“Take a deep breath. Inhale peace. Exhale happiness.” -- A.D. Posey
Di balik setiap tarikan dan embusan napas, tersimpan cerita tentang kesehatan, usia, dan perjuangan tubuh manusia. Sabtu pagi, Pendopo Desa Tamanagung kembali menjadi tempat bagi puluhan warga untuk mengenali kondisi paru-paru mereka melalui pemeriksaan spirometri.
“Tarik napas dalam-dalam. Hirup kedamaian. Hembuskan kebahagiaan.”
Kutipan A.D. Posey tersebut seolah mengingatkan bahwa bernapas bukan sekadar proses alami yang berlangsung tanpa disadari. Bagi sebagian orang, setiap tarikan napas justru menjadi hal berharga yang perlu dijaga.
Sabtu (10/10) pagi, suasana Pendopo Desa Tamanagung di Jalan Sraten No. 07, Dusun Krajan, RT 02 RW 04, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, kembali diwarnai aktivitas pemeriksaan kesehatan.
Untuk keempat kalinya, tiga enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC), yakni Fahmi Ahmad Fauzan, S.Sos., Dysa Fitri Permatasari, S.Tr.Kes., M.Kes., dan Nisaul Rofifah, S.Gz., menyelenggarakan pemeriksaan spirometri bagi warga yang terindikasi memiliki faktor risiko penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
Kegiatan hasil kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RS NU) Banyuwangi ini dimulai pukul 08.00 WIB. Sebanyak 35 warga yang telah melalui proses pre-screening diundang untuk mengikuti pemeriksaan.
Dua kader kesehatan setempat, Ade Fitria Ningsih dan Ratna Mujayanah, turut membantu mobilisasi responden dengan mengantarkan undangan dua hari sebelum pelaksanaan serta mendampingi kegiatan pada hari pemeriksaan.
![]() |
| Personel RS NU Banyuwangi berpose dengan enumerator baseline survey, kader kesehatan, pengawas tes spirometri, dan Field Facilitator NIHR UB |
Empat meja, satu tujuan
Rangkaian pemeriksaan berlangsung melalui empat meja pelayanan yang disusun untuk menjaga keteraturan alur sekaligus mendukung proses pemeriksaan yang sistematis.
Di meja pertama, kader Ade Fitria dan Ratna menyambut warga untuk melakukan registrasi serta verifikasi data. Setelah itu, responden menunggu giliran di bangku antrean. Sambil menanti panggilan, enumerator Fauzan memberikan arahan mengenai teknik meniupkan napas yang benar agar responden lebih siap menjalani pemeriksaan.
Panggilan berikutnya mengarahkan responden ke meja kedua, yakni meja tanda-tanda vital (TTV). Bidan Umri Yasirah, S.Keb., melakukan penimbangan berat badan, pengukuran tekanan darah, dan pemeriksaan saturasi oksigen menggunakan oksimeter. Selanjutnya, Perawat Ratna Lauranita, S.Kep., melakukan anamnesis melalui aplikasi SMARThealth untuk menghimpun informasi kesehatan responden.
Dari meja TTV, responden menuju meja ketiga untuk menjalani pemeriksaan spirometri. Apabila alat masih digunakan, mereka kembali menunggu hingga mendapat giliran. Di meja ini, Perawat Marni Erlina, S.Kep.Ns., melakukan manuver pemeriksaan tahap pertama atau pre-salbutamol, dengan bantuan Perawat Joenhiga, S.Kep.Ns., yang mengoperasikan alat spirometri MIR SpiroLab milik NIHR UB. Proses tersebut turut disaksikan Ns. Elik Anistina, S.Kep., yang membantu pengawasan pemeriksaan.
Spirometri merupakan pemeriksaan fungsi paru-paru yang mengukur volume udara yang dapat dihirup dan diembuskan seseorang. Untuk memperoleh hasil yang dapat dinilai, pemeriksaan dilakukan berulang menggunakan teknik yang valid dan memenuhi kriteria keterulangan. Pengukuran ini membantu memberikan gambaran objektif mengenai fungsi pernapasan, termasuk dalam penilaian risiko gangguan paru-paru.
Setelah tahap pertama selesai, responden mendapatkan semprotan salbutamol sesuai prosedur, kemudian beristirahat selama 20 menit. Obat tersebut membantu membuka saluran napas sehingga fungsi paru-paru dapat diukur kembali. Sesudah waktu istirahat, responden menjalani pemeriksaan tahap kedua atau post-salbutamol dengan prosedur serupa.
