“Breathing involves a continual oscillation between exhaling and inhaling, offering ourselves to the world at one moment and drawing the world into ourselves at the next.” -- David Abram
Di balik angka-angka yang belum terbaca, ada napas yang perlu didengarkan kembali. Di Desa Sarimulyo, pemeriksaan ulang spirometri menjadi ikhtiar untuk memastikan setiap pengukuran fungsi paru memberikan gambaran yang lebih akurat tentang kesehatan warga.
Pukul 08.17 WIB, Senin (19/10), aktivitas pemeriksaan kesehatan mulai bergerak di rumah Kepala Dusun Sempu, Muhammad Hudhori, yang beralamat di Dusun Sempu RT 03 RW 02, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi. Sejumlah warga datang memenuhi undangan untuk menjalani pemeriksaan ulang spirometri.
Bagi mereka, ini bukan kali pertama berhadapan dengan alat pengukur fungsi paru. Namun, ada satu hal yang membuat pemeriksaan kali ini penting, yaitu memastikan hasil yang sebelumnya belum terbaca dapat diupayakan kembali dengan lebih baik.
![]() |
| Personel RS Yasmin Banyuwangi berpose dengan enumerator baseline survey dan kader kesehatan setempat |
Sebelumnya, enam sesi pemeriksaan spirometri telah dilaksanakan untuk menjangkau 151 responden yang terindikasi memiliki faktor risiko penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) berdasarkan hasil pre-screening. Dalam pelaksanaannya, sejumlah responden perlu menjalani pemeriksaan kembali karena rekaman spirometri sebelumnya tidak dapat dibaca (unreadable).
Mengulang pemeriksaan bukan sekadar mengulang prosedur. Dalam spirometri, kualitas hasil bergantung pada keterampilan petugas, ketepatan peralatan, serta kemampuan dan upaya maksimal orang yang diperiksa. Rekaman dengan kurva buruk atau nilai yang tidak konsisten tidak semestinya dipaksakan untuk ditafsirkan.
Pemeriksaan ulang menjadi kesempatan memperoleh data yang lebih layak, sementara hasil yang masih dapat digunakan harus tetap disertai catatan keterbatasan teknis dan interpretasi yang hati-hati.
![]() |
| Tes spirometri |
Dari meja pendaftaran hingga tarikan napas
Sejak beberapa hari sebelumnya, dua enumerator baseline survey, Kiki Antikawati Rustandi, S.Kep., dan Triana Rahmah, S.AB., telah mengundang 28 responden untuk hadir. Keduanya dibantu kader kesehatan setempat, Ruruh Aristin dan Tri Nur Umala, yang turut menyebarkan undangan serta mengantar-jemput warga yang membutuhkan bantuan transportasi.
Alur pemeriksaan disusun sebagaimana sesi-sesi sebelumnya. Mula-mula, responden melakukan registrasi dan verifikasi data di meja pendaftaran, dilayani Kiki bersama kader. Berikutnya, mereka menuju meja tanda-tanda vital (TTV). Perawat Meira Safira S., A.Md.Kep., mengukur tekanan darah dan saturasi oksigen, sedangkan dr. Nimas Eka Firdaningrum melakukan anamnesis melalui lembar data serta pemeriksaan fisik menggunakan stetoskop.
Sambil menunggu giliran, responden memperoleh penjelasan teknik meniupkan napas melalui alat spirometri dari enumerator Triana Rahmah, yang akrab disapa Ana. Tahap ini penting karena hasil pemeriksaan tidak hanya bergantung pada alat, tetapi juga pada cara seseorang melakukan manuver pernapasan sesuai instruksi petugas.
Di meja spirometri, Perawat Imelda memandu responden melakukan manuver dengan bantuan Ns. Rizki Indrawangi, S.Kep., yang mengoperasikan laptop terhubung ke alat. Ns. Elik Anistina, S.Kep., turut mengawasi jalannya pemeriksaan sebagai pendamping NIHR UB.
