Minggu, 11 Oktober 2026

Malam Perpisahan Enumerator Baseline Survey Banyuwangi di Lir-Ilir Restoran & Kafe

“When you are leaving someone, leave like the sun leaves the earth with a magnificent elegance!” -- Mehmet Murat ildan

Perpisahan selalu terdengar seperti akhir. Padahal, ia adalah bentuk lain dari awal - pintu yang menutup agar jendela lain bisa terbuka. Malam itu, di Lir-Ilir Restoran & Kafe, dua belas enumerator baseline survey berkumpul. Mereka sedang merayakan sesuatu yang lebih dalam, yaitu kebersamaan yang telah selesai membentuk mereka, dan masa depan yang menanti untuk mereka masuki. Seperti matahari yang pamit dari bumi, mereka pergi bukan untuk menghilang, melainkan untuk kembali esok hari.

Malam mulai tiba menyapu senja di Genteng Kulon. Di Jalan KH Wahid Hasyim No. 28, sebuah bangunan dengan cahaya hangat berpendar dari ruangan dan taman. Lir-Ilir Restoran & Kafe - tempat kuliner modern berkonsep social house itu - tengah bersiap menjadi panggung perpisahan. Bukan perpisahan biasa, melainkan closingan, sebuah istilah gaul yang diadaptasi dari kata Inggris closing, merujuk pada ritual penutup masa lapangan. Bahasa menterengnya memang farewell party, tapi bagi mereka yang telah berbulan-bulan bergelut dengan kuesioner dan pemeriksaan spirometri, closingan terasa lebih akrab, lebih jujur, lebih mereka.

Sabtu (10/10), menjadi tanggal yang disepakati. Sebenarnya, agenda baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) di Kabupaten Banyuwangi masih menyisakan jadwal pemeriksaan spirometri di tiga desa, yaitu Sarimulyo, Kaliploso, dan Tamanagung. 

Di Sarimulyo, pemeriksaan spirometri dijadwalkan pada Senin (12/10) dan Rabu (24/10). Kaliploso menyusul Sabtu (24/10), dan Tamanagung pada Senin (26/10). Namun, tiga desa lain - Purwodadi, Wringinagung, dan Wringinrejo - telah lebih dulu tuntas.

Foto bersama di tangga hall Lir-Ilir Restoran & Kafe di Jalan KH Wahid Hasyim No. 28, Dusun Krajan, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, Kabupaten Banyuwangi

Kekhawatiran akan enumerator dari luar Banyuwangi yang hendak segera pulang kampung membuat kesepakatan bulat, bahwa closingan digelar lebih awal. Maka, malam itu, sebelum tugas-tugas terakhir menanti, dua belas enumerator berkumpul.

Mini meeting room yang dipesan di Lir-Ilir terasa pas. Meja panjang membentang dari selatan ke utara, dikelilingi kursi-kursi yang menampung lelah sekaligus antusiasme. Ns. Elik Anistina, S.Kep., dan Field Facilitator NIHR UB turut hadir, melengkapi lingkaran yang biasanya hanya diisi para enumerator. Suasana homey yang ditawarkan Lir-Ilir - seperti berada di rumah sendiri namun tetap bisa bekerja dan bersosialisasi - menjadi latar yang tepat untuk sebuah perpisahan yang hangat.

Field Facilitator NIHR UB membuka closingan dengan ucapan terima kasih. Kerja keras para enumerator, katanya, bukan pekerjaan kecil. Ia lalu mengingatkan bahwa penelitian NIHR-GHRC NCDs & EC ini bukan survei atau sensus biasa. Ada kekhasan yang melekat di mana responden akan dikunjungi ulang di lain waktu, dan itu menuntut kerja sama dengan kader kesehatan setempat maupun perangkat desa. Pengalaman penelitian ini, lanjutnya, layak dicantumkan dalam Curriculim Vitae para enumerator. 

Di penghujung sambutannya, ia menyampaikan permintaan maaf secara pribadi jika selama pendampingan ada hal yang kurang berkenan. Ucapan itu disambut anggukan dan senyum tipis - tanda bahwa semua yang terjadi selama ini adalah bagian dari perjalanan yang sama.

Lir-Ilir Restoran & Kafe yang bernuansa taman

Usai sambutan, makan malam bersama dimulai. Hidangan tersaji, tapi yang lebih terasa adalah kebersamaan yang mengisi ruang. Di meja panjang itu, tawa lepas pecah. Ada yang menceritakan pengalaman lucu saat mendatangi rumah responden, ada pula yang mengenang betapa sulitnya membujuk warga untuk bersedia diperiksa spirometri.

Cerita-cerita tentang medan yang harus ditempuh, cuaca yang tak bersahabat, hingga kehangatan kader desa yang membantu - semuanya mengalir seperti sungai yang tak ingin berhenti. Malam itu, mereka bukan sekadar rekan kerja. Mereka adalah keluarga yang terbentuk oleh tujuan yang sama, yaitu mengumpulkan data demi kesehatan yang lebih baik.

