"Learn how to exhale, the inhale will take care of itself." -- Carla Melucci Ardito
Ada kalanya satu kali hembusan napas belum cukup untuk mengungkap kondisi paru-paru seseorang. Bukan karena tubuh tak mampu bekerja sama, melainkan karena pemeriksaan membutuhkan teknik yang tepat, usaha maksimal, dan hasil pengukuran yang memenuhi standar. Di sinilah pemeriksaan ulang menjadi penting, yaitu memberi kesempatan kedua untuk memperoleh gambaran fungsi paru yang lebih akurat.
Semangat itulah yang mewarnai pemeriksaan ulang spirometri kedua di Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, pada Rabu (14/10). Bertempat di Rumah Kader Siti Bariya, Dusun Cempokosari RT 02 RW 03, kegiatan ini merupakan kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi dalam rangkaian baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC).
![]() |
| Kunjungan dr. Harun dalam pemeriksaan ulang spirometri kedua di Dusun Cempokosari, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi |
Ketika Hembusan Belum Memberikan Jawaban
Spirometri bukan sekadar meniup alat, lalu memperoleh angka di layar. Pemeriksaan ini mengukur fungsi paru melalui pola udara yang diembuskan seseorang. Karena itu, kualitas hasilnya bergantung pada tiga unsur yang saling berkaitan, meliputi keterampilan petugas, ketepatan peralatan, dan upaya maksimal peserta pemeriksaan.
Apabila rekaman sebelumnya tidak dapat dibaca (unreadable), tidak valid, atau tidak memenuhi kriteria kualitas, pemeriksaan ulang diperlukan. Hasil yang cacat secara teknis tidak semestinya dipaksakan untuk ditafsirkan. Sebaliknya, pengukuran perlu diulang agar gambaran fungsi paru yang diperoleh lebih dapat diandalkan.
Di Sarimulyo, pemeriksaan ini bukan kali pertama dilakukan. Sebelumnya, spirometri telah diselenggarakan lima kali, yakni pada 25 Juli, 14 Agustus, 15 Agustus, dan 21 Agustus serta 12 Oktober. Dari 151 target responden hasil pre-screening yang terindikasi memiliki faktor risiko penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), beberapa di antaranya memerlukan pemeriksaan ulang karena hasil sebelumnya belum terbaca dengan baik.
Setelah pemeriksaan ulang pertama pada Senin (12/10), tim kembali menjadwalkan pemeriksaan ulang kedua. Dua enumerator baseline survey, Kiki Antikawati Rustandi, S.Kep. dan Triana Rahmah, S.AB., mengoordinasikan kegiatan tersebut dengan mengundang 30 responden.
![]() |
| Suasana pemeriksaan ulang spirometri kedua, tampak dr. Harun berdiskusi dengan Kades Sarimulyo di teras depan |
Dari Meja Pendaftaran hingga Hembusan Kedua
Sejak awal, alur pemeriksaan disusun seperti rangkaian yang saling terhubung. Di meja pendaftaran, Kiki bersama kader kesehatan membantu registrasi dan verifikasi data. Selanjutnya, responden menjalani pemeriksaan tanda-tanda vital (TTV), meliputi pengukuran tekanan darah dan saturasi oksigen oleh Perawat Annisa Fitriya, A.Md.Kep.
Di meja yang sama, dr. Sofia Intani melakukan anamnesis menggunakan aplikasi SMARThealth serta pemeriksaan fisik dengan stetoskop. Setelah itu, responden menunggu giliran sambil menerima penjelasan mengenai teknik meniup alat spirometri dari enumerator Triana.
Pembekalan ini menjadi bagian penting. Sebab, hasil pengukuran tidak hanya ditentukan oleh alat, tetapi juga kemampuan responden mengikuti instruksi dengan benar.
Ketika namanya dipanggil, responden menuju meja spirometri. Ns. Prisilia Rosa A., S.Kep., memandu pelaksanaan manuver pemeriksaan, dibantu Ns. Yusi Ayu Permatasari, S.Kep., yang mengoperasikan laptop terhubung dengan alat spirometri. Proses tersebut berada di bawah pengawasan Ns. Elik Anistina, S.Kep., yang turut mengawal pelaksanaan pemeriksaan bersama NIHR UB.
Pemeriksaan berlangsung dalam dua tahap. Pertama, responden menjalani spirometri sebelum nebulisasi (pre-nebulisasi). Setelah itu, mereka berpindah ke meja di sebelah timur untuk menjalani nebulisasi bersama Ns. Mahendra, S.Kep. Prosedur ini menggunakan alat nebulizer untuk mengubah obat cair menjadi kabut halus yang dihirup melalui saluran pernapasan.
