Rabu, 21 Oktober 2026

Mengulang Napas, Menjaga Akurasi: Kisah Pemeriksaan Ulang Spirometri Keempat di Desa Sarimulyo

“Breathing involves a continual oscillation between exhaling and inhaling, offering ourselves to the world at one moment and drawing the world into ourselves at the next.” -- David Abram

Di balik angka-angka yang belum terbaca, ada napas yang perlu didengarkan kembali. Di Desa Sarimulyo, pemeriksaan ulang spirometri menjadi ikhtiar untuk memastikan setiap pengukuran fungsi paru memberikan gambaran yang lebih akurat tentang kesehatan warga.

Pukul 08.17 WIB, Senin (19/10), aktivitas pemeriksaan kesehatan mulai bergerak di rumah Kepala Dusun Sempu, Muhammad Hudhori, yang beralamat di Dusun Sempu RT 03 RW 02, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi. Sejumlah warga datang memenuhi undangan untuk menjalani pemeriksaan ulang spirometri. 

Bagi mereka, ini bukan kali pertama berhadapan dengan alat pengukur fungsi paru. Namun, ada satu hal yang membuat pemeriksaan kali ini penting, yaitu memastikan hasil yang sebelumnya belum terbaca dapat diupayakan kembali dengan lebih baik.

Personel RS Yasmin Banyuwangi berpose dengan enumerator baseline survey dan kader kesehatan setempat

Kegiatan ini merupakan pemeriksaan ulang spirometri keempat, hasil kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi dalam rangkaian baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmnetal Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) di Desa Sarimulyo. 

Sebelumnya, enam sesi pemeriksaan spirometri telah dilaksanakan untuk menjangkau 151 responden yang terindikasi memiliki faktor risiko penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) berdasarkan hasil pre-screening. Dalam pelaksanaannya, sejumlah responden perlu menjalani pemeriksaan kembali karena rekaman spirometri sebelumnya tidak dapat dibaca (unreadable).

Mengulang pemeriksaan bukan sekadar mengulang prosedur. Dalam spirometri, kualitas hasil bergantung pada keterampilan petugas, ketepatan peralatan, serta kemampuan dan upaya maksimal orang yang diperiksa. Rekaman dengan kurva buruk atau nilai yang tidak konsisten tidak semestinya dipaksakan untuk ditafsirkan. 

Pemeriksaan ulang menjadi kesempatan memperoleh data yang lebih layak, sementara hasil yang masih dapat digunakan harus tetap disertai catatan keterbatasan teknis dan interpretasi yang hati-hati.

Tes spirometri

Dari meja pendaftaran hingga tarikan napas

Sejak beberapa hari sebelumnya, dua enumerator baseline survey, Kiki Antikawati Rustandi, S.Kep., dan Triana Rahmah, S.AB., telah mengundang 28 responden untuk hadir. Keduanya dibantu kader kesehatan setempat, Ruruh Aristin dan Tri Nur Umala, yang turut menyebarkan undangan serta mengantar-jemput warga yang membutuhkan bantuan transportasi.

Alur pemeriksaan disusun sebagaimana sesi-sesi sebelumnya. Mula-mula, responden melakukan registrasi dan verifikasi data di meja pendaftaran, dilayani Kiki bersama kader. Berikutnya, mereka menuju meja tanda-tanda vital (TTV). Perawat Meira Safira S., A.Md.Kep., mengukur tekanan darah dan saturasi oksigen, sedangkan dr. Nimas Eka Firdaningrum melakukan anamnesis melalui lembar data serta pemeriksaan fisik menggunakan stetoskop.

Sambil menunggu giliran, responden memperoleh penjelasan teknik meniupkan napas melalui alat spirometri dari enumerator Triana Rahmah, yang akrab disapa Ana. Tahap ini penting karena hasil pemeriksaan tidak hanya bergantung pada alat, tetapi juga pada cara seseorang melakukan manuver pernapasan sesuai instruksi petugas.

Di meja spirometri, Perawat Imelda memandu responden melakukan manuver dengan bantuan Ns. Rizki Indrawangi, S.Kep., yang mengoperasikan laptop terhubung ke alat. Ns. Elik Anistina, S.Kep., turut mengawasi jalannya pemeriksaan sebagai pendamping NIHR UB.

Pemeriksaan berlangsung dalam dua tahap. Pertama, responden menjalani spirometri sebelum nebulisasi (pre-nebulisasi). Setelah itu, mereka berpindah ke meja di sebelah selatan untuk menjalani nebulisasi bersama Perawat Tria Firnasari, A.Md.Kep. Prosedur ini menggunakan nebulizer untuk mengubah obat cair menjadi kabut halus yang dihirup melalui saluran pernapasan.

Usai nebulisasi, responden kembali menunggu giliran untuk menjalani spirometri tahap kedua (post-nebulisasi). Prosedurnya serupa dengan tahap pertama, tetapi dilakukan setelah pemberian terapi inhalasi. Setelah seluruh rangkaian selesai, responden kembali ke meja pendaftaran untuk menerima konsumsi, hadiah, dan subsidi transportasi.

