Menampilkan postingan yang diurutkan menurut tanggal untuk kueri Health Coaching. Urutkan menurut relevansi Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut tanggal untuk kueri Health Coaching. Urutkan menurut relevansi Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Oktober 2025

Menyapa Pasien di Rumah: Upaya Pelacakan untuk Menjaga Validitas Penelitian Pengendalian Hipertensi

"The best research you can do is talk to people."  -- Sir Terry Pratchett

Dalam penelitian Pengembangan Model Health Coaching untuk Pengendalian Hipertensi di Layanan Primer, keberadaan setiap responden menjadi bagian penting untuk memastikan keutuhan data, validitas temuan, dan keberhasilan intervensi. Namun, seperti lazimnya di lapangan, tidak semua pasien dapat hadir dalam setiap sesi yang telah dijadwalkan. Di sinilah pelacakan atau tracking memainkan peran sentral.

Pelacakan responden yang tidak hadir bukan sekadar langkah administratif. Ia merupakan upaya aktif untuk mencegah potensi bias - karena mereka yang absen bisa jadi memiliki karakteristik atau tantangan berbeda dari yang hadir. 

Tanpa pelacakan, hasil penelitian berisiko kehilangan relevansi dan kekuatan generalisasinya. Oleh karena itu, tim lapangan memastikan bahwa tidak ada suara yang tertinggal, termasuk mereka yang terhalang hadir karena kondisi personal maupun sosial.

Home visit di Desa Wonokerso 

Pada Rabu (08/10), sekitar pukul 08.30 WIB, Field Supervisor bertolak dari Puskesmas Pakisaji untuk melakukan home visit. Dipandu langsung oleh Penanggung Jawab Promosi Kesehatan Pj Promkes) Puskesmas Pakisaji, Mochamad Faizin, SKM, perjalanan menuju rumah dua pasien hipertensi dari kelompok intervensi pun dimulai. Lokasi yang dituju tersebar di dua dusun di Kecamatan Pakisaji: Dusun Segegeng, Desa Wonokerso dan Dusun Pakisaji, Desa Pakisaji.

Pasien pertama adalah seorang perempuan berusia 41 tahun yang tinggal di Dusun Segegeng RT 14 RW 03. Ketika dikunjungi, ia menyambut dengan ramah. Ia menjelaskan bahwa ketidakhadirannya dalam sesi health coaching kedua disebabkan oleh tanggung jawab mengasuh bayi yang tidak bisa ditinggal. 

Meskipun demikian, ia sempat hadir pada sesi pertama dan menerima kunjungan lanjutan dari Pj Promkes serta kader kesehatan setempat untuk sesi kedua. Komitmen semacam ini menunjukkan pentingnya pendekatan personal dalam memastikan keberlanjutan intervensi.

Pasien kedua adalah seorang perempuan lansia berumur 72 tahun yang tinggal di Dusun Pakisaji RT 05 RW 01. Ketidakhadirannya dalam sesi ketiga terjadi karena bertepatan dengan acara pernikahan anaknya. Meski demikian, ia tetap membuka diri saat tim datang dan memberikan informasi yang dibutuhkan.

Home visit di Desa Pakisaji

Kunjungan ini membuktikan bahwa berbicara langsung dengan responden memberikan pemahaman yang lebih dalam dibanding sekadar mencatat absensi. Seperti yang dikatakan oleh Sir Terry Pratchett (1948-2015), seorang humoris, satiris, dan penulis novel fantasi dalam bahasa Inggris:

"Penelitian terbaik yang dapat Anda lakukan adalah berbicara langsung dengan orang lain." 

Kalimat bijak ini menjadi fondasi dari pendekatan lapangan dalam penelitian ini - menjadikan manusia bukan hanya sebagai objek studi, tetapi sebagai mitra aktif dalam perubahan kesehatan.

Pelacakan responden secara langsung ke rumah tidak hanya menyelamatkan data. Ia juga menciptakan kepercayaan, meningkatkan keterlibatan peserta, dan memastikan bahwa intervensi health coaching benar-benar menjangkau mereka yang paling membutuhkan. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menghasilkan temuan yang valid, tetapi juga dampak yang nyata. *** [081025]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Jumat, 03 Oktober 2025

Kisah Dua Riset NIHR di Perbatasan Desa yang Berdampingan

Train yourselves. Don’t wait to be fed knowledge out of a book. Get out and seek it. Make explorations. Do your own research work. Train your hands and your mind. Become curious. Invent your own problems and solve them. You can see things going on all about you. Inquire into them. Seek out answers to your own questions.” – Irving Langmuir

Usai menyelesaikan putaran terakhir health coaching di Puskesmas Ngajum dan menyaksikan semangat para pasien kontrol di Posyandu Cempaka, Desa Maguan, pada Rabu (01/10), Fasilitator NIHR Universitas Brawijaya (UB) melanjutkan langkah menuju ke rumah Ibu Umi Hanah di Dusun Bekur, Desa Sumberejo, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang, yang menjadi basecamp bagi Tim NIHR Global Health Research Group on Sustainable Care for Anxiety and Depression in Indonesia (NIHR-GHG STAND).

Basecamp tersebut terlihat terasa nyaman dan bersahaja. Sebuah rumah dengan halaman luas yang di depannya berdiri kokoh sebuah mushola kecil. Suasana tenang dan teduh, seolah mencerminkan semangat tim yang sedang menggarap proyek besar di bidang kesehatan mental ini. 

Basecamp bagi para enumerator bukan sekadar tempat tidur; ia adalah posko komando, ruang berbagi cerita, tempat memulihkan tenaga, dan pusat koordinasi sebelum mereka kembali menyebar untuk mengumpulkan data (data collecting).

Namun, yang menarik perhatian bukanlah fisik basecamp tersebut, melainkan letak geografisnya. Daerah kerja atau enumeration area (EA) kedua untuk Tim GHG STAND di Malang adalah Desa Karangsari. 

Anehnya, mereka memilih basecamp di Dusun Bekur, yang secara administratif berada di Desa Sumberejo. Di sinilah keunikannya terungkap. Sejumlah personilnya kebetulan pernah membuat basecamp bayangan di rumah Ibu Umi Hanah ketika melakukan Household Listing (HH Listing), dan kebetulan daerah Desa Karangsari yang berada di bagian utara dekat dengan Dusun Bekur.

Fasad basecamp Tim Enumerator NIHR-GHG STAND Kabupaten Malang 

Dusun Bekur sebenarnya adalah EA bagi penelitian kesehatan lainnya, yaitu NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC). 

Kebetulan lokasinya persis berbatasan dengan Desa Karangsari. Bayangkan, dua proyek penelitian global di bawah payung NIHR yang sama, beroperasi di EA yang saling berdampingan, namun dengan fokus yang berbeda. Di satu sisi, GHRC NCDs & EC, yang ditangani Universitas Brawijaya, meneliti Penyakit Tidak Menular (PTM) dan dampak polusi udara. Di sisi lain, GHG STAND, dikelola oleh Universitas Indonesia, berkonsentrasi pada deteksi dan tata laksana kecemasan serta depresi.

Meski pelaksana lapangannya berbeda dan temanya terpisah, ada benang merah yang menarik terkait kolaborasi internasional. Dr. Asri Maharani, MMRS, Ph.D, tercatat sebagai peneliti kunci dalam kedua proyek besar ini. Sebuah sinergi yang menunjukkan kompleksitas dan keterkaitan antara kesehatan fisik dan mental.

Kunjungan Fasilitator NIHR UB ini menjadi ajang silaturahmi dengan personil tim yang telah dikenalnya. Dalam suasana santai di basecamp, cerita-cerita lapangan mulai mengalir. Mereka bercerita tentang perpindahan mereka dari basecamp sebelumnya di Desa Kasembon, Kecamatan Bululawang, dengan menyicil barang pada Rabu (24/09). 

