Sabtu, 17 Oktober 2026

Menjaga Napas Sebelum Ia Menjadi Keluhan: Pemeriksaan Spirometri Kelima di Tamanagung

“Breath is breath.” -- Lailah Gifty Akita

Jumat (16/10) pagi, udara di Pendopo Desa Tamanagung belum terasa panas. Namun, di balik meja-meja yang tersusun rapi, ada pekerjaan yang menuntut ketelitian, yaitu mendengarkan napas warga, mengukurnya, lalu menerjemahkannya menjadi data yang dapat menyelamatkan masa depan kesehatan mereka.

“Napas adalah napas.” — Lailah Gifty Akita

Kalimat sederhana itu terasa sangat dekat di ruang pemeriksaan spirometri kelima yang digelar kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya dan Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RS NU) Banyuwangi. Sebab, bagi sebagian warga yang datang, napas bukan sekadar gerakan dada yang berulang. Napas adalah kemampuan berjalan tanpa berhenti, bekerja tanpa terengah, dan tidur tanpa rasa sesak.

Kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB di Pendopo Desa Tamanagung, Jalan Sraten No. 07, Dusun Krajan RT 02 RW 04, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi. Sebanyak 25 warga hasil pre-screening diundang karena terindikasi memiliki faktor risiko penyakit paru obstruktif kronik atau PPOK. Dari jumlah tersebut, 23 orang hadir; dua lainnya tidak dapat hadir karena sedang bekerja dan tidak ditemukan di rumah saat dijemput.

Suasana pemeriksaan spirometeri kelima di Pendopo Desa Tamanagung

Rangkaian yang Terencana

Pemeriksaan ini adalah pemeriksaan spirometri kelima di Desa Tamanagung. Tiga enumerator baseline survey NIHR-GHRC NCDs & EC - Fahmi Ahmad Fauzan, S.Sos.; Dysa Fitri Permatasari, S.Tr.Kes., M.Kes.; dan Nisaul Rofifah, S.Gz. - kembali menuntun proses dari awal hingga akhir.

Mobilisasi warga tidak berlangsung begitu saja. Tiga kader kesehatan setempat, Ade Fitria Ningsih, Ninik Suriani, dan Ratna Mujayanah, telah membantu menyebarkan undangan dua hari sebelum pelaksanaan. Pada hari-H, mereka kembali hadir dan memastikan warga sampai ke pendopo.

Alur pemeriksaan berjalan seperti sungai kecil yang tenang: responden masuk dari satu meja, menunggu sebentar, lalu bergerak ke meja berikutnya. Di balik kesederhanaan itu, setiap tahapan memiliki fungsi penting.

Di meja pertama, Ade Fitria Ningsih, Ninik Suriani, dan Ratna Mujayanah melakukan registrasi serta verifikasi data responden. Setelah itu, warga dipersilakan duduk di bangku antrean. Sambil menunggu, enumerator Fahmi Ahmad Fauzan memberikan penjelasan teknik menyembur atau meniup ke alat spirometri.

Panggilan pertama datang dari meja tanda-tanda vital. Bidan Muqodimah, A.Md.Keb., menimbang berat badan, mengukur tekanan darah, dan melakukan oksimetri. Selanjutnya, Perawat Siti Nur Indah, S.Kep., Ns., melakukan anamnesis melalui aplikasi SMARThealth.

Meja 2: penimbangan berat badan, pengukuran tekanan darah, oksimetri, dan anamnesis

Saat Napas Diukur

Meja ketiga menjadi jantung kegiatan. Di sanalah napas warga benar-benar diukur. Perawat Joenhiga, S.Kep., Ns., memimpin manuver spirometri tahap pertama atau pre-semprotan salbutamol. Ia dibantu Perawat Dwi Warsa, S.Kep., Ns., yang mengoperasikan alat MIR SpiroLab milik NIHR UB. Responden diminta menarik napas sedalam mungkin, lalu mengembuskan udara dengan kuat dan tahan ke dalam alat.

Spirometri merupakan pemeriksaan fisiologis untuk menilai fungsi paru melalui ukuran objektif: berapa banyak udara maksimal yang dapat dihirup dan diembuskan seseorang. Tes yang memenuhi syarat umumnya dilakukan minimal tiga kali dengan hasil yang valid dan dapat direproduksi untuk menentukan forced vital capacity atau FVC. Bila hasilnya belum memenuhi kriteria, pemeriksaan dapat diulang hingga delapan kali.

Setelah tahap pertama, responden menerima semprotan salbutamol, lalu beristirahat selama 20 menit sebelum menjalani spirometri tahap kedua atau post-semprotan salbutamol. Pengukuran sebelum dan sesudah bronkodilator seperti salbutamol digunakan untuk menilai adanya obstruksi jalan napas serta memperkuat penilaian PPOK.

Seluruh proses di meja spirometri diawasi langsung oleh Ns. Elik Anistina, S.Kep., yang membantu NIHR UB dalam pengawasan kualitas tes. Kehadirannya menegaskan bahwa spirometri bukan sekadar meminta warga meniup alat; ia menuntut teknik yang benar, hasil yang konsisten, dan penilaian yang hati-hati.