Pemeriksaan berlangsung dalam dua tahap. Pertama, responden menjalani spirometri sebelum nebulisasi (pre-nebulisasi). Setelah itu, mereka berpindah ke meja di sebelah selatan untuk menjalani nebulisasi bersama Perawat Tria Firnasari, A.Md.Kep. Prosedur ini menggunakan nebulizer untuk mengubah obat cair menjadi kabut halus yang dihirup melalui saluran pernapasan.
Usai nebulisasi, responden kembali menunggu giliran untuk menjalani spirometri tahap kedua (post-nebulisasi). Prosedurnya serupa dengan tahap pertama, tetapi dilakukan setelah pemberian terapi inhalasi. Setelah seluruh rangkaian selesai, responden kembali ke meja pendaftaran untuk menerima konsumsi, hadiah, dan subsidi transportasi.
![]() |
| Nebulisasi |
Ketika angka bertemu dengan kondisi tubuh
Dari 28 orang yang diundang, pemeriksaan hari itu berhasil menjangkau 29 responden. Sebanyak 26 orang berasal dari daftar undangan awal. Ketika dua responden berhalangan hadir karena sakit, enumerator berupaya mencari pengganti dengan menjemput warga yang telah dijadwalkan ulang hari esoknya. Menjelang penutupan, seorang perempuan yang juga menjadi sasaran pemeriksaan datang atas inisiatif sendiri dan langsung dilayani.
Meski demikian, pemeriksaan tidak selalu menghasilkan rekaman yang optimal. Menurut catatan Ns. Elik, terdapat lima responden yang hasilnya kurang maksimal karena kondisi kesehatan dan riwayat medis masing-masing.
Di antaranya, seorang laki-laki berusia 79 tahun dengan riwayat sesak dalam sebulan terakhir yang menjalani pengobatan di rumah; laki-laki berusia 46 tahun dengan riwayat sesak napas yang tidak bersedia mengonsumsi obat; serta laki-laki berusia 80 tahun yang mengalami napas pendek dan memiliki riwayat jatuh hingga tidak dapat berjalan.
Dua responden lainnya ialah laki-laki berusia 45 tahun yang memiliki riwayat tuberkulosis (TB) dan baru menyelesaikan pengobatan dua minggu sebelumnya, serta perempuan berusia 59 tahun dengan riwayat asma yang menggunakan obat semprot. Kondisi-kondisi tersebut menjadi catatan penting dalam memahami keterbatasan hasil pemeriksaan, tanpa serta-merta menyimpulkan diagnosis hanya dari satu sesi spirometri.
![]() |
| Sebuah kolaborasi elok antara enumerator dan keluarga responden dalam menghadirkan di pemeriksaan ulang spirometri keempat dengan menggotong dalam pemeriksaan maupun antar jemput |
David Abram, seorang filsuf, ekolog budaya, dan seniman pertunjukan asal Amerika, yang dikenal luas karena karyanya dalam menjembatani tradisi filosofis fenomenologi dengan isu-isu lingkungan dan ekologi, pernah berujar:
“Bernapas melibatkan ayunan berkelanjutan antara mengembuskan dan menghirup napas; pada satu saat kita menyerahkan diri kepada dunia, dan pada saat berikutnya kita menarik dunia ke dalam diri kita.”
Di Sarimulyo, ayunan napas itu hadir dalam bentuk yang sangat nyata, yaitu tarikan yang diupayakan, embusan yang diulang, dan angka yang kembali diperiksa. Sebab, di balik setiap kurva spirometri, ada manusia dengan kondisi tubuh dan pengalaman kesehatannya sendiri.
Memastikan hasil pemeriksaan terbaca dengan baik bukan semata urusan teknis, melainkan bagian dari ikhtiar menghadirkan data yang lebih bermakna bagi upaya memahami dan memperkuat kesehatan masyarakat. *** [211026]
Oleh: Budiarto Eko KusumoEditor: Budiarto Eko Kusumo











0 komentar:
Posting Komentar