Jumat, 09 Oktober 2026

Ketika Napas Menjadi Bahasa Kesehatan: Kisah Pemeriksaan Spirometri Ketiga di Tamanagung

“Beautify your breath – beautify your life.” -- Amit Ray, Mindfulness Living in the Moment 

Jumat (09/11) pagi, Pendopo Desa Tamanagung di Jalan Sraten No. 07, Dusun Krajan, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, kembali menjadi ruang kecil yang sibuk namun hangat. Di dalamnya, sejumlah warga menunggu giliran untuk melakukan satu hal yang sering dianggap sederhana, yakni menarik dan mengembuskan napas. Namun, di balik gerakan itu tersimpan informasi penting tentang kesehatan paru mereka.

Kegiatan tersebut merupakan pemeriksaan spirometri ketiga yang diselenggarakan oleh tim enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC), bekerja sama dengan Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RS NU) Banyuwangi. Tiga enumerator - Fahmi Ahmad Fauzan, S.Sos.; Dysa Fitri Permatasari, S.Tr.Kes., M.Kes.; dan Nisaul Rofifah, S.Gz. - kembali menyiapkan layanan sejak pukul 08.00 WIB. Sebanyak 25 warga hasil pre-screening yang terindikasi memiliki faktor risiko penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) diundang untuk diperiksa.

Amit Ray, seorang guru spiritual yang telah mencapai pencerahan dalam tradisi Yoga Himalaya dan Vipassana, pernah berujar dalam Mindfulness Living in the Moment (2015): 

“Perindah napasmu - perindah hidupmu.” 

Kalimat sederhana itu terasa relevan di Pendopo Desa Tamanagung. Bagi warga yang hadir, pemeriksaan ini bukan sekadar tes tiup ke dalam alat, melainkan kesempatan untuk mengenali kondisi paru sejak dini. Spirometri memang menjadi pemeriksaan utama untuk menegakkan diagnosis PPOK, terutama pada orang berusia di atas 40 tahun yang mengalami gejala sesak napas.

Personel RS NU Banyuwangi berpose dengan enumerator baseline survey, kader kesehatan, pengawas tes spirometri, dan Field Facilitator NIHR UB


Dari Undangan hingga Antrean

Mobilisasi warga tidak berjalan sendirian. Dua kader kesehatan setempat, Luckyta Anjarsai dan Ratna Mujayana, membantu enumerator menyampaikan undangan dua hari sebelum pelaksanaan. Pada hari H, keduanya kembali hadir untuk mendampingi warga dan memastikan proses berjalan tertib.

Alur pemeriksaan mengikuti pola yang sama seperti spirometri kedua. Warga pertama-tama menuju meja 1, atau meja pendaftaran. Di sana, kader Luckyta dan Ratna melakukan registrasi sekaligus verifikasi data responden. Setelah itu, mereka dipersilakan duduk di bangku antrean yang telah disiapkan.

Sementara menunggu, enumerator Fauzan memberikan edukasi singkat mengenai teknik menyebul atau meniup ke spirometer. Penjelasan ini penting karena hasil spirometri sangat bergantung pada kemampuan responden melakukan manuver napas secara benar. Spirometri mengukur jumlah maksimum udara yang dapat dihirup dan diembuskan, sehingga kualitas teknik menjadi penentu keakuratan hasil.

Pengukuran tekanan darah dan oksimetri


Empat Meja, Satu Tujuan

Panggilan pertama datang dari meja 2, atau meja tanda-tanda vital (TTV). Di titik ini, Perawat Ike Tri Cahyani menimbang berat badan, mengukur tekanan darah, dan melakukan oksimetri. Selanjutnya, Bidan Fath Syu’araanisa, A.Md.Keb., melakukan anamnesis melalui aplikasi SMARThealth.

Setelah TTV, responden kembali menunggu di bangku antrean bila meja 3 sedang digunakan. Namun, jika meja spirometri sedang kosong, mereka dapat langsung melanjutkan pemeriksaan. Di meja 3, Perawat Neneng Sugiarti memimpin manuver spirometri tahap pertama atau pre-semprotan salbutamol. Ia dibantu Perawat Lavinia Agustin yang mengoperasikan alat MIR SpiroLab milik NIHR Universitas Brawijaya (UB).