Tes spirometri

Ketika Data Bertemu Cerita

Tidak semua napas mudah diukur. Berdasarkan informasi dari Ns. Elik, terdapat delapan laporan hasil yang perlu perhatian. Tujuh responden memiliki hasil spirometri yang kurang maksimal. Beberapa di antaranya memiliki riwayat penyakit jantung dan baru selesai pengobatan TBC; ada pula yang memiliki riwayat TBC disertai sesak napas, riwayat asma dan sesak napas, serta riwayat hipertensi dan usia lanjut.

Ada satu perempuan paruh baya yang sejak spirometri tahap pertama sudah menunjukkan hasil kurang maksimal. Ia memiliki riwayat sesak napas dan sakit lambung. Baru sekali mencoba meniup ke alat, air matanya jatuh. Momen itu mengingatkan bahwa di balik angka dan grafik, ada tubuh yang lelah, ketakutan yang tidak selalu terucap, serta pengalaman sakit yang membentuk cara seseorang bernapas.

Namun, ada pula cerita yang menenangkan. Seorang laki-laki paruh baya dengan riwayat jantung dan asma justru memperoleh hasil spirometri yang baik. Baginya, pemeriksaan itu menjadi bentuk penghargaan terhadap napas yang selama ini ia rawat dengan hati-hati.

Meja 4: apresiasi atas partisipasi responden dalam pemeriksaan spirometri

Lebih dari Sekadar Pemeriksaan

Setelah menyelesaikan rangkaian tes, responden menuju meja keempat atau meja apresiasi partisipasi. Enumerator Nisaul Rofifah dan Dysa Fitri Permatasari memberikan konsumsi, vitamin, dan subsidi transportasi. Bentuk apresiasi sederhana, tetapi bermakna bahwa kehadiran warga bukan hanya diharapkan, melainkan juga dihargai.

Kegiatan ini juga dihadiri Rahmanurraudhotul Amin, SKM., yang ditunjuk Theme 1: Primary Healthcare Strengthening untuk melakukan observasi prosesi menggunakan checklist. Kehadiran pengamat menunjukkan bahwa kegiatan ini bukan hanya layanan sesaat, melainkan bagian dari upaya memperkuat sistem pelayanan kesehatan primer di tingkat desa.

Pemeriksaan berakhir pukul 12.54 WIB. Hampir lima jam, pendopo Tamanagung berubah menjadi ruang belajar tentang napas: bagaimana napas diukur, bagaimana gangguan pernapasan dikenali, dan bagaimana masyarakat dapat dilibatkan dalam pencegahan PPOK sejak dini.

Di akhir kegiatan, yang dibawa pulang warga bukan hanya konsumsi, vitamin, atau subsidi transportasi. Ada pula kesadaran bahwa napas layak diperhatikan sebelum ia menjadi keluhan. Karena pada akhirnya, seperti kata Lailah Gifty Akita, “Napas adalah napas” - dan menjaganya berarti menjaga kesempatan untuk hidup lebih sehat. *** [171026] 

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Kamis, 15 Oktober 2026

Mengulang Hembusan, Menjaga Harapan: Pemeriksaan Ulang Spirometri Kedua di Desa Sarimulyo

"Learn how to exhale, the inhale will take care of itself." -- Carla Melucci Ardito

Ada kalanya satu kali hembusan napas belum cukup untuk mengungkap kondisi paru-paru seseorang. Bukan karena tubuh tak mampu bekerja sama, melainkan karena pemeriksaan membutuhkan teknik yang tepat, usaha maksimal, dan hasil pengukuran yang memenuhi standar. Di sinilah pemeriksaan ulang menjadi penting, yaitu memberi kesempatan kedua untuk memperoleh gambaran fungsi paru yang lebih akurat.

Semangat itulah yang mewarnai pemeriksaan ulang spirometri kedua di Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, pada Rabu (14/10). Bertempat di Rumah Kader Siti Bariya, Dusun Cempokosari RT 02 RW 03, kegiatan ini merupakan kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi dalam rangkaian baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC).

Kunjungan dr. Harun dalam pemeriksaan ulang spirometri kedua di Dusun Cempokosari, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi


Ketika Hembusan Belum Memberikan Jawaban

Spirometri bukan sekadar meniup alat, lalu memperoleh angka di layar. Pemeriksaan ini mengukur fungsi paru melalui pola udara yang diembuskan seseorang. Karena itu, kualitas hasilnya bergantung pada tiga unsur yang saling berkaitan, meliputi keterampilan petugas, ketepatan peralatan, dan upaya maksimal peserta pemeriksaan.

Apabila rekaman sebelumnya tidak dapat dibaca (unreadable), tidak valid, atau tidak memenuhi kriteria kualitas, pemeriksaan ulang diperlukan. Hasil yang cacat secara teknis tidak semestinya dipaksakan untuk ditafsirkan. Sebaliknya, pengukuran perlu diulang agar gambaran fungsi paru yang diperoleh lebih dapat diandalkan.

Di Sarimulyo, pemeriksaan ini bukan kali pertama dilakukan. Sebelumnya, spirometri telah diselenggarakan lima kali, yakni pada 25 Juli, 14 Agustus, 15 Agustus, dan 21 Agustus serta 12 Oktober. Dari 151 target responden hasil pre-screening yang terindikasi memiliki faktor risiko penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), beberapa di antaranya memerlukan pemeriksaan ulang karena hasil sebelumnya belum terbaca dengan baik.