Di tengah gelak tawa dan suapan demi suapan, ada kesadaran yang perlahan menyelinap. Ini adalah malam terakhir mereka bersama. Tiga desa masih menanti, sedang yang tiga desa lainnya akan kembali ke rumah masing-masing. 

Beberapa akan pulang ke kampung halaman, meninggalkan Banyuwangi dengan segudang kenangan. Perpisahan, bagaimanapun, adalah bagian dari setiap pertemuan. Dan mereka memilih untuk melakukannya dengan cara yang indah.

Suasana hall Lir-Ilir Restoran & Kafe yang cukup luas

Mehmet Murat Ildan, seorang penulis naskah drama, novelis, dan pemikir Turki kontemporer, pernah menulis: 

"Saat kau meninggalkan seseorang, pergilah layaknya matahari meninggalkan bumi - dengan keanggunan yang memukau!" 

Malam itu, di Lir-Ilir, dua belas enumerator baseline survey sedang belajar menjadi “matahari”. Mereka tidak pergi dengan tangis atau drama, melainkan dengan tawa, canda, dan janji untuk terus terhubung. 

Lir-Ilir, dengan konsep social house-nya, menjadi saksi bisu. Meja panjang itu kelak akan dipakai untuk pertemuan lain, untuk orang-orang lain. Tapi malam itu, meja itu adalah milik mereka, yakni para pejuang data yang sebentar lagi akan tersebar ke berbagai arah.

Ada yang akan kembali ke desa-desa di Banyuwangi, ada yang akan mengejar mimpi di kota lain. Namun, apa pun yang terjadi, closingan di Lir-Ilir akan selalu menjadi penanda, bahwa mereka pernah bersama, bekerja keras, dan mengakhiri semuanya dengan keanggunan yang memukau.

Enumerator baseline survey NIHR-GHRC NCDs & EC Banyuwangi makan malam bersama di mini meeting room Lir-Ilir Restoran & Kafe

Malam semakin larut. Lampu Lir-Ilir masih menyala, tapi percakapan mulai mereda. Satu per satu mulai bersiap balik ke basecamp masing-masing Ada yang membonceng, ada yang memastikan besok pagi harus bangun lebih awal untuk fun run di Tamanagung.

Sebelum benar-benar bubar, foto bersama diambil. Dua belas wajah, satu frame. Senyum lebar, meski ada yang mata sedikit berkaca-kaca. Di luar, langit Banyuwangi gelap, tapi temaram lampu-lampu seakan ikut mengiringi kepulangan mereka.

Closingan bukan sekadar pesta perpisahan. Ia adalah cara manusia mengubah akhir menjadi awal yang baru. Bagi para enumerator baseline survey NIHR-GHRC NCDs & EC, malam di Lir-Ilir adalah titik henti sekaligus titik tolak. 

Mereka akan berpisah, tapi data yang mereka kumpulkan akan terus berbicara. Dan kenangan tentang malam itu - tentang meja panjang, tawa lepas, dan keanggunan sebuah perpisahan - akan tersimpan rapi, seperti matahari yang selalu punya cara untuk kembali esok pagi. *** [111026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Ketika Napas Menjadi Cerita: Pemeriksaan Spirometri di Tamanagung

“Take a deep breath. Inhale peace. Exhale happiness.” -- A.D. Posey

Di balik setiap tarikan dan embusan napas, tersimpan cerita tentang kesehatan, usia, dan perjuangan tubuh manusia. Sabtu pagi, Pendopo Desa Tamanagung kembali menjadi tempat bagi puluhan warga untuk mengenali kondisi paru-paru mereka melalui pemeriksaan spirometri.

“Tarik napas dalam-dalam. Hirup kedamaian. Hembuskan kebahagiaan.” 

Kutipan A.D. Posey tersebut seolah mengingatkan bahwa bernapas bukan sekadar proses alami yang berlangsung tanpa disadari. Bagi sebagian orang, setiap tarikan napas justru menjadi hal berharga yang perlu dijaga.

Sabtu (10/10) pagi, suasana Pendopo Desa Tamanagung di Jalan Sraten No. 07, Dusun Krajan, RT 02 RW 04, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, kembali diwarnai aktivitas pemeriksaan kesehatan. 

Untuk keempat kalinya, tiga enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC), yakni Fahmi Ahmad Fauzan, S.Sos., Dysa Fitri Permatasari, S.Tr.Kes., M.Kes., dan Nisaul Rofifah, S.Gz., menyelenggarakan pemeriksaan spirometri bagi warga yang terindikasi memiliki faktor risiko penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Kegiatan hasil kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RS NU) Banyuwangi ini dimulai pukul 08.00 WIB. Sebanyak 35 warga yang telah melalui proses pre-screening diundang untuk mengikuti pemeriksaan. 

