“The quality of your life is measured by the number of deep breaths you take. Make each breath count.” -- Richie Norton
Sabtu (10/10) pagi itu, Pendopo Desa Purwodadi di Jalan Sriwijaya No. 13, Dusun Sumberjaya, Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, terdengar lebih hidup dari biasanya. Di satu sisi ada meja pendaftaran, di sisi lain perangkat kesehatan tersusun rapi. Warga datang membawa satu hal yang sering dianggap biasa, yaitu napas. Namun, bagi mereka yang terindikasi berisiko mengalami PPOK, napas bukan sekadar rutinitas - ia adalah kesehatan, kemandirian, dan kualitas hidup.
Richie Norton, seorang penulis buku terlaris dan wirausahawan peraih penghargaan kelahiran San Diego, Amerika Serikat ini, pernah berujar:
“Kualitas hidup Anda diukur dari seberapa sering Anda menarik napas dalam-dalam. Jadikan setiap embusan napas itu bermakna.”
![]() |
| Pendopo Desa Wringinagung di Jalan Sriwijaya No. 13 Dusun Sumberjaya RT 01 RW 01 Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi |
Pemeriksaan ini merupakan kolaborasi antara NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi. Ia digelar karena target sasaran spirometri di Kecamatan Gambiran telah mendekati selesai. Tiga desa yang menjadi enumeration area - Purwodadi, Wringinagung, dan Wringinrejo - akhirnya memutuskan menggabungkan pemeriksaan di satu lokasi.
Dari 22 responden yang diundang, 18 orang berasal dari Desa Wringinagung, 3 orang dari Desa Purwodadi, dan 1 orang dari Desa Wringinrejo. Semuanya merupakan hasil pre-screening yang menunjukkan faktor risiko PPOK. PPOK atau penyakit paru obstruktif kronik sering berkembang diam-diam, sehingga spirometri menjadi penting untuk mendeteksi gangguan pernapasan sejak dini.
![]() |
| Suasana pemeriksaan spirometri gabungan dari tiga desa di Pendopo Desa Wringinagung |
Seperti sebuah lini layanan kesehatan primer, pemeriksaan bergerak dari meja ke meja. Responden pertama-tama mendaftar di sisi utara pendopo. Di sana, enumerator Rany dan Winda, didampingi dua kader – Khilma dan Risky, melakukan registrasi serta verifikasi data.
Selanjutnya, responden menuju meja tanda-tanda vital. Perawat Tria Firnasari mengukur tekanan darah dan saturasi oksigen melalui oksimetri. Tak jauh dari situ, dr. Wahyu Dian P. melakukan anamnesis menggunakan aplikasi SMARThealth, disertai pemeriksaan fisik dengan stetoskop.
![]() |
| Meja pendaftaran |
Ketika namanya dipanggil, responden bergerak ke meja spirometri. Ns. Ilfani Fitriyanti, S.Kep. memandu manuver pernapasan, sementara Ns. Rizki Indrawangi, S.Kep. mengoperasikan laptop yang terhubung dengan alat spirometri.
Spirometri mengukur fungsi paru, termasuk volume udara yang dapat dihembuskan dan kecepatan aliran udara. Dalam konteks PPOK, pemeriksaan ini membantu menilai adanya obstruksi saluran napas melalui parameter seperti FEV1 dan rasio FEV1/FVC.
![]() |
| Dokter RS Yasmin Banyuwangi periksa responden dengan menggunakan stetoskop |
Nebulisasi adalah terapi inhalasi yang mengubah obat cair menjadi kabut halus agar dapat dihirup langsung ke saluran pernapasan. Dalam pemeriksaan fungsi paru, tahap ini berperan sebagai uji bronkodilator: dokter membandingkan kondisi saluran napas sebelum dan sesudah obat diberikan.
Setelah nebulisasi, responden kembali menunggu sebentar. Ketika dipanggil lagi, mereka menjalani spirometri tahap kedua atau post-nebulisasi. Prosedurnya sama dengan tahap pertama, tetapi hasilnya menjadi pembanding penting untuk melihat respons saluran napas terhadap terapi.
Jika tahap kedua berjalan lancar, rangkaian pemeriksaan selesai. Responden kembali ke meja pendaftaran untuk menerima konsumsi, gift, dan subsidi transportasi. Semua itu disaksikan oleh enumerator dan kader - sebuah penutup sederhana, tetapi menunjukkan bahwa layanan kesehatan juga berbicara tentang penghormatan terhadap waktu dan tenaga warga.
![]() |
| Tes spirometri |
Dari 22 undangan, menurut catatan Filed Facilitator NIHR UB, 10 orang berhasil diperiksa, yang terdiri dari 3 dari Desa Purwodadi, 1 dari Desa Wringinrejo, dan 6 dari Desa Wringinagung. Sembilan orang menyelesaikan seluruh rangkaian dengan lancar. Satu responden dari Desa Wringinagung tidak dapat menyelesaikan tes post-nebulisasi karena baru menjalani operasi batu empedu, yang memengaruhi kemampuan menyebulnya.
Sementara itu, 12 responden lain menolak undangan setelah diberikan kesempatan hingga tiga kali. Angka ini menjadi pengingat bahwa edukasi kesehatan tidak berhenti pada alat canggih atau prosedur yang tertata. Ia juga membutuhkan pendekatan yang sabar, komunikasi yang hangat, dan kepercayaan masyarakat.
![]() |
| Nebulisasi |
Setiap embusan napas yang terukur hari itu adalah data. Namun lebih dari itu, ia adalah kesempatan untuk mengenali risiko lebih awal, memberikan edukasi, dan mengingatkan bahwa napas yang lancar adalah modal hidup yang tidak boleh diremehkan.
Sebagaimana kata Richie Norton, jadikan setiap tarikan napas bermakna. Di Pendopo Desa Purwodadi, makna itu diwujudkan melalui kerja sama, kepedulian, dan langkah kecil yang dapat menyelamatkan kualitas hidup seseorang. *** [111026]
Oleh: Budiarto Eko KusumoEditor: Budiarto Eko Kusumo

