Setelah pemeriksaan ulang pertama pada Senin (12/10), tim kembali menjadwalkan pemeriksaan ulang kedua. Dua enumerator baseline survey, Kiki Antikawati Rustandi, S.Kep. dan Triana Rahmah, S.AB., mengoordinasikan kegiatan tersebut dengan mengundang 30 responden.

Suasana pemeriksaan ulang spirometri kedua, tampak dr. Harun berdiskusi dengan Kades Sarimulyo di teras depan

Dari Meja Pendaftaran hingga Hembusan Kedua

Sejak awal, alur pemeriksaan disusun seperti rangkaian yang saling terhubung. Di meja pendaftaran, Kiki bersama kader kesehatan membantu registrasi dan verifikasi data. Selanjutnya, responden menjalani pemeriksaan tanda-tanda vital (TTV), meliputi pengukuran tekanan darah dan saturasi oksigen oleh Perawat Annisa Fitriya, A.Md.Kep.

Di meja yang sama, dr. Sofia Intani melakukan anamnesis menggunakan aplikasi SMARThealth serta pemeriksaan fisik dengan stetoskop. Setelah itu, responden menunggu giliran sambil menerima penjelasan mengenai teknik meniup alat spirometri dari enumerator Triana.

Pembekalan ini menjadi bagian penting. Sebab, hasil pengukuran tidak hanya ditentukan oleh alat, tetapi juga kemampuan responden mengikuti instruksi dengan benar.

Ketika namanya dipanggil, responden menuju meja spirometri. Ns. Prisilia Rosa A., S.Kep., memandu pelaksanaan manuver pemeriksaan, dibantu Ns. Yusi Ayu Permatasari, S.Kep., yang mengoperasikan laptop terhubung dengan alat spirometri. Proses tersebut berada di bawah pengawasan Ns. Elik Anistina, S.Kep., yang turut mengawal pelaksanaan pemeriksaan bersama NIHR UB.

Pemeriksaan berlangsung dalam dua tahap. Pertama, responden menjalani spirometri sebelum nebulisasi (pre-nebulisasi). Setelah itu, mereka berpindah ke meja di sebelah timur untuk menjalani nebulisasi bersama Ns. Mahendra, S.Kep. Prosedur ini menggunakan alat nebulizer untuk mengubah obat cair menjadi kabut halus yang dihirup melalui saluran pernapasan.

Usai nebulisasi, responden beristirahat sejenak sebelum kembali menjalani spirometri tahap kedua (post-nebulisasi). Dengan membandingkan hasil sebelum dan sesudah nebulisasi, tenaga kesehatan dapat menilai perubahan fungsi paru sesuai indikasi dan hasil pemeriksaan.

Setelah seluruh rangkaian selesai, responden kembali ke meja pendaftaran. Para kader membagikan konsumsi, bingkisan, dan subsidi transportasi sebagai bentuk dukungan bagi warga yang telah berpartisipasi.

Tes spirometri

Antusiasme Warga, Catatan untuk Evaluasi

Di balik alur pemeriksaan yang terstruktur, dukungan masyarakat menjadi bagian penting dari keberhasilan kegiatan. Tiga kader kesehatan setempat - Siti Bariya, Malikatun Nikmah, dan Kiki Wahyuni - membantu menyebarkan undangan beberapa hari sebelumnya. Mereka juga mendukung mobilisasi, termasuk mengantar dan menjemput responden yang membutuhkan bantuan.

Antusiasme warga bahkan melampaui jumlah undangan. Dari 30 responden yang dijadwalkan, sebanyak 33 orang berhasil menjalani pemeriksaan. Tiga peserta tambahan semula dijadwalkan hadir keesokan harinya, tetapi memilih mengikuti pemeriksaan lebih awal.

Kegiatan ini turut dihadiri Kepala Desa Sarimulyo Budi Susilo, S.T., Kamituwo Cempokosari Rudi Hartoyo, S.E., dan dr. Harum Al Rasyid, MPH, dari NIHR UB Malang. Rahmanurraudhotul Amin, SKM, yang ditugaskan dalam Theme 1: Primary Healthcare Strengthening, juga melakukan observasi menggunakan daftar tilik untuk memantau jalannya pemeriksaan.

Meski demikian, capaian tersebut bukan berarti seluruh pemeriksaan berjalan tanpa kendala. Menurut catatan Ns. Elik, terdapat enam responden yang hasil spirometrinya dinilai kurang maksimal. Lima di antaranya merupakan laki-laki lanjut usia dengan riwayat asma maupun tuberkulosis (TBC). Satu responden lanjut usia lainnya memiliki riwayat sesak napas dan sedang mengalami sariawan saat pemeriksaan.

Catatan ini menjadi pengingat bahwa kondisi kesehatan dan kemampuan mengikuti instruksi dapat memengaruhi proses pengukuran. Hasil yang kurang maksimal perlu ditelaah secara hati-hati oleh tenaga kesehatan, bukan langsung dianggap sebagai gambaran pasti fungsi paru seseorang.

Nebulisasi

Kesempatan Kedua untuk Hasil yang Lebih Bermakna

Pemeriksaan ulang spirometri kedua di Sarimulyo selesai pada pukul 14.35 WIB. Namun, arti penting kegiatan ini tidak berhenti pada selesainya pemeriksaan atau tercapainya jumlah peserta. Lebih dari itu, kegiatan ini menunjukkan bahwa pemeriksaan kesehatan yang berkualitas membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan kerja sama antara petugas, responden, serta masyarakat.

