Menampilkan postingan yang diurutkan menurut tanggal untuk kueri Lansia. Urutkan menurut relevansi Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut tanggal untuk kueri Lansia. Urutkan menurut relevansi Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Oktober 2026

Ketika Napas Menjadi Cerita: Pemeriksaan Spirometri di Tamanagung

“Take a deep breath. Inhale peace. Exhale happiness.” -- A.D. Posey

Di balik setiap tarikan dan embusan napas, tersimpan cerita tentang kesehatan, usia, dan perjuangan tubuh manusia. Sabtu pagi, Pendopo Desa Tamanagung kembali menjadi tempat bagi puluhan warga untuk mengenali kondisi paru-paru mereka melalui pemeriksaan spirometri.

“Tarik napas dalam-dalam. Hirup kedamaian. Hembuskan kebahagiaan.” 

Kutipan A.D. Posey tersebut seolah mengingatkan bahwa bernapas bukan sekadar proses alami yang berlangsung tanpa disadari. Bagi sebagian orang, setiap tarikan napas justru menjadi hal berharga yang perlu dijaga.

Sabtu (10/10) pagi, suasana Pendopo Desa Tamanagung di Jalan Sraten No. 07, Dusun Krajan, RT 02 RW 04, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, kembali diwarnai aktivitas pemeriksaan kesehatan. 

Untuk keempat kalinya, tiga enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC), yakni Fahmi Ahmad Fauzan, S.Sos., Dysa Fitri Permatasari, S.Tr.Kes., M.Kes., dan Nisaul Rofifah, S.Gz., menyelenggarakan pemeriksaan spirometri bagi warga yang terindikasi memiliki faktor risiko penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Kegiatan hasil kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RS NU) Banyuwangi ini dimulai pukul 08.00 WIB. Sebanyak 35 warga yang telah melalui proses pre-screening diundang untuk mengikuti pemeriksaan. 

Dua kader kesehatan setempat, Ade Fitria Ningsih dan Ratna Mujayanah, turut membantu mobilisasi responden dengan mengantarkan undangan dua hari sebelum pelaksanaan serta mendampingi kegiatan pada hari pemeriksaan.

Personel RS NU Banyuwangi berpose dengan enumerator baseline survey, kader kesehatan, pengawas tes spirometri, dan Field Facilitator NIHR UB


Empat meja, satu tujuan

Rangkaian pemeriksaan berlangsung melalui empat meja pelayanan yang disusun untuk menjaga keteraturan alur sekaligus mendukung proses pemeriksaan yang sistematis.

Di meja pertama, kader Ade Fitria dan Ratna menyambut warga untuk melakukan registrasi serta verifikasi data. Setelah itu, responden menunggu giliran di bangku antrean. Sambil menanti panggilan, enumerator Fauzan memberikan arahan mengenai teknik meniupkan napas yang benar agar responden lebih siap menjalani pemeriksaan.

Panggilan berikutnya mengarahkan responden ke meja kedua, yakni meja tanda-tanda vital (TTV). Bidan Umri Yasirah, S.Keb., melakukan penimbangan berat badan, pengukuran tekanan darah, dan pemeriksaan saturasi oksigen menggunakan oksimeter. Selanjutnya, Perawat Ratna Lauranita, S.Kep., melakukan anamnesis melalui aplikasi SMARThealth untuk menghimpun informasi kesehatan responden.

Dari meja TTV, responden menuju meja ketiga untuk menjalani pemeriksaan spirometri. Apabila alat masih digunakan, mereka kembali menunggu hingga mendapat giliran. Di meja ini, Perawat Marni Erlina, S.Kep.Ns., melakukan manuver pemeriksaan tahap pertama atau pre-salbutamol, dengan bantuan Perawat Joenhiga, S.Kep.Ns., yang mengoperasikan alat spirometri MIR SpiroLab milik NIHR UB. Proses tersebut turut disaksikan Ns. Elik Anistina, S.Kep., yang membantu pengawasan pemeriksaan.

Spirometri merupakan pemeriksaan fungsi paru-paru yang mengukur volume udara yang dapat dihirup dan diembuskan seseorang. Untuk memperoleh hasil yang dapat dinilai, pemeriksaan dilakukan berulang menggunakan teknik yang valid dan memenuhi kriteria keterulangan. Pengukuran ini membantu memberikan gambaran objektif mengenai fungsi pernapasan, termasuk dalam penilaian risiko gangguan paru-paru.

Setelah tahap pertama selesai, responden mendapatkan semprotan salbutamol sesuai prosedur, kemudian beristirahat selama 20 menit. Obat tersebut membantu membuka saluran napas sehingga fungsi paru-paru dapat diukur kembali. Sesudah waktu istirahat, responden menjalani pemeriksaan tahap kedua atau post-salbutamol dengan prosedur serupa.

Tahapan ini menjadi bagian penting dalam pengamatan respons saluran napas terhadap bronkodilator. Namun, tidak semua pemeriksaan berjalan mudah. Kondisi fisik, riwayat penyakit, dan kemampuan responden mengikuti manuver pernapasan dapat memengaruhi kualitas hasil yang diperoleh.

Pengukuran tekanan darah, oksimetri dan anamnesis menggunakan aplikasi SMARThealth


Di balik angka, ada kondisi yang perlu dipahami

Berdasarkan catatan Field Facilitator NIHR UB, dari 35 warga yang diundang, sebanyak 34 orang hadir, sementara satu orang menolak menghadiri pemeriksaan sejak menerima undangan.

Dari responden yang datang, terdapat enam laporan khusus terkait pelaksanaan tes. Seorang laki-laki berusia 61 tahun memperoleh hasil yang kurang maksimal. Ia memiliki riwayat sesak napas ketika cuaca dingin dan baru kembali setelah mengairi sawah sejak malam hingga pagi. Kelelahan setelah beraktivitas semalaman menjadi salah satu kondisi yang perlu diperhatikan dalam memahami situasi pemeriksaannya.

Dua responden lansia lainnya memilih tidak melanjutkan tes ketika dipanggil ke meja spirometri. Seorang perempuan berusia 63 tahun menolak karena memiliki riwayat penyakit jantung, sedangkan seorang perempuan berusia 100 tahun mengurungkan pemeriksaan karena merasakan nyeri di dada.

Tiga responden lansia lainnya - dua perempuan dan seorang laki-laki - juga memperoleh hasil yang kurang maksimal. Mereka memiliki riwayat penyakit paru-paru dan jantung serta sedang menjalani pengobatan, atau mempunyai riwayat asma.

Catatan tersebut menunjukkan bahwa pemeriksaan kesehatan di masyarakat tidak hanya berkaitan dengan pengumpulan angka dan hasil pengukuran. Di balik setiap hasil, terdapat kondisi individual yang perlu dipahami dengan cermat. Riwayat penyakit, keluhan yang dirasakan, dan kesiapan fisik menjadi pertimbangan penting dalam pelaksanaan pemeriksaan.

Tes spirometri


Merawat napas, menguatkan layanan kesehatan

Setelah menyelesaikan rangkaian pemeriksaan, responden diarahkan ke meja keempat. Di meja apresiasi partisipasi ini, enumerato Nisa dan Dysa membagikan konsumsi, vitamin, serta subsidi transportasi sebagai bentuk apresiasi atas kesediaan warga berpartisipasi.

Kegiatan tersebut juga dihadiri Rahmanurraudhotul Amin, SKM., yang ditunjuk oleh Theme 1: Primary Healthcare Strengthening untuk mengobservasi jalannya pemeriksaan menggunakan checklist.

Hingga pukul 13.14 WIB, pemeriksaan spirometri keempat di Desa Tamanagung resmi berakhir. Selama lebih dari lima jam, para petugas, tenaga kesehatan, dan kader setempat bekerja bersama untuk mendukung pelaksanaan pemeriksaan bagi warga.

