Rabu, 04 November 2026

Ketika Langkah Harus Beranjak: Pamitan Enumerator Baseline Survey di Omah Rembug Kaliploso

“Goodbyes are only for those who love with their eyes. Because for those who love with heart and soul there is no such thing as separation.” – Rumi

Ada perjumpaan yang bermula dari ketukan pintu rumah, percakapan sederhana, dan pertanyaan-pertanyaan dalam aplikasi. Namun, siapa sangka, dari rutinitas pengumpulan data itu tumbuh kedekatan yang kelak membuat sebuah perpisahan terasa begitu berat. Sebab, di balik angka-angka baseline survey, tersimpan cerita tentang manusia, kebersamaan, dan jejak pengabdian yang tak selalu bisa diukur dengan instrumen penelitian.

Pagi itu, Jumat (30/10), Omah Rembug, sebuah ruangan di belakang Pendopo Desa Kaliploso, Jalan Plosorejo No. 21, Dusun Plosorejo RT 03 RW 04, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, menjadi saksi sebuah perjumpaan yang sekaligus menandai perpisahan.

Setelah rangkaian pemeriksaan ulang spirometri kedua di Pendopo Kalirejo berakhir pada Senin (26/10), para enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) sebenarnya belum langsung berpamitan. Ada jeda empat hari sebelum momen itu tiba. Salah seorang enumerator masih harus menuntaskan keterlibatannya dalam kepanitiaan Festival Ngopi Sambang Dulur Kaliploso 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu (28/10).

Kades Kaliploso dan oerangkat desa berpose dengan enumerator baseline survey serta Field Facilitator NIHR UB

Maka, Jumat pagi menjadi waktu yang dipilih untuk menutup kebersamaan di lapangan secara lebih khidmat.

Dua enumerator Desa Kaliploso, Rahmanurraudhotul Amin, SKM dan Rafini Aminatul Hidayah, S.Tr.Gz., hadir bersama Field Facilitator NIHR Universitas Brawijaya (UB). Kedatangan mereka disambut perangkat desa yang terdiri atas Kepala Desa Kaliploso, Rudi Hartono, S.Th.I., Sekretaris Desa Budi Santosa, A.Md., serta sejumlah staf desa.

Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat. Tidak ada sekat formalitas yang kaku. Yang hadir adalah orang-orang yang selama berbulan-bulan telah berbagi ruang interaksi dalam sebuah kegiatan penelitian kesehatan masyarakat.

Rahman membuka acara dengan sekapur sirih. Ia menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada Pemerintah Desa Kaliploso beserta seluruh perangkatnya atas dukungan dan bantuan selama proses pengumpulan data baseline hingga pelaksanaan pemeriksaan spirometri. Dukungan tersebut, menurutnya, menjadi bagian penting yang memungkinkan seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan lancar.

Ia juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk meminta maaf apabila dalam interaksi yang terjadi, terdapat perkataan, sikap, atau tindakan yang mungkin menyinggung, baik yang disengaja maupun tidak.

Sekapur sirih dari perwakilan enumerator dalam pamitan dengan perangkat desa

Setelah itu, Field Facilitator NIHR UB memberikan penjelasan mengenai keberlanjutan agenda penelitian NIHR-GHRC NCDs & EC. Ia menegaskan bahwa berakhirnya kegiatan enumerasi bukan berarti seluruh tahapan penelitian telah selesai. Household listing, pre-screening, dan baseline survey memang telah dituntaskan, tetapi masih ada endline survey yang direncanakan berlangsung pada tahun berikutnya.

Dalam kesempatan yang sama, ucapan terima kasih dan permohonan maaf juga disampaikan kepada Pemerintah Desa Kaliploso atas segala bentuk kerja sama selama kegiatan berlangsung.

Giliran Kepala Desa Kaliploso, Rudi Hartono, memberikan sambutan. Dengan nada apresiatif, ia menyampaikan bahwa kehadiran NIHR-GHRC NCDs & EC telah membawa dampak positif bagi masyarakatnya, terutama dalam membangun kesadaran terhadap kesehatan.

Baginya, salah satu perubahan yang patut disyukuri adalah bergesernya cara pandang sebagian Masyarakat, dari yang sebelumnya cenderung acuh tak acuh menjadi lebih peduli terhadap kondisi kesehatan diri. Perubahan persepsi semacam ini tentu menjadi modal penting bagi pemerintah desa dalam menjalankan berbagai program pembangunan, khususnya di bidang kesehatan masyarakat.

Namun, ada bagian lain dari sambutan Kades Rudi yang membuat suasana mendadak berbeda.

Ia secara khusus memberikan apresiasi kepada Rahman. Menurutnya, Rahman bukan sekadar enumerator yang datang untuk menyelesaikan tugas penelitian. Lebih dari itu, ia telah menunjukkan kepedulian dengan turut membantu sejumlah kegiatan desa, termasuk agenda Banyuwangi Festival seperti Kaliploso Horti Carnival (KHC) dan Festival Ngopi Sambang Dulur.