Ada kutipan Carla Melucci Ardito - seorang terapis dan pengajar yang berbasis di Kota New York, yang telah secara pribadi mengalami, mempelajari, serta mengeksplorasi seni penyembuhan selama lebih dari 40 tahun yang terasa relevan dengan proses tersebut:

“Belajarlah cara mengembuskan napas; menarik napas akan terjadi dengan sendirinya.”

Dalam spirometri, mengembuskan napas dengan teknik yang tepat memang perlu dipelajari dan dilatih. Setiap instruksi, setiap percobaan, dan setiap pengulangan memiliki perannya sendiri.

Sebab, dalam upaya mengenali risiko PPOK lebih dini, satu hembusan yang belum terbaca bukanlah akhir dari pemeriksaan. Terkadang, dibutuhkan kesempatan kedua agar napas dapat bercerita lebih jelas, dan agar langkah menjaga kesehatan paru-paru dapat dimulai dengan informasi yang lebih dapat dipercaya. *** [151026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Menyulam Data: Catatan Kunjungan Tim NIHR UB ke Dinkes Kabupaten Banyuwangi

“Things get done only if the data we gather can inform and inspire those in a position to make difference.” -- Mike Schmoker, Results: The Key to Continuous School Improvement

Di balik angka, ada cerita yang belum sepenuhnya terbaca. Di antara catatan pelayanan kesehatan dan hasil pemeriksaan lapangan, tersimpan potongan-potongan informasi yang perlu dipertemukan untuk memahami persoalan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Dari upaya menyatukan potongan itulah, sebuah perjalanan kecil dimulai di Banyuwangi.

Deru mesin GrabCar perlahan mereda ketika kendaraan memasuki halaman Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi, Rabu (14/10) pagi. Dua orang dari Tim NIHR Universitas Brawijaya (UB) - dr. Harun Al Rasyid, MPH, dan seorang Field Facilitator - datang membawa satu tujuan, yakni menelusuri data PPOK, terutama di Kecamatan Cluring dan Gambiran.

Bagi tim ini, data bukan sekadar deretan angka dalam laporan kesehatan. Ia adalah kepingan informasi yang perlu dirangkai untuk mendapatkan gambaran lebih utuh tentang PPOK di masyarakat. 

Terlebih, NIHR UB telah berkolaborasi dengan RS Yasmin dan RS NU Banyuwangi dalam pelaksanaan pemeriksaan spirometri, sebuah prosedur untuk mengukur fungsi paru-paru. Hasil pemeriksaan tersebut menjadi sumber informasi penting yang perlu dibaca berdampingan dengan data yang dimiliki Dinas Kesehatan.

Pertanyaannya sederhana, tetapi penting, yaitu sejauh mana kedua sumber data itu saling menjelaskan?

Kunjungan Tim NIHR UB ke Dinkes Kabupaten Banyuwangi disambut dengan hangat dan terbuka oleh Bagian PTM


Merajut Dua Sumber Informasi

Di kantor Dinas Kesehatan, Tim NIHR UB disambut oleh Ibu Ike dari bagian Penyakit Tidak Menular (PTM). Dalam pertemuan di ruang kerjanya, dr. Harun menyampaikan maksud kunjungan sekaligus menjelaskan kebutuhan untuk mengompilasi data PPOK yang tersedia.

Respons positif mengalir sejak awal percakapan. Sambutan yang terbuka membuat diskusi berlangsung dalam suasana bersahabat, jauh dari kesan birokratis yang kerap dibayangkan orang ketika berhadapan dengan institusi pemerintahan.

Bagi tim peneliti, keterbukaan semacam ini bukan perkara sepele. Penelitian kesehatan masyarakat tidak hanya membutuhkan metode yang tepat dan instrumen yang andal, tetapi juga komunikasi yang baik dengan pemangku kepentingan yang mengelola data di lapangan. Tanpa jembatan komunikasi, informasi yang berharga bisa saja tetap tersimpan dalam sistem masing-masing, belum terhubung menjadi pengetahuan yang lebih bermakna.

Kunjungan tersebut turut dibersamai Rahmanurraudhotul Amin, SKM, salah seorang enumerator baseline survey yang membantu observasi setiap implementasi pemeriksaan spirometri. Kehadirannya menjadi penghubung antara kebutuhan penelitian dan pengalaman pengumpulan data di lapangan.

Semula, agenda kunjungan akan berlanjut ke bagian Pelayanan Kesehatan (Yankes) untuk menelusuri data PPOK melalui Simpuswangi. Namun, Pelaksana Tugas (Plt.) Yankes sedang mengikuti kegiatan bakti sosial. Pertemuan pun dijadwalkan ulang pada pekan berikutnya.

Simpuswangi, atau Sistem Informasi Manajemen Puskesmas Banyuwangi, merupakan aplikasi berbasis web yang dikembangkan Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi untuk mendigitalisasi sistem pelayanan dan administrasi kesehatan di puskesmas. Melalui sistem ini, penelusuran data diharapkan dapat membantu tim memahami informasi PPOK yang tercatat dalam layanan kesehatan setempat.

