Sabtu, 28 Februari 2026

Mengakhiri Puasa Ketidakpedulian: Bukber Hangat Kader Kesehatan dan Pokja 4 Kepanjen di Balai RW 01

Le plus grand iftar est de rompre le jeûne de l’apathie, avec la fête de l’affection.” --Abhijit Naskar, L'humain Impossible: Cent Sonnets pour Ma Famille Mondiale

Senja belum benar-benar turun ketika langkah-langkah para kader kesehatan dan anggota Pokja 4 Kelurahan Kepanjen berbalik arah dari Jalan Ahmad Yani RT 02 RW 02 Kelurahan Kepanjen, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Beberapa saat sebelumnya, mereka sibuk membagikan paket takjil dalam kegiatan bertajuk “Tebar Kebaikan, Raih Keberkahan”. 

Senyum, sapa, dan ucapan terima kasih masih terngiang ketika rombongan itu kembali ke Balai RW 01 Kepanjen untuk melanjutkan kebersamaan dalam agenda yang tak kalah hangat: buka puasa bersama (bukber).

Di balai sederhana itu, kebersamaan terasa semakin lengkap. Mereka mengajak Bidan Ponkesdes Panji Husada, Mamik Makrifatin, S.ST, pengelola YouTube Kader Nenjap, hingga salah seorang anggota Tim SMARThealth dari Universitas Brawijaya (UB). Tidak ada sekat jabatan, tidak ada jarak profesi. Semua duduk sejajar, menunggu azan dengan perasaan yang sama, yakni lega dan syukur.

Laporan kegiatan "Tebar Kebaikan, Raih Keberkahan di Bulan Ramadhan" oleh kader kesehatan, termasuk laporan keuangannya

Menariknya, dapur kebaikan yang sejak pagi menyiapkan paket takjil untuk dibagikan ternyata juga menyiapkan hidangan untuk berbuka. Di atas meja panjang tersaji aneka menu rumahan yang menggoda selera, seperti nasi putih hangat, sayur sop yang mengepul, urap dengan kelapa parut berbumbu, oseng-oseng oyong, ayam suwir, empal susur, hingga perkedel dan dadar jagung. 

Ada pula tempe mendoan, tempe goreng, weci, lalapan timun lengkap dengan sambal kecap, kerupuk rambak yang renyah, es kuwut yang menyegarkan, potongan semangka, bahkan durian yang aromanya sudah lebih dulu memenuhi ruangan.

Catatan salah satu anggota Tim SMARThealth UB sebelum azan berkumandang seolah menjadi inventaris kecil dari cinta yang terhidang di atas meja.

Ketika matahari benar-benar tenggelam dan azan magrib menggema dari mushola di pinggir rel Stasiun Kepanjen, semua bergegas. Mereka menyegerakan berbuka, selaras dengan anjuran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam riwayat Sahl bin Sa’d yang termaktub dalam Sahih al-Bukhari: “Umat manusia akan tetap berada di jalan yang benar selama mereka bersegera berbuka puasa.”

Doa pun terucap lirih secara pribadi oleh salah seorang anggota Tim SMARThealth UB, “Dzahabazh zhama'u wabtallatil 'uruuqu wa tsabatal ajru insya’ Allah.” Haus telah hilang, kerongkongan telah basah, dan pahala telah ditetapkan, insya Allah.

Anggota Tim SMARThealth UB lakukan inventarisir menu bukber dalam catatannya

Bagi kader kesehatan dan Pokja 4 Kelurahan Kepanjen, buka puasa bersama bukan sekadar tradisi tahunan. Ia adalah simpul kebersamaan yang terus dirawat. Di tengah dinamika kehidupan modern yang serba cepat, momen seperti ini menjadi ruang jeda sebagai tempat lelah diluruhkan, cerita dibagikan, dan tawa dilepaskan tanpa beban.

Berbuka bersama memungkinkan setiap orang keluar sejenak dari rutinitas, berbagi waktu berkualitas dengan rekan seperjuangan. Ia bukan hanya tentang menyantap hidangan lezat setelah seharian berpuasa, melainkan tentang memperkuat ikatan sosial, merawat solidaritas, serta menghargai keberagaman dalam satu meja yang sama.

