Senin, 26 Oktober 2026

Saat Napas Dipanggil Kembali di Kaliploso

“[B]reath is the animated, nonphysical aspect of your being. So that when you look in the direction of breath, when you focus your attention on your breath, you are really looking at your spiritual self.” – Andrew Weil, MD

Di sebuah pendopo di Dusun Kalirejo, responden menarik napas dalam-dalam, menahan sejenak, lalu meniup sekuat tenaga ke dalam alat kecil yang terhubung dengan laptop. Layar itu merekam kurva pernapasannya - bukan sekadar angka, melainkan potret kerja parunya. Namun pada pemeriksaan sebelumnya, sebagian kurva itu tidak dapat dibaca. Karena itu, pada Sabtu (24/10), mereka diundang kembali untuk mengulang pemeriksaan spirometri lagi.

Pemeriksaan ulang spirometri perdana ini digelar di Pendopo Dusun Kalirejo, RT 02/RW 07, Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan merupakan kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi, dengan mengundang 28 responden hasil pre-screening yang terindikasi memiliki faktor risiko penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

Personel RS Yasmin Banyuwangi berpose dengan enumerator baseline survey dan kader setempat

Mengapa Hasil Harus Diulang?

Spirometri adalah pemeriksaan yang menilai seberapa besar dan seberapa cepat seseorang dapat menghirup serta menghembuskan udara. Tes ini menjadi pintu penting untuk mendeteksi gangguan pernapasan, termasuk PPOK yang sering berkembang diam-diam.

Namun, alat canggih sekalipun tidak dapat bekerja sendiri. Kualitas spirometri bergantung pada tiga hal, yaitu teknisi atau perawat yang terlatih, peralatan yang akurat, dan usaha maksimal dari responden. Jika salah satunya terganggu, misalnya responden batuk di awal hembusan, kurva tidak sempurna, atau nilai antar-manuver tidak konsisten, hasil dapat menjadi tidak valid. Standar kualitas umumnya menuntut minimal tiga kurva yang dapat diterima dan hasil FVC serta FEV1 yang konsisten, dengan selisih tidak lebih dari 150 ml.

Karena itu, bila rekaman sebelumnya “tidak dapat dibaca” atau mengandung cacat teknis, langkah yang tepat bukan memaksakan interpretasi. Hasil tersebut sebaiknya diabaikan dan pemeriksaan diulang pada hari lain. Sebaliknya, jika masih ada data yang layak digunakan, klinisi dapat melaporkan hasil terbaik disertai catatan keterbatasan teknis dan menafsirkannya secara hati-hati.

Di Kaliploso, kebutuhan itu menjadi nyata. Dari enam gelombang pemeriksaan spirometri sebelumnya - 28 Agustus, 29 Agustus, 12 September, 18 September, 2 Oktober, dan 3 Oktober - sejumlah responden dari 164 target pre-screening harus mengikuti tes ulang karena hasil awalnya tidak terbaca.

Suasana pemeriksaan ulang spirometri perdana di Pendopo Dusun Kalirejo, Dusun Kalirejo RT 02 RW 07 Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi

Alur yang Sama, Tekad yang Baru

Pukul 08.00 WIB, pendopo itu perlahan hidup. Meja pendaftaran sudah siap, kursi antrean tertata, dan lima kader setempat bergerak cekatan - Eva Hariana, Siti Zulaihah Harum Wijayanti, Rio Dita Wibawa, Sri Hidayati, Sundari, dan Sutiyani Eka Rahayu. Mereka membantu enumerator di meja pendaftaran, memobilisasi warga, menyebarkan undangan sejak beberapa hari sebelumnya, hingga mengantar-jemput responden yang membutuhkan.

Dua enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC), Rahmanurraudhotul Amin, SKM, dan Rafini Aminatul Hidayah, S.Tr.Gz., memastikan alur berjalan seperti pemeriksaan-pemeriksaan sebelumnya. Responden pertama-tama melakukan registrasi dan verifikasi data di meja pendaftaran yang dilayani enumerator Rafini bersama para kader.

Dari sana, mereka menuju meja tanda-tanda vital (TTV). Perawat Mesra Safira, A.Md.Kep., mengukur tekanan darah dan saturasi oksigen melalui oksimetri. Di sampingnya, dr. Rika Hardiyanti melakukan anamnesis melalui spreadsheet sekaligus pemeriksaan fisik dengan stetoskop.

Baru setelah itu responden duduk menunggu panggilan ke meja spirometri. Di sela waktu menunggu, Rahman memberikan latihan teknik penyebulan, yaitu bagaimana menarik napas penuh, memasang bibir rapat pada mouthpiece, lalu menghembuskan udara dengan kuat dan tahan lama. Latihan sederhana ini ternyata menentukan. Tanpa teknik yang tepat, alat akan merekam kurva yang tidak dapat dinilai.

