Kamis, 15 Oktober 2026

Mengulang Hembusan, Menjaga Harapan: Pemeriksaan Ulang Spirometri Kedua di Desa Sarimulyo

"Learn how to exhale, the inhale will take care of itself." -- Carla Melucci Ardito

Ada kalanya satu kali hembusan napas belum cukup untuk mengungkap kondisi paru-paru seseorang. Bukan karena tubuh tak mampu bekerja sama, melainkan karena pemeriksaan membutuhkan teknik yang tepat, usaha maksimal, dan hasil pengukuran yang memenuhi standar. Di sinilah pemeriksaan ulang menjadi penting, yaitu memberi kesempatan kedua untuk memperoleh gambaran fungsi paru yang lebih akurat.

Semangat itulah yang mewarnai pemeriksaan ulang spirometri kedua di Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, pada Rabu (14/10). Bertempat di Rumah Kader Siti Bariya, Dusun Cempokosari RT 02 RW 03, kegiatan ini merupakan kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi dalam rangkaian baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC).

Kunjungan dr. Harun dalam pemeriksaan ulang spirometri kedua di Dusun Cempokosari, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi


Ketika Hembusan Belum Memberikan Jawaban

Spirometri bukan sekadar meniup alat, lalu memperoleh angka di layar. Pemeriksaan ini mengukur fungsi paru melalui pola udara yang diembuskan seseorang. Karena itu, kualitas hasilnya bergantung pada tiga unsur yang saling berkaitan, meliputi keterampilan petugas, ketepatan peralatan, dan upaya maksimal peserta pemeriksaan.

Apabila rekaman sebelumnya tidak dapat dibaca (unreadable), tidak valid, atau tidak memenuhi kriteria kualitas, pemeriksaan ulang diperlukan. Hasil yang cacat secara teknis tidak semestinya dipaksakan untuk ditafsirkan. Sebaliknya, pengukuran perlu diulang agar gambaran fungsi paru yang diperoleh lebih dapat diandalkan.

Di Sarimulyo, pemeriksaan ini bukan kali pertama dilakukan. Sebelumnya, spirometri telah diselenggarakan lima kali, yakni pada 25 Juli, 14 Agustus, 15 Agustus, dan 21 Agustus serta 12 Oktober. Dari 151 target responden hasil pre-screening yang terindikasi memiliki faktor risiko penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), beberapa di antaranya memerlukan pemeriksaan ulang karena hasil sebelumnya belum terbaca dengan baik.

Setelah pemeriksaan ulang pertama pada Senin (12/10), tim kembali menjadwalkan pemeriksaan ulang kedua. Dua enumerator baseline survey, Kiki Antikawati Rustandi, S.Kep. dan Triana Rahmah, S.AB., mengoordinasikan kegiatan tersebut dengan mengundang 30 responden.

Suasana pemeriksaan ulang spirometri kedua, tampak dr. Harun berdiskusi dengan Kades Sarimulyo di teras depan

Dari Meja Pendaftaran hingga Hembusan Kedua

Sejak awal, alur pemeriksaan disusun seperti rangkaian yang saling terhubung. Di meja pendaftaran, Kiki bersama kader kesehatan membantu registrasi dan verifikasi data. Selanjutnya, responden menjalani pemeriksaan tanda-tanda vital (TTV), meliputi pengukuran tekanan darah dan saturasi oksigen oleh Perawat Annisa Fitriya, A.Md.Kep.

Di meja yang sama, dr. Sofia Intani melakukan anamnesis menggunakan aplikasi SMARThealth serta pemeriksaan fisik dengan stetoskop. Setelah itu, responden menunggu giliran sambil menerima penjelasan mengenai teknik meniup alat spirometri dari enumerator Triana.

Pembekalan ini menjadi bagian penting. Sebab, hasil pengukuran tidak hanya ditentukan oleh alat, tetapi juga kemampuan responden mengikuti instruksi dengan benar.

Ketika namanya dipanggil, responden menuju meja spirometri. Ns. Prisilia Rosa A., S.Kep., memandu pelaksanaan manuver pemeriksaan, dibantu Ns. Yusi Ayu Permatasari, S.Kep., yang mengoperasikan laptop terhubung dengan alat spirometri. Proses tersebut berada di bawah pengawasan Ns. Elik Anistina, S.Kep., yang turut mengawal pelaksanaan pemeriksaan bersama NIHR UB.

Pemeriksaan berlangsung dalam dua tahap. Pertama, responden menjalani spirometri sebelum nebulisasi (pre-nebulisasi). Setelah itu, mereka berpindah ke meja di sebelah timur untuk menjalani nebulisasi bersama Ns. Mahendra, S.Kep. Prosedur ini menggunakan alat nebulizer untuk mengubah obat cair menjadi kabut halus yang dihirup melalui saluran pernapasan.

Usai nebulisasi, responden beristirahat sejenak sebelum kembali menjalani spirometri tahap kedua (post-nebulisasi). Dengan membandingkan hasil sebelum dan sesudah nebulisasi, tenaga kesehatan dapat menilai perubahan fungsi paru sesuai indikasi dan hasil pemeriksaan.

