Minggu, 18 Oktober 2026

Mengukur Irama Napas, Menjaga Harapan: Pemeriksaan Spirometri Keenam di Desa Tamanagung

“You just took a breath. You're about to take another. Inhale, then exhale, then another inhale. In and out. There's a rhythm to your breathing. It's the same with nature.” -- Rob Bell, How to Be Here: A Guide to Creating a Life Worth Living

Di balik tarikan dan embusan napas yang kerap dianggap biasa, tersimpan petunjuk penting tentang kesehatan paru-paru. Sabtu pagi itu, di Pendopo Desa Tamanagung, puluhan warga kembali menjalani pemeriksaan spirometri untuk mengenali risiko penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) sejak dini.

“Anda baru saja menarik napas. Anda akan menarik napas lagi. Tarik napas, lalu embuskan, kemudian tarik napas lagi. Masuk dan keluar. Ada irama dalam napas Anda. Begitu pula dengan alam.” 

Kalimat Rob Bell tersebut mengingatkan kita bahwa bernapas merupakan ritme alami kehidupan. Namun, di balik proses yang berlangsung tanpa disadari itu, kondisi paru-paru seseorang tidak selalu baik-baik saja. Karena itulah, mengukur kemampuan paru-paru menjadi langkah penting untuk mengenali gangguan pernapasan.

Meja 1: registrasi dan verifikasi data

Pada Sabtu (17/10) pagi, Pendopo Desa Tamanagung yang beralamat di Jalan Sraten No. 07, Dusun Krajan, RT 02 RW 04, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, kembali menjadi tempat pelaksanaan pemeriksaan spirometri. Kegiatan keenam ini merupakan kolaborasi antara NIHR Universitas Brawijaya (NIHR UB) dan Rumah Sakit Nahdlkatul Ulama (RS NU) Banyuwangi sebagai bagian dari upaya mengidentifikasi faktor risiko PPOK melalui pemeriksaan lanjutan terhadap warga yang telah menjalani pre-screening.

Tiga enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC), yakni Fahmi Ahmad Fauzan, S.Sos., Dysa Fitri Permatasari, S.Tr.Kes., M.Kes., dan Nisaul Rofifah, S.Gz., kembali hadir untuk mendampingi pelaksanaan kegiatan. 

Mereka juga dibantu tiga kader kesehatan setempat, Ade Fitria Ningsih, Luckyta Anjarsari, dan Ninik Suriani. Sejak dua hari sebelumnya, para kader telah membantu menyampaikan undangan kepada 35 warga yang terindikasi memiliki faktor risiko PPOK.

Meja 2: TTV

Empat meja, satu tujuan

Pemeriksaan dimulai pukul 08.00 WIB dengan alur yang dirancang agar setiap responden menjalani tahapan secara teratur. Meja pertama menjadi titik awal perjalanan mereka. Di sana, Ade Fitria Ningsih, Ninik Suriani, dan enumerator Nisaul Rofifah melakukan registrasi sekaligus memverifikasi data responden.

Setelah mendaftar, warga menunggu giliran di bangku antrean. Sembari menunggu, Fahmi Ahmad Fauzan memberikan arahan mengenai teknik meniupkan udara yang benar saat pemeriksaan spirometri. Persiapan ini penting karena hasil pengukuran tidak hanya bergantung pada alat, tetapi juga pada kemampuan responden mengikuti instruksi dengan tepat.

Dari meja pendaftaran, responden kemudian dipanggil menuju meja kedua, yakni meja pemeriksaan tanda-tanda vital (TTV). Perawat Dwi Warsa, S.Kep.Ns., mengukur berat badan, tekanan darah, dan saturasi oksigen menggunakan oksimeter. Selanjutnya, Perawat Joenhiga, S.Kep.Ns., melakukan anamnesis melalui aplikasi SMARThealth untuk menggali informasi kesehatan responden.

Tahap berikutnya berlangsung di meja ketiga, tempat pemeriksaan spirometri dilakukan. Perawat Marni Erlina, S.Kep.Ns., memandu manuver spirometri tahap pertama atau pre-bronchodilator, dengan bantuan Perawat Agnes, S.Kep.Ns., yang mengoperasikan alat MIR SpiroLab milik NIHR UB. Proses tersebut juga disaksikan Ns. Elik Anistina, S.Kep., yang membantu mengawasi pelaksanaan pemeriksaan.