Pengukuran tekanan darah dan oksimetri

Saat Napas Diuji Dua Kali

Ketika namanya dipanggil, responden mendekati meja spirometri. Ns. Imelda Arofah, S.Kep., memandu manuver pernapasan, dibantu Ns. Rizki Indrawangi, S.Kep., yang mengoperasikan laptop dan perangkat spirometri. Perawat Elik Anistina, S.Kep., mengawal pelaksanaan tes sebagai bagian dari dukungan NIHR UB.

Tes pertama disebut tahap pre-nebulisasi. Setelah selesai, responden bergeser ke meja nebulisasi di sisi barat. Di sana, Mahendra, S.Kep.Ns., memberikan terapi inhalasi menggunakan nebulizer, sebuah alat yang mengubah obat cair menjadi kabut halus untuk dihirup langsung ke saluran pernapasan.

Setelah beristirahat sejenak, responden dipanggil kembali untuk tahap post-nebulisasi. Mereka mengulangi manuver yang sama. Perbedaannya hanya satu, yakni kali ini paru mereka telah menerima bantuan obat inhalasi. 

Jika hasil tahap kedua berjalan lancar, rangkaian pemeriksaan selesai dan responden kembali ke meja pendaftaran untuk menerima konsumsi, gift, serta subsidi transportasi yang disaksikan enumerator.

Pemeriksaan ulang spirometri yang pertama ini selesai pada pukul 13.20 WIB. Dari 28 responden yang diundang, 25 orang berhasil terperiksa, sementara tiga orang dikeluarkan dari pemeriksaan dengan berbagai pertimbangan medis dan kondisi responden.

Tes spirometri

Ketika Keterbatasan Ikut Bicara

Di balik angka kehadiran, ada cerita yang tidak selalu tampak di layar spirometri. Ada lansia perempuan berusia 62 tahun dengan kemampuan memori sensorik yang menurun; ia telah dua kali hadir, tetapi belum berhasil melakukan manuver dengan baik. Ada pula lansia perempuan 62 tahun lain yang mengalami gejala stroke dan sakit perut kanan, sering kambuh saat bergerak, hingga akhirnya hanya bisa ditemukan dalam kondisi berbaring sehingga tak bisa hadir dalam undangan pemeriksaan ulang spirometri yang pertama ini.

Satu lansia perempuan berusia 72 tahun hadir pada hari itu, tetapi hasil skrining dr. Rika menunjukkan adanya keluhan pada jantung. Denyut nadinya cukup kencang, sehingga manuver spirometri dinilai berisiko bila tetap dilanjutkan. 

Sementara itu, dua responden yang tidak dapat hadir tersebut kemudian dicarikan penggantinya oleh enumerator Rahman dari daftar reschedule pada hari berikutnya.

Meski demikian, dari 27 responden yang terperiksa, Ns. Elik mencatat lima orang memiliki hasil yang belum maksimal. Tiga lansia laki-laki menghadapi kendala karena riwayat stroke, penurunan pendengaran, dan sesak napas. Dua perempuan - satu pra-lansia dan satu lansia - juga menghadapi hambatan akibat riwayat sesak napas dan stroke yang disertai gangguan kognitif.

Kondisi-kondisi ini menegaskan satu hal, bahwa spirometri bukan sekadar “meniup ke alat.” Ia menuntut koordinasi tubuh, pemahaman instruksi, kekuatan, dan ketenangan. Bagi sebagian lansia, itu adalah tantangan yang tidak ringan.

Nebulisasi

Napas sebagai Cermin Diri

Dokter dan penulis  kedokteran integrative asal Amerika, Andrew Weil, MD pernah mengatakan: 

“Napas adalah aspek nonfisik yang hidup dari diri Anda. Jadi, saat Anda mengarahkan pandangan ke arah napas, saat Anda memusatkan perhatian pada napas Anda, sebenarnya Anda sedang menatap diri spiritual Anda.”

Di Kaliploso, kalimat itu terasa dekat dengan keseharian. Setiap responden yang kembali menduduki kursi pemeriksaan tidak hanya mengulang tes teknis. Mereka juga mengulang kesempatan untuk didengar - agar riwayat sesaknya, keterbatasan geraknya, dan usahanya menarik napas tidak berakhir sebagai data yang gagal terbaca.

Pemeriksaan ulang ini mungkin tampak sederhana di mana satu pendopo, beberapa meja, alat kecil, dan warga yang datang membawa napas mereka. Namun di dalamnya ada upaya kolektif untuk memastikan satu hal penting, bahwa setiap napas warga Kaliploso mendapat kesempatan untuk terbaca, dipahami, dan dideteksi sejak dini. *** [261026] 

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Risk Checker

Risk Checker

Statistik Blog

Sahabat eKader

Label

Arsip Blog