आमुखं समागच्छ, पृष्ठं प्रदर्श्य प्रगच्छ। -- संस्कृत सुभाषित
(Āmukhaṃ samāgaccha, pṛṣṭhaṃ pradarśya pragaccha -- Sanskrut subhashit/Sanskrit proverb)
Ada perpisahan yang terdengar seperti pintu tertutup. Namun, ada pula perpisahan yang terasa seperti jeda napas - bukan akhir, melainkan ruang di antara dua pertemuan. Di Ruang Kerja Kepala Desa Tamanagung, Senin (26/10), tiga enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) memilih perpisahan yang kedua, yaitu berpamitan dengan tenang, berterima kasih dengan tulus, lalu pergi membawa cerita yang tidak selalu tertulis dalam aplikasi.
Mereka datang sebagai enumerator – seseorang yang bertugas melakukan pengumpulan data di lapangan dan memfasilitasi pemeriksaan spirometri. Mereka pergi sebagai bagian dari kisah desa.
![]() |
| Enumerator baseline survey berpose dengan Kades Tamanagung, Sekdes, dan perangkat desa lainnya |
Jeda di Tengah Jalan Panjang
Siang itu, Field Facilitator NIHR UB sempat undur diri dari kegiatan pemeriksaan ulang spirometri kedua di Desa Kaliploso. Ia menuju Balai Desa Tamanagung untuk mendampingi enumerator baseline survey NIHR-GHRC NCDs & EC dalam acara pamitan bersama Kepala Desa dan perangkat desa terkait.
Tiga enumerator hadir pada pagi itu adalah Fahmi Ahmad Fauzan, S.Sos.; Dysa Fitri Permatasari, S.Tr.Kes., M.Kes.; dan Nisaul Rofifah, S.Gz. Mereka datang bukan untuk melapor angka, melainkan untuk mengucapkan terima kasih - sebuah kalimat sederhana yang kerap tersimpan paling lama dalam ingatan.
Ruang kerja Kades Drs. Suharto di Jalan Sraten No. 07, Dusun Krajan RT 02 RW 04, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, menjadi saksi perpisahan itu. Di sana, rombongan enumerator diterima Kades Suharto, Sekretaris Desa Hendir Bernadi, serta lima staf desa yang selama empat bulan terakhir telah mendampingi jalannya pengumpulan data baseline survey.
Empat bulan bukan waktu yang singkat. Empat bulan adalah rangkaian pagi yang dimulai dari rumah ke rumah, pertanyaan yang diulang dengan sabar, jawaban yang dicatat dengan hati-hati, dan hubungan yang perlahan tumbuh dari sekadar kunjungan menjadi keakraban.
![]() |
| Lewat meja layanan masyarakat ketika menuju ruang kerja Kades |
Ketika Data Menyimpan Manusia
Dalam ruangan ber-AC itu, Fauzan menyampaikan maksud kedatangan mereka, yaitu berpamitan atas selesainya tugas lapangan pengumpulan data baseline survey yang telah berlangsung selama empat bulan.
Kalimat itu mungkin terdengar administratif. Namun di baliknya ada beban yang baru saja dilepaskan: daftar rumah tangga yang telah dikunjungi, pertanyaan yang telah dijawab, pengumpulan data yang telah rampung, serta wajah-wajah warga yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan kerja lapangan.
Sebab, di balik setiap pertanyaan yang selesai, tidak pernah hanya ada angka. Ada manusia. Ada cerita. Ada komunitas yang membuka pintu, menyediakan kursi, menjawab pertanyaan, dan sesekali berbagi perhatian kepada orang asing yang datang membawa formulir.
Kades Suharto menanggapi dengan hangat. Ia menyampaikan rasa senang Pemerintah Desa Tamanagung karena desanya terpilih dalam penelitian NIHR UB. Ia juga memohon maaf apabila selama enumerator bertugas ada sambutan yang kurang berkenan.
Permintaan maaf itu terasa seperti buah tangan dari kerendahan hati. Sebab dalam kerja lapangan, kesempurnaan memang jarang hadir. Ada jadwal yang berubah, ada komunikasi yang perlu diperbaiki, ada kondisi lapangan yang menuntut penyesuaian. Namun justru di sanalah relasi diuji: bukan pada saat semuanya mudah, melainkan ketika kedua pihak memilih untuk tetap saling memahami.
Kades Suharto kemudian mengingatkan satu hal penting. Meskipun jadwal baseline survey telah berakhir, silaturahmi hendaknya tetap dijaga. Kalimat itu seperti benang yang menyambung perpisahan dengan pertemuan berikutnya.
![]() |
| Sekapur sirih dari eumerator baseline survey dalam acara pamitan |
Pergi, Namun Belum Purna
Field Facilitator NIHR UB menambahkan bahwa penelitian ini sebenarnya belum purna. Masih ada kelanjutannya, tetapi waktunya harus diiringi jeda.
