NCDs & EC di Desa Sarimulyo. Setelah berpamitan dengan Kepala Desa dan perangkat desa, Field Facilitator NIHR UB langsung melanjutkan langkah ke Tamanagung. Di tengah kesibukan itu, pemeriksaan tetap berjalan dengan ritme yang terlatih.

Tiga enumerator - Fahmi Ahmad Fauzan, S.Sos.; Dysa Fitri Permatasari, S.Tr.Kes., M.Kes.; dan Nisaul Rofifah, S.Gz. - mengelola alur pelayanan. Mereka tidak bekerja sendiri. Ada perawat, tenaga kesehatan, dan kader desa yang saling mengisi posisi, menciptakan alur layanan yang rapi namun tetap ramah.

Meja 1: registrasi dan verifikasi data

Alur pemeriksaan dibagi dalam empat meja. Warga pertama kali disambut di meja pendaftaran. Di sana, Nisaul Rofifah, yang akrab disapa Nisa, melakukan registrasi dan verifikasi data responden, dibantu tiga kader kesehatan. Setelah datanya lengkap, warga duduk di bangku antrean yang telah disiapkan.

Sambil menunggu, Fauzan memberikan penjelasan mengenai teknik menyembul. Penjelasan sederhana ini penting. Dalam spirometri, cara menarik dan mengembuskan napas sangat menentukan kualitas hasil. Warga diajak memahami bahwa mereka tidak sekadar “tiup alat,” melainkan melakukan manuver napas yang terukur.

Panggilan pertama datang dari meja dua, meja tanda-tanda vital (TTV). Dwi Rulyantin menimbang berat badan, mengukur tekanan darah, dan melakukan oksimetri. Selanjutnya, Elliana Khoirun melakukan anamnesis menggunakan aplikasi SMARThealth. Data-data awal itu menjadi fondasi sebelum warga memasuki tahap pemeriksaan paru.

Kemudian, tiba giliran meja tiga yang menjadi jantung kegiatan hari itu. Di meja spirometri, Lavinia Agustin memandu responden melakukan manuver tes tahap pertama atau pre-semprotan salbutamol. Siti Nur Indah membantu mengoperasikan alat spirometri MIR SpiroLab milik NIHR UB. Seluruh proses diawasi langsung oleh Ns. Elik Anistina, S.Kep., yang mendampingi NIHR UB dalam pengawasan teknis.

Spirometri sendiri adalah pemeriksaan fungsional paru-paru yang mengukur jumlah maksimum udara yang dapat dihirup dan diembuskan seseorang. Pemeriksaan yang memenuhi syarat umumnya dilakukan minimal tiga kali dengan hasil yang valid dan dapat direproduksi untuk menentukan forced vital capacity (FVC). 

Meja 2: TTV

Bila hasilnya belum konsisten, pemeriksaan dapat diulang hingga delapan kali. Dalam praktiknya, pengukuran sebelum dan sesudah bronkodilator seperti salbutamol juga digunakan untuk menilai respons saluran napas terhadap obat.

Setelah tes pertama selesai, responden menerima semprotan salbutamol. Mereka kemudian dipersilakan istirahat selama 20 menit. Waktu tunggu itu bukan sekadar jeda. Ia menjadi ruang kecil untuk bernapas lebih tenang, berbincang dengan sesama warga, atau sekadar menunggu tubuh merespons obat yang baru masuk.

Setelah waktu istirahat berlalu, responden kembali ke meja spirometri untuk tes tahap kedua atau post-semprotan salbutamol. Caranya sama dengan tahap pertama, namun hasilnya kini dapat dibandingkan dengan kondisi sebelum penyembulan. Perbandingan inilah yang membantu tim memahami kondisi fungsi paru responden secara lebih menyeluruh.

Ketika seluruh rangkaian selesai, warga menuju meja keempat, sebuah meja apresiasi partisipasi. Di sana, Dysa memberikan konsumsi, vitamin, dan subsidi transportasi. Bentuk apresiasi sederhana, tetapi maknanya besar. Warga tidak hanya datang sebagai subjek pemeriksaan; mereka juga dihargai sebagai mitra dalam upaya menjaga kesehatan masyarakat.

Dalam pemeriksaan spirometri yang ketujuh ini juga dihadiri oleh Rahmanurraudhotul Amin, SKM yang ditunjuk Theme 1: Primary Healthcare Strengthening untuk melakukan observasi prosesi dengan checklist.

Meja 3: Tes Spirometri

Kegiatan berakhir pukul 12.32 WIB. Dari 25 undangan, 20 warga hadir. Lima lainnya tidak dapat datang di mana satu orang sudah rutin kontrol di rumah sakit, satu tidak diperbolehkan keluarganya, dua sedang bekerja dari pagi hingga malam, satu tidak bisa hadir karena bertepatan dengan hari kerja, dan satu lagi meminta penjadwalan ulang pada esok hari.

Angka kehadiran itu mungkin tampak biasa. Namun di baliknya ada cerita tentang akses, keterbatasan waktu, dan kesadaran kesehatan. Ada warga yang harus memilih bekerja demi nafkah; ada pula yang beralasan sudah kontrol rutin. Pemeriksaan spirometri berusaha hadir lebih dekat kepada mereka, membawa layanan hingga ke pendopo desa.

Di Tamanagung, napas diukur bukan hanya dengan angka. Ia diukur dengan kehadiran, kesabaran, dan kerja sama. Setiap hembusan yang terekam dalam alat spirometri adalah pengingat bahwa kesehatan sering kali dimulai dari hal paling dasar: menarik napas, mengembuskannya, lalu menarik napas lagi - dengan harapan irama itu tetap terjaga untuk waktu yang lebih lama. *** [251026] 

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Risk Checker

Risk Checker

Statistik Blog

Sahabat eKader

Label

Arsip Blog