Rabu, 14 Oktober 2026

Pamitan di Pendopo Wringinrejo: Menutup Survei, Merawat Kenangan

"Every goodbye is the birth of a memory." — Dutch proverb

Di balik angka-angka yang terkumpul, ada wajah-wajah yang menyambut, cerita yang dibagikan, dan persahabatan yang tumbuh selama kerja lapangan. Selasa siang itu, para enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) di Desa Wringinrejo berpamitan. Bukan untuk mengakhiri segalanya, melainkan untuk mengambil jeda sebelum perjalanan penelitian berlanjut.

Selasa (13/10), jarum jam menunjukkan pukul 14.30 WIB ketika dua enumerator baseline survey, Yunita Pratiwi Suprapto, S.T., dan Firda Octa Vidyawati, S.M., tiba di Pendopo Desa Wringinrejo yang berada di Jalan Diponegoro No. 164, Dusun Krajan, RT 04 RW 02, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi. 

Didampingi Field Facilitator NIHR Universitas Brawijaya (UB), kedatangan mereka kali ini bukan untuk pengumpulan data atau melakukan pemeriksaan spirometri. Ada satu agenda yang tak kalah bermakna, yaitu berpamitan.

Turut hadir Rahmanurraudhotul Amin, S.KM., enumerator baseline survey Desa Kaliploso. Rombongan disambut hangat oleh Kepala Desa (Kades) Wringinrejo, Mu’adim, S.H., Sekretaris Desa Muhammad Sirojudin, serta para kepala dusun atau kamituwo, yang terdiri dari Toyamas (Sudirman), Tamanrejo (Alek Sutikno), Krajan (Muhammad Ali Mahkrus), dan Mulyorejo (Imron Hamzah).

Suasana pendopo siang itu menjadi ruang pertemuan antara tugas yang mendekati jeda dan kenangan yang telah terukir selama proses pengumpulan data.

Berpose bersama saat Tim Enumerator Baseline Survey berpamitan


Dari Ucapan Terima Kasih hingga Janji Kembali

Nita, sapaan Yunita Pratiwi Suprapto, mengawali acara dengan sekapur sirih. Ia menyampaikan terima kasih kepada pemerintah desa atas izin, dukungan, dan pendampingan yang diberikan selama pelaksanaan baseline survey, termasuk dalam pengumpulan data dan pemeriksaan spirometri. Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama kegiatan berlangsung terdapat perkataan maupun tindakan yang kurang berkenan.

Ucapan sederhana itu membawa makna lebih dari sekadar penutup kegiatan. Di balik setiap kunjungan rumah tangga, ada waktu yang diluangkan warga, pertanyaan yang dijawab dengan sabar, serta kepercayaan yang diberikan kepada para enumerator. Semua itu menjadi bagian penting dari perjalanan penelitian.

Field Facilitator NIHR UB kemudian memberikan penjelasan melalui mikrofon konferensi. Ia menegaskan bahwa penelitian ini belum sepenuhnya selesai. Baseline survey memang memasuki akhir jadwal pelaksanaan, tetapi perjalanan penelitian masih akan berlanjut. Setelah jeda, tim dijadwalkan kembali ke Desa Wringinrejo pada tahun berikutnya untuk melaksanakan endline survey.

“Pamitan ini adalah perpisahan sementara saja,” jelasnya.

Kalimat tersebut seolah menjadi penanda bahwa perpisahan tidak selalu berarti kehilangan. Ada pekerjaan yang perlu dituntaskan, ada waktu yang harus dilalui, dan ada kesempatan untuk kembali dengan membawa tahapan penelitian berikutnya. Sebelum menutup rangkaian kegiatan, ia pun memohon izin kepada pemerintah desa agar tim dapat kembali berkunjung pada waktunya.

Enumerator berikan kenang-kenangan secara simbolis yang diterima Kades


Ketika Penelitian Menjadi Ruang Belajar

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Kades Mu’adim. Ia mengapresiasi pelaksanaan penelitian NIHR UB di wilayahnya. Menurutnya, kegiatan tersebut turut memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat, terutama mengenai penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Di titik inilah penelitian menemukan maknanya yang lebih luas. Baseline survey bukan semata-mata tentang pertanyaan yang terjawab, data yang terkumpul, atau pemeriksaan spirometri yang terlaksana. Di dalamnya terdapat proses memperkenalkan pengetahuan kesehatan, membangun komunikasi dengan masyarakat, dan membuka ruang bagi warga untuk mengenali persoalan kesehatan di sekitarnya.

Angka-angka memang menjadi bahan penting bagi penelitian. Namun, di balik setiap angka, selalu ada manusia dengan pengalaman, kebiasaan, dan kisah kehidupannya sendiri.

Sebagai bentuk terima kasih, tim kemudian menyerahkan bingkisan kepada perangkat desa yang selama ini mendukung dan mendampingi kegiatan enumerator. Acara ditutup dengan foto bersama dan bersalaman. Satu per satu, tangan berjabat, senyum mengembang, dan ucapan pamit mengiringi berakhirnya pertemuan siang itu.