Pemeriksaan ini tidak berhenti pada sekali tiup. Spirometri yang memenuhi syarat harus dilakukan minimal tiga kali dengan metode yang valid dan dapat direproduksi untuk menentukan forced vital capacity (FVC). Apabila hasilnya belum memenuhi kriteria reproduksibilitas, pemeriksaan dapat diulang hingga delapan kali.

Setelah tahap pertama selesai, responden menerima semprotan salbutamol melalui mulut, lalu beristirahat selama 20 menit. Tahap kedua, atau post-semprotan salbutamol, kemudian dilakukan dengan cara yang sama. Perbandingan hasil sebelum dan sesudah penggunaan bronkodilator membantu menilai respons saluran napas terhadap obat.

Seluruh proses di meja 3 diawasi langsung oleh Ns. Elik Anistina, S.Kep., yang membantu NIHR UB dalam pengawasan spirometri. Kehadirannya memastikan prosedur berjalan sesuai standar, sekaligus membantu mengidentifikasi hambatan yang mungkin memengaruhi hasil pemeriksaan.

Tes spirometri


Apresiasi dan Catatan Penting

Setelah menyelesaikan rangkaian tes, responden diarahkan ke meja 4, atau meja apresiasi partisipasi. Di sana, enumerator Nisa dan Dysa memberikan konsumsi, vitamin, serta subsidi transportasi sebagai bentuk penghargaan atas kesediaan warga mengikuti pemeriksaan.

Kegiatan juga dihadiri Rahmanurraudhotul Amin, SKM, yang ditunjuk oleh Theme 1: Primary Healthcare Strengthening untuk mengamati prosesi menggunakan checklist. Pemeriksaan berlangsung hingga pukul 13.06 WIB. Dari 25 undangan, seluruh responden berhasil diperiksa menurut catatan Field Facilitator NIHR UB.

Meski capaian tersebut menggembirakan, Ns. Elik mencatat enam hasil yang kurang optimal. Seorang laki-laki berusia 42 tahun memiliki hasil kurang baik karena riwayat sesak napas sejak kecil, dengan pengobatan terakhir pada 2025. Laki-laki lanjut usia 71 tahun juga memperoleh hasil kurang baik karena masih menjalani pengobatan paru-paru.

Kasus lainnya menunjukkan bahwa kondisi fisik dan penyakit penyerta dapat memengaruhi pelaksanaan tes. Seorang perempuan 75 tahun sedang mengalami sakit gigi dan gusi saat diperiksa. Laki-laki 84 tahun memiliki riwayat sesak napas akibat penyakit paru serta gangguan pendengaran. Perempuan 60 tahun memiliki riwayat stroke ringan dan kesulitan berjalan, sementara laki-laki 52 tahun memiliki riwayat sesak napas.

Meja 4: apresiasi atas partisipasi responden


Napas yang Layak Dirawat

Enam catatan tersebut bukan sekadar angka. Ia menggambarkan bahwa masalah pernapasan dapat hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari riwayat penyakit sejak kecil, usia lanjut, hingga keterbatasan fisik. Di sinilah pentingnya spirometri sebagai alat deteksi dini. Pemeriksaan ini membantu mengidentifikasi penurunan fungsi paru secara lebih cepat dan menjadi dasar untuk tindak lanjut yang tepat.

Bagi Desa Tamanagung, spirometri ketiga ini menegaskan satu pesan, bahwa kesehatan paru perlu dirawat sebelum keluhan menjadi berat. Ketika warga belajar mengenali napasnya, ketika kader hadir mendekatkan layanan, dan ketika pemeriksaan dapat dilakukan di dekat rumah, upaya pencegahan PPOK menjadi lebih nyata.

Pada akhirnya, “perindah napasmu - perindah hidupmu” bukan hanya ungkapan puitis. Ia adalah pengingat bahwa setiap tarikan napas adalah anugerah yang patut dijaga, dan setiap pemeriksaan sederhana dapat menjadi langkah besar menuju hidup yang lebih sehat. *** [091026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Risk Checker

Risk Checker

Indeks Massa Tubuh

Supplied by BMI Calculator Canada

Statistik Blog

Sahabat eKader

Label

Arsip Blog