Tampilkan postingan dengan label Baseline Survey. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Baseline Survey. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Oktober 2026

Napas yang Tak Terbaca: Ketika Spirometri Kedua di Wringinrejo Menjadi Ujian Kesabaran

“Uno de los primeros pasos para una respiración saludable es extender las respiraciones, mover el diafragma arriba y abajo un poco más y sacar todo el aire antes de tomar otra bocanada.” -- James Nestor, Respira: La nueva ciencia de un arte olvidado

Di sebuah pendopo desa di Banyuwangi, 37 warga diundang kembali untuk mengulang tes spirometri, karena hasil pemeriksaan sebelumnya “tidak terbaca”. 

Dalam dunia kesehatan paru, mengulang spirometri adalah praktik standar ketika rekaman sebelumnya gagal memenuhi kriteria kualitas, entah karena teknik pernapasan yang kurang tepat, masalah peralatan sesaat, atau upaya maksimal pasien yang belum tercapai.

Spirometri adalah tes fungsi paru yang mengukur berapa banyak dan seberapa cepat seseorang dapat mengembuskan napas setelah menarik napas dalam-dalam. Namun, validitasnya sangat bergantung pada tiga pilar, yaitu teknisi terlatih, peralatan akurat, dan - yang sering kali paling sulit - upaya maksimal dan konsisten dari pasien.

Standar internasional mensyaratkan minimal tiga manuver yang “dapat diterima” (acceptable) dan “dapat diulang” (repeatable), di mana dua nilai tertinggi FEV1 dan FVC tidak boleh berbeda lebih dari 150 mL. 

Suasana pemeriksaan ulang spiromtri kedua di Pendopo Desa Wringinrejo, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi

Jika rekaman awal cacat, misalnya kurva yang terpotong, ada batuk di detik pertama, atau embusan tidak mencapai plateau, maka hasilnya dianggap tidak dapat diinterpretasi. Dalam situasi seperti itu, langkah terbaik adalah mengulang tes di hari lain, bukan memaksakan interpretasi dari data yang tidak memenuhi standar.

Di Desa Wringinrejo, dari 76 responden yang terindikasi faktor risiko PPOK pada pre-screening, sebanyak 72 di antaranya menghasilkan rekaman “unreadable” pada tiga sesi spirometri sebelumnya. Ini bukan kegagalan individu semata, melainkan cerminan betapa rumitnya menyelaraskan teknik, alat, dan kondisi fisiologis warga - banyak di antaranya lansia, dengan keterbatasan napas atau gangguan lambung.

Sabtu (03/10), tiga hari setelah pemeriksaan ulang pertama, dua enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Wringinrejo, Yunita Pratiwi Suprapto, S.T. dan Firda Octa Vidyawati, S.M., kembali menggelar spirometri kedua di Pendopo Desa Wringinrejo yang beralamt di Jalan Diponegoro No. 164, Dusun Krajan RT 04 RW 02, Desa Wringirejo, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi. 

Kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi ini melibatkan tiga kader kesehatan setempat - Evi Risky Damayanti, Ismaulfa, dan Siti Mukholifah - yang membantu pendaftaran, mobilisasi, hingga antar-jemput responden.

Dokter RS Yasmin Banyuwangi lakukan pemeriksaan fisik dengan menggunakan stetoskop

Alurnya persis seperti sesi-sesi sebelumnya, yang diawali dengan registrasi dan verifikasi data oleh tiga kader, pengukuran tekanan darah dan oksimetri oleh Perawat Imelda Arofah, S.Kep.Ns., anamnesis dan pemeriksaan fisik oleh dr. Sapto Aji Nugroho menggunakan aplikasi SMARThealth, lalu antrean menuju meja spirometri. 

Sambil menunggu, enumerator Nita dan Firda memanfaatkan waktu untuk melatih teknik “menyebul”, suatu embusan panjang, keras, dan terus-menerus, kepada responden yang masih bingung.