Setelah seluruh rangkaian selesai, responden kembali ke meja pendaftaran. Para kader membagikan konsumsi, bingkisan, dan subsidi transportasi sebagai bentuk dukungan bagi warga yang telah berpartisipasi.

Tes spirometri

Antusiasme Warga, Catatan untuk Evaluasi

Di balik alur pemeriksaan yang terstruktur, dukungan masyarakat menjadi bagian penting dari keberhasilan kegiatan. Tiga kader kesehatan setempat - Siti Bariya, Malikatun Nikmah, dan Kiki Wahyuni - membantu menyebarkan undangan beberapa hari sebelumnya. Mereka juga mendukung mobilisasi, termasuk mengantar dan menjemput responden yang membutuhkan bantuan.

Antusiasme warga bahkan melampaui jumlah undangan. Dari 30 responden yang dijadwalkan, sebanyak 33 orang berhasil menjalani pemeriksaan. Tiga peserta tambahan semula dijadwalkan hadir keesokan harinya, tetapi memilih mengikuti pemeriksaan lebih awal.

Kegiatan ini turut dihadiri Kepala Desa Sarimulyo Budi Susilo, S.T., Kamituwo Cempokosari Rudi Hartoyo, S.E., dan dr. Harum Al Rasyid, MPH, dari NIHR UB Malang. Rahmanurraudhotul Amin, SKM, yang ditugaskan dalam Theme 1: Primary Healthcare Strengthening, juga melakukan observasi menggunakan daftar tilik untuk memantau jalannya pemeriksaan.

Meski demikian, capaian tersebut bukan berarti seluruh pemeriksaan berjalan tanpa kendala. Menurut catatan Ns. Elik, terdapat enam responden yang hasil spirometrinya dinilai kurang maksimal. Lima di antaranya merupakan laki-laki lanjut usia dengan riwayat asma maupun tuberkulosis (TBC). Satu responden lanjut usia lainnya memiliki riwayat sesak napas dan sedang mengalami sariawan saat pemeriksaan.

Catatan ini menjadi pengingat bahwa kondisi kesehatan dan kemampuan mengikuti instruksi dapat memengaruhi proses pengukuran. Hasil yang kurang maksimal perlu ditelaah secara hati-hati oleh tenaga kesehatan, bukan langsung dianggap sebagai gambaran pasti fungsi paru seseorang.

Nebulisasi

Kesempatan Kedua untuk Hasil yang Lebih Bermakna

Pemeriksaan ulang spirometri kedua di Sarimulyo selesai pada pukul 14.35 WIB. Namun, arti penting kegiatan ini tidak berhenti pada selesainya pemeriksaan atau tercapainya jumlah peserta. Lebih dari itu, kegiatan ini menunjukkan bahwa pemeriksaan kesehatan yang berkualitas membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan kerja sama antara petugas, responden, serta masyarakat.

Ada kutipan Carla Melucci Ardito - seorang terapis dan pengajar yang berbasis di Kota New York, yang telah secara pribadi mengalami, mempelajari, serta mengeksplorasi seni penyembuhan selama lebih dari 40 tahun yang terasa relevan dengan proses tersebut:

“Belajarlah cara mengembuskan napas; menarik napas akan terjadi dengan sendirinya.”

Dalam spirometri, mengembuskan napas dengan teknik yang tepat memang perlu dipelajari dan dilatih. Setiap instruksi, setiap percobaan, dan setiap pengulangan memiliki perannya sendiri.

Sebab, dalam upaya mengenali risiko PPOK lebih dini, satu hembusan yang belum terbaca bukanlah akhir dari pemeriksaan. Terkadang, dibutuhkan kesempatan kedua agar napas dapat bercerita lebih jelas, dan agar langkah menjaga kesehatan paru-paru dapat dimulai dengan informasi yang lebih dapat dipercaya. *** [151026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Menyulam Data: Catatan Kunjungan Tim NIHR UB ke Dinkes Kabupaten Banyuwangi

“Things get done only if the data we gather can inform and inspire those in a position to make difference.” -- Mike Schmoker, Results: The Key to Continuous School Improvement

Di balik angka, ada cerita yang belum sepenuhnya terbaca. Di antara catatan pelayanan kesehatan dan hasil pemeriksaan lapangan, tersimpan potongan-potongan informasi yang perlu dipertemukan untuk memahami persoalan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Dari upaya menyatukan potongan itulah, sebuah perjalanan kecil dimulai di Banyuwangi.

Deru mesin GrabCar perlahan mereda ketika kendaraan memasuki halaman Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi, Rabu (14/10) pagi. Dua orang dari Tim NIHR Universitas Brawijaya (UB) - dr. Harun Al Rasyid, MPH, dan seorang Field Facilitator - datang membawa satu tujuan, yakni menelusuri data PPOK, terutama di Kecamatan Cluring dan Gambiran.

