Sabtu, 10 Oktober 2026

Sore di RTH Wringinagung: Kisah Enumerator dan Kader Ngelotis Bareng

“Nicht weinen, weil sie vorüber, lächeln, weil sie gewesen.” -- Ludwig Jacobowski (1868–1900)

Sore itu, tak ada pidato panjang atau jabat tangan yang diiringi tangis perpisahan. Hanya dua tikar di atas paving block, potongan buah segar, bumbu lotis yang pedas-manis, dan gelas-gelas es kuwut yang menggoda dahaga. Di bawah rindangnya pohon beringin, tawa mengalir, menyamarkan haru yang diam-diam tersimpan. Di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Wringinagung, sebuah kebersamaan menemukan cara paling sederhana untuk berpamitan: ngelotis bareng.

Berlokasi di Jalan Sriwijaya, Dusun Sumberjaya RT 01 RW 01, Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, RTH itu menjadi ruang perjumpaan yang terasa lebih seperti reuni keluarga daripada acara perpisahan. Tiga enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) berkumpul bersama 12 kader kesehatan setempat untuk menikmati sore sekaligus mengenang perjalanan yang telah mereka lalui bersama.

Ketiga enumerator tersebut adalah Muhammad Wisnu Nafiri, S.E., Maharany Triastuti Januarizki, S.ST., dan Winda Cahyani, S.Tr.Gz.RD. Selama pelaksanaan survei, mereka berkolaborasi dengan Asfiratus, Eva, Ika, Khilma, Lasmi, Lilik, Melani, Mujiani, Munik, Rizky, dan Siti Zulaihah. Para kader menjadi penghubung penting antara tim penelitian dan masyarakat, membantu membangun komunikasi serta mendukung kelancaran berbagai kegiatan di lapangan.

Kebersamaan sore itu juga memiliki cerita lain. Usai mendampingi enumerator baseline survey di Desa Purwodadi dan berpamitan dengan perangkat desa di Kantor Desa Purwodadi, Field Facilitator NIHR UB turut bergabung dalam momen ngelotis tersebut. Perjalanan dari Purwodadi menuju Wringinagung seolah mempertemukan dua cerita lapangan dalam satu ruang kebersamaan, yakni cerita tentang tugas yang telah dituntaskan dan hubungan antarmanusia yang tumbuh selama prosesnya.

Enumerator baseline survey Desa Wringinagung berpose bersama kader kesehatan dan Field Facilitator NIHR UB

Kehadiran Field Facilitator menambah hangat suasana. Di balik pekerjaan mendampingi enumerator, berkoordinasi dengan berbagai pihak, dan memastikan kegiatan berjalan sesuai rencana, ada pengalaman-pengalaman yang tak selalu tercatat dalam laporan. Ada percakapan, tantangan, dan perjumpaan dengan banyak orang yang membuat perjalanan penelitian terasa lebih berarti.

Di lapangan, pekerjaan para enumerator dan kader bukan perkara ringan. Pengambilan data, pemeriksaan spirometri, hingga wawancara dengan warga membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan koordinasi yang baik. Dukungan para kader membantu tim menjangkau masyarakat, sedangkan pendampingan di lapangan menjadi bagian penting dalam mengawal jalannya survei.

Hari-hari yang semula dipenuhi tugas dan tanggung jawab itu perlahan menghadirkan sesuatu yang lebih personal. Kerja bersama menumbuhkan rasa saling percaya. Percakapan di sela kegiatan melahirkan kedekatan. Bahkan, pengalaman tak terduga menjadi cerita yang kelak dikenang bersama, seperti ketika enumerator Rany dan kader Lasmi yang berboncengan tiba-tiba jatuh dari motor karena bannya selip di mulut gang saat mau jemput responden untuk pemeriksaan spirometri. Situasi yang mungkin merepotkan kala itu justru berubah menjadi bahan obrolan yang mengundang gelak tawa.

Di atas tikar, aneka buah tersaji menggugah selera. Jambu air merah, mangga muda, bengkoang, timun, dan nanas berpadu dengan bumbu lotis yang diulek hingga merata. Perpaduan rasa manis, asam, pedas, dan segar seolah mencerminkan perjalanan mereka yang tak selalu mudah, tetapi selalu menyisakan cerita untuk dibagikan. Potongan buah yang dicelupkan ke dalam bumbu menjadi pemantik obrolan, sementara es kuwut menyegarkan tenggorokan di tengah udara sore yang mulai sejuk.