Dua kader kesehatan setempat, Ade Fitria Ningsih dan Ratna Mujayanah, turut membantu mobilisasi responden dengan mengantarkan undangan dua hari sebelum pelaksanaan serta mendampingi kegiatan pada hari pemeriksaan.

Personel RS NU Banyuwangi berpose dengan enumerator baseline survey, kader kesehatan, pengawas tes spirometri, dan Field Facilitator NIHR UB


Empat meja, satu tujuan

Rangkaian pemeriksaan berlangsung melalui empat meja pelayanan yang disusun untuk menjaga keteraturan alur sekaligus mendukung proses pemeriksaan yang sistematis.

Di meja pertama, kader Ade Fitria dan Ratna menyambut warga untuk melakukan registrasi serta verifikasi data. Setelah itu, responden menunggu giliran di bangku antrean. Sambil menanti panggilan, enumerator Fauzan memberikan arahan mengenai teknik meniupkan napas yang benar agar responden lebih siap menjalani pemeriksaan.

Panggilan berikutnya mengarahkan responden ke meja kedua, yakni meja tanda-tanda vital (TTV). Bidan Umri Yasirah, S.Keb., melakukan penimbangan berat badan, pengukuran tekanan darah, dan pemeriksaan saturasi oksigen menggunakan oksimeter. Selanjutnya, Perawat Ratna Lauranita, S.Kep., melakukan anamnesis melalui aplikasi SMARThealth untuk menghimpun informasi kesehatan responden.

Dari meja TTV, responden menuju meja ketiga untuk menjalani pemeriksaan spirometri. Apabila alat masih digunakan, mereka kembali menunggu hingga mendapat giliran. Di meja ini, Perawat Marni Erlina, S.Kep.Ns., melakukan manuver pemeriksaan tahap pertama atau pre-salbutamol, dengan bantuan Perawat Joenhiga, S.Kep.Ns., yang mengoperasikan alat spirometri MIR SpiroLab milik NIHR UB. Proses tersebut turut disaksikan Ns. Elik Anistina, S.Kep., yang membantu pengawasan pemeriksaan.

Spirometri merupakan pemeriksaan fungsi paru-paru yang mengukur volume udara yang dapat dihirup dan diembuskan seseorang. Untuk memperoleh hasil yang dapat dinilai, pemeriksaan dilakukan berulang menggunakan teknik yang valid dan memenuhi kriteria keterulangan. Pengukuran ini membantu memberikan gambaran objektif mengenai fungsi pernapasan, termasuk dalam penilaian risiko gangguan paru-paru.

Setelah tahap pertama selesai, responden mendapatkan semprotan salbutamol sesuai prosedur, kemudian beristirahat selama 20 menit. Obat tersebut membantu membuka saluran napas sehingga fungsi paru-paru dapat diukur kembali. Sesudah waktu istirahat, responden menjalani pemeriksaan tahap kedua atau post-salbutamol dengan prosedur serupa.

Tahapan ini menjadi bagian penting dalam pengamatan respons saluran napas terhadap bronkodilator. Namun, tidak semua pemeriksaan berjalan mudah. Kondisi fisik, riwayat penyakit, dan kemampuan responden mengikuti manuver pernapasan dapat memengaruhi kualitas hasil yang diperoleh.

Pengukuran tekanan darah, oksimetri dan anamnesis menggunakan aplikasi SMARThealth


Di balik angka, ada kondisi yang perlu dipahami

Berdasarkan catatan Field Facilitator NIHR UB, dari 35 warga yang diundang, sebanyak 34 orang hadir, sementara satu orang menolak menghadiri pemeriksaan sejak menerima undangan.

Dari responden yang datang, terdapat enam laporan khusus terkait pelaksanaan tes. Seorang laki-laki berusia 61 tahun memperoleh hasil yang kurang maksimal. Ia memiliki riwayat sesak napas ketika cuaca dingin dan baru kembali setelah mengairi sawah sejak malam hingga pagi. Kelelahan setelah beraktivitas semalaman menjadi salah satu kondisi yang perlu diperhatikan dalam memahami situasi pemeriksaannya.

Dua responden lansia lainnya memilih tidak melanjutkan tes ketika dipanggil ke meja spirometri. Seorang perempuan berusia 63 tahun menolak karena memiliki riwayat penyakit jantung, sedangkan seorang perempuan berusia 100 tahun mengurungkan pemeriksaan karena merasakan nyeri di dada.

Tiga responden lansia lainnya - dua perempuan dan seorang laki-laki - juga memperoleh hasil yang kurang maksimal. Mereka memiliki riwayat penyakit paru-paru dan jantung serta sedang menjalani pengobatan, atau mempunyai riwayat asma.

