“Goodbyes are only for those who love with their eyes. Because for those who love with heart and soul there is no such thing as separation.” – Rumi
Ada perjumpaan yang bermula dari ketukan pintu rumah, percakapan sederhana, dan pertanyaan-pertanyaan dalam aplikasi. Namun, siapa sangka, dari rutinitas pengumpulan data itu tumbuh kedekatan yang kelak membuat sebuah perpisahan terasa begitu berat. Sebab, di balik angka-angka baseline survey, tersimpan cerita tentang manusia, kebersamaan, dan jejak pengabdian yang tak selalu bisa diukur dengan instrumen penelitian.
Pagi itu, Jumat (30/10), Omah Rembug, sebuah ruangan di belakang Pendopo Desa Kaliploso, Jalan Plosorejo No. 21, Dusun Plosorejo RT 03 RW 04, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, menjadi saksi sebuah perjumpaan yang sekaligus menandai perpisahan.
Setelah rangkaian pemeriksaan ulang spirometri kedua di Pendopo Kalirejo berakhir pada Senin (26/10), para enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) sebenarnya belum langsung berpamitan. Ada jeda empat hari sebelum momen itu tiba. Salah seorang enumerator masih harus menuntaskan keterlibatannya dalam kepanitiaan Festival Ngopi Sambang Dulur Kaliploso 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu (28/10).
![]() |
| Kades Kaliploso dan oerangkat desa berpose dengan enumerator baseline survey serta Field Facilitator NIHR UB |
Dua enumerator Desa Kaliploso, Rahmanurraudhotul Amin, SKM dan Rafini Aminatul Hidayah, S.Tr.Gz., hadir bersama Field Facilitator NIHR Universitas Brawijaya (UB). Kedatangan mereka disambut perangkat desa yang terdiri atas Kepala Desa Kaliploso, Rudi Hartono, S.Th.I., Sekretaris Desa Budi Santosa, A.Md., serta sejumlah staf desa.
Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat. Tidak ada sekat formalitas yang kaku. Yang hadir adalah orang-orang yang selama berbulan-bulan telah berbagi ruang interaksi dalam sebuah kegiatan penelitian kesehatan masyarakat.
Rahman membuka acara dengan sekapur sirih. Ia menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada Pemerintah Desa Kaliploso beserta seluruh perangkatnya atas dukungan dan bantuan selama proses pengumpulan data baseline hingga pelaksanaan pemeriksaan spirometri. Dukungan tersebut, menurutnya, menjadi bagian penting yang memungkinkan seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan lancar.
Ia juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk meminta maaf apabila dalam interaksi yang terjadi, terdapat perkataan, sikap, atau tindakan yang mungkin menyinggung, baik yang disengaja maupun tidak.
![]() |
| Sekapur sirih dari perwakilan enumerator dalam pamitan dengan perangkat desa |
Dalam kesempatan yang sama, ucapan terima kasih dan permohonan maaf juga disampaikan kepada Pemerintah Desa Kaliploso atas segala bentuk kerja sama selama kegiatan berlangsung.
Giliran Kepala Desa Kaliploso, Rudi Hartono, memberikan sambutan. Dengan nada apresiatif, ia menyampaikan bahwa kehadiran NIHR-GHRC NCDs & EC telah membawa dampak positif bagi masyarakatnya, terutama dalam membangun kesadaran terhadap kesehatan.
Baginya, salah satu perubahan yang patut disyukuri adalah bergesernya cara pandang sebagian Masyarakat, dari yang sebelumnya cenderung acuh tak acuh menjadi lebih peduli terhadap kondisi kesehatan diri. Perubahan persepsi semacam ini tentu menjadi modal penting bagi pemerintah desa dalam menjalankan berbagai program pembangunan, khususnya di bidang kesehatan masyarakat.
Namun, ada bagian lain dari sambutan Kades Rudi yang membuat suasana mendadak berbeda.
Ia secara khusus memberikan apresiasi kepada Rahman. Menurutnya, Rahman bukan sekadar enumerator yang datang untuk menyelesaikan tugas penelitian. Lebih dari itu, ia telah menunjukkan kepedulian dengan turut membantu sejumlah kegiatan desa, termasuk agenda Banyuwangi Festival seperti Kaliploso Horti Carnival (KHC) dan Festival Ngopi Sambang Dulur.
![]() |
| Perangkat desa turut hadir dalam acara pamitan enumerator dengan perangkat desa |
Mendengar ungkapan tersebut, Rahman tak kuasa menahan haru. Air matanya perlahan menetes. Ada sesuatu yang seolah tertahan di antara senyum dan keinginan untuk tetap tegar. Barangkali, bukan semata karena harus meninggalkan tempat tugas, melainkan karena menyadari bahwa kehadirannya ternyata meninggalkan kesan yang begitu berarti bagi orang-orang yang selama ini membersamainya.
Usai sambutan, acara dilanjutkan dengan penyerahan bingkisan kenang-kenangan secara simbolis. Sebuah gestur sederhana, tetapi menyimpan makna yang jauh lebih besar daripada benda yang diserahkan.
Suasana haru kembali mencair ketika beberapa perangkat desa mengangkat Rahman, seolah ingin menghibur sekaligus mengusir kesedihan yang telanjur tumpah. Gelak tawa pun menyelingi momen emosional tersebut. Di ruangan itu, air mata dan tawa seakan menemukan tempat untuk berdampingan: dua ekspresi yang sama-sama lahir dari rasa memiliki.
![]() |
| Penyerahan bingkisan secara simbolis dari enumerator yang diserahkan kepada Kades Kaliploso |
Dalam pengertian itu, pamitan bukan sekadar rangkaian kata perpisahan. Ia adalah pengejawantahan sebuah transisi, dari kebersamaan menuju jarak, dari rutinitas menuju kenangan, dari perjumpaan sehari-hari menuju ingatan yang akan terus dibawa pulang.
Barangkali, di sinilah relevansi ungkapan Jalaluddin Rumi (1207-1273), seorang penyair sufi Persia, teolog, dan ulama Islam, menemukan maknanya:
“Perpisahan hanya berlaku bagi mereka yang mencintai dengan mata. Sebab bagi mereka yang mencintai dengan hati dan jiwa, tidak ada yang namanya perpisahan.”
![]() |
| Salah seorang enumerator langsung digotong oleh kamituwo dan perangkat desa lainnya dalam acara pamitan |
Enumerator boleh meninggalkan Kaliploso. Namun, sebagian kisah tentang Kaliploso akan selalu ikut bersama mereka.
Dan di Omah Rembug pagi itu, perpisahan justru menjadi cara paling sederhana untuk membuktikan bahwa sebuah kebersamaan pernah begitu berarti. *** [041126]
Oleh: Budiarto Eko KusumoEditor: Budiarto Eko Kusumo




