Ngelotis bareng di RTH Wringinagung di bawah bayang-bayang pohon beringin

Tak ada yang benar-benar ingin menjadikan perpisahan sebagai topik utama. Namun, semua yang hadir menyadari bahwa sebuah tahapan pekerjaan telah sampai di penghujungnya. Justru melalui suasana santai itulah rasa terima kasih menemukan tempatnya, tanpa perlu dikemas dalam seremoni yang kaku.

Di tengah obrolan, Muhammad Wisnu Nafiri mewakili kedua rekannya menyampaikan apresiasi kepada para kader.

“Terima kasih atas kerja samanya selama ini. Tanpa bantuan dan ketulusan teman-teman semua, survei ini tidak akan berjalan lancar,” ujarnya.

Kalimat sederhana itu menjadi pengakuan atas waktu, tenaga, dan ketulusan para kader dalam mendukung kegiatan survei. Lebih dari sekadar ucapan penutup, pesan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan kerja lapangan bukanlah hasil usaha satu pihak, melainkan buah kolaborasi banyak orang.

Ngelotis bareng mungkin terdengar seperti kegiatan sederhana. Namun, di RTH Wringinagung, ia menjadi lebih dari sekadar agenda makan buah bersama. Ada penghargaan, rasa kekeluargaan, dan kenangan yang diracik dalam suasana santai. Dari enumerator, kader kesehatan, hingga Field Facilitator, setiap orang memiliki peran dalam perjalanan yang sama, meski dengan tanggung jawab yang berbeda.

Perpisahan yang sumringah

Seperti ungkapan dari penggalan puisi karya seorang penyair Jerman, Ludwig Jacobowski (1868–1900):

“Jangan menangis karena hal itu telah berakhir, tersenyumlah karena hal itu pernah terjadi.” 

Kalimat ini seolah merangkum suasana sore itu. Berakhirnya satu tahapan kegiatan bukan berarti berakhir pula makna kebersamaan yang telah terbangun. Pengalaman bekerja bersama, saling membantu, dan berbagi cerita akan tetap hidup dalam ingatan masing-masing.

Di bawah rindangnya pohon beringin, mereka berpamitan tanpa perlu larut dalam kesedihan. Tawa menjadi bahasa terima kasih, lotis menjadi teman berbagi kenangan, dan es kuwut menghadirkan kesegaran di tengah perpisahan. 

Sore itu, di RTH Wringinagung, mereka memilih tersenyum - bukan karena tak ada rasa kehilangan, melainkan karena pernah memiliki kesempatan untuk bekerja, berbagi, dan menjadi bagian dari perjalanan yang cukup bermakna ini. *** [101026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Pamitan di Kantor Desa Purwodadi: Ketika Data Usai, Silaturahmi Tetap Terjaga

“Be well, do good work, and keep in touch.” -- Garrison Keillor

Empat bulan bukan waktu yang singkat. Sejak pertama kali mengetuk pintu rumah warga, memperkenalkan diri sebagai Tim Enumerator Baseline Survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communcable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC), hingga menuntaskan pemeriksaan spirometri terakhir, Desa Purwodadi , Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi telah menjadi ruang kerja sekaligus rumah kedua bagi tim enumerator. Kini, di penghujung tugas, tibalah saatnya berpamitan.

Seperti peribahasa lama, “datang tampak muka, pulang tampak punggung.” Ketika awal kedatangan, tim menghadap Kepala Desa (Kades) Purwodadi untuk memohon izin dan restu. Maka di akhir tugas, mereka kembali menghadap, bukan untuk meminta sesuatu, melainkan untuk menyampaikan terima kasih dan permohonan maaf jika selama proses pengumpulan data ada tutur kata atau sikap yang kurang berkenan.

