Tampilkan postingan dengan label Primary Healthcare Strengthening. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Primary Healthcare Strengthening. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Oktober 2026

Dari Unreadable ke Valid: Proses Pemeriksaan Ulang Spirometri di Wringinagung

“Medida que progresaran, podían inhalar contando hasta cuatro y exhalar hasta ocho, con” -- James Nestor, Respira: La nueva ciencia de un arte olvidado

Di sebuah pendopo sederhana Kantor Balai Dusun Sumberjo, yang beralamat di Dusun Sumberjo RT 05 RW 01 Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, puluhan lansia antre dengan sabar. Bukan untuk mengambil beras atau obat, melainkan untuk “napas kedua”, yakni mengulang tes spirometri yang sebelumnya tak terbaca. Di sinilah sains bertemu realitas lapangan, di mana data yang baik bukan soal cepat selesai, tapi soal napas yang benar-benar terukur.

Pemeriksaan ulang spirometri bukanlah kegagalan, melainkan standar emas dalam pengukuran fungsi paru. Tes spirometri yang valid mensyaratkan minimal tiga manuver yang dapat diterima (acceptable) dan dua di antaranya harus konsisten (repeatable), dengan selisih FVC dan FEV1 tidak lebih dari 150 ml. Jika kurva buruk, nilai tidak konsisten, atau ada gangguan teknis, hasil itu sebaiknya tidak ditafsirkan, melainkan diulang di hari lain.

Personel RS Yasmin Banyuwangi berpose dengan enumerator baseline survey, kader kesehatan, pengawas tes spirometri, observer prosesi pemeriksaan spirometri, dan Field Facilitator NIHR UB

Kualitas spirometri bertumpu pada tiga pilar, yaitu perawat yang terlatih, peralatan akurat, dan usaha maksimal pasien. Tanpa salah satunya, data bisa menyesatkan. Di Wringinagung, sepuluh sesi spirometri sebelumnya telah menjangkau 250 responden terindikasi risiko PPOK. Namun, beberapa hasilnya “unreadable”. Maka, pengulangan bukan pilihan, melainkan keharusan ilmiah.

Rabu (07/10), tiga enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Wringinagung - Muhammad Wisnu Nafiri, S.E.; Maharany Triastuti Januarizki, S.ST.; dan Winda Cahyani, S.Tr.Gz.RD - kembali membuka pos pemeriksaan. Kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi ini mengundang 28 responden yang sebelumnya hasilnya belum memuaskan.

Dibantu dua kader kesehatan setempat, Eva Hariana dan Siti Zulaihah, alur pemeriksaan dijalankan persis seperti sepuluh sesi sebelumnya, yaitu registrasi dan verifikasi data, pengukuran tanda-tanda vital (TTV), anamnesis dengan aplikasi SMARThealth, pemeriksaan fisik, lalu spirometri pre-nebulisasi, nebulisasi, dan spirometri post-nebulisasi.

Meja pendaftaran

Di meja TTV, Perawat Annisa Fitriya, A.Md.Kep., memeriksa tekanan darah dan oksimetri. Di sampingnya, dr. Rika Hardiyanti melakukan anamnesis dan mendengarkan paru dengan stetoskop. 

Sambil menunggu panggilan spirometri, enumerator baseline survey Wisnu memanfaatkan waktu untuk melatih teknik pernapasan responden, sebuah sentuhan manusiawi di tengah protokol ketat.

Di meja spirometri, Ns. Winda Nurhasanah, S.Kep., memandu manuver dengan sabar, dibantu Ns. Rizki Indrawangi, S.Kep., yang mengoperasikan laptop terhubung alat spirometri, di bawah pengawasan Perawat Elik Anistina, S.Kep. 

Setelah tes tahap 1 (pre-nebulisasi), responden bergeser ke meja nebulisasi, di mana Ns. Renny Karmila, S.Kep., memberikan terapi inhalasi - mengubah obat cair menjadi kabut halus yang dihirup langsung ke saluran napas.

Dokter RS Yasmin Banyuwangi periksa responden dengan stetoskop

Setelah nebulisasi dan jeda singkat, responden dipanggil kembali untuk tes tahap 2 (post-nebulisasi). Prosedurnya sama, hanya berbeda pada kondisi sebelum dan sesudah pemberian bronkodilator. Jika tahap 2 lancar, rangkaian pemeriksaan selesai.