Empat kali penyelenggaraan bukan sekadar pengulangan kegiatan, melainkan bagian dari upaya mengumpulkan informasi kesehatan sekaligus mendekatkan pemeriksaan fungsi paru-paru kepada masyarakat. Sebab, menjaga kesehatan pernapasan tidak selalu dimulai dari pengobatan, tetapi juga dari keberanian untuk memeriksakan diri dan memahami kondisi tubuh.

Seperti pesan A.D. Posey, menarik napas dalam-dalam dapat menjadi pengingat sederhana untuk menghargai kehidupan. Di Tamanagung, setiap embusan napas yang diperiksa membawa harapan agar warga semakin mengenali kesehatannya, sementara upaya penguatan layanan kesehatan primer terus menemukan jalannya - satu pemeriksaan, satu warga, dan satu tarikan napas dalam satu waktu. *** [111026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Kamis, 08 Oktober 2026

Dari Unreadable ke Valid: Proses Pemeriksaan Ulang Spirometri di Wringinagung

“Medida que progresaran, podían inhalar contando hasta cuatro y exhalar hasta ocho, con” -- James Nestor, Respira: La nueva ciencia de un arte olvidado

Di sebuah pendopo sederhana Kantor Balai Dusun Sumberjo, yang beralamat di Dusun Sumberjo RT 05 RW 01 Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, puluhan lansia antre dengan sabar. Bukan untuk mengambil beras atau obat, melainkan untuk “napas kedua”, yakni mengulang tes spirometri yang sebelumnya tak terbaca. Di sinilah sains bertemu realitas lapangan, di mana data yang baik bukan soal cepat selesai, tapi soal napas yang benar-benar terukur.

Pemeriksaan ulang spirometri bukanlah kegagalan, melainkan standar emas dalam pengukuran fungsi paru. Tes spirometri yang valid mensyaratkan minimal tiga manuver yang dapat diterima (acceptable) dan dua di antaranya harus konsisten (repeatable), dengan selisih FVC dan FEV1 tidak lebih dari 150 ml. Jika kurva buruk, nilai tidak konsisten, atau ada gangguan teknis, hasil itu sebaiknya tidak ditafsirkan, melainkan diulang di hari lain.

Personel RS Yasmin Banyuwangi berpose dengan enumerator baseline survey, kader kesehatan, pengawas tes spirometri, observer prosesi pemeriksaan spirometri, dan Field Facilitator NIHR UB

Kualitas spirometri bertumpu pada tiga pilar, yaitu perawat yang terlatih, peralatan akurat, dan usaha maksimal pasien. Tanpa salah satunya, data bisa menyesatkan. Di Wringinagung, sepuluh sesi spirometri sebelumnya telah menjangkau 250 responden terindikasi risiko PPOK. Namun, beberapa hasilnya “unreadable”. Maka, pengulangan bukan pilihan, melainkan keharusan ilmiah.

Rabu (07/10), tiga enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Wringinagung - Muhammad Wisnu Nafiri, S.E.; Maharany Triastuti Januarizki, S.ST.; dan Winda Cahyani, S.Tr.Gz.RD - kembali membuka pos pemeriksaan. Kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi ini mengundang 28 responden yang sebelumnya hasilnya belum memuaskan.

Dibantu dua kader kesehatan setempat, Eva Hariana dan Siti Zulaihah, alur pemeriksaan dijalankan persis seperti sepuluh sesi sebelumnya, yaitu registrasi dan verifikasi data, pengukuran tanda-tanda vital (TTV), anamnesis dengan aplikasi SMARThealth, pemeriksaan fisik, lalu spirometri pre-nebulisasi, nebulisasi, dan spirometri post-nebulisasi.

Meja pendaftaran

Di meja TTV, Perawat Annisa Fitriya, A.Md.Kep., memeriksa tekanan darah dan oksimetri. Di sampingnya, dr. Rika Hardiyanti melakukan anamnesis dan mendengarkan paru dengan stetoskop. 

Sambil menunggu panggilan spirometri, enumerator baseline survey Wisnu memanfaatkan waktu untuk melatih teknik pernapasan responden, sebuah sentuhan manusiawi di tengah protokol ketat.

Di meja spirometri, Ns. Winda Nurhasanah, S.Kep., memandu manuver dengan sabar, dibantu Ns. Rizki Indrawangi, S.Kep., yang mengoperasikan laptop terhubung alat spirometri, di bawah pengawasan Perawat Elik Anistina, S.Kep. 

Setelah tes tahap 1 (pre-nebulisasi), responden bergeser ke meja nebulisasi, di mana Ns. Renny Karmila, S.Kep., memberikan terapi inhalasi - mengubah obat cair menjadi kabut halus yang dihirup langsung ke saluran napas.

Dokter RS Yasmin Banyuwangi periksa responden dengan stetoskop

Setelah nebulisasi dan jeda singkat, responden dipanggil kembali untuk tes tahap 2 (post-nebulisasi). Prosedurnya sama, hanya berbeda pada kondisi sebelum dan sesudah pemberian bronkodilator. Jika tahap 2 lancar, rangkaian pemeriksaan selesai.

Responden lalu kembali ke meja pendaftaran untuk menerima konsumsi, gift, dan subsidi transportasi dari kader Eva dan Siti Zulaihah yang disaksikan oleh dua enumerator Rany dan Winda. Hal ini merupakan sebuah apresiasi kecil atas kontribusi responden pada data kesehatan komunitas.

Dari 28 responden yang diundang, semua berhasil diperiksa. Namun, dua hasil masih kurang memuaskan menurut Ns. Elik. Seorang lansia laki-laki berusia 80 tahun, yang sehari-hari menggunakan oksigen di rumah karena sesak napas kronis, kesulitan melakukan manuver baik pre maupun post-nebulisasi. Demikian pula seorang perempuan lansia sekitar 71 tahun dengan riwayat gejala stroke dan pengobatan saraf mata kanan.

Tes spirometri

Kasus-kasus ini mengingatkan bahwa spirometri bukan sekadar soal alat, tapi juga soal kondisi fisiologis dan kemampuan kooperatif pasien. Pada lansia dengan komorbiditas berat, manuver maksimal sering kali tak mungkin dicapai, dan itu bukan kegagalan individu, melainkan batasan realistis yang harus dicatat dalam interpretasi klinis.

Di tengah kesibukan itu, ada satu kalimat yang seolah menggema dari buku Breath: The New Science of a Lost Art (2020) karya James Nestor: 

“Seiring kemajuan mereka, mereka bisa menarik napas hingga hitungan keempat dan mengembuskannya hingga hitungan kedelapan.”

Kalimat ini bukan sekadar teknik relaksasi. Ia adalah metafora, bahwa napas yang baik butuh latihan, kesabaran, dan pengulangan. Di Wringinagung, spirometri yang diulang adalah wujud konkret dari prinsip itu di mana data paru yang akurat lahir dari napas yang terlatih, bukan terburu-buru.

Nebulisasi

Pemeriksaan ulang spirometri perdana di Desa Wringinagung ini selesai pukul 13.42 WIB, disaksikan oleh Rahmanurraudhotul Amin, SKM, enumerator baseline survey Desa Kaliploso yang ditunjuk Theme 1: Primary Healthcare Strengthening dalam obsevasi prosesi pemeriksaan spirometri dengan checklist. 

Dari catatan Field Facilitator NIHR UB, dua puluh delapan napas telah diukur ulang. Dua di antaranya masih menyisakan catatan teknis. Tapi justru di situlah kejujuran data berbicara di mana lebih baik mengulang daripada memaksakan interpretasi dari kurva yang buruk.