Enumerator baseline survey berpose bersama dengan perangkat desa di Ruang Kerja Kades Purwodadi


Komunikasi yang Membuka Pintu, Komunikasi yang Menutup dengan Hormat

Dalam analisis komunikasi, apa yang dilakukan tim enumerator - Mega Wrida Silvia, SKM; Naylil Nur Amalya Putri, S.Sos.; Sinta Ningrum Widianingsih, SKM – yang didampingi Field Facilitator NIHR Universitas Brawijaya (UB), yang sekaligus sebagai Peneliti dalam Bidang Pengawasan Data Lapangan/Supervisor SMARThealth ini, adalah bentuk komunikasi interpersonal yang beretika sekaligus komunikasi organisasi yang membangun legitimasi sosial. 

Kehadiran awal ke Kades Purwodadi, Drs. Suyanto, bukan sekadar formalitas administratif, melainkan simbol bahwa tim menghormati struktur sosial desa. Sebaliknya, pamitan di akhir tugas adalah penegasan bahwa hubungan yang terbangun tidak berhenti pada kepentingan proyek semata.

Secara teoretis, ini menyentuh konsep face-saving dan relational maintenance dalam komunikasi. Tim tidak hanya menuntaskan target data, tetapi juga menjaga "wajah" desa dan Kades sebagai tuan rumah. Pamitan menjadi pesan nonverbal: kami datang dengan hormat, kami pulang dengan hormat.

Enumerator ucapkan terima kasih atas dukungan Pemdes Purwodadi dalam melakukan baseline survey NIHR-GHRC NCDs & EC


Suara dari Balai Desa

“Terima kasih banyak, Pak Kades, atas izin, dukungan, dan pengertiannya selama tiga bulan ini. Kami mungkin hanya singgah, tapi Desa Purwodadi akan selalu jadi bagian dari cerita survei ini,” ujar Mega, mewakili rekan-rekan enumerator.

Kades Purwodadi pun menyambut dengan tangan terbuka. “Data yang Bapak-Ibu kumpulkan ini Insya Allah bermanfaat, terutama untuk kesehatan warga. Kalau ada kekurangan selama di sini, mohon dimaafkan. Pintu desa selalu terbuka kalau ada kegiatan lagi.”

Dialog singkat itu bukan sekadar basa-basi. Ia adalah ritual komunikasi yang mengukuhkan hubungan antara peneliti, pemerintah desa, dan masyarakat. Dalam konteks NIHR-GHRC NCDs & EC - yang meneliti penyakit tidak menular dan dampak kesehatan lingkungan - kepercayaan masyarakat adalah modal utama. Pamitan yang hangat menjadi jembatan agar kepercayaan itu tidak putus setelah tim pergi.

Interaksi bersahabat antara enumerator baseline survey, Field Facilitator NIHR UB, dan perangkat desa di Ruang Kerja Kades Purwodadi, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi


Datang Tampak Muka, Pulang Tampak Punggung — tapi Jejaknya Tetap Ada

Peribahasa datang tampak muka, pulang tampak punggung sering dimaknai sebagai etika datang dan pergi. Namun dalam konteks ini, maknanya lebih dalam, yakni kehadiran yang sopan di awal, dan kepergian yang juga sopan di akhir. Tidak ada kesan "kabur" setelah data terkumpul. Yang ada adalah penutupan yang manusiawi.

Di sinilah komunikasi menjadi lebih dari sekadar pertukaran informasi. Ia menjadi pengalaman bersama - antara enumerator yang belajar memahami denyut kehidupan desa, dan warga yang bersedia membuka pintu, menjawab pertanyaan, bahkan duduk tenang saat pemeriksaan spirometri.

Di sela-sela itu, Field Facilitator NIHR UB juga berbincang dengan Kades Purwodadi, Sekretaris Desa (Sekdes Hj. Sri Astutik Rustiningsih, Kepala Dusun (Kasun) Gembolo Dwi Adi Setiawan, S.Pd., dan Kasun Krajan, Hadi Winarto. Mereka cukup ramah semua, dan bernuansa bersahabat dalam interaksinya.

Tak terkecuali, sebelum membuka pintu utama Kantor Desa Purwodadi, enumerator dan Field Facilitator NIHR UB juga berpamitan dengan staf desa yang berada di Ruang Pelayanan


Menjaga Komunikasi, Merawat Karya

Garrison Keillor, penulis dan penyiar Amerika, pernah berpesan:

“Jaga diri baik-baik, berkaryalah dengan baik, dan tetaplah menjalin komunikasi.”