Seremoni pamitan enumerator baseline survey kepada perangkat desa


Sebuah Jeda, Sejuta Kenangan

Pamitan Tim Enumerator Baseline Survey Wringinrejo menjadi bagian dari rangkaian perpisahan para enumerator di sejumlah desa. Setelah tim Desa Purwodadi berpamitan pada Jumat, 09/10, disusul tim Desa Wringinagung pada Senin, 12/10, kini giliran tim Desa Wringinrejo menuntaskan jadwal kerja lapangannya.

Dalam kerja lapangan, meninggalkan lokasi bukan sekadar urusan mengemasi perlengkapan dan mengakhiri kunjungan. Ada proses emosional ketika seseorang harus beranjak dari lingkungan yang selama ini menjadi bagian dari kesehariannya. 

Setelah sekian lama bekerja bersama masyarakat, para enumerator membawa pulang sesuatu yang tak tercatat dalam lembar pertanyaan dalam aplikasi, seperti pengalaman, pelajaran, dan hubungan antarmanusia.

Ada pepatah Belanda yang berbunyi, “Elk afscheid is de geboorte van een herinnering.” Artinya, “Setiap perpisahan adalah kelahiran sebuah kenangan.”

Kalimat itu terasa tepat untuk menggambarkan pamitan di Pendopo Desa Wringinrejo. Hari itu, sebuah tahap pekerjaan memang berakhir. Namun, cerita tentang keramahan warga, dukungan perangkat desa, dan pengalaman menyusuri rumah tangga demi rumah tangga akan tetap hidup dalam ingatan.

Inilah balada para enumerator!. Mereka datang membawa instrumen penelitian, bekerja sebagai sebuah tim, dan pulang dengan cerita yang jauh lebih kaya daripada sekadar data. Setiap rumah tangga yang dikunjungi meninggalkan pelajaran; setiap percakapan menumbuhkan pemahaman; dan setiap tantangan menjadi bagian dari perjalanan bersama.

Baseline survey kini memberi ruang bagi jeda. Kelak, ketika tim kembali untuk endline survey, perjumpaan itu akan menjadi babak baru dari kisah yang sama.

Sebab, tugas lapangan boleh berakhir untuk sementara, tetapi makna sebuah pertemuan tidak harus ikut selesai. Di Pendopo Desa Wringinrejo, pamitan bukanlah titik akhir. Ia adalah koma - sebuah jeda sebelum cerita berikutnya kembali dituliskan. *** [141026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Selasa, 13 Oktober 2026

Di Rumah Kamituwo, Napas-Napas Itu Kembali Ditiupkan: Cerita Pemeriksaan Ulang Spirometri di Sarimulyo

“For breath is life, so if you breathe well you will live long on earth.” – Sanskrit Proverb

Di Desa Sarimulyo, angka bukan sekadar angka. Ketika empat kali tes spirometri meninggalkan hasil yang tak terbaca, puluhan warga kembali duduk di kursi yang sama, bukan karena gagal, melainkan karena napas mereka layak diperjuangkan.

Udara pagi di Dusun Pandansari, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, Senin (12/10) itu terasa sumuk. Tidak ada yang istimewa dari langit yang cerah atau jalan kampung yang lengang. Namun di Rumah Kamituwo Pandansari, Agus Salim di RT 03 RW 01, ada kegiatan. Kursi-kursi plastik ditata rapi. Meja-meja panjang disiapkan. 

Kades Sarimulyo dan Kamituwo Sempu hadir dalam pemeriksaan ulang spirometri di Dusun Pandansari

Hari itu, 31 warga diundang. Bukan untuk acara hajatan, bukan pula untuk pengajian. Mereka datang untuk satu hal yang mungkin terdengar sederhana namun menentukan, yaitu mengulang tes spirometri.

Bagi sebagian orang, tes spirometri mungkin hanya prosedur medis biasa seperti meniup udara sekuat mungkin ke dalam sebuah alat, lalu selesai. Tapi di Desa Sarimulyo, tes ini telah menjadi bagian dari perjalanan panjang sebuah program kolaborasi antara NIHR Universitas Brawijaya dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi, sebelumnya dengan RS NU terus.

Sejak Juli hingga Agustus lalu, empat kali pemeriksaan spirometri digelar. Menyasar 151 responden hasil pre-screening yang terindikasi memiliki faktor risiko Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Namun, tidak semua hasil bisa dibaca. Ada yang tidak valid, ada yang tidak memenuhi kriteria kualitas. Dan sebagaimana praktik standar dalam dunia spirometri, hasil yang tidak dapat dibaca bukanlah akhir dari segalanya. Itu adalah awal dari pengulangan.