Nebulisasi

Ketika angka bertemu dengan kondisi tubuh

Dari 28 orang yang diundang, pemeriksaan hari itu berhasil menjangkau 29 responden. Sebanyak 26 orang berasal dari daftar undangan awal. Ketika dua responden berhalangan hadir karena sakit, enumerator berupaya mencari pengganti dengan menjemput warga yang telah dijadwalkan ulang hari esoknya. Menjelang penutupan, seorang perempuan yang juga menjadi sasaran pemeriksaan datang atas inisiatif sendiri dan langsung dilayani.

Meski demikian, pemeriksaan tidak selalu menghasilkan rekaman yang optimal. Menurut catatan Ns. Elik, terdapat lima responden yang hasilnya kurang maksimal karena kondisi kesehatan dan riwayat medis masing-masing. 

Di antaranya, seorang laki-laki berusia 79 tahun dengan riwayat sesak dalam sebulan terakhir yang menjalani pengobatan di rumah; laki-laki berusia 46 tahun dengan riwayat sesak napas yang tidak bersedia mengonsumsi obat; serta laki-laki berusia 80 tahun yang mengalami napas pendek dan memiliki riwayat jatuh hingga tidak dapat berjalan.

Dua responden lainnya ialah laki-laki berusia 45 tahun yang memiliki riwayat tuberkulosis (TB) dan baru menyelesaikan pengobatan dua minggu sebelumnya, serta perempuan berusia 59 tahun dengan riwayat asma yang menggunakan obat semprot. Kondisi-kondisi tersebut menjadi catatan penting dalam memahami keterbatasan hasil pemeriksaan, tanpa serta-merta menyimpulkan diagnosis hanya dari satu sesi spirometri.

Sebuah kolaborasi elok antara enumerator dan keluarga responden dalam menghadirkan di pemeriksaan ulang spirometri keempat dengan menggotong dalam pemeriksaan maupun antar jemput 

Kegiatan yang turut dihadiri Rahmanurraudhotul Amin, SKM, sebagai observer Theme 1: Primary Healthcare Strengthening, dengan menggunakan daftar tilik observasi, berakhir pukul 13.47 WIB. Lebih dari sekadar menyelesaikan daftar nama, pemeriksaan hari itu memperlihatkan bahwa pengumpulan data kesehatan membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan pemahaman terhadap keadaan setiap individu.

David Abram, seorang filsuf, ekolog budaya, dan seniman pertunjukan asal Amerika, yang dikenal luas karena karyanya dalam menjembatani tradisi filosofis fenomenologi dengan isu-isu lingkungan dan ekologi, pernah berujar:

“Bernapas melibatkan ayunan berkelanjutan antara mengembuskan dan menghirup napas; pada satu saat kita menyerahkan diri kepada dunia, dan pada saat berikutnya kita menarik dunia ke dalam diri kita.”

Di Sarimulyo, ayunan napas itu hadir dalam bentuk yang sangat nyata, yaitu tarikan yang diupayakan, embusan yang diulang, dan angka yang kembali diperiksa. Sebab, di balik setiap kurva spirometri, ada manusia dengan kondisi tubuh dan pengalaman kesehatannya sendiri. 

Memastikan hasil pemeriksaan terbaca dengan baik bukan semata urusan teknis, melainkan bagian dari ikhtiar menghadirkan data yang lebih bermakna bagi upaya memahami dan memperkuat kesehatan masyarakat. *** [211026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Senin, 19 Oktober 2026

Napas yang Tak Bisa Dibaca, Kesabaran yang Repetisi: Pemeriksaan Ulang Spirometri Ketiga di Sarimulyo

“In this way, the breath is like a mirror that shows you the state you are in.” -- Wim Hof

Ada kalanya tubuh berbicara terlalu pelan untuk didengar. Pada Sabtu (17/10), di sebuah rumah kader Siti Badriya di Dusun Cempokosari RT 02 RW 03, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, sekumpulan orang berkumpul bukan untuk sebuah perayaan, melainkan untuk sebuah pengulangan. Spirometri ketiga. Sebuah kata yang terdengar teknis, tetapi menyimpan cerita tentang kesabaran, kerja keras, dan napas yang belum mau bekerja sama.

Spirometri adalah pemeriksaan fungsi paru yang mengandalkan tiga hal, yaitu perawat terlatih, peralatan akurat, dan upaya maksimal pasien. Ketika salah satu dari tiga pilar itu goyah, hasilnya bisa menjadi “tidak dapat dibaca” (unreadable). Bukan karena paru-paru pasien pasti bermasalah, melainkan karena kurva yang buruk, nilai yang tidak konsisten, atau teknik yang kurang tepat. 

Personel RS Yasmin Banyuwangi berpose dengan enumerator baseline survey dan kader kesehatan setempat

Dalam praktik standar, hasil semacam itu tidak ditafsirkan. Ia diabaikan, lalu diulang pada hari lain. Sebab, menafsirkan data yang tidak memenuhi standar sama saja membaca cermin yang retak.

Desa Sarimulyo telah melewati lima pemeriksaan spirometri sebelumnya - 25 Juli, 14 Agustus, 15 Agustus, 21 Agustus, lalu spirometri ulang pertama pada 12 Oktober dan kedua pada 14 Oktober. 