Catatan tersebut menunjukkan bahwa pemeriksaan kesehatan di masyarakat tidak hanya berkaitan dengan pengumpulan angka dan hasil pengukuran. Di balik setiap hasil, terdapat kondisi individual yang perlu dipahami dengan cermat. Riwayat penyakit, keluhan yang dirasakan, dan kesiapan fisik menjadi pertimbangan penting dalam pelaksanaan pemeriksaan.

Tes spirometri


Merawat napas, menguatkan layanan kesehatan

Setelah menyelesaikan rangkaian pemeriksaan, responden diarahkan ke meja keempat. Di meja apresiasi partisipasi ini, enumerato Nisa dan Dysa membagikan konsumsi, vitamin, serta subsidi transportasi sebagai bentuk apresiasi atas kesediaan warga berpartisipasi.

Kegiatan tersebut juga dihadiri Rahmanurraudhotul Amin, SKM., yang ditunjuk oleh Theme 1: Primary Healthcare Strengthening untuk mengobservasi jalannya pemeriksaan menggunakan checklist.

Hingga pukul 13.14 WIB, pemeriksaan spirometri keempat di Desa Tamanagung resmi berakhir. Selama lebih dari lima jam, para petugas, tenaga kesehatan, dan kader setempat bekerja bersama untuk mendukung pelaksanaan pemeriksaan bagi warga.

Empat kali penyelenggaraan bukan sekadar pengulangan kegiatan, melainkan bagian dari upaya mengumpulkan informasi kesehatan sekaligus mendekatkan pemeriksaan fungsi paru-paru kepada masyarakat. Sebab, menjaga kesehatan pernapasan tidak selalu dimulai dari pengobatan, tetapi juga dari keberanian untuk memeriksakan diri dan memahami kondisi tubuh.

Seperti pesan A.D. Posey, menarik napas dalam-dalam dapat menjadi pengingat sederhana untuk menghargai kehidupan. Di Tamanagung, setiap embusan napas yang diperiksa membawa harapan agar warga semakin mengenali kesehatannya, sementara upaya penguatan layanan kesehatan primer terus menemukan jalannya - satu pemeriksaan, satu warga, dan satu tarikan napas dalam satu waktu. *** [111026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Saat Napas Menjadi Ukuran Kehidupan: Spirometri Gabungan di Desa Wringinagung

“The quality of your life is measured by the number of deep breaths you take. Make each breath count.” -- Richie Norton

Sabtu (10/10) pagi itu, Pendopo Desa Purwodadi di Jalan Sriwijaya No. 13, Dusun Sumberjaya, Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, terdengar lebih hidup dari biasanya. Di satu sisi ada meja pendaftaran, di sisi lain perangkat kesehatan tersusun rapi. Warga datang membawa satu hal yang sering dianggap biasa, yaitu napas. Namun, bagi mereka yang terindikasi berisiko mengalami PPOK, napas bukan sekadar rutinitas - ia adalah kesehatan, kemandirian, dan kualitas hidup.

Richie Norton, seorang penulis buku terlaris dan wirausahawan peraih penghargaan kelahiran San Diego, Amerika Serikat ini, pernah berujar:

“Kualitas hidup Anda diukur dari seberapa sering Anda menarik napas dalam-dalam. Jadikan setiap embusan napas itu bermakna.” 

Pendopo Desa Wringinagung di Jalan Sriwijaya No. 13 Dusun Sumberjaya RT 01 RW 01 Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi

Kalimat itu terasa relevan ketika 22 undangan, yakni responden hasil pre-screening yang terindikasi memiliki faktor risiko PPOK, dari tiga desa berkumpul untuk menjalani pemeriksaan spirometri gabungan.

Pemeriksaan ini merupakan kolaborasi antara NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi. Ia digelar karena target sasaran spirometri di Kecamatan Gambiran telah mendekati selesai. Tiga desa yang menjadi enumeration area - Purwodadi, Wringinagung, dan Wringinrejo - akhirnya memutuskan menggabungkan pemeriksaan di satu lokasi.

Dari 22 responden yang diundang, 18 orang berasal dari Desa Wringinagung, 3 orang dari Desa Purwodadi, dan 1 orang dari Desa Wringinrejo. Semuanya merupakan hasil pre-screening yang menunjukkan faktor risiko PPOK. PPOK atau penyakit paru obstruktif kronik sering berkembang diam-diam, sehingga spirometri menjadi penting untuk mendeteksi gangguan pernapasan sejak dini.

Suasana pemeriksaan spirometri gabungan dari tiga desa di Pendopo Desa Wringinagung

Pemeriksaan dimulai pukul 08.25 WIB. Tiga enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) - Muhammad Wisnu Nafiri, S.E.; Maharany Triastuti Januarizki, S.ST; dan Winda Cahyani, S.Tr.Gz.RD - menangani jalannya kegiatan. Enumerator dari Desa Purwodadi dan Wringinrejo juga hadir mendampingi respondennya. Dua kader kesehatan setempat, Khilma Wilda Islami dan Risky Rahayu, membantu memastikan suasana tetap tertib dan nyaman.