Usai nebulisasi, responden beristirahat sejenak sebelum kembali menjalani spirometri tahap kedua (post-nebulisasi). Dengan membandingkan hasil sebelum dan sesudah nebulisasi, tenaga kesehatan dapat menilai perubahan fungsi paru sesuai indikasi dan hasil pemeriksaan.
Setelah seluruh rangkaian selesai, responden kembali ke meja pendaftaran. Para kader membagikan konsumsi, bingkisan, dan subsidi transportasi sebagai bentuk dukungan bagi warga yang telah berpartisipasi.
![]() |
| Tes spirometri |
Antusiasme Warga, Catatan untuk Evaluasi
Di balik alur pemeriksaan yang terstruktur, dukungan masyarakat menjadi bagian penting dari keberhasilan kegiatan. Tiga kader kesehatan setempat - Siti Bariya, Malikatun Nikmah, dan Kiki Wahyuni - membantu menyebarkan undangan beberapa hari sebelumnya. Mereka juga mendukung mobilisasi, termasuk mengantar dan menjemput responden yang membutuhkan bantuan.
Antusiasme warga bahkan melampaui jumlah undangan. Dari 30 responden yang dijadwalkan, sebanyak 33 orang berhasil menjalani pemeriksaan. Tiga peserta tambahan semula dijadwalkan hadir keesokan harinya, tetapi memilih mengikuti pemeriksaan lebih awal.
Kegiatan ini turut dihadiri Kepala Desa Sarimulyo Budi Susilo, S.T., Kamituwo Cempokosari Rudi Hartoyo, S.E., dan dr. Harum Al Rasyid, MPH, dari NIHR UB Malang. Rahmanurraudhotul Amin, SKM, yang ditugaskan dalam Theme 1: Primary Healthcare Strengthening, juga melakukan observasi menggunakan daftar tilik untuk memantau jalannya pemeriksaan.
Meski demikian, capaian tersebut bukan berarti seluruh pemeriksaan berjalan tanpa kendala. Menurut catatan Ns. Elik, terdapat enam responden yang hasil spirometrinya dinilai kurang maksimal. Lima di antaranya merupakan laki-laki lanjut usia dengan riwayat asma maupun tuberkulosis (TBC). Satu responden lanjut usia lainnya memiliki riwayat sesak napas dan sedang mengalami sariawan saat pemeriksaan.
Catatan ini menjadi pengingat bahwa kondisi kesehatan dan kemampuan mengikuti instruksi dapat memengaruhi proses pengukuran. Hasil yang kurang maksimal perlu ditelaah secara hati-hati oleh tenaga kesehatan, bukan langsung dianggap sebagai gambaran pasti fungsi paru seseorang.
![]() |
| Nebulisasi |
Kesempatan Kedua untuk Hasil yang Lebih Bermakna
Pemeriksaan ulang spirometri kedua di Sarimulyo selesai pada pukul 14.35 WIB. Namun, arti penting kegiatan ini tidak berhenti pada selesainya pemeriksaan atau tercapainya jumlah peserta. Lebih dari itu, kegiatan ini menunjukkan bahwa pemeriksaan kesehatan yang berkualitas membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan kerja sama antara petugas, responden, serta masyarakat.
Ada kutipan Carla Melucci Ardito - seorang terapis dan pengajar yang berbasis di Kota New York, yang telah secara pribadi mengalami, mempelajari, serta mengeksplorasi seni penyembuhan selama lebih dari 40 tahun yang terasa relevan dengan proses tersebut:
“Belajarlah cara mengembuskan napas; menarik napas akan terjadi dengan sendirinya.”
Dalam spirometri, mengembuskan napas dengan teknik yang tepat memang perlu dipelajari dan dilatih. Setiap instruksi, setiap percobaan, dan setiap pengulangan memiliki perannya sendiri.
Sebab, dalam upaya mengenali risiko PPOK lebih dini, satu hembusan yang belum terbaca bukanlah akhir dari pemeriksaan. Terkadang, dibutuhkan kesempatan kedua agar napas dapat bercerita lebih jelas, dan agar langkah menjaga kesehatan paru-paru dapat dimulai dengan informasi yang lebih dapat dipercaya. *** [151026]
Oleh: Budiarto Eko KusumoEditor: Budiarto Eko Kusumo






