Dari 151 target responden hasil pre-screening yang terindikasi faktor risiko PPOK, beberapa di antaranya harus kembali lagi karena hasil sebelumnya tak terbaca. Maka, dijadwalkanlah pemeriksaan ulang ketiga. 

Undangan disebar beberapa hari sebelumnya, meminta 29 responden untuk hadir. Tiga kader kesehatan setempat - Siti Bariya, Malikatun Nikmah, dan Kiki Wahyuni - bergerak sejak jauh hari, menyebarkan undangan dan menjemput mereka yang membutuhkan tumpangan.

Meja pendaftaran: registrasi dan verifikasi data responden

Pagi itu, alur pemeriksaan berjalan persis seperti sebelumnya. Responden registrasi dan verifikasi data di meja pendaftaran, dilayani enumerator Kiki Antikawati Rustandi, S.Kep. dan kader. 

Lalu ke meja TTV, tempat Perawat Khusnul Hotimah, A.Md.Kep. mengukur tekanan darah dan oksimetri, sementara dr. Handri Irawan, MMRS di sampingnya melakukan anamnesis dengan spreadsheet dan pemeriksaan fisik dengan stetoskop. 

Usai TTV, responden duduk di tikar antrean, menunggu panggilan meja spirometri. Sambil menunggu, enumerator Triana Rahmah, S.AB memanfaatkan waktu untuk mengajarkan teknik penyebulan - sebuah detail kecil yang menentukan kualitas hasil.

Begitu dipanggil, responden menuju meja spirometri. Di sana, Perawat Yenni Rachmawati, A.Md.Kep. memandu manuver, dibantu Ns. Yusi Ayu Permatasari, S.Kep. yang mengoperasikan laptop terhubung alat spirometri, di bawah pengawasan Ns. Elik Anistina, S.Kep. yang mengawal tes untuk NIHR UB. 

Tes spirometri

Selesai tes tahap pertama atau pre-nebulisasi, responden bergeser ke meja sebelah selatan untuk nebulisasi - terapi inhalasi yang mengubah obat cair menjadi uap halus yang dihirup langsung ke saluran pernapasan - ditangani Ns. Ach. Zaenal Arifin, S.Kep.

Setelah jeda singkat, responden dipanggil lagi untuk tes tahap kedua atau post-nebulisasi. Bila lancar, rangkaian selesai, dan responden disarankan kembali ke meja pendaftaran, menerima konsumsi, gift, dan subsidi transportasi dari tiga kader, disaksikan enumerator.

Pemeriksaan ulang ketiga ini juga dihadiri Rahmanurraudhotul Amin, SKM, yang ditunjuk Theme 1: Primary Healthcare Strengthening untuk observasi jalannya spirometri dengan checklist, serta Kamituwo Cempokosari, Rudi Hartoyo, S.E. 

Nebulisasi

Rangkaian berakhir pukul 14.56 WIB. Dari 29 responden yang diundang, berdasarkan catatan Field Facilitator NIHR UB, berhasil diperiksa sebanyak 29 orang. Angka yang tampak sempurna - terlalu sempurna, mungkin, untuk sebuah hari yang penuh liku. Sebab di balik angka itu, ada tujuh responden reschedule yang menjadi substitusi. 

Tujuh undangan yang tak hadir digantikan oleh tujuh responden yang sedianya dijadwalkan besoknya. Enumerator Ana, dibantu Rahmanurraudhotul Amin, mondar-mandir menjemput mereka, memajukan jadwal, dan kebetulan mereka bersedia. Cara cerdas, kerja keras, dan tuntas - begitulah Field Facilitator NIHR UB melihatnya. Target tak dibiarkan kosong; ia diisi dengan langkah kaki dan pendekatan personal.

Namun, tidak semua napas bisa dipaksa menjadi kurva yang sempurna. Dari konfirmasi kepada dua perawat di meja spirometri, terdapat hasil pengukuran yang kurang maksimal. Satu orang ogah-ogahan mengikuti instruksi manuver; satu lansia tak bisa mengikuti aba-aba karena kognitifnya mulai menurun; satu lagi tampak setengah hati. Di sinilah spirometri menunjukkan sisi manusianya; ia bukan sekadar alat dan angka, melainkan pertemuan antara teknologi dan kerelaan tubuh untuk berusaha maksimal.

"Antar jemput responden" oleh enumerator, sebuah variabel bagi kecukupan target pemeriksaan

Maka kembalilah kita pada kata-kata Wim Hof, motivator dan atlet ekstrem asal Belanda yang dikenal karena kemampuannya untuk bertahan dalam suhu rendah (The Iceman):

“Dengan cara ini, napas ibarat cermin yang memperlihatkan kondisi diri Anda saat ini.”

Di Desa Sarimulyo, cermin itu sempat buram - kurva buruk, nilai tak konsisten, hasil tak terbaca. Tetapi alih-alih memaksakan tafsir, peneliti NIHR UB memilih mengulang dengan undangan, jemputan, dan kesabaran dari enumerator baseline survey dan kader kesehatan setempat.