Karena pada akhirnya, kebijakan kesehatan yang tepat lahir dari data yang jujur. Dan data yang jujur dimulai dari napas yang benar-benar terukur, bahkan jika itu berarti harus diulang. *** [081026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Menyebul Menuju Sehat: Wiracarita Spirometri Keenam Desa Kaliploso

“What the bodily form depends on is breath (chi) and what breath relies upon is form,” states a Chinese adage from 700 AD. “When the breath is perfect, the form is perfect (too).”” -- James Nestor, Breath: The New Science of a Lost Art

Di bawah atap Pendopo Desa Kaliploso, Dusun Plosorejo RT 03 RW 04 Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, 25 warga antre dengan satu tujuan sederhana, yaitu memastikan paru-paru mereka masih bekerja sebagaimana mestinya.

Pada Sabtu (03/10), kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RS NU) Banyuwangi menggelar pemeriksaan spirometri keenam yang menjadi bagian dari baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC).

Suasana pemeriksaan spirometri (keenam) yang diadakan di Pendopo Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi

Kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB dengan 27 responden terindikasi faktor risiko Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Alurnya dirancang sistematis. Registrasi di meja barat daya oleh enumerator Rafini dibantu kader, lalu ke meja TTV di timur laut untuk penimbangan, pengukuran tekanan darah, dan oksimetri oleh Perawat Evi Faizatun.

Di sisi lain, Perawat Fath Syu'araanisa melakukan anamnesis menggunakan aplikasi SMARThealth. Sambil menunggu panggilan, enumerator Rahman mengajarkan teknik "menyebul" - istilah lokal untuk manuver pernapasan yang akan mereka lakukan di alat spirometri.

Pengukuran tekanan darah

Di meja spirometri sisi selatan, Perawat Joenhiga memandu manuver dengan bantuan Perawat Lavinia yang mengoperasikan MIR SpiroLab milik NIHR UB. Tes tahap pertama dilakukan sebelum semprotan salbutamol (pre-bronkodilator).

Responden kemudian duduk 20 menit menunggu obat bekerja - waktu yang direkomendasikan agar salbutamol mencapai efek maksimal membuka saluran napas. Setelah itu, mereka kembali melakukan tes tahap kedua (post-bronkodilator) dengan prosedur sama.

Tes spirometri

James Nestor, seorang jurnalis yang pernah menulis untuk majalah Outside, Men's Journal, Scientific American, Dwell, National Public Radio, The New York Times, The Atlantic, San Francisco Chronicle, dan lain-lain, pernah berujar dalam Breath: The New Science of a Lost Art (2020): 

"Wujud fisik bergantung pada napas (chi), dan napas bergantung pada wujud," demikian bunyi sebuah pepatah Tiongkok dari tahun 700 M. "Ketika napas sempurna, wujud pun menjadi sempurna."" 

Disaksikan para kader, enumerator berikan konsumsi, gift, dan subsidi transportasi atas partisipasi responden dalam pemeriksaan spirometri

Kutipan ini menguatkan mengapa spirometri bukan sekadar prosedur medis, melainkan upaya memastikan "chi" atau napas warga tetap optimal untuk menunjang wujud fisik yang sehat.

Dari 27 undangan, 25 hadir. Dua lainnya absen. Seorang perempuan yang reschedule dari pemeriksaan ketiga merasa minder, sementara seorang laki-laki tak bisa ditemui - menurut kader, ia menghindari kumpulan karena kerap ditagih utang.

Peta Desa Kaliploso

Di lapangan, beberapa tantangan muncul. Seorang lansia laki-laki 67 tahun kesulitan mengikuti instruksi karena gangguan pendengaran. Responden 65 tahun dengan riwayat post-opname hipertensi dan jantung bengkak menghasilkan tes kurang optimal. Satu lagi, lansia yang sedang pengobatan paru-paru juga menunjukkan hasil serupa. Menariknya, seorang pria 48 tahun dengan mental disorder justru menghasilkan tes yang cukup bagus.

Kegiatan berakhir pukul 12.09 WIB. Di meja pendaftaran akhir, enumerator Rafini dan kader membagikan konsumsi, gift, dan subsidi transportasi sebagai apresiasi atas partisipasi warga.

Pemeriksaan spirometri ini bukan sekadar angka FEV1 dan FVC. Ia adalah cerita tentang warga desa yang peduli pada napasnya sendiri, karena seperti kata pepatah Tiongkok: ketika napas sempurna, wujud pun menjadi sempurna. *** [081026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Selasa, 06 Oktober 2026

Napas yang Tak Terbaca: Ketika Spirometri Kedua di Wringinrejo Menjadi Ujian Kesabaran

“Uno de los primeros pasos para una respiración saludable es extender las respiraciones, mover el diafragma arriba y abajo un poco más y sacar todo el aire antes de tomar otra bocanada.” -- James Nestor, Respira: La nueva ciencia de un arte olvidado

Di sebuah pendopo desa di Banyuwangi, 37 warga diundang kembali untuk mengulang tes spirometri, karena hasil pemeriksaan sebelumnya “tidak terbaca”. 

Dalam dunia kesehatan paru, mengulang spirometri adalah praktik standar ketika rekaman sebelumnya gagal memenuhi kriteria kualitas, entah karena teknik pernapasan yang kurang tepat, masalah peralatan sesaat, atau upaya maksimal pasien yang belum tercapai.

Spirometri adalah tes fungsi paru yang mengukur berapa banyak dan seberapa cepat seseorang dapat mengembuskan napas setelah menarik napas dalam-dalam. Namun, validitasnya sangat bergantung pada tiga pilar, yaitu teknisi terlatih, peralatan akurat, dan - yang sering kali paling sulit - upaya maksimal dan konsisten dari pasien.

Standar internasional mensyaratkan minimal tiga manuver yang “dapat diterima” (acceptable) dan “dapat diulang” (repeatable), di mana dua nilai tertinggi FEV1 dan FVC tidak boleh berbeda lebih dari 150 mL. 

Suasana pemeriksaan ulang spiromtri kedua di Pendopo Desa Wringinrejo, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi

Jika rekaman awal cacat, misalnya kurva yang terpotong, ada batuk di detik pertama, atau embusan tidak mencapai plateau, maka hasilnya dianggap tidak dapat diinterpretasi. Dalam situasi seperti itu, langkah terbaik adalah mengulang tes di hari lain, bukan memaksakan interpretasi dari data yang tidak memenuhi standar.

Di Desa Wringinrejo, dari 76 responden yang terindikasi faktor risiko PPOK pada pre-screening, sebanyak 72 di antaranya menghasilkan rekaman “unreadable” pada tiga sesi spirometri sebelumnya. Ini bukan kegagalan individu semata, melainkan cerminan betapa rumitnya menyelaraskan teknik, alat, dan kondisi fisiologis warga - banyak di antaranya lansia, dengan keterbatasan napas atau gangguan lambung.

Sabtu (03/10), tiga hari setelah pemeriksaan ulang pertama, dua enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Wringinrejo, Yunita Pratiwi Suprapto, S.T. dan Firda Octa Vidyawati, S.M., kembali menggelar spirometri kedua di Pendopo Desa Wringinrejo yang beralamt di Jalan Diponegoro No. 164, Dusun Krajan RT 04 RW 02, Desa Wringirejo, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi. 

Kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi ini melibatkan tiga kader kesehatan setempat - Evi Risky Damayanti, Ismaulfa, dan Siti Mukholifah - yang membantu pendaftaran, mobilisasi, hingga antar-jemput responden.

Dokter RS Yasmin Banyuwangi lakukan pemeriksaan fisik dengan menggunakan stetoskop

Alurnya persis seperti sesi-sesi sebelumnya, yang diawali dengan registrasi dan verifikasi data oleh tiga kader, pengukuran tekanan darah dan oksimetri oleh Perawat Imelda Arofah, S.Kep.Ns., anamnesis dan pemeriksaan fisik oleh dr. Sapto Aji Nugroho menggunakan aplikasi SMARThealth, lalu antrean menuju meja spirometri. 

Sambil menunggu, enumerator Nita dan Firda memanfaatkan waktu untuk melatih teknik “menyebul”, suatu embusan panjang, keras, dan terus-menerus, kepada responden yang masih bingung.

