Tampilkan postingan dengan label Theme 1: Primary Healthcare Strengthening. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Theme 1: Primary Healthcare Strengthening. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Oktober 2026

Menyulam Data: Catatan Kunjungan Tim NIHR UB ke Dinkes Kabupaten Banyuwangi

“Things get done only if the data we gather can inform and inspire those in a position to make difference.” -- Mike Schmoker, Results: The Key to Continuous School Improvement

Di balik angka, ada cerita yang belum sepenuhnya terbaca. Di antara catatan pelayanan kesehatan dan hasil pemeriksaan lapangan, tersimpan potongan-potongan informasi yang perlu dipertemukan untuk memahami persoalan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Dari upaya menyatukan potongan itulah, sebuah perjalanan kecil dimulai di Banyuwangi.

Deru mesin GrabCar perlahan mereda ketika kendaraan memasuki halaman Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi, Rabu (14/10) pagi. Dua orang dari Tim NIHR Universitas Brawijaya (UB) - dr. Harun Al Rasyid, MPH, dan seorang Field Facilitator - datang membawa satu tujuan, yakni menelusuri data PPOK, terutama di Kecamatan Cluring dan Gambiran.

Bagi tim ini, data bukan sekadar deretan angka dalam laporan kesehatan. Ia adalah kepingan informasi yang perlu dirangkai untuk mendapatkan gambaran lebih utuh tentang PPOK di masyarakat. 

Terlebih, NIHR UB telah berkolaborasi dengan RS Yasmin dan RS NU Banyuwangi dalam pelaksanaan pemeriksaan spirometri, sebuah prosedur untuk mengukur fungsi paru-paru. Hasil pemeriksaan tersebut menjadi sumber informasi penting yang perlu dibaca berdampingan dengan data yang dimiliki Dinas Kesehatan.

Pertanyaannya sederhana, tetapi penting, yaitu sejauh mana kedua sumber data itu saling menjelaskan?

Kunjungan Tim NIHR UB ke Dinkes Kabupaten Banyuwangi disambut dengan hangat dan terbuka oleh Bagian PTM


Merajut Dua Sumber Informasi

Di kantor Dinas Kesehatan, Tim NIHR UB disambut oleh Ibu Ike dari bagian Penyakit Tidak Menular (PTM). Dalam pertemuan di ruang kerjanya, dr. Harun menyampaikan maksud kunjungan sekaligus menjelaskan kebutuhan untuk mengompilasi data PPOK yang tersedia.

Respons positif mengalir sejak awal percakapan. Sambutan yang terbuka membuat diskusi berlangsung dalam suasana bersahabat, jauh dari kesan birokratis yang kerap dibayangkan orang ketika berhadapan dengan institusi pemerintahan.

Bagi tim peneliti, keterbukaan semacam ini bukan perkara sepele. Penelitian kesehatan masyarakat tidak hanya membutuhkan metode yang tepat dan instrumen yang andal, tetapi juga komunikasi yang baik dengan pemangku kepentingan yang mengelola data di lapangan. Tanpa jembatan komunikasi, informasi yang berharga bisa saja tetap tersimpan dalam sistem masing-masing, belum terhubung menjadi pengetahuan yang lebih bermakna.

Kunjungan tersebut turut dibersamai Rahmanurraudhotul Amin, SKM, salah seorang enumerator baseline survey yang membantu observasi setiap implementasi pemeriksaan spirometri. Kehadirannya menjadi penghubung antara kebutuhan penelitian dan pengalaman pengumpulan data di lapangan.

Semula, agenda kunjungan akan berlanjut ke bagian Pelayanan Kesehatan (Yankes) untuk menelusuri data PPOK melalui Simpuswangi. Namun, Pelaksana Tugas (Plt.) Yankes sedang mengikuti kegiatan bakti sosial. Pertemuan pun dijadwalkan ulang pada pekan berikutnya.

Simpuswangi, atau Sistem Informasi Manajemen Puskesmas Banyuwangi, merupakan aplikasi berbasis web yang dikembangkan Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi untuk mendigitalisasi sistem pelayanan dan administrasi kesehatan di puskesmas. Melalui sistem ini, penelusuran data diharapkan dapat membantu tim memahami informasi PPOK yang tercatat dalam layanan kesehatan setempat.