Tak heran jika kekompakan kader kesehatan Kelurahan Kepanjen kerap menjadi buah bibir. Inisiatif kegiatan mereka bukan semata agenda seremonial, melainkan refleksi kepedulian yang nyata. 

Berbagai studi bahkan menunjukkan bahwa iftar bersama memiliki dampak positif terhadap psychological well-being, yaitu menjadi sarana pemulihan mental, meningkatkan kebahagiaan, sekaligus mempererat hubungan sosial melalui interaksi yang hangat dan bermakna.

Indahnya bukber bersama kader kesehatan dan Pokja 4 Kelurahan Kepanjen di Balai RW 01

Seolah menguatkan makna itu, penulis dan pemikir kelahiran Kalkuta, India, Abhijit Naskar pernah berujar dalam L'humain Impossible: Cent Sonnets pour Ma Famille Mondiale (2024), kumpulan sekitar seratus soneta pilihannya:

“Buka puasa terhebat adalah mengakhiri puasa ketidakpedulian dengan pesta kasih sayang.” 

Kalimat tersebut menemukan relevansinya di Balai RW 01 sore itu. Setelah berbagi takjil di jalanan, mereka tak berhenti pada aksi sesaat. Mereka melanjutkannya dalam lingkar kebersamaan guna mengikat kembali semangat pelayanan dengan kehangatan persaudaraan.

Ramadhan, pada akhirnya, bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia adalah tentang menumbuhkan empati, merawat kepedulian, dan menghadirkan kasih sayang dalam tindakan nyata. Dan di Kelurahan Kepanjen, nilai-nilai itu hidup di tangan para kader kesehatan dan Pokja 4 yang kompak, sederhana, namun penuh makna. *** [280226]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Jumat, 27 Februari 2026

Tebar Kebaikan, Raih Keberkahan: 16 Menit yang Menghangatkan Ramadhan di Kepanjen

Prophet Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam said, “The best of you are those who feed others” [H.R. Ahmad]

Jumat (27/02) sore itu masih menyisakan sedikit gerimis selepas pukul 17.00 WIB. Lalu lintas di Jalan Ahmad Yani RT 02 RW 02, Kelurahan Kepanjen, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, mengalir seperti biasa. 

Namun di depan Pertokoan Ardi Mulyo, tepat di depan bekas Bank CIMB Niaga atau MS Glow Official Kepanjen, ada pemandangan yang berbeda, yakni senyum-senyum tulus menyambut para pengendara yang melambatkan kendaraan.

Sebanyak 26 kader kesehatan dan anggota Pokja 4 Kelurahan Kepanjen yang dipandu kader Agustin Shintowati berdiri berjejer, membawa kantong-kantong takjil. Mereka menamai kegiatan itu sederhana namun penuh makna, yaitu “Tebar Kebaikan, Raih Keberkahan di Bulan Ramadhan.”

Didampingi Bidan Ponkesdes Panji Husada, Mamik Makrifatin, S.ST., Babinsa Kelurahan Kepanjen, serta salah seorang anggota Tim SMARThealth Universitas Brawijaya (UB), para kader membagikan 300 paket takjil kepada masyarakat yang melintas di jalan besar Kepanjen.

Kader kesehatan dan Pokja 4 Kelurahan Kepanjen berpose dengan bidan Ponkesdes Panji Husada, babinsa dan salah seorang anggota Tim SMARThealth UB

Takjil: Menyegerakan, Menguatkan

Secara etimologis, istilah takjil berasal dari bahasa Arab ‘ajjala–yu‘ajjilu–ta‘jiilan (عجل - يعجل - تعجيلاً) yang berarti menyegerakan atau mempercepat. Dalam konteks ibadah puasa, takjil merujuk pada anjuran untuk menyegerakan berbuka ketika waktunya tiba. 

Di Indonesia, maknanya bergeser menjadi hidangan ringan pembuka puasa - kurma, kolak, atau minuman manis yang mengembalikan energi selepas seharian menahan lapar dan dahaga.