Di meja spirometri, terlihat dua tenaga kesehatan RS Yasmin lainnya, yaitu Ns. Renny Karmila, Ns. Rizki Indrawangi, serta Ns. Elik Anistina, S.Kep. yang membantu NIHR UB mengawasi jalannya tes. Perawat Renny memandu manuver, sementara Rizki mengoperasikan laptop yang terhubung dengan spirometer. 

Setelah tes tahap 1 (pre-nebulisasi), responden bergeser ke meja nebulisasi, di mana Ns. Winda Nurhasanah, S.Kep. memberikan terapi inhalasi untuk membuka saluran napas. Dua puluh menit kemudian, mereka kembali untuk tes tahap 2 (post-nebulisasi).

Dari 37 yang diundang, 27 berhasil menyelesaikan rangkaian pemeriksaan. Sepuluh lainnya terbersit kabar, ada yang sedang bepergian, bekerja, dalam masa iddah, menolak karena merasa sudah cek rutin ke rumah sakit, atau - yang paling menyedihkan - menyerah karena “spirometri itu susah”.

Tes spirometri tahap 1

Field Facilitator NIHR UB mencatat dua kasus yang gagal menyelesaikan tes saat menghadiri pemeriksaan ulang spirometri yang kedua ini. Seorang laki-laki paruh baya terpaksa berhenti di tahap 1 karena gangguan lambung yang kambuh saat diminta menarik napas dalam-dalam. Seorang lansia laki-laki 66 tahun, meski sudah diulang delapan kali, tak mampu menghasilkan embusan “los” yang diperlukan; napasnya terlalu pendek, terlalu pelan, terlalu ragu. Delapan kali embusan adalah batas maksimal yang direkomendasikan sebelum pasien kelelahan dan hasil semakin tidak akurat.

Kasus-kasus ini bukan anomali. Dalam pedoman spirometri, jika pasien tidak mampu menghasilkan tiga manuver yang acceptable setelah delapan upaya, tes dihentikan dan hasilnya dicatat dengan catatan keterbatasan teknis. Kadang, data terbaik yang ada tetap dilaporkan, namun dengan interpretasi sangat hati-hati dan disclaimer jelas.

Di tengah situasi seperti ini, ada pelajaran mendalam tentang napas itu sendiri. James Nestor, jurnalis sains dan penulis Breath: The New Science of a Lost Art (2020), pernah menulis: 

“Salah satu langkah awal menuju pernapasan yang sehat adalah memperpanjang durasi napas, menggerakkan diafragma sedikit lebih jauh ke atas dan ke bawah, serta mengembuskan napas sepenuhnya sebelum kembali menarik napas.”

Kalimat ini seolah menjadi mantra tak tertulis di Pendopo Wringinrejo. Setiap kali enumerator Nita atau Firda membisikkan, “Tarik napas dalam… tahan… sekarang embuskan pelan-pelan tapi terus, jangan berhenti,” mereka sebenarnya sedang mengajarkan filosofi napas yang sehat, yakni bukan sekadar mengisi paru, tapi mengosongkannya dulu, memberi ruang bagi udara baru yang lebih kaya oksigen.

Nebulisasi

Bagi banyak responden - terutama lansia yang terbiasa bernapas dangkal, atau pekerja lapangan yang terbiasa menahan napas saat mengangkat beban - ini adalah keterampilan baru. Mereka tidak gagal karena paru-parunya benar-benar bermasalah; mereka gagal karena tubuh mereka belum terlatih untuk “bernapas dengan benar” dalam konteks tes yang menuntut maksimalisme.

Pemeriksaan ulang spirometri kedua di Wringinrejo bukan hanya tentang mengumpulkan data FEV1 dan FVC yang valid. Ini adalah proses membangun kepercayaan, mengajarkan teknik, dan yang paling penting, menghormati keterbatasan tubuh manusia yang tak selalu bisa dipaksa masuk dalam protokol ketat.

Ketika seorang lansia gagal setelah delapan kali embusan, tenaga kesehatan tidak memaksanya. Enumerator lalu mencatat, tersenyum, dan memberikan konsumsi, gift serta subsidi transportasi seperti peserta lain. Karena dalam kesehatan masyarakat, kadang yang lebih berharga dari angka yang “sempurna” adalah kehadiran, kesabaran, dan pengakuan bahwa setiap napas, bahkan yang “gagal”, adalah bagian dari perjalanan menuju paru yang lebih sehat.

Spirometri mungkin mengukur volume dan aliran, tapi di Wringinrejo, ia juga mengukur sesuatu yang tak terlihat, yaitu ketahanan komunitas, empati tenaga kesehatan, dan keberanian warga untuk mencoba lagi, meski napas mereka belum siap untuk “dibaca” oleh mesin. *** [061026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Senin, 05 Oktober 2026

Di Rumah Kepala Desa Kaliploso, 27 Napas Diperiksa Satu per Satu

“Yemek çeşidi kadar nefes alma yöntemi vardır. Ve her yöntem vücudumuzu farklı etkiler".” -- James Nestor, Breath: The New Science of a Lost Art

Pagi itu, teras Rumah Kepala Desa Kaliploso terasa lebih ramai dari biasanya. Kursi-kursi disusun rapi, meja pendaftaran menunggu warga, dan sejumlah tenaga kesehatan bersiap dengan alat yang mungkin jarang dikenal warga, yaitu spirometer. Di balik kesederhanaan suasana itu, ada misi penting - membaca kualitas napas warga dan mendeteksi dini risiko penyakit paru obstruktif kronik, atau PPOK.

Pemeriksaan spirometri kelima itu digelar pada Jumat (02/10) di rumah Kepala Desa Rudi Hartono, S.Th.I, di Dusun Plosorejo RT 01 RW 05, Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RS NU) Banyuwangi.

“Ada beragam cara bernapas, sama banyaknya dengan jenis makanan. Dan setiap metode memengaruhi tubuh kita dengan cara yang berbeda,” tulis James Nestor dalam Breath: The New Science of a Lost Art (2020). Kalimat sederhana itu menegaskan satu hal, bahwa napas bukan sekadar aktivitas otomatis. Ia adalah sinyal kesehatan, dan spirometri hadir untuk membacanya.


Meja pendaftaran


Dari Pre-Screening ke Tes Spirometri

Kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB. Sebanyak 27 responden hasil pre-screening yang terindikasi memiliki faktor risiko PPOK diundang. Mereka bukan sekadar peserta; mereka adalah warga yang napasnya perlu dipastikan tidak menyimpan masalah tersembunyi.

Seluruh proses dikoordinasikan oleh dua enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC), Rahmanurraudhotul Amin, SKM, dan Rafini Aminatul Hidayah, S.Tr.Gz. Keduanya dibantu tiga kader setempat: Harum Wijayanti, Sundari, dan Sutiyani Eka Rahayu. Dua kader lainnya tidak dapat hadir karena alasan yang sangat manusiawi - Rio Dita Wibawa baru saja terserang flu berat, sementara Sri Hidayati sedang berduka.

Alur pemeriksaan dibagi menjadi empat tahap yang sederhana, namun terukur. Responden pertama-tama menuju meja pendaftaran di teras barat, berdampingan dengan serambi mushola. Di sana, enumerator Rafini bersama para kader melakukan registrasi dan verifikasi data.

Setelah itu, mereka berpindah ke meja tanda-tanda vital (TTV) di teras timur, tepat di belakang warung. Bidan Muqodimah, A.Md.Keb., menimbang berat badan, mengukur tekanan darah, dan melakukan oksimetri. Di sebelahnya, Perawat Siti Nur Indah Sari melakukan anamnesis melalui aplikasi SMARThealth.