Rumah Kamituwo Pandansari jadi lokasi pemeriksaan ulang spirometri

Mengulang tes spirometri bukanlah kegagalan. Itu justru bentuk kehati-hatian. Kualitas spirometri bergantung pada tiga pilar, yakni perawat terlatih, peralatan akurat, dan upaya maksimal pasien. Ketika salah satu pilar goyah - misalnya pasien batuk, sesak, atau kurang memahami manuver - hasilnya bisa cacat secara teknis. Dan data yang cacat, jika dipaksakan ditafsirkan, bisa menyesatkan. Maka, mengulang adalah jalan terbaik. Mengabaikan hasil buruk, lalu memulai lagi di hari lain, adalah keputusan yang bijak.

Itulah yang dilakukan dua enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Sarimulyo, Kiki Antikawati Rustandi, S.Kep., dan Triana Rahmah, S.AB. 

Sejak pagi, mereka telah bersiap. Dibantu dua kader kesehatan setempat, Tri Nur Umala dan Siti Maesyaroh, mereka mengatur meja pendaftaran, memverifikasi data, dan memastikan setiap responden yang datang merasa diprioritaskan. 

Dokter RS Yasmin Banyuwangi periksa responden dengan menggunakan stetoskop

Undangan telah disebar beberapa hari sebelumnya. Bahkan, antar-jemput disiapkan bagi mereka yang membutuhkan. Tidak ada yang boleh tertinggal hanya karena jarak atau kesulitan transportasi.

Alur pemeriksaan hari itu sama persis dengan empat spirometri sebelumnya. Responden memulai dengan registrasi dan verifikasi data. Setelah itu, mereka menuju meja TTV (Tanda-Tanda Vital). Di sana, Perawat Tria Firnasari, A.Md.Kep., mengukur tekanan darah dan oksimetri. Di sampingnya, dr. Dewangga Sakti melakukan anamnesis menggunakan aplikasi SMARThealth dan pemeriksaan fisik dengan stetoskop. Semua dilakukan dengan tenang, teliti, dan penuh empati.

Usai TTV, responden duduk di kursi antrean. Sambil menunggu panggilan, enumerator Ana memanfaatkan waktu untuk mengajarkan teknik penyebulan - cara meniup udara yang benar, yang efektif, yang tidak membuang tenaga. 

Tes spirometri

Di meja spirometri, Perawat Meira Safira, A.Md.Kep., memandu manuver. Ns. Yusi Ayu Permatasari, S.Kep., mengoperasikan laptop yang terhubung dengan alat spirometri. Semua berada di bawah pengawasan Ns. Elik Anistina, S.Kep., yang dipercaya NIHR UB untuk mengawal jalannya tes.

Tes tahap pertama, atau pre-nebulisasi, dimulai. Responden meniup. Alat merekam. Kurva terbentuk. Setelah itu, mereka bergeser ke meja sebelah timur untuk mendapatkan nebulisasi. 

Di sana, Ns. Mahendra, S.Kep., menyiapkan nebulizer - alat yang mengubah obat cair menjadi uap halus yang dihirup langsung ke saluran pernapasan. Nebulisasi bukan sekadar terapi. Ia adalah upaya membuka jalan napas, memberikan kesempatan kedua bagi paru-paru untuk bekerja lebih baik.

Nebulisasi

Selesai nebulisasi, responden duduk sebentar. Lalu, dipanggil lagi untuk tes tahap kedua, atau post-nebulisasi. Prosedurnya sama. Yang berbeda hanya waktu dan kondisi paru-paru. 

Jika tes tahap kedua berjalan lancar, maka rangkaian pemeriksaan selesai. Responden kembali ke meja pendaftaran. Enumerator Kiki memberikan konsumsi, gift, dan subsidi transportasi, disaksikan oleh kader Tri Nur. Senyum pun merekah. Bukan karena hadiahnya, tetapi karena mereka telah menyelesaikan sesuatu yang penting bagi kesehatan mereka.

Pemeriksaan ulang spirometri perdana itu juga dihadiri oleh Rahmanurraudhotul Amin, SKM, yang ditunjuk Theme 1: Primary Healthcare Strengthening untuk melakukan observasi dengan checklist. 

Enumerator lakukan antar jemput responden

Acara selesai pukul 13.42 WIB. Dari 31 responden yang diundang, menurut catatan Field Facilitator NIHR UB, dua orang suami-istri tidak datang. Selain itu, seorang responden datang sebelum pukul 08.00 WIB, namun karena tim dari RS Yasmin baru tiba pukul 08.30 WIB, ia memilih pulang. Ia harus memperingati 1000 hari kematian istrinya. Tidak ada yang bisa menahan waktu, begitu pun dengan jadwal yang telah disusun.

Namun, dari lima catatan yang diberikan Ns. Elik, terdapat lima responden yang hasilnya kurang maksimal. Empat di antaranya memiliki riwayat sesak napas. Satu lagi sedang batuk. 

Kondisi-kondisi seperti inilah yang membuat spirometri tidak selalu bisa memberikan hasil sempurna dalam sekali coba. Batuk, sesak, kelelahan - semua bisa memengaruhi kualitas tiupan. Dan ketika hasilnya tidak memenuhi standar, mengulang adalah pilihan yang paling bertanggung jawab.

