“I feel very strongly…that proper breathing is a master key to good health.” – Andrew Weil, MD
Di tengah kesibukan pagi Pendopo Desa Tamanagung, terdengar instruksi sederhana yang menyimpan makna besar: “Tarik napas, lalu tiup sekuat mungkin.” Di balik satu tiupan ke alat spirometer, kesehatan paru sejumlah warga mulai terbaca, sekaligus membuka peluang deteksi dini penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).
Di balik gerakan yang tampak sepele itu, ada upaya serius membaca kesehatan paru, sebab, seperti kata Andrew Thomas Weil, seorang dokter dan penulis Amerika yang dikenal karena menganjurkan pengobatan integrative ini:
“Saya sangat yakin… bahwa pernapasan yang tepat merupakan kunci utama menuju kesehatan yang baik.”
Sabtu (24/10), pemeriksaan spirometri kedelapan digelar di Pendopo Desa Tamanagung, Jalan Sraten No. 07, Dusun Krajan, RT 02/RW 04, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RS NU) Banyuwangi, serta menjadi bagian dari rangkaian survei baseline NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC). Karena hari itu juga terdapat kegiatan spirometri lain di Desa Kaliploso, Field Facilitator NIHR UB mengatur kunjungan agar dapat hadir terlebih dahulu di Tamanagung.
Sejak pukul 07.30 WIB, tiga enumerator baseline survey - Fahmi Ahmad Fauzan, S.Sos.; Dysa Fitri Permatasari, S.Tr.Kes., M.Kes.; dan Nisaul Rofifah, S.Gz. - menyiapkan alur pemeriksaan bagi 16 responden hasil pre-screening. Mereka adalah warga yang terindikasi memiliki faktor risiko penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), kondisi yang sering berjalan diam-diam hingga napas mulai terasa berat.
![]() |
| Personel RS NU Banyuwangi berpose dengan enumerator baseline survey dan kader kesehatan Desa Tamanagung |
Dari Undangan hingga Pendaftaran
Mobilisasi tidak dimulai pada hari-H. Dua kader kesehatan setempat, Binti Qori’ah dan Ninik Sutriani, telah membantu menyampaikan undangan sejak dua hari sebelumnya. Pada hari pelaksanaan, keduanya kembali bergerak mendampingi enumerator, memastikan warga yang diundang benar-benar mengetahui waktu, tempat, dan tujuan pemeriksaan.
Alur pelayanan berjalan melalui empat meja. Di Meja 1, kader Binti dan Ninik, serta enumerator Nisa menerima responden, melakukan registrasi, serta memverifikasi data. Setelah itu, warga dipersilakan duduk di bangku antrean. Sementara menunggu, Fauzan memberikan penjelasan mengenai teknik menyembul - cara meniup yang benar agar hasil pengukuran dapat dibaca dengan akurat.
Bagi sebagian warga, instruksi itu bukan sekadar teknis. Meniup ke alat spirometri menuntut konsentrasi, tenaga, dan keberanian menghadapi angka yang mungkin tidak selalu menyenangkan. Namun justru di situlah letak pentingnya, bahwa spirometri mengukur secara objektif jumlah udara maksimum yang dapat dihirup dan dikeluarkan paru-paru.
![]() |
| Meja 1: registrasi dan verifikasi data |
Membaca Sinyal dari Paru
Di Meja 2 atau meja tanda-tanda vital, Perawat Dwi Warsa, S.Kep.Ns., menimbang berat badan, mengukur tekanan darah, dan melakukan oksimetri. Selanjutnya, Dewi Sumarsih melakukan anamnesis melalui aplikasi SMARThealth. Data-data sederhana itu kemudian menjadi bagian dari gambaran kesehatan yang lebih utuh.
Pemeriksaan inti berlangsung di Meja 3. Perawat Marni Erlina, S.Kep.Ns., memimpin manuver spirometri tahap pertama atau pre-semprotan salbutamol, dibantu Ratna Lauranita yang mengoperasikan alat MIR SpiroLab milik NIHR UB. Pemeriksaan yang memenuhi syarat harus dilakukan minimal tiga kali dengan hasil yang valid dan dapat direproduksi untuk menentukan forced vital capacity (FVC). Apabila belum memenuhi kriteria, tes dapat diulang hingga delapan kali.
