“Nicht weinen, weil sie vorüber, lächeln, weil sie gewesen.” -- Ludwig Jacobowski (1868–1900)
Sore itu, tak ada pidato panjang atau jabat tangan yang diiringi tangis perpisahan. Hanya dua tikar di atas paving block, potongan buah segar, bumbu lotis yang pedas-manis, dan gelas-gelas es kuwut yang menggoda dahaga. Di bawah rindangnya pohon beringin, tawa mengalir, menyamarkan haru yang diam-diam tersimpan. Di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Wringinagung, sebuah kebersamaan menemukan cara paling sederhana untuk berpamitan: ngelotis bareng.
Berlokasi di Jalan Sriwijaya, Dusun Sumberjaya RT 01 RW 01, Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, RTH itu menjadi ruang perjumpaan yang terasa lebih seperti reuni keluarga daripada acara perpisahan. Tiga enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) berkumpul bersama 12 kader kesehatan setempat untuk menikmati sore sekaligus mengenang perjalanan yang telah mereka lalui bersama.
Ketiga enumerator tersebut adalah Muhammad Wisnu Nafiri, S.E., Maharany Triastuti Januarizki, S.ST., dan Winda Cahyani, S.Tr.Gz.RD. Selama pelaksanaan survei, mereka berkolaborasi dengan Asfiratus, Eva, Ika, Khilma, Lasmi, Lilik, Melani, Mujiani, Munik, Rizky, dan Siti Zulaihah. Para kader menjadi penghubung penting antara tim penelitian dan masyarakat, membantu membangun komunikasi serta mendukung kelancaran berbagai kegiatan di lapangan.
Kebersamaan sore itu juga memiliki cerita lain. Usai mendampingi enumerator baseline survey di Desa Purwodadi dan berpamitan dengan perangkat desa di Kantor Desa Purwodadi, Field Facilitator NIHR UB turut bergabung dalam momen ngelotis tersebut. Perjalanan dari Purwodadi menuju Wringinagung seolah mempertemukan dua cerita lapangan dalam satu ruang kebersamaan, yakni cerita tentang tugas yang telah dituntaskan dan hubungan antarmanusia yang tumbuh selama prosesnya.
![]() |
| Enumerator baseline survey Desa Wringinagung berpose bersama kader kesehatan dan Field Facilitator NIHR UB |
Di lapangan, pekerjaan para enumerator dan kader bukan perkara ringan. Pengambilan data, pemeriksaan spirometri, hingga wawancara dengan warga membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan koordinasi yang baik. Dukungan para kader membantu tim menjangkau masyarakat, sedangkan pendampingan di lapangan menjadi bagian penting dalam mengawal jalannya survei.
Hari-hari yang semula dipenuhi tugas dan tanggung jawab itu perlahan menghadirkan sesuatu yang lebih personal. Kerja bersama menumbuhkan rasa saling percaya. Percakapan di sela kegiatan melahirkan kedekatan. Bahkan, pengalaman tak terduga menjadi cerita yang kelak dikenang bersama, seperti ketika enumerator Rany dan kader Lasmi yang berboncengan tiba-tiba jatuh dari motor karena bannya selip di mulut gang saat mau jemput responden untuk pemeriksaan spirometri. Situasi yang mungkin merepotkan kala itu justru berubah menjadi bahan obrolan yang mengundang gelak tawa.
Di atas tikar, aneka buah tersaji menggugah selera. Jambu air merah, mangga muda, bengkoang, timun, dan nanas berpadu dengan bumbu lotis yang diulek hingga merata. Perpaduan rasa manis, asam, pedas, dan segar seolah mencerminkan perjalanan mereka yang tak selalu mudah, tetapi selalu menyisakan cerita untuk dibagikan. Potongan buah yang dicelupkan ke dalam bumbu menjadi pemantik obrolan, sementara es kuwut menyegarkan tenggorokan di tengah udara sore yang mulai sejuk.
![]() |
| Ngelotis bareng di RTH Wringinagung di bawah bayang-bayang pohon beringin |
Di tengah obrolan, Muhammad Wisnu Nafiri mewakili kedua rekannya menyampaikan apresiasi kepada para kader.
“Terima kasih atas kerja samanya selama ini. Tanpa bantuan dan ketulusan teman-teman semua, survei ini tidak akan berjalan lancar,” ujarnya.
Kalimat sederhana itu menjadi pengakuan atas waktu, tenaga, dan ketulusan para kader dalam mendukung kegiatan survei. Lebih dari sekadar ucapan penutup, pesan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan kerja lapangan bukanlah hasil usaha satu pihak, melainkan buah kolaborasi banyak orang.
Ngelotis bareng mungkin terdengar seperti kegiatan sederhana. Namun, di RTH Wringinagung, ia menjadi lebih dari sekadar agenda makan buah bersama. Ada penghargaan, rasa kekeluargaan, dan kenangan yang diracik dalam suasana santai. Dari enumerator, kader kesehatan, hingga Field Facilitator, setiap orang memiliki peran dalam perjalanan yang sama, meski dengan tanggung jawab yang berbeda.
![]() |
| Perpisahan yang sumringah |
Seperti ungkapan dari penggalan puisi karya seorang penyair Jerman, Ludwig Jacobowski (1868–1900):
“Jangan menangis karena hal itu telah berakhir, tersenyumlah karena hal itu pernah terjadi.”
Kalimat ini seolah merangkum suasana sore itu. Berakhirnya satu tahapan kegiatan bukan berarti berakhir pula makna kebersamaan yang telah terbangun. Pengalaman bekerja bersama, saling membantu, dan berbagi cerita akan tetap hidup dalam ingatan masing-masing.
Di bawah rindangnya pohon beringin, mereka berpamitan tanpa perlu larut dalam kesedihan. Tawa menjadi bahasa terima kasih, lotis menjadi teman berbagi kenangan, dan es kuwut menghadirkan kesegaran di tengah perpisahan.
Sore itu, di RTH Wringinagung, mereka memilih tersenyum - bukan karena tak ada rasa kehilangan, melainkan karena pernah memiliki kesempatan untuk bekerja, berbagi, dan menjadi bagian dari perjalanan yang cukup bermakna ini. *** [101026]
Oleh: Budiarto Eko KusumoEditor: Budiarto Eko Kusumo



