Di meja spirometri, terlihat dua tenaga kesehatan RS Yasmin lainnya, yaitu Ns. Renny Karmila, Ns. Rizki Indrawangi, serta Ns. Elik Anistina, S.Kep. yang membantu NIHR UB mengawasi jalannya tes. Perawat Renny memandu manuver, sementara Rizki mengoperasikan laptop yang terhubung dengan spirometer. 

Setelah tes tahap 1 (pre-nebulisasi), responden bergeser ke meja nebulisasi, di mana Ns. Winda Nurhasanah, S.Kep. memberikan terapi inhalasi untuk membuka saluran napas. Dua puluh menit kemudian, mereka kembali untuk tes tahap 2 (post-nebulisasi).

Dari 37 yang diundang, 27 berhasil menyelesaikan rangkaian pemeriksaan. Sepuluh lainnya terbersit kabar, ada yang sedang bepergian, bekerja, dalam masa iddah, menolak karena merasa sudah cek rutin ke rumah sakit, atau - yang paling menyedihkan - menyerah karena “spirometri itu susah”.

Tes spirometri tahap 1

Field Facilitator NIHR UB mencatat dua kasus yang gagal menyelesaikan tes saat menghadiri pemeriksaan ulang spirometri yang kedua ini. Seorang laki-laki paruh baya terpaksa berhenti di tahap 1 karena gangguan lambung yang kambuh saat diminta menarik napas dalam-dalam. Seorang lansia laki-laki 66 tahun, meski sudah diulang delapan kali, tak mampu menghasilkan embusan “los” yang diperlukan; napasnya terlalu pendek, terlalu pelan, terlalu ragu. Delapan kali embusan adalah batas maksimal yang direkomendasikan sebelum pasien kelelahan dan hasil semakin tidak akurat.

Kasus-kasus ini bukan anomali. Dalam pedoman spirometri, jika pasien tidak mampu menghasilkan tiga manuver yang acceptable setelah delapan upaya, tes dihentikan dan hasilnya dicatat dengan catatan keterbatasan teknis. Kadang, data terbaik yang ada tetap dilaporkan, namun dengan interpretasi sangat hati-hati dan disclaimer jelas.

Di tengah situasi seperti ini, ada pelajaran mendalam tentang napas itu sendiri. James Nestor, jurnalis sains dan penulis Breath: The New Science of a Lost Art (2020), pernah menulis: 

“Salah satu langkah awal menuju pernapasan yang sehat adalah memperpanjang durasi napas, menggerakkan diafragma sedikit lebih jauh ke atas dan ke bawah, serta mengembuskan napas sepenuhnya sebelum kembali menarik napas.”

Kalimat ini seolah menjadi mantra tak tertulis di Pendopo Wringinrejo. Setiap kali enumerator Nita atau Firda membisikkan, “Tarik napas dalam… tahan… sekarang embuskan pelan-pelan tapi terus, jangan berhenti,” mereka sebenarnya sedang mengajarkan filosofi napas yang sehat, yakni bukan sekadar mengisi paru, tapi mengosongkannya dulu, memberi ruang bagi udara baru yang lebih kaya oksigen.

Nebulisasi

Bagi banyak responden - terutama lansia yang terbiasa bernapas dangkal, atau pekerja lapangan yang terbiasa menahan napas saat mengangkat beban - ini adalah keterampilan baru. Mereka tidak gagal karena paru-parunya benar-benar bermasalah; mereka gagal karena tubuh mereka belum terlatih untuk “bernapas dengan benar” dalam konteks tes yang menuntut maksimalisme.

Pemeriksaan ulang spirometri kedua di Wringinrejo bukan hanya tentang mengumpulkan data FEV1 dan FVC yang valid. Ini adalah proses membangun kepercayaan, mengajarkan teknik, dan yang paling penting, menghormati keterbatasan tubuh manusia yang tak selalu bisa dipaksa masuk dalam protokol ketat.