Namun bagi kader kesehatan dan Pokja 4 Kelurahan Kepanjen, takjil bukan sekadar makanan pembuka saja, tetapi ditambahi suwiran ayam pedas yang cukup padat dalam gelas kardus sehingga cukup hingga untuk sahur. Ia adalah jembatan kepedulian.

Penurunan paket takjil yang diangkut dari Balai RW 01 Kelurahan Kepanjen ke lokasi pembagian takjil

Dari Iuran Hingga 300 Senyuman

Kegiatan ini bukan program dadakan. Ia telah menjadi agenda rutin setiap Ramadhan. Dana yang terkumpul pun lahir dari semangat kebersamaan, yaitu dari iuran penyisihan insentif kader yang terkumpul Rp1,2 juta, ditambah bantuan dari Bidan Ponkesdes Panji Husada dan para donatur lainnya yang tak bisa disebutkan satu per satu. Total dana tahun ini mencapai Rp2,17 juta.

Sejak sehari sebelumnya, antusiasme sudah terasa. Pagi harinya, para kader berkumpul untuk memasak, meracik, dan merakit paket-paket takjil dengan penuh canda dan semangat. Balai RW 01 Kepanjen berubah menjadi ruang kebersamaan.

Sore itu, 300 paket takjil siap dibagikan. Dan yang mengejutkan, hanya dalam waktu 16 menit, seluruh paket ludes. Senyum para penerima dan ucapan terima kasih singkat menjadi hadiah paling bermakna bagi para kader.

“Kami senang bisa berbagi di bulan suci ini,” ujar salah satu kader dengan mata berbinar.

Tumpukan paket takjil siap dibagikan oleh kader Kelurahan Kepanjen

Memberi yang Menguatkan Jiwa

Apa yang dilakukan kader kesehatan dan Pokja 4 ini bukan hanya aksi sosial, tetapi juga cerminan nilai spiritual. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (صلى الله عليه وسلم) bersabda dalam H.R. Ahmad, “Orang yang terbaik di antara kalian adalah orang yang memberi makan orang lain.”

Hadits tersebut sederhana, namun mengandung dorongan moral yang kuat, yaitu memberi makan bukan sekadar mengenyangkan perut, tetapi menghidupkan empati.

Menariknya, nilai ini juga sejalan dengan temuan ilmiah modern. Sejumlah penelitian psikologi terindeks Scopus menunjukkan bahwa perilaku memberi - termasuk berbagi makanan - berkorelasi positif dengan peningkatan kesejahteraan psikologis (psychological well-being), kebahagiaan subjektif, dan penurunan tingkat stres.

Antrean kendaraan ingin menerima takjil dari kader kesehatan dan Pokja 4 Kelurahan Kepanjen

Studi dalam Journal of Happiness Studies dan Social Science & Medicine menemukan bahwa tindakan prososial seperti memberi makan orang lain dapat memicu pelepasan hormon oksitosin dan dopamin yang berkaitan dengan rasa bahagia dan keterikatan sosial. 

Penelitian Dunn, Aknin, dan Norton (2008) bahkan menunjukkan bahwa membelanjakan uang untuk orang lain secara signifikan meningkatkan kebahagiaan dibandingkan membelanjakan untuk diri sendiri.

Bagi kader kesehatan - yang sehari-hari berkutat dengan pelayanan masyarakat - kegiatan seperti ini bukan hanya mempererat solidaritas sosial, tetapi juga memperkuat makna peran mereka. Mereka tidak hanya hadir sebagai penggerak kesehatan fisik, melainkan juga kesehatan sosial dan emosional masyarakat.

Kader sedang membagikan paket takjil kepada pengendara motor yang melintas di Jalan Ahmad Yani RT 02 RW 02 Kelurahan Kepanjen, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang

Lebih dari Sekadar Rutinitas

Tebar Kebaikan, Raih Keberkahan” bukan sekadar slogan. Ia menjelma praktik nyata di tepi jalan, di tengah hiruk pikuk kendaraan, dalam paket-paket sederhana yang berpindah tangan menjelang azan Maghrib.