Pesan itu terasa relevan di sini. Tim enumerator telah berkarya - mengumpulkan data, memfasilitasi pemeriksaan fungsi paru warga, mendokumentasikan kondisi kesehatan masyarakat. Namun karya yang baik tidak berhenti pada laporan. Ia berlanjut pada jalinan komunikasi yang tetap terpelihara: antara tim dan perangkat desa, antara tim dan warga, antara ilmu pengetahuan dan kehidupan nyata di Desa Purwodadi.

Maka pamitan ini bukan akhir. Ia adalah titik koma - jeda yang menyimpan kemungkinan kolaborasi lanjutan, atau setidaknya kenangan bahwa pernah ada sekelompok orang yang datang membawa alat spirometri, pulang membawa data, dan meninggalkan salam.

Yang pergi membawa tugas, yang tinggal menyimpan cerita. Namun selama komunikasi masih terjaga, tak ada perpisahan yang benar-benar selesai. “A Valediction: Forbidding Mourning,” kata John Donne. “Sebuah Perpisahan: Melarang Kesedihan.”

Sampai bertemu lagi, Desa Purwodadi  -  dalam doa, dalam karya, atau dalam kunjungan yang tak direncanakan. *** [091026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Jumat, 09 Oktober 2026

Ketika Napas Menjadi Bahasa Kesehatan: Kisah Pemeriksaan Spirometri Ketiga di Tamanagung

“Beautify your breath – beautify your life.” -- Amit Ray, Mindfulness Living in the Moment 

Jumat (09/11) pagi, Pendopo Desa Tamanagung di Jalan Sraten No. 07, Dusun Krajan, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, kembali menjadi ruang kecil yang sibuk namun hangat. Di dalamnya, sejumlah warga menunggu giliran untuk melakukan satu hal yang sering dianggap sederhana, yakni menarik dan mengembuskan napas. Namun, di balik gerakan itu tersimpan informasi penting tentang kesehatan paru mereka.

Kegiatan tersebut merupakan pemeriksaan spirometri ketiga yang diselenggarakan oleh tim enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC), bekerja sama dengan Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RS NU) Banyuwangi. Tiga enumerator - Fahmi Ahmad Fauzan, S.Sos.; Dysa Fitri Permatasari, S.Tr.Kes., M.Kes.; dan Nisaul Rofifah, S.Gz. - kembali menyiapkan layanan sejak pukul 08.00 WIB. Sebanyak 25 warga hasil pre-screening yang terindikasi memiliki faktor risiko penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) diundang untuk diperiksa.

Amit Ray, seorang guru spiritual yang telah mencapai pencerahan dalam tradisi Yoga Himalaya dan Vipassana, pernah berujar dalam Mindfulness Living in the Moment (2015): 

“Perindah napasmu - perindah hidupmu.” 

Kalimat sederhana itu terasa relevan di Pendopo Desa Tamanagung. Bagi warga yang hadir, pemeriksaan ini bukan sekadar tes tiup ke dalam alat, melainkan kesempatan untuk mengenali kondisi paru sejak dini. Spirometri memang menjadi pemeriksaan utama untuk menegakkan diagnosis PPOK, terutama pada orang berusia di atas 40 tahun yang mengalami gejala sesak napas.

Personel RS NU Banyuwangi berpose dengan enumerator baseline survey, kader kesehatan, pengawas tes spirometri, dan Field Facilitator NIHR UB


Dari Undangan hingga Antrean

Mobilisasi warga tidak berjalan sendirian. Dua kader kesehatan setempat, Luckyta Anjarsai dan Ratna Mujayana, membantu enumerator menyampaikan undangan dua hari sebelum pelaksanaan. Pada hari H, keduanya kembali hadir untuk mendampingi warga dan memastikan proses berjalan tertib.

Alur pemeriksaan mengikuti pola yang sama seperti spirometri kedua. Warga pertama-tama menuju meja 1, atau meja pendaftaran. Di sana, kader Luckyta dan Ratna melakukan registrasi sekaligus verifikasi data responden. Setelah itu, mereka dipersilakan duduk di bangku antrean yang telah disiapkan.