Penjadwalan ulang itu tidak mengurangi arti kunjungan hari tersebut. Sebaliknya, langkah tersebut membuka ruang untuk melanjutkan komunikasi dan menyiapkan penelusuran data secara lebih terarah.


Ketika Komunikasi Menjadi Jembatan

Ada hal menarik dari pertemuan singkat itu: cara orang menyambut satu sama lain turut menentukan bagaimana sebuah kerja kolaboratif bertumbuh.

Respons yang cepat dan ramah dari pihak Dinas Kesehatan memperlihatkan pentingnya relasi antarlembaga yang dibangun melalui keterbukaan. Dalam perspektif komunikasi organisasi, kesediaan mendengarkan, memberikan respons, dan menyepakati tindak lanjut merupakan unsur penting untuk membangun kepercayaan. Komunikasi tidak berhenti pada penyampaian maksud, tetapi bergerak menuju pemahaman bersama.

Dari sisi sosiologis, perjumpaan ini juga menunjukkan bahwa produksi pengetahuan kesehatan bukan pekerjaan satu pihak semata. Peneliti, tenaga kesehatan, pengelola data, dan fasilitas pelayanan berada dalam jejaring yang saling membutuhkan. Masing-masing memiliki informasi, pengalaman, dan sudut pandang yang berbeda. Ketika semua unsur itu dipertemukan, peluang untuk memahami persoalan kesehatan secara lebih menyeluruh pun terbuka.

Sikap tanggap dan bersahabat yang ditunjukkan pihak Dinas Kesehatan menjadi energi bagi Tim NIHR UB untuk meneruskan dialog. Sebab, menyelaraskan data membutuhkan lebih dari sekadar akses ke aplikasi atau dokumen. Dibutuhkan pula kesediaan untuk berkoordinasi, mengklarifikasi perbedaan, dan membangun kesepahaman mengenai informasi yang sedang ditelusuri.


Dari Kantor ke Lapangan

Usai kunjungan ke Dinas Kesehatan, perjalanan belum berakhir. Field Facilitator NIHR UB mengajak dr. Harun menuju Desa Sarimulyo untuk mengunjungi pelaksanaan pemeriksaan ulang spirometri yang kedua. Kali ini, perjalanan dilanjutkan menggunakan GoCar.

Perpindahan dari ruang kerja menuju lokasi pemeriksaan seolah menegaskan bahwa upaya memahami PPOK tidak cukup dilakukan di balik meja. Data administratif perlu dibaca bersama temuan lapangan, sementara hasil pemeriksaan membutuhkan konteks agar dapat dimaknai secara tepat.

Di sinilah benang-benang informasi mulai menemukan kemungkinan untuk saling terhubung dari catatan pelayanan kesehatan, hasil spirometri, dan pengalaman pelaksanaan pemeriksaan di masyarakat.

Tentu, menyatukan data tidak serta-merta membuka seluruh tabir PPOK di Banyuwangi. Masih ada informasi yang perlu ditelusuri, dibandingkan, dan diverifikasi. Namun, setiap percakapan yang terjalin dan setiap langkah koordinasi yang disepakati merupakan bagian dari proses tersebut.

Pada akhirnya, menyulam data bukan sekadar mempertemukan angka dari dua sumber berbeda. Ia adalah ikhtiar merangkai kepingan informasi menjadi pemahaman yang lebih utuh tentang PPOK, tentang mereka yang mungkin luput teridentifikasi, dan tentang peluang memperbaiki layanan kesehatan di masa mendatang. Sebab, data yang tersimpan dalam laporan hanya akan menjadi deretan angka jika tidak dibaca, dipertautkan, dan dimaknai bersama. 

Namun, ketika data mampu menyingkap persoalan yang sebelumnya samar, ia dapat menjadi awal bagi lahirnya keputusan dan tindakan yang lebih tepat. Seperti diungkapkan Mike Schmoker, “Segala sesuatu dapat terlaksana hanya jika data yang kita kumpulkan mampu memberikan wawasan dan menginspirasi mereka yang berada dalam posisi untuk membawa perubahan.” *** [151026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Rabu, 14 Oktober 2026

Pamitan di Pendopo Wringinrejo: Menutup Survei, Merawat Kenangan

"Every goodbye is the birth of a memory." — Dutch proverb

Di balik angka-angka yang terkumpul, ada wajah-wajah yang menyambut, cerita yang dibagikan, dan persahabatan yang tumbuh selama kerja lapangan. Selasa siang itu, para enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) di Desa Wringinrejo berpamitan. Bukan untuk mengakhiri segalanya, melainkan untuk mengambil jeda sebelum perjalanan penelitian berlanjut.

Selasa (13/10), jarum jam menunjukkan pukul 14.30 WIB ketika dua enumerator baseline survey, Yunita Pratiwi Suprapto, S.T., dan Firda Octa Vidyawati, S.M., tiba di Pendopo Desa Wringinrejo yang berada di Jalan Diponegoro No. 164, Dusun Krajan, RT 04 RW 02, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi. 

Didampingi Field Facilitator NIHR Universitas Brawijaya (UB), kedatangan mereka kali ini bukan untuk pengumpulan data atau melakukan pemeriksaan spirometri. Ada satu agenda yang tak kalah bermakna, yaitu berpamitan.

