“Yemek çeşidi kadar nefes alma yöntemi vardır. Ve her yöntem vücudumuzu farklı etkiler".” -- James Nestor, Breath: The New Science of a Lost Art
Pagi itu, teras Rumah Kepala Desa Kaliploso terasa lebih ramai dari biasanya. Kursi-kursi disusun rapi, meja pendaftaran menunggu warga, dan sejumlah tenaga kesehatan bersiap dengan alat yang mungkin jarang dikenal warga, yaitu spirometer. Di balik kesederhanaan suasana itu, ada misi penting - membaca kualitas napas warga dan mendeteksi dini risiko penyakit paru obstruktif kronik, atau PPOK.
Pemeriksaan spirometri kelima itu digelar pada Jumat (02/10) di rumah Kepala Desa Rudi Hartono, S.Th.I, di Dusun Plosorejo RT 01 RW 05, Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RS NU) Banyuwangi.
“Ada beragam cara bernapas, sama banyaknya dengan jenis makanan. Dan setiap metode memengaruhi tubuh kita dengan cara yang berbeda,” tulis James Nestor dalam Breath: The New Science of a Lost Art (2020). Kalimat sederhana itu menegaskan satu hal, bahwa napas bukan sekadar aktivitas otomatis. Ia adalah sinyal kesehatan, dan spirometri hadir untuk membacanya.
![]() |
| Meja pendaftaran |
Dari Pre-Screening ke Tes Spirometri
Kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB. Sebanyak 27 responden hasil pre-screening yang terindikasi memiliki faktor risiko PPOK diundang. Mereka bukan sekadar peserta; mereka adalah warga yang napasnya perlu dipastikan tidak menyimpan masalah tersembunyi.
Seluruh proses dikoordinasikan oleh dua enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC), Rahmanurraudhotul Amin, SKM, dan Rafini Aminatul Hidayah, S.Tr.Gz. Keduanya dibantu tiga kader setempat: Harum Wijayanti, Sundari, dan Sutiyani Eka Rahayu. Dua kader lainnya tidak dapat hadir karena alasan yang sangat manusiawi - Rio Dita Wibawa baru saja terserang flu berat, sementara Sri Hidayati sedang berduka.
Alur pemeriksaan dibagi menjadi empat tahap yang sederhana, namun terukur. Responden pertama-tama menuju meja pendaftaran di teras barat, berdampingan dengan serambi mushola. Di sana, enumerator Rafini bersama para kader melakukan registrasi dan verifikasi data.
Setelah itu, mereka berpindah ke meja tanda-tanda vital (TTV) di teras timur, tepat di belakang warung. Bidan Muqodimah, A.Md.Keb., menimbang berat badan, mengukur tekanan darah, dan melakukan oksimetri. Di sebelahnya, Perawat Siti Nur Indah Sari melakukan anamnesis melalui aplikasi SMARThealth.
![]() |
| Pengukuran berat badan |
Belajar Menyebul yang Benar
Dari meja TTV, responden masuk ke ruang tamu dan duduk di kursi antrean. Di sinilah enumerator Rahman memberikan edukasi tentang teknik menyebul yang benar. Terdengar sepele, tetapi cara menyebul yang benar menentukan dalam tes spirometri.
Tak lama, panggilan dari meja spirometri terdengar. Meja itu berada di sisi selatan ruang tamu, tempat dua perawat RS NU Banyuwangi - Ayu Septi dan Ismi Balqis - bersiap bekerja. Mereka didampingi Ns. Elik Anistina, S.Kep., yang membantu NIHR UB memantau jalannya tes.
Di meja ini, Perawat Ayu memandu manuver pernapasan, sementara Perawat Ismi mengoperasikan alat spirometer MIR SpiroLab milik NIHR UB yang terhubung dengan mouthpiece. Responden diminta menarik napas sedalam mungkin, lalu menghembuskannya dengan kuat dan tahan. Angka-angka pada layar mulai berbicara, yaitu seberapa besar kapasitas paru, seberapa cepat udara keluar, dan apakah ada tanda penyempitan saluran napas.
Tes tahap pertama dilakukan sebelum pemberian semprotan salbutamol, atau pre-semprotan salbutamol. Setelah itu, responden kembali duduk selama 20 menit. Waktu tunggu ini bukan sekadar jeda; salbutamol perlu bekerja untuk melebarkan saluran pernapasan sebelum tes kedua dilakukan.
Ketika panggilan berikutnya datang, responden menjalani spirometri tahap kedua atau post-semprotan salbutamol. Prosedurnya sama, tetapi hasilnya dapat memberi gambaran penting: apakah gangguan napas bersifat reversibel atau menunjukkan indikasi PPOK.
![]() |
| Tes spirometri |
Satu Suara yang Tak Terdengar
Jika kedua tahapan berjalan lancar, responden selesai dan kembali ke meja pendaftaran. Di sana, enumerator Rafini dan para kader menyiapkan konsumsi, gift, serta subsidi transportasi sebagai bentuk apresiasi.
Pemeriksaan berakhir pukul 12.44 WIB. Field Facilitator NIHR UB mencatat bahwa seluruh 27 responden yang diundang hadir. Namun, tidak semua akhirnya dapat menyelesaikan pemeriksaan.
Seorang lansia perempuan berumur 88 tahun harus dikeluarkan dari tes karena memiliki keterbatasan pendengaran. Ia tidak mampu mengikuti aba-aba yang menjadi bagian krusial dalam spirometri. Tanpa instruksi yang jelas, manuver pernapasan tidak dapat dilakukan secara konsisten, sehingga hasil tes berisiko tidak valid.
Momen itu menjadi pengingat bahwa layanan kesehatan tidak selalu berbicara dalam satu bahasa. Kadang, hambatan terbesar bukan pada alat canggih atau prosedur medis, melainkan pada kemampuan sistem untuk menjangkau setiap warga, termasuk mereka yang mendengar dunia dengan cara berbeda.
![]() |
| Semprotan salbutamol |
Napas yang Layak Diperhatikan
PPOK sering disebut “penyakit senyap” karena gejalanya - batuk kronis, sesak, dan napas memendek - kerap dianggap normal akibat usia atau kebiasaan merokok. Padahal, deteksi dini melalui spirometri dapat membuka peluang penanganan lebih awal.
Kegiatan di Kaliploso menunjukkan bahwa pemeriksaan kesehatan tidak harus selalu dilakukan di rumah sakit. Ia bisa hadir di teras rumah kepala desa, di sela aktivitas warga, dan dikelola bersama kader lokal. Dari 27 warga yang hadir, setiap napas yang diukur adalah upaya kecil untuk mencegah masalah yang lebih besar di kemudian hari.
Pada akhirnya, spirometri kelima di Desa Kaliploso bukan hanya soal angka kapasitas paru. Ia adalah cerita tentang warga yang belajar mengenali napasnya, tenaga kesehatan yang bekerja telaten, dan komunitas yang mulai memahami bahwa menjaga paru sama pentingnya dengan menjaga makanan yang masuk ke tubuh.
Sebagaimana diingatkan James Nestor, cara bernapas memengaruhi tubuh dengan cara yang berbeda. Dan di Kaliploso, memastikan setiap warga dapat bernapas dengan baik adalah langkah awal yang tidak boleh diabaikan. *** [031026]
Oleh: Budiarto Eko KusumoEditor: Budiarto Eko Kusumo