Responden lalu kembali ke meja pendaftaran untuk menerima konsumsi, gift, dan subsidi transportasi dari kader Eva dan Siti Zulaihah yang disaksikan oleh dua enumerator Rany dan Winda. Hal ini merupakan sebuah apresiasi kecil atas kontribusi responden pada data kesehatan komunitas.

Dari 28 responden yang diundang, semua berhasil diperiksa. Namun, dua hasil masih kurang memuaskan menurut Ns. Elik. Seorang lansia laki-laki berusia 80 tahun, yang sehari-hari menggunakan oksigen di rumah karena sesak napas kronis, kesulitan melakukan manuver baik pre maupun post-nebulisasi. Demikian pula seorang perempuan lansia sekitar 71 tahun dengan riwayat gejala stroke dan pengobatan saraf mata kanan.

Tes spirometri

Kasus-kasus ini mengingatkan bahwa spirometri bukan sekadar soal alat, tapi juga soal kondisi fisiologis dan kemampuan kooperatif pasien. Pada lansia dengan komorbiditas berat, manuver maksimal sering kali tak mungkin dicapai, dan itu bukan kegagalan individu, melainkan batasan realistis yang harus dicatat dalam interpretasi klinis.

Di tengah kesibukan itu, ada satu kalimat yang seolah menggema dari buku Breath: The New Science of a Lost Art (2020) karya James Nestor: 

“Seiring kemajuan mereka, mereka bisa menarik napas hingga hitungan keempat dan mengembuskannya hingga hitungan kedelapan.”

Kalimat ini bukan sekadar teknik relaksasi. Ia adalah metafora, bahwa napas yang baik butuh latihan, kesabaran, dan pengulangan. Di Wringinagung, spirometri yang diulang adalah wujud konkret dari prinsip itu di mana data paru yang akurat lahir dari napas yang terlatih, bukan terburu-buru.

Nebulisasi

Pemeriksaan ulang spirometri perdana di Desa Wringinagung ini selesai pukul 13.42 WIB, disaksikan oleh Rahmanurraudhotul Amin, SKM, enumerator baseline survey Desa Kaliploso yang ditunjuk Theme 1: Primary Healthcare Strengthening dalam obsevasi prosesi pemeriksaan spirometri dengan checklist. 

Dari catatan Field Facilitator NIHR UB, dua puluh delapan napas telah diukur ulang. Dua di antaranya masih menyisakan catatan teknis. Tapi justru di situlah kejujuran data berbicara di mana lebih baik mengulang daripada memaksakan interpretasi dari kurva yang buruk.

Karena pada akhirnya, kebijakan kesehatan yang tepat lahir dari data yang jujur. Dan data yang jujur dimulai dari napas yang benar-benar terukur, bahkan jika itu berarti harus diulang. *** [081026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Menyebul Menuju Sehat: Wiracarita Spirometri Keenam Desa Kaliploso

“What the bodily form depends on is breath (chi) and what breath relies upon is form,” states a Chinese adage from 700 AD. “When the breath is perfect, the form is perfect (too).”” -- James Nestor, Breath: The New Science of a Lost Art

Di bawah atap Pendopo Desa Kaliploso, Dusun Plosorejo RT 03 RW 04 Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, 25 warga antre dengan satu tujuan sederhana, yaitu memastikan paru-paru mereka masih bekerja sebagaimana mestinya.

Pada Sabtu (03/10), kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RS NU) Banyuwangi menggelar pemeriksaan spirometri keenam yang menjadi bagian dari baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC).

Suasana pemeriksaan spirometri (keenam) yang diadakan di Pendopo Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi

Kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB dengan 27 responden terindikasi faktor risiko Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Alurnya dirancang sistematis. Registrasi di meja barat daya oleh enumerator Rafini dibantu kader, lalu ke meja TTV di timur laut untuk penimbangan, pengukuran tekanan darah, dan oksimetri oleh Perawat Evi Faizatun.

Di sisi lain, Perawat Fath Syu'araanisa melakukan anamnesis menggunakan aplikasi SMARThealth. Sambil menunggu panggilan, enumerator Rahman mengajarkan teknik "menyebul" - istilah lokal untuk manuver pernapasan yang akan mereka lakukan di alat spirometri.

Pengukuran tekanan darah

Di meja spirometri sisi selatan, Perawat Joenhiga memandu manuver dengan bantuan Perawat Lavinia yang mengoperasikan MIR SpiroLab milik NIHR UB. Tes tahap pertama dilakukan sebelum semprotan salbutamol (pre-bronkodilator).