Sebab napas yang belum bisa dibaca bukanlah kegagalan, melainkan ajakan untuk mencoba lagi - dengan teknik yang lebih baik, alat yang terawat, dan upaya yang sungguh-sungguh. Di dusun itu, pada Sabtu siang yang panjang, 29 orang telah meniupkan napasnya ke dalam “cermin”. Dan “cermin” itu, perlahan, mulai jernih. *** [191026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Minggu, 18 Oktober 2026

Mengukur Irama Napas, Menjaga Harapan: Pemeriksaan Spirometri Keenam di Desa Tamanagung

“You just took a breath. You're about to take another. Inhale, then exhale, then another inhale. In and out. There's a rhythm to your breathing. It's the same with nature.” -- Rob Bell, How to Be Here: A Guide to Creating a Life Worth Living

Di balik tarikan dan embusan napas yang kerap dianggap biasa, tersimpan petunjuk penting tentang kesehatan paru-paru. Sabtu pagi itu, di Pendopo Desa Tamanagung, puluhan warga kembali menjalani pemeriksaan spirometri untuk mengenali risiko penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) sejak dini.

“Anda baru saja menarik napas. Anda akan menarik napas lagi. Tarik napas, lalu embuskan, kemudian tarik napas lagi. Masuk dan keluar. Ada irama dalam napas Anda. Begitu pula dengan alam.” 

Kalimat Rob Bell tersebut mengingatkan kita bahwa bernapas merupakan ritme alami kehidupan. Namun, di balik proses yang berlangsung tanpa disadari itu, kondisi paru-paru seseorang tidak selalu baik-baik saja. Karena itulah, mengukur kemampuan paru-paru menjadi langkah penting untuk mengenali gangguan pernapasan.

Meja 1: registrasi dan verifikasi data

Pada Sabtu (17/10) pagi, Pendopo Desa Tamanagung yang beralamat di Jalan Sraten No. 07, Dusun Krajan, RT 02 RW 04, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, kembali menjadi tempat pelaksanaan pemeriksaan spirometri. Kegiatan keenam ini merupakan kolaborasi antara NIHR Universitas Brawijaya (NIHR UB) dan Rumah Sakit Nahdlkatul Ulama (RS NU) Banyuwangi sebagai bagian dari upaya mengidentifikasi faktor risiko PPOK melalui pemeriksaan lanjutan terhadap warga yang telah menjalani pre-screening.

Tiga enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC), yakni Fahmi Ahmad Fauzan, S.Sos., Dysa Fitri Permatasari, S.Tr.Kes., M.Kes., dan Nisaul Rofifah, S.Gz., kembali hadir untuk mendampingi pelaksanaan kegiatan. 

Mereka juga dibantu tiga kader kesehatan setempat, Ade Fitria Ningsih, Luckyta Anjarsari, dan Ninik Suriani. Sejak dua hari sebelumnya, para kader telah membantu menyampaikan undangan kepada 35 warga yang terindikasi memiliki faktor risiko PPOK.

Meja 2: TTV

Empat meja, satu tujuan

Pemeriksaan dimulai pukul 08.00 WIB dengan alur yang dirancang agar setiap responden menjalani tahapan secara teratur. Meja pertama menjadi titik awal perjalanan mereka. Di sana, Ade Fitria Ningsih, Ninik Suriani, dan enumerator Nisaul Rofifah melakukan registrasi sekaligus memverifikasi data responden.

Setelah mendaftar, warga menunggu giliran di bangku antrean. Sembari menunggu, Fahmi Ahmad Fauzan memberikan arahan mengenai teknik meniupkan udara yang benar saat pemeriksaan spirometri. Persiapan ini penting karena hasil pengukuran tidak hanya bergantung pada alat, tetapi juga pada kemampuan responden mengikuti instruksi dengan tepat.

Dari meja pendaftaran, responden kemudian dipanggil menuju meja kedua, yakni meja pemeriksaan tanda-tanda vital (TTV). Perawat Dwi Warsa, S.Kep.Ns., mengukur berat badan, tekanan darah, dan saturasi oksigen menggunakan oksimeter. Selanjutnya, Perawat Joenhiga, S.Kep.Ns., melakukan anamnesis melalui aplikasi SMARThealth untuk menggali informasi kesehatan responden.

Tahap berikutnya berlangsung di meja ketiga, tempat pemeriksaan spirometri dilakukan. Perawat Marni Erlina, S.Kep.Ns., memandu manuver spirometri tahap pertama atau pre-bronchodilator, dengan bantuan Perawat Agnes, S.Kep.Ns., yang mengoperasikan alat MIR SpiroLab milik NIHR UB. Proses tersebut juga disaksikan Ns. Elik Anistina, S.Kep., yang membantu mengawasi pelaksanaan pemeriksaan.

Spirometri merupakan pemeriksaan fungsi paru-paru yang mengukur volume udara yang dapat dihirup dan diembuskan secara maksimal. Untuk memperoleh hasil yang dapat dipercaya, pemeriksaan dilakukan melalui manuver berulang dengan teknik yang valid dan hasil yang dapat direproduksi. Umumnya, diperlukan sedikitnya tiga manuver yang memenuhi kriteria kualitas; jika hasilnya belum konsisten, pemeriksaan dapat diulang hingga batas yang ditentukan dalam protokol.

Usai tahap pertama, responden menerima semprotan salbutamol, kemudian beristirahat selama 20 menit. Obat ini membantu melebarkan saluran pernapasan sehingga perubahan fungsi paru-paru dapat dinilai. 

