Tampilkan postingan dengan label Desa Wringinagung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Desa Wringinagung. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Oktober 2026

Sore di RTH Wringinagung: Kisah Enumerator dan Kader Ngelotis Bareng

“Nicht weinen, weil sie vorüber, lächeln, weil sie gewesen.” -- Ludwig Jacobowski (1868–1900)

Sore itu, tak ada pidato panjang atau jabat tangan yang diiringi tangis perpisahan. Hanya dua tikar di atas paving block, potongan buah segar, bumbu lotis yang pedas-manis, dan gelas-gelas es kuwut yang menggoda dahaga. Di bawah rindangnya pohon beringin, tawa mengalir, menyamarkan haru yang diam-diam tersimpan. Di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Wringinagung, sebuah kebersamaan menemukan cara paling sederhana untuk berpamitan: ngelotis bareng.

Berlokasi di Jalan Sriwijaya, Dusun Sumberjaya RT 01 RW 01, Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, RTH itu menjadi ruang perjumpaan yang terasa lebih seperti reuni keluarga daripada acara perpisahan. Tiga enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) berkumpul bersama 12 kader kesehatan setempat untuk menikmati sore sekaligus mengenang perjalanan yang telah mereka lalui bersama.

Ketiga enumerator tersebut adalah Muhammad Wisnu Nafiri, S.E., Maharany Triastuti Januarizki, S.ST., dan Winda Cahyani, S.Tr.Gz.RD. Selama pelaksanaan survei, mereka berkolaborasi dengan Asfiratus, Eva, Ika, Khilma, Lasmi, Lilik, Melani, Mujiani, Munik, Rizky, dan Siti Zulaihah. Para kader menjadi penghubung penting antara tim penelitian dan masyarakat, membantu membangun komunikasi serta mendukung kelancaran berbagai kegiatan di lapangan.

Kebersamaan sore itu juga memiliki cerita lain. Usai mendampingi enumerator baseline survey di Desa Purwodadi dan berpamitan dengan perangkat desa di Kantor Desa Purwodadi, Field Facilitator NIHR UB turut bergabung dalam momen ngelotis tersebut. Perjalanan dari Purwodadi menuju Wringinagung seolah mempertemukan dua cerita lapangan dalam satu ruang kebersamaan, yakni cerita tentang tugas yang telah dituntaskan dan hubungan antarmanusia yang tumbuh selama prosesnya.

Enumerator baseline survey Desa Wringinagung berpose bersama kader kesehatan dan Field Facilitator NIHR UB

Kehadiran Field Facilitator menambah hangat suasana. Di balik pekerjaan mendampingi enumerator, berkoordinasi dengan berbagai pihak, dan memastikan kegiatan berjalan sesuai rencana, ada pengalaman-pengalaman yang tak selalu tercatat dalam laporan. Ada percakapan, tantangan, dan perjumpaan dengan banyak orang yang membuat perjalanan penelitian terasa lebih berarti.

Di lapangan, pekerjaan para enumerator dan kader bukan perkara ringan. Pengambilan data, pemeriksaan spirometri, hingga wawancara dengan warga membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan koordinasi yang baik. Dukungan para kader membantu tim menjangkau masyarakat, sedangkan pendampingan di lapangan menjadi bagian penting dalam mengawal jalannya survei.

Hari-hari yang semula dipenuhi tugas dan tanggung jawab itu perlahan menghadirkan sesuatu yang lebih personal. Kerja bersama menumbuhkan rasa saling percaya. Percakapan di sela kegiatan melahirkan kedekatan. Bahkan, pengalaman tak terduga menjadi cerita yang kelak dikenang bersama, seperti ketika enumerator Rany dan kader Lasmi yang berboncengan tiba-tiba jatuh dari motor karena bannya selip di mulut gang saat mau jemput responden untuk pemeriksaan spirometri. Situasi yang mungkin merepotkan kala itu justru berubah menjadi bahan obrolan yang mengundang gelak tawa.

Di atas tikar, aneka buah tersaji menggugah selera. Jambu air merah, mangga muda, bengkoang, timun, dan nanas berpadu dengan bumbu lotis yang diulek hingga merata. Perpaduan rasa manis, asam, pedas, dan segar seolah mencerminkan perjalanan mereka yang tak selalu mudah, tetapi selalu menyisakan cerita untuk dibagikan. Potongan buah yang dicelupkan ke dalam bumbu menjadi pemantik obrolan, sementara es kuwut menyegarkan tenggorokan di tengah udara sore yang mulai sejuk.

Ngelotis bareng di RTH Wringinagung di bawah bayang-bayang pohon beringin

Tak ada yang benar-benar ingin menjadikan perpisahan sebagai topik utama. Namun, semua yang hadir menyadari bahwa sebuah tahapan pekerjaan telah sampai di penghujungnya. Justru melalui suasana santai itulah rasa terima kasih menemukan tempatnya, tanpa perlu dikemas dalam seremoni yang kaku.