Field Facilitator NIHR UB diajak ngopi bareng sama Kamituwo di ruang tamu

Ada pepatah Sanskerta yang berbunyi: 

“Karena napas adalah kehidupan, maka jika Anda bernapas dengan baik, Anda akan berumur panjang di bumi.” 

Pepatah ini bukan sekadar kalimat puitis. Ia adalah pengingat bahwa napas adalah fondasi dari segala aktivitas manusia. Tanpa napas yang baik, tubuh melemah, pikiran kabur, dan hidup kehilangan kualitas. 

Spirometri, dengan segala kerumitannya, adalah alat untuk menjaga napas tetap terukur. Ia bukan sekadar tes, melainkan upaya untuk memastikan bahwa setiap tarikan dan embusan udara yang kita lakukan benar-benar menghidupkan.

Personel RS Yasmin yang baru pertama kali melakukan pemeriksaan di Desa Sarimulyo, berpose dengan Kamituwo Pandansari, enumerator baseline survey, pengawas tes spirometri, dan Field Facilitator NIHR UB

Di Desa Sarimulyo, pemeriksaan ulang spirometri bukanlah sekadar prosedur teknis. Ia adalah bentuk perhatian pada warga yang mungkin tidak pernah menyadari bahwa paru-paru mereka sedang berjuang. Ia adalah bukti bahwa kesehatan tidak pernah selesai hanya dengan satu kali pengukuran. 

Ada kalanya hasilnya tidak terbaca, ada kalanya responden harus kembali, ada kalanya waktu tidak berpihak. Namun selama masih ada kursi yang disiapkan, undangan yang disebar, dan napas yang masih mengalir, pemeriksaan ulang akan selalu punya tempat.

Karena pada akhirnya, napas yang baik adalah hak setiap orang. Dan mereka yang datang, duduk, meniup, dan menunggu - mereka adalah bukti bahwa kehidupan di desa kecil itu terus berdenyut, satu tarikan napas demi satu tarikan napas. *** [131026] 

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Senin, 12 Oktober 2026

Pamit yang Sopan: Seni Mengakhiri Tugas dengan Penuh Hormat

"Great is the art of beginning, but greater is the art of ending." -- Robert A. Heinlein

Pagi itu, Jalan Sriwijaya No. 13, Dusun Sumberjaya, Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, tampak berbeda. Bukan karena cuaca, bukan pula karena ada acara besar. Yang datang pagi itu hanyalah tiga orang muda dengan tas berwarna biru tua di tangan, ditemani seorang Field Facilitator NIHR Universitas Brawijaya (UB). Namun kedatangan mereka bukan untuk memulai sesuatu, melainkan untuk mengakhiri - dengan cara yang mungkin jarang terlihat di zaman yang serba tergesa ini, yaitu berpamitan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, berpamitan berasal dari kata dasar pamit, yang berarti permisi akan pergi, minta diri. Sederhana terdengar, tetapi maknanya dalam. Berpamitan adalah pengakuan bahwa kehadiran kita di suatu tempat pernah berarti, dan bahwa kepergian kita pun layak disampaikan dengan hormat. Inilah yang dilakukan Tim Enumerator Baseline Survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Wringinagung pagi itu.

Tiga enumerator - Muhammad Wisnu Nafiri, S.E.; Maharany Triastuti Januarizki, S.ST; dan Winda Cahyani, S.Tr.Gz.RD - datang didampingi Field Facilitator NIHR UB. Kedatangan mereka disambut Kamituwo Sumberjaya, Singgih Susilo, yang ternyata masih mengenal sang fasilitator dari diskusi supervisi malam di basecamp Wringinagung pada Rabu, 2 Juli 2025, saat Household Listing. Obrolan ringan pun terjalin, sebelum beberapa menit kemudian Kepala Desa (Kades) Kondang Suryaningrat, S.Hut., tiba di balai desa dan langsung menghampiri mereka.

Tim Enumerator Baseline Survey dengan didampingi Field Facilitator NIHR UB berpamitan dengan Kades Wringinagung beserta jajarannya di Ruang Kerja Kades

Kades Kondang lantas mengajak rombongan masuk ke ruang kerjanya. Di sana, ia memanggil Sekretaris Desa Priyantoko Yudi Prasetyo, serta para kamituwo: Moh. Kholid Iskandar (Sumberjo), Singgih Susilo (Sumberjaya), Jumadiyono Hendrokusumo (Glowong), dan Moh. Juhari (Jatisari). Ruang kerja itu seketika berubah menjadi semacam upacara kecil - bukan upacara formal dengan protokol, melainkan pertemuan hangat antara perangkat desa dan enumerator yang telah menyelesaikan tugasnya.