Setelah masa tunggu selesai, responden menjalani pemeriksaan tahap kedua atau post-bronchodilator dengan prosedur serupa. Perbandingan kedua hasil tersebut membantu tenaga kesehatan menilai respons saluran pernapasan terhadap obat.

Tes spirometri

Kendala di tengah pemeriksaan

Pelaksanaan kali ini tidak sepenuhnya berjalan mulus. Alat spirometri MIR SpiroLab sempat tertinggal di RS NU Banyuwangi sehingga petugas harus menunggu sopir mengambilnya. Ketika pemeriksaan hendak dimulai, kendala lain muncul, yakni tinta alat telah habis.

Agar kegiatan tetap berlanjut, Rahmanurraudhotul Amin, SKM, meminjam alat MIR SpiroLab lain milik tenaga kesehatan RS Yasmin yang saat itu sedang melaksanakan pemeriksaan ulang spirometri ketiga di Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring. Di tengah keterbatasan tersebut, koordinasi antarpihak menjadi kunci agar warga tetap dapat memperoleh layanan pemeriksaan.

Rahmanurraudhotul Amin, yang ditugaskan oleh Theme 1: Primary Healthcare Strengthening, juga melakukan observasi terhadap jalannya kegiatan menggunakan daftar tilik (checklist). Kehadirannya menjadi bagian dari pemantauan proses pelayanan, selain memastikan setiap tahapan pemeriksaan dapat diamati secara sistematis.

Setelah menyelesaikan kedua tahap spirometri, responden diarahkan ke meja keempat. Di sana, enumerator Dysa Fitri Permatasari bersama kader Ade Fitria Ningsih memberikan konsumsi, vitamin, dan subsidi transportasi sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi warga.

Meja 4: apresiasi atas berpartisipasinya responden dalam pemeriksaan spirometri

Napas yang layak diperhatikan

Pemeriksaan berakhir pada pukul 13.07 WIB. Berdasarkan catatan Field Facilitator NIHR UB, sebanyak 34 dari 35 warga yang diundang hadir, sementara satu orang tidak datang karena dihubungi berkali-kali tidak ada jawaban.

Ns. Elik Anistina menyampaikan bahwa terdapat empat hasil pemeriksaan yang memerlukan perhatian. Dua responden perempuan lanjut usia menunjukkan hasil yang kurang maksimal: seorang memiliki riwayat tuberkulosis dan masih menjalani pengobatan, sedangkan seorang lainnya memiliki riwayat asma tetapi tidak bersedia berobat. Sementara itu, dua responden laki-laki menunjukkan hasil yang baik meskipun memiliki riwayat penyakit penyerta, termasuk gangguan jantung, stroke, gangguan hati, dan PPOK.

Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa riwayat penyakit dan hasil pemeriksaan perlu dipahami bersama oleh tenaga kesehatan. Hasil spirometri bukanlah diagnosis tunggal, melainkan salah satu dasar untuk menentukan tindak lanjut yang sesuai.

Di Pendopo Desa Tamanagung, pemeriksaan keenam ini bukan sekadar urusan menarik dan mengembuskan udara melalui sebuah alat. Ada upaya untuk memahami kondisi paru-paru, mengenali risiko lebih awal, dan mendorong warga agar lebih peduli terhadap kesehatan pernapasannya.

Seperti irama napas yang terus berulang, upaya menjaga kesehatan membutuhkan perhatian yang berkelanjutan. Sebab, napas yang terasa biasa hari ini tetap layak diperiksa, dipahami, dan dijaga untuk hari esok. *** [181026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Sabtu, 17 Oktober 2026

Menjaga Napas Sebelum Ia Menjadi Keluhan: Pemeriksaan Spirometri Kelima di Tamanagung

“Breath is breath.” -- Lailah Gifty Akita

Jumat (16/10) pagi, udara di Pendopo Desa Tamanagung belum terasa panas. Namun, di balik meja-meja yang tersusun rapi, ada pekerjaan yang menuntut ketelitian, yaitu mendengarkan napas warga, mengukurnya, lalu menerjemahkannya menjadi data yang dapat menyelamatkan masa depan kesehatan mereka.

“Napas adalah napas.” — Lailah Gifty Akita

Kalimat sederhana itu terasa sangat dekat di ruang pemeriksaan spirometri kelima yang digelar kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya dan Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RS NU) Banyuwangi. Sebab, bagi sebagian warga yang datang, napas bukan sekadar gerakan dada yang berulang. Napas adalah kemampuan berjalan tanpa berhenti, bekerja tanpa terengah, dan tidur tanpa rasa sesak.

Kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB di Pendopo Desa Tamanagung, Jalan Sraten No. 07, Dusun Krajan RT 02 RW 04, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi. Sebanyak 25 warga hasil pre-screening diundang karena terindikasi memiliki faktor risiko penyakit paru obstruktif kronik atau PPOK. Dari jumlah tersebut, 23 orang hadir; dua lainnya tidak dapat hadir karena sedang bekerja dan tidak ditemukan di rumah saat dijemput.

