Sabtu, 24 Oktober 2026

Balada Enumerator di Pendopo Sarimulyo: Pamitan yang Menyemai Harapan

 “Idza dakhalta fa ahsin al-wudda, wa idza kharajta fa ahsin al-wada'a.” – Maqulah (Kata Bijak) Arab

Setiap perjumpaan menyimpan benih kenangan, setiap perpisahan menyisakan jejak, dan setiap perjalanan mengajarkan bahwa tidak semua yang pergi benar-benar berakhir.

Ada yang datang membawa pertanyaan, menyusuri rumah demi rumah, mengetuk pintu warga, dan mencatat denyut kehidupan dalam lembar-lembar kuesioner dalam aplikasi. Ada pula yang pulang dengan sesuatu yang tak tercantum dalam formulir survey, seperti pengalaman, persahabatan, dan kenangan tentang manusia-manusia yang ditemui di sepanjang perjalanan. 

Begitulah kisah tiga enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) ketika berpamitan dari Desa Sarimulyo, Banyuwangi, pada Jumat (23/10) pagi.

Sehari sebelumnya, mereka masih bertualang di hamparan laut yang menyimpan pesona surga tersembunyi di selatan Banyuwangi. Namun, pagi itu, suasana berganti. Di Pendopo Desa Sarimulyo, yang berada di Jalan Pahlawan Abdul Mukti No. 10, Dusun Cempokosari, sebuah perjumpaan sederhana menjadi penanda berakhirnya satu babak perjalanan lapangan.

Kiki Antikawati Rustandi, S.Kep., Istifani Shafira, SKM, dan Triana Rahmah, S.AB, didampingi Field Facilitator NIHR UB, datang untuk menyampaikan pamit kepada Kepala Desa Sarimulyo, Budi Susilo, S.T., beserta jajaran perangkat desa. Bukan sekadar kunjungan penutup, pertemuan itu menjadi ruang untuk merawat hubungan yang tumbuh selama penelitian berlangsung.

Enumerator baseline survey Desa Sarimulyo berpose dengan Kades dan jajaran Pemdes Sarimulyo dalam acara pamitan

Dari Pendataan Menuju Persaudaraan

Bagi Kepala Desa Budi Susilo, kehadiran tim penelitian NIHR UB bukanlah hal yang sepenuhnya baru. Dalam ingatannya, sudah ada tiga gelombang kunjungan enumerator ke desanya, yakni saat household listing, pre-screening, hingga baseline survey. Rentang kegiatan tersebut menjadi saksi bagaimana sebuah penelitian bertumbuh melalui keterlibatan masyarakat dan dukungan pemerintah desa.

Kades Budi menyampaikan apresiasi atas kerja para enumerator. Ia juga mengungkapkan permohonan maaf apabila selama berinteraksi terdapat hal-hal yang kurang berkenan. Sebuah sikap bersahaja yang mengingatkan bahwa hubungan baik tidak dibangun oleh kesempurnaan, melainkan oleh kesediaan untuk saling menghargai.

Tak berhenti di situ, ia menitipkan harapan melalui Field Facilitator NIHR UB agar mahasiswa Universitas Brawijaya yang menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) berkenan ditempatkan di Sarimulyo. Baginya, kehadiran mahasiswa berpotensi menjadi energi baru untuk membantu menggali dan mengembangkan potensi desa.

Harapan itu seperti jembatan yang sengaja dibiarkan terbentang. Sebab, ketika sebuah kegiatan berakhir, manfaatnya semestinya tidak ikut berhenti.

Suasana acara pamitan baseline survey di Pendopo Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi

Berpisah, tetapi Belum Usai

Menanggapi sambutan kepala desa, Field Facilitator NIHR UB menjelaskan bahwa penelitian ini sejatinya belum mencapai garis akhir. Baseline survey hanyalah satu tahap dalam perjalanan yang lebih panjang. Setelah jeda, tim akan kembali pada tahun berikutnya untuk melaksanakan endline survey.

“Pamitan ini adalah perpisahan sementara saja,” jelasnya.

Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan makna. Tidak semua perpisahan berarti kehilangan; sebagian hanyalah jeda yang memberi ruang bagi waktu untuk bekerja. Ada jarak yang perlu ditempuh sebelum perjumpaan berikutnya menjadi mungkin.

Karena itu, pamitan kali ini bukanlah penutupan seluruh kisah penelitian, melainkan penanda berakhirnya jadwal baseline survey di Desa Sarimulyo. Tim pun memohon izin untuk kembali pada masa mendatang, membawa kelanjutan dari ikhtiar ilmiah yang telah dimulai bersama masyarakat.

Sekapur sirih enumerator yang membawa pesan sehat

Dari Spirometri hingga Asap Pembakaran Sampah

Suasana kemudian dihangatkan oleh Kiki Antikawati Rustandi yang mewakili suara para enumerator. Dalam sambutannya, ia menyampaikan terima kasih atas peran kepala desa dan kamituwo yang telah membantu kelancaran penelitian, termasuk pelaksanaan pemeriksaan spirometri selama baseline survey.

Kiki juga menyinggung penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), persoalan kesehatan yang tidak dapat dilepaskan dari sejumlah kebiasaan sehari-hari. Salah satunya ialah perilaku membakar sampah yang berpotensi menurunkan kualitas udara dan mengganggu kesehatan pernapasan.