Seperti sebuah lini layanan kesehatan primer, pemeriksaan bergerak dari meja ke meja. Responden pertama-tama mendaftar di sisi utara pendopo. Di sana, enumerator Rany dan Winda, didampingi dua kader – Khilma dan Risky, melakukan registrasi serta verifikasi data.

Selanjutnya, responden menuju meja tanda-tanda vital. Perawat Tria Firnasari mengukur tekanan darah dan saturasi oksigen melalui oksimetri. Tak jauh dari situ, dr. Wahyu Dian P. melakukan anamnesis menggunakan aplikasi SMARThealth, disertai pemeriksaan fisik dengan stetoskop.

Meja pendaftaran

Setelah itu, responden duduk di kursi antrean. Sambil menunggu, enumerator Wisnu memberikan arahan teknik penyebulan. Panduan sederhana ini ternyata penting di mana spirometri menuntut kerja sama napas yang konsisten agar hasilnya akurat.

Ketika namanya dipanggil, responden bergerak ke meja spirometri. Ns. Ilfani Fitriyanti, S.Kep. memandu manuver pernapasan, sementara Ns. Rizki Indrawangi, S.Kep. mengoperasikan laptop yang terhubung dengan alat spirometri. 

Spirometri mengukur fungsi paru, termasuk volume udara yang dapat dihembuskan dan kecepatan aliran udara. Dalam konteks PPOK, pemeriksaan ini membantu menilai adanya obstruksi saluran napas melalui parameter seperti FEV1 dan rasio FEV1/FVC.

Dokter RS Yasmin Banyuwangi periksa responden dengan menggunakan stetoskop

Tahap pertama disebut spirometri pre-nebulisasi. Setelah selesai, responden berpindah ke meja di sebelah barat untuk menjalani nebulisasi. Ns. Renny Karmila, S.Kep. memandu proses tersebut.

Nebulisasi adalah terapi inhalasi yang mengubah obat cair menjadi kabut halus agar dapat dihirup langsung ke saluran pernapasan. Dalam pemeriksaan fungsi paru, tahap ini berperan sebagai uji bronkodilator: dokter membandingkan kondisi saluran napas sebelum dan sesudah obat diberikan.

Setelah nebulisasi, responden kembali menunggu sebentar. Ketika dipanggil lagi, mereka menjalani spirometri tahap kedua atau post-nebulisasi. Prosedurnya sama dengan tahap pertama, tetapi hasilnya menjadi pembanding penting untuk melihat respons saluran napas terhadap terapi.

Jika tahap kedua berjalan lancar, rangkaian pemeriksaan selesai. Responden kembali ke meja pendaftaran untuk menerima konsumsi, gift, dan subsidi transportasi. Semua itu disaksikan oleh enumerator dan kader - sebuah penutup sederhana, tetapi menunjukkan bahwa layanan kesehatan juga berbicara tentang penghormatan terhadap waktu dan tenaga warga.

Tes spirometri

Kegiatan ini juga dihadiri Rahmanurraudhotul Amin, SKM, yang ditunjuk Theme 1: Primary Healthcare Strengthening untuk mengamati pelaksanaan spirometri menggunakan checklist. Pemeriksaan berakhir pukul 13.30 WIB.

Dari 22 undangan, menurut catatan Filed Facilitator NIHR UB, 10 orang berhasil diperiksa, yang terdiri dari 3 dari Desa Purwodadi, 1 dari Desa Wringinrejo, dan 6 dari Desa Wringinagung. Sembilan orang menyelesaikan seluruh rangkaian dengan lancar. Satu responden dari Desa Wringinagung tidak dapat menyelesaikan tes post-nebulisasi karena baru menjalani operasi batu empedu, yang memengaruhi kemampuan menyebulnya.

Sementara itu, 12 responden lain menolak undangan setelah diberikan kesempatan hingga tiga kali. Angka ini menjadi pengingat bahwa edukasi kesehatan tidak berhenti pada alat canggih atau prosedur yang tertata. Ia juga membutuhkan pendekatan yang sabar, komunikasi yang hangat, dan kepercayaan masyarakat.

Nebulisasi

Di balik deretan nama tenaga kesehatan, alat ukur, dan angka responden, ada pesan yang lebih besar, yaitu kesehatan paru perlu dirawat sebelum keluhannya menjadi berat. Pemeriksaan spirometri gabungan di Desa Wringinagung bukan hanya kegiatan administratif untuk menuntaskan target. Ia adalah upaya membawa layanan deteksi dini lebih dekat ke warga.