Suasana pemeriksaan spirometeri kelima di Pendopo Desa Tamanagung

Rangkaian yang Terencana

Pemeriksaan ini adalah pemeriksaan spirometri kelima di Desa Tamanagung. Tiga enumerator baseline survey NIHR-GHRC NCDs & EC - Fahmi Ahmad Fauzan, S.Sos.; Dysa Fitri Permatasari, S.Tr.Kes., M.Kes.; dan Nisaul Rofifah, S.Gz. - kembali menuntun proses dari awal hingga akhir.

Mobilisasi warga tidak berlangsung begitu saja. Tiga kader kesehatan setempat, Ade Fitria Ningsih, Ninik Suriani, dan Ratna Mujayanah, telah membantu menyebarkan undangan dua hari sebelum pelaksanaan. Pada hari-H, mereka kembali hadir dan memastikan warga sampai ke pendopo.

Alur pemeriksaan berjalan seperti sungai kecil yang tenang: responden masuk dari satu meja, menunggu sebentar, lalu bergerak ke meja berikutnya. Di balik kesederhanaan itu, setiap tahapan memiliki fungsi penting.

Di meja pertama, Ade Fitria Ningsih, Ninik Suriani, dan Ratna Mujayanah melakukan registrasi serta verifikasi data responden. Setelah itu, warga dipersilakan duduk di bangku antrean. Sambil menunggu, enumerator Fahmi Ahmad Fauzan memberikan penjelasan teknik menyembur atau meniup ke alat spirometri.

Panggilan pertama datang dari meja tanda-tanda vital. Bidan Muqodimah, A.Md.Keb., menimbang berat badan, mengukur tekanan darah, dan melakukan oksimetri. Selanjutnya, Perawat Siti Nur Indah, S.Kep., Ns., melakukan anamnesis melalui aplikasi SMARThealth.

Meja 2: penimbangan berat badan, pengukuran tekanan darah, oksimetri, dan anamnesis

Saat Napas Diukur

Meja ketiga menjadi jantung kegiatan. Di sanalah napas warga benar-benar diukur. Perawat Joenhiga, S.Kep., Ns., memimpin manuver spirometri tahap pertama atau pre-semprotan salbutamol. Ia dibantu Perawat Dwi Warsa, S.Kep., Ns., yang mengoperasikan alat MIR SpiroLab milik NIHR UB. Responden diminta menarik napas sedalam mungkin, lalu mengembuskan udara dengan kuat dan tahan ke dalam alat.

Spirometri merupakan pemeriksaan fisiologis untuk menilai fungsi paru melalui ukuran objektif: berapa banyak udara maksimal yang dapat dihirup dan diembuskan seseorang. Tes yang memenuhi syarat umumnya dilakukan minimal tiga kali dengan hasil yang valid dan dapat direproduksi untuk menentukan forced vital capacity atau FVC. Bila hasilnya belum memenuhi kriteria, pemeriksaan dapat diulang hingga delapan kali.

Setelah tahap pertama, responden menerima semprotan salbutamol, lalu beristirahat selama 20 menit sebelum menjalani spirometri tahap kedua atau post-semprotan salbutamol. Pengukuran sebelum dan sesudah bronkodilator seperti salbutamol digunakan untuk menilai adanya obstruksi jalan napas serta memperkuat penilaian PPOK.

Seluruh proses di meja spirometri diawasi langsung oleh Ns. Elik Anistina, S.Kep., yang membantu NIHR UB dalam pengawasan kualitas tes. Kehadirannya menegaskan bahwa spirometri bukan sekadar meminta warga meniup alat; ia menuntut teknik yang benar, hasil yang konsisten, dan penilaian yang hati-hati.

Tes spirometri

Ketika Data Bertemu Cerita

Tidak semua napas mudah diukur. Berdasarkan informasi dari Ns. Elik, terdapat delapan laporan hasil yang perlu perhatian. Tujuh responden memiliki hasil spirometri yang kurang maksimal. Beberapa di antaranya memiliki riwayat penyakit jantung dan baru selesai pengobatan TBC; ada pula yang memiliki riwayat TBC disertai sesak napas, riwayat asma dan sesak napas, serta riwayat hipertensi dan usia lanjut.

Ada satu perempuan paruh baya yang sejak spirometri tahap pertama sudah menunjukkan hasil kurang maksimal. Ia memiliki riwayat sesak napas dan sakit lambung. Baru sekali mencoba meniup ke alat, air matanya jatuh. Momen itu mengingatkan bahwa di balik angka dan grafik, ada tubuh yang lelah, ketakutan yang tidak selalu terucap, serta pengalaman sakit yang membentuk cara seseorang bernapas.

Namun, ada pula cerita yang menenangkan. Seorang laki-laki paruh baya dengan riwayat jantung dan asma justru memperoleh hasil spirometri yang baik. Baginya, pemeriksaan itu menjadi bentuk penghargaan terhadap napas yang selama ini ia rawat dengan hati-hati.

Meja 4: apresiasi atas partisipasi responden dalam pemeriksaan spirometri

Lebih dari Sekadar Pemeriksaan

Setelah menyelesaikan rangkaian tes, responden menuju meja keempat atau meja apresiasi partisipasi. Enumerator Nisaul Rofifah dan Dysa Fitri Permatasari memberikan konsumsi, vitamin, dan subsidi transportasi. Bentuk apresiasi sederhana, tetapi bermakna bahwa kehadiran warga bukan hanya diharapkan, melainkan juga dihargai.

