Selasa, 30 Desember 2025

Skrining CKG di Pabrik Rokok BST: Kolaborasi untuk Deteksi Dini Kesehatan Pekerja

In union there is strength.” -- Aesop

Komitmen terhadap kesehatan pekerja kembali diwujudkan melalui kegiatan skrining CKG yang digelar di Pabrik Rokok (PR) Berca Sauti Tobacco (BST). Selama tiga hari tidak berturut-turut, Puskesmas Sumberpucung berkolaborasi dengan PR BST melaksanakan skrining CKG bagi karyawan langsung di tempat kerja, tepatnya di Jalan Ir. Soekarno RT 15 RW 04 Desa Jatiguwi, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang.

Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 15, 22, dan 29 Desember 2025. Pelaksanaan selama tiga hari dipilih dengan pertimbangan jumlah pekerja yang mencapai sekitar 750 orang, sehingga proses pemeriksaan dapat berjalan tertib, menyeluruh, dan tetap memperhatikan kelancaran aktivitas produksi pabrik.

Bagi PR BST, pelaksanaan skrining CKG ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan bentuk kepedulian nyata terhadap kesehatan pekerja. Deteksi dini menjadi kunci agar potensi gangguan kesehatan dapat dikenali lebih awal dan ditangani secara tepat. Sementara itu, Puskesmas Sumberpucung bersama institusi kesehatan lain melihat kegiatan ini sebagai wujud pelayanan promotif dan preventif yang menyentuh langsung masyarakat pekerja.

Tim Kesehatan Puskesmas Sumberpucung dan kader berpose di depan PR BST Desa Jatiguwi, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang

Koordinator pelaksanaan skrining CKG ini adalah Istitik Wahyuni, A.Md.Keb., S.Kep.Ners, selaku Penanggung Jawab Program Penyakit Tidak Menular (Pj PTM) Puskesmas Sumberpucung. Adapun pengaturan alur pemeriksaan di lapangan dikoordinasikan oleh bagian K3 PR BST yang terdiri dari Gigo Bimby, S.Psi., Gigih May Siswantoro, S.Pd., M.Pd., serta didukung oleh bagian SDM, Nindy Oktavia Kartika Sari, ST.

Alur skrining dimulai ketika karyawan dipanggil oleh bagian K3 menuju meja pendaftaran. Proses pendaftaran dilayani oleh personel Puskesmas Sumberpucung, yakni Susi Wingga Wati, A.Md.RMIK, Yusvika, A.Md.Kep., dan Nur Khusniati, S.Tr.Keb. Setelah itu, karyawan menjalani pemeriksaan antropometri secara berurutan.

Pengukuran berat badan dilakukan oleh kader Tri Suhartatik, tinggi badan oleh Ahmad Ayrul Fatihah, S.M. (staf magang PR BST), serta lingkar perut oleh kader Winarsih. Selanjutnya, pengukuran tekanan darah dilaksanakan oleh kader Parlindani Rahayu, disusul pemeriksaan kadar gula darah oleh kader Yuli Prasetyorini.

Nakes berkoordinasi

Rangkaian pemeriksaan berlanjut dengan pengukuran CO Analyzer yang dilakukan oleh kader Mela Fitringtyas, serta pemeriksaan kesehatan mata (visus) oleh Ikrima Ifada, S.ST. Untuk layanan papsmear, Puskesmas Sumberpucung menggandeng Tim Laboratorium Patimura Malang yang diperkuat oleh Deny Suryap., A.Md.Kep., Nining Setyowati, A.Md.Kep., Nur Hidayati Kusumaningrum, dan Eli Ning Kabibah, A.Md.Kep. Pemeriksaan sadanis ditangani oleh Riska, S.Tr.Keb.

Sementara itu, pemeriksaan EKG dilaksanakan dengan dukungan Tim Klinik PACCE, yang terdiri dari dr. Maudy Putri Saraswati, Septiara Balqisya Awan, S.Tr.Kes., dan Rezky Putri M., A.Md.Kep. Dukungan juga datang dari Optik Natural, yang ditangani oleh Suliono dan Aunila Aida, khususnya dalam pelayanan kesehatan mata.

Di sela-sela skrining CKG juga terdapat pembinaan GP2SP (Gerakan Pekerja Perempuan Sehat produktif) yang dilakukan oleh Pj Upaya Kesehatan Kerja (UKK) Puskesmas Sumberpucung, Ikrima Ifada, S.ST.

Pengukuran tekanan darah oleh kader

Agar seluruh hasil pemeriksaan terdokumentasi dengan baik, proses entry data CKG Online dibantu oleh peserta magang PR BST, yaitu Halimatul Qutsiyah, S.Tr.Kes. dan Rhegita Cahyani Ayudya Pramesti, A.Md.T.

Keseluruhan kegiatan skrining CKG ini menjadi gambaran nyata kuatnya kolaborasi lintas sektor antara fasilitas pelayanan kesehatan, institusi kesehatan pendukung, dan dunia industri. 

Seperti kata bijak dari Aesop (620 SM – 564 SM), penulis fabel Yunani: 

“Dalam persatuan terdapat kekuatan.” 

Kolaborasi yang terjalin antara Puskesmas Sumberpucung, PR BST, dan berbagai mitra kesehatan membuktikan bahwa upaya menjaga kesehatan pekerja akan lebih efektif ketika dilakukan bersama-sama, saling mendukung, dan terkoordinasi dengan baik. *** [301225]



Share:

Minggu, 02 November 2025

Kebaya, Kampuh, dan Semangat Sehat di Sidorahayu: Skrining PTM Menyapa WHDI Wagir

Mentari pagi itu bersinar cerah, menyinari kesibukan yang berbeda dari biasanya di Dukuh Ampelsari. Ahad (02/11) itu, bukan hanya Gunung Kawi yang menjulang, melainkan juga riuh rendah semangat kesehatan yang menyelimuti halaman rumah Bapak Jamal di RT 26 RW 06, Desa Sidorahayu, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang.

Di pagi yang menyapa lereng perbukitan di kaki Gunung Kawi sisi timur, perawat Desa Sidorahayu, Dimas Kurniawan, A.Md.Keb., didampingi empat kader Posbindu yang tangguh - Satik, Sumartiani, Warsini, dan Wawuk - telah bersiap. 

WHDI Dukuh Ampelsari terima para tamu di rumah Bapak Jamal di Dukuh Ampelsari RT 26 RW 06 Desa Sidorahayu, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang

Mereka bukan hendak menghadiri pesta, melainkan menggelar sebuah misi penting: skrining atau pemeriksaan dini Penyakit Tidak Menular (PTM). Lokasinya strategis, ditempatkan di halaman rumah Bapak Jamal, yang menjadi titik kumpul sebelum para anggota Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) se-Kecamatan Wagir menuju pertemuan rutin mereka di Pura Satya Graha Bakti yang letaknya bersebelahan.

WHDI, organisasi yang berkhidmat dalam pemberdayaan perempuan Hindu Indonesia, hari itu memusatkan pertemuannya di Ampelsari. Sekitar 80 undangan dari berbagai penjuru Wagir diharapkan hadir. 

Nuansa adat dan kebersamaan terpancar jelas. Sebagai tuan rumah, WHDI Ampelsari tampil memukau dengan balutan kebaya, kampuh, dan jarik bagi perempuan, serta beskap, iket, dan jarik bagi laki-laki. 