Pengukuran berat badan


Belajar Menyebul yang Benar

Dari meja TTV, responden masuk ke ruang tamu dan duduk di kursi antrean. Di sinilah enumerator Rahman memberikan edukasi tentang teknik menyebul yang benar. Terdengar sepele, tetapi cara menyebul yang benar menentukan dalam tes spirometri.

Tak lama, panggilan dari meja spirometri terdengar. Meja itu berada di sisi selatan ruang tamu, tempat dua perawat RS NU Banyuwangi - Ayu Septi dan Ismi Balqis - bersiap bekerja. Mereka didampingi Ns. Elik Anistina, S.Kep., yang membantu NIHR UB memantau jalannya tes.

Di meja ini, Perawat Ayu memandu manuver pernapasan, sementara Perawat Ismi mengoperasikan alat spirometer MIR SpiroLab milik NIHR UB yang terhubung dengan mouthpiece. Responden diminta menarik napas sedalam mungkin, lalu menghembuskannya dengan kuat dan tahan. Angka-angka pada layar mulai berbicara, yaitu seberapa besar kapasitas paru, seberapa cepat udara keluar, dan apakah ada tanda penyempitan saluran napas.

Tes tahap pertama dilakukan sebelum pemberian semprotan salbutamol, atau pre-semprotan salbutamol. Setelah itu, responden kembali duduk selama 20 menit. Waktu tunggu ini bukan sekadar jeda; salbutamol perlu bekerja untuk melebarkan saluran pernapasan sebelum tes kedua dilakukan.

Ketika panggilan berikutnya datang, responden menjalani spirometri tahap kedua atau post-semprotan salbutamol. Prosedurnya sama, tetapi hasilnya dapat memberi gambaran penting: apakah gangguan napas bersifat reversibel atau menunjukkan indikasi PPOK.


Tes spirometri


Satu Suara yang Tak Terdengar

Jika kedua tahapan berjalan lancar, responden selesai dan kembali ke meja pendaftaran. Di sana, enumerator Rafini dan para kader menyiapkan konsumsi, gift, serta subsidi transportasi sebagai bentuk apresiasi.

Pemeriksaan berakhir pukul 12.44 WIB. Field Facilitator NIHR UB mencatat bahwa seluruh 27 responden yang diundang hadir. Namun, tidak semua akhirnya dapat menyelesaikan pemeriksaan.

Seorang lansia perempuan berumur 88 tahun harus dikeluarkan dari tes karena memiliki keterbatasan pendengaran. Ia tidak mampu mengikuti aba-aba yang menjadi bagian krusial dalam spirometri. Tanpa instruksi yang jelas, manuver pernapasan tidak dapat dilakukan secara konsisten, sehingga hasil tes berisiko tidak valid.

Momen itu menjadi pengingat bahwa layanan kesehatan tidak selalu berbicara dalam satu bahasa. Kadang, hambatan terbesar bukan pada alat canggih atau prosedur medis, melainkan pada kemampuan sistem untuk menjangkau setiap warga, termasuk mereka yang mendengar dunia dengan cara berbeda.


Semprotan salbutamol


Napas yang Layak Diperhatikan

PPOK sering disebut “penyakit senyap” karena gejalanya - batuk kronis, sesak, dan napas memendek - kerap dianggap normal akibat usia atau kebiasaan merokok. Padahal, deteksi dini melalui spirometri dapat membuka peluang penanganan lebih awal.

Kegiatan di Kaliploso menunjukkan bahwa pemeriksaan kesehatan tidak harus selalu dilakukan di rumah sakit. Ia bisa hadir di teras rumah kepala desa, di sela aktivitas warga, dan dikelola bersama kader lokal. Dari 27 warga yang hadir, setiap napas yang diukur adalah upaya kecil untuk mencegah masalah yang lebih besar di kemudian hari.

Pada akhirnya, spirometri kelima di Desa Kaliploso bukan hanya soal angka kapasitas paru. Ia adalah cerita tentang warga yang belajar mengenali napasnya, tenaga kesehatan yang bekerja telaten, dan komunitas yang mulai memahami bahwa menjaga paru sama pentingnya dengan menjaga makanan yang masuk ke tubuh.

Sebagaimana diingatkan James Nestor, cara bernapas memengaruhi tubuh dengan cara yang berbeda. Dan di Kaliploso, memastikan setiap warga dapat bernapas dengan baik adalah langkah awal yang tidak boleh diabaikan. *** [031026]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Minggu, 18 Januari 2026

Gebyar Lansia Triwulanan, Semangat Usia Senja di Lapangan Desa Mendalanwangi

"It's not how old you are. It's how you are old."  -- Jules Renard

Ahad (18/01) pagi ini, suasana Lapangan Desa Mendalanwangi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, tampak semarak meski awan mendung menggelayuti langit. Sejak dini hari, tepatnya bakda Subuh, satu per satu rombongan lansia mulai berdatangan dari berbagai kecamatan di Kabupaten Malang. 

Mereka hadir dengan wajah ceria dan semangat yang menyala untuk mengikuti Gebyar Lansia Triwulanan, sebuah kegiatan rutin yang digelar oleh Perwakilan Yayasan Gerontologi Abiyoso (PYGA) Kabupaten Malang.

Sambutan dari Perwakilan Bupati Malang

Di sepanjang lapangan desa, suasana kian hidup dengan hadirnya para pedagang dadakan yang berjajar rapi. Aneka jajanan, minuman, hingga kebutuhan sederhana turut memeriahkan kegiatan yang menjadi ajang silaturahmi dan kebugaran bagi para lanjut usia ini. 

Lapangan Mendalanwangi pagi itu bukan sekadar ruang terbuka, melainkan ruang perjumpaan, perayaan, dan bukti bahwa usia senja tetap bisa dijalani dengan aktif dan bermakna.

Meja registrasi peserta Senam Lansia Triwulanan di Lapangan Desa Mendalanwangi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang

Yayasan Gerontologi Abiyoso Kabupaten Malang sendiri dikenal sebagai organisasi yang fokus pada kesejahteraan lansia. Beragam kegiatan rutin seperti senam lansia, sosialisasi kesehatan, hingga studi banding ke daerah lain menjadi ikhtiar nyata untuk meningkatkan kualitas hidup lansia. Pada kesempatan kali ini, PYGA menggelar Senam Lansia Triwulanan se-Kabupaten Malang dengan skala yang cukup besar.

Menurut Koordinator PYGA Kecamatan Bululawang, Sandi Cahyadi, jumlah peserta yang diundang mencapai 2.065 orang. Dari Kecamatan Bululawang sendiri hadir 208 peserta, sementara Kecamatan Wagir sebagai tuan rumah menjadi penyumbang peserta terbanyak dengan sekitar 500 lansia. 

Senam Lansia Bersama dengan Instruktur

Kegiatan ini juga dihadiri oleh KLPI Kabupaten, Forkopimcam Wagir, seluruh Kepala Desa se-Kecamatan Wagir, insan kesehatan dari Puskesmas Wagir, kader kesehatan Desa Mendalanwangi, sejumlah outlet di dalam lapangan, serta salah seorang anggota Tim SMARThealth Universitas Brawijaya (UB).

Acara diawali dengan registrasi peserta dan persiapan senam, dilanjutkan dengan pembukaan resmi melalui lantunan lagu Indonesia Raya dan Mars Lansia. Tepat pukul 07.07 WIB, Ketua Panitia yang juga Kepala Desa Mendalanwangi, Muhammad Sharoni, S.Pt., menyampaikan sambutannya. Selanjutnya, sambutan disampaikan oleh perwakilan Bupati Malang. Meski Bupati Malang berhalangan hadir karena agenda penting lainnya, pesan yang disampaikan tetap mengundang apresiasi.

Kepala Desa dan Ketua TP PKK Desa Mendalanwangi turut serta dalam Senam Lansia Bersama

Dalam sambutannya, perwakilan Bupati Malang menyebut bahwa Gebyar Lansia Triwulanan ini kemungkinan menjadi satu-satunya kegiatan rutin berskala kabupaten yang secara konsisten diperuntukkan bagi lansia, tidak hanya di Kabupaten Malang, tetapi juga disinyalir jarang ditemui di daerah lain di Indonesia. 