Kegiatan ini juga dihadiri Rahmanurraudhotul Amin, SKM., yang ditunjuk Theme 1: Primary Healthcare Strengthening untuk melakukan observasi prosesi menggunakan checklist. Kehadiran pengamat menunjukkan bahwa kegiatan ini bukan hanya layanan sesaat, melainkan bagian dari upaya memperkuat sistem pelayanan kesehatan primer di tingkat desa.

Pemeriksaan berakhir pukul 12.54 WIB. Hampir lima jam, pendopo Tamanagung berubah menjadi ruang belajar tentang napas: bagaimana napas diukur, bagaimana gangguan pernapasan dikenali, dan bagaimana masyarakat dapat dilibatkan dalam pencegahan PPOK sejak dini.

Di akhir kegiatan, yang dibawa pulang warga bukan hanya konsumsi, vitamin, atau subsidi transportasi. Ada pula kesadaran bahwa napas layak diperhatikan sebelum ia menjadi keluhan. Karena pada akhirnya, seperti kata Lailah Gifty Akita, “Napas adalah napas” - dan menjaganya berarti menjaga kesempatan untuk hidup lebih sehat. *** [171026] 

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Kamis, 15 Oktober 2026

Mengulang Hembusan, Menjaga Harapan: Pemeriksaan Ulang Spirometri Kedua di Desa Sarimulyo

"Learn how to exhale, the inhale will take care of itself." -- Carla Melucci Ardito

Ada kalanya satu kali hembusan napas belum cukup untuk mengungkap kondisi paru-paru seseorang. Bukan karena tubuh tak mampu bekerja sama, melainkan karena pemeriksaan membutuhkan teknik yang tepat, usaha maksimal, dan hasil pengukuran yang memenuhi standar. Di sinilah pemeriksaan ulang menjadi penting, yaitu memberi kesempatan kedua untuk memperoleh gambaran fungsi paru yang lebih akurat.

Semangat itulah yang mewarnai pemeriksaan ulang spirometri kedua di Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, pada Rabu (14/10). Bertempat di Rumah Kader Siti Bariya, Dusun Cempokosari RT 02 RW 03, kegiatan ini merupakan kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi dalam rangkaian baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC).

Kunjungan dr. Harun dalam pemeriksaan ulang spirometri kedua di Dusun Cempokosari, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi


Ketika Hembusan Belum Memberikan Jawaban

Spirometri bukan sekadar meniup alat, lalu memperoleh angka di layar. Pemeriksaan ini mengukur fungsi paru melalui pola udara yang diembuskan seseorang. Karena itu, kualitas hasilnya bergantung pada tiga unsur yang saling berkaitan, meliputi keterampilan petugas, ketepatan peralatan, dan upaya maksimal peserta pemeriksaan.

Apabila rekaman sebelumnya tidak dapat dibaca (unreadable), tidak valid, atau tidak memenuhi kriteria kualitas, pemeriksaan ulang diperlukan. Hasil yang cacat secara teknis tidak semestinya dipaksakan untuk ditafsirkan. Sebaliknya, pengukuran perlu diulang agar gambaran fungsi paru yang diperoleh lebih dapat diandalkan.

Di Sarimulyo, pemeriksaan ini bukan kali pertama dilakukan. Sebelumnya, spirometri telah diselenggarakan lima kali, yakni pada 25 Juli, 14 Agustus, 15 Agustus, dan 21 Agustus serta 12 Oktober. Dari 151 target responden hasil pre-screening yang terindikasi memiliki faktor risiko penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), beberapa di antaranya memerlukan pemeriksaan ulang karena hasil sebelumnya belum terbaca dengan baik.

Setelah pemeriksaan ulang pertama pada Senin (12/10), tim kembali menjadwalkan pemeriksaan ulang kedua. Dua enumerator baseline survey, Kiki Antikawati Rustandi, S.Kep. dan Triana Rahmah, S.AB., mengoordinasikan kegiatan tersebut dengan mengundang 30 responden.

Suasana pemeriksaan ulang spirometri kedua, tampak dr. Harun berdiskusi dengan Kades Sarimulyo di teras depan

Dari Meja Pendaftaran hingga Hembusan Kedua

Sejak awal, alur pemeriksaan disusun seperti rangkaian yang saling terhubung. Di meja pendaftaran, Kiki bersama kader kesehatan membantu registrasi dan verifikasi data. Selanjutnya, responden menjalani pemeriksaan tanda-tanda vital (TTV), meliputi pengukuran tekanan darah dan saturasi oksigen oleh Perawat Annisa Fitriya, A.Md.Kep.

Di meja yang sama, dr. Sofia Intani melakukan anamnesis menggunakan aplikasi SMARThealth serta pemeriksaan fisik dengan stetoskop. Setelah itu, responden menunggu giliran sambil menerima penjelasan mengenai teknik meniup alat spirometri dari enumerator Triana.

Pembekalan ini menjadi bagian penting. Sebab, hasil pengukuran tidak hanya ditentukan oleh alat, tetapi juga kemampuan responden mengikuti instruksi dengan benar.