Sementara menunggu, enumerator Fauzan memberikan edukasi singkat mengenai teknik menyebul atau meniup ke spirometer. Penjelasan ini penting karena hasil spirometri sangat bergantung pada kemampuan responden melakukan manuver napas secara benar. Spirometri mengukur jumlah maksimum udara yang dapat dihirup dan diembuskan, sehingga kualitas teknik menjadi penentu keakuratan hasil.

Pengukuran tekanan darah dan oksimetri


Empat Meja, Satu Tujuan

Panggilan pertama datang dari meja 2, atau meja tanda-tanda vital (TTV). Di titik ini, Perawat Ike Tri Cahyani menimbang berat badan, mengukur tekanan darah, dan melakukan oksimetri. Selanjutnya, Bidan Fath Syu’araanisa, A.Md.Keb., melakukan anamnesis melalui aplikasi SMARThealth.

Setelah TTV, responden kembali menunggu di bangku antrean bila meja 3 sedang digunakan. Namun, jika meja spirometri sedang kosong, mereka dapat langsung melanjutkan pemeriksaan. Di meja 3, Perawat Neneng Sugiarti memimpin manuver spirometri tahap pertama atau pre-semprotan salbutamol. Ia dibantu Perawat Lavinia Agustin yang mengoperasikan alat MIR SpiroLab milik NIHR Universitas Brawijaya (UB).

Pemeriksaan ini tidak berhenti pada sekali tiup. Spirometri yang memenuhi syarat harus dilakukan minimal tiga kali dengan metode yang valid dan dapat direproduksi untuk menentukan forced vital capacity (FVC). Apabila hasilnya belum memenuhi kriteria reproduksibilitas, pemeriksaan dapat diulang hingga delapan kali.

Setelah tahap pertama selesai, responden menerima semprotan salbutamol melalui mulut, lalu beristirahat selama 20 menit. Tahap kedua, atau post-semprotan salbutamol, kemudian dilakukan dengan cara yang sama. Perbandingan hasil sebelum dan sesudah penggunaan bronkodilator membantu menilai respons saluran napas terhadap obat.

Seluruh proses di meja 3 diawasi langsung oleh Ns. Elik Anistina, S.Kep., yang membantu NIHR UB dalam pengawasan spirometri. Kehadirannya memastikan prosedur berjalan sesuai standar, sekaligus membantu mengidentifikasi hambatan yang mungkin memengaruhi hasil pemeriksaan.

Tes spirometri


Apresiasi dan Catatan Penting

Setelah menyelesaikan rangkaian tes, responden diarahkan ke meja 4, atau meja apresiasi partisipasi. Di sana, enumerator Nisa dan Dysa memberikan konsumsi, vitamin, serta subsidi transportasi sebagai bentuk penghargaan atas kesediaan warga mengikuti pemeriksaan.

Kegiatan juga dihadiri Rahmanurraudhotul Amin, SKM, yang ditunjuk oleh Theme 1: Primary Healthcare Strengthening untuk mengamati prosesi menggunakan checklist. Pemeriksaan berlangsung hingga pukul 13.06 WIB. Dari 25 undangan, seluruh responden berhasil diperiksa menurut catatan Field Facilitator NIHR UB.

Meski capaian tersebut menggembirakan, Ns. Elik mencatat enam hasil yang kurang optimal. Seorang laki-laki berusia 42 tahun memiliki hasil kurang baik karena riwayat sesak napas sejak kecil, dengan pengobatan terakhir pada 2025. Laki-laki lanjut usia 71 tahun juga memperoleh hasil kurang baik karena masih menjalani pengobatan paru-paru.

Kasus lainnya menunjukkan bahwa kondisi fisik dan penyakit penyerta dapat memengaruhi pelaksanaan tes. Seorang perempuan 75 tahun sedang mengalami sakit gigi dan gusi saat diperiksa. Laki-laki 84 tahun memiliki riwayat sesak napas akibat penyakit paru serta gangguan pendengaran. Perempuan 60 tahun memiliki riwayat stroke ringan dan kesulitan berjalan, sementara laki-laki 52 tahun memiliki riwayat sesak napas.