Peserta pertemuan WHDI se-Kecamatan Wagir mengantre pengukuran antropometri

Tamu undangan umumnya mengenakan seragam organisasi, dengan kampuh - selendang yang menurut bidan Dwi Ida Susanti, A.Md.Keb., dari Puskesmas Wagir, melambangkan penyatuan jasmani-rohani dan pengikat sadripu (enam musuh yang ada di dalam diri) - menjadi ikon yang menyatukan.

Begitu disambut hangat tuan rumah, para tamu dipersilakan untuk menikmati sarapan. Namun, antusiasme mereka terhadap kesehatan langsung terlihat. Sebagian memilih untuk langsung mengantre di meja skrining yang telah disiapkan, sebuah langkah cerdas untuk menghindari penumpukan.

Suasana pemeriksaan skrining PTM bagi panitia pertemuan WHDI se-Kecamatan Wagir, berkebaya dan berkampuh

Di bawah koordinasi Perawat Dimas, keempat kader yang telah terlatih itu bergerak lincah. Prosesnya sederhana namun penuh makna. Setelah mengisi daftar hadir, para wanita dan ibu-ibu anggota WHDI ini menjalani pemeriksaan antropometri (tinggi/berat badan dan lingkar perut) oleh kader Satik dan Warsini. Lalu, mereka bergeser ke meja sisi selatan untuk pengukuran tekanan darah oleh kader Sumartiani dan pengecekan kadar gula darah oleh kader Wawuk.

Rantai pelayanan tidak berhenti di angka-angka hasil pengukuran. Usai pemeriksaan fisik, para peserta menuju sebuah meja di sisi timur, dengan latar belakang tanaman wijaya kusuma yang sedang berkuncup. 

Usai berikan KIE, perawat Desa Sidorahayu akan memberikan obat bila pasien terindikasi memiliki faktor risiko tinggi (highrisk)

Di sinilah perawat Dimas menunggu, siap memberikan KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi) dan memberikan obat maupun vitamin. Momen ini menjadi jantung dari kegiatan, di mana data yang terkumpul diubah menjadi pemahaman, pesan kesehatan disampaikan, dan perilaku hidup sehat diharapkan tertanam.

Antusiasme tak pernah surut, bahkan ketika hujan singkat turun membasahi bumi. Mereka tetap rela mengantre dengan sabar dan senyum. Semangat ini diperkuat oleh sambutan Ketua WHDI Kecamatan Wagir, Ibu Suci, yang mengingatkan bahwa skrining kesehatan ini adalah bagian dari program pemerintah. "Mari kita umat Hindu aktif berpartisipasi agar kesehatan kita terpantau terus," serunya, sebuah ajakan yang disambut dengan tekad bulat oleh para anggota.

Usai ikut skrining PTM di bawah tenda biru, peserta pertemuan WHDI se-Kecamatan Wagir langsung menuju ke Pura Satya Graha Bakti yang ada di sebelahnya

Selesai pemeriksaan atau sarapan, para peserta kemudian beriringan menuju Pura Satya Graha Bakti untuk melanjutkan acara inti pertemuan. Sementara itu, petugas dan Tim SMARThealth Universitas Brawijaya (UB) yang turut hadir, dipersilakan oleh tuan rumah untuk bersantap sebelum kembali membuka meja pemeriksaan bagi warga sekitar yang ingin memeriksakan diri.

Hingga acara ditutup pukul 12.30 WIB, sebanyak 67 orang telah berhasil diskrining. Sebuah angka yang bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari komitmen kolektif untuk hidup lebih sehat. Pagi itu di Dukuh Ampelsari, Desa Sidorahayu, di antara indahnya balutan kain kebaya dan kampuh, di tengah semangat persaudaraan WHDI, langkah kecil pencegahan PTM telah diukir. Membuktikan bahwa upaya menjaga kesehatan bisa berjalan beriringan dengan pelestarian budaya dan penguatan komunitas, dimulai dari sebuah halaman rumah yang penuh cerita. *** [021025]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Jumat, 24 Oktober 2025

Menjalin Harmoni Ilmu dan Masyarakat: Edukasi dan Pengembangan Terapi Khusus bagi Penderita Hipertensi di Desa Karangduren

Suasana pagi di Balai Desa Karangduren, Jalan Raya Golek No. 60–62, Kecamatan Pakisaji,Kabupaten Malang, terasa berbeda pada Jumat (24/10). Sejak pukul 08.00 WIB, warga sudah berdatangan dengan semangat, mengikuti kegiatan Community Development: Edukasi dan Pengembangan Terapi Khusus bagi Penderita Hipertensi, yang digagas oleh Departemen Farmasi, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) melalui dukungan Dana Kemitraan Sains Internasional atau International Science Partnerships Fund (ISPF).

Kegiatan ini merupakan bagian dari penelitian bertajuk Deteksi Polimorfisme Pasien Hipertensi sebagai Pendekatan Personalisasi Terapi - sebuah langkah ilmiah untuk mengenali perbedaan genetik pada pasien hipertensi agar terapi yang diberikan bisa lebih tepat sasaran, sesuai dengan karakter biologi masing-masing individu.

Sambutan Kaur Pelayanan Desa Karangduren, mewakili Kades

Seperti kata pelukis Prancis Georges Braque (1882-1963), “Seni itu polimorfik. Sebuah gambar tampak berbeda bagi setiap pengamatnya.” Begitu pula dengan dunia medis: satu penyakit dapat tampak serupa di permukaan, namun memiliki keragaman mendasar dalam tubuh setiap orang. Polimorfisme inilah yang menjadi kunci terapi personal yang efektif dan manusiawi.

Kolaborasi Ilmu dan Empati

Tim Farmasi FKUB yang dipimpin oleh dr. Bayu Lestari, M.Biomed., Ph.D dan apt. Favian Rafif Firdaus, S.Farm., M.Farm. ini berjumlah 16 orang - termasuk tenaga medis dari Klinik UB - hadir di lokasi sejak pagi untuk menjalankan berbagai tahapan kegiatan. Mereka bertugas mengambil sampel darah, sementara kader SMARThealth Karangduren turut berperan penting dalam pengukuran tekanan darah, serta membantu warga dan tamu selama kegiatan berlangsung. Sedangkan, antropometri ditangani oleh mahasiswa Farmasi yang turut dalam Tim Farmasi FKUB tersebut.

Pengukuran tekanan darah oleh kader SMARThealth

Alur kegiatan disusun dengan rapi: mulai dari pendaftaran, pengukuran antropometri dan tekanan darah, pemeriksaan sampel darah, hingga edukasi kesehatan. Semua proses berjalan dengan suasana akrab dan penuh antusiasme warga yang mengikuti dari awal hingga akhir.

Menjelang pukul 08.41 WIB, kegiatan semakin semarak dengan sambutan dari Kepala Urusan (Kaur) Pelayanan Desa Karangduren, Jaka Laksana, yang mewakili Kepala Desa. Dalam sambutannya, Jaka menyampaikan apresiasi mendalam terhadap kegiatan ini.

“Kami sangat berterima kasih kepada tim Farmasi UB atas kepedulian dan dedikasinya. Semoga warga Karangduren dapat memanfaatkan kegiatan ini sebaik mungkin dan mengikuti pemeriksaan hingga tuntas,” ujarnya.

Warga menunggu giliran dipanggil dalam pemeriksaan

Membangun Kesadaran, Mewujudkan Kesehatan

Setelah sambutan, kegiatan berlanjut dengan pemeriksaan dan edukasi hingga pukul 10.08 WIB. Dari target 47 orang, sebanyak 27 warga berhasil diperiksa. Meski sebagian warga berhalangan hadir karena berbagai alasan - mulai dari kondisi kesehatan, perjalanan, hingga pekerjaan - semangat yang tercipta dari kegiatan ini menjadi langkah awal yang berharga menuju masyarakat yang lebih sadar kesehatan.