Responden kemudian duduk 20 menit menunggu obat bekerja - waktu yang direkomendasikan agar salbutamol mencapai efek maksimal membuka saluran napas. Setelah itu, mereka kembali melakukan tes tahap kedua (post-bronkodilator) dengan prosedur sama.

Tes spirometri

James Nestor, seorang jurnalis yang pernah menulis untuk majalah Outside, Men's Journal, Scientific American, Dwell, National Public Radio, The New York Times, The Atlantic, San Francisco Chronicle, dan lain-lain, pernah berujar dalam Breath: The New Science of a Lost Art (2020): 

"Wujud fisik bergantung pada napas (chi), dan napas bergantung pada wujud," demikian bunyi sebuah pepatah Tiongkok dari tahun 700 M. "Ketika napas sempurna, wujud pun menjadi sempurna."" 

Disaksikan para kader, enumerator berikan konsumsi, gift, dan subsidi transportasi atas partisipasi responden dalam pemeriksaan spirometri

Kutipan ini menguatkan mengapa spirometri bukan sekadar prosedur medis, melainkan upaya memastikan "chi" atau napas warga tetap optimal untuk menunjang wujud fisik yang sehat.

Dari 27 undangan, 25 hadir. Dua lainnya absen. Seorang perempuan yang reschedule dari pemeriksaan ketiga merasa minder, sementara seorang laki-laki tak bisa ditemui - menurut kader, ia menghindari kumpulan karena kerap ditagih utang.

Peta Desa Kaliploso

Di lapangan, beberapa tantangan muncul. Seorang lansia laki-laki 67 tahun kesulitan mengikuti instruksi karena gangguan pendengaran. Responden 65 tahun dengan riwayat post-opname hipertensi dan jantung bengkak menghasilkan tes kurang optimal. Satu lagi, lansia yang sedang pengobatan paru-paru juga menunjukkan hasil serupa. Menariknya, seorang pria 48 tahun dengan mental disorder justru menghasilkan tes yang cukup bagus.

Kegiatan berakhir pukul 12.09 WIB. Di meja pendaftaran akhir, enumerator Rafini dan kader membagikan konsumsi, gift, dan subsidi transportasi sebagai apresiasi atas partisipasi warga.

Pemeriksaan spirometri ini bukan sekadar angka FEV1 dan FVC. Ia adalah cerita tentang warga desa yang peduli pada napasnya sendiri, karena seperti kata pepatah Tiongkok: ketika napas sempurna, wujud pun menjadi sempurna. *** [081026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Selasa, 06 Oktober 2026

Napas yang Tak Terbaca: Ketika Spirometri Kedua di Wringinrejo Menjadi Ujian Kesabaran

“Uno de los primeros pasos para una respiración saludable es extender las respiraciones, mover el diafragma arriba y abajo un poco más y sacar todo el aire antes de tomar otra bocanada.” -- James Nestor, Respira: La nueva ciencia de un arte olvidado

Di sebuah pendopo desa di Banyuwangi, 37 warga diundang kembali untuk mengulang tes spirometri, karena hasil pemeriksaan sebelumnya “tidak terbaca”. 

Dalam dunia kesehatan paru, mengulang spirometri adalah praktik standar ketika rekaman sebelumnya gagal memenuhi kriteria kualitas, entah karena teknik pernapasan yang kurang tepat, masalah peralatan sesaat, atau upaya maksimal pasien yang belum tercapai.

Spirometri adalah tes fungsi paru yang mengukur berapa banyak dan seberapa cepat seseorang dapat mengembuskan napas setelah menarik napas dalam-dalam. Namun, validitasnya sangat bergantung pada tiga pilar, yaitu teknisi terlatih, peralatan akurat, dan - yang sering kali paling sulit - upaya maksimal dan konsisten dari pasien.

Standar internasional mensyaratkan minimal tiga manuver yang “dapat diterima” (acceptable) dan “dapat diulang” (repeatable), di mana dua nilai tertinggi FEV1 dan FVC tidak boleh berbeda lebih dari 150 mL. 

Suasana pemeriksaan ulang spiromtri kedua di Pendopo Desa Wringinrejo, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi

Jika rekaman awal cacat, misalnya kurva yang terpotong, ada batuk di detik pertama, atau embusan tidak mencapai plateau, maka hasilnya dianggap tidak dapat diinterpretasi. Dalam situasi seperti itu, langkah terbaik adalah mengulang tes di hari lain, bukan memaksakan interpretasi dari data yang tidak memenuhi standar.