Setelah mengambil libur sehari, pada Jumat (26/09) mereka mulai berdatangan ke Bekur dan langsung bersilaturahmi dengan perangkat desa hingga ketua RT setempat serta EA Karangsari. Sabtu (27/09) adalah hari pertama mereka turun ke masyarakat untuk melakukan wawancara.

Tim Enumerator NIHR-GHG STAND UI di Kabupaten Malang

“Target responden kami ada sekitar 1.600 orang, dan kami targetkan selesai hingga Ahad, 19 Oktober,” ujar Field Supervisor, yang langsung diamini oleh beberapa enumerator. Itu artinya, kurang lebih dua minggu mereka akan berkeliling, menyapa, dan menggali cerita warga di EA tersebut.

Mendengar gambaran working plan mereka, Fasilitator NIHR UB pun berbagi cerita. “Lokasi basecamp Tim NIHR-GHG STAND ini sendiri merupakan EA untuk NCDs & EC. Sebentar lagi, akan ada tim enumerator lain yang bertugas di desa ini.” Informasi ini memantik diskusi ringan, meski kemungkinan ketika data collecting di Desa Sumberejo, Tim Enumerator NIHR-GHRC NCDs & EC sudah tak bisa menjumpai Tim NIHR-GHG STAND.

Di tengah obrolan tentang tantangan dan dinamika lapangan, kutipan (quote) dari Irving Langmuir (1881-1957), seorang peraih Nobel Kimia asal Amerika, terasa sangat relevan: 

"Latihlah dirimu. Jangan menunggu untuk mendapatkan pengetahuan dari buku. Keluarlah dan carilah. Lakukan eksplorasi. Lakukan risetmu sendiri. Latihlah tangan dan pikiranmu. Jadilah orang yang ingin tahu. Ciptakan masalahmu sendiri dan selesaikanlah. Kamu dapat melihat hal-hal yang terjadi di sekitarmu. Selidikilah. Carilah jawaban atas pertanyaan-pertanyaanmu sendiri."

Semangat inilah yang mengilhami Tim Enumerator NIHR-GHG STAND. Mereka tidak hanya duduk di belakang meja di basecamp, tetapi keluar, menjelajah, dan melatih diri langsung di masyarakat. Mereka menciptakan ‘masalah’ - dalam artian pertanyaan penelitian - lalu berusaha menjawabnya dengan data yang dikumpulkan langsung dari sumbernya. Setiap wawancara, setiap pertemuan dengan warga, adalah wujud dari eksplorasi dan keingintahuan yang diajarkan Langmuir.

Pertemuan siang itu diakhiri dengan makan siang bersama yang penuh tawa. Sebuah momen singkat yang berharga, di mana silaturahmi dan semangat penelitian menyatu, mengisi energi sebelum para enumerator kembali melanjutkan ‘pelatihan’ mereka yang sesungguhnya: di lapangan, di tengah masyarakat, mencari jawaban untuk kesehatan mental Indonesia yang lebih baik. *** [031025]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Wawancara Tahap Kedua Pasien Kontrol di Posyandu Cempaka Maguan: Harmoni Kolaborasi untuk Pengendalian Hipertensi

Setelah merampungkan wawancara dengan pasien intervensi di Aula Puskesmas Ngajum dalam rangkaian penelitian Pengembangan Model Health Coaching untuk Pengendalian Hipertensi di Layanan Primer, Tim Enumerator bersama peneliti, Penanggung Jawab (Pj) Program Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM), serta Pj Promosi Kesehatan (Promkes) segera bersiap untuk melanjutkan misi berikutnya. 

Tujuan selanjutnya adalah Posyandu Cempaka, yang terletak di Dusun Maguan RT 11 RW 05, Desa Maguan—sekitar lima kilometer dari Puskesmas Ngajum. Pasien kontrolnya dikumpulkan di Posyandu Cempaka, seperti pada wawancara tahap pertama sebelumnya.

Peneliti berpose bersama Tim Enumerator, Pj PTM dan Pj Promkes Puskesmas Ngajum serta kader Posyandu Cempaka Desa Maguan

Dua mobil melaju meninggalkan area Puskesmas, membawa serta semangat kolaboratif dan dedikasi untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan primer, khususnya dalam pengendalian hipertensi. 

Begitu tiba di lokasi, tim disambut oleh pemandangan yang menyejukkan hati - pasien kontrol telah banyak yang hadir dan menunggu di Posyandu Cempaka. Kesiapan mereka menjadi simbol antusiasme terhadap perbaikan kesehatan diri dan lingkungan.

Tim Enumerator yang terdiri dari Anis Khurniawati, S.Sos., Arief Budi Santoso, S.Ak., Elmi Kamilah, S.Sos., dan saya sendiri segera menempati meja-meja wawancara yang telah disiapkan oleh kader Posyandu, Ani Wiji Astuti. 

Suasana wawancara dengan pasien kontrol di Posyandu Cempaka, Desa Maguan, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang

Dengan teliti dan penuh empati, proses wawancara dilaksanakan satu per satu, mengupas data penting seputar kondisi pasien, tingkat kepatuhan, dan gaya hidup mereka dalam menghadapi hipertensi.

Tak kalah sigap, Pj PTM Masfu Lailiyah, A.Md.Kep dan Pj Promkes Denok Pitra Rhena, SKM turut andil besar dalam jalannya kegiatan. Mereka membantu dalam pengukuran berat badan, mengatur alur antrean pasien, serta menangani administrasi dengan tertib.

Sementara itu, dr. Arief Alamsyah, MARS, Sp.KKLP mengisi ruang tamu Posyandu dengan penyuluhan yang interaktif dan edukatif. Materi seputar pola makan sehat, manajemen stres, dan pentingnya minum obat secara teratur disampaikan dengan bahasa yang sederhana namun menyentuh. Asisten beliau, Ivanka Harits Darwisy, M.Pd, mendampingi dengan mencatat hasil pengukuran tekanan darah para pasien secara teliti.

Staf pengajar FKUB yang sekaligus peneliti utama, berikan penyuluhan dasar kepada pasien kontrol usai wawancara

Selama kurang lebih dua jam dua menit, sebanyak 13 pasien kontrol berhasil diwawancarai dan mendapatkan edukasi kesehatan secara menyeluruh. Kegiatan pun ditutup dengan sesi foto bersama, menjadi penanda kebersamaan yang hangat antara tim pelaksana dan warga Maguan.

Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas pengumpulan data atau penyuluhan biasa. Ini adalah potret nyata dari kolaborasi yang harmonis antara tenaga kesehatan, kader, peneliti, dan masyarakat. Sebuah sinergi yang menyatukan ilmu, empati, dan semangat pelayanan demi terciptanya layanan kesehatan primer yang lebih baik, terutama dalam mengendalikan hipertensi sebagai salah satu beban terbesar penyakit tidak menular di Indonesia.

Di Posyandu Cempaka hari itu, kita menyaksikan bahwa perubahan dimulai dari kerja sama. Dan ketika setiap elemen bergerak dalam irama yang sama, maka hasilnya bukan hanya data, melainkan harapan. *** [031025]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Rabu, 01 Oktober 2025

Pertemuan Akhir Health Coaching: Mengukur Perubahan Pasien Hipertensi di Puskesmas Ngajum

Suasana berbeda terlihat di Ruang Aula Puskesmas Ngajum pada Rabu (01/10) pagi. Meja dan kursi yang biasanya berbaris rapi menghadap mimbar, kini disusun secara melingkar, menciptakan atmosfer yang lebih intim dan interaktif. 

