Jumat, 09 Oktober 2026

Ketika Napas Menjadi Bahasa Kesehatan: Kisah Pemeriksaan Spirometri Ketiga di Tamanagung

“Beautify your breath – beautify your life.” -- Amit Ray, Mindfulness Living in the Moment 

Jumat (09/11) pagi, Pendopo Desa Tamanagung di Jalan Sraten No. 07, Dusun Krajan, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, kembali menjadi ruang kecil yang sibuk namun hangat. Di dalamnya, sejumlah warga menunggu giliran untuk melakukan satu hal yang sering dianggap sederhana, yakni menarik dan mengembuskan napas. Namun, di balik gerakan itu tersimpan informasi penting tentang kesehatan paru mereka.

Kegiatan tersebut merupakan pemeriksaan spirometri ketiga yang diselenggarakan oleh tim enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC), bekerja sama dengan Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RS NU) Banyuwangi. Tiga enumerator - Fahmi Ahmad Fauzan, S.Sos.; Dysa Fitri Permatasari, S.Tr.Kes., M.Kes.; dan Nisaul Rofifah, S.Gz. - kembali menyiapkan layanan sejak pukul 08.00 WIB. Sebanyak 25 warga hasil pre-screening yang terindikasi memiliki faktor risiko penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) diundang untuk diperiksa.

Amit Ray, seorang guru spiritual yang telah mencapai pencerahan dalam tradisi Yoga Himalaya dan Vipassana, pernah berujar dalam Mindfulness Living in the Moment (2015): 

“Perindah napasmu - perindah hidupmu.” 

Kalimat sederhana itu terasa relevan di Pendopo Desa Tamanagung. Bagi warga yang hadir, pemeriksaan ini bukan sekadar tes tiup ke dalam alat, melainkan kesempatan untuk mengenali kondisi paru sejak dini. Spirometri memang menjadi pemeriksaan utama untuk menegakkan diagnosis PPOK, terutama pada orang berusia di atas 40 tahun yang mengalami gejala sesak napas.

Personel RS NU Banyuwangi berpose dengan enumerator baseline survey, kader kesehatan, pengawas tes spirometri, dan Field Facilitator NIHR UB


Dari Undangan hingga Antrean

Mobilisasi warga tidak berjalan sendirian. Dua kader kesehatan setempat, Luckyta Anjarsai dan Ratna Mujayana, membantu enumerator menyampaikan undangan dua hari sebelum pelaksanaan. Pada hari H, keduanya kembali hadir untuk mendampingi warga dan memastikan proses berjalan tertib.

Alur pemeriksaan mengikuti pola yang sama seperti spirometri kedua. Warga pertama-tama menuju meja 1, atau meja pendaftaran. Di sana, kader Luckyta dan Ratna melakukan registrasi sekaligus verifikasi data responden. Setelah itu, mereka dipersilakan duduk di bangku antrean yang telah disiapkan.

Sementara menunggu, enumerator Fauzan memberikan edukasi singkat mengenai teknik menyebul atau meniup ke spirometer. Penjelasan ini penting karena hasil spirometri sangat bergantung pada kemampuan responden melakukan manuver napas secara benar. Spirometri mengukur jumlah maksimum udara yang dapat dihirup dan diembuskan, sehingga kualitas teknik menjadi penentu keakuratan hasil.

Pengukuran tekanan darah dan oksimetri


Empat Meja, Satu Tujuan

Panggilan pertama datang dari meja 2, atau meja tanda-tanda vital (TTV). Di titik ini, Perawat Ike Tri Cahyani menimbang berat badan, mengukur tekanan darah, dan melakukan oksimetri. Selanjutnya, Bidan Fath Syu’araanisa, A.Md.Keb., melakukan anamnesis melalui aplikasi SMARThealth.

Setelah TTV, responden kembali menunggu di bangku antrean bila meja 3 sedang digunakan. Namun, jika meja spirometri sedang kosong, mereka dapat langsung melanjutkan pemeriksaan. Di meja 3, Perawat Neneng Sugiarti memimpin manuver spirometri tahap pertama atau pre-semprotan salbutamol. Ia dibantu Perawat Lavinia Agustin yang mengoperasikan alat MIR SpiroLab milik NIHR Universitas Brawijaya (UB).

Pemeriksaan ini tidak berhenti pada sekali tiup. Spirometri yang memenuhi syarat harus dilakukan minimal tiga kali dengan metode yang valid dan dapat direproduksi untuk menentukan forced vital capacity (FVC). Apabila hasilnya belum memenuhi kriteria reproduksibilitas, pemeriksaan dapat diulang hingga delapan kali.