Ketika seorang lansia gagal setelah delapan kali embusan, tenaga kesehatan tidak memaksanya. Enumerator lalu mencatat, tersenyum, dan memberikan konsumsi, gift serta subsidi transportasi seperti peserta lain. Karena dalam kesehatan masyarakat, kadang yang lebih berharga dari angka yang “sempurna” adalah kehadiran, kesabaran, dan pengakuan bahwa setiap napas, bahkan yang “gagal”, adalah bagian dari perjalanan menuju paru yang lebih sehat.

Spirometri mungkin mengukur volume dan aliran, tapi di Wringinrejo, ia juga mengukur sesuatu yang tak terlihat, yaitu ketahanan komunitas, empati tenaga kesehatan, dan keberanian warga untuk mencoba lagi, meski napas mereka belum siap untuk “dibaca” oleh mesin. *** [061026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Senin, 05 Oktober 2026

Di Rumah Kepala Desa Kaliploso, 27 Napas Diperiksa Satu per Satu

“Yemek çeşidi kadar nefes alma yöntemi vardır. Ve her yöntem vücudumuzu farklı etkiler".” -- James Nestor, Breath: The New Science of a Lost Art

Pagi itu, teras Rumah Kepala Desa Kaliploso terasa lebih ramai dari biasanya. Kursi-kursi disusun rapi, meja pendaftaran menunggu warga, dan sejumlah tenaga kesehatan bersiap dengan alat yang mungkin jarang dikenal warga, yaitu spirometer. Di balik kesederhanaan suasana itu, ada misi penting - membaca kualitas napas warga dan mendeteksi dini risiko penyakit paru obstruktif kronik, atau PPOK.

Pemeriksaan spirometri kelima itu digelar pada Jumat (02/10) di rumah Kepala Desa Rudi Hartono, S.Th.I, di Dusun Plosorejo RT 01 RW 05, Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RS NU) Banyuwangi.

“Ada beragam cara bernapas, sama banyaknya dengan jenis makanan. Dan setiap metode memengaruhi tubuh kita dengan cara yang berbeda,” tulis James Nestor dalam Breath: The New Science of a Lost Art (2020). Kalimat sederhana itu menegaskan satu hal, bahwa napas bukan sekadar aktivitas otomatis. Ia adalah sinyal kesehatan, dan spirometri hadir untuk membacanya.


Meja pendaftaran


Dari Pre-Screening ke Tes Spirometri

Kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB. Sebanyak 27 responden hasil pre-screening yang terindikasi memiliki faktor risiko PPOK diundang. Mereka bukan sekadar peserta; mereka adalah warga yang napasnya perlu dipastikan tidak menyimpan masalah tersembunyi.

Seluruh proses dikoordinasikan oleh dua enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC), Rahmanurraudhotul Amin, SKM, dan Rafini Aminatul Hidayah, S.Tr.Gz. Keduanya dibantu tiga kader setempat: Harum Wijayanti, Sundari, dan Sutiyani Eka Rahayu. Dua kader lainnya tidak dapat hadir karena alasan yang sangat manusiawi - Rio Dita Wibawa baru saja terserang flu berat, sementara Sri Hidayati sedang berduka.

Alur pemeriksaan dibagi menjadi empat tahap yang sederhana, namun terukur. Responden pertama-tama menuju meja pendaftaran di teras barat, berdampingan dengan serambi mushola. Di sana, enumerator Rafini bersama para kader melakukan registrasi dan verifikasi data.

Setelah itu, mereka berpindah ke meja tanda-tanda vital (TTV) di teras timur, tepat di belakang warung. Bidan Muqodimah, A.Md.Keb., menimbang berat badan, mengukur tekanan darah, dan melakukan oksimetri. Di sebelahnya, Perawat Siti Nur Indah Sari melakukan anamnesis melalui aplikasi SMARThealth.