Ini adalah persiapan untuk momen penting: wawancara terakhir rangkaian penelitian Pengembangan Model Health Coaching Untuk Pengendalian Hipertensi di Layanan Primer dalam disertasi dr. Arief Alamsyah, MARS, Sp.KKLP.

Tim Enumerator Health Coaching kembali bertemu dengan tiga belas pasien hipertensi yang telah menjadi mitra sejak putaran pertama. Mereka diundang oleh Penanggung Jawab Penyakit Tidak Menular (Pj PTM) Puskesmas Ngajum untuk mengikuti sesi wawancara penutup, sebuah tahap krusial dalam perjalanan penelitian ini.

Penjelasan peneliti utama dalam pertemuan akhir health coaching di Aula Puskesmas Ngajum, Kabupaten Malang

Mengukur Jejak Perubahan: Dari "Imut" Menuju Mandiri

Dr. Arief Alamsyah, MARS, Sp.KKLP, selaku peneliti utama, menjelaskan desain unik dari pertemuan ketiga ini. "Tujuan kami adalah melakukan wawancara dengan ketiga belas pasien yang sama yang telah kami wawancara pada pertemuan pertama," ujarnya membuka acara.

Tujuannya jelas: menangkap jejak perubahan. Dalam istilah yang akrab disampaikan dr. Arief, pada pertemuan pertama, pemahaman pasien seringkali masih "imut" - sebutan untuk kondisi pengetahuan yang belum matang. 

Kini, setelah melalui proses health coaching intensif oleh dokter fungsional Puskesmas Ngajum, penelitian ini ingin mengukur perbedaannya. Apakah terjadi peningkatan pengetahuan, perubahan perilaku, dan peningkatan kemandirian dalam mengendalikan tekanan darah?

Dari sinilah nantinya akan terpetakan bentuk permodelan health coaching seperti apa yang "ideal" dan efektif untuk diterapkan dalam kendali hipertensi di tingkat puskesmas.

Suasana wawancara pasien intervensi

Simfoni Kerjasama Tim yang Tergagas Apik

Begitu kata pengantar dari dr. Arief usai, prosesi wawancara segera bergulir dengan lancar bak sebuah simfoni. Tim Enumerator - yang terdiri dari Anis Khurniawati, S.Sos., Arief Budi Santoso, S.Ak., Elmi Kamilah, S.Sos., dan saya - langsung mengambil posisi di meja-meja yang telah disusun melingkar.

Setiap peran berjalan sinergis. Tim Enumerator fokus melakukan wawancara mendalam dengan para pasien. Pj Promkes Denok Pitra Rhena, SKM bertanggung jawab atas pengukuran tinggi badan dan tekanan darah, data objektif yang melengkapi hasil wawancara ke dalam logbook. Pj PTM Masfu Lailiyah, A.Md.Kep mengurusi administrasi seperti absensi dan pemberian uang transport sebagai bentuk apresiasi bagi partisipan.

Sedangkan, dr. Arief sendiri tidak hanya mengawasi, tetapi juga turun tangan memberikan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada pasien yang membutuhkan penjelasan tambahan dalam pengendalian hipertensi pasien.

Sementara itu, Ivanka Harits Darwisy, M.Pd yang mengasistensi dr. Arief, dengan cekatan merekap semua hasil wawancara langsung ke dalam google form untuk memudahkan analisis data.

Tim Enumerator menggunakan handphone dalam melakukan wawancara dengan pasieh intervensi di Aula Puskesmas Ngajum

Proses Cepat dan Perjalanan yang Berlanjut

Wawancara yang dimulai pukul 08.30 WIB tersebut berjalan efisien dan selesai dalam waktu kurang dari satu setengah jam, tepatnya pukul 09.47 WIB. Namun, tugas tim belum usai. Karena masih ada 1 pasien yang tidak bisa hadir lantaran tidak bisa dihubungi. Sehingga perlu dijadwalkan tersendiri di lain waktu.

Usai membungkus pekerjaan di Puskesmas Ngajum, rombongan yang terdiri atas Tim Enumerator, Pj PTM dan Promkes dari Puskesmas Ngajum, serta peneliti, segera berpindah lokasi. Tujuan berikutnya adalah Desa Maguan. Agenda yang sama menunggu, dengan target responden yang berbeda: para pasien kontrol dalam penelitian ini.

Hari itu adalah bukti nyata dedikasi tim dalam mengukir satu langkah penting menuju model perawatan hipertensi yang lebih manusiawi, personal, dan berkelanjutan di layanan kesehatan primer. *** [011025]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Jumat, 12 September 2025

Pendampingan Berlanjut, Health Coaching Tahap 2 Diimplementasikan di Puskesmas Gondanglegi

It is not primarily our physical selves that limit us, but rather our mindset about our physical limits.” -- Ellen Jane Langer

Di tengah pendampingan additional piloting kuesioner COM-B yang berlangsung di Kelurahan Kepanjen, Field Supervisor menyempatkan diri meluncur ke Puskesmas Gondanglegi untuk mendokumentasikan implementasi health coaching tahap 2. 

Kegiatan ini berlangsung di Puskesmas Gondanglegi yang beralamat di Jalan Diponegoro No. 62, Dusun Krajan Satu, Desa Gondanglegi Kulon, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, tepatnya berada di Ruang Imunisasi. Letaknya berada di belakang kasir atau depan Ruang Pelayanan KB/Ruang KB Kespro.

Hari Kamis (11/09) merupakan hari kedua pelaksanaan health coaching tahap 2, yang menyasar tiga pasien hipertensi dan dimulai tepat pukul 12.13 WIB. Sebelumnya, pada hari pertama, sebanyak sembilan pasien telah mengikuti sesi coaching yang dipandu oleh dr. Aulia Nur Ahmad Humsen.

Ruang Imunisasi Puskesmas Gondanglegi menjadi tempat health coaching tahap 2

Seluruh proses pendampingan dicatat dalam logbook oleh Penanggung Jawab (Pj) Promosi Kesehatan, M. Amril M., sementara pengukuran tekanan darah dilakukan oleh Pj PTM, Ilham Tri Wicaksa, A.Md.Kep.

Berbeda dari sesi sebelumnya, coaching tahap kedua ini tidak hanya berfokus pada evaluasi hasil sesi pertama, tetapi juga memperkenalkan materi tentang aktivitas fisik. Aktivitas fisik diketahui memiliki efek signifikan dalam menurunkan tekanan darah melalui beberapa mekanisme fisiologis. 

Aktivitas fisik teratur dapat menyebabkan vasodilatasi pepmbuluh darah serta peningkatan elastisitas pembuluh darah (Pecastello et. al., 2015). Mekanisme ini terjadi karena aktivitas fisik meningkatkan produksi nitric oxide (NO) yang berfungsi sebagai vasodilator alami sehingga pembuluh darah mengalami pelebaran (vasodilatasi), mengurangi restensi perifer, dan menurunkan tekanan darah.

Pj PTM lakukan pengukuran tekanan darah pasien sebelum health coaching

Selain itu, aktivitas fisik teratur juga membantu mengurangi stress oksidatif dan inflamasi pada pembuluh darah serta memperbaiki fungsi endothelium. Hal ini secara langsung berkontribusi terhadap penurunan tekanan darah dan perbaikan struktur jantung serta pembuluh darah pada penderita hipertensi.

Materi ini dirancang dan disampaikan berdasarkan pendekatan yang dikembangkan oleh dr. Arief Alamsyah, MARS, Sp.KKLP dalam penelitian "Pengembangan Model Health Coaching untuk Pengendalian Hipertensi di Layanan Primer". Dengan demikian, pasien tidak hanya diajak mengevaluasi tetapi juga memahami pentingnya bergerak aktif sebagai bagian dari pengelolaan hipertensi yang holistik.