Setelah tahap pertama selesai, responden menerima semprotan salbutamol melalui mulut, lalu beristirahat selama 20 menit. Tahap kedua, atau post-semprotan salbutamol, kemudian dilakukan dengan cara yang sama. Perbandingan hasil sebelum dan sesudah penggunaan bronkodilator membantu menilai respons saluran napas terhadap obat.

Seluruh proses di meja 3 diawasi langsung oleh Ns. Elik Anistina, S.Kep., yang membantu NIHR UB dalam pengawasan spirometri. Kehadirannya memastikan prosedur berjalan sesuai standar, sekaligus membantu mengidentifikasi hambatan yang mungkin memengaruhi hasil pemeriksaan.

Tes spirometri


Apresiasi dan Catatan Penting

Setelah menyelesaikan rangkaian tes, responden diarahkan ke meja 4, atau meja apresiasi partisipasi. Di sana, enumerator Nisa dan Dysa memberikan konsumsi, vitamin, serta subsidi transportasi sebagai bentuk penghargaan atas kesediaan warga mengikuti pemeriksaan.

Kegiatan juga dihadiri Rahmanurraudhotul Amin, SKM, yang ditunjuk oleh Theme 1: Primary Healthcare Strengthening untuk mengamati prosesi menggunakan checklist. Pemeriksaan berlangsung hingga pukul 13.06 WIB. Dari 25 undangan, seluruh responden berhasil diperiksa menurut catatan Field Facilitator NIHR UB.

Meski capaian tersebut menggembirakan, Ns. Elik mencatat enam hasil yang kurang optimal. Seorang laki-laki berusia 42 tahun memiliki hasil kurang baik karena riwayat sesak napas sejak kecil, dengan pengobatan terakhir pada 2025. Laki-laki lanjut usia 71 tahun juga memperoleh hasil kurang baik karena masih menjalani pengobatan paru-paru.

Kasus lainnya menunjukkan bahwa kondisi fisik dan penyakit penyerta dapat memengaruhi pelaksanaan tes. Seorang perempuan 75 tahun sedang mengalami sakit gigi dan gusi saat diperiksa. Laki-laki 84 tahun memiliki riwayat sesak napas akibat penyakit paru serta gangguan pendengaran. Perempuan 60 tahun memiliki riwayat stroke ringan dan kesulitan berjalan, sementara laki-laki 52 tahun memiliki riwayat sesak napas.

Meja 4: apresiasi atas partisipasi responden


Napas yang Layak Dirawat

Enam catatan tersebut bukan sekadar angka. Ia menggambarkan bahwa masalah pernapasan dapat hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari riwayat penyakit sejak kecil, usia lanjut, hingga keterbatasan fisik. Di sinilah pentingnya spirometri sebagai alat deteksi dini. Pemeriksaan ini membantu mengidentifikasi penurunan fungsi paru secara lebih cepat dan menjadi dasar untuk tindak lanjut yang tepat.

Bagi Desa Tamanagung, spirometri ketiga ini menegaskan satu pesan, bahwa kesehatan paru perlu dirawat sebelum keluhan menjadi berat. Ketika warga belajar mengenali napasnya, ketika kader hadir mendekatkan layanan, dan ketika pemeriksaan dapat dilakukan di dekat rumah, upaya pencegahan PPOK menjadi lebih nyata.

Pada akhirnya, “perindah napasmu - perindah hidupmu” bukan hanya ungkapan puitis. Ia adalah pengingat bahwa setiap tarikan napas adalah anugerah yang patut dijaga, dan setiap pemeriksaan sederhana dapat menjadi langkah besar menuju hidup yang lebih sehat. *** [091026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Kamis, 08 Oktober 2026

Dari Unreadable ke Valid: Proses Pemeriksaan Ulang Spirometri di Wringinagung

“Medida que progresaran, podían inhalar contando hasta cuatro y exhalar hasta ocho, con” -- James Nestor, Respira: La nueva ciencia de un arte olvidado

Di sebuah pendopo sederhana Kantor Balai Dusun Sumberjo, yang beralamat di Dusun Sumberjo RT 05 RW 01 Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, puluhan lansia antre dengan sabar. Bukan untuk mengambil beras atau obat, melainkan untuk “napas kedua”, yakni mengulang tes spirometri yang sebelumnya tak terbaca. Di sinilah sains bertemu realitas lapangan, di mana data yang baik bukan soal cepat selesai, tapi soal napas yang benar-benar terukur.