Perangkat desa turut hadir dalam acara pamitan enumerator dengan perangkat desa

Pujian itu terasa lebih dari sekadar penghargaan atas sebuah pekerjaan. Ia menjadi pengakuan bahwa kehadiran seseorang telah melampaui batas tugas dan tanggung jawab formal. Bahwa di antara kesibukan penelitian, telah tumbuh hubungan sosial yang membuat seseorang diterima sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.

Mendengar ungkapan tersebut, Rahman tak kuasa menahan haru. Air matanya perlahan menetes. Ada sesuatu yang seolah tertahan di antara senyum dan keinginan untuk tetap tegar. Barangkali, bukan semata karena harus meninggalkan tempat tugas, melainkan karena menyadari bahwa kehadirannya ternyata meninggalkan kesan yang begitu berarti bagi orang-orang yang selama ini membersamainya.

Usai sambutan, acara dilanjutkan dengan penyerahan bingkisan kenang-kenangan secara simbolis. Sebuah gestur sederhana, tetapi menyimpan makna yang jauh lebih besar daripada benda yang diserahkan.

Suasana haru kembali mencair ketika beberapa perangkat desa mengangkat Rahman, seolah ingin menghibur sekaligus mengusir kesedihan yang telanjur tumpah. Gelak tawa pun menyelingi momen emosional tersebut. Di ruangan itu, air mata dan tawa seakan menemukan tempat untuk berdampingan: dua ekspresi yang sama-sama lahir dari rasa memiliki.

Penyerahan bingkisan secara simbolis dari enumerator yang diserahkan kepada Kades Kaliploso

Pada akhirnya, meninggalkan lapangan bukan sekadar perkara mengakhiri pekerjaan. Ia merupakan bagian dari ritual penyelesaian, tahap akhir dari sebuah ritus peralihan ketika seseorang beranjak dari ruang pengabdiannya untuk kembali berintegrasi ke dalam kehidupan dengan pengalaman dan status sosial yang baru.

Dalam pengertian itu, pamitan bukan sekadar rangkaian kata perpisahan. Ia adalah pengejawantahan sebuah transisi, dari kebersamaan menuju jarak, dari rutinitas menuju kenangan, dari perjumpaan sehari-hari menuju ingatan yang akan terus dibawa pulang.

Barangkali, di sinilah relevansi ungkapan Jalaluddin Rumi (1207-1273), seorang penyair sufi Persia, teolog, dan ulama Islam, menemukan maknanya: 

“Perpisahan hanya berlaku bagi mereka yang mencintai dengan mata. Sebab bagi mereka yang mencintai dengan hati dan jiwa, tidak ada yang namanya perpisahan.”

Salah seorang enumerator langsung digotong oleh kamituwo dan perangkat desa lainnya dalam acara pamitan

Sebab, ketika tugas lapangan telah usai dan langkah harus beranjak dari enumeration area, yang tertinggal bukanlah sekadar catatan penelitian, angka, atau lembar administrasi. Ada persahabatan, kepercayaan, pengalaman, dan kenangan yang telah tumbuh bersama masyarakat.

Enumerator boleh meninggalkan Kaliploso. Namun, sebagian kisah tentang Kaliploso akan selalu ikut bersama mereka.

Dan di Omah Rembug pagi itu, perpisahan justru menjadi cara paling sederhana untuk membuktikan bahwa sebuah kebersamaan pernah begitu berarti. *** [041126]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Selasa, 03 November 2026

Nikmatnya Makan Siang di Tepian Dam Pancursari: Ketika Data dan Persahabatan Berpadu

“A farewell is necessary before we can meet again, and meeting again, after moments or a lifetime, is certain for those who are friends.” ― Richard Bach

Matahari mulai condong ke barat, menyorotkan sinar keemasan di permukaan air Dam Pancursari yang tenang. Di bawah rindang pohon ketapang kencana, sebuah tikar biru muda digelar. Di atasnya, nasi bungkus, lauk-pauk sederhana, dan tawa lepas tersaji. 

Sore itu, Senin (26/10), bukan sekadar makan siang biasa. Ia adalah penutup dari sebuah perjalanan panjang, sebuah perayaan kecil atas kerja keras, dan yang terpenting, sebuah momen keakraban yang lahir dari kolaborasi.

Pemandangan ini mungkin terlihat sederhana. Dua enumerator, Rahmanurraudhotul Amin, SKM dan Rafini Aminatul Hidayah, S.Tr.Gz., duduk bersila bersama lima kader desa. Turut hadir pula Supervisor Tes Spirometri dan Field Facilitator NIHR Universitas Brawijaya (UB). 


Tapi di balik kesederhanaan itu, tersimpan cerita tentang empat bulan penuh dedikasi di Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi. Mereka baru saja merampungkan pemeriksaan ulang spirometri kedua di Pendopo Dusun Kalirejo, sebuah kegiatan yang menandai berakhirnya rangkaian baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC).

Dam Pancursari sendiri bukanlah lokasi sembarangan. Bendungan peninggalan Belanda ini adalah urat nadi bagi warga Desa Benculuk dan Kaliploso. Selain mengatur aliran sungai dan irigasi, kawasan ini menjelma menjadi ruang publik yang hidup. Jembatan Pancursari menghubungkan dua desa, sementara pendoponya menjadi tempat favorit warga untuk beristirahat. 

