Senin, 26 Oktober 2026

Saat Napas Dipanggil Kembali di Kaliploso

“[B]reath is the animated, nonphysical aspect of your being. So that when you look in the direction of breath, when you focus your attention on your breath, you are really looking at your spiritual self.” – Andrew Weil, MD

Di sebuah pendopo di Dusun Kalirejo, responden menarik napas dalam-dalam, menahan sejenak, lalu meniup sekuat tenaga ke dalam alat kecil yang terhubung dengan laptop. Layar itu merekam kurva pernapasannya - bukan sekadar angka, melainkan potret kerja parunya. Namun pada pemeriksaan sebelumnya, sebagian kurva itu tidak dapat dibaca. Karena itu, pada Sabtu (24/10), mereka diundang kembali untuk mengulang pemeriksaan spirometri lagi.

Pemeriksaan ulang spirometri perdana ini digelar di Pendopo Dusun Kalirejo, RT 02/RW 07, Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan merupakan kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi, dengan mengundang 28 responden hasil pre-screening yang terindikasi memiliki faktor risiko penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

Personel RS Yasmin Banyuwangi berpose dengan enumerator baseline survey dan kader setempat

Mengapa Hasil Harus Diulang?

Spirometri adalah pemeriksaan yang menilai seberapa besar dan seberapa cepat seseorang dapat menghirup serta menghembuskan udara. Tes ini menjadi pintu penting untuk mendeteksi gangguan pernapasan, termasuk PPOK yang sering berkembang diam-diam.

Namun, alat canggih sekalipun tidak dapat bekerja sendiri. Kualitas spirometri bergantung pada tiga hal, yaitu teknisi atau perawat yang terlatih, peralatan yang akurat, dan usaha maksimal dari responden. Jika salah satunya terganggu, misalnya responden batuk di awal hembusan, kurva tidak sempurna, atau nilai antar-manuver tidak konsisten, hasil dapat menjadi tidak valid. Standar kualitas umumnya menuntut minimal tiga kurva yang dapat diterima dan hasil FVC serta FEV1 yang konsisten, dengan selisih tidak lebih dari 150 ml.

Karena itu, bila rekaman sebelumnya “tidak dapat dibaca” atau mengandung cacat teknis, langkah yang tepat bukan memaksakan interpretasi. Hasil tersebut sebaiknya diabaikan dan pemeriksaan diulang pada hari lain. Sebaliknya, jika masih ada data yang layak digunakan, klinisi dapat melaporkan hasil terbaik disertai catatan keterbatasan teknis dan menafsirkannya secara hati-hati.

Di Kaliploso, kebutuhan itu menjadi nyata. Dari enam gelombang pemeriksaan spirometri sebelumnya - 28 Agustus, 29 Agustus, 12 September, 18 September, 2 Oktober, dan 3 Oktober - sejumlah responden dari 164 target pre-screening harus mengikuti tes ulang karena hasil awalnya tidak terbaca.

Suasana pemeriksaan ulang spirometri perdana di Pendopo Dusun Kalirejo, Dusun Kalirejo RT 02 RW 07 Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi

Alur yang Sama, Tekad yang Baru

Pukul 08.00 WIB, pendopo itu perlahan hidup. Meja pendaftaran sudah siap, kursi antrean tertata, dan lima kader setempat bergerak cekatan - Eva Hariana, Siti Zulaihah Harum Wijayanti, Rio Dita Wibawa, Sri Hidayati, Sundari, dan Sutiyani Eka Rahayu. Mereka membantu enumerator di meja pendaftaran, memobilisasi warga, menyebarkan undangan sejak beberapa hari sebelumnya, hingga mengantar-jemput responden yang membutuhkan.

Dua enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC), Rahmanurraudhotul Amin, SKM, dan Rafini Aminatul Hidayah, S.Tr.Gz., memastikan alur berjalan seperti pemeriksaan-pemeriksaan sebelumnya. Responden pertama-tama melakukan registrasi dan verifikasi data di meja pendaftaran yang dilayani enumerator Rafini bersama para kader.

Dari sana, mereka menuju meja tanda-tanda vital (TTV). Perawat Mesra Safira, A.Md.Kep., mengukur tekanan darah dan saturasi oksigen melalui oksimetri. Di sampingnya, dr. Rika Hardiyanti melakukan anamnesis melalui spreadsheet sekaligus pemeriksaan fisik dengan stetoskop.

Baru setelah itu responden duduk menunggu panggilan ke meja spirometri. Di sela waktu menunggu, Rahman memberikan latihan teknik penyebulan, yaitu bagaimana menarik napas penuh, memasang bibir rapat pada mouthpiece, lalu menghembuskan udara dengan kuat dan tahan lama. Latihan sederhana ini ternyata menentukan. Tanpa teknik yang tepat, alat akan merekam kurva yang tidak dapat dinilai.

Pengukuran tekanan darah dan oksimetri

Saat Napas Diuji Dua Kali

Ketika namanya dipanggil, responden mendekati meja spirometri. Ns. Imelda Arofah, S.Kep., memandu manuver pernapasan, dibantu Ns. Rizki Indrawangi, S.Kep., yang mengoperasikan laptop dan perangkat spirometri. Perawat Elik Anistina, S.Kep., mengawal pelaksanaan tes sebagai bagian dari dukungan NIHR UB.