Di balik proses teknis dan edukatif ini, tersirat pesan penting tentang perubahan pola pikir dan pemberdayaan diri. Seperti yang dikatakan oleh Ellen J. Langer, seorang psikolog dan profesor dari Harvard University:

Selesai health coaching oleh dokter fungsional Puskesmas Gondanglegi, pasien diberikan obat dan pesan minumnya dikomunikasikan kepada anaknya yang mengantar pasien

“Bukanlah fisik kita sendiri yang membatasi kita, melainkan pola pikir kita tentang batasan fisik kita.”

Kata-kata ini menjadi pengingat bahwa transformasi kesehatan bukan semata soal tubuh, tetapi dimulai dari keyakinan bahwa perubahan itu mungkin - sebuah semangat yang turut dihidupkan melalui sesi health coaching ini.

Melalui pendekatan yang menyeluruh dan berorientasi pada pasien, Puskesmas Gondanglegi terus berupaya memperkuat layanan promotif dan preventif. Diharapkan, inisiatif ini dapat menjadi model praktik baik dalam pengendalian hipertensi di layanan primer, serta menjadi langkah kecil menuju perubahan besar dalam perilaku hidup sehat masyarakat. *** [120925]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Rabu, 10 September 2025

Layanan Lantai Dua: Health Coaching Tahap Kedua di Puskesmas Ngajum, Saat Upaya Pengendalian Hipertensi Terus Diperkuat

Di tengah ramainya antrean pasien layanan primer yang memadati lantai satu Puskesmas Ngajum, tepatnya di Jalan Ahmad Yani No.22, Dusun Ngajum RT 01 RW 02, Kecamatan Ngajum, terdapat suasana berbeda di lantai dua. Hiruk-pikuk pelayanan medis di bawah tak menghalangi keberlangsungan agenda-agenda penting yang berlangsung di atasnya, pada Selasa (09/09).

Di Ruang Pertemuan lantai dua, sejumlah pegawai tengah mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) Keuangan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Malang. Sementara itu, di sisi timur gedung, tepatnya di Ruang Klaster 3, terselenggara kegiatan yang tak kalah penting: health coaching tahap kedua bagi 13 pasien hipertensi - sebuah upaya lanjutan dalam penelitian Pengembangan Model Health Coaching Untuk Pengendalian Hipertensi Di Layanan Primer.

Dokter fungsional Puskesmas Ngajum berikan health coaching terhadap pasien tambun dengan manset besar saat pengukuran tensi

Kegiatan ini merupakan bagian dari penelitian disertasi dr. Arief Alamsyah, MARS, Sp.KKLP, yang menitikberatkan pada efektivitas health coaching sebagai pendekatan personal dalam pengelolaan hipertensi. Setelah sesi pertama yang dilaksanakan sebelumnya, hari ini merupakan pertemuan lanjutan untuk melakukan evaluasi dan pemantauan perkembangan pasien.

Undangan telah disebar sehari sebelumnya oleh Penanggung Jawab (Pj) Program Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM), Masfu Lailiyah, A.Md.Kep. Pasien-pasien yang hadir datang secara bergantian sesuai jadwal yang telah diatur, sehingga kegiatan berjalan tertib tanpa antrean panjang.

Pj PTM lakukan pengukuran tensi terlebih dahulu sebelum pasien mendapatkan health coaching

Sebelum mendapatkan sesi coaching dari dr. Ririn Widyastuti, pasien terlebih dahulu menjalani pemeriksaan tekanan darah oleh Pj PTM. Barulah kemudian mereka mengikuti sesi coaching selama kurang lebih 15 menit. Kali ini, dr. Ririn ditemani langsung oleh Pj PTM untuk pengisian logbook, menggantikan Pj Promkes Denok Pitra Rhena, SKM, yang sedang berduka karena kepergian ibunda tercinta.

Field Supervisor yang berkesempatan hadir pun turut serta dalam mendokumentasikan jalannya kegiatan. Suasana berjalan dengan hangat dan personal, karena tiap pasien mendapatkan ruang untuk berdiskusi tentang perubahan gaya hidup yang telah mereka coba terapkan sejak coaching pertama.

Monev dokter fungsional Puskesmas Ngajum atas kepatuhan minum obat pasien

“Yang patuh menjalankan pesan dalam health coaching, tekanan darahnya akan turun,” jelas dr. Ririn saat ditanya tentang hasil monitoring sejauh ini. Dari evaluasi awal, sebagian besar pasien menunjukkan perbaikan tekanan darah. Hal ini tak lepas dari pemantauan rutin melalui telepon oleh Pj Promkes, serta komitmen pasien dalam menerapkan pola makan sehat, olahraga teratur, manajemen stres, dan minum obat secara teratur.

Sesi health coaching kedua ini dimulai pukul 08.15 WIB dan berakhir pukul 11.45 WIB. Meski tampak sederhana, kegiatan ini menjadi tonggak penting dalam penguatan intervensi primer terhadap hipertensi - salah satu penyakit tidak menular yang menjadi tantangan besar dalam sistem kesehatan masyarakat.

Di balik dinding Puskesmas yang tampak sibuk, berlangsung perubahan-perubahan kecil yang berdampak besar bagi kesehatan pasien. Melalui pendekatan yang personal dan berbasis edukasi, Puskesmas Ngajum terus berinovasi untuk mengedepankan layanan promotif dan preventif - bukti nyata bahwa pelayanan kesehatan primer adalah garda terdepan dalam menciptakan masyarakat yang lebih sehat. *** [100925]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Kamis, 04 September 2025

Puskesmas Pakisaji Tancap Gas, Gelar Health Coaching Kedua Lebih Awal untuk Pasien Hipertensi

Di tengah upaya meningkatkan pengendalian hipertensi di layanan primer, Puskesmas Pakisaji mengambil langkah proaktif dengan menyelenggarakan sesi health coaching kedua lebih awal dibandingkan tiga puskesmas lainnya yang terlibat dalam penelitian, yakni Gondanglegi, Ngajum, dan Wagir.

Percepatan jadwal ini bukan tanpa alasan. Salah satu dokter fungsional Puskesmas Pakisaji, dr. Herdiana Ayu Saputri Pramudyawati, yang telah mendapatkan pelatihan health coaching langsung dari peneliti utama, dr. Arief Alamsyah, MARS, Sp.KKLP, memasuki masa cuti melahirkan. Agar pelaksanaan health coaching tidak terganggu, maka agenda pelaksanaan dipercepat satu minggu lebih awal.

Health coaching kedua di Puskesmas Pakisaji dimulai pada Senin (01/09) dengan melibatkan 5 pasien hipertensi. Kemudian, pada Rabu (03/09), kegiatan serupa kembali dilaksanakan dengan 4 pasien hipertensi. Puncaknya, Kamis pagi ini (04/09), Field Supervisor dari tim peneliti melakukan kegiatan monitoring sekaligus dokumentasi langsung di lapangan.

Ruang Konsultasi & Pengaduan menjadi lokasi health coaching kedua di Puskesmas Pakisaji

Dalam sesi health coaching hari ini, dua pasien hipertensi dari Dusun Golek, Desa Karangdureng dan Dusun Watudakon, Desa Kendalpayak terlihat sedang menjalani sesi health coaching secara personal bersama dr. Ana, sapaan akrab dr. Herdiana. Sementara itu, Mochamad Faizin, SKM, selaku Penanggung Jawab Promosi Kesehatan, turut serta melakukan pengukuran tekanan darah dan pencatatan logbook sebagai bagian dari proses coaching.