Meja 4: apresiasi atas partisipasi responden


Napas yang Layak Dirawat

Enam catatan tersebut bukan sekadar angka. Ia menggambarkan bahwa masalah pernapasan dapat hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari riwayat penyakit sejak kecil, usia lanjut, hingga keterbatasan fisik. Di sinilah pentingnya spirometri sebagai alat deteksi dini. Pemeriksaan ini membantu mengidentifikasi penurunan fungsi paru secara lebih cepat dan menjadi dasar untuk tindak lanjut yang tepat.

Bagi Desa Tamanagung, spirometri ketiga ini menegaskan satu pesan, bahwa kesehatan paru perlu dirawat sebelum keluhan menjadi berat. Ketika warga belajar mengenali napasnya, ketika kader hadir mendekatkan layanan, dan ketika pemeriksaan dapat dilakukan di dekat rumah, upaya pencegahan PPOK menjadi lebih nyata.

Pada akhirnya, “perindah napasmu - perindah hidupmu” bukan hanya ungkapan puitis. Ia adalah pengingat bahwa setiap tarikan napas adalah anugerah yang patut dijaga, dan setiap pemeriksaan sederhana dapat menjadi langkah besar menuju hidup yang lebih sehat. *** [091026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Kamis, 08 Oktober 2026

Dari Unreadable ke Valid: Proses Pemeriksaan Ulang Spirometri di Wringinagung

“Medida que progresaran, podían inhalar contando hasta cuatro y exhalar hasta ocho, con” -- James Nestor, Respira: La nueva ciencia de un arte olvidado

Di sebuah pendopo sederhana Kantor Balai Dusun Sumberjo, yang beralamat di Dusun Sumberjo RT 05 RW 01 Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, puluhan lansia antre dengan sabar. Bukan untuk mengambil beras atau obat, melainkan untuk “napas kedua”, yakni mengulang tes spirometri yang sebelumnya tak terbaca. Di sinilah sains bertemu realitas lapangan, di mana data yang baik bukan soal cepat selesai, tapi soal napas yang benar-benar terukur.

Pemeriksaan ulang spirometri bukanlah kegagalan, melainkan standar emas dalam pengukuran fungsi paru. Tes spirometri yang valid mensyaratkan minimal tiga manuver yang dapat diterima (acceptable) dan dua di antaranya harus konsisten (repeatable), dengan selisih FVC dan FEV1 tidak lebih dari 150 ml. Jika kurva buruk, nilai tidak konsisten, atau ada gangguan teknis, hasil itu sebaiknya tidak ditafsirkan, melainkan diulang di hari lain.

Personel RS Yasmin Banyuwangi berpose dengan enumerator baseline survey, kader kesehatan, pengawas tes spirometri, observer prosesi pemeriksaan spirometri, dan Field Facilitator NIHR UB

Kualitas spirometri bertumpu pada tiga pilar, yaitu perawat yang terlatih, peralatan akurat, dan usaha maksimal pasien. Tanpa salah satunya, data bisa menyesatkan. Di Wringinagung, sepuluh sesi spirometri sebelumnya telah menjangkau 250 responden terindikasi risiko PPOK. Namun, beberapa hasilnya “unreadable”. Maka, pengulangan bukan pilihan, melainkan keharusan ilmiah.

Rabu (07/10), tiga enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Wringinagung - Muhammad Wisnu Nafiri, S.E.; Maharany Triastuti Januarizki, S.ST.; dan Winda Cahyani, S.Tr.Gz.RD - kembali membuka pos pemeriksaan. Kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi ini mengundang 28 responden yang sebelumnya hasilnya belum memuaskan.

Dibantu dua kader kesehatan setempat, Eva Hariana dan Siti Zulaihah, alur pemeriksaan dijalankan persis seperti sepuluh sesi sebelumnya, yaitu registrasi dan verifikasi data, pengukuran tanda-tanda vital (TTV), anamnesis dengan aplikasi SMARThealth, pemeriksaan fisik, lalu spirometri pre-nebulisasi, nebulisasi, dan spirometri post-nebulisasi.

Meja pendaftaran

Di meja TTV, Perawat Annisa Fitriya, A.Md.Kep., memeriksa tekanan darah dan oksimetri. Di sampingnya, dr. Rika Hardiyanti melakukan anamnesis dan mendengarkan paru dengan stetoskop. 