Setiap embusan napas yang terukur hari itu adalah data. Namun lebih dari itu, ia adalah kesempatan untuk mengenali risiko lebih awal, memberikan edukasi, dan mengingatkan bahwa napas yang lancar adalah modal hidup yang tidak boleh diremehkan.

Sebagaimana kata Richie Norton, jadikan setiap tarikan napas bermakna. Di Pendopo Desa Purwodadi, makna itu diwujudkan melalui kerja sama, kepedulian, dan langkah kecil yang dapat menyelamatkan kualitas hidup seseorang. *** [111026] 

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Sabtu, 10 Oktober 2026

Sore di RTH Wringinagung: Kisah Enumerator dan Kader Ngelotis Bareng

“Nicht weinen, weil sie vorüber, lächeln, weil sie gewesen.” -- Ludwig Jacobowski (1868–1900)

Sore itu, tak ada pidato panjang atau jabat tangan yang diiringi tangis perpisahan. Hanya dua tikar di atas paving block, potongan buah segar, bumbu lotis yang pedas-manis, dan gelas-gelas es kuwut yang menggoda dahaga. Di bawah rindangnya pohon beringin, tawa mengalir, menyamarkan haru yang diam-diam tersimpan. Di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Wringinagung, sebuah kebersamaan menemukan cara paling sederhana untuk berpamitan: ngelotis bareng.

Berlokasi di Jalan Sriwijaya, Dusun Sumberjaya RT 01 RW 01, Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, RTH itu menjadi ruang perjumpaan yang terasa lebih seperti reuni keluarga daripada acara perpisahan. Tiga enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) berkumpul bersama 12 kader kesehatan setempat untuk menikmati sore sekaligus mengenang perjalanan yang telah mereka lalui bersama.

Ketiga enumerator tersebut adalah Muhammad Wisnu Nafiri, S.E., Maharany Triastuti Januarizki, S.ST., dan Winda Cahyani, S.Tr.Gz.RD. Selama pelaksanaan survei, mereka berkolaborasi dengan Asfiratus, Eva, Ika, Khilma, Lasmi, Lilik, Melani, Mujiani, Munik, Rizky, dan Siti Zulaihah. Para kader menjadi penghubung penting antara tim penelitian dan masyarakat, membantu membangun komunikasi serta mendukung kelancaran berbagai kegiatan di lapangan.

Kebersamaan sore itu juga memiliki cerita lain. Usai mendampingi enumerator baseline survey di Desa Purwodadi dan berpamitan dengan perangkat desa di Kantor Desa Purwodadi, Field Facilitator NIHR UB turut bergabung dalam momen ngelotis tersebut. Perjalanan dari Purwodadi menuju Wringinagung seolah mempertemukan dua cerita lapangan dalam satu ruang kebersamaan, yakni cerita tentang tugas yang telah dituntaskan dan hubungan antarmanusia yang tumbuh selama prosesnya.

Enumerator baseline survey Desa Wringinagung berpose bersama kader kesehatan dan Field Facilitator NIHR UB

Kehadiran Field Facilitator menambah hangat suasana. Di balik pekerjaan mendampingi enumerator, berkoordinasi dengan berbagai pihak, dan memastikan kegiatan berjalan sesuai rencana, ada pengalaman-pengalaman yang tak selalu tercatat dalam laporan. Ada percakapan, tantangan, dan perjumpaan dengan banyak orang yang membuat perjalanan penelitian terasa lebih berarti.

Di lapangan, pekerjaan para enumerator dan kader bukan perkara ringan. Pengambilan data, pemeriksaan spirometri, hingga wawancara dengan warga membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan koordinasi yang baik. Dukungan para kader membantu tim menjangkau masyarakat, sedangkan pendampingan di lapangan menjadi bagian penting dalam mengawal jalannya survei.

Hari-hari yang semula dipenuhi tugas dan tanggung jawab itu perlahan menghadirkan sesuatu yang lebih personal. Kerja bersama menumbuhkan rasa saling percaya. Percakapan di sela kegiatan melahirkan kedekatan. Bahkan, pengalaman tak terduga menjadi cerita yang kelak dikenang bersama, seperti ketika enumerator Rany dan kader Lasmi yang berboncengan tiba-tiba jatuh dari motor karena bannya selip di mulut gang saat mau jemput responden untuk pemeriksaan spirometri. Situasi yang mungkin merepotkan kala itu justru berubah menjadi bahan obrolan yang mengundang gelak tawa.

Di atas tikar, aneka buah tersaji menggugah selera. Jambu air merah, mangga muda, bengkoang, timun, dan nanas berpadu dengan bumbu lotis yang diulek hingga merata. Perpaduan rasa manis, asam, pedas, dan segar seolah mencerminkan perjalanan mereka yang tak selalu mudah, tetapi selalu menyisakan cerita untuk dibagikan. Potongan buah yang dicelupkan ke dalam bumbu menjadi pemantik obrolan, sementara es kuwut menyegarkan tenggorokan di tengah udara sore yang mulai sejuk.