Jika pada sesi pertama dr. Ana menekankan edukasi mengenai pola makan sehat, manajemen stres, serta pentingnya kepatuhan minum obat antihipertensi, maka dalam sesi kedua ini, fokus dialihkan pada pentingnya aktivitas fisik untuk penderita hipertensi.

“Aktivitas fisik memiliki peran fisiologis yang besar dalam menurunkan tekanan darah, salah satunya melalui mekanisme vasodilatasi dan peningkatan elastisitas pembuluh darah,” terang dr. Ana. 

Pengukuran tensi oleh Pj Promkes Puskesmas Pakisaji

Ia mengutip literatur dari Pescatello et. al. (2015) dalam Modul Pelatihan SEHAT Coaching Model untuk Hipertensi di Layanan Primer, yang menjelaskan bahwa aktivitas fisik dapat meningkatkan produksi nitric oxide (NO) - zat yang bekerja sebagai vasodilator alami. Hal ini menyebabkan pembuluh darah melebar, mengurangi resistensi perifer, dan akhirnya menurunkan tekanan darah.

Lebih lanjut, aktivitas fisik juga mengurangi stres oksidatif dan inflamasi, serta memperbaiki fungsi endotel pembuluh darah (Cornelissen & Smart, 2013). Efek jangka panjangnya bahkan dapat memperbaiki struktur jantung dan mengurangi massa ventrikel kiri akibat hipertensi kronis.

“Dengan latihan yang terukur - baik dari segi frekuensi, intensitas, durasi, dan jenisnya - pasien dapat mengalami penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik rata-rata 5-7 mmHg,” tambah dr. Ana. 

Kementerian Kesehatan (2021) dalam laporannya juga menyebut bahwa latihan aerobik intensitas sedang secara rutin mampu menurunkan tekanan darah sistolik hingga 8,3 mmHg dan diastolik sebesar 5,2 mmHg.

Dokter Puskesmas Pakisaji berikan health coaching pasien hipertensi di Ruang Konsultasi dan Pengaduan

Dr. Ana juga menyampaikan bahwa jenis aktivitas fisik yang dianjurkan bagi penderita hipertensi terdiri dari dua macam: Latihan aerobik, seperti jalan cepat, bersepeda, berenang, dan  Resistance training, seperti latihan angkat beban ringan yang terukur.

Sesi coaching hari ini berlangsung kondusif dengan partisipasi aktif dari pasien. Edukasi yang dilakukan juga menggunakan pendekatan dialogis dan empatik, yang menjadi prinsip utama dari metode health coaching berbasis empowerment yang dikembangkan dalam penelitian ini.

Dengan langkah cepat dan kolaborasi solid antara tim medis dan promosi kesehatan, Puskesmas Pakisaji menunjukkan komitmen tinggi dalam mendampingi pasien hipertensi secara holistik. Semoga langkah ini menjadi inspirasi bagi puskesmas lainnya dalam menerapkan health coaching sebagai bagian dari layanan preventif dan promotif di tingkat primer. *** [040925]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Jumat, 29 Agustus 2025

Terang Mentari Menyambut: Wawancara Pasien Kontrol di Desa Sukodadi

Setelah sehari sebelumnya kegiatan diwarnai rintik hujan di Desa Maguan, Kecamatan Ngajum, suasana kini berganti cerah. Jumat pagi (29/08), langit Desa Sukodadi, Kecamatan Wagir, menyambut hangat dengan sinar matahari yang cerah, seolah memberi restu atas kelanjutan proses wawancara pasien kontrol dalam penelitian Pengembangan Model Health Coaching untuk Pengendalian Hipertensi di Layanan Primer.

Di bawah bayang-bayang megah Gunung Kawi, kegiatan pagi itu dipusatkan di rumah kader Pikati, yang beralamat di Dusun Jamuran RT 02 RW 01, Desa Sukodadi. Rumah megah berlantai 2 ini menjadi saksi pertemuan penting antara tim enumerator dan 13 pasien hipertensi yang diundang sebagai bagian dari kelompok kontrol.

Sambutan dari peneliti utama, dr. Arief Alamsyah, MARS, Sp.KKLP

Fenny Noviana, A.Md.Kep., selaku Penanggung Jawab Program PTM (Pj PTM) Puskesmas Wagir, telah lebih dahulu hadir dan berperan aktif dalam mengumpulkan para pasien. Mengingat hari itu adalah hari Jumat, waktu undangan dimajukan ke pukul 08.00 WIB, agar semua kegiatan dapat selesai sebelum waktu salat Jumat tiba.

Sembari menunggu kedatangan peneliti utama, dr. Arief Alamsyah, MARS, Sp.KKLP, Field Supervisor bersama tiga enumerator - Anis Khurniawati, S.Sos., Arief Budi Santoso, S.Ak., dan Elmi Kamilah, S.Sos. - memanfaatkan waktu untuk melakukan pengukuran dasar seperti tinggi badan, berat badan, dan tekanan darah. Langkah ini dilakukan agar saat wawancara berlangsung, fokus bisa langsung diarahkan pada penggalian informasi.

Pengukuran tinggi dan berat badan 

Tak lama kemudian, dr. Arief hadir dengan membawa snack dan air mineral, sebagai bentuk penghargaan atas kehadiran para pasien. Meski waktunya terbatas karena harus segera bertolak ke Pasuruan untuk agenda selanjutnya, beliau tetap menyempatkan diri memberikan sambutan singkat.

Dalam sambutannya, dr. Arief menjelaskan pentingnya kegiatan ini dalam mendukung pengembangan model health coaching bagi pasien hipertensi di fasilitas layanan primer seperti puskesmas. Ia berharap pasien kontrol yang hadir kali ini bersedia untuk diwawancarai kembali pada akhir bulan September, sesuai desain penelitian yang tengah dijalankan.

Pj PTM Puskesmas Wagir mengukur tekanan darah pasien dengan menggunakan manset besar

Usai sambutan, kegiatan inti pun dimulai. Tim enumerator menempati posisi masing-masing di sudut ruangan yang telah disusun dengan rapi. Arief berada di sisi utara bagian timur, Elmi di sisi selatan bagian timur, dan Anis di sisi barat bagian selatan. 

Field Supervisor berada di sisi barat bagian utara, sementara para pasien ditempatkan di tengah ruangan agar mudah berpindah ke setiap enumerator. Pj PTM dan peneliti turut menyaksikan jalannya wawancara, meski dr. Arief kemudian harus berpamitan lebih awal.

Field Supervisor turut mewawancarai pasien hipertensi

Wawancara berlangsung lancar dan penuh kehangatan, berakhir tepat pada pukul 10.30 WIB. Jumlah pasien yang terwawancara ada 14 orang, lebih 1 orang dari undangan yang disebar. Field Supervisor pun mengucapkan terima kasih secara langsung kepada tuan rumah dan Pj PTM atas segala bantuan dan fasilitasi yang telah diberikan.

Kegiatan hari itu pun berjalan sukses dan harapannya agar setiap langkah ke depan semakin memberi dampak positif, tak hanya bagi penelitian, tetapi juga bagi peningkatan kualitas hidup pasien hipertensi. 

Field Supervisor kemudian berpamitan lebih dulu untuk melanjutkan perjalanan ke Desa Sepanjang, guna melakukan koordinasi dengan kader SMARThealth terkait agenda ISPF British Council yang akan digelar Kamis mendatang (04/09). *** [290825]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Kamis, 28 Agustus 2025

Pagi Gerimis di Kampung Lele: Cerita Wawancara Pasien Kontrol di Desa Maguan

Mendung gelap menggantung di langit Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang. Kamis (28/08) pagi itu, semangat enumerator tak ikut surut meski awan kelabu mengintai. Pukul 07.40 WIB, mereka sudah tiba di Puskesmas Ngajum, bersiap melanjutkan tugas lapangan. 