Bagi tim ini, data bukan sekadar deretan angka dalam laporan kesehatan. Ia adalah kepingan informasi yang perlu dirangkai untuk mendapatkan gambaran lebih utuh tentang PPOK di masyarakat. 

Terlebih, NIHR UB telah berkolaborasi dengan RS Yasmin dan RS NU Banyuwangi dalam pelaksanaan pemeriksaan spirometri, sebuah prosedur untuk mengukur fungsi paru-paru. Hasil pemeriksaan tersebut menjadi sumber informasi penting yang perlu dibaca berdampingan dengan data yang dimiliki Dinas Kesehatan.

Pertanyaannya sederhana, tetapi penting, yaitu sejauh mana kedua sumber data itu saling menjelaskan?

Kunjungan Tim NIHR UB ke Dinkes Kabupaten Banyuwangi disambut dengan hangat dan terbuka oleh Bagian PTM


Merajut Dua Sumber Informasi

Di kantor Dinas Kesehatan, Tim NIHR UB disambut oleh Ibu Ike dari bagian Penyakit Tidak Menular (PTM). Dalam pertemuan di ruang kerjanya, dr. Harun menyampaikan maksud kunjungan sekaligus menjelaskan kebutuhan untuk mengompilasi data PPOK yang tersedia.

Respons positif mengalir sejak awal percakapan. Sambutan yang terbuka membuat diskusi berlangsung dalam suasana bersahabat, jauh dari kesan birokratis yang kerap dibayangkan orang ketika berhadapan dengan institusi pemerintahan.

Bagi tim peneliti, keterbukaan semacam ini bukan perkara sepele. Penelitian kesehatan masyarakat tidak hanya membutuhkan metode yang tepat dan instrumen yang andal, tetapi juga komunikasi yang baik dengan pemangku kepentingan yang mengelola data di lapangan. Tanpa jembatan komunikasi, informasi yang berharga bisa saja tetap tersimpan dalam sistem masing-masing, belum terhubung menjadi pengetahuan yang lebih bermakna.

Kunjungan tersebut turut dibersamai Rahmanurraudhotul Amin, SKM, salah seorang enumerator baseline survey yang membantu observasi setiap implementasi pemeriksaan spirometri. Kehadirannya menjadi penghubung antara kebutuhan penelitian dan pengalaman pengumpulan data di lapangan.

Semula, agenda kunjungan akan berlanjut ke bagian Pelayanan Kesehatan (Yankes) untuk menelusuri data PPOK melalui Simpuswangi. Namun, Pelaksana Tugas (Plt.) Yankes sedang mengikuti kegiatan bakti sosial. Pertemuan pun dijadwalkan ulang pada pekan berikutnya.

Simpuswangi, atau Sistem Informasi Manajemen Puskesmas Banyuwangi, merupakan aplikasi berbasis web yang dikembangkan Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi untuk mendigitalisasi sistem pelayanan dan administrasi kesehatan di puskesmas. Melalui sistem ini, penelusuran data diharapkan dapat membantu tim memahami informasi PPOK yang tercatat dalam layanan kesehatan setempat.

Penjadwalan ulang itu tidak mengurangi arti kunjungan hari tersebut. Sebaliknya, langkah tersebut membuka ruang untuk melanjutkan komunikasi dan menyiapkan penelusuran data secara lebih terarah.


Ketika Komunikasi Menjadi Jembatan

Ada hal menarik dari pertemuan singkat itu: cara orang menyambut satu sama lain turut menentukan bagaimana sebuah kerja kolaboratif bertumbuh.

Respons yang cepat dan ramah dari pihak Dinas Kesehatan memperlihatkan pentingnya relasi antarlembaga yang dibangun melalui keterbukaan. Dalam perspektif komunikasi organisasi, kesediaan mendengarkan, memberikan respons, dan menyepakati tindak lanjut merupakan unsur penting untuk membangun kepercayaan. Komunikasi tidak berhenti pada penyampaian maksud, tetapi bergerak menuju pemahaman bersama.

Dari sisi sosiologis, perjumpaan ini juga menunjukkan bahwa produksi pengetahuan kesehatan bukan pekerjaan satu pihak semata. Peneliti, tenaga kesehatan, pengelola data, dan fasilitas pelayanan berada dalam jejaring yang saling membutuhkan. Masing-masing memiliki informasi, pengalaman, dan sudut pandang yang berbeda. Ketika semua unsur itu dipertemukan, peluang untuk memahami persoalan kesehatan secara lebih menyeluruh pun terbuka.

Sikap tanggap dan bersahabat yang ditunjukkan pihak Dinas Kesehatan menjadi energi bagi Tim NIHR UB untuk meneruskan dialog. Sebab, menyelaraskan data membutuhkan lebih dari sekadar akses ke aplikasi atau dokumen. Dibutuhkan pula kesediaan untuk berkoordinasi, mengklarifikasi perbedaan, dan membangun kesepahaman mengenai informasi yang sedang ditelusuri.