Kawasan ini juga akrab dengan kegiatan edukasi lingkungan, seperti penyuluhan kebersihan sungai dan penanaman bibit pohon bersama siswa sekolah dasar. Maka, memilih tempat ini untuk makan siang perpisahan terasa tepat. Ia bukan sekadar lokasi netral, melainkan bagian dari denyut kehidupan masyarakat yang telah mereka teliti.


Suasana di bawah pohon ketapang kencana (Terminalia neotaliala) itu hangat. Rahman, salah satu enumerator, membuka percakapan. Dengan tulus, ia menyampaikan terima kasih atas bantuan dan kerja sama para kader selama baseline survey. 

Tak lupa, ia memohon maaf bila selama kolaborasi ada hal-hal yang kurang berkenan. Senada dengan itu, Field Facilitator NIHR UB juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya. Bagi mereka, para kader adalah ujung tombak. Mereka adalah jembatan yang menghubungkan tim peneliti dengan denyut nadi kehidupan warga desa.

Momen ini adalah cermin dari pendekatan Community-Based Research yang mereka usung. Penelitian berbasis komunitas ini menempatkan kemitraan aktif antara petugas lapangan dan anggota komunitas sebagai prioritas utama. 


Kader tidak hanya diajak bekerja sama, tetapi juga diberdayakan. Mereka dilibatkan dalam setiap proses, dari pengumpulan data hingga pemeriksaan spirometri. Harapannya, semangat kesehatan masyarakat yang menjadi inti dari baseline survey ini dapat terus menyebar, bahkan setelah enumerator meninggalkan desa.

Di tengah obrolan ringan dan santapan siang, ada sebuah kesadaran yang menggantung di udara. Perjalanan empat bulan itu telah membangun ikatan yang erat. Kenangan demi kenangan dilalui bersama, mulai dari mendatangi rumah warga, menjelaskan maksud pemeriksaan, hingga menenangkan peserta yang cemas saat spirometri. 

Semua itu tiba-tiba harus terhenti karena jadwal baseline survey telah usai. Ada rasa haru, tetapi juga kebanggaan. Tawa mereka sesekali pecah, namun di baliknya terselip nada perpisahan. Sebuah pertemuan yang akrab, namun harus berakhir.


Dalam sosiologi, apa yang terjadi di tikar biru muda itu disebut sebagai “jarak sosial yang dekat”. Sebuah kondisi di mana hubungan antar individu terjalin dengan keakraban, penerimaan, dan keterlibatan yang tinggi. Tidak ada sekat antara enumerator dan para kader. 

Yang ada hanyalah manusia yang saling membantu, saling belajar, dan saling menghargai. Makan siang sederhana ini adalah simbol dari jarak sosial yang telah berhasil dipangkas oleh niat baik dan kerja sama.

Perpisahan memang selalu membawa nuansa sendu. Namun, seperti yang pernah ditulis penulis Amerika Richard Bach: 

“Perpisahan diperlukan sebelum kita bisa bertemu kembali, dan pertemuan kembali - entah setelah beberapa saat atau seumur hidup - adalah suatu kepastian bagi mereka yang bersahabat.” 


Kutipan ini seakan menjadi mantra yang menenangkan. Perpisahan ini bukanlah akhir, melainkan jeda. Ikatan yang telah terjalin di Desa Kaliploso, di tepian Dam Pancursari, adalah ikatan persahabatan yang tidak akan lekang oleh waktu.

Makan siang di Dam Pancursari bukan sekadar tentang menikmati nasi dan lauk. Ia adalah tentang merayakan kerja keras, menghargai kemitraan, dan mengakui bahwa di balik setiap data yang terkumpul, ada hati dan tangan yang terlibat. 

Sore itu, di bawah pohon ketapang kencana, dua enumerator dan lima kader tidak hanya berbagi makanan. Mereka berbagi cerita, tawa, dan harapan. Dan ketika tikar biru muda itu akhirnya dilipat, mereka pulang dengan membawa kenangan indah serta keyakinan bahwa suatu hari nanti, mereka akan bertemu kembali. *** [031126]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Selasa, 27 Oktober 2026

Pamitan di Ruang Kerja Kades Tamanagung: Ketika Angka Berpisah dari Wajah-Wajah

आमुखं समागच्छ, पृष्ठं प्रदर्श्य प्रगच्छ। -- संस्कृत सुभाषित

(Āmukhaṃ samāgaccha, pṛṣṭhaṃ pradarśya pragaccha -- Sanskrut subhashit/Sanskrit proverb)

Ada perpisahan yang terdengar seperti pintu tertutup. Namun, ada pula perpisahan yang terasa seperti jeda napas - bukan akhir, melainkan ruang di antara dua pertemuan. Di Ruang Kerja Kepala Desa Tamanagung, Senin (26/10), tiga enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) memilih perpisahan yang kedua, yaitu berpamitan dengan tenang, berterima kasih dengan tulus, lalu pergi membawa cerita yang tidak selalu tertulis dalam aplikasi.

Mereka datang sebagai enumerator – seseorang yang bertugas melakukan pengumpulan data di lapangan dan memfasilitasi pemeriksaan spirometri. Mereka pergi sebagai bagian dari kisah desa.