Di sana, mereka berkoordinasi dengan Penanggung Jawab Program Penyakit Tidak Menular (Pj PTM) Puskesmas Ngajum, Masfu Lailiyah, A.Md.Kep., untuk kegiatan wawancara pasien hipertensi kelompok kontrol yang dijadwalkan hari ini.

Enumerator berpose dengan Pj PTM Puskesmas Ngajum dan kader Posyandu Cempaka Maguan

Rencana semula, para enumerator akan melanjutkan perjalanan dengan sepeda motor. Namun, langit yang kian pekat dan angin basah yang menyusup lewat celah dedaunan membuat rencana itu berubah. 

Atas kebaikan hati Pj PTM, para enumerator pun diantar menggunakan mobil pribadinya menuju lokasi, yaitu di Posyandu Cempaka yang beralamatkan di Dusun Maguan RT 11 RW 05, Desa Maguan - sekitar lima kilometer dari Puskesmas.

Lokasi posyandu itu berada di teras rumah kader kesehatan setempat, Ani Wiji Astuti. Ketika tiba, suasana hangat menyambut. Teras memanjang di rumah itu telah disulap menjadi ruang semi terbuka yang nyaman. Empat meja tersusun rapi dengan kursi saling berhadapan. Beberapa pasien hipertensi sudah duduk menunggu - tiga orang di antaranya datang lebih awal, membawa senyum dan cerita.

Kader Posyandu Cempaka membantu mengukur tinggi dan berat badan pasien kontrol

Sembari menanti kehadiran pasien lain, Field Supervisor menyempatkan diri berkeliling halaman rumah yang cukup luas. Kader Ani ternyata hobi mengoleksi anggrek – Oncidium sphacelatum, Phalaenopsis bonita, dan Spathorglottis plicata - yang tersusun indah di halaman depan rumah. 

Di sudut lain, kolam-kolam kecil berjajar yang menjadi rumah bagi ratusan ekor lele yang dibudidayakan oleh suaminya, Supani. Tak heran jika Dusun Maguan mendapat julukan "Kampung Lele", dan usaha Kelompok Perikanan Pembenih Lele Unit Pembenihan Rakyat Mulyorejo bahkan telah menyabet Juara 2 Nasional dalam ajang budidaya lele skala rumah tangga.

Pukul 08.50 WIB, diiringi rintik gerimis yang jatuh perlahan di atap genteng, proses wawancara dimulai. Karena rintik hujan tersebut, kehadiran pasien pun berlangsung secara bertahap. Dalam kegiatan ini, terjadwal 13 pasien hipertensi yang telah dipersiapkan oleh Pj PTM melalui kader Ani. Mereka diwawancarai oleh tiga enumerator: Anis Khurniawati, S.Sos., Arief Budi Santoso, S.Ak., dan Elmi Kamilah, S.Sos., serta seorang Field Supervisor.

Enumerator sedang melakukan wawancara dengan pasien kontrol

Dengan semangat penuh, tim melaksanakan wawancara menggunakan enam kuesioner yang telah disusun oleh peneliti dr. Arief Alamsyah, MARS, Sp.KKLP, untuk keperluan disertasi bertajuk "Pengembangan Model Health Coaching untuk Pengendalian Hipertensi di Layanan Primer." 

Kuesioner tersebut mencakup: Karakteristik Responden, Hypertension Self-Care Behaviors Questionnaire, Hypertension Knowledge-Level Scale (HK-LS), Knowledge, Attitude, Practice (KAP), Efikasi Diri Hipertensi, dan Perceived Stress Scale 10 (PSS-10).

Tak hanya duduk diam dan mencatat, kader Ani turut membantu proses dengan melakukan pengukuran berat badan dan tinggi badan pasien secara manual. Semuanya berjalan lancar, tertib, dan penuh kekeluargaan. Wawancara selesai pada pukul 10.48 WIB, menandai berakhirnya sesi pagi itu.

Field Supervisor turut melakukan wawancara dengan pasien kontrol

Sementara menunggu jemputan kembali ke Puskesmas, Field Supervisor diajak berkeliling oleh suami kader Ani. Mereka berbincang hangat tentang dunia perlelean - dari teknik pemijahan hingga pemasaran.

Begitu tiba di Puskesmas Ngajum, enumerator dan Field Sipervisor langsung menuju area parkir untuk mengambil motor. Sambil mengenakan jas hujan, Field Supervisor berpamitan dengan Pj PTM maupun enumerator yang lain untuk melanjutkan perjalanan menuju ke Kantor Kelurahan Kepanjen guna menghadiri Pertemuan Rutin Kader Kesehatan Kelurahan Kepanjen di Aula Lantai 2 Kelurahan Kepanjen. *** [280825]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Rabu, 27 Agustus 2025

Wawancara Kelompok Kontrol: Fondasi Data untuk Pengembangan Model Health Coaching di Desa Genengan

Pukul 10.00 WIB di hari Rabu (27/08), suasana di halaman Kantor Desa Genengan tampak lebih ramai dari biasanya. Sebanyak delapan pasien hipertensi dari Desa Genengan, yang tergabung dalam kelompok kontrol penelitian Pengembangan Model Health Coaching untuk Pengendalian Hipertensi di Layanan Primer, telah hadir lebih awal di Ponkesdes Genengan, yang beralamat di Jalan Raya Genengan No.9, Dusun Genengan Krajan, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang.

Tak lama berselang, Perawat Desa Genengan, Rani Wahyu, A.Md.Kep, datang bersama lima pasien lainnya. Begitu seluruh peserta berkumpul, kegiatan pun dimulai dengan sambutan hangat dari Field Supervisor yang mewakili peneliti utama dr. Arief Alamsyah, MARS, Sp.KKLP, yang berhalangan hadir karena tugas luar kota.

Selesai acara, enumerator berpose dengan perawat Desa Genengan dan Pj Promkes Puskesmas Pakisaji di Pendopo Balai Desa Genengan, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang

Dalam sambutannya, Field Supervisor menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam penelitian ini. Ia menyampaikan bahwa data yang dikumpulkan dari kelompok kontrol akan menjadi fondasi penting dalam menyusun model health coaching yang efektif untuk pengendalian hipertensi di Puskesmas, khususnya di wilayah kerja Puskesmas Pakisaji.

Setelah sambutan, ketiga belas pasien menjalani pengukuran berat badan, tinggi badan, dan tekanan darah yang dilakukan oleh perawat Rani di ruang Ponkesdes. Hasil pengukuran tersebut kemudian dibawa ke lokasi berikutnya: Pendopo Balai Desa Genengan, yang telah disiapkan sebagai tempat wawancara.

Sambutan dan penjelasan Field Supervisor dihadapan pasien hipertensi dan enumerator di Ponkesdes Genengan

Di pendopo itu, para enumerator telah siap menyambut. Keempat enumerator tersebut adalah Anis Khurniawati, S.Sos.; Arief Budi Santoso, S.Ak.; Elmi Kamilah, S.Sos.; dan Field Supervisor sendiri.

Dengan koordinasi yang apik antara perawat desa dan perangkat desa setempat, tempat wawancara pun tertata dengan cepat, dan antrean berjalan lancar. Masing-masing pasien diwawancarai secara mendalam menggunakan enam jenis kuesioner yang telah disusun oleh tim peneliti, yakni Karakteristik Responden; Hypertension Self-Care Behaviors Questionnaire; Hypertension Knowledge-Level Scale (HK-LS); Knowledge, Attitude, Practice (KAP); Efikasi Diri Hipertensi; dan Perceived Stress Scale 10 (PSS-10).