Bagi Tim Farmasi FKUB, kegiatan ini bukan sekadar pengabdian masyarakat, tetapi juga bentuk nyata dari integrasi antara ilmu pengetahuan, penelitian, dan pelayanan sosial. Dengan memahami keragaman genetik setiap pasien, diharapkan terapi hipertensi di masa depan dapat disesuaikan dengan karakteristik individu, sehingga lebih efektif dan berkelanjutan.

Pemeriksaan sampel darah oleh tenaga kesehatan dari Klinik UB

Sebuah Langkah Menuju Personalisasi Terapi

Melalui kegiatan ini, Departemen Farmasi FKUB menunjukkan bahwa sains tidak hanya hidup di laboratorium, tetapi juga berdenyut bersama masyarakat. Polimorfisme genetik bukan lagi konsep abstrak, melainkan pintu menuju masa depan kesehatan yang lebih adil dan manusiawi - di mana setiap individu dipahami sebagai pribadi yang unik.

Karena seperti halnya seni yang “polimorfik” menurut Georges Braque, setiap manusia pun adalah karya hidup dengan bentuk dan makna yang berbeda. Dan memahami perbedaan itulah, sejatinya, wujud tertinggi dari ilmu dan kemanusiaan. *** [241025]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Kamis, 23 Oktober 2025

Pemeriksaan Kesehatan Gratis di Desa Pandanrejo: Upaya Deteksi Dini Demi Masyarakat Wagir Sehat

Since the reduction of risk factors is the scientific basis for primary prevention, the World Health Organization promotes the development of an integrated strategy for prevention of several diseases, rather than focusing on individual ones.” — Gro Harlem Brundtland

Kamis (23/10) pagi ini, niat awal saya sederhana, yaitu mengantar surat tembusan izin penelitian MLTC sekaligus berkoordinasi mengenai kegiatan ISPF di Puskesmas Wagir. Namun, setibanya di sana, saya mendapat kabar bahwa Kepala Puskesmas Wagir, dr. Siti Hariyanti, tengah meninjau kegiatan Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG) di Pendopo Balai Desa Pandanrejo, yang beralamat di Jalan Gondowarso No. 1, Dusun Pandansari RT 05 RW 01, Desa Pandanrejo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang.

Tanpa berpikir panjang, saya pun meluncur ke lokasi. Seperti pepatah mengatakan, “Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.” Di tempat itu, saya tidak hanya berhasil menyerahkan surat langsung kepada Kapus, tetapi juga dapat berkoordinasi dengan Dimas Kurniawan, A.Md.Kep., perawat Desa Sidorahayu, terkait pelaksanaan ISPF. Dan yang tak kalah berkesan, saya berkesempatan menyaksikan langsung implementasi PKG di lapangan - suatu kegiatan yang mencerminkan semangat pelayanan kesehatan berbasis masyarakat.

Balai Desa Pandanrejo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, yang megah

Menjaga Sehat, Mendeteksi Dini

Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG) merupakan program strategis pemerintah yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin dan deteksi dini penyakit. Program ini fokus pada identifikasi faktor risiko, deteksi kondisi pra-penyakit, dan penemuan penyakit pada tahap awal agar dapat ditangani secara cepat dan tepat, sehingga komplikasi dapat dicegah.

Kegiatan di Desa Pandanrejo dimulai pukul 07.30 WIB dan melibatkan delapan tenaga kesehatan (nakes) dari Puskesmas Wagir dan Ponkesdes Pandanrejo. Mereka menjalankan tugas sesuai bidang masing-masing.

Kapus Wagir meninjau pelaksanaan PKG di Balai Desa Pandanrejo

Rizaura, A.Md.Kep., Fenny Noviana, A.Md.Kep., dan Frida, A.Md.Kep. menangani pendaftaran ePus, spreadsheet, dan aplikasi ASIK. Siti Chemilia, A.Md.Kep., bersama dokter muda (koas) dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FKUB), menangani ePus kunjungan sakit. Rahayu Tri, A.Md.Keb. bertugas melakukan skrining mandiri ASIK. Lisya Enis, A.Md.Keb. dan Okki Linda, A.Md.Keb. melaksanakan pemeriksaan IVA Sadanis.

Mereka dibantu oleh 5 kader Posbindu dan 1 kader Yabisa, yang berperan dalam pengukuran antropometri, tekanan darah, serta pemeriksaan kadar gula darah, dengan pendampingan dari Ekti Wulandari, A.Md.Kep., perawat Desa Pandanrejo.

Pengukuran tekanan darah

Mendeteksi Dini, Menyelamatkan Banyak Nyawa

Menurut Fenny Noviana, A.Md.Kep., selaku Penanggung Jawab Program PTM Puskesmas Wagir, sasaran kegiatan PKG kali ini meliputi 30 orang dengan risiko Diabetes Melitus (DM) dan Hipertensi (HT), serta peserta lain yang menjalani pemeriksaan kadar gula darah, profil lipid, dan skrining fungsi ginjal melalui pemeriksaan ureum dan kreatinin.

Pemeriksaan ginjal ini penting untuk menilai fungsi penyaringan ginjal. Kadar ureum dan kreatinin yang tinggi dalam darah dapat menjadi indikator adanya gangguan ginjal, baik akut maupun kronis. Pemeriksaan dilakukan dengan tes darah sederhana, namun berperan besar dalam deteksi dini penyakit ginjal yang seringkali tanpa gejala pada tahap awal.

Pengecekan kadar gula darah

Sementara itu, bagi perempuan berusia 30–69 tahun, dilakukan pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) dan Sadanis (Pemeriksaan Payudara Klinis) di ruang periksa Ponkesdes Pandanrejo yang berada satu atap dengan balai desa. Dua metode ini terbukti efektif untuk deteksi dini kanker serviks dan kanker payudara, dua penyakit tidak menular yang masih menjadi momok bagi perempuan Indonesia.

Untuk usia produktif (uspro) tanpa DM-HT, pemeriksaan meliputi kadar gula darah dan kolesterol, sedangkan anak berusia dua tahun diperiksa kadar gula darah dan hemoglobinnya (Hb).

Pemeriksaan profil lipid

Antusiasme dan Semangat Gotong Royong

Kegiatan PKG di Desa Pandanrejo bersifat insidental, sebagai bagian dari upaya percepatan program pemeriksaan kesehatan masyarakat. Namun dari pantauan Tim SMARThealth UB yang turut hadir, antusiasme warga begitu tinggi. Masyarakat tampak bersemangat mengikuti setiap tahapan pemeriksaan, dari pengukuran awal hingga konsultasi hasil.

Acara berlangsung hingga pukul 12.30 WIB dan berhasil menyaring 62 orang peserta. Jumlah yang cukup signifikan mengingat rangkaian pemeriksaan cukup panjang dan menyeluruh. 

Suasana PKG di Pendopo Balai Desa Pandanrejo

Seperti dikatakan oleh Gro Harlem Brundtland, mantan Direktur Jenderal WHO:

“Karena pengurangan faktor risiko merupakan dasar ilmiah untuk pencegahan primer, Organisasi Kesehatan Dunia mendorong pengembangan strategi terpadu untuk pencegahan beberapa penyakit, daripada berfokus pada penyakit individual.” 