Tes pertama disebut tahap pre-nebulisasi. Setelah selesai, responden bergeser ke meja nebulisasi di sisi barat. Di sana, Mahendra, S.Kep.Ns., memberikan terapi inhalasi menggunakan nebulizer, sebuah alat yang mengubah obat cair menjadi kabut halus untuk dihirup langsung ke saluran pernapasan.

Setelah beristirahat sejenak, responden dipanggil kembali untuk tahap post-nebulisasi. Mereka mengulangi manuver yang sama. Perbedaannya hanya satu, yakni kali ini paru mereka telah menerima bantuan obat inhalasi. 

Jika hasil tahap kedua berjalan lancar, rangkaian pemeriksaan selesai dan responden kembali ke meja pendaftaran untuk menerima konsumsi, gift, serta subsidi transportasi yang disaksikan enumerator.

Pemeriksaan ulang spirometri yang pertama ini selesai pada pukul 13.20 WIB. Dari 28 responden yang diundang, 25 orang berhasil terperiksa, sementara tiga orang dikeluarkan dari pemeriksaan dengan berbagai pertimbangan medis dan kondisi responden.

Tes spirometri

Ketika Keterbatasan Ikut Bicara

Di balik angka kehadiran, ada cerita yang tidak selalu tampak di layar spirometri. Ada lansia perempuan berusia 62 tahun dengan kemampuan memori sensorik yang menurun; ia telah dua kali hadir, tetapi belum berhasil melakukan manuver dengan baik. Ada pula lansia perempuan 62 tahun lain yang mengalami gejala stroke dan sakit perut kanan, sering kambuh saat bergerak, hingga akhirnya hanya bisa ditemukan dalam kondisi berbaring sehingga tak bisa hadir dalam undangan pemeriksaan ulang spirometri yang pertama ini.

Satu lansia perempuan berusia 72 tahun hadir pada hari itu, tetapi hasil skrining dr. Rika menunjukkan adanya keluhan pada jantung. Denyut nadinya cukup kencang, sehingga manuver spirometri dinilai berisiko bila tetap dilanjutkan. 

Sementara itu, dua responden yang tidak dapat hadir tersebut kemudian dicarikan penggantinya oleh enumerator Rahman dari daftar reschedule pada hari berikutnya.

Meski demikian, dari 27 responden yang terperiksa, Ns. Elik mencatat lima orang memiliki hasil yang belum maksimal. Tiga lansia laki-laki menghadapi kendala karena riwayat stroke, penurunan pendengaran, dan sesak napas. Dua perempuan - satu pra-lansia dan satu lansia - juga menghadapi hambatan akibat riwayat sesak napas dan stroke yang disertai gangguan kognitif.

Kondisi-kondisi ini menegaskan satu hal, bahwa spirometri bukan sekadar “meniup ke alat.” Ia menuntut koordinasi tubuh, pemahaman instruksi, kekuatan, dan ketenangan. Bagi sebagian lansia, itu adalah tantangan yang tidak ringan.

Nebulisasi

Napas sebagai Cermin Diri

Dokter dan penulis  kedokteran integrative asal Amerika, Andrew Weil, MD pernah mengatakan: 

“Napas adalah aspek nonfisik yang hidup dari diri Anda. Jadi, saat Anda mengarahkan pandangan ke arah napas, saat Anda memusatkan perhatian pada napas Anda, sebenarnya Anda sedang menatap diri spiritual Anda.”

Di Kaliploso, kalimat itu terasa dekat dengan keseharian. Setiap responden yang kembali menduduki kursi pemeriksaan tidak hanya mengulang tes teknis. Mereka juga mengulang kesempatan untuk didengar - agar riwayat sesaknya, keterbatasan geraknya, dan usahanya menarik napas tidak berakhir sebagai data yang gagal terbaca.

Pemeriksaan ulang ini mungkin tampak sederhana di mana satu pendopo, beberapa meja, alat kecil, dan warga yang datang membawa napas mereka. Namun di dalamnya ada upaya kolektif untuk memastikan satu hal penting, bahwa setiap napas warga Kaliploso mendapat kesempatan untuk terbaca, dipahami, dan dideteksi sejak dini. *** [261026] 

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Minggu, 25 Oktober 2026

Napas Kecil, Cerita Besar: Spirometri Kedelapan di Tamanagung

“I feel very strongly…that proper breathing is a master key to good health.” – Andrew Weil, MD

Di tengah kesibukan pagi Pendopo Desa Tamanagung, terdengar instruksi sederhana yang menyimpan makna besar: “Tarik napas, lalu tiup sekuat mungkin.” Di balik satu tiupan ke alat spirometer, kesehatan paru sejumlah warga mulai terbaca, sekaligus membuka peluang deteksi dini penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

Di balik gerakan yang tampak sepele itu, ada upaya serius membaca kesehatan paru, sebab, seperti kata Andrew Thomas Weil, seorang dokter dan penulis Amerika yang dikenal karena menganjurkan pengobatan integrative ini:

“Saya sangat yakin… bahwa pernapasan yang tepat merupakan kunci utama menuju kesehatan yang baik.”

Sabtu (24/10), pemeriksaan spirometri kedelapan digelar di Pendopo Desa Tamanagung, Jalan Sraten No. 07, Dusun Krajan, RT 02/RW 04, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RS NU) Banyuwangi, serta menjadi bagian dari rangkaian survei baseline NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC). Karena hari itu juga terdapat kegiatan spirometri lain di Desa Kaliploso, Field Facilitator NIHR UB mengatur kunjungan agar dapat hadir terlebih dahulu di Tamanagung.