Enumerator baseline survey berpose dengan Kades Tamanagung, Sekdes, dan perangkat desa lainnya

Jeda di Tengah Jalan Panjang

Siang itu, Field Facilitator NIHR UB sempat undur diri dari kegiatan pemeriksaan ulang spirometri kedua di Desa Kaliploso. Ia menuju Balai Desa Tamanagung untuk mendampingi enumerator baseline survey NIHR-GHRC NCDs & EC dalam acara pamitan bersama Kepala Desa dan perangkat desa terkait.

Tiga enumerator hadir pada pagi itu adalah Fahmi Ahmad Fauzan, S.Sos.; Dysa Fitri Permatasari, S.Tr.Kes., M.Kes.; dan Nisaul Rofifah, S.Gz. Mereka datang bukan untuk melapor angka, melainkan untuk mengucapkan terima kasih - sebuah kalimat sederhana yang kerap tersimpan paling lama dalam ingatan.

Ruang kerja Kades Drs. Suharto di Jalan Sraten No. 07, Dusun Krajan RT 02 RW 04, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, menjadi saksi perpisahan itu. Di sana, rombongan enumerator diterima Kades Suharto, Sekretaris Desa Hendir Bernadi, serta lima staf desa yang selama empat bulan terakhir telah mendampingi jalannya pengumpulan data baseline survey.

Empat bulan bukan waktu yang singkat. Empat bulan adalah rangkaian pagi yang dimulai dari rumah ke rumah, pertanyaan yang diulang dengan sabar, jawaban yang dicatat dengan hati-hati, dan hubungan yang perlahan tumbuh dari sekadar kunjungan menjadi keakraban.

Lewat meja layanan masyarakat ketika menuju ruang kerja Kades

Ketika Data Menyimpan Manusia

Dalam ruangan ber-AC itu, Fauzan menyampaikan maksud kedatangan mereka, yaitu berpamitan atas selesainya tugas lapangan pengumpulan data baseline survey yang telah berlangsung selama empat bulan.

Kalimat itu mungkin terdengar administratif. Namun di baliknya ada beban yang baru saja dilepaskan: daftar rumah tangga yang telah dikunjungi, pertanyaan yang telah dijawab, pengumpulan data yang telah rampung, serta wajah-wajah warga yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan kerja lapangan.

Sebab, di balik setiap pertanyaan yang selesai, tidak pernah hanya ada angka. Ada manusia. Ada cerita. Ada komunitas yang membuka pintu, menyediakan kursi, menjawab pertanyaan, dan sesekali berbagi perhatian kepada orang asing yang datang membawa formulir.

Kades Suharto menanggapi dengan hangat. Ia menyampaikan rasa senang Pemerintah Desa Tamanagung karena desanya terpilih dalam penelitian NIHR UB. Ia juga memohon maaf apabila selama enumerator bertugas ada sambutan yang kurang berkenan.

Permintaan maaf itu terasa seperti buah tangan dari kerendahan hati. Sebab dalam kerja lapangan, kesempurnaan memang jarang hadir. Ada jadwal yang berubah, ada komunikasi yang perlu diperbaiki, ada kondisi lapangan yang menuntut penyesuaian. Namun justru di sanalah relasi diuji: bukan pada saat semuanya mudah, melainkan ketika kedua pihak memilih untuk tetap saling memahami.

Kades Suharto kemudian mengingatkan satu hal penting. Meskipun jadwal baseline survey telah berakhir, silaturahmi hendaknya tetap dijaga. Kalimat itu seperti benang yang menyambung perpisahan dengan pertemuan berikutnya.

Sekapur sirih dari eumerator baseline survey dalam acara pamitan

Pergi, Namun Belum Purna

Field Facilitator NIHR UB menambahkan bahwa penelitian ini sebenarnya belum purna. Masih ada kelanjutannya, tetapi waktunya harus diiringi jeda.

Karena itu, Tim Enumerator Baseline Survey Desa Tamanagung berpamitan untuk menyudahi jadwal baseline survey. Di tahun depan, mereka akan kembali ke desa ini dalam rangkaian Endline Survey. Atas dasar itu, Field Facilitator NIHR UB memohon izin untuk datang kembali kelak.

Pamitan, dalam konteks ini, bukanlah kata selamat tinggal yang mutlak. Ia lebih tepat disebut sebagai janji yang ditunda. Sebuah pernyataan bahwa perjalanan penelitian belum selesai; bahwa desa ini akan dijumpai lagi, bukan sebagai lokasi survei semata, melainkan sebagai mitra dalam sebuah usaha memahami kesehatan masyarakat.

Usai rangkaian percakapan, dilanjutkan pemberian bingkisan kepada perangkat desa yang selama ini mendampingi kegiatan enumerator. Bingkisan itu mungkin sederhana, tetapi ia membawa makna, yaitu ucapan terima kasih yang tidak cukup diucapkan hanya dengan kata-kata.

Kemudian foto bersama diabadikan. Tangan-tangan saling berjabat. Senyum-senyum terukir. Dan pada saat itulah perpisahan tidak lagi terasa seperti kehilangan, melainkan seperti penutup sebuah bab yang akan kelak dilanjutkan pada bab berikutnya.