Dari Kantor ke Lapangan

Usai kunjungan ke Dinas Kesehatan, perjalanan belum berakhir. Field Facilitator NIHR UB mengajak dr. Harun menuju Desa Sarimulyo untuk mengunjungi pelaksanaan pemeriksaan ulang spirometri yang kedua. Kali ini, perjalanan dilanjutkan menggunakan GoCar.

Perpindahan dari ruang kerja menuju lokasi pemeriksaan seolah menegaskan bahwa upaya memahami PPOK tidak cukup dilakukan di balik meja. Data administratif perlu dibaca bersama temuan lapangan, sementara hasil pemeriksaan membutuhkan konteks agar dapat dimaknai secara tepat.

Di sinilah benang-benang informasi mulai menemukan kemungkinan untuk saling terhubung dari catatan pelayanan kesehatan, hasil spirometri, dan pengalaman pelaksanaan pemeriksaan di masyarakat.

Tentu, menyatukan data tidak serta-merta membuka seluruh tabir PPOK di Banyuwangi. Masih ada informasi yang perlu ditelusuri, dibandingkan, dan diverifikasi. Namun, setiap percakapan yang terjalin dan setiap langkah koordinasi yang disepakati merupakan bagian dari proses tersebut.

Pada akhirnya, menyulam data bukan sekadar mempertemukan angka dari dua sumber berbeda. Ia adalah ikhtiar merangkai kepingan informasi menjadi pemahaman yang lebih utuh tentang PPOK, tentang mereka yang mungkin luput teridentifikasi, dan tentang peluang memperbaiki layanan kesehatan di masa mendatang. Sebab, data yang tersimpan dalam laporan hanya akan menjadi deretan angka jika tidak dibaca, dipertautkan, dan dimaknai bersama. 

Namun, ketika data mampu menyingkap persoalan yang sebelumnya samar, ia dapat menjadi awal bagi lahirnya keputusan dan tindakan yang lebih tepat. Seperti diungkapkan Mike Schmoker, “Segala sesuatu dapat terlaksana hanya jika data yang kita kumpulkan mampu memberikan wawasan dan menginspirasi mereka yang berada dalam posisi untuk membawa perubahan.” *** [151026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Rabu, 14 Oktober 2026

Pamitan di Pendopo Wringinrejo: Menutup Survei, Merawat Kenangan

"Every goodbye is the birth of a memory." — Dutch proverb

Di balik angka-angka yang terkumpul, ada wajah-wajah yang menyambut, cerita yang dibagikan, dan persahabatan yang tumbuh selama kerja lapangan. Selasa siang itu, para enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) di Desa Wringinrejo berpamitan. Bukan untuk mengakhiri segalanya, melainkan untuk mengambil jeda sebelum perjalanan penelitian berlanjut.

Selasa (13/10), jarum jam menunjukkan pukul 14.30 WIB ketika dua enumerator baseline survey, Yunita Pratiwi Suprapto, S.T., dan Firda Octa Vidyawati, S.M., tiba di Pendopo Desa Wringinrejo yang berada di Jalan Diponegoro No. 164, Dusun Krajan, RT 04 RW 02, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi. 

Didampingi Field Facilitator NIHR Universitas Brawijaya (UB), kedatangan mereka kali ini bukan untuk pengumpulan data atau melakukan pemeriksaan spirometri. Ada satu agenda yang tak kalah bermakna, yaitu berpamitan.

Turut hadir Rahmanurraudhotul Amin, S.KM., enumerator baseline survey Desa Kaliploso. Rombongan disambut hangat oleh Kepala Desa (Kades) Wringinrejo, Mu’adim, S.H., Sekretaris Desa Muhammad Sirojudin, serta para kepala dusun atau kamituwo, yang terdiri dari Toyamas (Sudirman), Tamanrejo (Alek Sutikno), Krajan (Muhammad Ali Mahkrus), dan Mulyorejo (Imron Hamzah).

Suasana pendopo siang itu menjadi ruang pertemuan antara tugas yang mendekati jeda dan kenangan yang telah terukir selama proses pengumpulan data.

Berpose bersama saat Tim Enumerator Baseline Survey berpamitan


Dari Ucapan Terima Kasih hingga Janji Kembali

Nita, sapaan Yunita Pratiwi Suprapto, mengawali acara dengan sekapur sirih. Ia menyampaikan terima kasih kepada pemerintah desa atas izin, dukungan, dan pendampingan yang diberikan selama pelaksanaan baseline survey, termasuk dalam pengumpulan data dan pemeriksaan spirometri. Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama kegiatan berlangsung terdapat perkataan maupun tindakan yang kurang berkenan.

Ucapan sederhana itu membawa makna lebih dari sekadar penutup kegiatan. Di balik setiap kunjungan rumah tangga, ada waktu yang diluangkan warga, pertanyaan yang dijawab dengan sabar, serta kepercayaan yang diberikan kepada para enumerator. Semua itu menjadi bagian penting dari perjalanan penelitian.