Pengukuran berat badan


Belajar Menyebul yang Benar

Dari meja TTV, responden masuk ke ruang tamu dan duduk di kursi antrean. Di sinilah enumerator Rahman memberikan edukasi tentang teknik menyebul yang benar. Terdengar sepele, tetapi cara menyebul yang benar menentukan dalam tes spirometri.

Tak lama, panggilan dari meja spirometri terdengar. Meja itu berada di sisi selatan ruang tamu, tempat dua perawat RS NU Banyuwangi - Ayu Septi dan Ismi Balqis - bersiap bekerja. Mereka didampingi Ns. Elik Anistina, S.Kep., yang membantu NIHR UB memantau jalannya tes.

Di meja ini, Perawat Ayu memandu manuver pernapasan, sementara Perawat Ismi mengoperasikan alat spirometer MIR SpiroLab milik NIHR UB yang terhubung dengan mouthpiece. Responden diminta menarik napas sedalam mungkin, lalu menghembuskannya dengan kuat dan tahan. Angka-angka pada layar mulai berbicara, yaitu seberapa besar kapasitas paru, seberapa cepat udara keluar, dan apakah ada tanda penyempitan saluran napas.

Tes tahap pertama dilakukan sebelum pemberian semprotan salbutamol, atau pre-semprotan salbutamol. Setelah itu, responden kembali duduk selama 20 menit. Waktu tunggu ini bukan sekadar jeda; salbutamol perlu bekerja untuk melebarkan saluran pernapasan sebelum tes kedua dilakukan.

Ketika panggilan berikutnya datang, responden menjalani spirometri tahap kedua atau post-semprotan salbutamol. Prosedurnya sama, tetapi hasilnya dapat memberi gambaran penting: apakah gangguan napas bersifat reversibel atau menunjukkan indikasi PPOK.


Tes spirometri


Satu Suara yang Tak Terdengar

Jika kedua tahapan berjalan lancar, responden selesai dan kembali ke meja pendaftaran. Di sana, enumerator Rafini dan para kader menyiapkan konsumsi, gift, serta subsidi transportasi sebagai bentuk apresiasi.

Pemeriksaan berakhir pukul 12.44 WIB. Field Facilitator NIHR UB mencatat bahwa seluruh 27 responden yang diundang hadir. Namun, tidak semua akhirnya dapat menyelesaikan pemeriksaan.

Seorang lansia perempuan berumur 88 tahun harus dikeluarkan dari tes karena memiliki keterbatasan pendengaran. Ia tidak mampu mengikuti aba-aba yang menjadi bagian krusial dalam spirometri. Tanpa instruksi yang jelas, manuver pernapasan tidak dapat dilakukan secara konsisten, sehingga hasil tes berisiko tidak valid.

Momen itu menjadi pengingat bahwa layanan kesehatan tidak selalu berbicara dalam satu bahasa. Kadang, hambatan terbesar bukan pada alat canggih atau prosedur medis, melainkan pada kemampuan sistem untuk menjangkau setiap warga, termasuk mereka yang mendengar dunia dengan cara berbeda.


Semprotan salbutamol


Napas yang Layak Diperhatikan

PPOK sering disebut “penyakit senyap” karena gejalanya - batuk kronis, sesak, dan napas memendek - kerap dianggap normal akibat usia atau kebiasaan merokok. Padahal, deteksi dini melalui spirometri dapat membuka peluang penanganan lebih awal.

Kegiatan di Kaliploso menunjukkan bahwa pemeriksaan kesehatan tidak harus selalu dilakukan di rumah sakit. Ia bisa hadir di teras rumah kepala desa, di sela aktivitas warga, dan dikelola bersama kader lokal. Dari 27 warga yang hadir, setiap napas yang diukur adalah upaya kecil untuk mencegah masalah yang lebih besar di kemudian hari.