Tahapan ini menjadi bagian penting dalam pengamatan respons saluran napas terhadap bronkodilator. Namun, tidak semua pemeriksaan berjalan mudah. Kondisi fisik, riwayat penyakit, dan kemampuan responden mengikuti manuver pernapasan dapat memengaruhi kualitas hasil yang diperoleh.
![]() |
| Pengukuran tekanan darah, oksimetri dan anamnesis menggunakan aplikasi SMARThealth |
Di balik angka, ada kondisi yang perlu dipahami
Berdasarkan catatan Field Facilitator NIHR UB, dari 35 warga yang diundang, sebanyak 34 orang hadir, sementara satu orang menolak menghadiri pemeriksaan sejak menerima undangan.
Dari responden yang datang, terdapat enam laporan khusus terkait pelaksanaan tes. Seorang laki-laki berusia 61 tahun memperoleh hasil yang kurang maksimal. Ia memiliki riwayat sesak napas ketika cuaca dingin dan baru kembali setelah mengairi sawah sejak malam hingga pagi. Kelelahan setelah beraktivitas semalaman menjadi salah satu kondisi yang perlu diperhatikan dalam memahami situasi pemeriksaannya.
Dua responden lansia lainnya memilih tidak melanjutkan tes ketika dipanggil ke meja spirometri. Seorang perempuan berusia 63 tahun menolak karena memiliki riwayat penyakit jantung, sedangkan seorang perempuan berusia 100 tahun mengurungkan pemeriksaan karena merasakan nyeri di dada.
Tiga responden lansia lainnya - dua perempuan dan seorang laki-laki - juga memperoleh hasil yang kurang maksimal. Mereka memiliki riwayat penyakit paru-paru dan jantung serta sedang menjalani pengobatan, atau mempunyai riwayat asma.
Catatan tersebut menunjukkan bahwa pemeriksaan kesehatan di masyarakat tidak hanya berkaitan dengan pengumpulan angka dan hasil pengukuran. Di balik setiap hasil, terdapat kondisi individual yang perlu dipahami dengan cermat. Riwayat penyakit, keluhan yang dirasakan, dan kesiapan fisik menjadi pertimbangan penting dalam pelaksanaan pemeriksaan.
![]() |
| Tes spirometri |
Merawat napas, menguatkan layanan kesehatan
Setelah menyelesaikan rangkaian pemeriksaan, responden diarahkan ke meja keempat. Di meja apresiasi partisipasi ini, enumerato Nisa dan Dysa membagikan konsumsi, vitamin, serta subsidi transportasi sebagai bentuk apresiasi atas kesediaan warga berpartisipasi.
Kegiatan tersebut juga dihadiri Rahmanurraudhotul Amin, SKM., yang ditunjuk oleh Theme 1: Primary Healthcare Strengthening untuk mengobservasi jalannya pemeriksaan menggunakan checklist.
Hingga pukul 13.14 WIB, pemeriksaan spirometri keempat di Desa Tamanagung resmi berakhir. Selama lebih dari lima jam, para petugas, tenaga kesehatan, dan kader setempat bekerja bersama untuk mendukung pelaksanaan pemeriksaan bagi warga.
Empat kali penyelenggaraan bukan sekadar pengulangan kegiatan, melainkan bagian dari upaya mengumpulkan informasi kesehatan sekaligus mendekatkan pemeriksaan fungsi paru-paru kepada masyarakat. Sebab, menjaga kesehatan pernapasan tidak selalu dimulai dari pengobatan, tetapi juga dari keberanian untuk memeriksakan diri dan memahami kondisi tubuh.
Seperti pesan A.D. Posey, menarik napas dalam-dalam dapat menjadi pengingat sederhana untuk menghargai kehidupan. Di Tamanagung, setiap embusan napas yang diperiksa membawa harapan agar warga semakin mengenali kesehatannya, sementara upaya penguatan layanan kesehatan primer terus menemukan jalannya - satu pemeriksaan, satu warga, dan satu tarikan napas dalam satu waktu. *** [111026]
Oleh: Budiarto Eko KusumoEditor: Budiarto Eko Kusumo






















