Kata-kata ini menjadi refleksi penting atas kegiatan PKG di Pandanrejo - bahwa kesehatan masyarakat tidak cukup dijaga dengan pengobatan, melainkan harus dimulai dari pencegahan yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Input data ke banyak aplikasi oleh nakes Puskesmas Wagir

Dari Pandanrejo untuk Wagir yang Sehat

Kegiatan Pemeriksaan Kesehatan Gratis di Desa Pandanrejo tidak hanya menjadi bentuk pelayanan kesehatan, tetapi juga cerminan kolaborasi lintas sektor—antara pemerintah desa, puskesmas, kader, dan tenaga kesehatan.

Dari Pandanrejo, semangat hidup sehat itu terus bergulir. Karena menjaga kesehatan bukan sekadar tugas tenaga medis, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. *** [231025]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Rabu, 08 Oktober 2025

Menyapa Pasien di Rumah: Upaya Pelacakan untuk Menjaga Validitas Penelitian Pengendalian Hipertensi

"The best research you can do is talk to people."  -- Sir Terry Pratchett

Dalam penelitian Pengembangan Model Health Coaching untuk Pengendalian Hipertensi di Layanan Primer, keberadaan setiap responden menjadi bagian penting untuk memastikan keutuhan data, validitas temuan, dan keberhasilan intervensi. Namun, seperti lazimnya di lapangan, tidak semua pasien dapat hadir dalam setiap sesi yang telah dijadwalkan. Di sinilah pelacakan atau tracking memainkan peran sentral.

Pelacakan responden yang tidak hadir bukan sekadar langkah administratif. Ia merupakan upaya aktif untuk mencegah potensi bias - karena mereka yang absen bisa jadi memiliki karakteristik atau tantangan berbeda dari yang hadir. 

Tanpa pelacakan, hasil penelitian berisiko kehilangan relevansi dan kekuatan generalisasinya. Oleh karena itu, tim lapangan memastikan bahwa tidak ada suara yang tertinggal, termasuk mereka yang terhalang hadir karena kondisi personal maupun sosial.

Home visit di Desa Wonokerso 

Pada Rabu (08/10), sekitar pukul 08.30 WIB, Field Supervisor bertolak dari Puskesmas Pakisaji untuk melakukan home visit. Dipandu langsung oleh Penanggung Jawab Promosi Kesehatan Pj Promkes) Puskesmas Pakisaji, Mochamad Faizin, SKM, perjalanan menuju rumah dua pasien hipertensi dari kelompok intervensi pun dimulai. Lokasi yang dituju tersebar di dua dusun di Kecamatan Pakisaji: Dusun Segegeng, Desa Wonokerso dan Dusun Pakisaji, Desa Pakisaji.

Pasien pertama adalah seorang perempuan berusia 41 tahun yang tinggal di Dusun Segegeng RT 14 RW 03. Ketika dikunjungi, ia menyambut dengan ramah. Ia menjelaskan bahwa ketidakhadirannya dalam sesi health coaching kedua disebabkan oleh tanggung jawab mengasuh bayi yang tidak bisa ditinggal. 

Meskipun demikian, ia sempat hadir pada sesi pertama dan menerima kunjungan lanjutan dari Pj Promkes serta kader kesehatan setempat untuk sesi kedua. Komitmen semacam ini menunjukkan pentingnya pendekatan personal dalam memastikan keberlanjutan intervensi.

Pasien kedua adalah seorang perempuan lansia berumur 72 tahun yang tinggal di Dusun Pakisaji RT 05 RW 01. Ketidakhadirannya dalam sesi ketiga terjadi karena bertepatan dengan acara pernikahan anaknya. Meski demikian, ia tetap membuka diri saat tim datang dan memberikan informasi yang dibutuhkan.

Home visit di Desa Pakisaji

Kunjungan ini membuktikan bahwa berbicara langsung dengan responden memberikan pemahaman yang lebih dalam dibanding sekadar mencatat absensi. Seperti yang dikatakan oleh Sir Terry Pratchett (1948-2015), seorang humoris, satiris, dan penulis novel fantasi dalam bahasa Inggris:

"Penelitian terbaik yang dapat Anda lakukan adalah berbicara langsung dengan orang lain." 

Kalimat bijak ini menjadi fondasi dari pendekatan lapangan dalam penelitian ini - menjadikan manusia bukan hanya sebagai objek studi, tetapi sebagai mitra aktif dalam perubahan kesehatan.

Pelacakan responden secara langsung ke rumah tidak hanya menyelamatkan data. Ia juga menciptakan kepercayaan, meningkatkan keterlibatan peserta, dan memastikan bahwa intervensi health coaching benar-benar menjangkau mereka yang paling membutuhkan. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menghasilkan temuan yang valid, tetapi juga dampak yang nyata. *** [081025]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Jumat, 03 Oktober 2025

Kisah Dua Riset NIHR di Perbatasan Desa yang Berdampingan

Train yourselves. Don’t wait to be fed knowledge out of a book. Get out and seek it. Make explorations. Do your own research work. Train your hands and your mind. Become curious. Invent your own problems and solve them. You can see things going on all about you. Inquire into them. Seek out answers to your own questions.” – Irving Langmuir

Usai menyelesaikan putaran terakhir health coaching di Puskesmas Ngajum dan menyaksikan semangat para pasien kontrol di Posyandu Cempaka, Desa Maguan, pada Rabu (01/10), Fasilitator NIHR Universitas Brawijaya (UB) melanjutkan langkah menuju ke rumah Ibu Umi Hanah di Dusun Bekur, Desa Sumberejo, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang, yang menjadi basecamp bagi Tim NIHR Global Health Research Group on Sustainable Care for Anxiety and Depression in Indonesia (NIHR-GHG STAND).

Basecamp tersebut terlihat terasa nyaman dan bersahaja. Sebuah rumah dengan halaman luas yang di depannya berdiri kokoh sebuah mushola kecil. Suasana tenang dan teduh, seolah mencerminkan semangat tim yang sedang menggarap proyek besar di bidang kesehatan mental ini. 

Basecamp bagi para enumerator bukan sekadar tempat tidur; ia adalah posko komando, ruang berbagi cerita, tempat memulihkan tenaga, dan pusat koordinasi sebelum mereka kembali menyebar untuk mengumpulkan data (data collecting).

Namun, yang menarik perhatian bukanlah fisik basecamp tersebut, melainkan letak geografisnya. Daerah kerja atau enumeration area (EA) kedua untuk Tim GHG STAND di Malang adalah Desa Karangsari. 

Anehnya, mereka memilih basecamp di Dusun Bekur, yang secara administratif berada di Desa Sumberejo. Di sinilah keunikannya terungkap. Sejumlah personilnya kebetulan pernah membuat basecamp bayangan di rumah Ibu Umi Hanah ketika melakukan Household Listing (HH Listing), dan kebetulan daerah Desa Karangsari yang berada di bagian utara dekat dengan Dusun Bekur.

Fasad basecamp Tim Enumerator NIHR-GHG STAND Kabupaten Malang 

Dusun Bekur sebenarnya adalah EA bagi penelitian kesehatan lainnya, yaitu NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC). 

Kebetulan lokasinya persis berbatasan dengan Desa Karangsari. Bayangkan, dua proyek penelitian global di bawah payung NIHR yang sama, beroperasi di EA yang saling berdampingan, namun dengan fokus yang berbeda. Di satu sisi, GHRC NCDs & EC, yang ditangani Universitas Brawijaya, meneliti Penyakit Tidak Menular (PTM) dan dampak polusi udara. Di sisi lain, GHG STAND, dikelola oleh Universitas Indonesia, berkonsentrasi pada deteksi dan tata laksana kecemasan serta depresi.