Bingkisan kenang-kenangan dari enumerator kepada Kades

Datang Tampak Muka, Pergi Tampak Punggung

Ada peribahasa dari khazanah Sansekerta yang mengingatkan: 

“Datanglah dengan menghadap ke depan atau memperlihatkan wajahmu; dan pergilah dengan memperlihatkan punggungmu.”

Secara harfiah, frasa itu menggambarkan orientasi tubuh manusia. Ketika tiba, kita menghadap ke depan dan wajah kita terlihat. Ketika pergi, kita berjalan membelakangi dan punggung kita yang tampak. Namun makna sesungguhnya tidak berhenti pada posisi tubuh.

Peribahasa ini termasuk idiom yang membawa makna asosiatif dan kultural. Ia mengajarkan nilai kesantunan dan etika bertamu. Ketika datang, seseorang memberi salam dan kabar; ketika pulang, seseorang berpamitan. Tidak ada ruang untuk pergi diam-diam, lari dari tanggung jawab, atau meninggalkan tempat tanpa pesan - sesuatu yang dalam bahasa populer kini disebut ghosting.

Wajah melambangkan kehormatan, niat baik, dan perkenalan awal. Punggung melambangkan penutup interaksi yang bersih, tanpa meninggalkan kesan buruk atau prasangka di kemudian hari.

Dalam budaya Indonesia, pesan itu dikenal pula melalui peribahasa “datang tampak muka, pulang tampak punggung,” yang berarti datang dan pergi hendaknya memberi tahu serta dilakukan dengan baik dan sopan.

Pamitan enumerator di Ruang Kerja Kades Tamanagung adalah perwujudan nyata dari nilai itu. Mereka tidak hanya menyelesaikan tugas, tetapi juga menutup perjalanan dengan cara yang terhormat, yaitu mengucapkan terima kasih, menerima masukan, menjaga hubungan, dan memohon izin untuk kembali.

Bingkisan kenang-kenangan dari enumerator kepada Sekdes

Yang Dibawa Pulang

Meninggalkan lapangan merupakan ritual penyelesaian - tahap akhir dari sebuah ritus peralihan. Setelah lama terintegrasi dalam kehidupan komunitas, enumerator kembali ke posisi awalnya, namun dengan status yang telah berubah, bukan lagi orang asing yang baru datang, melainkan kenalan yang membawa kenangan.

Itulah kisah enumerator. Setiap angka menyimpan cerita. Setiap rumah tangga yang dikunjungi menjadi bagian dari perjalanan mereka. Mereka mendata rumah tangga dan mengumpulkan informasi, tetapi hal paling berharga yang mereka peroleh bukan sekadar data. Yang paling berharga adalah pengalaman, seperti belajar mendengar, belajar bersabar, belajar menghormati kehidupan orang lain, dan belajar bahwa ilmu tidak pernah lahir dari ruang kosong.

Tugas mereka mungkin telah usai. Namun kenangan dan persahabatan yang terjalin akan tetap membekas.

Kami datang sebagai enumerator, bekerja sebagai tim, dan pergi membawa kenangan indah. Survei ini berakhir di sini, tetapi pelajaran dan persahabatan yang didapat akan terus hidup.

Selamat tinggal pada kerja lapangan, segala tantangan, dan momen-momen tak terlupakan. Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan ini.

Sampai jumpa kembali, Tamanagung - di waktu ketika jeda telah selesai dan langkah-langkah itu kembali mengarah ke depan. *** [271026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Mengulang Napas, Memastikan Hasil: Pemeriksaan Ulang Spirometri Kedua di Desa Kaliploso

"Breathing isn't only the automatic exchange of oxygen and carbon dioxide, after all. The way we breathe is influenced by our emotions and environment, and vice versa." -- Shayla Love

Pagi itu, di Pendopo Dusun Kalirejo, Desa Kaliploso, sejumlah warga kembali bersiap menghadapi alat spirometri. Mereka datang bukan untuk memulai pemeriksaan dari awal, melainkan menyempurnakan hasil yang sebelumnya belum dapat terbaca dengan baik. Di balik tiupan napas yang berulang, ada satu hal yang hendak dipastikan, yakni pengukuran fungsi paru yang akurat agar kondisi kesehatan responden dapat dinilai secara lebih tepat.

Senin (26/10), dua enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Kaliploso, Rahmanurraudhotul Amin, SKM, dan Rafini Aminatul Hidayah, S.Tr.Gz., kembali menjadwalkan pemeriksaan ulang spirometri melalui kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi. Kegiatan berlangsung di Pendopo Dusun Kalirejo, RT 02 RW 07, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi.

Suasana pemeriksaan ulang spirometri kedua di Pendopo Dusun Kalirejo, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi

Pemeriksaan ini merupakan kelanjutan dari rangkaian pemeriksaan spirometri yang telah dilaksanakan terdahulu. Sebelumnya, enam kali pemeriksaan telah digelar untuk menjangkau 164 target responden hasil pre-screening yang terindikasi memiliki faktor risiko penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Namun, tidak semua hasil pengukuran dapat dibaca atau memenuhi kriteria kualitas. Sejumlah responden pun perlu kembali menjalani pemeriksaan.

