“In this way, the breath is like a mirror that shows you the state you are in.” -- Wim Hof
Ada kalanya tubuh berbicara terlalu pelan untuk didengar. Pada Sabtu (17/10), di sebuah rumah kader Siti Badriya di Dusun Cempokosari RT 02 RW 03, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, sekumpulan orang berkumpul bukan untuk sebuah perayaan, melainkan untuk sebuah pengulangan. Spirometri ketiga. Sebuah kata yang terdengar teknis, tetapi menyimpan cerita tentang kesabaran, kerja keras, dan napas yang belum mau bekerja sama.
Spirometri adalah pemeriksaan fungsi paru yang mengandalkan tiga hal, yaitu perawat terlatih, peralatan akurat, dan upaya maksimal pasien. Ketika salah satu dari tiga pilar itu goyah, hasilnya bisa menjadi “tidak dapat dibaca” (unreadable). Bukan karena paru-paru pasien pasti bermasalah, melainkan karena kurva yang buruk, nilai yang tidak konsisten, atau teknik yang kurang tepat.
![]() |
| Personel RS Yasmin Banyuwangi berpose dengan enumerator baseline survey dan kader kesehatan setempat |
Desa Sarimulyo telah melewati lima pemeriksaan spirometri sebelumnya - 25 Juli, 14 Agustus, 15 Agustus, 21 Agustus, lalu spirometri ulang pertama pada 12 Oktober dan kedua pada 14 Oktober.
Dari 151 target responden hasil pre-screening yang terindikasi faktor risiko PPOK, beberapa di antaranya harus kembali lagi karena hasil sebelumnya tak terbaca. Maka, dijadwalkanlah pemeriksaan ulang ketiga.
Undangan disebar beberapa hari sebelumnya, meminta 29 responden untuk hadir. Tiga kader kesehatan setempat - Siti Bariya, Malikatun Nikmah, dan Kiki Wahyuni - bergerak sejak jauh hari, menyebarkan undangan dan menjemput mereka yang membutuhkan tumpangan.
![]() |
| Meja pendaftaran: registrasi dan verifikasi data responden |
Lalu ke meja TTV, tempat Perawat Khusnul Hotimah, A.Md.Kep. mengukur tekanan darah dan oksimetri, sementara dr. Handri Irawan, MMRS di sampingnya melakukan anamnesis dengan spreadsheet dan pemeriksaan fisik dengan stetoskop.
Usai TTV, responden duduk di tikar antrean, menunggu panggilan meja spirometri. Sambil menunggu, enumerator Triana Rahmah, S.AB memanfaatkan waktu untuk mengajarkan teknik penyebulan - sebuah detail kecil yang menentukan kualitas hasil.
Begitu dipanggil, responden menuju meja spirometri. Di sana, Perawat Yenni Rachmawati, A.Md.Kep. memandu manuver, dibantu Ns. Yusi Ayu Permatasari, S.Kep. yang mengoperasikan laptop terhubung alat spirometri, di bawah pengawasan Ns. Elik Anistina, S.Kep. yang mengawal tes untuk NIHR UB.
![]() |
| Tes spirometri |
Setelah jeda singkat, responden dipanggil lagi untuk tes tahap kedua atau post-nebulisasi. Bila lancar, rangkaian selesai, dan responden disarankan kembali ke meja pendaftaran, menerima konsumsi, gift, dan subsidi transportasi dari tiga kader, disaksikan enumerator.
Pemeriksaan ulang ketiga ini juga dihadiri Rahmanurraudhotul Amin, SKM, yang ditunjuk Theme 1: Primary Healthcare Strengthening untuk observasi jalannya spirometri dengan checklist, serta Kamituwo Cempokosari, Rudi Hartoyo, S.E.
![]() |
| Nebulisasi |
Tujuh undangan yang tak hadir digantikan oleh tujuh responden yang sedianya dijadwalkan besoknya. Enumerator Ana, dibantu Rahmanurraudhotul Amin, mondar-mandir menjemput mereka, memajukan jadwal, dan kebetulan mereka bersedia. Cara cerdas, kerja keras, dan tuntas - begitulah Field Facilitator NIHR UB melihatnya. Target tak dibiarkan kosong; ia diisi dengan langkah kaki dan pendekatan personal.
Namun, tidak semua napas bisa dipaksa menjadi kurva yang sempurna. Dari konfirmasi kepada dua perawat di meja spirometri, terdapat hasil pengukuran yang kurang maksimal. Satu orang ogah-ogahan mengikuti instruksi manuver; satu lansia tak bisa mengikuti aba-aba karena kognitifnya mulai menurun; satu lagi tampak setengah hati. Di sinilah spirometri menunjukkan sisi manusianya; ia bukan sekadar alat dan angka, melainkan pertemuan antara teknologi dan kerelaan tubuh untuk berusaha maksimal.
![]() |
| "Antar jemput responden" oleh enumerator, sebuah variabel bagi kecukupan target pemeriksaan |
“Dengan cara ini, napas ibarat cermin yang memperlihatkan kondisi diri Anda saat ini.”
Di Desa Sarimulyo, cermin itu sempat buram - kurva buruk, nilai tak konsisten, hasil tak terbaca. Tetapi alih-alih memaksakan tafsir, peneliti NIHR UB memilih mengulang dengan undangan, jemputan, dan kesabaran dari enumerator baseline survey dan kader kesehatan setempat.
Sebab napas yang belum bisa dibaca bukanlah kegagalan, melainkan ajakan untuk mencoba lagi - dengan teknik yang lebih baik, alat yang terawat, dan upaya yang sungguh-sungguh. Di dusun itu, pada Sabtu siang yang panjang, 29 orang telah meniupkan napasnya ke dalam “cermin”. Dan “cermin” itu, perlahan, mulai jernih. *** [191026]
Oleh: Budiarto Eko KusumoEditor: Budiarto Eko Kusumo












0 komentar:
Posting Komentar