Meski pelaksana lapangannya berbeda dan temanya terpisah, ada benang merah yang menarik terkait kolaborasi internasional. Dr. Asri Maharani, MMRS, Ph.D, tercatat sebagai peneliti kunci dalam kedua proyek besar ini. Sebuah sinergi yang menunjukkan kompleksitas dan keterkaitan antara kesehatan fisik dan mental.

Kunjungan Fasilitator NIHR UB ini menjadi ajang silaturahmi dengan personil tim yang telah dikenalnya. Dalam suasana santai di basecamp, cerita-cerita lapangan mulai mengalir. Mereka bercerita tentang perpindahan mereka dari basecamp sebelumnya di Desa Kasembon, Kecamatan Bululawang, dengan menyicil barang pada Rabu (24/09). 

Setelah mengambil libur sehari, pada Jumat (26/09) mereka mulai berdatangan ke Bekur dan langsung bersilaturahmi dengan perangkat desa hingga ketua RT setempat serta EA Karangsari. Sabtu (27/09) adalah hari pertama mereka turun ke masyarakat untuk melakukan wawancara.

Tim Enumerator NIHR-GHG STAND UI di Kabupaten Malang

“Target responden kami ada sekitar 1.600 orang, dan kami targetkan selesai hingga Ahad, 19 Oktober,” ujar Field Supervisor, yang langsung diamini oleh beberapa enumerator. Itu artinya, kurang lebih dua minggu mereka akan berkeliling, menyapa, dan menggali cerita warga di EA tersebut.

Mendengar gambaran working plan mereka, Fasilitator NIHR UB pun berbagi cerita. “Lokasi basecamp Tim NIHR-GHG STAND ini sendiri merupakan EA untuk NCDs & EC. Sebentar lagi, akan ada tim enumerator lain yang bertugas di desa ini.” Informasi ini memantik diskusi ringan, meski kemungkinan ketika data collecting di Desa Sumberejo, Tim Enumerator NIHR-GHRC NCDs & EC sudah tak bisa menjumpai Tim NIHR-GHG STAND.

Di tengah obrolan tentang tantangan dan dinamika lapangan, kutipan (quote) dari Irving Langmuir (1881-1957), seorang peraih Nobel Kimia asal Amerika, terasa sangat relevan: 

"Latihlah dirimu. Jangan menunggu untuk mendapatkan pengetahuan dari buku. Keluarlah dan carilah. Lakukan eksplorasi. Lakukan risetmu sendiri. Latihlah tangan dan pikiranmu. Jadilah orang yang ingin tahu. Ciptakan masalahmu sendiri dan selesaikanlah. Kamu dapat melihat hal-hal yang terjadi di sekitarmu. Selidikilah. Carilah jawaban atas pertanyaan-pertanyaanmu sendiri."

Semangat inilah yang mengilhami Tim Enumerator NIHR-GHG STAND. Mereka tidak hanya duduk di belakang meja di basecamp, tetapi keluar, menjelajah, dan melatih diri langsung di masyarakat. Mereka menciptakan ‘masalah’ - dalam artian pertanyaan penelitian - lalu berusaha menjawabnya dengan data yang dikumpulkan langsung dari sumbernya. Setiap wawancara, setiap pertemuan dengan warga, adalah wujud dari eksplorasi dan keingintahuan yang diajarkan Langmuir.

Pertemuan siang itu diakhiri dengan makan siang bersama yang penuh tawa. Sebuah momen singkat yang berharga, di mana silaturahmi dan semangat penelitian menyatu, mengisi energi sebelum para enumerator kembali melanjutkan ‘pelatihan’ mereka yang sesungguhnya: di lapangan, di tengah masyarakat, mencari jawaban untuk kesehatan mental Indonesia yang lebih baik. *** [031025]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Wawancara Tahap Kedua Pasien Kontrol di Posyandu Cempaka Maguan: Harmoni Kolaborasi untuk Pengendalian Hipertensi

Setelah merampungkan wawancara dengan pasien intervensi di Aula Puskesmas Ngajum dalam rangkaian penelitian Pengembangan Model Health Coaching untuk Pengendalian Hipertensi di Layanan Primer, Tim Enumerator bersama peneliti, Penanggung Jawab (Pj) Program Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM), serta Pj Promosi Kesehatan (Promkes) segera bersiap untuk melanjutkan misi berikutnya. 

Tujuan selanjutnya adalah Posyandu Cempaka, yang terletak di Dusun Maguan RT 11 RW 05, Desa Maguan—sekitar lima kilometer dari Puskesmas Ngajum. Pasien kontrolnya dikumpulkan di Posyandu Cempaka, seperti pada wawancara tahap pertama sebelumnya.

Peneliti berpose bersama Tim Enumerator, Pj PTM dan Pj Promkes Puskesmas Ngajum serta kader Posyandu Cempaka Desa Maguan

Dua mobil melaju meninggalkan area Puskesmas, membawa serta semangat kolaboratif dan dedikasi untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan primer, khususnya dalam pengendalian hipertensi. 

Begitu tiba di lokasi, tim disambut oleh pemandangan yang menyejukkan hati - pasien kontrol telah banyak yang hadir dan menunggu di Posyandu Cempaka. Kesiapan mereka menjadi simbol antusiasme terhadap perbaikan kesehatan diri dan lingkungan.

Tim Enumerator yang terdiri dari Anis Khurniawati, S.Sos., Arief Budi Santoso, S.Ak., Elmi Kamilah, S.Sos., dan saya sendiri segera menempati meja-meja wawancara yang telah disiapkan oleh kader Posyandu, Ani Wiji Astuti. 

Suasana wawancara dengan pasien kontrol di Posyandu Cempaka, Desa Maguan, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang

Dengan teliti dan penuh empati, proses wawancara dilaksanakan satu per satu, mengupas data penting seputar kondisi pasien, tingkat kepatuhan, dan gaya hidup mereka dalam menghadapi hipertensi.

Tak kalah sigap, Pj PTM Masfu Lailiyah, A.Md.Kep dan Pj Promkes Denok Pitra Rhena, SKM turut andil besar dalam jalannya kegiatan. Mereka membantu dalam pengukuran berat badan, mengatur alur antrean pasien, serta menangani administrasi dengan tertib.

Sementara itu, dr. Arief Alamsyah, MARS, Sp.KKLP mengisi ruang tamu Posyandu dengan penyuluhan yang interaktif dan edukatif. Materi seputar pola makan sehat, manajemen stres, dan pentingnya minum obat secara teratur disampaikan dengan bahasa yang sederhana namun menyentuh. Asisten beliau, Ivanka Harits Darwisy, M.Pd, mendampingi dengan mencatat hasil pengukuran tekanan darah para pasien secara teliti.

Staf pengajar FKUB yang sekaligus peneliti utama, berikan penyuluhan dasar kepada pasien kontrol usai wawancara

Selama kurang lebih dua jam dua menit, sebanyak 13 pasien kontrol berhasil diwawancarai dan mendapatkan edukasi kesehatan secara menyeluruh. Kegiatan pun ditutup dengan sesi foto bersama, menjadi penanda kebersamaan yang hangat antara tim pelaksana dan warga Maguan.

Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas pengumpulan data atau penyuluhan biasa. Ini adalah potret nyata dari kolaborasi yang harmonis antara tenaga kesehatan, kader, peneliti, dan masyarakat. Sebuah sinergi yang menyatukan ilmu, empati, dan semangat pelayanan demi terciptanya layanan kesehatan primer yang lebih baik, terutama dalam mengendalikan hipertensi sebagai salah satu beban terbesar penyakit tidak menular di Indonesia.