Kegiatan ini patut diapresiasi. Ia membuktikan bahwa kebaikan tak selalu harus besar dan megah. Kadang, ia cukup hadir dalam sebungkus takjil dan senyum yang tulus.

Di tengah dunia yang sering terasa sibuk dan individualistis, kader kesehatan dan Pokja 4 Kelurahan Kepanjen mengajarkan satu hal penting, bahwa keberkahan sering kali berawal dari langkah kecil yang dilakukan bersama.

Dan sore itu, di Jalan Ahmad Yani Kepanjen, 300 paket takjil telah berubah menjadi 300 alasan untuk percaya bahwa kebaikan selalu menemukan jalannya. *** [270226]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Minggu, 18 Januari 2026

Gebyar Lansia Triwulanan, Semangat Usia Senja di Lapangan Desa Mendalanwangi

"It's not how old you are. It's how you are old."  -- Jules Renard

Ahad (18/01) pagi ini, suasana Lapangan Desa Mendalanwangi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, tampak semarak meski awan mendung menggelayuti langit. Sejak dini hari, tepatnya bakda Subuh, satu per satu rombongan lansia mulai berdatangan dari berbagai kecamatan di Kabupaten Malang. 

Mereka hadir dengan wajah ceria dan semangat yang menyala untuk mengikuti Gebyar Lansia Triwulanan, sebuah kegiatan rutin yang digelar oleh Perwakilan Yayasan Gerontologi Abiyoso (PYGA) Kabupaten Malang.

Sambutan dari Perwakilan Bupati Malang

Di sepanjang lapangan desa, suasana kian hidup dengan hadirnya para pedagang dadakan yang berjajar rapi. Aneka jajanan, minuman, hingga kebutuhan sederhana turut memeriahkan kegiatan yang menjadi ajang silaturahmi dan kebugaran bagi para lanjut usia ini. 

Lapangan Mendalanwangi pagi itu bukan sekadar ruang terbuka, melainkan ruang perjumpaan, perayaan, dan bukti bahwa usia senja tetap bisa dijalani dengan aktif dan bermakna.

Meja registrasi peserta Senam Lansia Triwulanan di Lapangan Desa Mendalanwangi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang

Yayasan Gerontologi Abiyoso Kabupaten Malang sendiri dikenal sebagai organisasi yang fokus pada kesejahteraan lansia. Beragam kegiatan rutin seperti senam lansia, sosialisasi kesehatan, hingga studi banding ke daerah lain menjadi ikhtiar nyata untuk meningkatkan kualitas hidup lansia. Pada kesempatan kali ini, PYGA menggelar Senam Lansia Triwulanan se-Kabupaten Malang dengan skala yang cukup besar.

Menurut Koordinator PYGA Kecamatan Bululawang, Sandi Cahyadi, jumlah peserta yang diundang mencapai 2.065 orang. Dari Kecamatan Bululawang sendiri hadir 208 peserta, sementara Kecamatan Wagir sebagai tuan rumah menjadi penyumbang peserta terbanyak dengan sekitar 500 lansia. 

Senam Lansia Bersama dengan Instruktur

Kegiatan ini juga dihadiri oleh KLPI Kabupaten, Forkopimcam Wagir, seluruh Kepala Desa se-Kecamatan Wagir, insan kesehatan dari Puskesmas Wagir, kader kesehatan Desa Mendalanwangi, sejumlah outlet di dalam lapangan, serta salah seorang anggota Tim SMARThealth Universitas Brawijaya (UB).

Acara diawali dengan registrasi peserta dan persiapan senam, dilanjutkan dengan pembukaan resmi melalui lantunan lagu Indonesia Raya dan Mars Lansia. Tepat pukul 07.07 WIB, Ketua Panitia yang juga Kepala Desa Mendalanwangi, Muhammad Sharoni, S.Pt., menyampaikan sambutannya. Selanjutnya, sambutan disampaikan oleh perwakilan Bupati Malang. Meski Bupati Malang berhalangan hadir karena agenda penting lainnya, pesan yang disampaikan tetap mengundang apresiasi.