Turut hadir Rahmanurraudhotul Amin, S.KM., enumerator baseline survey Desa Kaliploso. Rombongan disambut hangat oleh Kepala Desa (Kades) Wringinrejo, Mu’adim, S.H., Sekretaris Desa Muhammad Sirojudin, serta para kepala dusun atau kamituwo, yang terdiri dari Toyamas (Sudirman), Tamanrejo (Alek Sutikno), Krajan (Muhammad Ali Mahkrus), dan Mulyorejo (Imron Hamzah).

Suasana pendopo siang itu menjadi ruang pertemuan antara tugas yang mendekati jeda dan kenangan yang telah terukir selama proses pengumpulan data.

Berpose bersama saat Tim Enumerator Baseline Survey berpamitan


Dari Ucapan Terima Kasih hingga Janji Kembali

Nita, sapaan Yunita Pratiwi Suprapto, mengawali acara dengan sekapur sirih. Ia menyampaikan terima kasih kepada pemerintah desa atas izin, dukungan, dan pendampingan yang diberikan selama pelaksanaan baseline survey, termasuk dalam pengumpulan data dan pemeriksaan spirometri. Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama kegiatan berlangsung terdapat perkataan maupun tindakan yang kurang berkenan.

Ucapan sederhana itu membawa makna lebih dari sekadar penutup kegiatan. Di balik setiap kunjungan rumah tangga, ada waktu yang diluangkan warga, pertanyaan yang dijawab dengan sabar, serta kepercayaan yang diberikan kepada para enumerator. Semua itu menjadi bagian penting dari perjalanan penelitian.

Field Facilitator NIHR UB kemudian memberikan penjelasan melalui mikrofon konferensi. Ia menegaskan bahwa penelitian ini belum sepenuhnya selesai. Baseline survey memang memasuki akhir jadwal pelaksanaan, tetapi perjalanan penelitian masih akan berlanjut. Setelah jeda, tim dijadwalkan kembali ke Desa Wringinrejo pada tahun berikutnya untuk melaksanakan endline survey.

“Pamitan ini adalah perpisahan sementara saja,” jelasnya.

Kalimat tersebut seolah menjadi penanda bahwa perpisahan tidak selalu berarti kehilangan. Ada pekerjaan yang perlu dituntaskan, ada waktu yang harus dilalui, dan ada kesempatan untuk kembali dengan membawa tahapan penelitian berikutnya. Sebelum menutup rangkaian kegiatan, ia pun memohon izin kepada pemerintah desa agar tim dapat kembali berkunjung pada waktunya.

Enumerator berikan kenang-kenangan secara simbolis yang diterima Kades


Ketika Penelitian Menjadi Ruang Belajar

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Kades Mu’adim. Ia mengapresiasi pelaksanaan penelitian NIHR UB di wilayahnya. Menurutnya, kegiatan tersebut turut memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat, terutama mengenai penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Di titik inilah penelitian menemukan maknanya yang lebih luas. Baseline survey bukan semata-mata tentang pertanyaan yang terjawab, data yang terkumpul, atau pemeriksaan spirometri yang terlaksana. Di dalamnya terdapat proses memperkenalkan pengetahuan kesehatan, membangun komunikasi dengan masyarakat, dan membuka ruang bagi warga untuk mengenali persoalan kesehatan di sekitarnya.

Angka-angka memang menjadi bahan penting bagi penelitian. Namun, di balik setiap angka, selalu ada manusia dengan pengalaman, kebiasaan, dan kisah kehidupannya sendiri.

Sebagai bentuk terima kasih, tim kemudian menyerahkan bingkisan kepada perangkat desa yang selama ini mendukung dan mendampingi kegiatan enumerator. Acara ditutup dengan foto bersama dan bersalaman. Satu per satu, tangan berjabat, senyum mengembang, dan ucapan pamit mengiringi berakhirnya pertemuan siang itu.

Seremoni pamitan enumerator baseline survey kepada perangkat desa


Sebuah Jeda, Sejuta Kenangan

Pamitan Tim Enumerator Baseline Survey Wringinrejo menjadi bagian dari rangkaian perpisahan para enumerator di sejumlah desa. Setelah tim Desa Purwodadi berpamitan pada Jumat, 09/10, disusul tim Desa Wringinagung pada Senin, 12/10, kini giliran tim Desa Wringinrejo menuntaskan jadwal kerja lapangannya.

Dalam kerja lapangan, meninggalkan lokasi bukan sekadar urusan mengemasi perlengkapan dan mengakhiri kunjungan. Ada proses emosional ketika seseorang harus beranjak dari lingkungan yang selama ini menjadi bagian dari kesehariannya. 

Setelah sekian lama bekerja bersama masyarakat, para enumerator membawa pulang sesuatu yang tak tercatat dalam lembar pertanyaan dalam aplikasi, seperti pengalaman, pelajaran, dan hubungan antarmanusia.

Ada pepatah Belanda yang berbunyi, “Elk afscheid is de geboorte van een herinnering.” Artinya, “Setiap perpisahan adalah kelahiran sebuah kenangan.”

Kalimat itu terasa tepat untuk menggambarkan pamitan di Pendopo Desa Wringinrejo. Hari itu, sebuah tahap pekerjaan memang berakhir. Namun, cerita tentang keramahan warga, dukungan perangkat desa, dan pengalaman menyusuri rumah tangga demi rumah tangga akan tetap hidup dalam ingatan.