Di Posyandu Cempaka hari itu, kita menyaksikan bahwa perubahan dimulai dari kerja sama. Dan ketika setiap elemen bergerak dalam irama yang sama, maka hasilnya bukan hanya data, melainkan harapan. *** [031025]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Rabu, 01 Oktober 2025

Pertemuan Akhir Health Coaching: Mengukur Perubahan Pasien Hipertensi di Puskesmas Ngajum

Suasana berbeda terlihat di Ruang Aula Puskesmas Ngajum pada Rabu (01/10) pagi. Meja dan kursi yang biasanya berbaris rapi menghadap mimbar, kini disusun secara melingkar, menciptakan atmosfer yang lebih intim dan interaktif. 

Ini adalah persiapan untuk momen penting: wawancara terakhir rangkaian penelitian Pengembangan Model Health Coaching Untuk Pengendalian Hipertensi di Layanan Primer dalam disertasi dr. Arief Alamsyah, MARS, Sp.KKLP.

Tim Enumerator Health Coaching kembali bertemu dengan tiga belas pasien hipertensi yang telah menjadi mitra sejak putaran pertama. Mereka diundang oleh Penanggung Jawab Penyakit Tidak Menular (Pj PTM) Puskesmas Ngajum untuk mengikuti sesi wawancara penutup, sebuah tahap krusial dalam perjalanan penelitian ini.

Penjelasan peneliti utama dalam pertemuan akhir health coaching di Aula Puskesmas Ngajum, Kabupaten Malang

Mengukur Jejak Perubahan: Dari "Imut" Menuju Mandiri

Dr. Arief Alamsyah, MARS, Sp.KKLP, selaku peneliti utama, menjelaskan desain unik dari pertemuan ketiga ini. "Tujuan kami adalah melakukan wawancara dengan ketiga belas pasien yang sama yang telah kami wawancara pada pertemuan pertama," ujarnya membuka acara.

Tujuannya jelas: menangkap jejak perubahan. Dalam istilah yang akrab disampaikan dr. Arief, pada pertemuan pertama, pemahaman pasien seringkali masih "imut" - sebutan untuk kondisi pengetahuan yang belum matang. 

Kini, setelah melalui proses health coaching intensif oleh dokter fungsional Puskesmas Ngajum, penelitian ini ingin mengukur perbedaannya. Apakah terjadi peningkatan pengetahuan, perubahan perilaku, dan peningkatan kemandirian dalam mengendalikan tekanan darah?

Dari sinilah nantinya akan terpetakan bentuk permodelan health coaching seperti apa yang "ideal" dan efektif untuk diterapkan dalam kendali hipertensi di tingkat puskesmas.

Suasana wawancara pasien intervensi

Simfoni Kerjasama Tim yang Tergagas Apik

Begitu kata pengantar dari dr. Arief usai, prosesi wawancara segera bergulir dengan lancar bak sebuah simfoni. Tim Enumerator - yang terdiri dari Anis Khurniawati, S.Sos., Arief Budi Santoso, S.Ak., Elmi Kamilah, S.Sos., dan saya - langsung mengambil posisi di meja-meja yang telah disusun melingkar.

Setiap peran berjalan sinergis. Tim Enumerator fokus melakukan wawancara mendalam dengan para pasien. Pj Promkes Denok Pitra Rhena, SKM bertanggung jawab atas pengukuran tinggi badan dan tekanan darah, data objektif yang melengkapi hasil wawancara ke dalam logbook. Pj PTM Masfu Lailiyah, A.Md.Kep mengurusi administrasi seperti absensi dan pemberian uang transport sebagai bentuk apresiasi bagi partisipan.

Sedangkan, dr. Arief sendiri tidak hanya mengawasi, tetapi juga turun tangan memberikan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada pasien yang membutuhkan penjelasan tambahan dalam pengendalian hipertensi pasien.

Sementara itu, Ivanka Harits Darwisy, M.Pd yang mengasistensi dr. Arief, dengan cekatan merekap semua hasil wawancara langsung ke dalam google form untuk memudahkan analisis data.

Tim Enumerator menggunakan handphone dalam melakukan wawancara dengan pasieh intervensi di Aula Puskesmas Ngajum

Proses Cepat dan Perjalanan yang Berlanjut

Wawancara yang dimulai pukul 08.30 WIB tersebut berjalan efisien dan selesai dalam waktu kurang dari satu setengah jam, tepatnya pukul 09.47 WIB. Namun, tugas tim belum usai. Karena masih ada 1 pasien yang tidak bisa hadir lantaran tidak bisa dihubungi. Sehingga perlu dijadwalkan tersendiri di lain waktu.

Usai membungkus pekerjaan di Puskesmas Ngajum, rombongan yang terdiri atas Tim Enumerator, Pj PTM dan Promkes dari Puskesmas Ngajum, serta peneliti, segera berpindah lokasi. Tujuan berikutnya adalah Desa Maguan. Agenda yang sama menunggu, dengan target responden yang berbeda: para pasien kontrol dalam penelitian ini.

Hari itu adalah bukti nyata dedikasi tim dalam mengukir satu langkah penting menuju model perawatan hipertensi yang lebih manusiawi, personal, dan berkelanjutan di layanan kesehatan primer. *** [011025]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Senin, 15 September 2025

Silaturahmi Hangat di Tengah Teriknya Mentari: Kunjungan ke Basecamp Enumerator NIHR GHG STAND di Kasembon

Ahad (14/09) pagi yang cerah di penghujung pekan menjadi momentum penuh makna bagi Fasilitator NIHR Universitas Brawijaya (UB). Diawali dengan menghadiri undangan Tasyakuran Buka Giling Perdana yang diselenggarakan oleh Bakalan Waste Bank (BWB) Desa Bakalan, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, Fasilitator NIHR UB kemudian melanjutkan perjalanannya menuju Desa Kasembon. Tujuan utamanya adalah melakukan kunjungan dan silaturahmi ke basecamp Tim Enumerator NIHR Global Health Research Group on Sustainable Care for Anxiety and Depression (NIHR GHG STAND).

Basecamp tim yang berada sekitar 6 kilometer dari home base BWB itu, terletak di Jalan P. Diponegoro, Dusun Krajan RT 14 RW 03, Desa Kasembon. Bangunan berbentuk ruko dua lantai menjadi tempat tinggal dan titik koordinasi para enumerator selama proses pengumpulan data.

Setibanya di sana selepas waktu Dhuhur, Fasilitator hanya bertemu dengan Field Supervisor, Slamet Hariono, S.Si., seorang peneliti lapangan yang telah lama malang melintang bersama Fasilitator dalam proyek-proyek seperti STAR, IFLS 4EOPO, maupun SMARThealth.

Fasilitator NIHR UB dan Field Supervisor NIHR GHG STAND dalam silaturahmi di basecamp Kasembon, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang

Kehangatan silaturahmi siang hingga sore itu terasa kental. Meskipun lima enumerator lainnya sedang bertugas di lapangan hingga menjelang Maghrib, diskusi antara Fasilitator dan Field Supervisor mengalir akrab. Cerita demi cerita mengemuka - tentang dinamika lapangan, perkembangan riset, hingga romantika pekerjaan sosial berbasis data.

Kunjungan ini merupakan bagian dari gelombang kedua (Wave 2) pelaksanaan riset NIHR GHG STAND, sebuah penelitian kolaboratif antara University of Manchester (UoM), Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Tujuan utama riset ini adalah mengidentifikasi serta meningkatkan akses dan kualitas perawatan bagi individu yang hidup dengan kecemasan dan depresi di Indonesia.