Kepala Desa dan Ketua TP PKK Desa Mendalanwangi turut serta dalam Senam Lansia Bersama

Dalam sambutannya, perwakilan Bupati Malang menyebut bahwa Gebyar Lansia Triwulanan ini kemungkinan menjadi satu-satunya kegiatan rutin berskala kabupaten yang secara konsisten diperuntukkan bagi lansia, tidak hanya di Kabupaten Malang, tetapi juga disinyalir jarang ditemui di daerah lain di Indonesia. 

Usai sambutan, momen haru pun tercipta ketika perwakilan Bupati membagikan uang ratusan ribu rupiah kepada para lansia berusia di atas 90 tahun, langsung di depan panggung utama.

Lansia berkebaya pink itu tak kalah gemulainya dengan yang lainnya

Kemeriahan berlanjut dengan penampilan senam kreasi yang dibawakan oleh peserta berkostum tradisional berwarna merah dengan mahkota, menambah nuansa budaya dan keanggunan usia senja. Setelah itu, Senam Lansia Bersama (Senam Lansia Bugar) menjadi puncak kegiatan, diikuti oleh ribuan peserta dan tamu undangan dengan penuh antusias.

Sepanjang pengamatan salah seorang anggota Tim SMARThealth UB yang aktif berkeliling lokasi, tampak para peserta mengenakan seragam khas masing-masing kelompok. Sebagian terlihat mengenakan kaos Klub Jantung Sehat Kabupaten Malang.

Kepala Puskesmas Wagir memimpin langsung nakes dan kader kesehatan di Posyankes yang didirikan di pojok lapangan

Di sudut barat daya lapangan, sekelompok lansia tampil mencuri perhatian dengan kebaya pink yang anggun. Gerakan mereka tetap gemulai, penuh semangat, dan tak kalah energik dibanding peserta lainnya.

Tak hanya soal kebugaran, aspek kesehatan juga mendapat perhatian serius. Di salah satu sudut lapangan, berdiri stand Posyankes yang dipimpin langsung oleh Kepala Puskesmas Wagir, dr. Siti Hariyanti. Di stand ini, dilaksanakan kegiatan Posbindu PTM oleh kader kesehatan Desa Mendalanwangi bersama tenaga kesehatan Ponkesdes dan nakes lainnya dari lingkungan Puskesmas Wagir. Layanan yang diberikan meliputi skrining faktor risiko penyakit tidak menular pada lansia, hingga pemeriksaan mata.

Skrining PTM di Posyankes yang dilakukan oleh kader dan nakes

Gebyar Lansia Triwulanan di Mendalanwangi pagi itu menjadi gambaran nyata bahwa usia lanjut bukanlah batas untuk berhenti bergerak, berkarya, dan bersosialisasi. Seperti ungkapan penulis Prancis Jules Renard (1864-1910):

“Bukan berapa umurmu yang penting, tapi bagaimana kamu menjalani hidupmu di usia tua itu.”

Di bawah langit mendung di Lapangan Mendalanwangi, para lansia Kabupaten Malang membuktikan bahwa hidup di usia senja tetap bisa dijalani dengan sehat, bahagia, dan penuh semangat. *** [180126

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Kamis, 15 Januari 2026

Posyandu Anggrek 2 Kepanjen, Sinergi Kader, Korporasi, dan Kesehatan Masyarakat

Pagi tadi, Kamis (15/01), Balai RW 01 Kepanjen cukup ramai. Suasana berbeda dari rutinitas biasa. Bukan seperti biasanya berupa giat Posbindu SMARThealth Anggrek 2, akan tetapi ada giat Posyandu Anggrek 2 yang menjadi binaan PT Astra Graphia Tbk (Astagraphia).

Semangat pagi itu terasa hangat dan penuh makna, menandai kolaborasi apik antara dunia korporasi, dedikasi kader kesehatan, dan tenaga kesehatan dalam membangun generasi sehat dari tingkat paling dasar.