Di Desa Wringinrejo, dari 76 responden yang terindikasi faktor risiko PPOK pada pre-screening, sebanyak 72 di antaranya menghasilkan rekaman “unreadable” pada tiga sesi spirometri sebelumnya. Ini bukan kegagalan individu semata, melainkan cerminan betapa rumitnya menyelaraskan teknik, alat, dan kondisi fisiologis warga - banyak di antaranya lansia, dengan keterbatasan napas atau gangguan lambung.

Sabtu (03/10), tiga hari setelah pemeriksaan ulang pertama, dua enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Wringinrejo, Yunita Pratiwi Suprapto, S.T. dan Firda Octa Vidyawati, S.M., kembali menggelar spirometri kedua di Pendopo Desa Wringinrejo yang beralamt di Jalan Diponegoro No. 164, Dusun Krajan RT 04 RW 02, Desa Wringirejo, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi. 

Kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi ini melibatkan tiga kader kesehatan setempat - Evi Risky Damayanti, Ismaulfa, dan Siti Mukholifah - yang membantu pendaftaran, mobilisasi, hingga antar-jemput responden.

Dokter RS Yasmin Banyuwangi lakukan pemeriksaan fisik dengan menggunakan stetoskop

Alurnya persis seperti sesi-sesi sebelumnya, yang diawali dengan registrasi dan verifikasi data oleh tiga kader, pengukuran tekanan darah dan oksimetri oleh Perawat Imelda Arofah, S.Kep.Ns., anamnesis dan pemeriksaan fisik oleh dr. Sapto Aji Nugroho menggunakan aplikasi SMARThealth, lalu antrean menuju meja spirometri. 

Sambil menunggu, enumerator Nita dan Firda memanfaatkan waktu untuk melatih teknik “menyebul”, suatu embusan panjang, keras, dan terus-menerus, kepada responden yang masih bingung.

Di meja spirometri, terlihat dua tenaga kesehatan RS Yasmin lainnya, yaitu Ns. Renny Karmila, Ns. Rizki Indrawangi, serta Ns. Elik Anistina, S.Kep. yang membantu NIHR UB mengawasi jalannya tes. Perawat Renny memandu manuver, sementara Rizki mengoperasikan laptop yang terhubung dengan spirometer. 

Setelah tes tahap 1 (pre-nebulisasi), responden bergeser ke meja nebulisasi, di mana Ns. Winda Nurhasanah, S.Kep. memberikan terapi inhalasi untuk membuka saluran napas. Dua puluh menit kemudian, mereka kembali untuk tes tahap 2 (post-nebulisasi).

Dari 37 yang diundang, 27 berhasil menyelesaikan rangkaian pemeriksaan. Sepuluh lainnya terbersit kabar, ada yang sedang bepergian, bekerja, dalam masa iddah, menolak karena merasa sudah cek rutin ke rumah sakit, atau - yang paling menyedihkan - menyerah karena “spirometri itu susah”.

Tes spirometri tahap 1

Field Facilitator NIHR UB mencatat dua kasus yang gagal menyelesaikan tes saat menghadiri pemeriksaan ulang spirometri yang kedua ini. Seorang laki-laki paruh baya terpaksa berhenti di tahap 1 karena gangguan lambung yang kambuh saat diminta menarik napas dalam-dalam. Seorang lansia laki-laki 66 tahun, meski sudah diulang delapan kali, tak mampu menghasilkan embusan “los” yang diperlukan; napasnya terlalu pendek, terlalu pelan, terlalu ragu. Delapan kali embusan adalah batas maksimal yang direkomendasikan sebelum pasien kelelahan dan hasil semakin tidak akurat.

Kasus-kasus ini bukan anomali. Dalam pedoman spirometri, jika pasien tidak mampu menghasilkan tiga manuver yang acceptable setelah delapan upaya, tes dihentikan dan hasilnya dicatat dengan catatan keterbatasan teknis. Kadang, data terbaik yang ada tetap dilaporkan, namun dengan interpretasi sangat hati-hati dan disclaimer jelas.

Di tengah situasi seperti ini, ada pelajaran mendalam tentang napas itu sendiri. James Nestor, jurnalis sains dan penulis Breath: The New Science of a Lost Art (2020), pernah menulis: 

“Salah satu langkah awal menuju pernapasan yang sehat adalah memperpanjang durasi napas, menggerakkan diafragma sedikit lebih jauh ke atas dan ke bawah, serta mengembuskan napas sepenuhnya sebelum kembali menarik napas.”