Di tengah obrolan, Muhammad Wisnu Nafiri mewakili kedua rekannya menyampaikan apresiasi kepada para kader.

“Terima kasih atas kerja samanya selama ini. Tanpa bantuan dan ketulusan teman-teman semua, survei ini tidak akan berjalan lancar,” ujarnya.

Kalimat sederhana itu menjadi pengakuan atas waktu, tenaga, dan ketulusan para kader dalam mendukung kegiatan survei. Lebih dari sekadar ucapan penutup, pesan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan kerja lapangan bukanlah hasil usaha satu pihak, melainkan buah kolaborasi banyak orang.

Ngelotis bareng mungkin terdengar seperti kegiatan sederhana. Namun, di RTH Wringinagung, ia menjadi lebih dari sekadar agenda makan buah bersama. Ada penghargaan, rasa kekeluargaan, dan kenangan yang diracik dalam suasana santai. Dari enumerator, kader kesehatan, hingga Field Facilitator, setiap orang memiliki peran dalam perjalanan yang sama, meski dengan tanggung jawab yang berbeda.

Perpisahan yang sumringah

Seperti ungkapan dari penggalan puisi karya seorang penyair Jerman, Ludwig Jacobowski (1868–1900):

“Jangan menangis karena hal itu telah berakhir, tersenyumlah karena hal itu pernah terjadi.” 

Kalimat ini seolah merangkum suasana sore itu. Berakhirnya satu tahapan kegiatan bukan berarti berakhir pula makna kebersamaan yang telah terbangun. Pengalaman bekerja bersama, saling membantu, dan berbagi cerita akan tetap hidup dalam ingatan masing-masing.

Di bawah rindangnya pohon beringin, mereka berpamitan tanpa perlu larut dalam kesedihan. Tawa menjadi bahasa terima kasih, lotis menjadi teman berbagi kenangan, dan es kuwut menghadirkan kesegaran di tengah perpisahan. 

Sore itu, di RTH Wringinagung, mereka memilih tersenyum - bukan karena tak ada rasa kehilangan, melainkan karena pernah memiliki kesempatan untuk bekerja, berbagi, dan menjadi bagian dari perjalanan yang cukup bermakna ini. *** [101026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Kamis, 08 Oktober 2026

Dari Unreadable ke Valid: Proses Pemeriksaan Ulang Spirometri di Wringinagung

“Medida que progresaran, podían inhalar contando hasta cuatro y exhalar hasta ocho, con” -- James Nestor, Respira: La nueva ciencia de un arte olvidado

Di sebuah pendopo sederhana Kantor Balai Dusun Sumberjo, yang beralamat di Dusun Sumberjo RT 05 RW 01 Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, puluhan lansia antre dengan sabar. Bukan untuk mengambil beras atau obat, melainkan untuk “napas kedua”, yakni mengulang tes spirometri yang sebelumnya tak terbaca. Di sinilah sains bertemu realitas lapangan, di mana data yang baik bukan soal cepat selesai, tapi soal napas yang benar-benar terukur.

Pemeriksaan ulang spirometri bukanlah kegagalan, melainkan standar emas dalam pengukuran fungsi paru. Tes spirometri yang valid mensyaratkan minimal tiga manuver yang dapat diterima (acceptable) dan dua di antaranya harus konsisten (repeatable), dengan selisih FVC dan FEV1 tidak lebih dari 150 ml. Jika kurva buruk, nilai tidak konsisten, atau ada gangguan teknis, hasil itu sebaiknya tidak ditafsirkan, melainkan diulang di hari lain.

Personel RS Yasmin Banyuwangi berpose dengan enumerator baseline survey, kader kesehatan, pengawas tes spirometri, observer prosesi pemeriksaan spirometri, dan Field Facilitator NIHR UB

Kualitas spirometri bertumpu pada tiga pilar, yaitu perawat yang terlatih, peralatan akurat, dan usaha maksimal pasien. Tanpa salah satunya, data bisa menyesatkan. Di Wringinagung, sepuluh sesi spirometri sebelumnya telah menjangkau 250 responden terindikasi risiko PPOK. Namun, beberapa hasilnya “unreadable”. Maka, pengulangan bukan pilihan, melainkan keharusan ilmiah.

Rabu (07/10), tiga enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Wringinagung - Muhammad Wisnu Nafiri, S.E.; Maharany Triastuti Januarizki, S.ST.; dan Winda Cahyani, S.Tr.Gz.RD - kembali membuka pos pemeriksaan. Kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi ini mengundang 28 responden yang sebelumnya hasilnya belum memuaskan.