Penjadwalan ulang itu tidak mengurangi arti kunjungan hari tersebut. Sebaliknya, langkah tersebut membuka ruang untuk melanjutkan komunikasi dan menyiapkan penelusuran data secara lebih terarah.


Ketika Komunikasi Menjadi Jembatan

Ada hal menarik dari pertemuan singkat itu: cara orang menyambut satu sama lain turut menentukan bagaimana sebuah kerja kolaboratif bertumbuh.

Respons yang cepat dan ramah dari pihak Dinas Kesehatan memperlihatkan pentingnya relasi antarlembaga yang dibangun melalui keterbukaan. Dalam perspektif komunikasi organisasi, kesediaan mendengarkan, memberikan respons, dan menyepakati tindak lanjut merupakan unsur penting untuk membangun kepercayaan. Komunikasi tidak berhenti pada penyampaian maksud, tetapi bergerak menuju pemahaman bersama.

Dari sisi sosiologis, perjumpaan ini juga menunjukkan bahwa produksi pengetahuan kesehatan bukan pekerjaan satu pihak semata. Peneliti, tenaga kesehatan, pengelola data, dan fasilitas pelayanan berada dalam jejaring yang saling membutuhkan. Masing-masing memiliki informasi, pengalaman, dan sudut pandang yang berbeda. Ketika semua unsur itu dipertemukan, peluang untuk memahami persoalan kesehatan secara lebih menyeluruh pun terbuka.

Sikap tanggap dan bersahabat yang ditunjukkan pihak Dinas Kesehatan menjadi energi bagi Tim NIHR UB untuk meneruskan dialog. Sebab, menyelaraskan data membutuhkan lebih dari sekadar akses ke aplikasi atau dokumen. Dibutuhkan pula kesediaan untuk berkoordinasi, mengklarifikasi perbedaan, dan membangun kesepahaman mengenai informasi yang sedang ditelusuri.


Dari Kantor ke Lapangan

Usai kunjungan ke Dinas Kesehatan, perjalanan belum berakhir. Field Facilitator NIHR UB mengajak dr. Harun menuju Desa Sarimulyo untuk mengunjungi pelaksanaan pemeriksaan ulang spirometri yang kedua. Kali ini, perjalanan dilanjutkan menggunakan GoCar.

Perpindahan dari ruang kerja menuju lokasi pemeriksaan seolah menegaskan bahwa upaya memahami PPOK tidak cukup dilakukan di balik meja. Data administratif perlu dibaca bersama temuan lapangan, sementara hasil pemeriksaan membutuhkan konteks agar dapat dimaknai secara tepat.

Di sinilah benang-benang informasi mulai menemukan kemungkinan untuk saling terhubung dari catatan pelayanan kesehatan, hasil spirometri, dan pengalaman pelaksanaan pemeriksaan di masyarakat.

Tentu, menyatukan data tidak serta-merta membuka seluruh tabir PPOK di Banyuwangi. Masih ada informasi yang perlu ditelusuri, dibandingkan, dan diverifikasi. Namun, setiap percakapan yang terjalin dan setiap langkah koordinasi yang disepakati merupakan bagian dari proses tersebut.

Pada akhirnya, menyulam data bukan sekadar mempertemukan angka dari dua sumber berbeda. Ia adalah ikhtiar merangkai kepingan informasi menjadi pemahaman yang lebih utuh tentang PPOK, tentang mereka yang mungkin luput teridentifikasi, dan tentang peluang memperbaiki layanan kesehatan di masa mendatang. Sebab, data yang tersimpan dalam laporan hanya akan menjadi deretan angka jika tidak dibaca, dipertautkan, dan dimaknai bersama. 

Namun, ketika data mampu menyingkap persoalan yang sebelumnya samar, ia dapat menjadi awal bagi lahirnya keputusan dan tindakan yang lebih tepat. Seperti diungkapkan Mike Schmoker, “Segala sesuatu dapat terlaksana hanya jika data yang kita kumpulkan mampu memberikan wawasan dan menginspirasi mereka yang berada dalam posisi untuk membawa perubahan.” *** [151026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Risk Checker

Risk Checker

Statistik Blog

Sahabat eKader

Label

Arsip Blog