Pada akhirnya, spirometri kelima di Desa Kaliploso bukan hanya soal angka kapasitas paru. Ia adalah cerita tentang warga yang belajar mengenali napasnya, tenaga kesehatan yang bekerja telaten, dan komunitas yang mulai memahami bahwa menjaga paru sama pentingnya dengan menjaga makanan yang masuk ke tubuh.

Sebagaimana diingatkan James Nestor, cara bernapas memengaruhi tubuh dengan cara yang berbeda. Dan di Kaliploso, memastikan setiap warga dapat bernapas dengan baik adalah langkah awal yang tidak boleh diabaikan. *** [031026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Test Your Lungs, Know Your Numbers: Kisah Pemeriksaan Ulang Spirometri di Desa Wringinrejo

Di sebuah gedung berdinding merah putih di Dusun Tamanrejo RT 02 RW 02, Desa Wringinrejo, puluhan responden hasil pre-screening yang terindikasi memiliki faktor risiko PPOK, antre dengan sabar. Mereka menunggu giliran untuk menghirup dalam-dalam, lalu menghembuskan napas sekuat tenaga ke sebuah alat bernama spirometer. Ini bukan sekadar rutinitas medis biasa, melainkan upaya serius untuk membaca cerita yang tersembunyi di dalam paru-paru mereka.

Pemeriksaan spirometri adalah standar emas untuk mendeteksi dini Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Namun, hasilnya hanya bisa dipercaya jika memenuhi kriteria kualitas yang ketat. Menurut pedoman internasional, tes spirometri yang valid harus menghasilkan minimal tiga manuver yang dapat diterima dan dua di antaranya harus memiliki nilai FEV1 dan FVC yang konsisten - selisihnya tidak lebih dari 0,15 liter.

Personel RS Yasmin Banyuwangi berpose dengan enumerator baseline survey, kader kesehatan setempat, dan Field Facilitator NIHR UB

Jika hasil tes sebelumnya "tidak dapat dibaca" (unreadable) - misalnya karena kurva yang buruk, teknik pernapasan yang kurang tepat, atau masalah teknis lainnya - maka mengulang tes adalah langkah yang tepat. Memaksakan interpretasi dari data yang tidak memenuhi standar justru berisiko memberikan gambaran yang menyesatkan tentang fungsi paru.

Di Desa Wringinrejo, dari 76 responden yang terindikasi berisiko PPOK pada pre-screening, sebanyak 72 di antaranya memerlukan pemeriksaan ulang karena hasil spirometri sebelumnya tidak terbaca. Ini bukan kegagalan, melainkan bagian dari proses memastikan akurasi data.

Gedung Kopdes Wringinrejo menjadi lokasi pemeriksaan spirometri ulang yang pertama di Desa Wringinrejo, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi

Rabu (30/09), menjadi hari penting bagi 32 responden yang diundang untuk pemeriksaan ulang. Dua srikandi enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC), Yunita Pratiwi Suprapto, S.T. (Nita) dan Firda Octa Vidyawati, S.M. (Firda), kembali memimpin jalannya acara di Gedung Kopdeskel Merah Putih.

Mereka tidak bekerja sendirian. Tiga kader kesehatan setempat - Nunung Lestiani, Siti Nurodifah, dan Sri Wahyuni - turut membantu di meja pendaftaran, menyebarkan undangan, hingga mengantar-jemput responden yang membutuhkan. Dedikasi mereka menjadi tulang punggung mobilisasi warga.

Pola alur pemeriksaan kali ini sama persis dengan tiga sesi spirometri sebelumnya yang digelar pada 25 Juli, 27 Juli, dan 15 Agustus 2026.

Dua enumerator baseline survey berikan teknik menyebul kepada responden

Responden memulai dengan registrasi dan verifikasi data di meja pendaftaran yang dilayani tiga kader. Selanjutnya, mereka menuju meja pengukuran tekanan darah dan oksimetri yang ditangani Perawat Yenni Rachmawati, A.Md.Kep. Setelah tanda-tanda vital tercatat, responden duduk menunggu panggilan spirometri.

