“Idza dakhalta fa ahsin al-wudda, wa idza kharajta fa ahsin al-wada'a.” – Maqulah (Kata Bijak) Arab
Setiap perjumpaan menyimpan benih kenangan, setiap perpisahan menyisakan jejak, dan setiap perjalanan mengajarkan bahwa tidak semua yang pergi benar-benar berakhir.
Ada yang datang membawa pertanyaan, menyusuri rumah demi rumah, mengetuk pintu warga, dan mencatat denyut kehidupan dalam lembar-lembar kuesioner dalam aplikasi. Ada pula yang pulang dengan sesuatu yang tak tercantum dalam formulir survey, seperti pengalaman, persahabatan, dan kenangan tentang manusia-manusia yang ditemui di sepanjang perjalanan.
Begitulah kisah tiga enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) ketika berpamitan dari Desa Sarimulyo, Banyuwangi, pada Jumat (23/10) pagi.
Sehari sebelumnya, mereka masih bertualang di hamparan laut yang menyimpan pesona surga tersembunyi di selatan Banyuwangi. Namun, pagi itu, suasana berganti. Di Pendopo Desa Sarimulyo, yang berada di Jalan Pahlawan Abdul Mukti No. 10, Dusun Cempokosari, sebuah perjumpaan sederhana menjadi penanda berakhirnya satu babak perjalanan lapangan.
Kiki Antikawati Rustandi, S.Kep., Istifani Shafira, SKM, dan Triana Rahmah, S.AB, didampingi Field Facilitator NIHR UB, datang untuk menyampaikan pamit kepada Kepala Desa Sarimulyo, Budi Susilo, S.T., beserta jajaran perangkat desa. Bukan sekadar kunjungan penutup, pertemuan itu menjadi ruang untuk merawat hubungan yang tumbuh selama penelitian berlangsung.
![]() |
| Enumerator baseline survey Desa Sarimulyo berpose dengan Kades dan jajaran Pemdes Sarimulyo dalam acara pamitan |
Dari Pendataan Menuju Persaudaraan
Bagi Kepala Desa Budi Susilo, kehadiran tim penelitian NIHR UB bukanlah hal yang sepenuhnya baru. Dalam ingatannya, sudah ada tiga gelombang kunjungan enumerator ke desanya, yakni saat household listing, pre-screening, hingga baseline survey. Rentang kegiatan tersebut menjadi saksi bagaimana sebuah penelitian bertumbuh melalui keterlibatan masyarakat dan dukungan pemerintah desa.
Kades Budi menyampaikan apresiasi atas kerja para enumerator. Ia juga mengungkapkan permohonan maaf apabila selama berinteraksi terdapat hal-hal yang kurang berkenan. Sebuah sikap bersahaja yang mengingatkan bahwa hubungan baik tidak dibangun oleh kesempurnaan, melainkan oleh kesediaan untuk saling menghargai.
Tak berhenti di situ, ia menitipkan harapan melalui Field Facilitator NIHR UB agar mahasiswa Universitas Brawijaya yang menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) berkenan ditempatkan di Sarimulyo. Baginya, kehadiran mahasiswa berpotensi menjadi energi baru untuk membantu menggali dan mengembangkan potensi desa.
Harapan itu seperti jembatan yang sengaja dibiarkan terbentang. Sebab, ketika sebuah kegiatan berakhir, manfaatnya semestinya tidak ikut berhenti.
![]() |
| Suasana acara pamitan baseline survey di Pendopo Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi |
Berpisah, tetapi Belum Usai
Menanggapi sambutan kepala desa, Field Facilitator NIHR UB menjelaskan bahwa penelitian ini sejatinya belum mencapai garis akhir. Baseline survey hanyalah satu tahap dalam perjalanan yang lebih panjang. Setelah jeda, tim akan kembali pada tahun berikutnya untuk melaksanakan endline survey.
“Pamitan ini adalah perpisahan sementara saja,” jelasnya.
Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan makna. Tidak semua perpisahan berarti kehilangan; sebagian hanyalah jeda yang memberi ruang bagi waktu untuk bekerja. Ada jarak yang perlu ditempuh sebelum perjumpaan berikutnya menjadi mungkin.
Karena itu, pamitan kali ini bukanlah penutupan seluruh kisah penelitian, melainkan penanda berakhirnya jadwal baseline survey di Desa Sarimulyo. Tim pun memohon izin untuk kembali pada masa mendatang, membawa kelanjutan dari ikhtiar ilmiah yang telah dimulai bersama masyarakat.