Dibantu dua kader kesehatan setempat, Eva Hariana dan Siti Zulaihah, alur pemeriksaan dijalankan persis seperti sepuluh sesi sebelumnya, yaitu registrasi dan verifikasi data, pengukuran tanda-tanda vital (TTV), anamnesis dengan aplikasi SMARThealth, pemeriksaan fisik, lalu spirometri pre-nebulisasi, nebulisasi, dan spirometri post-nebulisasi.

Meja pendaftaran

Di meja TTV, Perawat Annisa Fitriya, A.Md.Kep., memeriksa tekanan darah dan oksimetri. Di sampingnya, dr. Rika Hardiyanti melakukan anamnesis dan mendengarkan paru dengan stetoskop. 

Sambil menunggu panggilan spirometri, enumerator baseline survey Wisnu memanfaatkan waktu untuk melatih teknik pernapasan responden, sebuah sentuhan manusiawi di tengah protokol ketat.

Di meja spirometri, Ns. Winda Nurhasanah, S.Kep., memandu manuver dengan sabar, dibantu Ns. Rizki Indrawangi, S.Kep., yang mengoperasikan laptop terhubung alat spirometri, di bawah pengawasan Perawat Elik Anistina, S.Kep. 

Setelah tes tahap 1 (pre-nebulisasi), responden bergeser ke meja nebulisasi, di mana Ns. Renny Karmila, S.Kep., memberikan terapi inhalasi - mengubah obat cair menjadi kabut halus yang dihirup langsung ke saluran napas.

Dokter RS Yasmin Banyuwangi periksa responden dengan stetoskop

Setelah nebulisasi dan jeda singkat, responden dipanggil kembali untuk tes tahap 2 (post-nebulisasi). Prosedurnya sama, hanya berbeda pada kondisi sebelum dan sesudah pemberian bronkodilator. Jika tahap 2 lancar, rangkaian pemeriksaan selesai.

Responden lalu kembali ke meja pendaftaran untuk menerima konsumsi, gift, dan subsidi transportasi dari kader Eva dan Siti Zulaihah yang disaksikan oleh dua enumerator Rany dan Winda. Hal ini merupakan sebuah apresiasi kecil atas kontribusi responden pada data kesehatan komunitas.

Dari 28 responden yang diundang, semua berhasil diperiksa. Namun, dua hasil masih kurang memuaskan menurut Ns. Elik. Seorang lansia laki-laki berusia 80 tahun, yang sehari-hari menggunakan oksigen di rumah karena sesak napas kronis, kesulitan melakukan manuver baik pre maupun post-nebulisasi. Demikian pula seorang perempuan lansia sekitar 71 tahun dengan riwayat gejala stroke dan pengobatan saraf mata kanan.

Tes spirometri

Kasus-kasus ini mengingatkan bahwa spirometri bukan sekadar soal alat, tapi juga soal kondisi fisiologis dan kemampuan kooperatif pasien. Pada lansia dengan komorbiditas berat, manuver maksimal sering kali tak mungkin dicapai, dan itu bukan kegagalan individu, melainkan batasan realistis yang harus dicatat dalam interpretasi klinis.

Di tengah kesibukan itu, ada satu kalimat yang seolah menggema dari buku Breath: The New Science of a Lost Art (2020) karya James Nestor: 

“Seiring kemajuan mereka, mereka bisa menarik napas hingga hitungan keempat dan mengembuskannya hingga hitungan kedelapan.”

Kalimat ini bukan sekadar teknik relaksasi. Ia adalah metafora, bahwa napas yang baik butuh latihan, kesabaran, dan pengulangan. Di Wringinagung, spirometri yang diulang adalah wujud konkret dari prinsip itu di mana data paru yang akurat lahir dari napas yang terlatih, bukan terburu-buru.

Nebulisasi

Pemeriksaan ulang spirometri perdana di Desa Wringinagung ini selesai pukul 13.42 WIB, disaksikan oleh Rahmanurraudhotul Amin, SKM, enumerator baseline survey Desa Kaliploso yang ditunjuk Theme 1: Primary Healthcare Strengthening dalam obsevasi prosesi pemeriksaan spirometri dengan checklist. 

Dari catatan Field Facilitator NIHR UB, dua puluh delapan napas telah diukur ulang. Dua di antaranya masih menyisakan catatan teknis. Tapi justru di situlah kejujuran data berbicara di mana lebih baik mengulang daripada memaksakan interpretasi dari kurva yang buruk.

Karena pada akhirnya, kebijakan kesehatan yang tepat lahir dari data yang jujur. Dan data yang jujur dimulai dari napas yang benar-benar terukur, bahkan jika itu berarti harus diulang. *** [081026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Risk Checker

Risk Checker

Indeks Massa Tubuh

Supplied by BMI Calculator Canada

Statistik Blog

Sahabat eKader

Label

Arsip Blog