Enumerator Wisnu, mewakili rekan-rekannya, menyampaikan maksud kedatangan mereka. Tugas pengumpulan data dan pemeriksaan spirometri di Desa Wringinagung telah selesai pada Sabtu, 10 Oktober, atau dua hari yang lalu. Mereka datang untuk berpamitan, sekaligus memohon maaf bila selama menjalankan tugas ada hal yang kurang berkenan. Field Facilitator NIHR UB menambahkan, penelitian ini masih akan berlanjut tahun depan untuk mengunjungi ulang warga yang menjadi responden.

Kades Kondang menyambut baik. Ia mengapresiasi penelitian yang bersangkut paut dengan kesehatan warganya. Harapannya sederhana namun mendalam, yaitu semoga penelitian ini berlangsung lama, sehingga dapat membuka kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan dalam perubahan iklim yang sulit diprediksi sekarang.

Penyerahan secara simbolik "tas berwarna biru tua" dari enumerator kepada Kades

Momen itu ditutup dengan penyerahan kenang-kenangan dalam balutan tas berwarna biru tua dari Wisnu, disaksikan rekan enumerator lain, Field Facilitator NIHR UB, dan perangkat desa. Lalu, semua berpose bersama yang ditangkap lensa kamera ponsel, bukan kamera profesional. Justru di situlah kehangatannya terasa, yakni sederhana, apa adanya, namun tulus.

Ada peribahasa lama yang berbunyi, datang tampak muka, pergi tampak punggung. Artinya, ketika datang hendaknya memperkenalkan diri dengan baik, dan ketika pergi hendaknya juga memberi kabar dengan sopan. 

Tim enumerator ini telah menjalankan keduanya. Mereka datang dengan izin, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan pergi dengan pamit. Dalam dunia penelitian, hal seperti ini sering dianggap remeh. Padahal, di situlah etika sosial diuji! Bukan di laboratorium, bukan di kuesioner, melainkan di ruang kerja kepala desa, di hadapan orang-orang yang telah menerima mereka sebagai Tim Enumerator Baseline Survey NIHR-GHRC NCDs & EC.

Tim Enumerator Baseline Survey Wringinagung berpose dengan perangkat desa dengan "Salam Banyuwangi"

Robert A. Heinlein dalam The Notebooks of Lazarus Long (1978), pernah berkata:

"Hebatlah seni memulai, namun lebih hebat lagi seni mengakhiri."

Memulai tugas itu biasa. Menyelesaikannya dengan rapi juga kewajiban. Namun mengakhirinya dengan pamit, dengan terima kasih, dengan permohonan maaf, dan dengan kenang-kenangan kecil - itu luar biasa. Sebab di situ ada kesadaran bahwa manusia bukan sekadar pelaksana tugas, melainkan makhluk sosial yang terikat oleh adab.

Pagi itu, di Desa Wringinagung, tiga enumerator muda telah menutup babak tugas mereka. Bukan dengan kata "selesai" yang dingin, melainkan dengan "pamit" yang hangat. Dan mungkin, itulah warisan kecil yang mereka tinggalkan - bukan hanya data dan angka, tetapi juga contoh bahwa mengakhiri sesuatu dengan hormat adalah bagian dari pekerjaan itu sendiri. *** [121026] 

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Minggu, 11 Oktober 2026

Malam Perpisahan Enumerator Baseline Survey Banyuwangi di Lir-Ilir Restoran & Kafe

“When you are leaving someone, leave like the sun leaves the earth with a magnificent elegance!” -- Mehmet Murat ildan

Perpisahan selalu terdengar seperti akhir. Padahal, ia adalah bentuk lain dari awal - pintu yang menutup agar jendela lain bisa terbuka. Malam itu, di Lir-Ilir Restoran & Kafe, dua belas enumerator baseline survey berkumpul. Mereka sedang merayakan sesuatu yang lebih dalam, yaitu kebersamaan yang telah selesai membentuk mereka, dan masa depan yang menanti untuk mereka masuki. Seperti matahari yang pamit dari bumi, mereka pergi bukan untuk menghilang, melainkan untuk kembali esok hari.

Malam mulai tiba menyapu senja di Genteng Kulon. Di Jalan KH Wahid Hasyim No. 28, sebuah bangunan dengan cahaya hangat berpendar dari ruangan dan taman. Lir-Ilir Restoran & Kafe - tempat kuliner modern berkonsep social house itu - tengah bersiap menjadi panggung perpisahan. Bukan perpisahan biasa, melainkan closingan, sebuah istilah gaul yang diadaptasi dari kata Inggris closing, merujuk pada ritual penutup masa lapangan. Bahasa menterengnya memang farewell party, tapi bagi mereka yang telah berbulan-bulan bergelut dengan kuesioner dan pemeriksaan spirometri, closingan terasa lebih akrab, lebih jujur, lebih mereka.

Sabtu (10/10), menjadi tanggal yang disepakati. Sebenarnya, agenda baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) di Kabupaten Banyuwangi masih menyisakan jadwal pemeriksaan spirometri di tiga desa, yaitu Sarimulyo, Kaliploso, dan Tamanagung. 