Dengan gaya tutur yang akrab, ia turut mengingatkan para bapak yang merokok agar tidak melakukannya di dalam rumah. Sebab, asap rokok bukan hanya urusan orang yang mengisapnya, melainkan juga dapat terhirup oleh anggota keluarga lain yang berbagi ruang dengannya.

Pesan itu disambut tawa kamituwo. Teguran kesehatan yang disampaikan tanpa menggurui justru menemukan jalannya melalui keakraban. Di sana, penelitian tidak hanya tampil sebagai kegiatan mengumpulkan data, tetapi juga sebagai kesempatan berbagi pengetahuan dan menumbuhkan kesadaran.

Bingkisan kenang-kenangan dari enumerator yang diterima secara simbolik oleh Kades Sarimulyo, dan disaksikan oleh Field Facilitator NIHR UB

Ahsin al-Wada'a: Seni Meninggalkan Jejak Baik

Acara berlanjut dengan penyerahan bingkisan kepada perangkat desa yang selama ini mendukung kegiatan enumerator. Foto bersama pun diabadikan, disusul jabat tangan dan salam perpisahan. Satu per satu, rangkaian pamitan dituntaskan dengan kesahajaan.

Dalam khazanah hikmah Arab, terdapat ungkapan:

“Idza dakhalta fa ahsin al-wudda, wa idza kharajta fa ahsin al-wada'a.”

Artinya, “Jika engkau datang, tunjukkanlah keramahan yang baik; dan jika engkau pergi, berpamitanlah dengan cara yang baik pula.”

Ungkapan ini menegaskan etika sederhana dalam hubungan antarmanusia, bahwa kehadiran hendaknya membawa kebaikan, sedangkan kepergian semestinya meninggalkan kesan yang baik. Sebab, cara seseorang datang dan cara ia berpamitan sama-sama mencerminkan penghargaan terhadap orang lain.

Bagi para enumerator, meninggalkan lapangan bukan semata-mata menandai selesainya pekerjaan. Ia adalah bagian dari ritus peralihan, yaitu keluar dari rutinitas pendataan, membawa pulang pengalaman, sekaligus menyisakan ruang bagi hubungan yang mungkin berlanjut. Aplikasi boleh ditutup, tetapi cerita manusia di baliknya tak pernah sesederhana angka.

Itulah balada enumerator. Di balik setiap rumah tangga yang dikunjungi, ada kehidupan yang dipelajari. Di balik setiap jawaban yang dicatat, ada kepercayaan yang dititipkan. Dan di balik setiap langkah meninggalkan desa, ada persahabatan yang diam-diam tumbuh.

Hari itu, tiga enumerator berpamitan dari Sarimulyo. Mereka datang sebagai bagian dari tim penelitian, bekerja bersama masyarakat, lalu pergi dengan kenangan yang tak seluruhnya dapat dibawa dalam laporan. Tugas baseline survey telah usai, tetapi perjalanan penelitian masih menunggu kelanjutannya.

Kelak, ketika mereka kembali untuk endline survey, mungkin jalanan desa masih sama, pendopo itu masih berdiri, dan wajah-wajah yang menyambut mereka terasa akrab. Waktu mungkin mengubah banyak hal, tetapi ingatan tentang perjumpaan yang tulus akan selalu menemukan jalan pulang.

Sebab, pada akhirnya, penelitian yang baik bukan hanya tentang data yang berhasil dihimpun, melainkan juga tentang hubungan manusia yang berhasil dirawat. Dan pamitan yang baik bukanlah cara untuk menghapus kebersamaan, melainkan cara untuk menghormatinya - hingga perjumpaan berikutnya tiba. *** [241026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Jumat, 23 Oktober 2026

Mengulang Napas, Memastikan Ketepatan: Pemeriksaan Spirometri Kelima di Desa Sarimulyo

“The quality of our breath expresses our inner feelings.” -- TKV Desikachar

Di balik setiap embusan napas, ada cerita tentang kesehatan yang perlu dibaca dengan cermat. Ketika hasil pemeriksaan belum mampu memberikan gambaran fungsi paru yang akurat, mengulang tes bukanlah langkah mundur, melainkan bagian penting dari upaya memastikan ketepatan diagnosis.

Rabu (21/10) jarum jam menunjukkan pukul 08.15 WIB ketika kegiatan pemeriksaan ulang spirometri kelima berlangsung di rumah Kepala Desa Sarimulyo, Budi Susilo, S.T., di Dusun Sempu RT 02 RW 03, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi. Di tempat ini, tim kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi kembali mengundang responden untuk menjalani pemeriksaan fungsi paru secara cermat dan terukur.

Dua enumerator baseline survey NIHR-GHRC NCDs & EC Desa Sarimulyo, Kiki Antikawati Rustandi, S.Kep., dan Triana Rahmah, S.AB., mengoordinasikan pemeriksaan ulang spirometri kelima ini. Sebanyak 24 responden telah diundang melalui pemberitahuan yang disebarkan beberapa hari sebelumnya. Dua kader kesehatan setempat, Ruruh Aristin dan Tri Nur Umala, turut membantu memobilisasi warga, termasuk mengantar jemput mereka yang membutuhkan bantuan transportasi.