Sejak pukul 07.30 WIB, tiga enumerator baseline survey - Fahmi Ahmad Fauzan, S.Sos.; Dysa Fitri Permatasari, S.Tr.Kes., M.Kes.; dan Nisaul Rofifah, S.Gz. - menyiapkan alur pemeriksaan bagi 16 responden hasil pre-screening. Mereka adalah warga yang terindikasi memiliki faktor risiko penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), kondisi yang sering berjalan diam-diam hingga napas mulai terasa berat.

Personel RS NU Banyuwangi berpose dengan enumerator baseline survey dan kader kesehatan Desa Tamanagung

Dari Undangan hingga Pendaftaran

Mobilisasi tidak dimulai pada hari-H. Dua kader kesehatan setempat, Binti Qori’ah dan Ninik Sutriani, telah membantu menyampaikan undangan sejak dua hari sebelumnya. Pada hari pelaksanaan, keduanya kembali bergerak mendampingi enumerator, memastikan warga yang diundang benar-benar mengetahui waktu, tempat, dan tujuan pemeriksaan.

Alur pelayanan berjalan melalui empat meja. Di Meja 1, kader Binti dan Ninik, serta enumerator Nisa menerima responden, melakukan registrasi, serta memverifikasi data. Setelah itu, warga dipersilakan duduk di bangku antrean. Sementara menunggu, Fauzan memberikan penjelasan mengenai teknik menyembul - cara meniup yang benar agar hasil pengukuran dapat dibaca dengan akurat.

Bagi sebagian warga, instruksi itu bukan sekadar teknis. Meniup ke alat spirometri menuntut konsentrasi, tenaga, dan keberanian menghadapi angka yang mungkin tidak selalu menyenangkan. Namun justru di situlah letak pentingnya, bahwa spirometri mengukur secara objektif jumlah udara maksimum yang dapat dihirup dan dikeluarkan paru-paru.

Meja 1: registrasi dan verifikasi data

Membaca Sinyal dari Paru

Di Meja 2 atau meja tanda-tanda vital, Perawat Dwi Warsa, S.Kep.Ns., menimbang berat badan, mengukur tekanan darah, dan melakukan oksimetri. Selanjutnya, Dewi Sumarsih melakukan anamnesis melalui aplikasi SMARThealth. Data-data sederhana itu kemudian menjadi bagian dari gambaran kesehatan yang lebih utuh.

Pemeriksaan inti berlangsung di Meja 3. Perawat Marni Erlina, S.Kep.Ns., memimpin manuver spirometri tahap pertama atau pre-semprotan salbutamol, dibantu Ratna Lauranita yang mengoperasikan alat MIR SpiroLab milik NIHR UB. Pemeriksaan yang memenuhi syarat harus dilakukan minimal tiga kali dengan hasil yang valid dan dapat direproduksi untuk menentukan forced vital capacity (FVC). Apabila belum memenuhi kriteria, tes dapat diulang hingga delapan kali.

Setelah tahap pertama, responden menerima semprotan salbutamol melalui mulut, lalu beristirahat selama 20 menit. Tahap kedua, atau post-semprotan salbutamol, dilakukan dengan cara yang sama. Perbandingan hasil sebelum dan sesudah obat pembuka saluran napas membantu menilai respons saluran pernapasan. Seluruh proses itu diawasi langsung oleh Ns. Elik Anistina, S.Kep., yang mendampingi NIHR UB di meja spirometri.

Responden yang telah menyelesaikan rangkaian tes kemudian menuju Meja 4. Di sana, Dysa memberikan konsumsi, vitamin, dan subsidi transportasi sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka. Pemeriksaan berakhir pada pukul 10.16 WIB.

Meja 2: TTV

Tujuh Bangku yang Kosong

Dalam pemeriksaan spirometri yang kedelapan ini dihadiri sebentar oleh Perawat Yofi Agung Prastyawan dari RS NU Banyuwangi. Pemeriksaan spirometri kedelapan ini berakhir pada pukul 10.16 WIB.

Dari 16 undangan, sembilan responden hadir. Tujuh lainnya tidak dapat ditemui, dengan alasan yang beragam dan mencerminkan realitas kehidupan di lapangan.

Ada perempuan berusia 58 tahun yang sejak September keluar kota ke rumah orangtuanya. Ada pula perempuan 40 tahun yang menolak diperiksa karena dilarang suaminya, serta perempuan 52 tahun dan laki-laki lansia 73 tahun yang tidak mendapat izin dari keluarga. Seorang laki-laki 41 tahun merasa sudah rutin kontrol setiap bulan, sementara laki-laki 49 tahun menjalani kontrol rutin di Malang. Laki-laki lansia 63 tahun tidak dapat hadir karena bertugas sebagai pengawas proyek dan hanya libur pada hari Minggu.

Ketidakhadiran itu bukan sekadar catatan administratif. Ia menunjukkan bahwa akses layanan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan alat atau tenaga medis, tetapi juga oleh izin keluarga, jadwal kerja, persepsi masyarakat, dan kebiasaan kontrol kesehatan. Dalam konteks PPOK, keterlambatan pemeriksaan dapat berarti keterlambatan pula dalam mengenali gangguan pernapasan sejak dini.