Di Sarimulyo, pemeriksaan spirometri dijadwalkan pada Senin (12/10) dan Rabu (24/10). Kaliploso menyusul Sabtu (24/10), dan Tamanagung pada Senin (26/10). Namun, tiga desa lain - Purwodadi, Wringinagung, dan Wringinrejo - telah lebih dulu tuntas.

Foto bersama di tangga hall Lir-Ilir Restoran & Kafe di Jalan KH Wahid Hasyim No. 28, Dusun Krajan, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, Kabupaten Banyuwangi

Kekhawatiran akan enumerator dari luar Banyuwangi yang hendak segera pulang kampung membuat kesepakatan bulat, bahwa closingan digelar lebih awal. Maka, malam itu, sebelum tugas-tugas terakhir menanti, dua belas enumerator berkumpul.

Mini meeting room yang dipesan di Lir-Ilir terasa pas. Meja panjang membentang dari selatan ke utara, dikelilingi kursi-kursi yang menampung lelah sekaligus antusiasme. Ns. Elik Anistina, S.Kep., dan Field Facilitator NIHR UB turut hadir, melengkapi lingkaran yang biasanya hanya diisi para enumerator. Suasana homey yang ditawarkan Lir-Ilir - seperti berada di rumah sendiri namun tetap bisa bekerja dan bersosialisasi - menjadi latar yang tepat untuk sebuah perpisahan yang hangat.

Field Facilitator NIHR UB membuka closingan dengan ucapan terima kasih. Kerja keras para enumerator, katanya, bukan pekerjaan kecil. Ia lalu mengingatkan bahwa penelitian NIHR-GHRC NCDs & EC ini bukan survei atau sensus biasa. Ada kekhasan yang melekat di mana responden akan dikunjungi ulang di lain waktu, dan itu menuntut kerja sama dengan kader kesehatan setempat maupun perangkat desa. Pengalaman penelitian ini, lanjutnya, layak dicantumkan dalam Curriculim Vitae para enumerator. 

Di penghujung sambutannya, ia menyampaikan permintaan maaf secara pribadi jika selama pendampingan ada hal yang kurang berkenan. Ucapan itu disambut anggukan dan senyum tipis - tanda bahwa semua yang terjadi selama ini adalah bagian dari perjalanan yang sama.

Lir-Ilir Restoran & Kafe yang bernuansa taman

Usai sambutan, makan malam bersama dimulai. Hidangan tersaji, tapi yang lebih terasa adalah kebersamaan yang mengisi ruang. Di meja panjang itu, tawa lepas pecah. Ada yang menceritakan pengalaman lucu saat mendatangi rumah responden, ada pula yang mengenang betapa sulitnya membujuk warga untuk bersedia diperiksa spirometri.

Cerita-cerita tentang medan yang harus ditempuh, cuaca yang tak bersahabat, hingga kehangatan kader desa yang membantu - semuanya mengalir seperti sungai yang tak ingin berhenti. Malam itu, mereka bukan sekadar rekan kerja. Mereka adalah keluarga yang terbentuk oleh tujuan yang sama, yaitu mengumpulkan data demi kesehatan yang lebih baik.

Di tengah gelak tawa dan suapan demi suapan, ada kesadaran yang perlahan menyelinap. Ini adalah malam terakhir mereka bersama. Tiga desa masih menanti, sedang yang tiga desa lainnya akan kembali ke rumah masing-masing. 

Beberapa akan pulang ke kampung halaman, meninggalkan Banyuwangi dengan segudang kenangan. Perpisahan, bagaimanapun, adalah bagian dari setiap pertemuan. Dan mereka memilih untuk melakukannya dengan cara yang indah.

Suasana hall Lir-Ilir Restoran & Kafe yang cukup luas

Mehmet Murat Ildan, seorang penulis naskah drama, novelis, dan pemikir Turki kontemporer, pernah menulis: 

"Saat kau meninggalkan seseorang, pergilah layaknya matahari meninggalkan bumi - dengan keanggunan yang memukau!" 

Malam itu, di Lir-Ilir, dua belas enumerator baseline survey sedang belajar menjadi “matahari”. Mereka tidak pergi dengan tangis atau drama, melainkan dengan tawa, canda, dan janji untuk terus terhubung. 

Lir-Ilir, dengan konsep social house-nya, menjadi saksi bisu. Meja panjang itu kelak akan dipakai untuk pertemuan lain, untuk orang-orang lain. Tapi malam itu, meja itu adalah milik mereka, yakni para pejuang data yang sebentar lagi akan tersebar ke berbagai arah.

Ada yang akan kembali ke desa-desa di Banyuwangi, ada yang akan mengejar mimpi di kota lain. Namun, apa pun yang terjadi, closingan di Lir-Ilir akan selalu menjadi penanda, bahwa mereka pernah bersama, bekerja keras, dan mengakhiri semuanya dengan keanggunan yang memukau.