Inilah balada para enumerator!. Mereka datang membawa instrumen penelitian, bekerja sebagai sebuah tim, dan pulang dengan cerita yang jauh lebih kaya daripada sekadar data. Setiap rumah tangga yang dikunjungi meninggalkan pelajaran; setiap percakapan menumbuhkan pemahaman; dan setiap tantangan menjadi bagian dari perjalanan bersama.

Baseline survey kini memberi ruang bagi jeda. Kelak, ketika tim kembali untuk endline survey, perjumpaan itu akan menjadi babak baru dari kisah yang sama.

Sebab, tugas lapangan boleh berakhir untuk sementara, tetapi makna sebuah pertemuan tidak harus ikut selesai. Di Pendopo Desa Wringinrejo, pamitan bukanlah titik akhir. Ia adalah koma - sebuah jeda sebelum cerita berikutnya kembali dituliskan. *** [141026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Selasa, 13 Oktober 2026

Di Rumah Kamituwo, Napas-Napas Itu Kembali Ditiupkan: Cerita Pemeriksaan Ulang Spirometri di Sarimulyo

“For breath is life, so if you breathe well you will live long on earth.” – Sanskrit Proverb

Di Desa Sarimulyo, angka bukan sekadar angka. Ketika empat kali tes spirometri meninggalkan hasil yang tak terbaca, puluhan warga kembali duduk di kursi yang sama, bukan karena gagal, melainkan karena napas mereka layak diperjuangkan.

Udara pagi di Dusun Pandansari, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, Senin (12/10) itu terasa sumuk. Tidak ada yang istimewa dari langit yang cerah atau jalan kampung yang lengang. Namun di Rumah Kamituwo Pandansari, Agus Salim di RT 03 RW 01, ada kegiatan. Kursi-kursi plastik ditata rapi. Meja-meja panjang disiapkan. 

Kades Sarimulyo dan Kamituwo Sempu hadir dalam pemeriksaan ulang spirometri di Dusun Pandansari

Hari itu, 31 warga diundang. Bukan untuk acara hajatan, bukan pula untuk pengajian. Mereka datang untuk satu hal yang mungkin terdengar sederhana namun menentukan, yaitu mengulang tes spirometri.

Bagi sebagian orang, tes spirometri mungkin hanya prosedur medis biasa seperti meniup udara sekuat mungkin ke dalam sebuah alat, lalu selesai. Tapi di Desa Sarimulyo, tes ini telah menjadi bagian dari perjalanan panjang sebuah program kolaborasi antara NIHR Universitas Brawijaya dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi, sebelumnya dengan RS NU terus.

Sejak Juli hingga Agustus lalu, empat kali pemeriksaan spirometri digelar. Menyasar 151 responden hasil pre-screening yang terindikasi memiliki faktor risiko Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Namun, tidak semua hasil bisa dibaca. Ada yang tidak valid, ada yang tidak memenuhi kriteria kualitas. Dan sebagaimana praktik standar dalam dunia spirometri, hasil yang tidak dapat dibaca bukanlah akhir dari segalanya. Itu adalah awal dari pengulangan.

Rumah Kamituwo Pandansari jadi lokasi pemeriksaan ulang spirometri

Mengulang tes spirometri bukanlah kegagalan. Itu justru bentuk kehati-hatian. Kualitas spirometri bergantung pada tiga pilar, yakni perawat terlatih, peralatan akurat, dan upaya maksimal pasien. Ketika salah satu pilar goyah - misalnya pasien batuk, sesak, atau kurang memahami manuver - hasilnya bisa cacat secara teknis. Dan data yang cacat, jika dipaksakan ditafsirkan, bisa menyesatkan. Maka, mengulang adalah jalan terbaik. Mengabaikan hasil buruk, lalu memulai lagi di hari lain, adalah keputusan yang bijak.

Itulah yang dilakukan dua enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Sarimulyo, Kiki Antikawati Rustandi, S.Kep., dan Triana Rahmah, S.AB. 

Sejak pagi, mereka telah bersiap. Dibantu dua kader kesehatan setempat, Tri Nur Umala dan Siti Maesyaroh, mereka mengatur meja pendaftaran, memverifikasi data, dan memastikan setiap responden yang datang merasa diprioritaskan. 

Dokter RS Yasmin Banyuwangi periksa responden dengan menggunakan stetoskop

Undangan telah disebar beberapa hari sebelumnya. Bahkan, antar-jemput disiapkan bagi mereka yang membutuhkan. Tidak ada yang boleh tertinggal hanya karena jarak atau kesulitan transportasi.

Alur pemeriksaan hari itu sama persis dengan empat spirometri sebelumnya. Responden memulai dengan registrasi dan verifikasi data. Setelah itu, mereka menuju meja TTV (Tanda-Tanda Vital). Di sana, Perawat Tria Firnasari, A.Md.Kep., mengukur tekanan darah dan oksimetri. Di sampingnya, dr. Dewangga Sakti melakukan anamnesis menggunakan aplikasi SMARThealth dan pemeriksaan fisik dengan stetoskop. Semua dilakukan dengan tenang, teliti, dan penuh empati.