Bagi sebagian orang, mengulang pemeriksaan mungkin terdengar seperti pekerjaan yang sama untuk kedua kalinya. Namun, dalam pemeriksaan fungsi paru, pengulangan justru memiliki arti penting.

Personel RS Yasmin Banyuwangi berpose dengan enumerator baseline survey dan kader kesehatan di Pendopo Rumah Kades Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi

Ketika Hasil Belum Bisa Dibaca

Spirometri merupakan pemeriksaan untuk mengukur seberapa banyak udara yang dapat diembuskan seseorang dan seberapa cepat udara tersebut keluar dari paru-paru. Pemeriksaan ini menjadi salah satu instrumen penting dalam penilaian gangguan pernapasan, termasuk penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Dalam rangkaian survei kesehatan di Desa Sarimulyo, pemeriksaan spirometri telah dilaksanakan beberapa kali sejak Juli 2026. Sebanyak 151 responden menjadi sasaran pemeriksaan berdasarkan hasil pre-screening yang menunjukkan indikasi faktor risiko PPOK. Akan tetapi, tidak semua hasil pemeriksaan sebelumnya dapat dibaca atau memenuhi kriteria kualitas yang diperlukan.

Di sinilah pemeriksaan ulang mengambil peran. Hasil yang tidak terbaca (unreadable) tidak semestinya dipaksakan untuk ditafsirkan. Kurva yang tidak memenuhi standar, hasil yang tidak konsisten, atau kendala teknis lainnya dapat membuat pengukuran belum mampu menggambarkan kondisi paru secara andal. Mengulang tes menjadi langkah untuk memperoleh data yang lebih layak digunakan.

Kualitas spirometri tidak hanya bergantung pada kecanggihan alat. Keterampilan perawat, ketepatan peralatan, dan usaha maksimal peserta saat melakukan manuver pernapasan harus berjalan beriringan. Karena itu, arahan yang jelas dan teknik embusan napas yang benar menjadi bagian penting dari setiap pemeriksaan.

Seperti ungkapan Tirumalai Krishnamacharya Venkata. Desikachar (1938-2016), seorang guru yoga, putra pelopor yoga modern sebagai latihan, Tirumalai Krishnamacharya:

“Kualitas napas kita mencerminkan perasaan batin kita.” 

Dalam konteks pemeriksaan kesehatan, napas juga menjadi sesuatu yang perlu dipahami melalui pengukuran yang tepat, bukan sekadar diamati dari luar.

Tes spirometri

Dari Meja Pendaftaran hingga Embusan Terakhir

Alur pemeriksaan pagi itu mengikuti tahapan yang telah diterapkan pada pemeriksaan sebelumnya. Setiap responden terlebih dahulu melakukan registrasi dan verifikasi data di meja pendaftaran, dengan pelayanan Kiki dan kader kesehatan.

Berikutnya, responden menuju meja pemeriksaan tanda-tanda vital (TTV). Perawat Tria Firnasari, A.Md.Kep., mengukur tekanan darah dan saturasi oksigen menggunakan oksimeter. Di sisi yang sama, dr. Nimas Eka Firdaningrum melakukan anamnesis melalui lembar data elektronik serta pemeriksaan fisik menggunakan stetoskop.

Sambil menunggu giliran, responden memperoleh penjelasan mengenai teknik melakukan manuver spirometri. Persiapan ini penting agar mereka memahami cara mengembuskan napas sesuai instruksi petugas.

Ketika namanya dipanggil, responden beranjak ke meja spirometri. Perawat Imelda Arofah, S.Kep., memandu pelaksanaan manuver dengan bantuan Ns. Rizki Indrawangi, S.Kep., yang mengoperasikan laptop terhubung ke alat spirometri. Proses tersebut berada di bawah pengawasan Ns. Elik Anistina, S.Kep., yang membantu NIHR UB mengawal pelaksanaan pemeriksaan.

Tahap pertama dilakukan sebelum nebulisasi (pre-nebulisasi). Setelah itu, responden berpindah ke meja di sebelah selatan untuk menjalani nebulisasi bersama Ns. Renny Krismila, S.Kep. Melalui alat nebulizer, obat cair diubah menjadi kabut halus yang dihirup agar mencapai saluran pernapasan.

Usai nebulisasi, responden beristirahat sejenak sebelum kembali menjalani spirometri tahap kedua (post-nebulisasi). Prosedurnya serupa dengan tahap pertama, tetapi dilakukan setelah pemberian terapi inhalasi. Kedua hasil pemeriksaan tersebut dapat membantu tenaga kesehatan menilai fungsi paru dan respons terhadap bronkodilator sesuai indikasi klinis.

Setelah seluruh rangkaian selesai, responden kembali ke meja pendaftaran. Kader membagikan konsumsi, hadiah (gift), dan subsidi transportasi sebagai bentuk dukungan terhadap partisipasi warga.

Nebulisasi

Di Balik Angka, Ada Kehidupan

Dari 24 orang yang diundang, 11 responden berhasil menjalani pemeriksaan pada hari itu. Sementara itu, 13 lainnya belum dapat diperiksa karena berbagai keadaan. Dua orang baru pulang setelah menjalani rawat inap, seorang mendampingi istrinya menjalani kemoterapi di Malang, dan seorang lainnya sedang mengunjungi anaknya di Surabaya. Ada pula responden yang tidak dapat meninggalkan pekerjaannya, termasuk seorang guru dan seorang pekerja rumah sakit. 