Kalimat ini seolah menjadi mantra tak tertulis di Pendopo Wringinrejo. Setiap kali enumerator Nita atau Firda membisikkan, “Tarik napas dalam… tahan… sekarang embuskan pelan-pelan tapi terus, jangan berhenti,” mereka sebenarnya sedang mengajarkan filosofi napas yang sehat, yakni bukan sekadar mengisi paru, tapi mengosongkannya dulu, memberi ruang bagi udara baru yang lebih kaya oksigen.

Nebulisasi

Bagi banyak responden - terutama lansia yang terbiasa bernapas dangkal, atau pekerja lapangan yang terbiasa menahan napas saat mengangkat beban - ini adalah keterampilan baru. Mereka tidak gagal karena paru-parunya benar-benar bermasalah; mereka gagal karena tubuh mereka belum terlatih untuk “bernapas dengan benar” dalam konteks tes yang menuntut maksimalisme.

Pemeriksaan ulang spirometri kedua di Wringinrejo bukan hanya tentang mengumpulkan data FEV1 dan FVC yang valid. Ini adalah proses membangun kepercayaan, mengajarkan teknik, dan yang paling penting, menghormati keterbatasan tubuh manusia yang tak selalu bisa dipaksa masuk dalam protokol ketat.

Ketika seorang lansia gagal setelah delapan kali embusan, tenaga kesehatan tidak memaksanya. Enumerator lalu mencatat, tersenyum, dan memberikan konsumsi, gift serta subsidi transportasi seperti peserta lain. Karena dalam kesehatan masyarakat, kadang yang lebih berharga dari angka yang “sempurna” adalah kehadiran, kesabaran, dan pengakuan bahwa setiap napas, bahkan yang “gagal”, adalah bagian dari perjalanan menuju paru yang lebih sehat.

Spirometri mungkin mengukur volume dan aliran, tapi di Wringinrejo, ia juga mengukur sesuatu yang tak terlihat, yaitu ketahanan komunitas, empati tenaga kesehatan, dan keberanian warga untuk mencoba lagi, meski napas mereka belum siap untuk “dibaca” oleh mesin. *** [061026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Minggu, 27 Oktober 2024

Skrining Kesehatan di SMPN 2 Pagak

Sebelum Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Pengelolaan Sampah dan Peningkatan Kesehatan Masyarakat di Pendopo Kecamatan Pagak dimulai, fasilitator NIHR yang juga anggota Tim SMARThealth, menyempatkan diri untuk melihat skrining kesehatan terhadap siswa-siswi kelas 7 Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 2 Pagak yang beralamatkan di Jalan Batu Putih No. 1 Dusun Krajan RT 11 RW 03 Desa Pagak, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang.

Kebetulan lokasi SMPN 2 Pagak dengan Kantor Camat Pagak tidaklah jauh. Tepatnya berada di belakang tembok Pendopo Kecamatan Pagak. Melalui pintu pagar tralis samping Pendopo tersebut, kita sudah tertuju dengan pintu gerbang SMPN 2 Pagak.

Gapura SMPN 2 Pagak, yang lokasinya berada di belakang Pendopo Kecamatan Pagak

Kegiatan ini diketahui oleh fasilitator NIHR ketika mendapat pesan singkat dari whatsapp perawat Desa Pagak yang kebetulan juga turut mengawali skrining kesehatan yang diadakan di Ruang Aula SMPN 2 Pagak.

Skrining kesehatan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan (nakes) Puskesmas Pagak ini merupakan kegiatan rutin yang dilakukan setiap tahun, dan pada hari Kamis (24/10) ini jadwalnya untuk skrining siswa-siswi kelas 7. 

Penjaringan kesehatan siswa-siswi (skrining) tersebut adalah salah satu bentuk dari pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk mendeteksi dini siswa-siswi yang memiliki masalah kesehatan agar segera mendapatkan penanganan sedini mungkin serta tersedianya data atau informasi untuk menilai perkembangan kesehatan peserta didik.

Suasana skrining kesehatan di Ruang Aula SMPN 2 Pagak

Skrining tersebut dimulai pada pukul 08.30 WIB, dan meliputi pengukuran tinggi dan berat badan, pemeriksaan mata, pemeriksaan kulit, dan pemeriksaan telinga serta pemeriksaan mulut.

