Tampilkan postingan dengan label Bukber. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bukber. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Februari 2026

Mengakhiri Puasa Ketidakpedulian: Bukber Hangat Kader Kesehatan dan Pokja 4 Kepanjen di Balai RW 01

Le plus grand iftar est de rompre le jeûne de l’apathie, avec la fête de l’affection.” --Abhijit Naskar, L'humain Impossible: Cent Sonnets pour Ma Famille Mondiale

Senja belum benar-benar turun ketika langkah-langkah para kader kesehatan dan anggota Pokja 4 Kelurahan Kepanjen berbalik arah dari Jalan Ahmad Yani RT 02 RW 02 Kelurahan Kepanjen, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Beberapa saat sebelumnya, mereka sibuk membagikan paket takjil dalam kegiatan bertajuk “Tebar Kebaikan, Raih Keberkahan”. 

Senyum, sapa, dan ucapan terima kasih masih terngiang ketika rombongan itu kembali ke Balai RW 01 Kepanjen untuk melanjutkan kebersamaan dalam agenda yang tak kalah hangat: buka puasa bersama (bukber).

Di balai sederhana itu, kebersamaan terasa semakin lengkap. Mereka mengajak Bidan Ponkesdes Panji Husada, Mamik Makrifatin, S.ST, pengelola YouTube Kader Nenjap, hingga salah seorang anggota Tim SMARThealth dari Universitas Brawijaya (UB). Tidak ada sekat jabatan, tidak ada jarak profesi. Semua duduk sejajar, menunggu azan dengan perasaan yang sama, yakni lega dan syukur.

Laporan kegiatan "Tebar Kebaikan, Raih Keberkahan di Bulan Ramadhan" oleh kader kesehatan, termasuk laporan keuangannya

Menariknya, dapur kebaikan yang sejak pagi menyiapkan paket takjil untuk dibagikan ternyata juga menyiapkan hidangan untuk berbuka. Di atas meja panjang tersaji aneka menu rumahan yang menggoda selera, seperti nasi putih hangat, sayur sop yang mengepul, urap dengan kelapa parut berbumbu, oseng-oseng oyong, ayam suwir, empal susur, hingga perkedel dan dadar jagung. 

Ada pula tempe mendoan, tempe goreng, weci, lalapan timun lengkap dengan sambal kecap, kerupuk rambak yang renyah, es kuwut yang menyegarkan, potongan semangka, bahkan durian yang aromanya sudah lebih dulu memenuhi ruangan.

Catatan salah satu anggota Tim SMARThealth UB sebelum azan berkumandang seolah menjadi inventaris kecil dari cinta yang terhidang di atas meja.

Ketika matahari benar-benar tenggelam dan azan magrib menggema dari mushola di pinggir rel Stasiun Kepanjen, semua bergegas. Mereka menyegerakan berbuka, selaras dengan anjuran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam riwayat Sahl bin Sa’d yang termaktub dalam Sahih al-Bukhari: “Umat manusia akan tetap berada di jalan yang benar selama mereka bersegera berbuka puasa.”

Doa pun terucap lirih secara pribadi oleh salah seorang anggota Tim SMARThealth UB, “Dzahabazh zhama'u wabtallatil 'uruuqu wa tsabatal ajru insya’ Allah.” Haus telah hilang, kerongkongan telah basah, dan pahala telah ditetapkan, insya Allah.

Anggota Tim SMARThealth UB lakukan inventarisir menu bukber dalam catatannya

Bagi kader kesehatan dan Pokja 4 Kelurahan Kepanjen, buka puasa bersama bukan sekadar tradisi tahunan. Ia adalah simpul kebersamaan yang terus dirawat. Di tengah dinamika kehidupan modern yang serba cepat, momen seperti ini menjadi ruang jeda sebagai tempat lelah diluruhkan, cerita dibagikan, dan tawa dilepaskan tanpa beban.

Berbuka bersama memungkinkan setiap orang keluar sejenak dari rutinitas, berbagi waktu berkualitas dengan rekan seperjuangan. Ia bukan hanya tentang menyantap hidangan lezat setelah seharian berpuasa, melainkan tentang memperkuat ikatan sosial, merawat solidaritas, serta menghargai keberagaman dalam satu meja yang sama.

Tak heran jika kekompakan kader kesehatan Kelurahan Kepanjen kerap menjadi buah bibir. Inisiatif kegiatan mereka bukan semata agenda seremonial, melainkan refleksi kepedulian yang nyata. 

Berbagai studi bahkan menunjukkan bahwa iftar bersama memiliki dampak positif terhadap psychological well-being, yaitu menjadi sarana pemulihan mental, meningkatkan kebahagiaan, sekaligus mempererat hubungan sosial melalui interaksi yang hangat dan bermakna.

Indahnya bukber bersama kader kesehatan dan Pokja 4 Kelurahan Kepanjen di Balai RW 01

Seolah menguatkan makna itu, penulis dan pemikir kelahiran Kalkuta, India, Abhijit Naskar pernah berujar dalam L'humain Impossible: Cent Sonnets pour Ma Famille Mondiale (2024), kumpulan sekitar seratus soneta pilihannya:

“Buka puasa terhebat adalah mengakhiri puasa ketidakpedulian dengan pesta kasih sayang.” 

Kalimat tersebut menemukan relevansinya di Balai RW 01 sore itu. Setelah berbagi takjil di jalanan, mereka tak berhenti pada aksi sesaat. Mereka melanjutkannya dalam lingkar kebersamaan guna mengikat kembali semangat pelayanan dengan kehangatan persaudaraan.

Ramadhan, pada akhirnya, bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia adalah tentang menumbuhkan empati, merawat kepedulian, dan menghadirkan kasih sayang dalam tindakan nyata. Dan di Kelurahan Kepanjen, nilai-nilai itu hidup di tangan para kader kesehatan dan Pokja 4 yang kompak, sederhana, namun penuh makna. *** [280226]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Risk Checker

Risk Checker

Indeks Massa Tubuh

Supplied by BMI Calculator Canada

Statistik Blog

Sahabat eKader

Label

Arsip Blog