Kondisi kesehatan dan perubahan kehidupan turut memengaruhi kehadiran. Seorang responden yang menjalani pengobatan tuberkulosis tidak diikutsertakan, sedangkan seorang lainnya telah pindah ke Bali untuk tinggal bersama anaknya setelah mengalami komplikasi diabetes hingga menjalani amputasi. Lima responden lainnya telah meninggal dunia.

Catatan tersebut mengingatkan bahwa di balik daftar nama dan target pemeriksaan, terdapat manusia dengan kondisi kesehatan, tanggung jawab, serta perjalanan hidup masing-masing.

Pemeriksaan ulang spirometri kelima di Desa Sarimulyo bukan sekadar upaya melengkapi data survey kesehatan. Kegiatan ini menunjukkan pentingnya ketelitian, kesabaran, dan kolaborasi antara tenaga kesehatan, enumerator, kader, serta masyarakat. Setiap hasil yang dapat dipertanggungjawabkan menjadi bagian dari upaya memahami kesehatan paru warga dengan lebih baik.

Sebab, dalam penelitian kesehatan, angka yang akurat bukan hanya persoalan memenuhi standar. Angka tersebut merupakan pijakan untuk membaca kondisi kesehatan secara lebih bertanggung jawab - satu tarikan napas, satu embusan, dan satu pemeriksaan pada satu waktu. *** [231026] 

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Rabu, 21 Oktober 2026

Mengulang Napas, Menjaga Akurasi: Kisah Pemeriksaan Ulang Spirometri Keempat di Desa Sarimulyo

“Breathing involves a continual oscillation between exhaling and inhaling, offering ourselves to the world at one moment and drawing the world into ourselves at the next.” -- David Abram

Di balik angka-angka yang belum terbaca, ada napas yang perlu didengarkan kembali. Di Desa Sarimulyo, pemeriksaan ulang spirometri menjadi ikhtiar untuk memastikan setiap pengukuran fungsi paru memberikan gambaran yang lebih akurat tentang kesehatan warga.

Pukul 08.17 WIB, Senin (19/10), aktivitas pemeriksaan kesehatan mulai bergerak di rumah Kepala Dusun Sempu, Muhammad Hudhori, yang beralamat di Dusun Sempu RT 03 RW 02, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi. Sejumlah warga datang memenuhi undangan untuk menjalani pemeriksaan ulang spirometri. 

Bagi mereka, ini bukan kali pertama berhadapan dengan alat pengukur fungsi paru. Namun, ada satu hal yang membuat pemeriksaan kali ini penting, yaitu memastikan hasil yang sebelumnya belum terbaca dapat diupayakan kembali dengan lebih baik.

Personel RS Yasmin Banyuwangi berpose dengan enumerator baseline survey dan kader kesehatan setempat

Kegiatan ini merupakan pemeriksaan ulang spirometri keempat, hasil kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi dalam rangkaian baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmnetal Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) di Desa Sarimulyo. 

Sebelumnya, enam sesi pemeriksaan spirometri telah dilaksanakan untuk menjangkau 151 responden yang terindikasi memiliki faktor risiko penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) berdasarkan hasil pre-screening. Dalam pelaksanaannya, sejumlah responden perlu menjalani pemeriksaan kembali karena rekaman spirometri sebelumnya tidak dapat dibaca (unreadable).

Mengulang pemeriksaan bukan sekadar mengulang prosedur. Dalam spirometri, kualitas hasil bergantung pada keterampilan petugas, ketepatan peralatan, serta kemampuan dan upaya maksimal orang yang diperiksa. Rekaman dengan kurva buruk atau nilai yang tidak konsisten tidak semestinya dipaksakan untuk ditafsirkan. 

Pemeriksaan ulang menjadi kesempatan memperoleh data yang lebih layak, sementara hasil yang masih dapat digunakan harus tetap disertai catatan keterbatasan teknis dan interpretasi yang hati-hati.

Tes spirometri

Dari meja pendaftaran hingga tarikan napas

Sejak beberapa hari sebelumnya, dua enumerator baseline survey, Kiki Antikawati Rustandi, S.Kep., dan Triana Rahmah, S.AB., telah mengundang 28 responden untuk hadir. Keduanya dibantu kader kesehatan setempat, Ruruh Aristin dan Tri Nur Umala, yang turut menyebarkan undangan serta mengantar-jemput warga yang membutuhkan bantuan transportasi.

Alur pemeriksaan disusun sebagaimana sesi-sesi sebelumnya. Mula-mula, responden melakukan registrasi dan verifikasi data di meja pendaftaran, dilayani Kiki bersama kader. Berikutnya, mereka menuju meja tanda-tanda vital (TTV). Perawat Meira Safira S., A.Md.Kep., mengukur tekanan darah dan saturasi oksigen, sedangkan dr. Nimas Eka Firdaningrum melakukan anamnesis melalui lembar data serta pemeriksaan fisik menggunakan stetoskop.