Koordinator kerja sama RS NU dalam NIHR-GHRC NCDS & EC hadir menyaksikan jalannya pemeriksaan spirometri di hari terakhir kerja sama

Ketika Hasil Belum Maksimal

Dari sembilan responden yang hadir, Ns. Elik menyampaikan bahwa terdapat dua laporan hasil yang kurang maksimal. Seorang lansia perempuan berusia 68 tahun memiliki riwayat asma dan rutin mengonsumsi obat. Responden lain, perempuan lansia 70 tahun, memiliki riwayat asma, tidak rutin minum obat, serta mengalami keterbatasan pendengaran.

Kedua kasus ini menegaskan pentingnya kepatuhan pengobatan dan komunikasi yang tepat dalam layanan kesehatan lansia. Hasil spirometri yang belum optimal bukan akhir dari segalanya, melainkan sinyal untuk evaluasi lanjutan, edukasi, dan tindak lanjut yang lebih personal.

Pemeriksaan spirometri kedelapan di Tamanagung mungkin berlangsung hanya dalam beberapa jam. Namun, ia meninggalkan pesan yang lebih panjang: napas adalah indikator kesehatan yang sering diabaikan, padahal menjadi pintu awal untuk mengenali risiko PPOK. 

Melalui deteksi dini, kolaborasi lintas lembaga, dan keterlibatan kader, harapan untuk menjaga paru warga Tamanagung terus berjalan - satu tiupan napas demi satu tiupan napas. *** [251026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Napas yang Diukur, Kehidupan yang Dijaga: Pemeriksaan Spirometri Ketujuh di Tamanagung

“You just took a breath. You're about to take another. Inhale, then exhale, then another inhale. In and out. There's a rhythm to your breathing. It's the same with nature.” -- Rob Bell, How to Be Here: A Guide to Creating a Life Worth Living

Pagi itu, udara di Pendopo Desa Tamanagung terasa sederhana. Ada deru sepeda motor di Jalan Sraten, aroma kopi dari termos warga, dan hembusan napas yang satu per satu diukur dengan cermat. Di balik rutinitas itu, sebuah upaya kesehatan berjalan tenang - mencari tahu apakah paru-paru warga masih bekerja sebagaimana mestinya.

Rob Bell, seorang penulis dan pembicara asal Amerika, pernah bilang dalam How to Be Here: A Guide to Creating a Life Worth Living (2016):

“Anda baru saja menarik napas. Anda akan menarik napas lagi. Tarik napas, lalu embuskan, kemudian tarik napas lagi. Masuk dan keluar. Ada irama dalam napas Anda. Begitu pula dengan alam.”

Kalimat itu terasa dekat di Desa Tamanagung, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, pada Jumat (23/10). Sebab, sepanjang pagi hingga siang, napas warga menjadi pusat perhatian dalam pemeriksaan spirometri yang ketujuh kalinya.

Suasana pemeriksaan spirometri ketujuh di Pendopo Desa Tamanagung, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi

Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara NIHR Universitas Brawijaya (NIHR UB) dan Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RS NU) Banyuwangi. Pemeriksaan dimulai pukul 08.00 WIB di Pendopo Desa Tamanagung, Jalan Sraten No. 07, Dusun Krajan RT 02 RW 04.

Sebanyak 25 warga hasil pre-screening diundang karena terindikasi memiliki faktor risiko penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Pada akhirnya, 20 orang hadir, sementara lima lainnya tidak dapat memenuhi undangan karena berbagai alasan.

Kehadiran warga tidak muncul begitu saja. Tiga kader kesehatan setempat - Binti Qori’ah, Ninik Suriani, dan Ratna Mujayanah - menjadi penghubung penting. Dua hari sebelum pelaksanaan, mereka menyalurkan undangan dari rumah ke rumah. Pada hari-H, mereka kembali membantu memastikan warga datang dan proses berjalan tertib.

Kegiatan ini juga merupakan kelanjutan perjalanan panjang tim lapangan. Pagi yang sama, Field Facilitator NIHR UB baru saja pulang dari mendampingi tiga enumerator baseline survey NIHR-GHRC NCDs & EC di Desa Sarimulyo. Setelah berpamitan dengan Kepala Desa dan perangkat desa, Field Facilitator NIHR UB langsung melanjutkan langkah ke Tamanagung. Di tengah kesibukan itu, pemeriksaan tetap berjalan dengan ritme yang terlatih.

Tiga enumerator - Fahmi Ahmad Fauzan, S.Sos.; Dysa Fitri Permatasari, S.Tr.Kes., M.Kes.; dan Nisaul Rofifah, S.Gz. - mengelola alur pelayanan. Mereka tidak bekerja sendiri. Ada perawat, tenaga kesehatan, dan kader desa yang saling mengisi posisi, menciptakan alur layanan yang rapi namun tetap ramah.

Meja 1: registrasi dan verifikasi data

Alur pemeriksaan dibagi dalam empat meja. Warga pertama kali disambut di meja pendaftaran. Di sana, Nisaul Rofifah, yang akrab disapa Nisa, melakukan registrasi dan verifikasi data responden, dibantu tiga kader kesehatan. Setelah datanya lengkap, warga duduk di bangku antrean yang telah disiapkan.

Sambil menunggu, Fauzan memberikan penjelasan mengenai teknik menyembul. Penjelasan sederhana ini penting. Dalam spirometri, cara menarik dan mengembuskan napas sangat menentukan kualitas hasil. Warga diajak memahami bahwa mereka tidak sekadar “tiup alat,” melainkan melakukan manuver napas yang terukur.