Pemeriksaan ulang spirometri bukanlah kegagalan, melainkan standar emas dalam pengukuran fungsi paru. Tes spirometri yang valid mensyaratkan minimal tiga manuver yang dapat diterima (acceptable) dan dua di antaranya harus konsisten (repeatable), dengan selisih FVC dan FEV1 tidak lebih dari 150 ml. Jika kurva buruk, nilai tidak konsisten, atau ada gangguan teknis, hasil itu sebaiknya tidak ditafsirkan, melainkan diulang di hari lain.

Personel RS Yasmin Banyuwangi berpose dengan enumerator baseline survey, kader kesehatan, pengawas tes spirometri, observer prosesi pemeriksaan spirometri, dan Field Facilitator NIHR UB

Kualitas spirometri bertumpu pada tiga pilar, yaitu perawat yang terlatih, peralatan akurat, dan usaha maksimal pasien. Tanpa salah satunya, data bisa menyesatkan. Di Wringinagung, sepuluh sesi spirometri sebelumnya telah menjangkau 250 responden terindikasi risiko PPOK. Namun, beberapa hasilnya “unreadable”. Maka, pengulangan bukan pilihan, melainkan keharusan ilmiah.

Rabu (07/10), tiga enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Wringinagung - Muhammad Wisnu Nafiri, S.E.; Maharany Triastuti Januarizki, S.ST.; dan Winda Cahyani, S.Tr.Gz.RD - kembali membuka pos pemeriksaan. Kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi ini mengundang 28 responden yang sebelumnya hasilnya belum memuaskan.

Dibantu dua kader kesehatan setempat, Eva Hariana dan Siti Zulaihah, alur pemeriksaan dijalankan persis seperti sepuluh sesi sebelumnya, yaitu registrasi dan verifikasi data, pengukuran tanda-tanda vital (TTV), anamnesis dengan aplikasi SMARThealth, pemeriksaan fisik, lalu spirometri pre-nebulisasi, nebulisasi, dan spirometri post-nebulisasi.

Meja pendaftaran

Di meja TTV, Perawat Annisa Fitriya, A.Md.Kep., memeriksa tekanan darah dan oksimetri. Di sampingnya, dr. Rika Hardiyanti melakukan anamnesis dan mendengarkan paru dengan stetoskop. 

Sambil menunggu panggilan spirometri, enumerator baseline survey Wisnu memanfaatkan waktu untuk melatih teknik pernapasan responden, sebuah sentuhan manusiawi di tengah protokol ketat.

Di meja spirometri, Ns. Winda Nurhasanah, S.Kep., memandu manuver dengan sabar, dibantu Ns. Rizki Indrawangi, S.Kep., yang mengoperasikan laptop terhubung alat spirometri, di bawah pengawasan Perawat Elik Anistina, S.Kep. 

Setelah tes tahap 1 (pre-nebulisasi), responden bergeser ke meja nebulisasi, di mana Ns. Renny Karmila, S.Kep., memberikan terapi inhalasi - mengubah obat cair menjadi kabut halus yang dihirup langsung ke saluran napas.

Dokter RS Yasmin Banyuwangi periksa responden dengan stetoskop

Setelah nebulisasi dan jeda singkat, responden dipanggil kembali untuk tes tahap 2 (post-nebulisasi). Prosedurnya sama, hanya berbeda pada kondisi sebelum dan sesudah pemberian bronkodilator. Jika tahap 2 lancar, rangkaian pemeriksaan selesai.

Responden lalu kembali ke meja pendaftaran untuk menerima konsumsi, gift, dan subsidi transportasi dari kader Eva dan Siti Zulaihah yang disaksikan oleh dua enumerator Rany dan Winda. Hal ini merupakan sebuah apresiasi kecil atas kontribusi responden pada data kesehatan komunitas.

Dari 28 responden yang diundang, semua berhasil diperiksa. Namun, dua hasil masih kurang memuaskan menurut Ns. Elik. Seorang lansia laki-laki berusia 80 tahun, yang sehari-hari menggunakan oksigen di rumah karena sesak napas kronis, kesulitan melakukan manuver baik pre maupun post-nebulisasi. Demikian pula seorang perempuan lansia sekitar 71 tahun dengan riwayat gejala stroke dan pengobatan saraf mata kanan.

