Senin, 12 Oktober 2026

Pamit yang Sopan: Seni Mengakhiri Tugas dengan Penuh Hormat

"Great is the art of beginning, but greater is the art of ending." -- Robert A. Heinlein

Pagi itu, Jalan Sriwijaya No. 13, Dusun Sumberjaya, Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, tampak berbeda. Bukan karena cuaca, bukan pula karena ada acara besar. Yang datang pagi itu hanyalah tiga orang muda dengan tas berwarna biru tua di tangan, ditemani seorang Field Facilitator NIHR Universitas Brawijaya (UB). Namun kedatangan mereka bukan untuk memulai sesuatu, melainkan untuk mengakhiri - dengan cara yang mungkin jarang terlihat di zaman yang serba tergesa ini, yaitu berpamitan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, berpamitan berasal dari kata dasar pamit, yang berarti permisi akan pergi, minta diri. Sederhana terdengar, tetapi maknanya dalam. Berpamitan adalah pengakuan bahwa kehadiran kita di suatu tempat pernah berarti, dan bahwa kepergian kita pun layak disampaikan dengan hormat. Inilah yang dilakukan Tim Enumerator Baseline Survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Wringinagung pagi itu.

Tiga enumerator - Muhammad Wisnu Nafiri, S.E.; Maharany Triastuti Januarizki, S.ST; dan Winda Cahyani, S.Tr.Gz.RD - datang didampingi Field Facilitator NIHR UB. Kedatangan mereka disambut Kamituwo Sumberjaya, Singgih Susilo, yang ternyata masih mengenal sang fasilitator dari diskusi supervisi malam di basecamp Wringinagung pada Rabu, 2 Juli 2025, saat Household Listing. Obrolan ringan pun terjalin, sebelum beberapa menit kemudian Kepala Desa (Kades) Kondang Suryaningrat, S.Hut., tiba di balai desa dan langsung menghampiri mereka.

Tim Enumerator Baseline Survey dengan didampingi Field Facilitator NIHR UB berpamitan dengan Kades Wringinagung beserta jajarannya di Ruang Kerja Kades

Kades Kondang lantas mengajak rombongan masuk ke ruang kerjanya. Di sana, ia memanggil Sekretaris Desa Priyantoko Yudi Prasetyo, serta para kamituwo: Moh. Kholid Iskandar (Sumberjo), Singgih Susilo (Sumberjaya), Jumadiyono Hendrokusumo (Glowong), dan Moh. Juhari (Jatisari). Ruang kerja itu seketika berubah menjadi semacam upacara kecil - bukan upacara formal dengan protokol, melainkan pertemuan hangat antara perangkat desa dan enumerator yang telah menyelesaikan tugasnya.

Enumerator Wisnu, mewakili rekan-rekannya, menyampaikan maksud kedatangan mereka. Tugas pengumpulan data dan pemeriksaan spirometri di Desa Wringinagung telah selesai pada Sabtu, 10 Oktober, atau dua hari yang lalu. Mereka datang untuk berpamitan, sekaligus memohon maaf bila selama menjalankan tugas ada hal yang kurang berkenan. Field Facilitator NIHR UB menambahkan, penelitian ini masih akan berlanjut tahun depan untuk mengunjungi ulang warga yang menjadi responden.

Kades Kondang menyambut baik. Ia mengapresiasi penelitian yang bersangkut paut dengan kesehatan warganya. Harapannya sederhana namun mendalam, yaitu semoga penelitian ini berlangsung lama, sehingga dapat membuka kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan dalam perubahan iklim yang sulit diprediksi sekarang.

Penyerahan secara simbolik "tas berwarna biru tua" dari enumerator kepada Kades

Momen itu ditutup dengan penyerahan kenang-kenangan dalam balutan tas berwarna biru tua dari Wisnu, disaksikan rekan enumerator lain, Field Facilitator NIHR UB, dan perangkat desa. Lalu, semua berpose bersama yang ditangkap lensa kamera ponsel, bukan kamera profesional. Justru di situlah kehangatannya terasa, yakni sederhana, apa adanya, namun tulus.

Ada peribahasa lama yang berbunyi, datang tampak muka, pergi tampak punggung. Artinya, ketika datang hendaknya memperkenalkan diri dengan baik, dan ketika pergi hendaknya juga memberi kabar dengan sopan. 

Tim enumerator ini telah menjalankan keduanya. Mereka datang dengan izin, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan pergi dengan pamit. Dalam dunia penelitian, hal seperti ini sering dianggap remeh. Padahal, di situlah etika sosial diuji! Bukan di laboratorium, bukan di kuesioner, melainkan di ruang kerja kepala desa, di hadapan orang-orang yang telah menerima mereka sebagai Tim Enumerator Baseline Survey NIHR-GHRC NCDs & EC.

Tim Enumerator Baseline Survey Wringinagung berpose dengan perangkat desa dengan "Salam Banyuwangi"

Robert A. Heinlein dalam The Notebooks of Lazarus Long (1978), pernah berkata:

"Hebatlah seni memulai, namun lebih hebat lagi seni mengakhiri."

Memulai tugas itu biasa. Menyelesaikannya dengan rapi juga kewajiban. Namun mengakhirinya dengan pamit, dengan terima kasih, dengan permohonan maaf, dan dengan kenang-kenangan kecil - itu luar biasa. Sebab di situ ada kesadaran bahwa manusia bukan sekadar pelaksana tugas, melainkan makhluk sosial yang terikat oleh adab.

Pagi itu, di Desa Wringinagung, tiga enumerator muda telah menutup babak tugas mereka. Bukan dengan kata "selesai" yang dingin, melainkan dengan "pamit" yang hangat. Dan mungkin, itulah warisan kecil yang mereka tinggalkan - bukan hanya data dan angka, tetapi juga contoh bahwa mengakhiri sesuatu dengan hormat adalah bagian dari pekerjaan itu sendiri. *** [121026] 

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Risk Checker

Risk Checker

Indeks Massa Tubuh

Supplied by BMI Calculator Canada

Statistik Blog

Sahabat eKader

Label

Arsip Blog