Panggilan pertama datang dari meja dua, meja tanda-tanda vital (TTV). Dwi Rulyantin menimbang berat badan, mengukur tekanan darah, dan melakukan oksimetri. Selanjutnya, Elliana Khoirun melakukan anamnesis menggunakan aplikasi SMARThealth. Data-data awal itu menjadi fondasi sebelum warga memasuki tahap pemeriksaan paru.

Kemudian, tiba giliran meja tiga yang menjadi jantung kegiatan hari itu. Di meja spirometri, Lavinia Agustin memandu responden melakukan manuver tes tahap pertama atau pre-semprotan salbutamol. Siti Nur Indah membantu mengoperasikan alat spirometri MIR SpiroLab milik NIHR UB. Seluruh proses diawasi langsung oleh Ns. Elik Anistina, S.Kep., yang mendampingi NIHR UB dalam pengawasan teknis.

Spirometri sendiri adalah pemeriksaan fungsional paru-paru yang mengukur jumlah maksimum udara yang dapat dihirup dan diembuskan seseorang. Pemeriksaan yang memenuhi syarat umumnya dilakukan minimal tiga kali dengan hasil yang valid dan dapat direproduksi untuk menentukan forced vital capacity (FVC). 

Meja 2: TTV

Bila hasilnya belum konsisten, pemeriksaan dapat diulang hingga delapan kali. Dalam praktiknya, pengukuran sebelum dan sesudah bronkodilator seperti salbutamol juga digunakan untuk menilai respons saluran napas terhadap obat.

Setelah tes pertama selesai, responden menerima semprotan salbutamol. Mereka kemudian dipersilakan istirahat selama 20 menit. Waktu tunggu itu bukan sekadar jeda. Ia menjadi ruang kecil untuk bernapas lebih tenang, berbincang dengan sesama warga, atau sekadar menunggu tubuh merespons obat yang baru masuk.

Setelah waktu istirahat berlalu, responden kembali ke meja spirometri untuk tes tahap kedua atau post-semprotan salbutamol. Caranya sama dengan tahap pertama, namun hasilnya kini dapat dibandingkan dengan kondisi sebelum penyembulan. Perbandingan inilah yang membantu tim memahami kondisi fungsi paru responden secara lebih menyeluruh.

Ketika seluruh rangkaian selesai, warga menuju meja keempat, sebuah meja apresiasi partisipasi. Di sana, Dysa memberikan konsumsi, vitamin, dan subsidi transportasi. Bentuk apresiasi sederhana, tetapi maknanya besar. Warga tidak hanya datang sebagai subjek pemeriksaan; mereka juga dihargai sebagai mitra dalam upaya menjaga kesehatan masyarakat.

Dalam pemeriksaan spirometri yang ketujuh ini juga dihadiri oleh Rahmanurraudhotul Amin, SKM yang ditunjuk Theme 1: Primary Healthcare Strengthening untuk melakukan observasi prosesi dengan checklist.

Meja 3: Tes Spirometri

Kegiatan berakhir pukul 12.32 WIB. Dari 25 undangan, 20 warga hadir. Lima lainnya tidak dapat datang di mana satu orang sudah rutin kontrol di rumah sakit, satu tidak diperbolehkan keluarganya, dua sedang bekerja dari pagi hingga malam, satu tidak bisa hadir karena bertepatan dengan hari kerja, dan satu lagi meminta penjadwalan ulang pada esok hari.

Angka kehadiran itu mungkin tampak biasa. Namun di baliknya ada cerita tentang akses, keterbatasan waktu, dan kesadaran kesehatan. Ada warga yang harus memilih bekerja demi nafkah; ada pula yang beralasan sudah kontrol rutin. Pemeriksaan spirometri berusaha hadir lebih dekat kepada mereka, membawa layanan hingga ke pendopo desa.

Di Tamanagung, napas diukur bukan hanya dengan angka. Ia diukur dengan kehadiran, kesabaran, dan kerja sama. Setiap hembusan yang terekam dalam alat spirometri adalah pengingat bahwa kesehatan sering kali dimulai dari hal paling dasar: menarik napas, mengembuskannya, lalu menarik napas lagi - dengan harapan irama itu tetap terjaga untuk waktu yang lebih lama. *** [251026] 

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Sabtu, 24 Oktober 2026

Balada Enumerator di Pendopo Sarimulyo: Pamitan yang Menyemai Harapan

 “Idza dakhalta fa ahsin al-wudda, wa idza kharajta fa ahsin al-wada'a.” – Maqulah (Kata Bijak) Arab

Setiap perjumpaan menyimpan benih kenangan, setiap perpisahan menyisakan jejak, dan setiap perjalanan mengajarkan bahwa tidak semua yang pergi benar-benar berakhir.

Ada yang datang membawa pertanyaan, menyusuri rumah demi rumah, mengetuk pintu warga, dan mencatat denyut kehidupan dalam lembar-lembar kuesioner dalam aplikasi. Ada pula yang pulang dengan sesuatu yang tak tercantum dalam formulir survey, seperti pengalaman, persahabatan, dan kenangan tentang manusia-manusia yang ditemui di sepanjang perjalanan. 

Begitulah kisah tiga enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) ketika berpamitan dari Desa Sarimulyo, Banyuwangi, pada Jumat (23/10) pagi.