Mengulang spirometri bukan sekadar mengulang prosedur. Dalam pemeriksaan fungsi paru, hasil yang tidak terbaca (unreadable), tidak valid, atau tidak memenuhi standar kualitas tidak seharusnya dipaksakan untuk ditafsirkan. Pemeriksaan ulang menjadi langkah penting untuk memastikan bahwa data yang diperoleh benar-benar menggambarkan fungsi paru, bukan akibat teknik yang kurang tepat, kendala peralatan, atau kondisi sementara.

Kualitas hasil spirometri sendiri bergantung pada tiga unsur yang saling berkaitan, yaitu tenaga pemeriksa yang terlatih, peralatan yang akurat, serta upaya maksimal responden dalam mengikuti instruksi. Karena itu, ketelitian dan kesabaran menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pemeriksaan.

Meja pendaftaran di area parkir Pondes Kalirejo


Dari meja pendaftaran hingga embusan napas

Sebanyak 30 responden diundang untuk mengikuti pemeriksaan ulang kali ini. Lima kader setempat - Eva Hariana, Siti Zulaihah Harum Wijayanti, Rio Dita Wibawa, Sri Hidayati, dan Sundari, bersama Sutiyani Eka Rahayu - turut mendukung mobilisasi warga, penyebaran undangan, pendaftaran, hingga antar-jemput responden yang membutuhkan bantuan.

Alur pemeriksaan berlangsung seperti kegiatan sebelumnya. Responden terlebih dahulu melakukan registrasi dan verifikasi data di meja pendaftaran yang dilayani Rafini bersama para kader. Berikutnya, mereka menuju meja tanda-tanda vital (TTV) untuk menjalani pengukuran tekanan darah dan oksimetri oleh Perawat Tria Firnasari, A.Md.Kep. Di meja yang sama, dr. Sapto Aji melakukan anamnesis berdasarkan lembar data serta pemeriksaan fisik menggunakan stetoskop.

Sambil menunggu giliran, Rahman memberikan penjelasan mengenai teknik peniupan udara agar responden lebih siap menjalani tes. Tahap ini penting karena spirometri membutuhkan kerja sama aktif, yakni responden harus mengikuti instruksi dan mengembuskan napas dengan teknik yang tepat.

Dokter dari RS Yasmin Banyuwangi sedang periksa fisik responden

Di meja spirometri, Ns. Imelda Arofah, S.Kep., memandu manuver pemeriksaan dengan bantuan Ns. Yusi Ayu Permatasari, S.Kep., yang mengoperasikan laptop terhubung ke alat spirometri. Perawat Elik Anistina, S.Kep., turut mengawal pelaksanaan pemeriksaan.

Tes pertama dilakukan sebelum nebulisasi (pre-nebulisasi). Setelah itu, responden berpindah ke meja di sebelah barat untuk menjalani nebulisasi oleh Meira Safira, S., A.Md.Kep. Prosedur ini menggunakan nebulizer untuk mengubah obat cair menjadi kabut halus yang dihirup melalui saluran pernapasan.

Selesai nebulisasi, responden kembali menunggu panggilan untuk menjalani tes kedua (post-nebulisasi). Dengan demikian, petugas memperoleh pengukuran sebelum dan sesudah pemberian terapi inhalasi sesuai protokol pemeriksaan. Setelah seluruh tahapan selesai, responden kembali ke meja pendaftaran untuk menerima konsumsi, bingkisan, dan subsidi transportasi.

Tes spirometri


Di antara angka dan kondisi manusia

Pemeriksaan ulang hari itu berakhir pukul 12.45 WIB. Dari 30 responden yang diundang, 26 orang berhasil menjalani pemeriksaan. Dua orang tidak hadir karena berbagai pertimbangan. Seorang responden lainnya, perempuan berusia 74 tahun, tidak dapat melanjutkan pemeriksaan karena mengeluhkan sesak napas dan nyeri dada. Ia tampak menangis; menurut informasi kader, ia juga mengalami depresi. Sementara itu, seorang responden yang telah mengantre terpaksa pulang setelah menerima kabar duka bahwa mertuanya meninggal dunia.

Catatan tersebut mengingatkan bahwa pemeriksaan kesehatan tidak berlangsung di ruang hampa. Kondisi fisik, emosi, dan peristiwa kehidupan dapat memengaruhi kesiapan seseorang untuk menjalani prosedur medis.

Hal ini sejalan dengan pemikiran Shayla Love, seorang jurnalis sains dan penulis kontributor di The New Yorker dan Psyche: 

“Bagaimanapun, bernapas bukan sekadar pertukaran oksigen dan karbon dioksida secara otomatis. Cara kita bernapas dipengaruhi oleh emosi dan lingkungan kita, begitu pula sebaliknya.”

Nebulisasi

Pengamatan Ns. Elik juga mencatat tiga hasil pengukuran yang kurang maksimal. Dua responden memiliki riwayat asma atau sesak napas, sedangkan seorang responden perempuan berusia 70 tahun kerap batuk selama tes berlangsung. Catatan seperti ini penting untuk menempatkan hasil pengukuran dalam konteks kondisi responden, sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi tim pemeriksa.