Setelah tahap pertama, responden menerima semprotan salbutamol melalui mulut, lalu beristirahat selama 20 menit. Tahap kedua, atau post-semprotan salbutamol, dilakukan dengan cara yang sama. Perbandingan hasil sebelum dan sesudah obat pembuka saluran napas membantu menilai respons saluran pernapasan. Seluruh proses itu diawasi langsung oleh Ns. Elik Anistina, S.Kep., yang mendampingi NIHR UB di meja spirometri.
Responden yang telah menyelesaikan rangkaian tes kemudian menuju Meja 4. Di sana, Dysa memberikan konsumsi, vitamin, dan subsidi transportasi sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka. Pemeriksaan berakhir pada pukul 10.16 WIB.
![]() |
| Meja 2: TTV |
Tujuh Bangku yang Kosong
Dalam pemeriksaan spirometri yang kedelapan ini dihadiri sebentar oleh Perawat Yofi Agung Prastyawan dari RS NU Banyuwangi. Pemeriksaan spirometri kedelapan ini berakhir pada pukul 10.16 WIB.
Dari 16 undangan, sembilan responden hadir. Tujuh lainnya tidak dapat ditemui, dengan alasan yang beragam dan mencerminkan realitas kehidupan di lapangan.
Ada perempuan berusia 58 tahun yang sejak September keluar kota ke rumah orangtuanya. Ada pula perempuan 40 tahun yang menolak diperiksa karena dilarang suaminya, serta perempuan 52 tahun dan laki-laki lansia 73 tahun yang tidak mendapat izin dari keluarga. Seorang laki-laki 41 tahun merasa sudah rutin kontrol setiap bulan, sementara laki-laki 49 tahun menjalani kontrol rutin di Malang. Laki-laki lansia 63 tahun tidak dapat hadir karena bertugas sebagai pengawas proyek dan hanya libur pada hari Minggu.
Ketidakhadiran itu bukan sekadar catatan administratif. Ia menunjukkan bahwa akses layanan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan alat atau tenaga medis, tetapi juga oleh izin keluarga, jadwal kerja, persepsi masyarakat, dan kebiasaan kontrol kesehatan. Dalam konteks PPOK, keterlambatan pemeriksaan dapat berarti keterlambatan pula dalam mengenali gangguan pernapasan sejak dini.
![]() |
| Koordinator kerja sama RS NU dalam NIHR-GHRC NCDS & EC hadir menyaksikan jalannya pemeriksaan spirometri di hari terakhir kerja sama |
Ketika Hasil Belum Maksimal
Dari sembilan responden yang hadir, Ns. Elik menyampaikan bahwa terdapat dua laporan hasil yang kurang maksimal. Seorang lansia perempuan berusia 68 tahun memiliki riwayat asma dan rutin mengonsumsi obat. Responden lain, perempuan lansia 70 tahun, memiliki riwayat asma, tidak rutin minum obat, serta mengalami keterbatasan pendengaran.
Kedua kasus ini menegaskan pentingnya kepatuhan pengobatan dan komunikasi yang tepat dalam layanan kesehatan lansia. Hasil spirometri yang belum optimal bukan akhir dari segalanya, melainkan sinyal untuk evaluasi lanjutan, edukasi, dan tindak lanjut yang lebih personal.
Pemeriksaan spirometri kedelapan di Tamanagung mungkin berlangsung hanya dalam beberapa jam. Namun, ia meninggalkan pesan yang lebih panjang: napas adalah indikator kesehatan yang sering diabaikan, padahal menjadi pintu awal untuk mengenali risiko PPOK.
Melalui deteksi dini, kolaborasi lintas lembaga, dan keterlibatan kader, harapan untuk menjaga paru warga Tamanagung terus berjalan - satu tiupan napas demi satu tiupan napas. *** [251026]
Oleh: Budiarto Eko KusumoEditor: Budiarto Eko Kusumo






