![]() |
| Sekapur sirih enumerator yang membawa pesan sehat |
Dari Spirometri hingga Asap Pembakaran Sampah
Suasana kemudian dihangatkan oleh Kiki Antikawati Rustandi yang mewakili suara para enumerator. Dalam sambutannya, ia menyampaikan terima kasih atas peran kepala desa dan kamituwo yang telah membantu kelancaran penelitian, termasuk pelaksanaan pemeriksaan spirometri selama baseline survey.
Kiki juga menyinggung penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), persoalan kesehatan yang tidak dapat dilepaskan dari sejumlah kebiasaan sehari-hari. Salah satunya ialah perilaku membakar sampah yang berpotensi menurunkan kualitas udara dan mengganggu kesehatan pernapasan.
Dengan gaya tutur yang akrab, ia turut mengingatkan para bapak yang merokok agar tidak melakukannya di dalam rumah. Sebab, asap rokok bukan hanya urusan orang yang mengisapnya, melainkan juga dapat terhirup oleh anggota keluarga lain yang berbagi ruang dengannya.
Pesan itu disambut tawa kamituwo. Teguran kesehatan yang disampaikan tanpa menggurui justru menemukan jalannya melalui keakraban. Di sana, penelitian tidak hanya tampil sebagai kegiatan mengumpulkan data, tetapi juga sebagai kesempatan berbagi pengetahuan dan menumbuhkan kesadaran.
![]() |
| Bingkisan kenang-kenangan dari enumerator yang diterima secara simbolik oleh Kades Sarimulyo, dan disaksikan oleh Field Facilitator NIHR UB |
Ahsin al-Wada'a: Seni Meninggalkan Jejak Baik
Acara berlanjut dengan penyerahan bingkisan kepada perangkat desa yang selama ini mendukung kegiatan enumerator. Foto bersama pun diabadikan, disusul jabat tangan dan salam perpisahan. Satu per satu, rangkaian pamitan dituntaskan dengan kesahajaan.
Dalam khazanah hikmah Arab, terdapat ungkapan:
“Idza dakhalta fa ahsin al-wudda, wa idza kharajta fa ahsin al-wada'a.”
Artinya, “Jika engkau datang, tunjukkanlah keramahan yang baik; dan jika engkau pergi, berpamitanlah dengan cara yang baik pula.”
Ungkapan ini menegaskan etika sederhana dalam hubungan antarmanusia, bahwa kehadiran hendaknya membawa kebaikan, sedangkan kepergian semestinya meninggalkan kesan yang baik. Sebab, cara seseorang datang dan cara ia berpamitan sama-sama mencerminkan penghargaan terhadap orang lain.
Bagi para enumerator, meninggalkan lapangan bukan semata-mata menandai selesainya pekerjaan. Ia adalah bagian dari ritus peralihan, yaitu keluar dari rutinitas pendataan, membawa pulang pengalaman, sekaligus menyisakan ruang bagi hubungan yang mungkin berlanjut. Aplikasi boleh ditutup, tetapi cerita manusia di baliknya tak pernah sesederhana angka.
Itulah balada enumerator. Di balik setiap rumah tangga yang dikunjungi, ada kehidupan yang dipelajari. Di balik setiap jawaban yang dicatat, ada kepercayaan yang dititipkan. Dan di balik setiap langkah meninggalkan desa, ada persahabatan yang diam-diam tumbuh.
Hari itu, tiga enumerator berpamitan dari Sarimulyo. Mereka datang sebagai bagian dari tim penelitian, bekerja bersama masyarakat, lalu pergi dengan kenangan yang tak seluruhnya dapat dibawa dalam laporan. Tugas baseline survey telah usai, tetapi perjalanan penelitian masih menunggu kelanjutannya.
Kelak, ketika mereka kembali untuk endline survey, mungkin jalanan desa masih sama, pendopo itu masih berdiri, dan wajah-wajah yang menyambut mereka terasa akrab. Waktu mungkin mengubah banyak hal, tetapi ingatan tentang perjumpaan yang tulus akan selalu menemukan jalan pulang.
Sebab, pada akhirnya, penelitian yang baik bukan hanya tentang data yang berhasil dihimpun, melainkan juga tentang hubungan manusia yang berhasil dirawat. Dan pamitan yang baik bukanlah cara untuk menghapus kebersamaan, melainkan cara untuk menghormatinya - hingga perjumpaan berikutnya tiba. *** [241026]
Oleh: Budiarto Eko KusumoEditor: Budiarto Eko Kusumo