Sehari sebelumnya, mereka masih bertualang di hamparan laut yang menyimpan pesona surga tersembunyi di selatan Banyuwangi. Namun, pagi itu, suasana berganti. Di Pendopo Desa Sarimulyo, yang berada di Jalan Pahlawan Abdul Mukti No. 10, Dusun Cempokosari, sebuah perjumpaan sederhana menjadi penanda berakhirnya satu babak perjalanan lapangan.

Kiki Antikawati Rustandi, S.Kep., Istifani Shafira, SKM, dan Triana Rahmah, S.AB, didampingi Field Facilitator NIHR UB, datang untuk menyampaikan pamit kepada Kepala Desa Sarimulyo, Budi Susilo, S.T., beserta jajaran perangkat desa. Bukan sekadar kunjungan penutup, pertemuan itu menjadi ruang untuk merawat hubungan yang tumbuh selama penelitian berlangsung.

Enumerator baseline survey Desa Sarimulyo berpose dengan Kades dan jajaran Pemdes Sarimulyo dalam acara pamitan

Dari Pendataan Menuju Persaudaraan

Bagi Kepala Desa Budi Susilo, kehadiran tim penelitian NIHR UB bukanlah hal yang sepenuhnya baru. Dalam ingatannya, sudah ada tiga gelombang kunjungan enumerator ke desanya, yakni saat household listing, pre-screening, hingga baseline survey. Rentang kegiatan tersebut menjadi saksi bagaimana sebuah penelitian bertumbuh melalui keterlibatan masyarakat dan dukungan pemerintah desa.

Kades Budi menyampaikan apresiasi atas kerja para enumerator. Ia juga mengungkapkan permohonan maaf apabila selama berinteraksi terdapat hal-hal yang kurang berkenan. Sebuah sikap bersahaja yang mengingatkan bahwa hubungan baik tidak dibangun oleh kesempurnaan, melainkan oleh kesediaan untuk saling menghargai.

Tak berhenti di situ, ia menitipkan harapan melalui Field Facilitator NIHR UB agar mahasiswa Universitas Brawijaya yang menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) berkenan ditempatkan di Sarimulyo. Baginya, kehadiran mahasiswa berpotensi menjadi energi baru untuk membantu menggali dan mengembangkan potensi desa.

Harapan itu seperti jembatan yang sengaja dibiarkan terbentang. Sebab, ketika sebuah kegiatan berakhir, manfaatnya semestinya tidak ikut berhenti.

Suasana acara pamitan baseline survey di Pendopo Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi

Berpisah, tetapi Belum Usai

Menanggapi sambutan kepala desa, Field Facilitator NIHR UB menjelaskan bahwa penelitian ini sejatinya belum mencapai garis akhir. Baseline survey hanyalah satu tahap dalam perjalanan yang lebih panjang. Setelah jeda, tim akan kembali pada tahun berikutnya untuk melaksanakan endline survey.

“Pamitan ini adalah perpisahan sementara saja,” jelasnya.

Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan makna. Tidak semua perpisahan berarti kehilangan; sebagian hanyalah jeda yang memberi ruang bagi waktu untuk bekerja. Ada jarak yang perlu ditempuh sebelum perjumpaan berikutnya menjadi mungkin.

Karena itu, pamitan kali ini bukanlah penutupan seluruh kisah penelitian, melainkan penanda berakhirnya jadwal baseline survey di Desa Sarimulyo. Tim pun memohon izin untuk kembali pada masa mendatang, membawa kelanjutan dari ikhtiar ilmiah yang telah dimulai bersama masyarakat.

Sekapur sirih enumerator yang membawa pesan sehat

Dari Spirometri hingga Asap Pembakaran Sampah

Suasana kemudian dihangatkan oleh Kiki Antikawati Rustandi yang mewakili suara para enumerator. Dalam sambutannya, ia menyampaikan terima kasih atas peran kepala desa dan kamituwo yang telah membantu kelancaran penelitian, termasuk pelaksanaan pemeriksaan spirometri selama baseline survey.

Kiki juga menyinggung penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), persoalan kesehatan yang tidak dapat dilepaskan dari sejumlah kebiasaan sehari-hari. Salah satunya ialah perilaku membakar sampah yang berpotensi menurunkan kualitas udara dan mengganggu kesehatan pernapasan.

Dengan gaya tutur yang akrab, ia turut mengingatkan para bapak yang merokok agar tidak melakukannya di dalam rumah. Sebab, asap rokok bukan hanya urusan orang yang mengisapnya, melainkan juga dapat terhirup oleh anggota keluarga lain yang berbagi ruang dengannya.

Pesan itu disambut tawa kamituwo. Teguran kesehatan yang disampaikan tanpa menggurui justru menemukan jalannya melalui keakraban. Di sana, penelitian tidak hanya tampil sebagai kegiatan mengumpulkan data, tetapi juga sebagai kesempatan berbagi pengetahuan dan menumbuhkan kesadaran.

Bingkisan kenang-kenangan dari enumerator yang diterima secara simbolik oleh Kades Sarimulyo, dan disaksikan oleh Field Facilitator NIHR UB

Ahsin al-Wada'a: Seni Meninggalkan Jejak Baik

Acara berlanjut dengan penyerahan bingkisan kepada perangkat desa yang selama ini mendukung kegiatan enumerator. Foto bersama pun diabadikan, disusul jabat tangan dan salam perpisahan. Satu per satu, rangkaian pamitan dituntaskan dengan kesahajaan.