Spirometri merupakan pemeriksaan fungsi paru-paru yang mengukur volume udara yang dapat dihirup dan diembuskan secara maksimal. Untuk memperoleh hasil yang dapat dipercaya, pemeriksaan dilakukan melalui manuver berulang dengan teknik yang valid dan hasil yang dapat direproduksi. Umumnya, diperlukan sedikitnya tiga manuver yang memenuhi kriteria kualitas; jika hasilnya belum konsisten, pemeriksaan dapat diulang hingga batas yang ditentukan dalam protokol.

Usai tahap pertama, responden menerima semprotan salbutamol, kemudian beristirahat selama 20 menit. Obat ini membantu melebarkan saluran pernapasan sehingga perubahan fungsi paru-paru dapat dinilai. 

Setelah masa tunggu selesai, responden menjalani pemeriksaan tahap kedua atau post-bronchodilator dengan prosedur serupa. Perbandingan kedua hasil tersebut membantu tenaga kesehatan menilai respons saluran pernapasan terhadap obat.

Tes spirometri

Kendala di tengah pemeriksaan

Pelaksanaan kali ini tidak sepenuhnya berjalan mulus. Alat spirometri MIR SpiroLab sempat tertinggal di RS NU Banyuwangi sehingga petugas harus menunggu sopir mengambilnya. Ketika pemeriksaan hendak dimulai, kendala lain muncul, yakni tinta alat telah habis.

Agar kegiatan tetap berlanjut, Rahmanurraudhotul Amin, SKM, meminjam alat MIR SpiroLab lain milik tenaga kesehatan RS Yasmin yang saat itu sedang melaksanakan pemeriksaan ulang spirometri ketiga di Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring. Di tengah keterbatasan tersebut, koordinasi antarpihak menjadi kunci agar warga tetap dapat memperoleh layanan pemeriksaan.

Rahmanurraudhotul Amin, yang ditugaskan oleh Theme 1: Primary Healthcare Strengthening, juga melakukan observasi terhadap jalannya kegiatan menggunakan daftar tilik (checklist). Kehadirannya menjadi bagian dari pemantauan proses pelayanan, selain memastikan setiap tahapan pemeriksaan dapat diamati secara sistematis.

Setelah menyelesaikan kedua tahap spirometri, responden diarahkan ke meja keempat. Di sana, enumerator Dysa Fitri Permatasari bersama kader Ade Fitria Ningsih memberikan konsumsi, vitamin, dan subsidi transportasi sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi warga.

Meja 4: apresiasi atas berpartisipasinya responden dalam pemeriksaan spirometri

Napas yang layak diperhatikan

Pemeriksaan berakhir pada pukul 13.07 WIB. Berdasarkan catatan Field Facilitator NIHR UB, sebanyak 34 dari 35 warga yang diundang hadir, sementara satu orang tidak datang karena dihubungi berkali-kali tidak ada jawaban.

Ns. Elik Anistina menyampaikan bahwa terdapat empat hasil pemeriksaan yang memerlukan perhatian. Dua responden perempuan lanjut usia menunjukkan hasil yang kurang maksimal: seorang memiliki riwayat tuberkulosis dan masih menjalani pengobatan, sedangkan seorang lainnya memiliki riwayat asma tetapi tidak bersedia berobat. Sementara itu, dua responden laki-laki menunjukkan hasil yang baik meskipun memiliki riwayat penyakit penyerta, termasuk gangguan jantung, stroke, gangguan hati, dan PPOK.

Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa riwayat penyakit dan hasil pemeriksaan perlu dipahami bersama oleh tenaga kesehatan. Hasil spirometri bukanlah diagnosis tunggal, melainkan salah satu dasar untuk menentukan tindak lanjut yang sesuai.

Di Pendopo Desa Tamanagung, pemeriksaan keenam ini bukan sekadar urusan menarik dan mengembuskan udara melalui sebuah alat. Ada upaya untuk memahami kondisi paru-paru, mengenali risiko lebih awal, dan mendorong warga agar lebih peduli terhadap kesehatan pernapasannya.

Seperti irama napas yang terus berulang, upaya menjaga kesehatan membutuhkan perhatian yang berkelanjutan. Sebab, napas yang terasa biasa hari ini tetap layak diperiksa, dipahami, dan dijaga untuk hari esok. *** [181026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Risk Checker

Risk Checker

Statistik Blog

Sahabat eKader

Label

Arsip Blog