Tes spirometri

Kasus-kasus ini mengingatkan bahwa spirometri bukan sekadar soal alat, tapi juga soal kondisi fisiologis dan kemampuan kooperatif pasien. Pada lansia dengan komorbiditas berat, manuver maksimal sering kali tak mungkin dicapai, dan itu bukan kegagalan individu, melainkan batasan realistis yang harus dicatat dalam interpretasi klinis.

Di tengah kesibukan itu, ada satu kalimat yang seolah menggema dari buku Breath: The New Science of a Lost Art (2020) karya James Nestor: 

“Seiring kemajuan mereka, mereka bisa menarik napas hingga hitungan keempat dan mengembuskannya hingga hitungan kedelapan.”

Kalimat ini bukan sekadar teknik relaksasi. Ia adalah metafora, bahwa napas yang baik butuh latihan, kesabaran, dan pengulangan. Di Wringinagung, spirometri yang diulang adalah wujud konkret dari prinsip itu di mana data paru yang akurat lahir dari napas yang terlatih, bukan terburu-buru.

Nebulisasi

Pemeriksaan ulang spirometri perdana di Desa Wringinagung ini selesai pukul 13.42 WIB, disaksikan oleh Rahmanurraudhotul Amin, SKM, enumerator baseline survey Desa Kaliploso yang ditunjuk Theme 1: Primary Healthcare Strengthening dalam obsevasi prosesi pemeriksaan spirometri dengan checklist. 

Dari catatan Field Facilitator NIHR UB, dua puluh delapan napas telah diukur ulang. Dua di antaranya masih menyisakan catatan teknis. Tapi justru di situlah kejujuran data berbicara di mana lebih baik mengulang daripada memaksakan interpretasi dari kurva yang buruk.

Karena pada akhirnya, kebijakan kesehatan yang tepat lahir dari data yang jujur. Dan data yang jujur dimulai dari napas yang benar-benar terukur, bahkan jika itu berarti harus diulang. *** [081026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Menyebul Menuju Sehat: Wiracarita Spirometri Keenam Desa Kaliploso

“What the bodily form depends on is breath (chi) and what breath relies upon is form,” states a Chinese adage from 700 AD. “When the breath is perfect, the form is perfect (too).”” -- James Nestor, Breath: The New Science of a Lost Art

Di bawah atap Pendopo Desa Kaliploso, Dusun Plosorejo RT 03 RW 04 Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, 25 warga antre dengan satu tujuan sederhana, yaitu memastikan paru-paru mereka masih bekerja sebagaimana mestinya.

Pada Sabtu (03/10), kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RS NU) Banyuwangi menggelar pemeriksaan spirometri keenam yang menjadi bagian dari baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC).

Suasana pemeriksaan spirometri (keenam) yang diadakan di Pendopo Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi

Kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB dengan 27 responden terindikasi faktor risiko Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Alurnya dirancang sistematis. Registrasi di meja barat daya oleh enumerator Rafini dibantu kader, lalu ke meja TTV di timur laut untuk penimbangan, pengukuran tekanan darah, dan oksimetri oleh Perawat Evi Faizatun.

Di sisi lain, Perawat Fath Syu'araanisa melakukan anamnesis menggunakan aplikasi SMARThealth. Sambil menunggu panggilan, enumerator Rahman mengajarkan teknik "menyebul" - istilah lokal untuk manuver pernapasan yang akan mereka lakukan di alat spirometri.

Pengukuran tekanan darah

Di meja spirometri sisi selatan, Perawat Joenhiga memandu manuver dengan bantuan Perawat Lavinia yang mengoperasikan MIR SpiroLab milik NIHR UB. Tes tahap pertama dilakukan sebelum semprotan salbutamol (pre-bronkodilator).

Responden kemudian duduk 20 menit menunggu obat bekerja - waktu yang direkomendasikan agar salbutamol mencapai efek maksimal membuka saluran napas. Setelah itu, mereka kembali melakukan tes tahap kedua (post-bronkodilator) dengan prosedur sama.

Tes spirometri

James Nestor, seorang jurnalis yang pernah menulis untuk majalah Outside, Men's Journal, Scientific American, Dwell, National Public Radio, The New York Times, The Atlantic, San Francisco Chronicle, dan lain-lain, pernah berujar dalam Breath: The New Science of a Lost Art (2020): 

"Wujud fisik bergantung pada napas (chi), dan napas bergantung pada wujud," demikian bunyi sebuah pepatah Tiongkok dari tahun 700 M. "Ketika napas sempurna, wujud pun menjadi sempurna."" 