Usai sambutan, momen haru pun tercipta ketika perwakilan Bupati membagikan uang ratusan ribu rupiah kepada para lansia berusia di atas 90 tahun, langsung di depan panggung utama.

Lansia berkebaya pink itu tak kalah gemulainya dengan yang lainnya

Kemeriahan berlanjut dengan penampilan senam kreasi yang dibawakan oleh peserta berkostum tradisional berwarna merah dengan mahkota, menambah nuansa budaya dan keanggunan usia senja. Setelah itu, Senam Lansia Bersama (Senam Lansia Bugar) menjadi puncak kegiatan, diikuti oleh ribuan peserta dan tamu undangan dengan penuh antusias.

Sepanjang pengamatan salah seorang anggota Tim SMARThealth UB yang aktif berkeliling lokasi, tampak para peserta mengenakan seragam khas masing-masing kelompok. Sebagian terlihat mengenakan kaos Klub Jantung Sehat Kabupaten Malang.

Kepala Puskesmas Wagir memimpin langsung nakes dan kader kesehatan di Posyankes yang didirikan di pojok lapangan

Di sudut barat daya lapangan, sekelompok lansia tampil mencuri perhatian dengan kebaya pink yang anggun. Gerakan mereka tetap gemulai, penuh semangat, dan tak kalah energik dibanding peserta lainnya.

Tak hanya soal kebugaran, aspek kesehatan juga mendapat perhatian serius. Di salah satu sudut lapangan, berdiri stand Posyankes yang dipimpin langsung oleh Kepala Puskesmas Wagir, dr. Siti Hariyanti. Di stand ini, dilaksanakan kegiatan Posbindu PTM oleh kader kesehatan Desa Mendalanwangi bersama tenaga kesehatan Ponkesdes dan nakes lainnya dari lingkungan Puskesmas Wagir. Layanan yang diberikan meliputi skrining faktor risiko penyakit tidak menular pada lansia, hingga pemeriksaan mata.

Skrining PTM di Posyankes yang dilakukan oleh kader dan nakes

Gebyar Lansia Triwulanan di Mendalanwangi pagi itu menjadi gambaran nyata bahwa usia lanjut bukanlah batas untuk berhenti bergerak, berkarya, dan bersosialisasi. Seperti ungkapan penulis Prancis Jules Renard (1864-1910):

“Bukan berapa umurmu yang penting, tapi bagaimana kamu menjalani hidupmu di usia tua itu.”

Di bawah langit mendung di Lapangan Mendalanwangi, para lansia Kabupaten Malang membuktikan bahwa hidup di usia senja tetap bisa dijalani dengan sehat, bahagia, dan penuh semangat. *** [180126] 

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Rabu, 08 Oktober 2025

Menyapa Pasien di Rumah: Upaya Pelacakan untuk Menjaga Validitas Penelitian Pengendalian Hipertensi

"The best research you can do is talk to people."  -- Sir Terry Pratchett

Dalam penelitian Pengembangan Model Health Coaching untuk Pengendalian Hipertensi di Layanan Primer, keberadaan setiap responden menjadi bagian penting untuk memastikan keutuhan data, validitas temuan, dan keberhasilan intervensi. Namun, seperti lazimnya di lapangan, tidak semua pasien dapat hadir dalam setiap sesi yang telah dijadwalkan. Di sinilah pelacakan atau tracking memainkan peran sentral.

Pelacakan responden yang tidak hadir bukan sekadar langkah administratif. Ia merupakan upaya aktif untuk mencegah potensi bias - karena mereka yang absen bisa jadi memiliki karakteristik atau tantangan berbeda dari yang hadir. 

Tanpa pelacakan, hasil penelitian berisiko kehilangan relevansi dan kekuatan generalisasinya. Oleh karena itu, tim lapangan memastikan bahwa tidak ada suara yang tertinggal, termasuk mereka yang terhalang hadir karena kondisi personal maupun sosial.

Home visit di Desa Wonokerso 

Pada Rabu (08/10), sekitar pukul 08.30 WIB, Field Supervisor bertolak dari Puskesmas Pakisaji untuk melakukan home visit. Dipandu langsung oleh Penanggung Jawab Promosi Kesehatan Pj Promkes) Puskesmas Pakisaji, Mochamad Faizin, SKM, perjalanan menuju rumah dua pasien hipertensi dari kelompok intervensi pun dimulai. Lokasi yang dituju tersebar di dua dusun di Kecamatan Pakisaji: Dusun Segegeng, Desa Wonokerso dan Dusun Pakisaji, Desa Pakisaji.

Pasien pertama adalah seorang perempuan berusia 41 tahun yang tinggal di Dusun Segegeng RT 14 RW 03. Ketika dikunjungi, ia menyambut dengan ramah. Ia menjelaskan bahwa ketidakhadirannya dalam sesi health coaching kedua disebabkan oleh tanggung jawab mengasuh bayi yang tidak bisa ditinggal. 

Meskipun demikian, ia sempat hadir pada sesi pertama dan menerima kunjungan lanjutan dari Pj Promkes serta kader kesehatan setempat untuk sesi kedua. Komitmen semacam ini menunjukkan pentingnya pendekatan personal dalam memastikan keberlanjutan intervensi.

Pasien kedua adalah seorang perempuan lansia berumur 72 tahun yang tinggal di Dusun Pakisaji RT 05 RW 01. Ketidakhadirannya dalam sesi ketiga terjadi karena bertepatan dengan acara pernikahan anaknya. Meski demikian, ia tetap membuka diri saat tim datang dan memberikan informasi yang dibutuhkan.

Home visit di Desa Pakisaji

Kunjungan ini membuktikan bahwa berbicara langsung dengan responden memberikan pemahaman yang lebih dalam dibanding sekadar mencatat absensi. Seperti yang dikatakan oleh Sir Terry Pratchett (1948-2015), seorang humoris, satiris, dan penulis novel fantasi dalam bahasa Inggris:

"Penelitian terbaik yang dapat Anda lakukan adalah berbicara langsung dengan orang lain." 

Kalimat bijak ini menjadi fondasi dari pendekatan lapangan dalam penelitian ini - menjadikan manusia bukan hanya sebagai objek studi, tetapi sebagai mitra aktif dalam perubahan kesehatan.

Pelacakan responden secara langsung ke rumah tidak hanya menyelamatkan data. Ia juga menciptakan kepercayaan, meningkatkan keterlibatan peserta, dan memastikan bahwa intervensi health coaching benar-benar menjangkau mereka yang paling membutuhkan. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menghasilkan temuan yang valid, tetapi juga dampak yang nyata. *** [081025]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Sabtu, 16 Agustus 2025

Hari Ketiga Health Coaching di Puskesmas Wagir – Tiga Lansia, Tiga Kisah, Satu Semangat

Seperti yang diutarakan oleh dr. Arief Alamsyah, MARS, Sp.KKLP dalam “Pelatihan Health Coaching untuk Dokter dan Tenaga Promkes Puskesmas di Kabupaten Malang”, setiap Puskesmas hanya membutuhkan 13 pasien hipertensi sebagai sasaran coaching. Namun, di balik angka itu, tersembunyi cerita-cerita kecil yang menyentuh, seperti yang terjadi pada hari ketiga pelaksanaan Health Coaching di Puskesmas Wagir, Jumat (15/08).

Enumerator Anis Khurniawati, S.Sos yang sebelumnya telah mewawancarai lima pasien pada Selasa (12/08) dan membantu lima wawancara di Puskesmas Ngajum pada Rabu (13/08), meneruskan tugasnya pada Kamis (14/08) dengan tiga wawancara pasien. Dua pasien tambahan saat itu dibantu oleh Field Supervisor yang menghandle dalam prosesi Health Coaching di Ngajum.