Sambil menunggu panggilan spirometri, enumerator baseline survey Wisnu memanfaatkan waktu untuk melatih teknik pernapasan responden, sebuah sentuhan manusiawi di tengah protokol ketat.

Di meja spirometri, Ns. Winda Nurhasanah, S.Kep., memandu manuver dengan sabar, dibantu Ns. Rizki Indrawangi, S.Kep., yang mengoperasikan laptop terhubung alat spirometri, di bawah pengawasan Perawat Elik Anistina, S.Kep. 

Setelah tes tahap 1 (pre-nebulisasi), responden bergeser ke meja nebulisasi, di mana Ns. Renny Karmila, S.Kep., memberikan terapi inhalasi - mengubah obat cair menjadi kabut halus yang dihirup langsung ke saluran napas.

Dokter RS Yasmin Banyuwangi periksa responden dengan stetoskop

Setelah nebulisasi dan jeda singkat, responden dipanggil kembali untuk tes tahap 2 (post-nebulisasi). Prosedurnya sama, hanya berbeda pada kondisi sebelum dan sesudah pemberian bronkodilator. Jika tahap 2 lancar, rangkaian pemeriksaan selesai.

Responden lalu kembali ke meja pendaftaran untuk menerima konsumsi, gift, dan subsidi transportasi dari kader Eva dan Siti Zulaihah yang disaksikan oleh dua enumerator Rany dan Winda. Hal ini merupakan sebuah apresiasi kecil atas kontribusi responden pada data kesehatan komunitas.

Dari 28 responden yang diundang, semua berhasil diperiksa. Namun, dua hasil masih kurang memuaskan menurut Ns. Elik. Seorang lansia laki-laki berusia 80 tahun, yang sehari-hari menggunakan oksigen di rumah karena sesak napas kronis, kesulitan melakukan manuver baik pre maupun post-nebulisasi. Demikian pula seorang perempuan lansia sekitar 71 tahun dengan riwayat gejala stroke dan pengobatan saraf mata kanan.

Tes spirometri

Kasus-kasus ini mengingatkan bahwa spirometri bukan sekadar soal alat, tapi juga soal kondisi fisiologis dan kemampuan kooperatif pasien. Pada lansia dengan komorbiditas berat, manuver maksimal sering kali tak mungkin dicapai, dan itu bukan kegagalan individu, melainkan batasan realistis yang harus dicatat dalam interpretasi klinis.

Di tengah kesibukan itu, ada satu kalimat yang seolah menggema dari buku Breath: The New Science of a Lost Art (2020) karya James Nestor: 

“Seiring kemajuan mereka, mereka bisa menarik napas hingga hitungan keempat dan mengembuskannya hingga hitungan kedelapan.”

Kalimat ini bukan sekadar teknik relaksasi. Ia adalah metafora, bahwa napas yang baik butuh latihan, kesabaran, dan pengulangan. Di Wringinagung, spirometri yang diulang adalah wujud konkret dari prinsip itu di mana data paru yang akurat lahir dari napas yang terlatih, bukan terburu-buru.

Nebulisasi

Pemeriksaan ulang spirometri perdana di Desa Wringinagung ini selesai pukul 13.42 WIB, disaksikan oleh Rahmanurraudhotul Amin, SKM, enumerator baseline survey Desa Kaliploso yang ditunjuk Theme 1: Primary Healthcare Strengthening dalam obsevasi prosesi pemeriksaan spirometri dengan checklist. 

Dari catatan Field Facilitator NIHR UB, dua puluh delapan napas telah diukur ulang. Dua di antaranya masih menyisakan catatan teknis. Tapi justru di situlah kejujuran data berbicara di mana lebih baik mengulang daripada memaksakan interpretasi dari kurva yang buruk.

Karena pada akhirnya, kebijakan kesehatan yang tepat lahir dari data yang jujur. Dan data yang jujur dimulai dari napas yang benar-benar terukur, bahkan jika itu berarti harus diulang. *** [081026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Menyebul Menuju Sehat: Wiracarita Spirometri Keenam Desa Kaliploso

“What the bodily form depends on is breath (chi) and what breath relies upon is form,” states a Chinese adage from 700 AD. “When the breath is perfect, the form is perfect (too).”” -- James Nestor, Breath: The New Science of a Lost Art

Di bawah atap Pendopo Desa Kaliploso, Dusun Plosorejo RT 03 RW 04 Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, 25 warga antre dengan satu tujuan sederhana, yaitu memastikan paru-paru mereka masih bekerja sebagaimana mestinya.