Ngelotis bareng di RTH Wringinagung di bawah bayang-bayang pohon beringin

Tak ada yang benar-benar ingin menjadikan perpisahan sebagai topik utama. Namun, semua yang hadir menyadari bahwa sebuah tahapan pekerjaan telah sampai di penghujungnya. Justru melalui suasana santai itulah rasa terima kasih menemukan tempatnya, tanpa perlu dikemas dalam seremoni yang kaku.

Di tengah obrolan, Muhammad Wisnu Nafiri mewakili kedua rekannya menyampaikan apresiasi kepada para kader.

“Terima kasih atas kerja samanya selama ini. Tanpa bantuan dan ketulusan teman-teman semua, survei ini tidak akan berjalan lancar,” ujarnya.

Kalimat sederhana itu menjadi pengakuan atas waktu, tenaga, dan ketulusan para kader dalam mendukung kegiatan survei. Lebih dari sekadar ucapan penutup, pesan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan kerja lapangan bukanlah hasil usaha satu pihak, melainkan buah kolaborasi banyak orang.

Ngelotis bareng mungkin terdengar seperti kegiatan sederhana. Namun, di RTH Wringinagung, ia menjadi lebih dari sekadar agenda makan buah bersama. Ada penghargaan, rasa kekeluargaan, dan kenangan yang diracik dalam suasana santai. Dari enumerator, kader kesehatan, hingga Field Facilitator, setiap orang memiliki peran dalam perjalanan yang sama, meski dengan tanggung jawab yang berbeda.

Perpisahan yang sumringah

Seperti ungkapan dari penggalan puisi karya seorang penyair Jerman, Ludwig Jacobowski (1868–1900):

“Jangan menangis karena hal itu telah berakhir, tersenyumlah karena hal itu pernah terjadi.” 

Kalimat ini seolah merangkum suasana sore itu. Berakhirnya satu tahapan kegiatan bukan berarti berakhir pula makna kebersamaan yang telah terbangun. Pengalaman bekerja bersama, saling membantu, dan berbagi cerita akan tetap hidup dalam ingatan masing-masing.

Di bawah rindangnya pohon beringin, mereka berpamitan tanpa perlu larut dalam kesedihan. Tawa menjadi bahasa terima kasih, lotis menjadi teman berbagi kenangan, dan es kuwut menghadirkan kesegaran di tengah perpisahan. 

Sore itu, di RTH Wringinagung, mereka memilih tersenyum - bukan karena tak ada rasa kehilangan, melainkan karena pernah memiliki kesempatan untuk bekerja, berbagi, dan menjadi bagian dari perjalanan yang cukup bermakna ini. *** [101026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Pamitan di Kantor Desa Purwodadi: Ketika Data Usai, Silaturahmi Tetap Terjaga

“Be well, do good work, and keep in touch.” -- Garrison Keillor

Empat bulan bukan waktu yang singkat. Sejak pertama kali mengetuk pintu rumah warga, memperkenalkan diri sebagai Tim Enumerator Baseline Survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communcable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC), hingga menuntaskan pemeriksaan spirometri terakhir, Desa Purwodadi , Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi telah menjadi ruang kerja sekaligus rumah kedua bagi tim enumerator. Kini, di penghujung tugas, tibalah saatnya berpamitan.

Seperti peribahasa lama, “datang tampak muka, pulang tampak punggung.” Ketika awal kedatangan, tim menghadap Kepala Desa (Kades) Purwodadi untuk memohon izin dan restu. Maka di akhir tugas, mereka kembali menghadap, bukan untuk meminta sesuatu, melainkan untuk menyampaikan terima kasih dan permohonan maaf jika selama proses pengumpulan data ada tutur kata atau sikap yang kurang berkenan.

Enumerator baseline survey berpose bersama dengan perangkat desa di Ruang Kerja Kades Purwodadi


Komunikasi yang Membuka Pintu, Komunikasi yang Menutup dengan Hormat

Dalam analisis komunikasi, apa yang dilakukan tim enumerator - Mega Wrida Silvia, SKM; Naylil Nur Amalya Putri, S.Sos.; Sinta Ningrum Widianingsih, SKM – yang didampingi Field Facilitator NIHR Universitas Brawijaya (UB), yang sekaligus sebagai Peneliti dalam Bidang Pengawasan Data Lapangan/Supervisor SMARThealth ini, adalah bentuk komunikasi interpersonal yang beretika sekaligus komunikasi organisasi yang membangun legitimasi sosial. 

Kehadiran awal ke Kades Purwodadi, Drs. Suyanto, bukan sekadar formalitas administratif, melainkan simbol bahwa tim menghormati struktur sosial desa. Sebaliknya, pamitan di akhir tugas adalah penegasan bahwa hubungan yang terbangun tidak berhenti pada kepentingan proyek semata.