Puskesmas Wagir pada pukul 07.27 WIB di hari Jumat (15/08)

Jumat pagi, giliran Field Supervisor kembali mengambil peran. Ia tiba di Puskesmas Wagir pukul 07.24 WIB. Mengingat hari Jumat adalah hari pendek, penjadwalan dilakukan lebih awal. Setelah bertemu dengan Penanggung Jawab Program Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Pj PTM) Fenny Noviana, A.Md.Kep, mereka menuju Ruang Pandu untuk memulai sesi wawancara dengan tiga pasien yang sangat istimewa.

Ketiganya adalah laki-laki lanjut usia yang datang dari rumah mereka masing-masing yang berjarak sekitar tiga kilometer dari Puskesmas. Pasien pertama berusia 65 tahun dengan keterbatasan penglihatan. Pasien kedua, seorang pensiunan berumur 66 tahun, sementara pasien ketiga adalah sosok penuh semangat berusia 80 tahun, yang hadir bersama cucu perempuannya yang setia mendampingi.

Field Supervisor menuntun pasien lansia berkebutuhan khusus untuk memberikan cap jepol dalam informed consent

Mengingat usia para pasien, proses wawancara berlangsung dengan pendekatan yang lebih sabar dan komunikatif. Field Supervisor sering melakukan probing - memancing pemahaman lebih dalam agar inti pertanyaan tersampaikan dengan jelas dan mudah dimengerti. Meski demikian, suasana wawancara terasa santai dan akrab.

Selama proses tersebut, Pj PTM turut membantu dalam pengukuran tinggi dan berat badan. Selesai wawancara, pasien diarahkan ke Ruang Pemeriksaan yang terletak di sisi utara area pendaftaran. Di sana, dr. Faradina Puspitasari dan Penanggung Jawab Promosi Kesehatan (Pj Promkes) Indah Nur Putri Pratiwi, SKM, sudah bersiap memberikan sesi health coaching.

Setelah diukur tinggi dan berat badan oleh Pj PTM, Field Supervisor melakukan pengukuran tekanan darah

Sesi coaching dilakukan secara personal dan menyeluruh. Pj Promkes mencatat poin-poin coaching dalam logbook sebagai bahan untuk tindak lanjut melalui panggilan telepon kepada pasien di hari-hari mendatang.

Prosesi health coaching hari Jumat ini berjalan lancar. Wawancara dimulai pukul 07.35 WIB dan berakhir pukul 09.10 WIB. Namun sesi coaching masih berlanjut hingga pukul 10.00 WIB, memastikan setiap pasien mendapatkan perhatian dan arahan yang maksimal.

Dengan semangat merah putih, dokter Puskesmas Wagir berikan health coaching kepada pasien lansia yang didampingi cucu perempuan kesayangannya

Ketiga pasien lansia ini memberi pelajaran berharga - bahwa usia bukan halangan untuk tetap peduli pada kesehatan. Mereka datang dari jarak tak dekat, dengan niat dan kesungguhan yang patut diapresiasi. 

Semangat mereka menjadi pengingat bagi kita semua bahwa perubahan besar dalam kesehatan masyarakat dimulai dari langkah kecil, seperti hadir lebih pagi demi mendapatkan pendampingan yang lebih baik. *** [160825]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Implementasi Health Coaching di Puskesmas Pakisaji sebagai Bagian dari Pengembangan Model Health Coaching Untuk Pengendalian Hipertensi di Layanan Primer

Setelah menyelesaikan pendampingan sesi health coaching di Puskesmas Wagir pada Kamis (14/08), Field Supervisor yang juga menghandle health coaching di Puskesmas Ngajum, melanjutkan tugas ke Puskesmas Pakisaji untuk kegiatan serupa. 

Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi penelitian S3 dr. Arief Alamsyah, MARS, Sp.KKLP yang berjudul “Pengembangan Model Health Coaching Untuk Pengendalian Hipertensi di Layanan Primer.

Enumerator sedang wawancara pasien di Ruang Konsultasi & Pengaduan Puskesmas Pakisaji disaksikan oleh Pj Promkes

Sesuai informasi dari Enumerator Pakisaji, Elmi Kamilah, S.Sos., kegiatan health coaching dijadwalkan pukul 11.30 WIB, sehingga perjalanan dari Wagir masih memungkinkan untuk menjangkau kegiatan tepat waktu. 

Setibanya di Ruang Konsultasi dan Pengaduan, tiga pasien telah hadir dan proses wawancara sedang berlangsung dengan disaksikan oleh Pj Promosi Kesehatan (Promkes) Puskesmas Pakisaji, Mochammad Faizin, SKM.

Selesai bantu enumerator Wagir, Field Supervisor berkesempatan membantu wawancara pasien di Puskesmas Pakisajia pada Kamis (14/08)

Field Supervisor segera mengambil peran dengan meminta Lembar Penjelasan Kepada Calon Subyek Penelitian dan kuesioner untuk turut membantu proses wawancara. Salah satu pasien yang diwawancarai adalah perempuan berusia 48 tahun. Namun, pengukuran tekanan darah sempat mengalami kendala karena ukuran manset tensimeter tidak sesuai dengan ukuran lengan pasien.

Untuk mengatasi hal tersebut, Pj Promkes membantu melakukan pengukuran ulang menggunakan tensimeter milik Puskesmas di Ruang Klaster 3 (Dewasa & Lansia). Saat itu, dr. Herdiana Ayu Saputri Pramudyawati sedang melaksanakan sesi health coaching dengan pasien pertama. Meskipun dalam kondisi hamil tua, dr. Herdiana tetap menunjukkan komitmen dan semangat tinggi dalam memberikan coaching kepada pasien.

Pj Promkes membantu mengukur tekanan darah pasien yang berlengan tambun dengan manset berukuran besar

Sesi coaching ditutup dengan pemberian modul edukasi berjudul “Bersahabat dengan Hipertensi” yang disusun oleh dr. Arief Alamsyah untuk membantu pasien memahami dan mengingat materi yang telah disampaikan. Modul ini mencakup lima topik utama: pengertian hipertensi, pola makan sehat, pentingnya aktivitas fisik, manajemen stres, serta kepatuhan dalam minum obat.

Menurut laporan Enumerator Elmi Kamilah, sesi hari Kamis ini merupakan pelaksanaan health coaching hari ketiga di Puskesmas Pakisaji. Pada hari pertama (Selasa, 12 Agustus), berhasil diwawancarai 3 pasien, dan pada hari kedua (Rabu, 13 Agustus) sebanyak 4 pasien. Hari ini kembali hadir 3 pasien yang mengikuti sesi secara aktif.

Di Ruang Klaster 3 (Dewasa & Lansia), dokter Puskesmas Pakisaji berikan health coaching kepada pasien dan didampingi Pj Promkes dengan logbooknya

Setelah memastikan kegiatan berjalan lancar, Field Supervisor berpamitan kepada dr. Herdiana, Pj Promkes, dan Enumerator untuk kembali ke Sekretariat SMARThealth di Kepanjen. Pada sore harinya, Field Supervisor dijadwalkan memberikan pelatihan enumerator bagi 11 mahasiswa Farmasi Universitas Brawijaya (UB) yang akan bertugas melakukan skrining Model SMARThealth di lapangan.

Implementasi health coaching dalam pengembangan model ini sebagai sebuah ikhtiar besar dalam menjawab tantangan pengendalian hipertensi di layanan primer. Sinergi antar tenaga kesehatan, peneliti, dan masyarakat menjadi kunci untuk menciptakan layanan yang lebih manusiawi, edukatif, dan berbasis bukti. *** [160825]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Selasa, 25 Februari 2025

Semarak Skrining PTM di Kantor Kelurahan Kepanjen: Sinergi untuk Kesehatan Warga

Mulai pagi pada pukul 07.00 WIB di hari Selasa (25/02), suasana semarak terlihat di halaman Kantor Kelurahan Kepanjen, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, tempat berlangsungnya skrining penyakit tidak menular (PTM) bagi warga setempat.

