“Be well, do good work, and keep in touch.” -- Garrison Keillor
Empat bulan bukan waktu yang singkat. Sejak pertama kali mengetuk pintu rumah warga, memperkenalkan diri sebagai Tim Enumerator Baseline Survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communcable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC), hingga menuntaskan pemeriksaan spirometri terakhir, Desa Purwodadi , Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi telah menjadi ruang kerja sekaligus rumah kedua bagi tim enumerator. Kini, di penghujung tugas, tibalah saatnya berpamitan.
Seperti peribahasa lama, “datang tampak muka, pulang tampak punggung.” Ketika awal kedatangan, tim menghadap Kepala Desa (Kades) Purwodadi untuk memohon izin dan restu. Maka di akhir tugas, mereka kembali menghadap, bukan untuk meminta sesuatu, melainkan untuk menyampaikan terima kasih dan permohonan maaf jika selama proses pengumpulan data ada tutur kata atau sikap yang kurang berkenan.
![]() |
| Enumerator baseline survey berpose bersama dengan perangkat desa di Ruang Kerja Kades Purwodadi |
Komunikasi yang Membuka Pintu, Komunikasi yang Menutup dengan Hormat
Dalam analisis komunikasi, apa yang dilakukan tim enumerator - Mega Wrida Silvia, SKM; Naylil Nur Amalya Putri, S.Sos.; Sinta Ningrum Widianingsih, SKM – yang didampingi Field Facilitator NIHR Universitas Brawijaya (UB), yang sekaligus sebagai Peneliti dalam Bidang Pengawasan Data Lapangan/Supervisor SMARThealth ini, adalah bentuk komunikasi interpersonal yang beretika sekaligus komunikasi organisasi yang membangun legitimasi sosial.
Kehadiran awal ke Kades Purwodadi, Drs. Suyanto, bukan sekadar formalitas administratif, melainkan simbol bahwa tim menghormati struktur sosial desa. Sebaliknya, pamitan di akhir tugas adalah penegasan bahwa hubungan yang terbangun tidak berhenti pada kepentingan proyek semata.
Secara teoretis, ini menyentuh konsep face-saving dan relational maintenance dalam komunikasi. Tim tidak hanya menuntaskan target data, tetapi juga menjaga "wajah" desa dan Kades sebagai tuan rumah. Pamitan menjadi pesan nonverbal: kami datang dengan hormat, kami pulang dengan hormat.
![]() |
| Enumerator ucapkan terima kasih atas dukungan Pemdes Purwodadi dalam melakukan baseline survey NIHR-GHRC NCDs & EC |
Suara dari Balai Desa
“Terima kasih banyak, Pak Kades, atas izin, dukungan, dan pengertiannya selama tiga bulan ini. Kami mungkin hanya singgah, tapi Desa Purwodadi akan selalu jadi bagian dari cerita survei ini,” ujar Mega, mewakili rekan-rekan enumerator.
Kades Purwodadi pun menyambut dengan tangan terbuka. “Data yang Bapak-Ibu kumpulkan ini Insya Allah bermanfaat, terutama untuk kesehatan warga. Kalau ada kekurangan selama di sini, mohon dimaafkan. Pintu desa selalu terbuka kalau ada kegiatan lagi.”
Dialog singkat itu bukan sekadar basa-basi. Ia adalah ritual komunikasi yang mengukuhkan hubungan antara peneliti, pemerintah desa, dan masyarakat. Dalam konteks NIHR-GHRC NCDs & EC - yang meneliti penyakit tidak menular dan dampak kesehatan lingkungan - kepercayaan masyarakat adalah modal utama. Pamitan yang hangat menjadi jembatan agar kepercayaan itu tidak putus setelah tim pergi.
![]() |
| Interaksi bersahabat antara enumerator baseline survey, Field Facilitator NIHR UB, dan perangkat desa di Ruang Kerja Kades Purwodadi, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi |
Datang Tampak Muka, Pulang Tampak Punggung — tapi Jejaknya Tetap Ada
Peribahasa datang tampak muka, pulang tampak punggung sering dimaknai sebagai etika datang dan pergi. Namun dalam konteks ini, maknanya lebih dalam, yakni kehadiran yang sopan di awal, dan kepergian yang juga sopan di akhir. Tidak ada kesan "kabur" setelah data terkumpul. Yang ada adalah penutupan yang manusiawi.
Di sinilah komunikasi menjadi lebih dari sekadar pertukaran informasi. Ia menjadi pengalaman bersama - antara enumerator yang belajar memahami denyut kehidupan desa, dan warga yang bersedia membuka pintu, menjawab pertanyaan, bahkan duduk tenang saat pemeriksaan spirometri.
Di sela-sela itu, Field Facilitator NIHR UB juga berbincang dengan Kades Purwodadi, Sekretaris Desa (Sekdes Hj. Sri Astutik Rustiningsih, Kepala Dusun (Kasun) Gembolo Dwi Adi Setiawan, S.Pd., dan Kasun Krajan, Hadi Winarto. Mereka cukup ramah semua, dan bernuansa bersahabat dalam interaksinya.
![]() |
| Tak terkecuali, sebelum membuka pintu utama Kantor Desa Purwodadi, enumerator dan Field Facilitator NIHR UB juga berpamitan dengan staf desa yang berada di Ruang Pelayanan |
Menjaga Komunikasi, Merawat Karya
Garrison Keillor, penulis dan penyiar Amerika, pernah berpesan:
“Jaga diri baik-baik, berkaryalah dengan baik, dan tetaplah menjalin komunikasi.”
Pesan itu terasa relevan di sini. Tim enumerator telah berkarya - mengumpulkan data, memfasilitasi pemeriksaan fungsi paru warga, mendokumentasikan kondisi kesehatan masyarakat. Namun karya yang baik tidak berhenti pada laporan. Ia berlanjut pada jalinan komunikasi yang tetap terpelihara: antara tim dan perangkat desa, antara tim dan warga, antara ilmu pengetahuan dan kehidupan nyata di Desa Purwodadi.
Maka pamitan ini bukan akhir. Ia adalah titik koma - jeda yang menyimpan kemungkinan kolaborasi lanjutan, atau setidaknya kenangan bahwa pernah ada sekelompok orang yang datang membawa alat spirometri, pulang membawa data, dan meninggalkan salam.
Yang pergi membawa tugas, yang tinggal menyimpan cerita. Namun selama komunikasi masih terjaga, tak ada perpisahan yang benar-benar selesai. “A Valediction: Forbidding Mourning,” kata John Donne. “Sebuah Perpisahan: Melarang Kesedihan.”
Sampai bertemu lagi, Desa Purwodadi - dalam doa, dalam karya, atau dalam kunjungan yang tak direncanakan. *** [091026]
Oleh: Budiarto Eko KusumoEditor: Budiarto Eko Kusumo