Karena itu, Tim Enumerator Baseline Survey Desa Tamanagung berpamitan untuk menyudahi jadwal baseline survey. Di tahun depan, mereka akan kembali ke desa ini dalam rangkaian Endline Survey. Atas dasar itu, Field Facilitator NIHR UB memohon izin untuk datang kembali kelak.
Pamitan, dalam konteks ini, bukanlah kata selamat tinggal yang mutlak. Ia lebih tepat disebut sebagai janji yang ditunda. Sebuah pernyataan bahwa perjalanan penelitian belum selesai; bahwa desa ini akan dijumpai lagi, bukan sebagai lokasi survei semata, melainkan sebagai mitra dalam sebuah usaha memahami kesehatan masyarakat.
Usai rangkaian percakapan, dilanjutkan pemberian bingkisan kepada perangkat desa yang selama ini mendampingi kegiatan enumerator. Bingkisan itu mungkin sederhana, tetapi ia membawa makna, yaitu ucapan terima kasih yang tidak cukup diucapkan hanya dengan kata-kata.
Kemudian foto bersama diabadikan. Tangan-tangan saling berjabat. Senyum-senyum terukir. Dan pada saat itulah perpisahan tidak lagi terasa seperti kehilangan, melainkan seperti penutup sebuah bab yang akan kelak dilanjutkan pada bab berikutnya.
![]() |
| Bingkisan kenang-kenangan dari enumerator kepada Kades |
Datang Tampak Muka, Pergi Tampak Punggung
Ada peribahasa dari khazanah Sansekerta yang mengingatkan:
“Datanglah dengan menghadap ke depan atau memperlihatkan wajahmu; dan pergilah dengan memperlihatkan punggungmu.”
Secara harfiah, frasa itu menggambarkan orientasi tubuh manusia. Ketika tiba, kita menghadap ke depan dan wajah kita terlihat. Ketika pergi, kita berjalan membelakangi dan punggung kita yang tampak. Namun makna sesungguhnya tidak berhenti pada posisi tubuh.
Peribahasa ini termasuk idiom yang membawa makna asosiatif dan kultural. Ia mengajarkan nilai kesantunan dan etika bertamu. Ketika datang, seseorang memberi salam dan kabar; ketika pulang, seseorang berpamitan. Tidak ada ruang untuk pergi diam-diam, lari dari tanggung jawab, atau meninggalkan tempat tanpa pesan - sesuatu yang dalam bahasa populer kini disebut ghosting.
Wajah melambangkan kehormatan, niat baik, dan perkenalan awal. Punggung melambangkan penutup interaksi yang bersih, tanpa meninggalkan kesan buruk atau prasangka di kemudian hari.
Dalam budaya Indonesia, pesan itu dikenal pula melalui peribahasa “datang tampak muka, pulang tampak punggung,” yang berarti datang dan pergi hendaknya memberi tahu serta dilakukan dengan baik dan sopan.
Pamitan enumerator di Ruang Kerja Kades Tamanagung adalah perwujudan nyata dari nilai itu. Mereka tidak hanya menyelesaikan tugas, tetapi juga menutup perjalanan dengan cara yang terhormat, yaitu mengucapkan terima kasih, menerima masukan, menjaga hubungan, dan memohon izin untuk kembali.
![]() |
| Bingkisan kenang-kenangan dari enumerator kepada Sekdes |
Yang Dibawa Pulang
Meninggalkan lapangan merupakan ritual penyelesaian - tahap akhir dari sebuah ritus peralihan. Setelah lama terintegrasi dalam kehidupan komunitas, enumerator kembali ke posisi awalnya, namun dengan status yang telah berubah, bukan lagi orang asing yang baru datang, melainkan kenalan yang membawa kenangan.
Itulah kisah enumerator. Setiap angka menyimpan cerita. Setiap rumah tangga yang dikunjungi menjadi bagian dari perjalanan mereka. Mereka mendata rumah tangga dan mengumpulkan informasi, tetapi hal paling berharga yang mereka peroleh bukan sekadar data. Yang paling berharga adalah pengalaman, seperti belajar mendengar, belajar bersabar, belajar menghormati kehidupan orang lain, dan belajar bahwa ilmu tidak pernah lahir dari ruang kosong.
Tugas mereka mungkin telah usai. Namun kenangan dan persahabatan yang terjalin akan tetap membekas.
Kami datang sebagai enumerator, bekerja sebagai tim, dan pergi membawa kenangan indah. Survei ini berakhir di sini, tetapi pelajaran dan persahabatan yang didapat akan terus hidup.
Selamat tinggal pada kerja lapangan, segala tantangan, dan momen-momen tak terlupakan. Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan ini.
Sampai jumpa kembali, Tamanagung - di waktu ketika jeda telah selesai dan langkah-langkah itu kembali mengarah ke depan. *** [271026]
Oleh: Budiarto Eko KusumoEditor: Budiarto Eko Kusumo












0 komentar:
Posting Komentar