Pada Sabtu (03/10), kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RS NU) Banyuwangi menggelar pemeriksaan spirometri keenam yang menjadi bagian dari baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC).

Suasana pemeriksaan spirometri (keenam) yang diadakan di Pendopo Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi

Kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB dengan 27 responden terindikasi faktor risiko Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Alurnya dirancang sistematis. Registrasi di meja barat daya oleh enumerator Rafini dibantu kader, lalu ke meja TTV di timur laut untuk penimbangan, pengukuran tekanan darah, dan oksimetri oleh Perawat Evi Faizatun.

Di sisi lain, Perawat Fath Syu'araanisa melakukan anamnesis menggunakan aplikasi SMARThealth. Sambil menunggu panggilan, enumerator Rahman mengajarkan teknik "menyebul" - istilah lokal untuk manuver pernapasan yang akan mereka lakukan di alat spirometri.

Pengukuran tekanan darah

Di meja spirometri sisi selatan, Perawat Joenhiga memandu manuver dengan bantuan Perawat Lavinia yang mengoperasikan MIR SpiroLab milik NIHR UB. Tes tahap pertama dilakukan sebelum semprotan salbutamol (pre-bronkodilator).

Responden kemudian duduk 20 menit menunggu obat bekerja - waktu yang direkomendasikan agar salbutamol mencapai efek maksimal membuka saluran napas. Setelah itu, mereka kembali melakukan tes tahap kedua (post-bronkodilator) dengan prosedur sama.

Tes spirometri

James Nestor, seorang jurnalis yang pernah menulis untuk majalah Outside, Men's Journal, Scientific American, Dwell, National Public Radio, The New York Times, The Atlantic, San Francisco Chronicle, dan lain-lain, pernah berujar dalam Breath: The New Science of a Lost Art (2020): 

"Wujud fisik bergantung pada napas (chi), dan napas bergantung pada wujud," demikian bunyi sebuah pepatah Tiongkok dari tahun 700 M. "Ketika napas sempurna, wujud pun menjadi sempurna."" 

Disaksikan para kader, enumerator berikan konsumsi, gift, dan subsidi transportasi atas partisipasi responden dalam pemeriksaan spirometri

Kutipan ini menguatkan mengapa spirometri bukan sekadar prosedur medis, melainkan upaya memastikan "chi" atau napas warga tetap optimal untuk menunjang wujud fisik yang sehat.

Dari 27 undangan, 25 hadir. Dua lainnya absen. Seorang perempuan yang reschedule dari pemeriksaan ketiga merasa minder, sementara seorang laki-laki tak bisa ditemui - menurut kader, ia menghindari kumpulan karena kerap ditagih utang.

Peta Desa Kaliploso

Di lapangan, beberapa tantangan muncul. Seorang lansia laki-laki 67 tahun kesulitan mengikuti instruksi karena gangguan pendengaran. Responden 65 tahun dengan riwayat post-opname hipertensi dan jantung bengkak menghasilkan tes kurang optimal. Satu lagi, lansia yang sedang pengobatan paru-paru juga menunjukkan hasil serupa. Menariknya, seorang pria 48 tahun dengan mental disorder justru menghasilkan tes yang cukup bagus.

Kegiatan berakhir pukul 12.09 WIB. Di meja pendaftaran akhir, enumerator Rafini dan kader membagikan konsumsi, gift, dan subsidi transportasi sebagai apresiasi atas partisipasi warga.

Pemeriksaan spirometri ini bukan sekadar angka FEV1 dan FVC. Ia adalah cerita tentang warga desa yang peduli pada napasnya sendiri, karena seperti kata pepatah Tiongkok: ketika napas sempurna, wujud pun menjadi sempurna. *** [081026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Risk Checker

Risk Checker

Indeks Massa Tubuh

Supplied by BMI Calculator Canada

Statistik Blog

Sahabat eKader

Label

Arsip Blog