“Breath is breath.” -- Lailah Gifty Akita
Jumat (16/10) pagi, udara di Pendopo Desa Tamanagung belum terasa panas. Namun, di balik meja-meja yang tersusun rapi, ada pekerjaan yang menuntut ketelitian, yaitu mendengarkan napas warga, mengukurnya, lalu menerjemahkannya menjadi data yang dapat menyelamatkan masa depan kesehatan mereka.
“Napas adalah napas.” — Lailah Gifty Akita
Kalimat sederhana itu terasa sangat dekat di ruang pemeriksaan spirometri kelima yang digelar kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya dan Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RS NU) Banyuwangi. Sebab, bagi sebagian warga yang datang, napas bukan sekadar gerakan dada yang berulang. Napas adalah kemampuan berjalan tanpa berhenti, bekerja tanpa terengah, dan tidur tanpa rasa sesak.
Kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB di Pendopo Desa Tamanagung, Jalan Sraten No. 07, Dusun Krajan RT 02 RW 04, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi. Sebanyak 25 warga hasil pre-screening diundang karena terindikasi memiliki faktor risiko penyakit paru obstruktif kronik atau PPOK. Dari jumlah tersebut, 23 orang hadir; dua lainnya tidak dapat hadir karena sedang bekerja dan tidak ditemukan di rumah saat dijemput.
![]() |
| Suasana pemeriksaan spirometeri kelima di Pendopo Desa Tamanagung |
Rangkaian yang Terencana
Pemeriksaan ini adalah pemeriksaan spirometri kelima di Desa Tamanagung. Tiga enumerator baseline survey NIHR-GHRC NCDs & EC - Fahmi Ahmad Fauzan, S.Sos.; Dysa Fitri Permatasari, S.Tr.Kes., M.Kes.; dan Nisaul Rofifah, S.Gz. - kembali menuntun proses dari awal hingga akhir.
Mobilisasi warga tidak berlangsung begitu saja. Tiga kader kesehatan setempat, Ade Fitria Ningsih, Ninik Suriani, dan Ratna Mujayanah, telah membantu menyebarkan undangan dua hari sebelum pelaksanaan. Pada hari-H, mereka kembali hadir dan memastikan warga sampai ke pendopo.
Alur pemeriksaan berjalan seperti sungai kecil yang tenang: responden masuk dari satu meja, menunggu sebentar, lalu bergerak ke meja berikutnya. Di balik kesederhanaan itu, setiap tahapan memiliki fungsi penting.
Di meja pertama, Ade Fitria Ningsih, Ninik Suriani, dan Ratna Mujayanah melakukan registrasi serta verifikasi data responden. Setelah itu, warga dipersilakan duduk di bangku antrean. Sambil menunggu, enumerator Fahmi Ahmad Fauzan memberikan penjelasan teknik menyembur atau meniup ke alat spirometri.
Panggilan pertama datang dari meja tanda-tanda vital. Bidan Muqodimah, A.Md.Keb., menimbang berat badan, mengukur tekanan darah, dan melakukan oksimetri. Selanjutnya, Perawat Siti Nur Indah, S.Kep., Ns., melakukan anamnesis melalui aplikasi SMARThealth.
![]() |
| Meja 2: penimbangan berat badan, pengukuran tekanan darah, oksimetri, dan anamnesis |
Saat Napas Diukur
Meja ketiga menjadi jantung kegiatan. Di sanalah napas warga benar-benar diukur. Perawat Joenhiga, S.Kep., Ns., memimpin manuver spirometri tahap pertama atau pre-semprotan salbutamol. Ia dibantu Perawat Dwi Warsa, S.Kep., Ns., yang mengoperasikan alat MIR SpiroLab milik NIHR UB. Responden diminta menarik napas sedalam mungkin, lalu mengembuskan udara dengan kuat dan tahan ke dalam alat.
Spirometri merupakan pemeriksaan fisiologis untuk menilai fungsi paru melalui ukuran objektif: berapa banyak udara maksimal yang dapat dihirup dan diembuskan seseorang. Tes yang memenuhi syarat umumnya dilakukan minimal tiga kali dengan hasil yang valid dan dapat direproduksi untuk menentukan forced vital capacity atau FVC. Bila hasilnya belum memenuhi kriteria, pemeriksaan dapat diulang hingga delapan kali.