Field Facilitator NIHR UB kemudian memberikan penjelasan melalui mikrofon konferensi. Ia menegaskan bahwa penelitian ini belum sepenuhnya selesai. Baseline survey memang memasuki akhir jadwal pelaksanaan, tetapi perjalanan penelitian masih akan berlanjut. Setelah jeda, tim dijadwalkan kembali ke Desa Wringinrejo pada tahun berikutnya untuk melaksanakan endline survey.

“Pamitan ini adalah perpisahan sementara saja,” jelasnya.

Kalimat tersebut seolah menjadi penanda bahwa perpisahan tidak selalu berarti kehilangan. Ada pekerjaan yang perlu dituntaskan, ada waktu yang harus dilalui, dan ada kesempatan untuk kembali dengan membawa tahapan penelitian berikutnya. Sebelum menutup rangkaian kegiatan, ia pun memohon izin kepada pemerintah desa agar tim dapat kembali berkunjung pada waktunya.

Enumerator berikan kenang-kenangan secara simbolis yang diterima Kades


Ketika Penelitian Menjadi Ruang Belajar

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Kades Mu’adim. Ia mengapresiasi pelaksanaan penelitian NIHR UB di wilayahnya. Menurutnya, kegiatan tersebut turut memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat, terutama mengenai penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Di titik inilah penelitian menemukan maknanya yang lebih luas. Baseline survey bukan semata-mata tentang pertanyaan yang terjawab, data yang terkumpul, atau pemeriksaan spirometri yang terlaksana. Di dalamnya terdapat proses memperkenalkan pengetahuan kesehatan, membangun komunikasi dengan masyarakat, dan membuka ruang bagi warga untuk mengenali persoalan kesehatan di sekitarnya.

Angka-angka memang menjadi bahan penting bagi penelitian. Namun, di balik setiap angka, selalu ada manusia dengan pengalaman, kebiasaan, dan kisah kehidupannya sendiri.

Sebagai bentuk terima kasih, tim kemudian menyerahkan bingkisan kepada perangkat desa yang selama ini mendukung dan mendampingi kegiatan enumerator. Acara ditutup dengan foto bersama dan bersalaman. Satu per satu, tangan berjabat, senyum mengembang, dan ucapan pamit mengiringi berakhirnya pertemuan siang itu.

Seremoni pamitan enumerator baseline survey kepada perangkat desa


Sebuah Jeda, Sejuta Kenangan

Pamitan Tim Enumerator Baseline Survey Wringinrejo menjadi bagian dari rangkaian perpisahan para enumerator di sejumlah desa. Setelah tim Desa Purwodadi berpamitan pada Jumat, 09/10, disusul tim Desa Wringinagung pada Senin, 12/10, kini giliran tim Desa Wringinrejo menuntaskan jadwal kerja lapangannya.

Dalam kerja lapangan, meninggalkan lokasi bukan sekadar urusan mengemasi perlengkapan dan mengakhiri kunjungan. Ada proses emosional ketika seseorang harus beranjak dari lingkungan yang selama ini menjadi bagian dari kesehariannya. 

Setelah sekian lama bekerja bersama masyarakat, para enumerator membawa pulang sesuatu yang tak tercatat dalam lembar pertanyaan dalam aplikasi, seperti pengalaman, pelajaran, dan hubungan antarmanusia.

Ada pepatah Belanda yang berbunyi, “Elk afscheid is de geboorte van een herinnering.” Artinya, “Setiap perpisahan adalah kelahiran sebuah kenangan.”

Kalimat itu terasa tepat untuk menggambarkan pamitan di Pendopo Desa Wringinrejo. Hari itu, sebuah tahap pekerjaan memang berakhir. Namun, cerita tentang keramahan warga, dukungan perangkat desa, dan pengalaman menyusuri rumah tangga demi rumah tangga akan tetap hidup dalam ingatan.

Inilah balada para enumerator!. Mereka datang membawa instrumen penelitian, bekerja sebagai sebuah tim, dan pulang dengan cerita yang jauh lebih kaya daripada sekadar data. Setiap rumah tangga yang dikunjungi meninggalkan pelajaran; setiap percakapan menumbuhkan pemahaman; dan setiap tantangan menjadi bagian dari perjalanan bersama.

Baseline survey kini memberi ruang bagi jeda. Kelak, ketika tim kembali untuk endline survey, perjumpaan itu akan menjadi babak baru dari kisah yang sama.

Sebab, tugas lapangan boleh berakhir untuk sementara, tetapi makna sebuah pertemuan tidak harus ikut selesai. Di Pendopo Desa Wringinrejo, pamitan bukanlah titik akhir. Ia adalah koma - sebuah jeda sebelum cerita berikutnya kembali dituliskan. *** [141026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Selasa, 13 Oktober 2026

Di Rumah Kamituwo, Napas-Napas Itu Kembali Ditiupkan: Cerita Pemeriksaan Ulang Spirometri di Sarimulyo

“For breath is life, so if you breathe well you will live long on earth.” – Sanskrit Proverb

Di Desa Sarimulyo, angka bukan sekadar angka. Ketika empat kali tes spirometri meninggalkan hasil yang tak terbaca, puluhan warga kembali duduk di kursi yang sama, bukan karena gagal, melainkan karena napas mereka layak diperjuangkan.

