“Medida que progresaran, podían inhalar contando hasta cuatro y exhalar hasta ocho, con” -- James Nestor, Respira: La nueva ciencia de un arte olvidado
Di sebuah pendopo sederhana Kantor Balai Dusun Sumberjo, yang beralamat di Dusun Sumberjo RT 05 RW 01 Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, puluhan lansia antre dengan sabar. Bukan untuk mengambil beras atau obat, melainkan untuk “napas kedua”, yakni mengulang tes spirometri yang sebelumnya tak terbaca. Di sinilah sains bertemu realitas lapangan, di mana data yang baik bukan soal cepat selesai, tapi soal napas yang benar-benar terukur.
Pemeriksaan ulang spirometri bukanlah kegagalan, melainkan standar emas dalam pengukuran fungsi paru. Tes spirometri yang valid mensyaratkan minimal tiga manuver yang dapat diterima (acceptable) dan dua di antaranya harus konsisten (repeatable), dengan selisih FVC dan FEV1 tidak lebih dari 150 ml. Jika kurva buruk, nilai tidak konsisten, atau ada gangguan teknis, hasil itu sebaiknya tidak ditafsirkan, melainkan diulang di hari lain.
![]() |
| Personel RS Yasmin Banyuwangi berpose dengan enumerator baseline survey, kader kesehatan, pengawas tes spirometri, observer prosesi pemeriksaan spirometri, dan Field Facilitator NIHR UB |
Rabu (07/10), tiga enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Wringinagung - Muhammad Wisnu Nafiri, S.E.; Maharany Triastuti Januarizki, S.ST.; dan Winda Cahyani, S.Tr.Gz.RD - kembali membuka pos pemeriksaan. Kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi ini mengundang 28 responden yang sebelumnya hasilnya belum memuaskan.
Dibantu dua kader kesehatan setempat, Eva Hariana dan Siti Zulaihah, alur pemeriksaan dijalankan persis seperti sepuluh sesi sebelumnya, yaitu registrasi dan verifikasi data, pengukuran tanda-tanda vital (TTV), anamnesis dengan aplikasi SMARThealth, pemeriksaan fisik, lalu spirometri pre-nebulisasi, nebulisasi, dan spirometri post-nebulisasi.
![]() |
| Meja pendaftaran |
Sambil menunggu panggilan spirometri, enumerator baseline survey Wisnu memanfaatkan waktu untuk melatih teknik pernapasan responden, sebuah sentuhan manusiawi di tengah protokol ketat.
Di meja spirometri, Ns. Winda Nurhasanah, S.Kep., memandu manuver dengan sabar, dibantu Ns. Rizki Indrawangi, S.Kep., yang mengoperasikan laptop terhubung alat spirometri, di bawah pengawasan Perawat Elik Anistina, S.Kep.
Setelah tes tahap 1 (pre-nebulisasi), responden bergeser ke meja nebulisasi, di mana Ns. Renny Karmila, S.Kep., memberikan terapi inhalasi - mengubah obat cair menjadi kabut halus yang dihirup langsung ke saluran napas.
![]() |
| Dokter RS Yasmin Banyuwangi periksa responden dengan stetoskop |
Responden lalu kembali ke meja pendaftaran untuk menerima konsumsi, gift, dan subsidi transportasi dari kader Eva dan Siti Zulaihah yang disaksikan oleh dua enumerator Rany dan Winda. Hal ini merupakan sebuah apresiasi kecil atas kontribusi responden pada data kesehatan komunitas.
Dari 28 responden yang diundang, semua berhasil diperiksa. Namun, dua hasil masih kurang memuaskan menurut Ns. Elik. Seorang lansia laki-laki berusia 80 tahun, yang sehari-hari menggunakan oksigen di rumah karena sesak napas kronis, kesulitan melakukan manuver baik pre maupun post-nebulisasi. Demikian pula seorang perempuan lansia sekitar 71 tahun dengan riwayat gejala stroke dan pengobatan saraf mata kanan.
![]() |
| Tes spirometri |
Di tengah kesibukan itu, ada satu kalimat yang seolah menggema dari buku Breath: The New Science of a Lost Art (2020) karya James Nestor:
“Seiring kemajuan mereka, mereka bisa menarik napas hingga hitungan keempat dan mengembuskannya hingga hitungan kedelapan.”
Kalimat ini bukan sekadar teknik relaksasi. Ia adalah metafora, bahwa napas yang baik butuh latihan, kesabaran, dan pengulangan. Di Wringinagung, spirometri yang diulang adalah wujud konkret dari prinsip itu di mana data paru yang akurat lahir dari napas yang terlatih, bukan terburu-buru.
![]() |
| Nebulisasi |
Dari catatan Field Facilitator NIHR UB, dua puluh delapan napas telah diukur ulang. Dua di antaranya masih menyisakan catatan teknis. Tapi justru di situlah kejujuran data berbicara di mana lebih baik mengulang daripada memaksakan interpretasi dari kurva yang buruk.
Karena pada akhirnya, kebijakan kesehatan yang tepat lahir dari data yang jujur. Dan data yang jujur dimulai dari napas yang benar-benar terukur, bahkan jika itu berarti harus diulang. *** [081026]
Oleh: Budiarto Eko KusumoEditor: Budiarto Eko Kusumo






