Ketika namanya dipanggil, responden menuju meja spirometri. Ns. Prisilia Rosa A., S.Kep., memandu pelaksanaan manuver pemeriksaan, dibantu Ns. Yusi Ayu Permatasari, S.Kep., yang mengoperasikan laptop terhubung dengan alat spirometri. Proses tersebut berada di bawah pengawasan Ns. Elik Anistina, S.Kep., yang turut mengawal pelaksanaan pemeriksaan bersama NIHR UB.

Pemeriksaan berlangsung dalam dua tahap. Pertama, responden menjalani spirometri sebelum nebulisasi (pre-nebulisasi). Setelah itu, mereka berpindah ke meja di sebelah timur untuk menjalani nebulisasi bersama Ns. Mahendra, S.Kep. Prosedur ini menggunakan alat nebulizer untuk mengubah obat cair menjadi kabut halus yang dihirup melalui saluran pernapasan.

Usai nebulisasi, responden beristirahat sejenak sebelum kembali menjalani spirometri tahap kedua (post-nebulisasi). Dengan membandingkan hasil sebelum dan sesudah nebulisasi, tenaga kesehatan dapat menilai perubahan fungsi paru sesuai indikasi dan hasil pemeriksaan.

Setelah seluruh rangkaian selesai, responden kembali ke meja pendaftaran. Para kader membagikan konsumsi, bingkisan, dan subsidi transportasi sebagai bentuk dukungan bagi warga yang telah berpartisipasi.

Tes spirometri

Antusiasme Warga, Catatan untuk Evaluasi

Di balik alur pemeriksaan yang terstruktur, dukungan masyarakat menjadi bagian penting dari keberhasilan kegiatan. Tiga kader kesehatan setempat - Siti Bariya, Malikatun Nikmah, dan Kiki Wahyuni - membantu menyebarkan undangan beberapa hari sebelumnya. Mereka juga mendukung mobilisasi, termasuk mengantar dan menjemput responden yang membutuhkan bantuan.

Antusiasme warga bahkan melampaui jumlah undangan. Dari 30 responden yang dijadwalkan, sebanyak 33 orang berhasil menjalani pemeriksaan. Tiga peserta tambahan semula dijadwalkan hadir keesokan harinya, tetapi memilih mengikuti pemeriksaan lebih awal.

Kegiatan ini turut dihadiri Kepala Desa Sarimulyo Budi Susilo, S.T., Kamituwo Cempokosari Rudi Hartoyo, S.E., dan dr. Harum Al Rasyid, MPH, dari NIHR UB Malang. Rahmanurraudhotul Amin, SKM, yang ditugaskan dalam Theme 1: Primary Healthcare Strengthening, juga melakukan observasi menggunakan daftar tilik untuk memantau jalannya pemeriksaan.

Meski demikian, capaian tersebut bukan berarti seluruh pemeriksaan berjalan tanpa kendala. Menurut catatan Ns. Elik, terdapat enam responden yang hasil spirometrinya dinilai kurang maksimal. Lima di antaranya merupakan laki-laki lanjut usia dengan riwayat asma maupun tuberkulosis (TBC). Satu responden lanjut usia lainnya memiliki riwayat sesak napas dan sedang mengalami sariawan saat pemeriksaan.

Catatan ini menjadi pengingat bahwa kondisi kesehatan dan kemampuan mengikuti instruksi dapat memengaruhi proses pengukuran. Hasil yang kurang maksimal perlu ditelaah secara hati-hati oleh tenaga kesehatan, bukan langsung dianggap sebagai gambaran pasti fungsi paru seseorang.

Nebulisasi

Kesempatan Kedua untuk Hasil yang Lebih Bermakna

Pemeriksaan ulang spirometri kedua di Sarimulyo selesai pada pukul 14.35 WIB. Namun, arti penting kegiatan ini tidak berhenti pada selesainya pemeriksaan atau tercapainya jumlah peserta. Lebih dari itu, kegiatan ini menunjukkan bahwa pemeriksaan kesehatan yang berkualitas membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan kerja sama antara petugas, responden, serta masyarakat.

Ada kutipan Carla Melucci Ardito - seorang terapis dan pengajar yang berbasis di Kota New York, yang telah secara pribadi mengalami, mempelajari, serta mengeksplorasi seni penyembuhan selama lebih dari 40 tahun yang terasa relevan dengan proses tersebut:

“Belajarlah cara mengembuskan napas; menarik napas akan terjadi dengan sendirinya.”

Dalam spirometri, mengembuskan napas dengan teknik yang tepat memang perlu dipelajari dan dilatih. Setiap instruksi, setiap percobaan, dan setiap pengulangan memiliki perannya sendiri.

Sebab, dalam upaya mengenali risiko PPOK lebih dini, satu hembusan yang belum terbaca bukanlah akhir dari pemeriksaan. Terkadang, dibutuhkan kesempatan kedua agar napas dapat bercerita lebih jelas, dan agar langkah menjaga kesehatan paru-paru dapat dimulai dengan informasi yang lebih dapat dipercaya. *** [151026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Risk Checker

Risk Checker

Statistik Blog

Sahabat eKader

Label

Arsip Blog