Udara pagi di Dusun Pandansari, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, Senin (12/10) itu terasa sumuk. Tidak ada yang istimewa dari langit yang cerah atau jalan kampung yang lengang. Namun di Rumah Kamituwo Pandansari, Agus Salim di RT 03 RW 01, ada kegiatan. Kursi-kursi plastik ditata rapi. Meja-meja panjang disiapkan. 

Kades Sarimulyo dan Kamituwo Sempu hadir dalam pemeriksaan ulang spirometri di Dusun Pandansari

Hari itu, 31 warga diundang. Bukan untuk acara hajatan, bukan pula untuk pengajian. Mereka datang untuk satu hal yang mungkin terdengar sederhana namun menentukan, yaitu mengulang tes spirometri.

Bagi sebagian orang, tes spirometri mungkin hanya prosedur medis biasa seperti meniup udara sekuat mungkin ke dalam sebuah alat, lalu selesai. Tapi di Desa Sarimulyo, tes ini telah menjadi bagian dari perjalanan panjang sebuah program kolaborasi antara NIHR Universitas Brawijaya dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi, sebelumnya dengan RS NU terus.

Sejak Juli hingga Agustus lalu, empat kali pemeriksaan spirometri digelar. Menyasar 151 responden hasil pre-screening yang terindikasi memiliki faktor risiko Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Namun, tidak semua hasil bisa dibaca. Ada yang tidak valid, ada yang tidak memenuhi kriteria kualitas. Dan sebagaimana praktik standar dalam dunia spirometri, hasil yang tidak dapat dibaca bukanlah akhir dari segalanya. Itu adalah awal dari pengulangan.

Rumah Kamituwo Pandansari jadi lokasi pemeriksaan ulang spirometri

Mengulang tes spirometri bukanlah kegagalan. Itu justru bentuk kehati-hatian. Kualitas spirometri bergantung pada tiga pilar, yakni perawat terlatih, peralatan akurat, dan upaya maksimal pasien. Ketika salah satu pilar goyah - misalnya pasien batuk, sesak, atau kurang memahami manuver - hasilnya bisa cacat secara teknis. Dan data yang cacat, jika dipaksakan ditafsirkan, bisa menyesatkan. Maka, mengulang adalah jalan terbaik. Mengabaikan hasil buruk, lalu memulai lagi di hari lain, adalah keputusan yang bijak.

Itulah yang dilakukan dua enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Sarimulyo, Kiki Antikawati Rustandi, S.Kep., dan Triana Rahmah, S.AB. 

Sejak pagi, mereka telah bersiap. Dibantu dua kader kesehatan setempat, Tri Nur Umala dan Siti Maesyaroh, mereka mengatur meja pendaftaran, memverifikasi data, dan memastikan setiap responden yang datang merasa diprioritaskan. 

Dokter RS Yasmin Banyuwangi periksa responden dengan menggunakan stetoskop

Undangan telah disebar beberapa hari sebelumnya. Bahkan, antar-jemput disiapkan bagi mereka yang membutuhkan. Tidak ada yang boleh tertinggal hanya karena jarak atau kesulitan transportasi.

Alur pemeriksaan hari itu sama persis dengan empat spirometri sebelumnya. Responden memulai dengan registrasi dan verifikasi data. Setelah itu, mereka menuju meja TTV (Tanda-Tanda Vital). Di sana, Perawat Tria Firnasari, A.Md.Kep., mengukur tekanan darah dan oksimetri. Di sampingnya, dr. Dewangga Sakti melakukan anamnesis menggunakan aplikasi SMARThealth dan pemeriksaan fisik dengan stetoskop. Semua dilakukan dengan tenang, teliti, dan penuh empati.

Usai TTV, responden duduk di kursi antrean. Sambil menunggu panggilan, enumerator Ana memanfaatkan waktu untuk mengajarkan teknik penyebulan - cara meniup udara yang benar, yang efektif, yang tidak membuang tenaga. 

Tes spirometri

Di meja spirometri, Perawat Meira Safira, A.Md.Kep., memandu manuver. Ns. Yusi Ayu Permatasari, S.Kep., mengoperasikan laptop yang terhubung dengan alat spirometri. Semua berada di bawah pengawasan Ns. Elik Anistina, S.Kep., yang dipercaya NIHR UB untuk mengawal jalannya tes.

Tes tahap pertama, atau pre-nebulisasi, dimulai. Responden meniup. Alat merekam. Kurva terbentuk. Setelah itu, mereka bergeser ke meja sebelah timur untuk mendapatkan nebulisasi. 

Di sana, Ns. Mahendra, S.Kep., menyiapkan nebulizer - alat yang mengubah obat cair menjadi uap halus yang dihirup langsung ke saluran pernapasan. Nebulisasi bukan sekadar terapi. Ia adalah upaya membuka jalan napas, memberikan kesempatan kedua bagi paru-paru untuk bekerja lebih baik.