Disaksikan para kader, enumerator berikan konsumsi, gift, dan subsidi transportasi atas partisipasi responden dalam pemeriksaan spirometri

Kutipan ini menguatkan mengapa spirometri bukan sekadar prosedur medis, melainkan upaya memastikan "chi" atau napas warga tetap optimal untuk menunjang wujud fisik yang sehat.

Dari 27 undangan, 25 hadir. Dua lainnya absen. Seorang perempuan yang reschedule dari pemeriksaan ketiga merasa minder, sementara seorang laki-laki tak bisa ditemui - menurut kader, ia menghindari kumpulan karena kerap ditagih utang.

Peta Desa Kaliploso

Di lapangan, beberapa tantangan muncul. Seorang lansia laki-laki 67 tahun kesulitan mengikuti instruksi karena gangguan pendengaran. Responden 65 tahun dengan riwayat post-opname hipertensi dan jantung bengkak menghasilkan tes kurang optimal. Satu lagi, lansia yang sedang pengobatan paru-paru juga menunjukkan hasil serupa. Menariknya, seorang pria 48 tahun dengan mental disorder justru menghasilkan tes yang cukup bagus.

Kegiatan berakhir pukul 12.09 WIB. Di meja pendaftaran akhir, enumerator Rafini dan kader membagikan konsumsi, gift, dan subsidi transportasi sebagai apresiasi atas partisipasi warga.

Pemeriksaan spirometri ini bukan sekadar angka FEV1 dan FVC. Ia adalah cerita tentang warga desa yang peduli pada napasnya sendiri, karena seperti kata pepatah Tiongkok: ketika napas sempurna, wujud pun menjadi sempurna. *** [081026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Selasa, 06 Oktober 2026

Napas yang Tak Terbaca: Ketika Spirometri Kedua di Wringinrejo Menjadi Ujian Kesabaran

“Uno de los primeros pasos para una respiración saludable es extender las respiraciones, mover el diafragma arriba y abajo un poco más y sacar todo el aire antes de tomar otra bocanada.” -- James Nestor, Respira: La nueva ciencia de un arte olvidado

Di sebuah pendopo desa di Banyuwangi, 37 warga diundang kembali untuk mengulang tes spirometri, karena hasil pemeriksaan sebelumnya “tidak terbaca”. 

Dalam dunia kesehatan paru, mengulang spirometri adalah praktik standar ketika rekaman sebelumnya gagal memenuhi kriteria kualitas, entah karena teknik pernapasan yang kurang tepat, masalah peralatan sesaat, atau upaya maksimal pasien yang belum tercapai.

Spirometri adalah tes fungsi paru yang mengukur berapa banyak dan seberapa cepat seseorang dapat mengembuskan napas setelah menarik napas dalam-dalam. Namun, validitasnya sangat bergantung pada tiga pilar, yaitu teknisi terlatih, peralatan akurat, dan - yang sering kali paling sulit - upaya maksimal dan konsisten dari pasien.

Standar internasional mensyaratkan minimal tiga manuver yang “dapat diterima” (acceptable) dan “dapat diulang” (repeatable), di mana dua nilai tertinggi FEV1 dan FVC tidak boleh berbeda lebih dari 150 mL. 

Suasana pemeriksaan ulang spiromtri kedua di Pendopo Desa Wringinrejo, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi

Jika rekaman awal cacat, misalnya kurva yang terpotong, ada batuk di detik pertama, atau embusan tidak mencapai plateau, maka hasilnya dianggap tidak dapat diinterpretasi. Dalam situasi seperti itu, langkah terbaik adalah mengulang tes di hari lain, bukan memaksakan interpretasi dari data yang tidak memenuhi standar.

Di Desa Wringinrejo, dari 76 responden yang terindikasi faktor risiko PPOK pada pre-screening, sebanyak 72 di antaranya menghasilkan rekaman “unreadable” pada tiga sesi spirometri sebelumnya. Ini bukan kegagalan individu semata, melainkan cerminan betapa rumitnya menyelaraskan teknik, alat, dan kondisi fisiologis warga - banyak di antaranya lansia, dengan keterbatasan napas atau gangguan lambung.

Sabtu (03/10), tiga hari setelah pemeriksaan ulang pertama, dua enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Wringinrejo, Yunita Pratiwi Suprapto, S.T. dan Firda Octa Vidyawati, S.M., kembali menggelar spirometri kedua di Pendopo Desa Wringinrejo yang beralamt di Jalan Diponegoro No. 164, Dusun Krajan RT 04 RW 02, Desa Wringirejo, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi. 

Kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi ini melibatkan tiga kader kesehatan setempat - Evi Risky Damayanti, Ismaulfa, dan Siti Mukholifah - yang membantu pendaftaran, mobilisasi, hingga antar-jemput responden.

Dokter RS Yasmin Banyuwangi lakukan pemeriksaan fisik dengan menggunakan stetoskop

Alurnya persis seperti sesi-sesi sebelumnya, yang diawali dengan registrasi dan verifikasi data oleh tiga kader, pengukuran tekanan darah dan oksimetri oleh Perawat Imelda Arofah, S.Kep.Ns., anamnesis dan pemeriksaan fisik oleh dr. Sapto Aji Nugroho menggunakan aplikasi SMARThealth, lalu antrean menuju meja spirometri. 

Sambil menunggu, enumerator Nita dan Firda memanfaatkan waktu untuk melatih teknik “menyebul”, suatu embusan panjang, keras, dan terus-menerus, kepada responden yang masih bingung.

Di meja spirometri, terlihat dua tenaga kesehatan RS Yasmin lainnya, yaitu Ns. Renny Karmila, Ns. Rizki Indrawangi, serta Ns. Elik Anistina, S.Kep. yang membantu NIHR UB mengawasi jalannya tes. Perawat Renny memandu manuver, sementara Rizki mengoperasikan laptop yang terhubung dengan spirometer. 

Setelah tes tahap 1 (pre-nebulisasi), responden bergeser ke meja nebulisasi, di mana Ns. Winda Nurhasanah, S.Kep. memberikan terapi inhalasi untuk membuka saluran napas. Dua puluh menit kemudian, mereka kembali untuk tes tahap 2 (post-nebulisasi).

Dari 37 yang diundang, 27 berhasil menyelesaikan rangkaian pemeriksaan. Sepuluh lainnya terbersit kabar, ada yang sedang bepergian, bekerja, dalam masa iddah, menolak karena merasa sudah cek rutin ke rumah sakit, atau - yang paling menyedihkan - menyerah karena “spirometri itu susah”.

Tes spirometri tahap 1

Field Facilitator NIHR UB mencatat dua kasus yang gagal menyelesaikan tes saat menghadiri pemeriksaan ulang spirometri yang kedua ini. Seorang laki-laki paruh baya terpaksa berhenti di tahap 1 karena gangguan lambung yang kambuh saat diminta menarik napas dalam-dalam. Seorang lansia laki-laki 66 tahun, meski sudah diulang delapan kali, tak mampu menghasilkan embusan “los” yang diperlukan; napasnya terlalu pendek, terlalu pelan, terlalu ragu. Delapan kali embusan adalah batas maksimal yang direkomendasikan sebelum pasien kelelahan dan hasil semakin tidak akurat.

Kasus-kasus ini bukan anomali. Dalam pedoman spirometri, jika pasien tidak mampu menghasilkan tiga manuver yang acceptable setelah delapan upaya, tes dihentikan dan hasilnya dicatat dengan catatan keterbatasan teknis. Kadang, data terbaik yang ada tetap dilaporkan, namun dengan interpretasi sangat hati-hati dan disclaimer jelas.

Di tengah situasi seperti ini, ada pelajaran mendalam tentang napas itu sendiri. James Nestor, jurnalis sains dan penulis Breath: The New Science of a Lost Art (2020), pernah menulis: 

“Salah satu langkah awal menuju pernapasan yang sehat adalah memperpanjang durasi napas, menggerakkan diafragma sedikit lebih jauh ke atas dan ke bawah, serta mengembuskan napas sepenuhnya sebelum kembali menarik napas.”

Kalimat ini seolah menjadi mantra tak tertulis di Pendopo Wringinrejo. Setiap kali enumerator Nita atau Firda membisikkan, “Tarik napas dalam… tahan… sekarang embuskan pelan-pelan tapi terus, jangan berhenti,” mereka sebenarnya sedang mengajarkan filosofi napas yang sehat, yakni bukan sekadar mengisi paru, tapi mengosongkannya dulu, memberi ruang bagi udara baru yang lebih kaya oksigen.

Nebulisasi

Bagi banyak responden - terutama lansia yang terbiasa bernapas dangkal, atau pekerja lapangan yang terbiasa menahan napas saat mengangkat beban - ini adalah keterampilan baru. Mereka tidak gagal karena paru-parunya benar-benar bermasalah; mereka gagal karena tubuh mereka belum terlatih untuk “bernapas dengan benar” dalam konteks tes yang menuntut maksimalisme.