Pada akhirnya, pemeriksaan ulang spirometri di Kaliploso bukan hanya tentang melengkapi data penelitian. Ada ketelitian tenaga kesehatan, koordinasi enumerator dan kader, serta pengalaman setiap warga yang ikut menentukan jalannya pemeriksaan. Sebab, di balik setiap angka pada layar spirometer, terdapat manusia dengan kondisi tubuh, kemampuan, dan kisah hidup yang berbeda-beda.

Memastikan hasil terbaca dengan baik berarti memberi ruang bagi data yang lebih dapat dipercaya. Dan memastikan proses berjalan dengan cermat berarti menghargai napas yang menjadi dasar dari setiap pengukuran. *** [271026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Senin, 26 Oktober 2026

Saat Napas Dipanggil Kembali di Kaliploso

“[B]reath is the animated, nonphysical aspect of your being. So that when you look in the direction of breath, when you focus your attention on your breath, you are really looking at your spiritual self.” – Andrew Weil, MD

Di sebuah pendopo di Dusun Kalirejo, responden menarik napas dalam-dalam, menahan sejenak, lalu meniup sekuat tenaga ke dalam alat kecil yang terhubung dengan laptop. Layar itu merekam kurva pernapasannya - bukan sekadar angka, melainkan potret kerja parunya. Namun pada pemeriksaan sebelumnya, sebagian kurva itu tidak dapat dibaca. Karena itu, pada Sabtu (24/10), mereka diundang kembali untuk mengulang pemeriksaan spirometri lagi.

Pemeriksaan ulang spirometri perdana ini digelar di Pendopo Dusun Kalirejo, RT 02/RW 07, Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan merupakan kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi, dengan mengundang 28 responden hasil pre-screening yang terindikasi memiliki faktor risiko penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

Personel RS Yasmin Banyuwangi berpose dengan enumerator baseline survey dan kader setempat

Mengapa Hasil Harus Diulang?

Spirometri adalah pemeriksaan yang menilai seberapa besar dan seberapa cepat seseorang dapat menghirup serta menghembuskan udara. Tes ini menjadi pintu penting untuk mendeteksi gangguan pernapasan, termasuk PPOK yang sering berkembang diam-diam.

Namun, alat canggih sekalipun tidak dapat bekerja sendiri. Kualitas spirometri bergantung pada tiga hal, yaitu teknisi atau perawat yang terlatih, peralatan yang akurat, dan usaha maksimal dari responden. Jika salah satunya terganggu, misalnya responden batuk di awal hembusan, kurva tidak sempurna, atau nilai antar-manuver tidak konsisten, hasil dapat menjadi tidak valid. Standar kualitas umumnya menuntut minimal tiga kurva yang dapat diterima dan hasil FVC serta FEV1 yang konsisten, dengan selisih tidak lebih dari 150 ml.

Karena itu, bila rekaman sebelumnya “tidak dapat dibaca” atau mengandung cacat teknis, langkah yang tepat bukan memaksakan interpretasi. Hasil tersebut sebaiknya diabaikan dan pemeriksaan diulang pada hari lain. Sebaliknya, jika masih ada data yang layak digunakan, klinisi dapat melaporkan hasil terbaik disertai catatan keterbatasan teknis dan menafsirkannya secara hati-hati.

Di Kaliploso, kebutuhan itu menjadi nyata. Dari enam gelombang pemeriksaan spirometri sebelumnya - 28 Agustus, 29 Agustus, 12 September, 18 September, 2 Oktober, dan 3 Oktober - sejumlah responden dari 164 target pre-screening harus mengikuti tes ulang karena hasil awalnya tidak terbaca.

Suasana pemeriksaan ulang spirometri perdana di Pendopo Dusun Kalirejo, Dusun Kalirejo RT 02 RW 07 Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi

Alur yang Sama, Tekad yang Baru

Pukul 08.00 WIB, pendopo itu perlahan hidup. Meja pendaftaran sudah siap, kursi antrean tertata, dan lima kader setempat bergerak cekatan - Eva Hariana, Siti Zulaihah Harum Wijayanti, Rio Dita Wibawa, Sri Hidayati, Sundari, dan Sutiyani Eka Rahayu. Mereka membantu enumerator di meja pendaftaran, memobilisasi warga, menyebarkan undangan sejak beberapa hari sebelumnya, hingga mengantar-jemput responden yang membutuhkan.

Dua enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC), Rahmanurraudhotul Amin, SKM, dan Rafini Aminatul Hidayah, S.Tr.Gz., memastikan alur berjalan seperti pemeriksaan-pemeriksaan sebelumnya. Responden pertama-tama melakukan registrasi dan verifikasi data di meja pendaftaran yang dilayani enumerator Rafini bersama para kader.

Dari sana, mereka menuju meja tanda-tanda vital (TTV). Perawat Mesra Safira, A.Md.Kep., mengukur tekanan darah dan saturasi oksigen melalui oksimetri. Di sampingnya, dr. Rika Hardiyanti melakukan anamnesis melalui spreadsheet sekaligus pemeriksaan fisik dengan stetoskop.