Prosesi wawancara oleh enumerator

Proses wawancara berjalan efektif. Dengan empat enumerator bekerja secara simultan, wawancara terhadap seluruh peserta selesai dalam waktu sekitar satu jam lebih sedikit. Setiap pasien yang telah menyelesaikan proses wawancara kemudian menerima uang transportasi sebagai bentuk penghargaan atas partisipasi mereka.

Sebagai penutup kegiatan, keempat enumerator, perawat desa, dan Pj Promkes Puskesmas Pakisaji Mochamad Faizin, SKM berfoto bersama di Pendopo Balai Desa. Senyum keakraban terpancar dari wajah mereka, menandai suksesnya pelaksanaan kegiatan yang meski sederhana namun sarat makna.

Suasana wawancara di Pendopo Balai Desa Genengan

Kegiatan ini bukan sekadar pengumpulan data, melainkan bagian dari ikhtiar panjang dalam menyusun model health coaching berbasis komunitas untuk pengendalian hipertensi untuk memperkuat layanan primer di Puskesmas.

Kita menanti tahap selanjutnya dari penelitian ini, seraya mengapresiasi seluruh pihak yang telah berkontribusi demi kesehatan masyarakat yang lebih baik. *** [270825]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Minggu, 24 Agustus 2025

Wawancara dengan Pasien Kontrol di Sepanjang: Langkah Awal Mengukur Efektivitas Health Coaching untuk Hipertensi

Dalam Pengembangan Model Health Coaching Untuk Pengendalian Hipertensi di Layanan Primer, dr. Arief Alamsyah, MARS, Sp.KKLP dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FKUB) melanjutkan fase penting penelitian disertasi dengan melaksanakan wawancara terhadap kelompok pasien kontrol. 

Kegiatan ini merupakan bagian dari studi intervensi yang bertujuan mengukur efektivitas health coaching dalam mengendalikan tekanan darah pada pasien hipertensi di tingkat puskesmas selaku layanan primer yang ada di Kabupaten Malang.

Prakata dari Field Supervisor

Setelah sebelumnya mewawancarai pasien intervensi di empat puskesmas wilayah Kabupaten Malang - Wagir, Pakisaji, Gondanglegi, dan Ngajum - selanjutnya giliran kelompok pasien kontrol yang menjadi subjek penelitian. 

Berbeda dari kelompok intervensi yang mendapatkan sesi health coaching terstruktur sebagai tambahan dari perawatan primer biasa, kelompok kontrol hanya menerima layanan standar seperti kunjungan dokter rutin, manajemen obat, dan konsultasi keperawatan secara konvensional.

Sabtu (23/08), sebanyak 13 pasien dari Puskesmas Gondanglegi yang tergolong kelompok kontrol mengikuti kegiatan wawancara yang dilaksanakan di Pendopo Balai Desa Sepanjang, yang beralamat di Jalan Basuki Rahmad No. 111 Dusun Krajan RT 01 RW 02 Desa Sepanjang, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang. 

Pj PTM Puskesmas Gondanglegi melakukan pengukuran antropometri dan tekanan darah

Acara dimulai pukul 10.00 WIB, diawali dengan sambutan pembuka oleh Field Supervisor, yang dalam hal ini saya sendiri, memberikan penjelasan terkait tujuan studi, alur kegiatan, dan pentingnya partisipasi aktif hingga pertemuan kedua yang direncanakan bulan depan.

Dalam sambutan tersebut, hadir pula Sekretaris Desa Sepanjang, Bapak Afif Jauhari, S.Ag., serta seorang perangkat desa, Sucipto, yang turut mendukung keberlangsungan kegiatan ini. Kehadiran mereka menunjukkan dukungan pemerintah desa terhadap peningkatan kualitas layanan kesehatan melalui pendekatan berbasis riset.

Sebelum memasuki sesi wawancara, para pasien terlebih dahulu menjalani pemeriksaan awal berupa pengukuran tekanan darah, tinggi badan, dan berat badan yang dilakukan oleh Penanggung Jawab Program Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Pj PTM) Puskesmas Gondanglegi, Ilham Tri Wicaksa, A.Md.Kep.

Tiga enumerator sedang mewawancara pasien di sisi utara

Setelah proses pengukuran selesai, pasien diarahkan menuju empat meja wawancara yang telah disiapkan. Wawancara dilakukan oleh empat enumerator, yaitu Arief Budi Santoso, S.E.; Elmi Kamilah, S.Sos.; Anis Khurniawati, S.Sos.; dan saya sendiri. 

Sama seperti metode yang digunakan pada kelompok intervensi, para enumerator menggunakan enam jenis kuesioner untuk menggali informasi dari pasien kontrol, yaitu: Karakteristik Responden; Hypertension Self-Care Behaviors Questionnaire for Hypertensive Adult Patient Respondents; Hypertension Knowledge-Level Scale; Knowledge, Attitude, and Practice (KAP); Efikasi Diri Hipertensi; dan Perceived Stress Scale (PSS-10).

Seluruh rangkaian wawancara berlangsung dengan tertib dan lancar, dan selesai tepat pada pukul 11.54 WIB. Hasil dari wawancara ini akan menjadi data penting untuk membandingkan efektivitas pendekatan health coaching terhadap kelompok intervensi dibandingkan dengan perawatan primer biasa pada kelompok kontrol.

Field supervisor turut juga wawancara dengan pasien

Dengan terselenggaranya wawancara kelompok kontrol ini, penelitian dr. Arief Alamsyah telah menyelesaikan fase awal pengumpulan data di lapangan. Langkah selanjutnya akan difokuskan pada pelaksanaan sesi health coaching dan pengukuran perubahan yang terjadi pada kedua kelompok dalam periode waktu yang telah direncanakan.

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap model layanan primer berbasis edukasi yang lebih efektif dan personal dalam menangani hipertensi, khususnya di wilayah pedesaan seperti Kabupaten Malang. *** [240825]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Sabtu, 16 Agustus 2025

Hari Ketiga Health Coaching di Puskesmas Wagir – Tiga Lansia, Tiga Kisah, Satu Semangat

Seperti yang diutarakan oleh dr. Arief Alamsyah, MARS, Sp.KKLP dalam “Pelatihan Health Coaching untuk Dokter dan Tenaga Promkes Puskesmas di Kabupaten Malang”, setiap Puskesmas hanya membutuhkan 13 pasien hipertensi sebagai sasaran coaching. Namun, di balik angka itu, tersembunyi cerita-cerita kecil yang menyentuh, seperti yang terjadi pada hari ketiga pelaksanaan Health Coaching di Puskesmas Wagir, Jumat (15/08).

Enumerator Anis Khurniawati, S.Sos yang sebelumnya telah mewawancarai lima pasien pada Selasa (12/08) dan membantu lima wawancara di Puskesmas Ngajum pada Rabu (13/08), meneruskan tugasnya pada Kamis (14/08) dengan tiga wawancara pasien. Dua pasien tambahan saat itu dibantu oleh Field Supervisor yang menghandle dalam prosesi Health Coaching di Ngajum.

Puskesmas Wagir pada pukul 07.27 WIB di hari Jumat (15/08)

Jumat pagi, giliran Field Supervisor kembali mengambil peran. Ia tiba di Puskesmas Wagir pukul 07.24 WIB. Mengingat hari Jumat adalah hari pendek, penjadwalan dilakukan lebih awal. Setelah bertemu dengan Penanggung Jawab Program Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Pj PTM) Fenny Noviana, A.Md.Kep, mereka menuju Ruang Pandu untuk memulai sesi wawancara dengan tiga pasien yang sangat istimewa.