Sambil menunggu, enumerator Nita dan Firda memanfaatkan waktu untuk memberikan teknik pernapasan yang benar. Begitu dipanggil, responden menuju meja spirometri yang dijaga tiga personel dari RS Yasmin Banyuwangi, yaitu dr. Ach. Dwipa Perkasa, Annisa Fitriya, A.Md.Kep., Ns. Rizki Indrawangi, S.Kep., serta Ns. Elik Anistina, S.Kep., yang membantu NIHR Universitas Brawijaya (UB) dalam mengawasi jalannya tes spirometri.

Pengukuran tekanan darah dan oksimetri

Di sinilah inti pemeriksaan berlangsung. Perawat Annisa memandu manuver pernapasan, dibantu Rizki yang mengoperasikan laptop terhubung spirometer. Dr. Dwipa menginput hasil anamnesis melalui aplikasi SMARThealth sambil sesekali mengawasi proses manuver bersama Perawat Elik.

Setelah spirometri tahap 1 (pre-nebulisasi), responden bergeser ke meja nebulisasi. Di sana, Ns. Mahendra, S.Kep., melakukan terapi inhalasi menggunakan nebulizer, sebuah alat yang mengubah obat cair menjadi kabut halus untuk dihirup langsung ke saluran pernapasan.

Tes spirometri tahap 1

Nebulisasi bertujuan membuka saluran napas, sehingga hasil spirometri tahap 2 (post-nebulisasi) dapat menunjukkan respons paru terhadap bronkodilator. Setelah nebulisasi, responden kembali ke meja spirometri untuk mengulangi tes yang sama. Jika tahap 2 berjalan lancar, rangkaian pemeriksaan selesai.

Sebagai apresiasi, responden yang telah menyelesaikan seluruh alur kembali ke meja pendaftaran. Tiga kader menyerahkan konsumsi, gift, dan subsidi transportasi, disaksikan salah satu enumerator. Gestur kecil ini menjadi bentuk terima kasih atas partisipasi warga dalam penelitian kesehatan.

Nebulisasi

Pemeriksaan ulang pertama ini dihadiri Rahmanurraudhotul Amin, SKM, yang ditunjuk Theme 1: Primary Healthcare Strengthening untuk mengobservasi jalannya tes dengan checklist khusus. Acara berakhir pukul 14.25 WIB.

Dari 32 responden yang diundang, Field Facilitator NIHR UB mencatat 25 orang berhasil terperiksa. Tujuh lainnya tidak hadir karena berbagai alasan: ada yang bepergian ke Madura, dua orang sedang sakit flu berat, satu meninggal dunia pada Sabtu sebelumnya, satu sakit biasa, satu mengalami stroke sehingga sulit mobilisasi, dan satu lagi izin karena masih berduka atas meninggalnya suami.

Meja 4: apresiasi terhadap responden atas partisipasinya dalam pemeriksaan spirometri

Ketiadaan mereka bukan berarti kegagalan, melainkan cerminan realitas lapangan di mana kesehatan, mobilitas, dan keadaan pribadi turut memengaruhi partisipasi.

Seperti motto National Lung Health Education Program (NLHEP), "Test Your Lungs, Know Your Numbers" (Uji paru-paru Anda, ketahui angka-angka Anda), pemeriksaan spirometri di Wringinrejo adalah langkah konkret untuk mengenali kesehatan paru sejak dini.

Setiap hembusan napas yang tercatat dalam spirometer bukan sekadar angka. Ia adalah data yang dapat menyelamatkan nyawa, mendeteksi PPOK sebelum terlambat, dan membuka jalan bagi intervensi kesehatan yang tepat. Di Desa Wringinrejo, upaya ini terus berlanjut karena setiap napas itu berharga. *** [300926]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Risk Checker

Risk Checker

Indeks Massa Tubuh

Supplied by BMI Calculator Canada

Statistik Blog

Sahabat eKader

Label

Arsip Blog