Mula-mula acara diisi dengan pengarahan dari perawat Ponkesdes Pagak Sri Hidayati, S.Kep.Ners yang kebetulan menjadi peserta FGD di Pendopo Kecamatan Pagak bersama dengan bidan Ponkesdes Pagak Anita Fitri Astuti, A.Md.Keb.

Lalu, siswa-siswi kelas 7 yang sudah berada di Ruang Aula untuk mengisi lembar skrining yang telah diberikan oleh nakes dari Puskesmas Pagak. Mereka diminta mengisi biodatanya dan disuruh memegangnya untuk diserahkan ke nakes ketika mendapatkan giliran pemeriksaan.

Skrining mata 

Alur pemeriksaannya, siswa-siswi kelas 7 akan dipanggil oleh nakes satu per satu. Mereka akan diukur tinggi maupun berat badan terlebih dahulu. Setelah mereka akan menuju ke bagian pemeriksaan mata yang berada di utara sisi timur, mepet tembok Ruang Aula yang dekat dengan pintu masuk dari sisi timur.

Tes skrining/pemeriksaan mata merupakan rangkaian pemeriksaan termasuk tes buta warna dan tajam penglihatan yang dapat membantu identifikasi masalah tajam penglihatan dan kelainan mata, termasuk di antaranya plus-minus.

Ada 3 nakes yang bertugas melakukan pemeriksaan mata, yakni Ibnu Irham Tyas Lukito, A.Md.Kep; Lilis Mustafiah, A.Md.Keb., dan Anita Fitri Astuti, A.Md.Keb. Dua nakes dari Puskesmas atau mereka bilang nakes Induk. Sedangkan, yang satunya merupakan bidan Ponkesdes Pagak.

Skrining kulit dan kuku

Usai pemeriksaan mata, mereka akan menuju ke meja yang ada di podium. Di situ, ada seorang nakes dari Puskesmas Pagak Jonathan Dwi Prasetyo, A.Md.Kep., dan 4 dokter muda (koas) dari Fakultas Kedokteran Universitas Islam Malang (FK Unisma) - Fakhry Setiawan, S.Ked., M.Dimas Taufandi, S.Ked., Syafira Inayah Puteri A., S.Ked., dan Isna Aulia Zamzamy, S.Ked.

Perawat Jonathan melakukan pemeriksaan kulit dengan dibantu koas Fakhry dan Isna yang melakukan pemeriksaan kuku dan kulit. Sementara itu, 2 koas lainnya, yaitu Dimas dan Syafira, bertugas melaksanakan pemeriksaan telinga dan mulut.

Skrining kulit digunakan untuk mencari tanda-tanda penyakit kulit, seperti scabies dan frambusia. Scabies atau juga dikenal dengan kudis adalah salah satu masalah kulit yang menimbulkan rasa gatal. Kudis disebabkan oleh tungau atau mite bernama Sarcoptes scabiei. Tungai tersebut nantinya akan menggigit dan bersembunyi di balik kulit penderita kudis.

Skrining telinga dan mata

Lalu, frambusia atau lebih dikenal dengan penyakit patek, puru, atau yaws, adalah penyakit menular menahun yang kambuhan disebabkan oleh bakteri Treponema pertenue dan pada umumnya menyerang kulit dan bahkan ada yang sampai menyerang tulang. Penyakit ini dapat menular melalui kontak langsung dengan kulit atau kontak melalui lalat. Umumnya menyerang anak-anak usia < 15 tahun.

Setelah itu, barulah dilanjutkan pemeriksaan kuku, telinga, dan gigi/mulut. Pemeriksaan kesehatan tersebut sangat penting dilakukan karena dapat menumbuhkan kesadaran peserta didik sejak dini untuk hidup bersih dan sehat yang dapat dimulai dari lingkungan sekolah dan dapat diterapkan di mana pun mereka berada.

Penjaringan kesehatan (skrining) anak usia sekolah, seperti siswa-siswi kelas 7 SMPN 2 Pagak ini merupakan pemeriksaan kesehatan dasar yang bertujuan untuk mengetahui status kesehatan muridnya sebagai salah satu upaya deteksi dini jika siswa-siswi memiliki masalah kesehatan. Kegiatan ini merupakan program rutin dari Puskesmas Pagak dalam pelayanan kesehatan anak sekolah di wilayah kerja Puskesmas Pagak di Kabupaten Malang. *** [271024]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Risk Checker

Risk Checker

Indeks Massa Tubuh

Supplied by BMI Calculator Canada

Statistik Blog

Sahabat eKader

Label

Arsip Blog