Sambil menunggu giliran, responden memperoleh penjelasan teknik meniupkan napas melalui alat spirometri dari enumerator Triana Rahmah, yang akrab disapa Ana. Tahap ini penting karena hasil pemeriksaan tidak hanya bergantung pada alat, tetapi juga pada cara seseorang melakukan manuver pernapasan sesuai instruksi petugas.

Di meja spirometri, Perawat Imelda memandu responden melakukan manuver dengan bantuan Ns. Rizki Indrawangi, S.Kep., yang mengoperasikan laptop terhubung ke alat. Ns. Elik Anistina, S.Kep., turut mengawasi jalannya pemeriksaan sebagai pendamping NIHR UB.

Pemeriksaan berlangsung dalam dua tahap. Pertama, responden menjalani spirometri sebelum nebulisasi (pre-nebulisasi). Setelah itu, mereka berpindah ke meja di sebelah selatan untuk menjalani nebulisasi bersama Perawat Tria Firnasari, A.Md.Kep. Prosedur ini menggunakan nebulizer untuk mengubah obat cair menjadi kabut halus yang dihirup melalui saluran pernapasan.

Usai nebulisasi, responden kembali menunggu giliran untuk menjalani spirometri tahap kedua (post-nebulisasi). Prosedurnya serupa dengan tahap pertama, tetapi dilakukan setelah pemberian terapi inhalasi. Setelah seluruh rangkaian selesai, responden kembali ke meja pendaftaran untuk menerima konsumsi, hadiah, dan subsidi transportasi.

Nebulisasi

Ketika angka bertemu dengan kondisi tubuh

Dari 28 orang yang diundang, pemeriksaan hari itu berhasil menjangkau 29 responden. Sebanyak 26 orang berasal dari daftar undangan awal. Ketika dua responden berhalangan hadir karena sakit, enumerator berupaya mencari pengganti dengan menjemput warga yang telah dijadwalkan ulang hari esoknya. Menjelang penutupan, seorang perempuan yang juga menjadi sasaran pemeriksaan datang atas inisiatif sendiri dan langsung dilayani.

Meski demikian, pemeriksaan tidak selalu menghasilkan rekaman yang optimal. Menurut catatan Ns. Elik, terdapat lima responden yang hasilnya kurang maksimal karena kondisi kesehatan dan riwayat medis masing-masing. 

Di antaranya, seorang laki-laki berusia 79 tahun dengan riwayat sesak dalam sebulan terakhir yang menjalani pengobatan di rumah; laki-laki berusia 46 tahun dengan riwayat sesak napas yang tidak bersedia mengonsumsi obat; serta laki-laki berusia 80 tahun yang mengalami napas pendek dan memiliki riwayat jatuh hingga tidak dapat berjalan.

Dua responden lainnya ialah laki-laki berusia 45 tahun yang memiliki riwayat tuberkulosis (TB) dan baru menyelesaikan pengobatan dua minggu sebelumnya, serta perempuan berusia 59 tahun dengan riwayat asma yang menggunakan obat semprot. Kondisi-kondisi tersebut menjadi catatan penting dalam memahami keterbatasan hasil pemeriksaan, tanpa serta-merta menyimpulkan diagnosis hanya dari satu sesi spirometri.

Sebuah kolaborasi elok antara enumerator dan keluarga responden dalam menghadirkan di pemeriksaan ulang spirometri keempat dengan menggotong dalam pemeriksaan maupun antar jemput 

Kegiatan yang turut dihadiri Rahmanurraudhotul Amin, SKM, sebagai observer Theme 1: Primary Healthcare Strengthening, dengan menggunakan daftar tilik observasi, berakhir pukul 13.47 WIB. Lebih dari sekadar menyelesaikan daftar nama, pemeriksaan hari itu memperlihatkan bahwa pengumpulan data kesehatan membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan pemahaman terhadap keadaan setiap individu.

David Abram, seorang filsuf, ekolog budaya, dan seniman pertunjukan asal Amerika, yang dikenal luas karena karyanya dalam menjembatani tradisi filosofis fenomenologi dengan isu-isu lingkungan dan ekologi, pernah berujar:

“Bernapas melibatkan ayunan berkelanjutan antara mengembuskan dan menghirup napas; pada satu saat kita menyerahkan diri kepada dunia, dan pada saat berikutnya kita menarik dunia ke dalam diri kita.”

Di Sarimulyo, ayunan napas itu hadir dalam bentuk yang sangat nyata, yaitu tarikan yang diupayakan, embusan yang diulang, dan angka yang kembali diperiksa. Sebab, di balik setiap kurva spirometri, ada manusia dengan kondisi tubuh dan pengalaman kesehatannya sendiri. 

Memastikan hasil pemeriksaan terbaca dengan baik bukan semata urusan teknis, melainkan bagian dari ikhtiar menghadirkan data yang lebih bermakna bagi upaya memahami dan memperkuat kesehatan masyarakat. *** [211026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Senin, 19 Oktober 2026

Napas yang Tak Bisa Dibaca, Kesabaran yang Repetisi: Pemeriksaan Ulang Spirometri Ketiga di Sarimulyo

“In this way, the breath is like a mirror that shows you the state you are in.” -- Wim Hof

Ada kalanya tubuh berbicara terlalu pelan untuk didengar. Pada Sabtu (17/10), di sebuah rumah kader Siti Badriya di Dusun Cempokosari RT 02 RW 03, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, sekumpulan orang berkumpul bukan untuk sebuah perayaan, melainkan untuk sebuah pengulangan. Spirometri ketiga. Sebuah kata yang terdengar teknis, tetapi menyimpan cerita tentang kesabaran, kerja keras, dan napas yang belum mau bekerja sama.