Nebulisasi

Selesai nebulisasi, responden duduk sebentar. Lalu, dipanggil lagi untuk tes tahap kedua, atau post-nebulisasi. Prosedurnya sama. Yang berbeda hanya waktu dan kondisi paru-paru. 

Jika tes tahap kedua berjalan lancar, maka rangkaian pemeriksaan selesai. Responden kembali ke meja pendaftaran. Enumerator Kiki memberikan konsumsi, gift, dan subsidi transportasi, disaksikan oleh kader Tri Nur. Senyum pun merekah. Bukan karena hadiahnya, tetapi karena mereka telah menyelesaikan sesuatu yang penting bagi kesehatan mereka.

Pemeriksaan ulang spirometri perdana itu juga dihadiri oleh Rahmanurraudhotul Amin, SKM, yang ditunjuk Theme 1: Primary Healthcare Strengthening untuk melakukan observasi dengan checklist. 

Enumerator lakukan antar jemput responden

Acara selesai pukul 13.42 WIB. Dari 31 responden yang diundang, menurut catatan Field Facilitator NIHR UB, dua orang suami-istri tidak datang. Selain itu, seorang responden datang sebelum pukul 08.00 WIB, namun karena tim dari RS Yasmin baru tiba pukul 08.30 WIB, ia memilih pulang. Ia harus memperingati 1000 hari kematian istrinya. Tidak ada yang bisa menahan waktu, begitu pun dengan jadwal yang telah disusun.

Namun, dari lima catatan yang diberikan Ns. Elik, terdapat lima responden yang hasilnya kurang maksimal. Empat di antaranya memiliki riwayat sesak napas. Satu lagi sedang batuk. 

Kondisi-kondisi seperti inilah yang membuat spirometri tidak selalu bisa memberikan hasil sempurna dalam sekali coba. Batuk, sesak, kelelahan - semua bisa memengaruhi kualitas tiupan. Dan ketika hasilnya tidak memenuhi standar, mengulang adalah pilihan yang paling bertanggung jawab.

Field Facilitator NIHR UB diajak ngopi bareng sama Kamituwo di ruang tamu

Ada pepatah Sanskerta yang berbunyi: 

“Karena napas adalah kehidupan, maka jika Anda bernapas dengan baik, Anda akan berumur panjang di bumi.” 

Pepatah ini bukan sekadar kalimat puitis. Ia adalah pengingat bahwa napas adalah fondasi dari segala aktivitas manusia. Tanpa napas yang baik, tubuh melemah, pikiran kabur, dan hidup kehilangan kualitas. 

Spirometri, dengan segala kerumitannya, adalah alat untuk menjaga napas tetap terukur. Ia bukan sekadar tes, melainkan upaya untuk memastikan bahwa setiap tarikan dan embusan udara yang kita lakukan benar-benar menghidupkan.

Personel RS Yasmin yang baru pertama kali melakukan pemeriksaan di Desa Sarimulyo, berpose dengan Kamituwo Pandansari, enumerator baseline survey, pengawas tes spirometri, dan Field Facilitator NIHR UB

Di Desa Sarimulyo, pemeriksaan ulang spirometri bukanlah sekadar prosedur teknis. Ia adalah bentuk perhatian pada warga yang mungkin tidak pernah menyadari bahwa paru-paru mereka sedang berjuang. Ia adalah bukti bahwa kesehatan tidak pernah selesai hanya dengan satu kali pengukuran. 

Ada kalanya hasilnya tidak terbaca, ada kalanya responden harus kembali, ada kalanya waktu tidak berpihak. Namun selama masih ada kursi yang disiapkan, undangan yang disebar, dan napas yang masih mengalir, pemeriksaan ulang akan selalu punya tempat.

Karena pada akhirnya, napas yang baik adalah hak setiap orang. Dan mereka yang datang, duduk, meniup, dan menunggu - mereka adalah bukti bahwa kehidupan di desa kecil itu terus berdenyut, satu tarikan napas demi satu tarikan napas. *** [131026] 

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Senin, 12 Oktober 2026

Pamit yang Sopan: Seni Mengakhiri Tugas dengan Penuh Hormat

"Great is the art of beginning, but greater is the art of ending." -- Robert A. Heinlein

Pagi itu, Jalan Sriwijaya No. 13, Dusun Sumberjaya, Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, tampak berbeda. Bukan karena cuaca, bukan pula karena ada acara besar. Yang datang pagi itu hanyalah tiga orang muda dengan tas berwarna biru tua di tangan, ditemani seorang Field Facilitator NIHR Universitas Brawijaya (UB). Namun kedatangan mereka bukan untuk memulai sesuatu, melainkan untuk mengakhiri - dengan cara yang mungkin jarang terlihat di zaman yang serba tergesa ini, yaitu berpamitan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, berpamitan berasal dari kata dasar pamit, yang berarti permisi akan pergi, minta diri. Sederhana terdengar, tetapi maknanya dalam. Berpamitan adalah pengakuan bahwa kehadiran kita di suatu tempat pernah berarti, dan bahwa kepergian kita pun layak disampaikan dengan hormat. Inilah yang dilakukan Tim Enumerator Baseline Survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Wringinagung pagi itu.