Dalam khazanah hikmah Arab, terdapat ungkapan:

“Idza dakhalta fa ahsin al-wudda, wa idza kharajta fa ahsin al-wada'a.”

Artinya, “Jika engkau datang, tunjukkanlah keramahan yang baik; dan jika engkau pergi, berpamitanlah dengan cara yang baik pula.”

Ungkapan ini menegaskan etika sederhana dalam hubungan antarmanusia, bahwa kehadiran hendaknya membawa kebaikan, sedangkan kepergian semestinya meninggalkan kesan yang baik. Sebab, cara seseorang datang dan cara ia berpamitan sama-sama mencerminkan penghargaan terhadap orang lain.

Bagi para enumerator, meninggalkan lapangan bukan semata-mata menandai selesainya pekerjaan. Ia adalah bagian dari ritus peralihan, yaitu keluar dari rutinitas pendataan, membawa pulang pengalaman, sekaligus menyisakan ruang bagi hubungan yang mungkin berlanjut. Aplikasi boleh ditutup, tetapi cerita manusia di baliknya tak pernah sesederhana angka.

Itulah balada enumerator. Di balik setiap rumah tangga yang dikunjungi, ada kehidupan yang dipelajari. Di balik setiap jawaban yang dicatat, ada kepercayaan yang dititipkan. Dan di balik setiap langkah meninggalkan desa, ada persahabatan yang diam-diam tumbuh.

Hari itu, tiga enumerator berpamitan dari Sarimulyo. Mereka datang sebagai bagian dari tim penelitian, bekerja bersama masyarakat, lalu pergi dengan kenangan yang tak seluruhnya dapat dibawa dalam laporan. Tugas baseline survey telah usai, tetapi perjalanan penelitian masih menunggu kelanjutannya.

Kelak, ketika mereka kembali untuk endline survey, mungkin jalanan desa masih sama, pendopo itu masih berdiri, dan wajah-wajah yang menyambut mereka terasa akrab. Waktu mungkin mengubah banyak hal, tetapi ingatan tentang perjumpaan yang tulus akan selalu menemukan jalan pulang.

Sebab, pada akhirnya, penelitian yang baik bukan hanya tentang data yang berhasil dihimpun, melainkan juga tentang hubungan manusia yang berhasil dirawat. Dan pamitan yang baik bukanlah cara untuk menghapus kebersamaan, melainkan cara untuk menghormatinya - hingga perjumpaan berikutnya tiba. *** [241026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Jumat, 23 Oktober 2026

Mengulang Napas, Memastikan Ketepatan: Pemeriksaan Spirometri Kelima di Desa Sarimulyo

“The quality of our breath expresses our inner feelings.” -- TKV Desikachar

Di balik setiap embusan napas, ada cerita tentang kesehatan yang perlu dibaca dengan cermat. Ketika hasil pemeriksaan belum mampu memberikan gambaran fungsi paru yang akurat, mengulang tes bukanlah langkah mundur, melainkan bagian penting dari upaya memastikan ketepatan diagnosis.

Rabu (21/10) jarum jam menunjukkan pukul 08.15 WIB ketika kegiatan pemeriksaan ulang spirometri kelima berlangsung di rumah Kepala Desa Sarimulyo, Budi Susilo, S.T., di Dusun Sempu RT 02 RW 03, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi. Di tempat ini, tim kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi kembali mengundang responden untuk menjalani pemeriksaan fungsi paru secara cermat dan terukur.

Dua enumerator baseline survey NIHR-GHRC NCDs & EC Desa Sarimulyo, Kiki Antikawati Rustandi, S.Kep., dan Triana Rahmah, S.AB., mengoordinasikan pemeriksaan ulang spirometri kelima ini. Sebanyak 24 responden telah diundang melalui pemberitahuan yang disebarkan beberapa hari sebelumnya. Dua kader kesehatan setempat, Ruruh Aristin dan Tri Nur Umala, turut membantu memobilisasi warga, termasuk mengantar jemput mereka yang membutuhkan bantuan transportasi.

Bagi sebagian orang, mengulang pemeriksaan mungkin terdengar seperti pekerjaan yang sama untuk kedua kalinya. Namun, dalam pemeriksaan fungsi paru, pengulangan justru memiliki arti penting.

Personel RS Yasmin Banyuwangi berpose dengan enumerator baseline survey dan kader kesehatan di Pendopo Rumah Kades Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi

Ketika Hasil Belum Bisa Dibaca

Spirometri merupakan pemeriksaan untuk mengukur seberapa banyak udara yang dapat diembuskan seseorang dan seberapa cepat udara tersebut keluar dari paru-paru. Pemeriksaan ini menjadi salah satu instrumen penting dalam penilaian gangguan pernapasan, termasuk penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Dalam rangkaian survei kesehatan di Desa Sarimulyo, pemeriksaan spirometri telah dilaksanakan beberapa kali sejak Juli 2026. Sebanyak 151 responden menjadi sasaran pemeriksaan berdasarkan hasil pre-screening yang menunjukkan indikasi faktor risiko PPOK. Akan tetapi, tidak semua hasil pemeriksaan sebelumnya dapat dibaca atau memenuhi kriteria kualitas yang diperlukan.

Di sinilah pemeriksaan ulang mengambil peran. Hasil yang tidak terbaca (unreadable) tidak semestinya dipaksakan untuk ditafsirkan. Kurva yang tidak memenuhi standar, hasil yang tidak konsisten, atau kendala teknis lainnya dapat membuat pengukuran belum mampu menggambarkan kondisi paru secara andal. Mengulang tes menjadi langkah untuk memperoleh data yang lebih layak digunakan.