Usai TTV, responden duduk di kursi antrean. Sambil menunggu panggilan, enumerator Ana memanfaatkan waktu untuk mengajarkan teknik penyebulan - cara meniup udara yang benar, yang efektif, yang tidak membuang tenaga. 

Tes spirometri

Di meja spirometri, Perawat Meira Safira, A.Md.Kep., memandu manuver. Ns. Yusi Ayu Permatasari, S.Kep., mengoperasikan laptop yang terhubung dengan alat spirometri. Semua berada di bawah pengawasan Ns. Elik Anistina, S.Kep., yang dipercaya NIHR UB untuk mengawal jalannya tes.

Tes tahap pertama, atau pre-nebulisasi, dimulai. Responden meniup. Alat merekam. Kurva terbentuk. Setelah itu, mereka bergeser ke meja sebelah timur untuk mendapatkan nebulisasi. 

Di sana, Ns. Mahendra, S.Kep., menyiapkan nebulizer - alat yang mengubah obat cair menjadi uap halus yang dihirup langsung ke saluran pernapasan. Nebulisasi bukan sekadar terapi. Ia adalah upaya membuka jalan napas, memberikan kesempatan kedua bagi paru-paru untuk bekerja lebih baik.

Nebulisasi

Selesai nebulisasi, responden duduk sebentar. Lalu, dipanggil lagi untuk tes tahap kedua, atau post-nebulisasi. Prosedurnya sama. Yang berbeda hanya waktu dan kondisi paru-paru. 

Jika tes tahap kedua berjalan lancar, maka rangkaian pemeriksaan selesai. Responden kembali ke meja pendaftaran. Enumerator Kiki memberikan konsumsi, gift, dan subsidi transportasi, disaksikan oleh kader Tri Nur. Senyum pun merekah. Bukan karena hadiahnya, tetapi karena mereka telah menyelesaikan sesuatu yang penting bagi kesehatan mereka.

Pemeriksaan ulang spirometri perdana itu juga dihadiri oleh Rahmanurraudhotul Amin, SKM, yang ditunjuk Theme 1: Primary Healthcare Strengthening untuk melakukan observasi dengan checklist. 

Enumerator lakukan antar jemput responden

Acara selesai pukul 13.42 WIB. Dari 31 responden yang diundang, menurut catatan Field Facilitator NIHR UB, dua orang suami-istri tidak datang. Selain itu, seorang responden datang sebelum pukul 08.00 WIB, namun karena tim dari RS Yasmin baru tiba pukul 08.30 WIB, ia memilih pulang. Ia harus memperingati 1000 hari kematian istrinya. Tidak ada yang bisa menahan waktu, begitu pun dengan jadwal yang telah disusun.

Namun, dari lima catatan yang diberikan Ns. Elik, terdapat lima responden yang hasilnya kurang maksimal. Empat di antaranya memiliki riwayat sesak napas. Satu lagi sedang batuk. 

Kondisi-kondisi seperti inilah yang membuat spirometri tidak selalu bisa memberikan hasil sempurna dalam sekali coba. Batuk, sesak, kelelahan - semua bisa memengaruhi kualitas tiupan. Dan ketika hasilnya tidak memenuhi standar, mengulang adalah pilihan yang paling bertanggung jawab.

Field Facilitator NIHR UB diajak ngopi bareng sama Kamituwo di ruang tamu

Ada pepatah Sanskerta yang berbunyi: 

“Karena napas adalah kehidupan, maka jika Anda bernapas dengan baik, Anda akan berumur panjang di bumi.” 

Pepatah ini bukan sekadar kalimat puitis. Ia adalah pengingat bahwa napas adalah fondasi dari segala aktivitas manusia. Tanpa napas yang baik, tubuh melemah, pikiran kabur, dan hidup kehilangan kualitas. 

Spirometri, dengan segala kerumitannya, adalah alat untuk menjaga napas tetap terukur. Ia bukan sekadar tes, melainkan upaya untuk memastikan bahwa setiap tarikan dan embusan udara yang kita lakukan benar-benar menghidupkan.

Personel RS Yasmin yang baru pertama kali melakukan pemeriksaan di Desa Sarimulyo, berpose dengan Kamituwo Pandansari, enumerator baseline survey, pengawas tes spirometri, dan Field Facilitator NIHR UB

Di Desa Sarimulyo, pemeriksaan ulang spirometri bukanlah sekadar prosedur teknis. Ia adalah bentuk perhatian pada warga yang mungkin tidak pernah menyadari bahwa paru-paru mereka sedang berjuang. Ia adalah bukti bahwa kesehatan tidak pernah selesai hanya dengan satu kali pengukuran. 

Ada kalanya hasilnya tidak terbaca, ada kalanya responden harus kembali, ada kalanya waktu tidak berpihak. Namun selama masih ada kursi yang disiapkan, undangan yang disebar, dan napas yang masih mengalir, pemeriksaan ulang akan selalu punya tempat.

Karena pada akhirnya, napas yang baik adalah hak setiap orang. Dan mereka yang datang, duduk, meniup, dan menunggu - mereka adalah bukti bahwa kehidupan di desa kecil itu terus berdenyut, satu tarikan napas demi satu tarikan napas. *** [131026] 

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Risk Checker

Risk Checker

Statistik Blog

Sahabat eKader

Label

Arsip Blog