Pemeriksaan ulang spirometri kedua di Wringinrejo bukan hanya tentang mengumpulkan data FEV1 dan FVC yang valid. Ini adalah proses membangun kepercayaan, mengajarkan teknik, dan yang paling penting, menghormati keterbatasan tubuh manusia yang tak selalu bisa dipaksa masuk dalam protokol ketat.

Ketika seorang lansia gagal setelah delapan kali embusan, tenaga kesehatan tidak memaksanya. Enumerator lalu mencatat, tersenyum, dan memberikan konsumsi, gift serta subsidi transportasi seperti peserta lain. Karena dalam kesehatan masyarakat, kadang yang lebih berharga dari angka yang “sempurna” adalah kehadiran, kesabaran, dan pengakuan bahwa setiap napas, bahkan yang “gagal”, adalah bagian dari perjalanan menuju paru yang lebih sehat.

Spirometri mungkin mengukur volume dan aliran, tapi di Wringinrejo, ia juga mengukur sesuatu yang tak terlihat, yaitu ketahanan komunitas, empati tenaga kesehatan, dan keberanian warga untuk mencoba lagi, meski napas mereka belum siap untuk “dibaca” oleh mesin. *** [061026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Senin, 05 Oktober 2026

Di Rumah Kepala Desa Kaliploso, 27 Napas Diperiksa Satu per Satu

“Yemek çeşidi kadar nefes alma yöntemi vardır. Ve her yöntem vücudumuzu farklı etkiler".” -- James Nestor, Breath: The New Science of a Lost Art

Pagi itu, teras Rumah Kepala Desa Kaliploso terasa lebih ramai dari biasanya. Kursi-kursi disusun rapi, meja pendaftaran menunggu warga, dan sejumlah tenaga kesehatan bersiap dengan alat yang mungkin jarang dikenal warga, yaitu spirometer. Di balik kesederhanaan suasana itu, ada misi penting - membaca kualitas napas warga dan mendeteksi dini risiko penyakit paru obstruktif kronik, atau PPOK.

Pemeriksaan spirometri kelima itu digelar pada Jumat (02/10) di rumah Kepala Desa Rudi Hartono, S.Th.I, di Dusun Plosorejo RT 01 RW 05, Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RS NU) Banyuwangi.

“Ada beragam cara bernapas, sama banyaknya dengan jenis makanan. Dan setiap metode memengaruhi tubuh kita dengan cara yang berbeda,” tulis James Nestor dalam Breath: The New Science of a Lost Art (2020). Kalimat sederhana itu menegaskan satu hal, bahwa napas bukan sekadar aktivitas otomatis. Ia adalah sinyal kesehatan, dan spirometri hadir untuk membacanya.


Meja pendaftaran


Dari Pre-Screening ke Tes Spirometri

Kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB. Sebanyak 27 responden hasil pre-screening yang terindikasi memiliki faktor risiko PPOK diundang. Mereka bukan sekadar peserta; mereka adalah warga yang napasnya perlu dipastikan tidak menyimpan masalah tersembunyi.

Seluruh proses dikoordinasikan oleh dua enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC), Rahmanurraudhotul Amin, SKM, dan Rafini Aminatul Hidayah, S.Tr.Gz. Keduanya dibantu tiga kader setempat: Harum Wijayanti, Sundari, dan Sutiyani Eka Rahayu. Dua kader lainnya tidak dapat hadir karena alasan yang sangat manusiawi - Rio Dita Wibawa baru saja terserang flu berat, sementara Sri Hidayati sedang berduka.

Alur pemeriksaan dibagi menjadi empat tahap yang sederhana, namun terukur. Responden pertama-tama menuju meja pendaftaran di teras barat, berdampingan dengan serambi mushola. Di sana, enumerator Rafini bersama para kader melakukan registrasi dan verifikasi data.

Setelah itu, mereka berpindah ke meja tanda-tanda vital (TTV) di teras timur, tepat di belakang warung. Bidan Muqodimah, A.Md.Keb., menimbang berat badan, mengukur tekanan darah, dan melakukan oksimetri. Di sebelahnya, Perawat Siti Nur Indah Sari melakukan anamnesis melalui aplikasi SMARThealth.