Kualitas spirometri tidak hanya bergantung pada kecanggihan alat. Keterampilan perawat, ketepatan peralatan, dan usaha maksimal peserta saat melakukan manuver pernapasan harus berjalan beriringan. Karena itu, arahan yang jelas dan teknik embusan napas yang benar menjadi bagian penting dari setiap pemeriksaan.

Seperti ungkapan Tirumalai Krishnamacharya Venkata. Desikachar (1938-2016), seorang guru yoga, putra pelopor yoga modern sebagai latihan, Tirumalai Krishnamacharya:

“Kualitas napas kita mencerminkan perasaan batin kita.” 

Dalam konteks pemeriksaan kesehatan, napas juga menjadi sesuatu yang perlu dipahami melalui pengukuran yang tepat, bukan sekadar diamati dari luar.

Tes spirometri

Dari Meja Pendaftaran hingga Embusan Terakhir

Alur pemeriksaan pagi itu mengikuti tahapan yang telah diterapkan pada pemeriksaan sebelumnya. Setiap responden terlebih dahulu melakukan registrasi dan verifikasi data di meja pendaftaran, dengan pelayanan Kiki dan kader kesehatan.

Berikutnya, responden menuju meja pemeriksaan tanda-tanda vital (TTV). Perawat Tria Firnasari, A.Md.Kep., mengukur tekanan darah dan saturasi oksigen menggunakan oksimeter. Di sisi yang sama, dr. Nimas Eka Firdaningrum melakukan anamnesis melalui lembar data elektronik serta pemeriksaan fisik menggunakan stetoskop.

Sambil menunggu giliran, responden memperoleh penjelasan mengenai teknik melakukan manuver spirometri. Persiapan ini penting agar mereka memahami cara mengembuskan napas sesuai instruksi petugas.

Ketika namanya dipanggil, responden beranjak ke meja spirometri. Perawat Imelda Arofah, S.Kep., memandu pelaksanaan manuver dengan bantuan Ns. Rizki Indrawangi, S.Kep., yang mengoperasikan laptop terhubung ke alat spirometri. Proses tersebut berada di bawah pengawasan Ns. Elik Anistina, S.Kep., yang membantu NIHR UB mengawal pelaksanaan pemeriksaan.

Tahap pertama dilakukan sebelum nebulisasi (pre-nebulisasi). Setelah itu, responden berpindah ke meja di sebelah selatan untuk menjalani nebulisasi bersama Ns. Renny Krismila, S.Kep. Melalui alat nebulizer, obat cair diubah menjadi kabut halus yang dihirup agar mencapai saluran pernapasan.

Usai nebulisasi, responden beristirahat sejenak sebelum kembali menjalani spirometri tahap kedua (post-nebulisasi). Prosedurnya serupa dengan tahap pertama, tetapi dilakukan setelah pemberian terapi inhalasi. Kedua hasil pemeriksaan tersebut dapat membantu tenaga kesehatan menilai fungsi paru dan respons terhadap bronkodilator sesuai indikasi klinis.

Setelah seluruh rangkaian selesai, responden kembali ke meja pendaftaran. Kader membagikan konsumsi, hadiah (gift), dan subsidi transportasi sebagai bentuk dukungan terhadap partisipasi warga.

Nebulisasi

Di Balik Angka, Ada Kehidupan

Dari 24 orang yang diundang, 11 responden berhasil menjalani pemeriksaan pada hari itu. Sementara itu, 13 lainnya belum dapat diperiksa karena berbagai keadaan. Dua orang baru pulang setelah menjalani rawat inap, seorang mendampingi istrinya menjalani kemoterapi di Malang, dan seorang lainnya sedang mengunjungi anaknya di Surabaya. Ada pula responden yang tidak dapat meninggalkan pekerjaannya, termasuk seorang guru dan seorang pekerja rumah sakit. 

Kondisi kesehatan dan perubahan kehidupan turut memengaruhi kehadiran. Seorang responden yang menjalani pengobatan tuberkulosis tidak diikutsertakan, sedangkan seorang lainnya telah pindah ke Bali untuk tinggal bersama anaknya setelah mengalami komplikasi diabetes hingga menjalani amputasi. Lima responden lainnya telah meninggal dunia.

Catatan tersebut mengingatkan bahwa di balik daftar nama dan target pemeriksaan, terdapat manusia dengan kondisi kesehatan, tanggung jawab, serta perjalanan hidup masing-masing.

Pemeriksaan ulang spirometri kelima di Desa Sarimulyo bukan sekadar upaya melengkapi data survey kesehatan. Kegiatan ini menunjukkan pentingnya ketelitian, kesabaran, dan kolaborasi antara tenaga kesehatan, enumerator, kader, serta masyarakat. Setiap hasil yang dapat dipertanggungjawabkan menjadi bagian dari upaya memahami kesehatan paru warga dengan lebih baik.

Sebab, dalam penelitian kesehatan, angka yang akurat bukan hanya persoalan memenuhi standar. Angka tersebut merupakan pijakan untuk membaca kondisi kesehatan secara lebih bertanggung jawab - satu tarikan napas, satu embusan, dan satu pemeriksaan pada satu waktu. *** [231026] 

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Risk Checker

Risk Checker

Statistik Blog

Sahabat eKader

Label

Arsip Blog