Di sebuah gedung berdinding merah putih di Dusun Tamanrejo RT 02 RW 02, Desa Wringinrejo, puluhan responden hasil pre-screening yang terindikasi memiliki faktor risiko PPOK, antre dengan sabar. Mereka menunggu giliran untuk menghirup dalam-dalam, lalu menghembuskan napas sekuat tenaga ke sebuah alat bernama spirometer. Ini bukan sekadar rutinitas medis biasa, melainkan upaya serius untuk membaca cerita yang tersembunyi di dalam paru-paru mereka.
Pemeriksaan spirometri adalah standar emas untuk mendeteksi dini Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Namun, hasilnya hanya bisa dipercaya jika memenuhi kriteria kualitas yang ketat. Menurut pedoman internasional, tes spirometri yang valid harus menghasilkan minimal tiga manuver yang dapat diterima dan dua di antaranya harus memiliki nilai FEV1 dan FVC yang konsisten - selisihnya tidak lebih dari 0,15 liter.
![]() |
| Personel RS Yasmin Banyuwangi berpose dengan enumerator baseline survey, kader kesehatan setempat, dan Field Facilitator NIHR UB |
Di Desa Wringinrejo, dari 76 responden yang terindikasi berisiko PPOK pada pre-screening, sebanyak 72 di antaranya memerlukan pemeriksaan ulang karena hasil spirometri sebelumnya tidak terbaca. Ini bukan kegagalan, melainkan bagian dari proses memastikan akurasi data.
![]() |
| Gedung Kopdes Wringinrejo menjadi lokasi pemeriksaan spirometri ulang yang pertama di Desa Wringinrejo, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi |
Mereka tidak bekerja sendirian. Tiga kader kesehatan setempat - Nunung Lestiani, Siti Nurodifah, dan Sri Wahyuni - turut membantu di meja pendaftaran, menyebarkan undangan, hingga mengantar-jemput responden yang membutuhkan. Dedikasi mereka menjadi tulang punggung mobilisasi warga.
Pola alur pemeriksaan kali ini sama persis dengan tiga sesi spirometri sebelumnya yang digelar pada 25 Juli, 27 Juli, dan 15 Agustus 2026.
![]() |
| Dua enumerator baseline survey berikan teknik menyebul kepada responden |
Sambil menunggu, enumerator Nita dan Firda memanfaatkan waktu untuk memberikan teknik pernapasan yang benar. Begitu dipanggil, responden menuju meja spirometri yang dijaga tiga personel dari RS Yasmin Banyuwangi, yaitu dr. Ach. Dwipa Perkasa, Annisa Fitriya, A.Md.Kep., Ns. Rizki Indrawangi, S.Kep., serta Ns. Elik Anistina, S.Kep., yang membantu NIHR Universitas Brawijaya (UB) dalam mengawasi jalannya tes spirometri.
![]() |
| Pengukuran tekanan darah dan oksimetri |
Setelah spirometri tahap 1 (pre-nebulisasi), responden bergeser ke meja nebulisasi. Di sana, Ns. Mahendra, S.Kep., melakukan terapi inhalasi menggunakan nebulizer, sebuah alat yang mengubah obat cair menjadi kabut halus untuk dihirup langsung ke saluran pernapasan.
![]() |
| Tes spirometri tahap 1 |
Sebagai apresiasi, responden yang telah menyelesaikan seluruh alur kembali ke meja pendaftaran. Tiga kader menyerahkan konsumsi, gift, dan subsidi transportasi, disaksikan salah satu enumerator. Gestur kecil ini menjadi bentuk terima kasih atas partisipasi warga dalam penelitian kesehatan.
![]() |
| Nebulisasi |
Dari 32 responden yang diundang, Field Facilitator NIHR UB mencatat 25 orang berhasil terperiksa. Tujuh lainnya tidak hadir karena berbagai alasan: ada yang bepergian ke Madura, dua orang sedang sakit flu berat, satu meninggal dunia pada Sabtu sebelumnya, satu sakit biasa, satu mengalami stroke sehingga sulit mobilisasi, dan satu lagi izin karena masih berduka atas meninggalnya suami.
![]() |
| Meja 4: apresiasi terhadap responden atas partisipasinya dalam pemeriksaan spirometri |
Seperti motto National Lung Health Education Program (NLHEP), "Test Your Lungs, Know Your Numbers" (Uji paru-paru Anda, ketahui angka-angka Anda), pemeriksaan spirometri di Wringinrejo adalah langkah konkret untuk mengenali kesehatan paru sejak dini.
Setiap hembusan napas yang tercatat dalam spirometer bukan sekadar angka. Ia adalah data yang dapat menyelamatkan nyawa, mendeteksi PPOK sebelum terlambat, dan membuka jalan bagi intervensi kesehatan yang tepat. Di Desa Wringinrejo, upaya ini terus berlanjut karena setiap napas itu berharga. *** [300926]
Oleh: Budiarto Eko KusumoEditor: Budiarto Eko Kusumo














0 komentar:
Posting Komentar