Pelatihan bagi para Enumerator telah dilaksanakan pada 16–18 Agustus 2025 di Hotel Savana, Kota Malang. Setelah itu, mereka bergerak ke Enumeration Area (EA) Kasembon pada Ahad, 31 Agustus 2025, untuk pengenalan medan dan konsolidasi tim. 

Instrumen kesehatan mental (mental health) dalam NIHR GHG STAND

Keesokan harinya, wawancara lapangan dimulai secara resmi. Target responden merujuk pada Wave 1 yaitu 1.600 individu, dengan metode pengumpulan data menggunakan sistem CAPI (Computer-Assisted Personal Interviewing) yang dioperasikan melalui tablet.

Tim ini dijadwalkan menetap di Kasembon hingga Senin, 22 September 2025, sebelum bergerak menuju desa berikutnya, Karangsari di Kecamatan Bantur, pada Selasa, 23 September 2025 bila sesuai target yang ditentukan.

Tak hanya itu, Field Supervisor juga membagikan kabar tentang supervisi lapangan yang dilakukan sehari sebelumnya oleh Dr. dr. Sri Idaiani, Sp.KJ, peneliti senior dari BRIN. Dalam kunjungannya, Dr. Idaiani menyaksikan langsung proses wawancara yang dilakukan oleh tiga enumerator, melakukan briefing tim di basecamp, hingga berbagi waktu makan siang di Café IOU 2020, Desa Kuwolu, Kecamatan Bululawang. 

Susu segar Nestle Goodnes Kurma Ajwa Madinah

Momen santai berlanjut dengan belanja oleh-oleh di industri baju lokal sebelum akhirnya Dr. Idaiani melakukan sesi Zoom bersama dr. Asri Maharani, MMRS, Ph.D., peneliti dari University of Manchester, Inggris. Di penghujung hari, ia masih sempat mendampingi dua enumerator melakukan wawancara lanjutan sebelum kembali ke hotelnya di Kota Malang.

Obrolan hangat itu menemani Fasilitator NIHR UB yang menikmati sekaleng kecil susu kurma Ajwa dari Field Supervisor. “Segar sekali di tengah panas terik,” ujarnya sembari tersenyum. Tak terasa, sore pun merambat senja. Sebelum berpamitan, Fasilitator diajak menikmati seporsi mie ayam AREMA di sebuah warung dekat PT Wijaya Cahaya Timber (WCT), sebuah perusahaan plywood yang terletak di Jalan Gajah Mada, Dusun Krajan.

Kunjungan ini bukan hanya menjadi ajang silaturahmi, namun juga penguatan semangat tim di lapangan, yang terus bekerja dengan dedikasi tinggi untuk menyukseskan riset yang bermanfaat luas bagi masa depan kesehatan mental masyarakat Indonesia. *** [150925]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Jumat, 12 September 2025

Skrining dalam Suling di Desa Sambigede: Di Balik Sunyi Subuh, Kesehatan Tak Pernah Tidur

Dini hari belum benar-benar beranjak dari gelapnya ketika suasana di Jalan Untung Suropati, RT 08 RW 03, Desa Sambigede, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, sudah terasa semarak pada Jumat (12/09). 

Waktu masih menunjukkan pukul 02.30 WIB, namun di sekitar Masjid Baitul Karim, geliat kehidupan sudah terasa berbeda dari biasanya. Tak sekadar agenda religius, tetapi juga momentum pelayanan dan kepedulian sosial terpadu.

Masjid Baitul Karim di Jalan Untung Suropati Desa Sambigede RT 08 RW 03 Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang

Pagi itu, Masjid Baitul Karim menjadi tuan rumah kegiatan “Subuh Keliling” atau yang lebih dikenal sebagai Suling, yang rutin digelar Pemerintah Kabupaten Malang. Hadir dalam kegiatan ini, Bupati Malang Drs. H.M. Sanusi, M.M., Ketua TP PKK Kabupaten Malang, Wakil Bupati, serta jajaran Forkopimda. 

Namun, yang menjadikan suasana semakin bermakna adalah hadirnya pelayanan kesehatan bagi warga, yang digagas dalam program bertajuk “Skrinshut” (Skrining Kesehatan bersama Subuh Keliling Terpadu), atau dalam bahasa yang sederhana adalah ‘Skrining dalam Suling.”

Sambutan Bupati Malang dalam Subuh Keliling di Masjid Baitul Karim Desa Sambigede

Kolaborasi Lintas Sektor: Dari Masjid, Menyapa Kesehatan Warga

Di balik keramaian yang biasa terdengar usai azan Subuh, rumah yang berada di sebelah utara Masjid Baitul Karim berubah menjadi pusat pelayanan kesehatan masyarakat. Dipimpin oleh Kepala Puskesmas Sumberpucung, drg. Rahmawati Daha, kegiatan skrining ini menjadi contoh nyata kolaborasi lintas sektor dan lintas profesi dalam memberikan pelayanan langsung ke masyarakat.

Tim kesehatan yang terlibat bukan hanya dari internal Puskesmas. Hadir pula Klinik Muhammadiyah Sumberpucung, Klinik Rawat Inap (KRI) Ramdani Husada Jatikerto, Klinik Jantung PACCE Hasna Medika, serta dukungan dari Perkumpulan Klinik dan Fasilitas Kesehatan Indonesia (PKFI) Kabupaten Malang. Bahkan, Tim SMARThealth dari Universitas Brawijaya (UB) turut hadir dan mendokumentasikan kegiatan ini.

Suasana skrining kesehatan bakda subuh

Alur Pelayanan: Dari Nomor Antrean Menuju Kesadaran Kesehatan

Warga yang ingin memeriksakan diri cukup mengambil nomor antrean. Di bawah tenda panjang di halaman rumah yang difungsikan sebagai pos pelayanan, alur pemeriksaan dimulai. Meja pertama adalah tempat pendaftaran online dengan sistem SATU SEHAT. Setelah itu, mereka diarahkan ke pengukuran antropometri - berat badan, tinggi badan, dan lingkar perut - oleh kader ILP berseragam oranye.

Selanjutnya, mereka diperiksa tekanan darah oleh tenaga kesehatan Puskesmas. Pemeriksaan berlanjut ke cek gula darah oleh tim dari Klinik Muhammadiyah Sumberpucung. Setelah semua data diperoleh, warga diarahkan ke meja dokter untuk konsultasi dan analisa kesehatan. Di meja itu, dokter fungsional Puskesmas Sumberpucung, dibantu nakes dari KRI Ramdani Husada.

Pengukuran antropometri oleh kader ILP Desa Sambigede

Bagi yang terindikasi memiliki faktor risiko hipertensi atau penyakit jantung, akan dirujuk untuk pemeriksaan lanjutan di Klinik Jantung PACCE. Sementara itu, bagi perempuan, tersedia layanan SADANIS (pemeriksaan payudara klinis). 

Bagi yang terindikasi jantung, mereka akan mendapat rujukan pemeriksaan lebih lanjut di Klinik PACCE, dan bagi yang hipertensi akan diikutkan dalam Prolanis (Program Pengelolaan Penyakit Kronis).