Spirometri adalah pemeriksaan fungsi paru yang mengandalkan tiga hal, yaitu perawat terlatih, peralatan akurat, dan upaya maksimal pasien. Ketika salah satu dari tiga pilar itu goyah, hasilnya bisa menjadi “tidak dapat dibaca” (unreadable). Bukan karena paru-paru pasien pasti bermasalah, melainkan karena kurva yang buruk, nilai yang tidak konsisten, atau teknik yang kurang tepat. 

Personel RS Yasmin Banyuwangi berpose dengan enumerator baseline survey dan kader kesehatan setempat

Dalam praktik standar, hasil semacam itu tidak ditafsirkan. Ia diabaikan, lalu diulang pada hari lain. Sebab, menafsirkan data yang tidak memenuhi standar sama saja membaca cermin yang retak.

Desa Sarimulyo telah melewati lima pemeriksaan spirometri sebelumnya - 25 Juli, 14 Agustus, 15 Agustus, 21 Agustus, lalu spirometri ulang pertama pada 12 Oktober dan kedua pada 14 Oktober. 

Dari 151 target responden hasil pre-screening yang terindikasi faktor risiko PPOK, beberapa di antaranya harus kembali lagi karena hasil sebelumnya tak terbaca. Maka, dijadwalkanlah pemeriksaan ulang ketiga. 

Undangan disebar beberapa hari sebelumnya, meminta 29 responden untuk hadir. Tiga kader kesehatan setempat - Siti Bariya, Malikatun Nikmah, dan Kiki Wahyuni - bergerak sejak jauh hari, menyebarkan undangan dan menjemput mereka yang membutuhkan tumpangan.

Meja pendaftaran: registrasi dan verifikasi data responden

Pagi itu, alur pemeriksaan berjalan persis seperti sebelumnya. Responden registrasi dan verifikasi data di meja pendaftaran, dilayani enumerator Kiki Antikawati Rustandi, S.Kep. dan kader. 

Lalu ke meja TTV, tempat Perawat Khusnul Hotimah, A.Md.Kep. mengukur tekanan darah dan oksimetri, sementara dr. Handri Irawan, MMRS di sampingnya melakukan anamnesis dengan spreadsheet dan pemeriksaan fisik dengan stetoskop. 

Usai TTV, responden duduk di tikar antrean, menunggu panggilan meja spirometri. Sambil menunggu, enumerator Triana Rahmah, S.AB memanfaatkan waktu untuk mengajarkan teknik penyebulan - sebuah detail kecil yang menentukan kualitas hasil.

Begitu dipanggil, responden menuju meja spirometri. Di sana, Perawat Yenni Rachmawati, A.Md.Kep. memandu manuver, dibantu Ns. Yusi Ayu Permatasari, S.Kep. yang mengoperasikan laptop terhubung alat spirometri, di bawah pengawasan Ns. Elik Anistina, S.Kep. yang mengawal tes untuk NIHR UB. 

Tes spirometri

Selesai tes tahap pertama atau pre-nebulisasi, responden bergeser ke meja sebelah selatan untuk nebulisasi - terapi inhalasi yang mengubah obat cair menjadi uap halus yang dihirup langsung ke saluran pernapasan - ditangani Ns. Ach. Zaenal Arifin, S.Kep.

Setelah jeda singkat, responden dipanggil lagi untuk tes tahap kedua atau post-nebulisasi. Bila lancar, rangkaian selesai, dan responden disarankan kembali ke meja pendaftaran, menerima konsumsi, gift, dan subsidi transportasi dari tiga kader, disaksikan enumerator.

Pemeriksaan ulang ketiga ini juga dihadiri Rahmanurraudhotul Amin, SKM, yang ditunjuk Theme 1: Primary Healthcare Strengthening untuk observasi jalannya spirometri dengan checklist, serta Kamituwo Cempokosari, Rudi Hartoyo, S.E. 

Nebulisasi

Rangkaian berakhir pukul 14.56 WIB. Dari 29 responden yang diundang, berdasarkan catatan Field Facilitator NIHR UB, berhasil diperiksa sebanyak 29 orang. Angka yang tampak sempurna - terlalu sempurna, mungkin, untuk sebuah hari yang penuh liku. Sebab di balik angka itu, ada tujuh responden reschedule yang menjadi substitusi. 

Tujuh undangan yang tak hadir digantikan oleh tujuh responden yang sedianya dijadwalkan besoknya. Enumerator Ana, dibantu Rahmanurraudhotul Amin, mondar-mandir menjemput mereka, memajukan jadwal, dan kebetulan mereka bersedia. Cara cerdas, kerja keras, dan tuntas - begitulah Field Facilitator NIHR UB melihatnya. Target tak dibiarkan kosong; ia diisi dengan langkah kaki dan pendekatan personal.