Pengukuran berat badan


Belajar Menyebul yang Benar

Dari meja TTV, responden masuk ke ruang tamu dan duduk di kursi antrean. Di sinilah enumerator Rahman memberikan edukasi tentang teknik menyebul yang benar. Terdengar sepele, tetapi cara menyebul yang benar menentukan dalam tes spirometri.

Tak lama, panggilan dari meja spirometri terdengar. Meja itu berada di sisi selatan ruang tamu, tempat dua perawat RS NU Banyuwangi - Ayu Septi dan Ismi Balqis - bersiap bekerja. Mereka didampingi Ns. Elik Anistina, S.Kep., yang membantu NIHR UB memantau jalannya tes.

Di meja ini, Perawat Ayu memandu manuver pernapasan, sementara Perawat Ismi mengoperasikan alat spirometer MIR SpiroLab milik NIHR UB yang terhubung dengan mouthpiece. Responden diminta menarik napas sedalam mungkin, lalu menghembuskannya dengan kuat dan tahan. Angka-angka pada layar mulai berbicara, yaitu seberapa besar kapasitas paru, seberapa cepat udara keluar, dan apakah ada tanda penyempitan saluran napas.

Tes tahap pertama dilakukan sebelum pemberian semprotan salbutamol, atau pre-semprotan salbutamol. Setelah itu, responden kembali duduk selama 20 menit. Waktu tunggu ini bukan sekadar jeda; salbutamol perlu bekerja untuk melebarkan saluran pernapasan sebelum tes kedua dilakukan.

Ketika panggilan berikutnya datang, responden menjalani spirometri tahap kedua atau post-semprotan salbutamol. Prosedurnya sama, tetapi hasilnya dapat memberi gambaran penting: apakah gangguan napas bersifat reversibel atau menunjukkan indikasi PPOK.


Tes spirometri


Satu Suara yang Tak Terdengar

Jika kedua tahapan berjalan lancar, responden selesai dan kembali ke meja pendaftaran. Di sana, enumerator Rafini dan para kader menyiapkan konsumsi, gift, serta subsidi transportasi sebagai bentuk apresiasi.

Pemeriksaan berakhir pukul 12.44 WIB. Field Facilitator NIHR UB mencatat bahwa seluruh 27 responden yang diundang hadir. Namun, tidak semua akhirnya dapat menyelesaikan pemeriksaan.

Seorang lansia perempuan berumur 88 tahun harus dikeluarkan dari tes karena memiliki keterbatasan pendengaran. Ia tidak mampu mengikuti aba-aba yang menjadi bagian krusial dalam spirometri. Tanpa instruksi yang jelas, manuver pernapasan tidak dapat dilakukan secara konsisten, sehingga hasil tes berisiko tidak valid.

Momen itu menjadi pengingat bahwa layanan kesehatan tidak selalu berbicara dalam satu bahasa. Kadang, hambatan terbesar bukan pada alat canggih atau prosedur medis, melainkan pada kemampuan sistem untuk menjangkau setiap warga, termasuk mereka yang mendengar dunia dengan cara berbeda.


Semprotan salbutamol


Napas yang Layak Diperhatikan

PPOK sering disebut “penyakit senyap” karena gejalanya - batuk kronis, sesak, dan napas memendek - kerap dianggap normal akibat usia atau kebiasaan merokok. Padahal, deteksi dini melalui spirometri dapat membuka peluang penanganan lebih awal.

Kegiatan di Kaliploso menunjukkan bahwa pemeriksaan kesehatan tidak harus selalu dilakukan di rumah sakit. Ia bisa hadir di teras rumah kepala desa, di sela aktivitas warga, dan dikelola bersama kader lokal. Dari 27 warga yang hadir, setiap napas yang diukur adalah upaya kecil untuk mencegah masalah yang lebih besar di kemudian hari.

Pada akhirnya, spirometri kelima di Desa Kaliploso bukan hanya soal angka kapasitas paru. Ia adalah cerita tentang warga yang belajar mengenali napasnya, tenaga kesehatan yang bekerja telaten, dan komunitas yang mulai memahami bahwa menjaga paru sama pentingnya dengan menjaga makanan yang masuk ke tubuh.

Sebagaimana diingatkan James Nestor, cara bernapas memengaruhi tubuh dengan cara yang berbeda. Dan di Kaliploso, memastikan setiap warga dapat bernapas dengan baik adalah langkah awal yang tidak boleh diabaikan. *** [031026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Risk Checker

Risk Checker

Indeks Massa Tubuh

Supplied by BMI Calculator Canada

Statistik Blog

Sahabat eKader

Label

Arsip Blog