Semua pelayanan ini diberikan secara gratis, dengan dukungan penuh dari tenaga medis yang jumlahnya tidak sedikit. Tercatat, 14 tenaga kesehatan dari Ponkesdes di lingkungan kerja Puskesmas Sumberpucung, termasuk bidan dan perawat dari 7 desa, 5 dokter muda UNISMA, serta 12 kader ILP dan 2 kader siaga, bekerja sejak dini hari. Koordinasi lapangan dikomandoi oleh Pj PTM Puskesmas Sumberpucung, Istitik Wahyuni, S.Kep.Ners, dibantu oleh tenaga kesehatan lokal (Ponkesdes Sambigede) seperti Bidan Istanti Puji Wahyuni, S.Tr.Keb. dan perawat Priyanto, S.Kep.Ners.

Bupati Malang diwawancarai perawat Puskesmas Sunberpucung ketika mengunjungi stand pemeriksaan

Deteksi Dini untuk Hidup Lebih Panjang

Menurut Bupati Malang yang hadir langsung meninjau kegiatan ini, skrining kesehatan menjadi semakin penting mengingat beban penyakit tidak menular (PTM) terus meningkat tiap tahunnya. Dalam wawancara singkat bersama perawat Farida, selaku Ketua Seksi Acara Puskesmas Sumberpucung, Bupati menekankan pentingnya upaya pencegahan sejak dini.

Pelayanan skrining ini sendiri dimulai pukul 03.30 WIB dan ditutup pukul 06.22 WIB, dengan total 113 warga berhasil mendapatkan layanan. Angka yang menggambarkan antusiasme dan kesadaran masyarakat akan pentingnya deteksi dini.

Bupati Malang berkenan menyalami warga yang ikut skrining kesehatan

Lebih dari Sekadar Pemeriksaan

Di balik angka dan statistik, kegiatan “Skrining dalam Suling” membawa pesan yang lebih dalam. Ia bukan hanya soal pengobatan, tetapi tentang menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan sebelum penyakit datang. Mengutip pepatah lama, “Mencegah lebih baik daripada mengobati” (Prevention is better than cure).

Skrining rutin seperti ini memberikan ketenangan batin, karena seseorang bisa mengetahui status kesehatannya lebih awal. Ia memungkinkan deteksi dini terhadap penyakit serius yang kerap tidak menunjukkan gejala di awal, seperti jantung atau kanker. Dengan demikian, masyarakat dapat mengambil tindakan proaktif dan tepat waktu, yang pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup mereka secara keseluruhan.

Suasana pemeriksaan usai kunjungan Bupati Malang di stand UPT Puskesmas Sumberpucung

Harapan di Balik Subuh

Suling di Desa Sambigede pagi itu bukan sekadar agenda seremonial. Ia adalah bentuk nyata dari kehadiran negara - pemerintah, tenaga medis, penggiat masyarakat, dan elemen masyarakat - yang bersatu untuk memberikan manfaat langsung bagi rakyat.

Dan dari balik hiruk-pikuk pelayanan dini hari itu, tersembunyi harapan: bahwa masyarakat Desa Sambigede dan sekitarnya bisa hidup lebih sehat, lebih peduli, dan lebih siap menghadapi tantangan kesehatan di masa depan. Karena di balik sunyi Subuh, kesehatan tak pernah tidur. *** [120925]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Pendampingan Berlanjut, Health Coaching Tahap 2 Diimplementasikan di Puskesmas Gondanglegi

It is not primarily our physical selves that limit us, but rather our mindset about our physical limits.” -- Ellen Jane Langer

Di tengah pendampingan additional piloting kuesioner COM-B yang berlangsung di Kelurahan Kepanjen, Field Supervisor menyempatkan diri meluncur ke Puskesmas Gondanglegi untuk mendokumentasikan implementasi health coaching tahap 2. 

Kegiatan ini berlangsung di Puskesmas Gondanglegi yang beralamat di Jalan Diponegoro No. 62, Dusun Krajan Satu, Desa Gondanglegi Kulon, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, tepatnya berada di Ruang Imunisasi. Letaknya berada di belakang kasir atau depan Ruang Pelayanan KB/Ruang KB Kespro.

Hari Kamis (11/09) merupakan hari kedua pelaksanaan health coaching tahap 2, yang menyasar tiga pasien hipertensi dan dimulai tepat pukul 12.13 WIB. Sebelumnya, pada hari pertama, sebanyak sembilan pasien telah mengikuti sesi coaching yang dipandu oleh dr. Aulia Nur Ahmad Humsen.

Ruang Imunisasi Puskesmas Gondanglegi menjadi tempat health coaching tahap 2

Seluruh proses pendampingan dicatat dalam logbook oleh Penanggung Jawab (Pj) Promosi Kesehatan, M. Amril M., sementara pengukuran tekanan darah dilakukan oleh Pj PTM, Ilham Tri Wicaksa, A.Md.Kep.

Berbeda dari sesi sebelumnya, coaching tahap kedua ini tidak hanya berfokus pada evaluasi hasil sesi pertama, tetapi juga memperkenalkan materi tentang aktivitas fisik. Aktivitas fisik diketahui memiliki efek signifikan dalam menurunkan tekanan darah melalui beberapa mekanisme fisiologis. 

Aktivitas fisik teratur dapat menyebabkan vasodilatasi pepmbuluh darah serta peningkatan elastisitas pembuluh darah (Pecastello et. al., 2015). Mekanisme ini terjadi karena aktivitas fisik meningkatkan produksi nitric oxide (NO) yang berfungsi sebagai vasodilator alami sehingga pembuluh darah mengalami pelebaran (vasodilatasi), mengurangi restensi perifer, dan menurunkan tekanan darah.

Pj PTM lakukan pengukuran tekanan darah pasien sebelum health coaching

Selain itu, aktivitas fisik teratur juga membantu mengurangi stress oksidatif dan inflamasi pada pembuluh darah serta memperbaiki fungsi endothelium. Hal ini secara langsung berkontribusi terhadap penurunan tekanan darah dan perbaikan struktur jantung serta pembuluh darah pada penderita hipertensi.

Materi ini dirancang dan disampaikan berdasarkan pendekatan yang dikembangkan oleh dr. Arief Alamsyah, MARS, Sp.KKLP dalam penelitian "Pengembangan Model Health Coaching untuk Pengendalian Hipertensi di Layanan Primer". Dengan demikian, pasien tidak hanya diajak mengevaluasi tetapi juga memahami pentingnya bergerak aktif sebagai bagian dari pengelolaan hipertensi yang holistik.

Di balik proses teknis dan edukatif ini, tersirat pesan penting tentang perubahan pola pikir dan pemberdayaan diri. Seperti yang dikatakan oleh Ellen J. Langer, seorang psikolog dan profesor dari Harvard University:

Selesai health coaching oleh dokter fungsional Puskesmas Gondanglegi, pasien diberikan obat dan pesan minumnya dikomunikasikan kepada anaknya yang mengantar pasien

“Bukanlah fisik kita sendiri yang membatasi kita, melainkan pola pikir kita tentang batasan fisik kita.”

Kata-kata ini menjadi pengingat bahwa transformasi kesehatan bukan semata soal tubuh, tetapi dimulai dari keyakinan bahwa perubahan itu mungkin - sebuah semangat yang turut dihidupkan melalui sesi health coaching ini.

Melalui pendekatan yang menyeluruh dan berorientasi pada pasien, Puskesmas Gondanglegi terus berupaya memperkuat layanan promotif dan preventif. Diharapkan, inisiatif ini dapat menjadi model praktik baik dalam pengendalian hipertensi di layanan primer, serta menjadi langkah kecil menuju perubahan besar dalam perilaku hidup sehat masyarakat. *** [120925]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Risk Checker

Risk Checker

Indeks Massa Tubuh

Supplied by BMI Calculator Canada

Statistik Blog

Sahabat eKader

Label

Arsip Blog