Enumerator baseline survey NIHR-GHRC NCDs & EC Banyuwangi makan malam bersama di mini meeting room Lir-Ilir Restoran & Kafe

Malam semakin larut. Lampu Lir-Ilir masih menyala, tapi percakapan mulai mereda. Satu per satu mulai bersiap balik ke basecamp masing-masing Ada yang membonceng, ada yang memastikan besok pagi harus bangun lebih awal untuk fun run di Tamanagung.

Sebelum benar-benar bubar, foto bersama diambil. Dua belas wajah, satu frame. Senyum lebar, meski ada yang mata sedikit berkaca-kaca. Di luar, langit Banyuwangi gelap, tapi temaram lampu-lampu seakan ikut mengiringi kepulangan mereka.

Closingan bukan sekadar pesta perpisahan. Ia adalah cara manusia mengubah akhir menjadi awal yang baru. Bagi para enumerator baseline survey NIHR-GHRC NCDs & EC, malam di Lir-Ilir adalah titik henti sekaligus titik tolak. 

Mereka akan berpisah, tapi data yang mereka kumpulkan akan terus berbicara. Dan kenangan tentang malam itu - tentang meja panjang, tawa lepas, dan keanggunan sebuah perpisahan - akan tersimpan rapi, seperti matahari yang selalu punya cara untuk kembali esok pagi. *** [111026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Ketika Napas Menjadi Cerita: Pemeriksaan Spirometri di Tamanagung

“Take a deep breath. Inhale peace. Exhale happiness.” -- A.D. Posey

Di balik setiap tarikan dan embusan napas, tersimpan cerita tentang kesehatan, usia, dan perjuangan tubuh manusia. Sabtu pagi, Pendopo Desa Tamanagung kembali menjadi tempat bagi puluhan warga untuk mengenali kondisi paru-paru mereka melalui pemeriksaan spirometri.

“Tarik napas dalam-dalam. Hirup kedamaian. Hembuskan kebahagiaan.” 

Kutipan A.D. Posey tersebut seolah mengingatkan bahwa bernapas bukan sekadar proses alami yang berlangsung tanpa disadari. Bagi sebagian orang, setiap tarikan napas justru menjadi hal berharga yang perlu dijaga.

Sabtu (10/10) pagi, suasana Pendopo Desa Tamanagung di Jalan Sraten No. 07, Dusun Krajan, RT 02 RW 04, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, kembali diwarnai aktivitas pemeriksaan kesehatan. 

Untuk keempat kalinya, tiga enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC), yakni Fahmi Ahmad Fauzan, S.Sos., Dysa Fitri Permatasari, S.Tr.Kes., M.Kes., dan Nisaul Rofifah, S.Gz., menyelenggarakan pemeriksaan spirometri bagi warga yang terindikasi memiliki faktor risiko penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Kegiatan hasil kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RS NU) Banyuwangi ini dimulai pukul 08.00 WIB. Sebanyak 35 warga yang telah melalui proses pre-screening diundang untuk mengikuti pemeriksaan. 

Dua kader kesehatan setempat, Ade Fitria Ningsih dan Ratna Mujayanah, turut membantu mobilisasi responden dengan mengantarkan undangan dua hari sebelum pelaksanaan serta mendampingi kegiatan pada hari pemeriksaan.

Personel RS NU Banyuwangi berpose dengan enumerator baseline survey, kader kesehatan, pengawas tes spirometri, dan Field Facilitator NIHR UB


Empat meja, satu tujuan

Rangkaian pemeriksaan berlangsung melalui empat meja pelayanan yang disusun untuk menjaga keteraturan alur sekaligus mendukung proses pemeriksaan yang sistematis.

Di meja pertama, kader Ade Fitria dan Ratna menyambut warga untuk melakukan registrasi serta verifikasi data. Setelah itu, responden menunggu giliran di bangku antrean. Sambil menanti panggilan, enumerator Fauzan memberikan arahan mengenai teknik meniupkan napas yang benar agar responden lebih siap menjalani pemeriksaan.

Panggilan berikutnya mengarahkan responden ke meja kedua, yakni meja tanda-tanda vital (TTV). Bidan Umri Yasirah, S.Keb., melakukan penimbangan berat badan, pengukuran tekanan darah, dan pemeriksaan saturasi oksigen menggunakan oksimeter. Selanjutnya, Perawat Ratna Lauranita, S.Kep., melakukan anamnesis melalui aplikasi SMARThealth untuk menghimpun informasi kesehatan responden.

Dari meja TTV, responden menuju meja ketiga untuk menjalani pemeriksaan spirometri. Apabila alat masih digunakan, mereka kembali menunggu hingga mendapat giliran. Di meja ini, Perawat Marni Erlina, S.Kep.Ns., melakukan manuver pemeriksaan tahap pertama atau pre-salbutamol, dengan bantuan Perawat Joenhiga, S.Kep.Ns., yang mengoperasikan alat spirometri MIR SpiroLab milik NIHR UB. Proses tersebut turut disaksikan Ns. Elik Anistina, S.Kep., yang membantu pengawasan pemeriksaan.

