“When you are leaving someone, leave like the sun leaves the earth with a magnificent elegance!” -- Mehmet Murat ildan
Perpisahan selalu terdengar seperti akhir. Padahal, ia adalah bentuk lain dari awal - pintu yang menutup agar jendela lain bisa terbuka. Malam itu, di Lir-Ilir Restoran & Kafe, dua belas enumerator baseline survey berkumpul. Mereka sedang merayakan sesuatu yang lebih dalam, yaitu kebersamaan yang telah selesai membentuk mereka, dan masa depan yang menanti untuk mereka masuki. Seperti matahari yang pamit dari bumi, mereka pergi bukan untuk menghilang, melainkan untuk kembali esok hari.
Malam mulai tiba menyapu senja di Genteng Kulon. Di Jalan KH Wahid Hasyim No. 28, sebuah bangunan dengan cahaya hangat berpendar dari ruangan dan taman. Lir-Ilir Restoran & Kafe - tempat kuliner modern berkonsep social house itu - tengah bersiap menjadi panggung perpisahan. Bukan perpisahan biasa, melainkan closingan, sebuah istilah gaul yang diadaptasi dari kata Inggris closing, merujuk pada ritual penutup masa lapangan. Bahasa menterengnya memang farewell party, tapi bagi mereka yang telah berbulan-bulan bergelut dengan kuesioner dan pemeriksaan spirometri, closingan terasa lebih akrab, lebih jujur, lebih mereka.
Sabtu (10/10), menjadi tanggal yang disepakati. Sebenarnya, agenda baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) di Kabupaten Banyuwangi masih menyisakan jadwal pemeriksaan spirometri di tiga desa, yaitu Sarimulyo, Kaliploso, dan Tamanagung.
Di Sarimulyo, pemeriksaan spirometri dijadwalkan pada Senin (12/10) dan Rabu (24/10). Kaliploso menyusul Sabtu (24/10), dan Tamanagung pada Senin (26/10). Namun, tiga desa lain - Purwodadi, Wringinagung, dan Wringinrejo - telah lebih dulu tuntas.
![]() |
| Foto bersama di tangga hall Lir-Ilir Restoran & Kafe di Jalan KH Wahid Hasyim No. 28, Dusun Krajan, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, Kabupaten Banyuwangi |
Mini meeting room yang dipesan di Lir-Ilir terasa pas. Meja panjang membentang dari selatan ke utara, dikelilingi kursi-kursi yang menampung lelah sekaligus antusiasme. Ns. Elik Anistina, S.Kep., dan Field Facilitator NIHR UB turut hadir, melengkapi lingkaran yang biasanya hanya diisi para enumerator. Suasana homey yang ditawarkan Lir-Ilir - seperti berada di rumah sendiri namun tetap bisa bekerja dan bersosialisasi - menjadi latar yang tepat untuk sebuah perpisahan yang hangat.
Field Facilitator NIHR UB membuka closingan dengan ucapan terima kasih. Kerja keras para enumerator, katanya, bukan pekerjaan kecil. Ia lalu mengingatkan bahwa penelitian NIHR-GHRC NCDs & EC ini bukan survei atau sensus biasa. Ada kekhasan yang melekat di mana responden akan dikunjungi ulang di lain waktu, dan itu menuntut kerja sama dengan kader kesehatan setempat maupun perangkat desa. Pengalaman penelitian ini, lanjutnya, layak dicantumkan dalam Curriculim Vitae para enumerator.
Di penghujung sambutannya, ia menyampaikan permintaan maaf secara pribadi jika selama pendampingan ada hal yang kurang berkenan. Ucapan itu disambut anggukan dan senyum tipis - tanda bahwa semua yang terjadi selama ini adalah bagian dari perjalanan yang sama.
![]() |
| Lir-Ilir Restoran & Kafe yang bernuansa taman |
Cerita-cerita tentang medan yang harus ditempuh, cuaca yang tak bersahabat, hingga kehangatan kader desa yang membantu - semuanya mengalir seperti sungai yang tak ingin berhenti. Malam itu, mereka bukan sekadar rekan kerja. Mereka adalah keluarga yang terbentuk oleh tujuan yang sama, yaitu mengumpulkan data demi kesehatan yang lebih baik.
Di tengah gelak tawa dan suapan demi suapan, ada kesadaran yang perlahan menyelinap. Ini adalah malam terakhir mereka bersama. Tiga desa masih menanti, sedang yang tiga desa lainnya akan kembali ke rumah masing-masing.
Beberapa akan pulang ke kampung halaman, meninggalkan Banyuwangi dengan segudang kenangan. Perpisahan, bagaimanapun, adalah bagian dari setiap pertemuan. Dan mereka memilih untuk melakukannya dengan cara yang indah.
![]() |
| Suasana hall Lir-Ilir Restoran & Kafe yang cukup luas |
"Saat kau meninggalkan seseorang, pergilah layaknya matahari meninggalkan bumi - dengan keanggunan yang memukau!"
Malam itu, di Lir-Ilir, dua belas enumerator baseline survey sedang belajar menjadi “matahari”. Mereka tidak pergi dengan tangis atau drama, melainkan dengan tawa, canda, dan janji untuk terus terhubung.
Lir-Ilir, dengan konsep social house-nya, menjadi saksi bisu. Meja panjang itu kelak akan dipakai untuk pertemuan lain, untuk orang-orang lain. Tapi malam itu, meja itu adalah milik mereka, yakni para pejuang data yang sebentar lagi akan tersebar ke berbagai arah.
Ada yang akan kembali ke desa-desa di Banyuwangi, ada yang akan mengejar mimpi di kota lain. Namun, apa pun yang terjadi, closingan di Lir-Ilir akan selalu menjadi penanda, bahwa mereka pernah bersama, bekerja keras, dan mengakhiri semuanya dengan keanggunan yang memukau.
![]() |
| Enumerator baseline survey NIHR-GHRC NCDs & EC Banyuwangi makan malam bersama di mini meeting room Lir-Ilir Restoran & Kafe |
Sebelum benar-benar bubar, foto bersama diambil. Dua belas wajah, satu frame. Senyum lebar, meski ada yang mata sedikit berkaca-kaca. Di luar, langit Banyuwangi gelap, tapi temaram lampu-lampu seakan ikut mengiringi kepulangan mereka.
Closingan bukan sekadar pesta perpisahan. Ia adalah cara manusia mengubah akhir menjadi awal yang baru. Bagi para enumerator baseline survey NIHR-GHRC NCDs & EC, malam di Lir-Ilir adalah titik henti sekaligus titik tolak.
Mereka akan berpisah, tapi data yang mereka kumpulkan akan terus berbicara. Dan kenangan tentang malam itu - tentang meja panjang, tawa lepas, dan keanggunan sebuah perpisahan - akan tersimpan rapi, seperti matahari yang selalu punya cara untuk kembali esok pagi. *** [111026]
Oleh: Budiarto Eko KusumoEditor: Budiarto Eko Kusumo