Ketiganya adalah laki-laki lanjut usia yang datang dari rumah mereka masing-masing yang berjarak sekitar tiga kilometer dari Puskesmas. Pasien pertama berusia 65 tahun dengan keterbatasan penglihatan. Pasien kedua, seorang pensiunan berumur 66 tahun, sementara pasien ketiga adalah sosok penuh semangat berusia 80 tahun, yang hadir bersama cucu perempuannya yang setia mendampingi.

Field Supervisor menuntun pasien lansia berkebutuhan khusus untuk memberikan cap jepol dalam informed consent

Mengingat usia para pasien, proses wawancara berlangsung dengan pendekatan yang lebih sabar dan komunikatif. Field Supervisor sering melakukan probing - memancing pemahaman lebih dalam agar inti pertanyaan tersampaikan dengan jelas dan mudah dimengerti. Meski demikian, suasana wawancara terasa santai dan akrab.

Selama proses tersebut, Pj PTM turut membantu dalam pengukuran tinggi dan berat badan. Selesai wawancara, pasien diarahkan ke Ruang Pemeriksaan yang terletak di sisi utara area pendaftaran. Di sana, dr. Faradina Puspitasari dan Penanggung Jawab Promosi Kesehatan (Pj Promkes) Indah Nur Putri Pratiwi, SKM, sudah bersiap memberikan sesi health coaching.

Setelah diukur tinggi dan berat badan oleh Pj PTM, Field Supervisor melakukan pengukuran tekanan darah

Sesi coaching dilakukan secara personal dan menyeluruh. Pj Promkes mencatat poin-poin coaching dalam logbook sebagai bahan untuk tindak lanjut melalui panggilan telepon kepada pasien di hari-hari mendatang.

Prosesi health coaching hari Jumat ini berjalan lancar. Wawancara dimulai pukul 07.35 WIB dan berakhir pukul 09.10 WIB. Namun sesi coaching masih berlanjut hingga pukul 10.00 WIB, memastikan setiap pasien mendapatkan perhatian dan arahan yang maksimal.

Dengan semangat merah putih, dokter Puskesmas Wagir berikan health coaching kepada pasien lansia yang didampingi cucu perempuan kesayangannya

Ketiga pasien lansia ini memberi pelajaran berharga - bahwa usia bukan halangan untuk tetap peduli pada kesehatan. Mereka datang dari jarak tak dekat, dengan niat dan kesungguhan yang patut diapresiasi. 

Semangat mereka menjadi pengingat bagi kita semua bahwa perubahan besar dalam kesehatan masyarakat dimulai dari langkah kecil, seperti hadir lebih pagi demi mendapatkan pendampingan yang lebih baik. *** [160825]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Pelatihan Enumerator untuk Skrining Deteksi Polimorfisme Pasien Hipertensi

Kata pembuka moderator dalam Pelatihan Enumerator ISPF dengan kuesioner model SMARThealth

Usai dari monitoring dalam health coaching di Puskesmas Pakisaji, penulis selaku personil Tim SMARThealth Universitas Brawijaya (UB) diminta peneliti dari Farmasi Fakultas Kedokteran UB (FKUB) yang terlibat dalam ISPF (International Science Partnerships Fund), untuk memberikan pelatihan enumerator pada Kamis (14/08) sore, bakda Ashar.

Kegiatan ini merupakan bagian dari persiapan teknis menjelang skrining kesehatan dan pengumpulan data untuk penelitian bertema "Deteksi Polimorfisme Pasien Hipertensi sebagai Personalisasi Terapi" yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis (21/08) di Aula Kelurahan Kepanjen.

Sebanyak 11 mahasiswa Jurusan Farmasi FKUB menjadi peserta dalam pelatihan yang dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom mulai pukul 15.00 WIB. Pelatihan ini dipandu oleh apt. Favian Rafif Firdaus, S.Farm., M.Farm., selaku dosen pembimbing sekaligus supervisor penelitian, dengan materi disampaikan langsung oleh penulis selaku narasumber dari Tim SMARThealth UB yang telah mendampingi program SMARThealth di Kabupaten Malang sejak 2016.

Memahami Kuesioner SMARThealth: Lebih dari Sekadar Mengisi Formulir

Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini mengadopsi model SMARThealth versi 4.06/7/2023, sebuah alat yang dirancang secara komprehensif untuk mendeteksi faktor risiko kesehatan dengan pendekatan personal. 

Modul kuesioner terdiri atas tiga bagian utama, yaitu: Riwayat Medis, Pengukuran, dan Catatan Pewawancara. Riwayat Medis berisi total 64 pertanyaan yang mencakup informasi gaya hidup, kondisi kesehatan saat ini dan sebelumnya, serta riwayat kesehatan keluarga.

Bagian Pengukuran mencakup 53 pertanyaan, dengan 26 di antaranya berfokus pada Quality of Life menggunakan skala Likert. Sementara itu, Catatan Pewawancara digunakan untuk mencatat hasil wawancara yang tidak bisa diakomodasi dalam pertanyaan tertutup (closed questions).

Pengenalan instrumen ini menuntut pemahaman mendalam terhadap makna konseptual setiap pertanyaan, bukan hanya membacakan teks secara mekanis. Oleh karena itu, narasumber menekankan pentingnya deep reading dan interpretative probing - terutama pada bagian Quality of Life, yang dinilai lebih subjektif dan personal.

Tantangan dan Dinamika Selama Pelatihan

Suasana pelatihan berlangsung aktif dan interaktif. Salah satu momen menarik terjadi saat membahas pertanyaan Quality of Life bagian pertanyaan A48 yang memancing senyum ringan dari peserta lainnya. 

Meski terdengar ganjil, pertanyaan ini memiliki peran penting dalam mengukur aspek emosional keseharian pasien. Narasumber menjelaskan bahwa dalam praktiknya, enumerator dapat menyampaikan pertanyaan dengan sikap empati, misalnya dengan sedikit menunduk atau memelankan suara, sebagai bentuk pendekatan sensitif terhadap subjek wawancara.

Selama kurang lebih satu jam, peserta tak hanya menerima materi, tetapi juga didorong untuk memahami konteks sosial-kultural dalam menyampaikan pertanyaan. Mereka dibekali tips untuk membaca ulang setiap item kuesioner dan diizinkan untuk bertanya kembali jika masih ada ketidakjelasan, baik melalui WhatsApp maupun panggilan langsung ke narasumber.

Pelatihan Enumerator: Menanam Benih Data yang Berkualitas

Pelatihan ini bukan sekadar acara seremonial atau pelengkap administratif menjelang penelitian lapangan. Ia adalah fondasi penting untuk memastikan bahwa data yang dikumpulkan benar-benar mencerminkan kondisi nyata pasien di lapangan. Enumerator bukan hanya penyampai pertanyaan, tapi jembatan antara instrumen riset dan pengalaman hidup responden.

Kualitas data dimulai dari kualitas enumerator. Sejauh mana seorang enumerator memahami substansi pertanyaan, mampu membangun komunikasi yang nyaman, dan bersikap profesional dalam interaksi - semua itu akan menentukan validitas dan reliabilitas hasil penelitian. 

Maka, pertanyaannya kini adalah: Sudahkah kita cukup membekali enumerator dengan keterampilan yang tak hanya teknis, tapi juga empatik dan kontekstual?

Pelatihan ini memberi jawaban awal yang menjanjikan. Namun, kerja nyata masih menanti di lapangan. *** [160825]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Risk Checker

Risk Checker

Indeks Massa Tubuh

Supplied by BMI Calculator Canada

Statistik Blog

Sahabat eKader

Label

Arsip Blog