Spirometri merupakan pemeriksaan fungsi paru-paru yang mengukur volume udara yang dapat dihirup dan diembuskan seseorang. Untuk memperoleh hasil yang dapat dinilai, pemeriksaan dilakukan berulang menggunakan teknik yang valid dan memenuhi kriteria keterulangan. Pengukuran ini membantu memberikan gambaran objektif mengenai fungsi pernapasan, termasuk dalam penilaian risiko gangguan paru-paru.

Setelah tahap pertama selesai, responden mendapatkan semprotan salbutamol sesuai prosedur, kemudian beristirahat selama 20 menit. Obat tersebut membantu membuka saluran napas sehingga fungsi paru-paru dapat diukur kembali. Sesudah waktu istirahat, responden menjalani pemeriksaan tahap kedua atau post-salbutamol dengan prosedur serupa.

Tahapan ini menjadi bagian penting dalam pengamatan respons saluran napas terhadap bronkodilator. Namun, tidak semua pemeriksaan berjalan mudah. Kondisi fisik, riwayat penyakit, dan kemampuan responden mengikuti manuver pernapasan dapat memengaruhi kualitas hasil yang diperoleh.

Pengukuran tekanan darah, oksimetri dan anamnesis menggunakan aplikasi SMARThealth


Di balik angka, ada kondisi yang perlu dipahami

Berdasarkan catatan Field Facilitator NIHR UB, dari 35 warga yang diundang, sebanyak 34 orang hadir, sementara satu orang menolak menghadiri pemeriksaan sejak menerima undangan.

Dari responden yang datang, terdapat enam laporan khusus terkait pelaksanaan tes. Seorang laki-laki berusia 61 tahun memperoleh hasil yang kurang maksimal. Ia memiliki riwayat sesak napas ketika cuaca dingin dan baru kembali setelah mengairi sawah sejak malam hingga pagi. Kelelahan setelah beraktivitas semalaman menjadi salah satu kondisi yang perlu diperhatikan dalam memahami situasi pemeriksaannya.

Dua responden lansia lainnya memilih tidak melanjutkan tes ketika dipanggil ke meja spirometri. Seorang perempuan berusia 63 tahun menolak karena memiliki riwayat penyakit jantung, sedangkan seorang perempuan berusia 100 tahun mengurungkan pemeriksaan karena merasakan nyeri di dada.

Tiga responden lansia lainnya - dua perempuan dan seorang laki-laki - juga memperoleh hasil yang kurang maksimal. Mereka memiliki riwayat penyakit paru-paru dan jantung serta sedang menjalani pengobatan, atau mempunyai riwayat asma.

Catatan tersebut menunjukkan bahwa pemeriksaan kesehatan di masyarakat tidak hanya berkaitan dengan pengumpulan angka dan hasil pengukuran. Di balik setiap hasil, terdapat kondisi individual yang perlu dipahami dengan cermat. Riwayat penyakit, keluhan yang dirasakan, dan kesiapan fisik menjadi pertimbangan penting dalam pelaksanaan pemeriksaan.

Tes spirometri


Merawat napas, menguatkan layanan kesehatan

Setelah menyelesaikan rangkaian pemeriksaan, responden diarahkan ke meja keempat. Di meja apresiasi partisipasi ini, enumerato Nisa dan Dysa membagikan konsumsi, vitamin, serta subsidi transportasi sebagai bentuk apresiasi atas kesediaan warga berpartisipasi.

Kegiatan tersebut juga dihadiri Rahmanurraudhotul Amin, SKM., yang ditunjuk oleh Theme 1: Primary Healthcare Strengthening untuk mengobservasi jalannya pemeriksaan menggunakan checklist.

Hingga pukul 13.14 WIB, pemeriksaan spirometri keempat di Desa Tamanagung resmi berakhir. Selama lebih dari lima jam, para petugas, tenaga kesehatan, dan kader setempat bekerja bersama untuk mendukung pelaksanaan pemeriksaan bagi warga.

Empat kali penyelenggaraan bukan sekadar pengulangan kegiatan, melainkan bagian dari upaya mengumpulkan informasi kesehatan sekaligus mendekatkan pemeriksaan fungsi paru-paru kepada masyarakat. Sebab, menjaga kesehatan pernapasan tidak selalu dimulai dari pengobatan, tetapi juga dari keberanian untuk memeriksakan diri dan memahami kondisi tubuh.

Seperti pesan A.D. Posey, menarik napas dalam-dalam dapat menjadi pengingat sederhana untuk menghargai kehidupan. Di Tamanagung, setiap embusan napas yang diperiksa membawa harapan agar warga semakin mengenali kesehatannya, sementara upaya penguatan layanan kesehatan primer terus menemukan jalannya - satu pemeriksaan, satu warga, dan satu tarikan napas dalam satu waktu. *** [111026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Risk Checker

Risk Checker

Indeks Massa Tubuh

Supplied by BMI Calculator Canada

Statistik Blog

Sahabat eKader

Label

Arsip Blog