Warga berbondong-bondong untuk memeriksakan kesehatan mereka dalam kegiatan yang digelar, se sebuah bentuk kerja sama kolaboratif antara Puskesmas Kepanjen, Pemerintah Kelurahan Kepanjen, dan kader kesehatan.

Kader dan nakes berpose dengan Lurah Kepanjen

Dari remaja, dewasa hingga lansia, mereka antusias mengikuti pemeriksaan tekanan darah, gula darah, serta tes kesehatan lainnya. Para kader kesehatan tampak sigap membantu jalannya skrining, dan membaur dengan tenaga kesehatan yang berasal dari Ponkesdes Panji Husada dan Puskesmas Kepanjen.

Skrining PTM dimulai pada pukul 07.00 WIB. Sesuai undangannya, warga membawa Kartu Keluarga (KK) maupun KTP dan diserahkan ke pendaftaran. Ada 2 kader yang bertugas yaitu Kristin Mariana dan Dewi Kartikasari. Mereka akan menuliskan identitas warga, seperti nama, jenis kelamin, tanggal lahir, NIK, alamat dan tanggal pemeriksaan.

Setelah itu, diserahkan kepada Khusnul Yakin, staf Puskesmas Kepnajen, untuk dicek dahulu dalam database yang ada di Puskesmas Kepanjen. Kalau warga tersebut pernah periksa ke Puskesmas, maka akan muncul namanya. Sebaliknya, jika belum pernah periksa maka akan didaftar menjadi pasien baru.

Semarak skrining PTM terlihat dari gerbang paduraksa Kantor Kelurahan Kepanjen, Kecmatan Kepanjen, Kabupaten Malang

Sehabis dicek dalam database, warga akan mendapatkan panggilan dari kader Febriaty untuk segera melakukan pengukuran antropometri, seperti berat dan tinggi badan serta lingkar perut. Pengukuran antropometri ini dilakukan oleh 3 kader, yaitu Harti, Rusmini, dan Wiwik Setya Anggraeni, S.H. Hasil pengukurannya dicatat oleh Febri dalam Kartu Skrining Kesehatan Posbindu PTM.

Usai pengukuran antropometri, warga dipersilakan menuju ke meja berikutnya untuk mendapatkan layanan pengukuran tekanan darah. Terdapat 4 orang di meja tersebut, yakni Tri Lestari, S.ST (Puskesmas Kepanjen), Yudha Purwaningdyah Sarihandini, A.Md.Keb (bidan Desa Ngadilangkung), Miftakhul Nimas Triyastuti, A.Md. Gz (Puskesmas Kepanjen), dan kader Sumarmi Warto Dewo.

Tri Lestari dan Sumarmi melakukan pengukuran tekanan darah, dan hasilnya dicatat oleh bidan Yudha. Sementara itu, Nimas bertugas melakukan pendaftaran untuk menuju ke meja pemeriksaan berikutnya.

Suasana skrining PTM yang diselenggarakan oleh Puskesmas Kepanjen yang berkolaborasi dengan Pemerintah Kelurahan dan kader kesehatan

Meja selanjutnya adalah meja pemeriksaan laborat. Meja ini diperkuat oleh 3 tenaga kesehatan (nakes) dari Laborat Puskesmas Kepanjen, yaitu Yogi Agung Hermawan, A.Md.Kes., Awang Endro Utomo, A.Md.Kep., dan Dani Rahardi S., A.Md.Kep.

Ketiga nakes laborat itu, melakukan pemeriksaan gula darah sewaktu (GDS) dan gula darah puasa (GDP). Hasilnya ini langsung terlihat atau jadi. Sedangkan, untuk pemeriksaan kolesterol, asam urat, HDL (High Density Lipoprotein/kolesterol baik), LDL (Low-Density Lipoprotein/kolesterol jahat), dan Trigliserida (jenis lemak yang mengalir dalam darah).

Selain ketiga nakes laborat, di meja tersebut terdapat kader Agustin Shintowati yang membantu konfirmasi form sebelum diambil darahnya, perawat Nurul Mashfiyah, A.Md.Kep yang menjadi nara hubung form skrining dari meja tersebut kepada dokter, dan Nidya Rosalin, S.Kep. Ners dari Puskesmas Kepanjen yang bertugas membantu menyiapkan ubarampe dalam pemeriksaan darah, seperti Vaccum Blood Collection Tube OneMed, Disposable Syringe With Needle 3 ml, dan tourniquet (pembendung pembuluh darah).

Staf Laborat Puskesmas Kepanjen lakukan phlebotomy

Pemeriksaan darah yang telah dimasukkan dalam tabung kecil itu akan dilakukan di Laborat Puskesmas Kepanjen. Mulai tahun ini, Puskesmas Kepanjen telah memiliki 3 laborat, sehingga pemeriksaan darah menjadi lebih cepat dari tahun-tahun sebelumnya.

Usai warga mengikuti phlebotomy dari nakes Laborat, maka ia akan disarankan untuk menuju ke meja dokter. Di meja itu terlihat ada 2 dokter fungsional dari Puskesmas Kepanjen, yaitu dr. Hadaya Trias Ramadani dan dr. Afif Bachtiar Rifa’i.

Kedua dokter tersebut akan memberikan konsultasi penyakit maupun kesehatan kepada warga, terutama bagi mereka yang mempunyai faktor risiko tinggi (highrisk), dan sekaligus akan meresepkan obat.

Warga lakukan konsultasi penyakit maupun kesehatan dengan 2 dokter fungsionalis Puskesmas Kepanjen

Obat untuk beberapa hari bisa diambil di meja samping yang dilayani oleh Marina Anjarwati, A.Md.Kep. (Pj. PTM Puskesmas Kepanjen) dan Feby Cahyaning Intanswari, S.Farm dari Farmasi Universitas Brawijaya (UB) yang sedang mengambil profesi.

Sedangkan, untuk kebutuhan obat yang sebulan penuh bagi warga akan diberikan oleh Puskesmas Kepanjen melalui kader setempat, khususnya bagi pemilik kartu BPJS dengan fasilitas kesehatan (faskes) yang dialamatkan di Puskesmas Kepanjen. Sementara itu, yang non faskes Puskesmas Kepanjen disarankan untuk mengambil obatnya di faskesnya masing-masing.

Sehabis itu, warga akan mendapatkan pemberian makanan tambahan yang diberikan oleh kader Ninik Kartini yang disaksikan oleh Koordinator Kegiatan, Mamik Makrifatin, S.ST (bidan Ponkesdes Panji Husada Kepanjen).

Mahasiswi Farmasi UB yang sedang ambil profesi membantu nakes Puskesmas Kepanjen dalam memberikan obat kepada pasien highrisk

Layanan pemeriksaan skrining PTM yang dihadiri salah seorang Tim SMARThealth UB ini selesai pada pukul 11.54 WIB. Dari 150 undangan yang disebar, sebanyak 145 warga (88 puasa, dan 57 tidak puasa) berhasil menjalani pemeriksaan kesehatan, menunjukkan tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnya deteksi dini penyakit seperti diabetes, hipertensi, dan gangguan metabolik lainnya.

Kegiatan ini bukan sekadar agenda rutin, tetapi juga bentuk kepedulian bersama dalam menciptakan masyarakat yang lebih sehat. Dengan adanya skrining ini, diharapkan warga lebih memahami kondisi kesehatannya dan dapat mengambil langkah preventif lebih awal demi kualitas hidup yang lebih baik. *** [250225]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Risk Checker

Risk Checker

Indeks Massa Tubuh

Supplied by BMI Calculator Canada

Statistik Blog

Sahabat eKader

Label

Arsip Blog