Namun, tidak semua napas bisa dipaksa menjadi kurva yang sempurna. Dari konfirmasi kepada dua perawat di meja spirometri, terdapat hasil pengukuran yang kurang maksimal. Satu orang ogah-ogahan mengikuti instruksi manuver; satu lansia tak bisa mengikuti aba-aba karena kognitifnya mulai menurun; satu lagi tampak setengah hati. Di sinilah spirometri menunjukkan sisi manusianya; ia bukan sekadar alat dan angka, melainkan pertemuan antara teknologi dan kerelaan tubuh untuk berusaha maksimal.

"Antar jemput responden" oleh enumerator, sebuah variabel bagi kecukupan target pemeriksaan

Maka kembalilah kita pada kata-kata Wim Hof, motivator dan atlet ekstrem asal Belanda yang dikenal karena kemampuannya untuk bertahan dalam suhu rendah (The Iceman):

“Dengan cara ini, napas ibarat cermin yang memperlihatkan kondisi diri Anda saat ini.”

Di Desa Sarimulyo, cermin itu sempat buram - kurva buruk, nilai tak konsisten, hasil tak terbaca. Tetapi alih-alih memaksakan tafsir, peneliti NIHR UB memilih mengulang dengan undangan, jemputan, dan kesabaran dari enumerator baseline survey dan kader kesehatan setempat.

Sebab napas yang belum bisa dibaca bukanlah kegagalan, melainkan ajakan untuk mencoba lagi - dengan teknik yang lebih baik, alat yang terawat, dan upaya yang sungguh-sungguh. Di dusun itu, pada Sabtu siang yang panjang, 29 orang telah meniupkan napasnya ke dalam “cermin”. Dan “cermin” itu, perlahan, mulai jernih. *** [191026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Minggu, 18 Oktober 2026

Mengukur Irama Napas, Menjaga Harapan: Pemeriksaan Spirometri Keenam di Desa Tamanagung

“You just took a breath. You're about to take another. Inhale, then exhale, then another inhale. In and out. There's a rhythm to your breathing. It's the same with nature.” -- Rob Bell, How to Be Here: A Guide to Creating a Life Worth Living

Di balik tarikan dan embusan napas yang kerap dianggap biasa, tersimpan petunjuk penting tentang kesehatan paru-paru. Sabtu pagi itu, di Pendopo Desa Tamanagung, puluhan warga kembali menjalani pemeriksaan spirometri untuk mengenali risiko penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) sejak dini.

“Anda baru saja menarik napas. Anda akan menarik napas lagi. Tarik napas, lalu embuskan, kemudian tarik napas lagi. Masuk dan keluar. Ada irama dalam napas Anda. Begitu pula dengan alam.” 

Kalimat Rob Bell tersebut mengingatkan kita bahwa bernapas merupakan ritme alami kehidupan. Namun, di balik proses yang berlangsung tanpa disadari itu, kondisi paru-paru seseorang tidak selalu baik-baik saja. Karena itulah, mengukur kemampuan paru-paru menjadi langkah penting untuk mengenali gangguan pernapasan.

Meja 1: registrasi dan verifikasi data

Pada Sabtu (17/10) pagi, Pendopo Desa Tamanagung yang beralamat di Jalan Sraten No. 07, Dusun Krajan, RT 02 RW 04, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, kembali menjadi tempat pelaksanaan pemeriksaan spirometri. Kegiatan keenam ini merupakan kolaborasi antara NIHR Universitas Brawijaya (NIHR UB) dan Rumah Sakit Nahdlkatul Ulama (RS NU) Banyuwangi sebagai bagian dari upaya mengidentifikasi faktor risiko PPOK melalui pemeriksaan lanjutan terhadap warga yang telah menjalani pre-screening.

Tiga enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC), yakni Fahmi Ahmad Fauzan, S.Sos., Dysa Fitri Permatasari, S.Tr.Kes., M.Kes., dan Nisaul Rofifah, S.Gz., kembali hadir untuk mendampingi pelaksanaan kegiatan. 

Mereka juga dibantu tiga kader kesehatan setempat, Ade Fitria Ningsih, Luckyta Anjarsari, dan Ninik Suriani. Sejak dua hari sebelumnya, para kader telah membantu menyampaikan undangan kepada 35 warga yang terindikasi memiliki faktor risiko PPOK.

Meja 2: TTV

Empat meja, satu tujuan

Pemeriksaan dimulai pukul 08.00 WIB dengan alur yang dirancang agar setiap responden menjalani tahapan secara teratur. Meja pertama menjadi titik awal perjalanan mereka. Di sana, Ade Fitria Ningsih, Ninik Suriani, dan enumerator Nisaul Rofifah melakukan registrasi sekaligus memverifikasi data responden.

Setelah mendaftar, warga menunggu giliran di bangku antrean. Sembari menunggu, Fahmi Ahmad Fauzan memberikan arahan mengenai teknik meniupkan udara yang benar saat pemeriksaan spirometri. Persiapan ini penting karena hasil pengukuran tidak hanya bergantung pada alat, tetapi juga pada kemampuan responden mengikuti instruksi dengan tepat.

