"Every goodbye is the birth of a memory." — Dutch proverb
Di balik angka-angka yang terkumpul, ada wajah-wajah yang menyambut, cerita yang dibagikan, dan persahabatan yang tumbuh selama kerja lapangan. Selasa siang itu, para enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) di Desa Wringinrejo berpamitan. Bukan untuk mengakhiri segalanya, melainkan untuk mengambil jeda sebelum perjalanan penelitian berlanjut.
Selasa (13/10), jarum jam menunjukkan pukul 14.30 WIB ketika dua enumerator baseline survey, Yunita Pratiwi Suprapto, S.T., dan Firda Octa Vidyawati, S.M., tiba di Pendopo Desa Wringinrejo yang berada di Jalan Diponegoro No. 164, Dusun Krajan, RT 04 RW 02, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi.
Didampingi Field Facilitator NIHR Universitas Brawijaya (UB), kedatangan mereka kali ini bukan untuk pengumpulan data atau melakukan pemeriksaan spirometri. Ada satu agenda yang tak kalah bermakna, yaitu berpamitan.
Turut hadir Rahmanurraudhotul Amin, S.KM., enumerator baseline survey Desa Kaliploso. Rombongan disambut hangat oleh Kepala Desa (Kades) Wringinrejo, Mu’adim, S.H., Sekretaris Desa Muhammad Sirojudin, serta para kepala dusun atau kamituwo, yang terdiri dari Toyamas (Sudirman), Tamanrejo (Alek Sutikno), Krajan (Muhammad Ali Mahkrus), dan Mulyorejo (Imron Hamzah).
Suasana pendopo siang itu menjadi ruang pertemuan antara tugas yang mendekati jeda dan kenangan yang telah terukir selama proses pengumpulan data.
![]() |
| Berpose bersama saat Tim Enumerator Baseline Survey berpamitan |
Dari Ucapan Terima Kasih hingga Janji Kembali
Nita, sapaan Yunita Pratiwi Suprapto, mengawali acara dengan sekapur sirih. Ia menyampaikan terima kasih kepada pemerintah desa atas izin, dukungan, dan pendampingan yang diberikan selama pelaksanaan baseline survey, termasuk dalam pengumpulan data dan pemeriksaan spirometri. Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama kegiatan berlangsung terdapat perkataan maupun tindakan yang kurang berkenan.
Ucapan sederhana itu membawa makna lebih dari sekadar penutup kegiatan. Di balik setiap kunjungan rumah tangga, ada waktu yang diluangkan warga, pertanyaan yang dijawab dengan sabar, serta kepercayaan yang diberikan kepada para enumerator. Semua itu menjadi bagian penting dari perjalanan penelitian.
Field Facilitator NIHR UB kemudian memberikan penjelasan melalui mikrofon konferensi. Ia menegaskan bahwa penelitian ini belum sepenuhnya selesai. Baseline survey memang memasuki akhir jadwal pelaksanaan, tetapi perjalanan penelitian masih akan berlanjut. Setelah jeda, tim dijadwalkan kembali ke Desa Wringinrejo pada tahun berikutnya untuk melaksanakan endline survey.
“Pamitan ini adalah perpisahan sementara saja,” jelasnya.
Kalimat tersebut seolah menjadi penanda bahwa perpisahan tidak selalu berarti kehilangan. Ada pekerjaan yang perlu dituntaskan, ada waktu yang harus dilalui, dan ada kesempatan untuk kembali dengan membawa tahapan penelitian berikutnya. Sebelum menutup rangkaian kegiatan, ia pun memohon izin kepada pemerintah desa agar tim dapat kembali berkunjung pada waktunya.
![]() |
| Enumerator berikan kenang-kenangan secara simbolis yang diterima Kades |
Ketika Penelitian Menjadi Ruang Belajar
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Kades Mu’adim. Ia mengapresiasi pelaksanaan penelitian NIHR UB di wilayahnya. Menurutnya, kegiatan tersebut turut memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat, terutama mengenai penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
Di titik inilah penelitian menemukan maknanya yang lebih luas. Baseline survey bukan semata-mata tentang pertanyaan yang terjawab, data yang terkumpul, atau pemeriksaan spirometri yang terlaksana. Di dalamnya terdapat proses memperkenalkan pengetahuan kesehatan, membangun komunikasi dengan masyarakat, dan membuka ruang bagi warga untuk mengenali persoalan kesehatan di sekitarnya.
Angka-angka memang menjadi bahan penting bagi penelitian. Namun, di balik setiap angka, selalu ada manusia dengan pengalaman, kebiasaan, dan kisah kehidupannya sendiri.
Sebagai bentuk terima kasih, tim kemudian menyerahkan bingkisan kepada perangkat desa yang selama ini mendukung dan mendampingi kegiatan enumerator. Acara ditutup dengan foto bersama dan bersalaman. Satu per satu, tangan berjabat, senyum mengembang, dan ucapan pamit mengiringi berakhirnya pertemuan siang itu.
![]() |
| Seremoni pamitan enumerator baseline survey kepada perangkat desa |
Sebuah Jeda, Sejuta Kenangan
Pamitan Tim Enumerator Baseline Survey Wringinrejo menjadi bagian dari rangkaian perpisahan para enumerator di sejumlah desa. Setelah tim Desa Purwodadi berpamitan pada Jumat, 09/10, disusul tim Desa Wringinagung pada Senin, 12/10, kini giliran tim Desa Wringinrejo menuntaskan jadwal kerja lapangannya.
Dalam kerja lapangan, meninggalkan lokasi bukan sekadar urusan mengemasi perlengkapan dan mengakhiri kunjungan. Ada proses emosional ketika seseorang harus beranjak dari lingkungan yang selama ini menjadi bagian dari kesehariannya.
Setelah sekian lama bekerja bersama masyarakat, para enumerator membawa pulang sesuatu yang tak tercatat dalam lembar pertanyaan dalam aplikasi, seperti pengalaman, pelajaran, dan hubungan antarmanusia.
Ada pepatah Belanda yang berbunyi, “Elk afscheid is de geboorte van een herinnering.” Artinya, “Setiap perpisahan adalah kelahiran sebuah kenangan.”
Kalimat itu terasa tepat untuk menggambarkan pamitan di Pendopo Desa Wringinrejo. Hari itu, sebuah tahap pekerjaan memang berakhir. Namun, cerita tentang keramahan warga, dukungan perangkat desa, dan pengalaman menyusuri rumah tangga demi rumah tangga akan tetap hidup dalam ingatan.
Inilah balada para enumerator!. Mereka datang membawa instrumen penelitian, bekerja sebagai sebuah tim, dan pulang dengan cerita yang jauh lebih kaya daripada sekadar data. Setiap rumah tangga yang dikunjungi meninggalkan pelajaran; setiap percakapan menumbuhkan pemahaman; dan setiap tantangan menjadi bagian dari perjalanan bersama.
Baseline survey kini memberi ruang bagi jeda. Kelak, ketika tim kembali untuk endline survey, perjumpaan itu akan menjadi babak baru dari kisah yang sama.
Sebab, tugas lapangan boleh berakhir untuk sementara, tetapi makna sebuah pertemuan tidak harus ikut selesai. Di Pendopo Desa Wringinrejo, pamitan bukanlah titik akhir. Ia adalah koma - sebuah jeda sebelum cerita berikutnya kembali dituliskan. *** [141026]
Oleh: Budiarto Eko KusumoEditor: Budiarto Eko Kusumo
