Baru setelah itu responden duduk menunggu panggilan ke meja spirometri. Di sela waktu menunggu, Rahman memberikan latihan teknik penyebulan, yaitu bagaimana menarik napas penuh, memasang bibir rapat pada mouthpiece, lalu menghembuskan udara dengan kuat dan tahan lama. Latihan sederhana ini ternyata menentukan. Tanpa teknik yang tepat, alat akan merekam kurva yang tidak dapat dinilai.

Pengukuran tekanan darah dan oksimetri

Saat Napas Diuji Dua Kali

Ketika namanya dipanggil, responden mendekati meja spirometri. Ns. Imelda Arofah, S.Kep., memandu manuver pernapasan, dibantu Ns. Rizki Indrawangi, S.Kep., yang mengoperasikan laptop dan perangkat spirometri. Perawat Elik Anistina, S.Kep., mengawal pelaksanaan tes sebagai bagian dari dukungan NIHR UB.

Tes pertama disebut tahap pre-nebulisasi. Setelah selesai, responden bergeser ke meja nebulisasi di sisi barat. Di sana, Mahendra, S.Kep.Ns., memberikan terapi inhalasi menggunakan nebulizer, sebuah alat yang mengubah obat cair menjadi kabut halus untuk dihirup langsung ke saluran pernapasan.

Setelah beristirahat sejenak, responden dipanggil kembali untuk tahap post-nebulisasi. Mereka mengulangi manuver yang sama. Perbedaannya hanya satu, yakni kali ini paru mereka telah menerima bantuan obat inhalasi. 

Jika hasil tahap kedua berjalan lancar, rangkaian pemeriksaan selesai dan responden kembali ke meja pendaftaran untuk menerima konsumsi, gift, serta subsidi transportasi yang disaksikan enumerator.

Pemeriksaan ulang spirometri yang pertama ini selesai pada pukul 13.20 WIB. Dari 28 responden yang diundang, 25 orang berhasil terperiksa, sementara tiga orang dikeluarkan dari pemeriksaan dengan berbagai pertimbangan medis dan kondisi responden.

Tes spirometri

Ketika Keterbatasan Ikut Bicara

Di balik angka kehadiran, ada cerita yang tidak selalu tampak di layar spirometri. Ada lansia perempuan berusia 62 tahun dengan kemampuan memori sensorik yang menurun; ia telah dua kali hadir, tetapi belum berhasil melakukan manuver dengan baik. Ada pula lansia perempuan 62 tahun lain yang mengalami gejala stroke dan sakit perut kanan, sering kambuh saat bergerak, hingga akhirnya hanya bisa ditemukan dalam kondisi berbaring sehingga tak bisa hadir dalam undangan pemeriksaan ulang spirometri yang pertama ini.

Satu lansia perempuan berusia 72 tahun hadir pada hari itu, tetapi hasil skrining dr. Rika menunjukkan adanya keluhan pada jantung. Denyut nadinya cukup kencang, sehingga manuver spirometri dinilai berisiko bila tetap dilanjutkan. 

Sementara itu, dua responden yang tidak dapat hadir tersebut kemudian dicarikan penggantinya oleh enumerator Rahman dari daftar reschedule pada hari berikutnya.

Meski demikian, dari 27 responden yang terperiksa, Ns. Elik mencatat lima orang memiliki hasil yang belum maksimal. Tiga lansia laki-laki menghadapi kendala karena riwayat stroke, penurunan pendengaran, dan sesak napas. Dua perempuan - satu pra-lansia dan satu lansia - juga menghadapi hambatan akibat riwayat sesak napas dan stroke yang disertai gangguan kognitif.

Kondisi-kondisi ini menegaskan satu hal, bahwa spirometri bukan sekadar “meniup ke alat.” Ia menuntut koordinasi tubuh, pemahaman instruksi, kekuatan, dan ketenangan. Bagi sebagian lansia, itu adalah tantangan yang tidak ringan.

Nebulisasi

Napas sebagai Cermin Diri

Dokter dan penulis  kedokteran integrative asal Amerika, Andrew Weil, MD pernah mengatakan: 

“Napas adalah aspek nonfisik yang hidup dari diri Anda. Jadi, saat Anda mengarahkan pandangan ke arah napas, saat Anda memusatkan perhatian pada napas Anda, sebenarnya Anda sedang menatap diri spiritual Anda.”

Di Kaliploso, kalimat itu terasa dekat dengan keseharian. Setiap responden yang kembali menduduki kursi pemeriksaan tidak hanya mengulang tes teknis. Mereka juga mengulang kesempatan untuk didengar - agar riwayat sesaknya, keterbatasan geraknya, dan usahanya menarik napas tidak berakhir sebagai data yang gagal terbaca.

Pemeriksaan ulang ini mungkin tampak sederhana di mana satu pendopo, beberapa meja, alat kecil, dan warga yang datang membawa napas mereka. Namun di dalamnya ada upaya kolektif untuk memastikan satu hal penting, bahwa setiap napas warga Kaliploso mendapat kesempatan untuk terbaca, dipahami, dan dideteksi sejak dini. *** [261026] 

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Risk Checker

Risk Checker

Statistik Blog

Sahabat eKader

Label

Arsip Blog