Dari meja pendaftaran, responden kemudian dipanggil menuju meja kedua, yakni meja pemeriksaan tanda-tanda vital (TTV). Perawat Dwi Warsa, S.Kep.Ns., mengukur berat badan, tekanan darah, dan saturasi oksigen menggunakan oksimeter. Selanjutnya, Perawat Joenhiga, S.Kep.Ns., melakukan anamnesis melalui aplikasi SMARThealth untuk menggali informasi kesehatan responden.

Tahap berikutnya berlangsung di meja ketiga, tempat pemeriksaan spirometri dilakukan. Perawat Marni Erlina, S.Kep.Ns., memandu manuver spirometri tahap pertama atau pre-bronchodilator, dengan bantuan Perawat Agnes, S.Kep.Ns., yang mengoperasikan alat MIR SpiroLab milik NIHR UB. Proses tersebut juga disaksikan Ns. Elik Anistina, S.Kep., yang membantu mengawasi pelaksanaan pemeriksaan.

Spirometri merupakan pemeriksaan fungsi paru-paru yang mengukur volume udara yang dapat dihirup dan diembuskan secara maksimal. Untuk memperoleh hasil yang dapat dipercaya, pemeriksaan dilakukan melalui manuver berulang dengan teknik yang valid dan hasil yang dapat direproduksi. Umumnya, diperlukan sedikitnya tiga manuver yang memenuhi kriteria kualitas; jika hasilnya belum konsisten, pemeriksaan dapat diulang hingga batas yang ditentukan dalam protokol.

Usai tahap pertama, responden menerima semprotan salbutamol, kemudian beristirahat selama 20 menit. Obat ini membantu melebarkan saluran pernapasan sehingga perubahan fungsi paru-paru dapat dinilai. 

Setelah masa tunggu selesai, responden menjalani pemeriksaan tahap kedua atau post-bronchodilator dengan prosedur serupa. Perbandingan kedua hasil tersebut membantu tenaga kesehatan menilai respons saluran pernapasan terhadap obat.

Tes spirometri

Kendala di tengah pemeriksaan

Pelaksanaan kali ini tidak sepenuhnya berjalan mulus. Alat spirometri MIR SpiroLab sempat tertinggal di RS NU Banyuwangi sehingga petugas harus menunggu sopir mengambilnya. Ketika pemeriksaan hendak dimulai, kendala lain muncul, yakni tinta alat telah habis.

Agar kegiatan tetap berlanjut, Rahmanurraudhotul Amin, SKM, meminjam alat MIR SpiroLab lain milik tenaga kesehatan RS Yasmin yang saat itu sedang melaksanakan pemeriksaan ulang spirometri ketiga di Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring. Di tengah keterbatasan tersebut, koordinasi antarpihak menjadi kunci agar warga tetap dapat memperoleh layanan pemeriksaan.

Rahmanurraudhotul Amin, yang ditugaskan oleh Theme 1: Primary Healthcare Strengthening, juga melakukan observasi terhadap jalannya kegiatan menggunakan daftar tilik (checklist). Kehadirannya menjadi bagian dari pemantauan proses pelayanan, selain memastikan setiap tahapan pemeriksaan dapat diamati secara sistematis.

Setelah menyelesaikan kedua tahap spirometri, responden diarahkan ke meja keempat. Di sana, enumerator Dysa Fitri Permatasari bersama kader Ade Fitria Ningsih memberikan konsumsi, vitamin, dan subsidi transportasi sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi warga.

Meja 4: apresiasi atas berpartisipasinya responden dalam pemeriksaan spirometri

Napas yang layak diperhatikan

Pemeriksaan berakhir pada pukul 13.07 WIB. Berdasarkan catatan Field Facilitator NIHR UB, sebanyak 34 dari 35 warga yang diundang hadir, sementara satu orang tidak datang karena dihubungi berkali-kali tidak ada jawaban.

Ns. Elik Anistina menyampaikan bahwa terdapat empat hasil pemeriksaan yang memerlukan perhatian. Dua responden perempuan lanjut usia menunjukkan hasil yang kurang maksimal: seorang memiliki riwayat tuberkulosis dan masih menjalani pengobatan, sedangkan seorang lainnya memiliki riwayat asma tetapi tidak bersedia berobat. Sementara itu, dua responden laki-laki menunjukkan hasil yang baik meskipun memiliki riwayat penyakit penyerta, termasuk gangguan jantung, stroke, gangguan hati, dan PPOK.

Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa riwayat penyakit dan hasil pemeriksaan perlu dipahami bersama oleh tenaga kesehatan. Hasil spirometri bukanlah diagnosis tunggal, melainkan salah satu dasar untuk menentukan tindak lanjut yang sesuai.

Di Pendopo Desa Tamanagung, pemeriksaan keenam ini bukan sekadar urusan menarik dan mengembuskan udara melalui sebuah alat. Ada upaya untuk memahami kondisi paru-paru, mengenali risiko lebih awal, dan mendorong warga agar lebih peduli terhadap kesehatan pernapasannya.

Seperti irama napas yang terus berulang, upaya menjaga kesehatan membutuhkan perhatian yang berkelanjutan. Sebab, napas yang terasa biasa hari ini tetap layak diperiksa, dipahami, dan dijaga untuk hari esok. *** [181026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Risk Checker

Risk Checker

Statistik Blog

Sahabat eKader

Label

Arsip Blog