Setelah tahap pertama, responden menerima semprotan salbutamol, lalu beristirahat selama 20 menit sebelum menjalani spirometri tahap kedua atau post-semprotan salbutamol. Pengukuran sebelum dan sesudah bronkodilator seperti salbutamol digunakan untuk menilai adanya obstruksi jalan napas serta memperkuat penilaian PPOK.
Seluruh proses di meja spirometri diawasi langsung oleh Ns. Elik Anistina, S.Kep., yang membantu NIHR UB dalam pengawasan kualitas tes. Kehadirannya menegaskan bahwa spirometri bukan sekadar meminta warga meniup alat; ia menuntut teknik yang benar, hasil yang konsisten, dan penilaian yang hati-hati.
![]() |
| Tes spirometri |
Ketika Data Bertemu Cerita
Tidak semua napas mudah diukur. Berdasarkan informasi dari Ns. Elik, terdapat delapan laporan hasil yang perlu perhatian. Tujuh responden memiliki hasil spirometri yang kurang maksimal. Beberapa di antaranya memiliki riwayat penyakit jantung dan baru selesai pengobatan TBC; ada pula yang memiliki riwayat TBC disertai sesak napas, riwayat asma dan sesak napas, serta riwayat hipertensi dan usia lanjut.
Ada satu perempuan paruh baya yang sejak spirometri tahap pertama sudah menunjukkan hasil kurang maksimal. Ia memiliki riwayat sesak napas dan sakit lambung. Baru sekali mencoba meniup ke alat, air matanya jatuh. Momen itu mengingatkan bahwa di balik angka dan grafik, ada tubuh yang lelah, ketakutan yang tidak selalu terucap, serta pengalaman sakit yang membentuk cara seseorang bernapas.
Namun, ada pula cerita yang menenangkan. Seorang laki-laki paruh baya dengan riwayat jantung dan asma justru memperoleh hasil spirometri yang baik. Baginya, pemeriksaan itu menjadi bentuk penghargaan terhadap napas yang selama ini ia rawat dengan hati-hati.
![]() |
| Meja 4: apresiasi atas partisipasi responden dalam pemeriksaan spirometri |
Lebih dari Sekadar Pemeriksaan
Setelah menyelesaikan rangkaian tes, responden menuju meja keempat atau meja apresiasi partisipasi. Enumerator Nisaul Rofifah dan Dysa Fitri Permatasari memberikan konsumsi, vitamin, dan subsidi transportasi. Bentuk apresiasi sederhana, tetapi bermakna bahwa kehadiran warga bukan hanya diharapkan, melainkan juga dihargai.
Kegiatan ini juga dihadiri Rahmanurraudhotul Amin, SKM., yang ditunjuk Theme 1: Primary Healthcare Strengthening untuk melakukan observasi prosesi menggunakan checklist. Kehadiran pengamat menunjukkan bahwa kegiatan ini bukan hanya layanan sesaat, melainkan bagian dari upaya memperkuat sistem pelayanan kesehatan primer di tingkat desa.
Pemeriksaan berakhir pukul 12.54 WIB. Hampir lima jam, pendopo Tamanagung berubah menjadi ruang belajar tentang napas: bagaimana napas diukur, bagaimana gangguan pernapasan dikenali, dan bagaimana masyarakat dapat dilibatkan dalam pencegahan PPOK sejak dini.
Di akhir kegiatan, yang dibawa pulang warga bukan hanya konsumsi, vitamin, atau subsidi transportasi. Ada pula kesadaran bahwa napas layak diperhatikan sebelum ia menjadi keluhan. Karena pada akhirnya, seperti kata Lailah Gifty Akita, “Napas adalah napas” - dan menjaganya berarti menjaga kesempatan untuk hidup lebih sehat. *** [171026]
Oleh: Budiarto Eko KusumoEditor: Budiarto Eko Kusumo











0 komentar:
Posting Komentar