Tiga enumerator - Muhammad Wisnu Nafiri, S.E.; Maharany Triastuti Januarizki, S.ST; dan Winda Cahyani, S.Tr.Gz.RD - datang didampingi Field Facilitator NIHR UB. Kedatangan mereka disambut Kamituwo Sumberjaya, Singgih Susilo, yang ternyata masih mengenal sang fasilitator dari diskusi supervisi malam di basecamp Wringinagung pada Rabu, 2 Juli 2025, saat Household Listing. Obrolan ringan pun terjalin, sebelum beberapa menit kemudian Kepala Desa (Kades) Kondang Suryaningrat, S.Hut., tiba di balai desa dan langsung menghampiri mereka.

Tim Enumerator Baseline Survey dengan didampingi Field Facilitator NIHR UB berpamitan dengan Kades Wringinagung beserta jajarannya di Ruang Kerja Kades

Kades Kondang lantas mengajak rombongan masuk ke ruang kerjanya. Di sana, ia memanggil Sekretaris Desa Priyantoko Yudi Prasetyo, serta para kamituwo: Moh. Kholid Iskandar (Sumberjo), Singgih Susilo (Sumberjaya), Jumadiyono Hendrokusumo (Glowong), dan Moh. Juhari (Jatisari). Ruang kerja itu seketika berubah menjadi semacam upacara kecil - bukan upacara formal dengan protokol, melainkan pertemuan hangat antara perangkat desa dan enumerator yang telah menyelesaikan tugasnya.

Enumerator Wisnu, mewakili rekan-rekannya, menyampaikan maksud kedatangan mereka. Tugas pengumpulan data dan pemeriksaan spirometri di Desa Wringinagung telah selesai pada Sabtu, 10 Oktober, atau dua hari yang lalu. Mereka datang untuk berpamitan, sekaligus memohon maaf bila selama menjalankan tugas ada hal yang kurang berkenan. Field Facilitator NIHR UB menambahkan, penelitian ini masih akan berlanjut tahun depan untuk mengunjungi ulang warga yang menjadi responden.

Kades Kondang menyambut baik. Ia mengapresiasi penelitian yang bersangkut paut dengan kesehatan warganya. Harapannya sederhana namun mendalam, yaitu semoga penelitian ini berlangsung lama, sehingga dapat membuka kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan dalam perubahan iklim yang sulit diprediksi sekarang.

Penyerahan secara simbolik "tas berwarna biru tua" dari enumerator kepada Kades

Momen itu ditutup dengan penyerahan kenang-kenangan dalam balutan tas berwarna biru tua dari Wisnu, disaksikan rekan enumerator lain, Field Facilitator NIHR UB, dan perangkat desa. Lalu, semua berpose bersama yang ditangkap lensa kamera ponsel, bukan kamera profesional. Justru di situlah kehangatannya terasa, yakni sederhana, apa adanya, namun tulus.

Ada peribahasa lama yang berbunyi, datang tampak muka, pergi tampak punggung. Artinya, ketika datang hendaknya memperkenalkan diri dengan baik, dan ketika pergi hendaknya juga memberi kabar dengan sopan. 

Tim enumerator ini telah menjalankan keduanya. Mereka datang dengan izin, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan pergi dengan pamit. Dalam dunia penelitian, hal seperti ini sering dianggap remeh. Padahal, di situlah etika sosial diuji! Bukan di laboratorium, bukan di kuesioner, melainkan di ruang kerja kepala desa, di hadapan orang-orang yang telah menerima mereka sebagai Tim Enumerator Baseline Survey NIHR-GHRC NCDs & EC.

Tim Enumerator Baseline Survey Wringinagung berpose dengan perangkat desa dengan "Salam Banyuwangi"

Robert A. Heinlein dalam The Notebooks of Lazarus Long (1978), pernah berkata:

"Hebatlah seni memulai, namun lebih hebat lagi seni mengakhiri."

Memulai tugas itu biasa. Menyelesaikannya dengan rapi juga kewajiban. Namun mengakhirinya dengan pamit, dengan terima kasih, dengan permohonan maaf, dan dengan kenang-kenangan kecil - itu luar biasa. Sebab di situ ada kesadaran bahwa manusia bukan sekadar pelaksana tugas, melainkan makhluk sosial yang terikat oleh adab.

Pagi itu, di Desa Wringinagung, tiga enumerator muda telah menutup babak tugas mereka. Bukan dengan kata "selesai" yang dingin, melainkan dengan "pamit" yang hangat. Dan mungkin, itulah warisan kecil yang mereka tinggalkan - bukan hanya data dan angka, tetapi juga contoh bahwa mengakhiri sesuatu dengan hormat adalah bagian dari pekerjaan itu sendiri. *** [121026] 

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Risk Checker

Risk Checker

Statistik Blog

Sahabat eKader

Label

Arsip Blog