Secara teoretis, ini menyentuh konsep face-saving dan relational maintenance dalam komunikasi. Tim tidak hanya menuntaskan target data, tetapi juga menjaga "wajah" desa dan Kades sebagai tuan rumah. Pamitan menjadi pesan nonverbal: kami datang dengan hormat, kami pulang dengan hormat.

Enumerator ucapkan terima kasih atas dukungan Pemdes Purwodadi dalam melakukan baseline survey NIHR-GHRC NCDs & EC


Suara dari Balai Desa

“Terima kasih banyak, Pak Kades, atas izin, dukungan, dan pengertiannya selama tiga bulan ini. Kami mungkin hanya singgah, tapi Desa Purwodadi akan selalu jadi bagian dari cerita survei ini,” ujar Mega, mewakili rekan-rekan enumerator.

Kades Purwodadi pun menyambut dengan tangan terbuka. “Data yang Bapak-Ibu kumpulkan ini Insya Allah bermanfaat, terutama untuk kesehatan warga. Kalau ada kekurangan selama di sini, mohon dimaafkan. Pintu desa selalu terbuka kalau ada kegiatan lagi.”

Dialog singkat itu bukan sekadar basa-basi. Ia adalah ritual komunikasi yang mengukuhkan hubungan antara peneliti, pemerintah desa, dan masyarakat. Dalam konteks NIHR-GHRC NCDs & EC - yang meneliti penyakit tidak menular dan dampak kesehatan lingkungan - kepercayaan masyarakat adalah modal utama. Pamitan yang hangat menjadi jembatan agar kepercayaan itu tidak putus setelah tim pergi.

Interaksi bersahabat antara enumerator baseline survey, Field Facilitator NIHR UB, dan perangkat desa di Ruang Kerja Kades Purwodadi, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi


Datang Tampak Muka, Pulang Tampak Punggung — tapi Jejaknya Tetap Ada

Peribahasa datang tampak muka, pulang tampak punggung sering dimaknai sebagai etika datang dan pergi. Namun dalam konteks ini, maknanya lebih dalam, yakni kehadiran yang sopan di awal, dan kepergian yang juga sopan di akhir. Tidak ada kesan "kabur" setelah data terkumpul. Yang ada adalah penutupan yang manusiawi.

Di sinilah komunikasi menjadi lebih dari sekadar pertukaran informasi. Ia menjadi pengalaman bersama - antara enumerator yang belajar memahami denyut kehidupan desa, dan warga yang bersedia membuka pintu, menjawab pertanyaan, bahkan duduk tenang saat pemeriksaan spirometri.

Di sela-sela itu, Field Facilitator NIHR UB juga berbincang dengan Kades Purwodadi, Sekretaris Desa (Sekdes Hj. Sri Astutik Rustiningsih, Kepala Dusun (Kasun) Gembolo Dwi Adi Setiawan, S.Pd., dan Kasun Krajan, Hadi Winarto. Mereka cukup ramah semua, dan bernuansa bersahabat dalam interaksinya.

Tak terkecuali, sebelum membuka pintu utama Kantor Desa Purwodadi, enumerator dan Field Facilitator NIHR UB juga berpamitan dengan staf desa yang berada di Ruang Pelayanan


Menjaga Komunikasi, Merawat Karya

Garrison Keillor, penulis dan penyiar Amerika, pernah berpesan:

“Jaga diri baik-baik, berkaryalah dengan baik, dan tetaplah menjalin komunikasi.”

Pesan itu terasa relevan di sini. Tim enumerator telah berkarya - mengumpulkan data, memfasilitasi pemeriksaan fungsi paru warga, mendokumentasikan kondisi kesehatan masyarakat. Namun karya yang baik tidak berhenti pada laporan. Ia berlanjut pada jalinan komunikasi yang tetap terpelihara: antara tim dan perangkat desa, antara tim dan warga, antara ilmu pengetahuan dan kehidupan nyata di Desa Purwodadi.

Maka pamitan ini bukan akhir. Ia adalah titik koma - jeda yang menyimpan kemungkinan kolaborasi lanjutan, atau setidaknya kenangan bahwa pernah ada sekelompok orang yang datang membawa alat spirometri, pulang membawa data, dan meninggalkan salam.

Yang pergi membawa tugas, yang tinggal menyimpan cerita. Namun selama komunikasi masih terjaga, tak ada perpisahan yang benar-benar selesai. “A Valediction: Forbidding Mourning,” kata John Donne. “Sebuah Perpisahan: Melarang Kesedihan.”

Sampai bertemu lagi, Desa Purwodadi  -  dalam doa, dalam karya, atau dalam kunjungan yang tak direncanakan. *** [091026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Risk Checker

Risk Checker

Indeks Massa Tubuh

Supplied by BMI Calculator Canada

Statistik Blog

Sahabat eKader

Label

Arsip Blog