Nakes, kader, ibu balita, bumil dan balita berpose bersama dalam acara Posyandu Anggrek 2 Kepanjen

Sejak Juli 2025, kepercayaan dan dukungan telah diberikan oleh Astagraphia kepada kader kesehatan Kelurahan Kepanjen. Dukungan ini mengukuhkan komitmen mereka dalam menjalankan program Posyandu yang holistik, mencakup pemantauan balita, pemeriksaan ibu hamil, hingga pemberian makanan tambahan (PMT). Seorang anggota Tim SMARThealth Universitas Brawijaya (UB) yang diundang dalam kegiatan tersebut menyaksikan dengan seksama perwujudan nyata program kemitraan ini.

Posyandu Anggrek 2 Kepanjen binaan Astagraphia merupakan sebuah upaya konsolidasi. Ia merangkul cakupan yang lebih luas di wilayah RW 01, Kelurahan Kepanjen, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. “Tujuannya agar sasarannya menjadi lebih banyak, baik balitanya maupun ibu hamilnya (Bumil),” jelas salah seorang kader penggagas. 

Meski kolaborasi ini lahir berkat ubed-nya kader kesehatan, setiap langkahnya senantiasa terkoordinasi rapi dengan tenaga kesehatan (nakes) setempat lewat kemandiriannya bukan instruksional belaka. Penentuan sasaran penerima PMT, misalnya, melalui rekomendasi bidan yang diajukan ke Puskesmas, begitu pula dengan penunjukan kader pendamping.

Suasana giat Posyandu Anggrek 2 Kepanjen, Kabupaten Malang

Semangat kebersamaan benar-benar menjadi napas kegiatan ini. Proses mulai dari memasak, packing, hingga mengantarkan PMT dikerjakan secara bergotong-royong oleh para kader. Laporan bulanan pun disampaikan secara daring, menunjukkan adaptasi dengan sistem digital.

Runtutan kegiatan pagi itu berjalan tertib dan penuh perhatian. Di teras depan, dua kader, Indri Astutik dan Wiwin Waluyaningsih, melayani pendaftaran dengan ramah. Setelah terdaftar, balita mendapatkan layanan pengukuran komprehensif: berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, dan lingkar lengan atas (LILA) oleh tiga kader, yakni Sapta Yulia, Wiwik, dan Wiji Lestari. Data yang terkumpul kemudian dicatat dengan cermat ke dalam Buku Hasil Pengukuran Balita oleh Dewi Kartika dan Sri Handayani.

Namun, Posyandu ini bukan sekadar tempat pengukuran. Ia juga menjadi ruang belajar. Di sela kegiatan, edukasi dan penyuluhan digelar oleh Aries Styowati, SKL, staf Puskesmas Kepanjen, didampingi kader penyuluhan Luluk Tamawati. Metodenya interaktif dan menarik, yaitu circle conversation

Salah seorang ibu balita dalam permainan edukasi

Sejumlah ibu balita diajak memberikan komentar atas gambar-gambar yang disediakan, berdasarkan pengetahuan mereka masing-masing. Dari sanalah, Aries memantik penyuluhan kesehatan yang kontekstual.

Misalnya, dari gambar dua telapak tangan, Aries menjelaskan pentingnya cuci tangan pakai sabun bagi Bumil dan balita. “Tangan termasuk salah satu sarana penularan penyakit. Penularan ini bisa dihentikan dengan cuci tangan memakai air mengalir dan sabun,” jelasnya. 

Topik lain yang mengemuka adalah tentang lalat. Ibu-ibu diingatkan untuk menjaga kebersihan sampah di rumah dan lingkungan, serta menggunakan tudung saji agar makanan terhindar dari kontaminasi.

Usai penyuluhan yang hidup itu, suasana semakin cair dengan sesi foto bersama. Kemudian, langsung dibagikan PMT yang telah disiapkan. Untuk pertemuan kali ini, menu andalan adalah Puding Roti Tawar dan Pisang, menyajikan nutrisi dalam bentuk yang disukai anak.

Kotak PMT mengakhiri giat Posyandu Anggrek 2 Kepanjen di Balai RW 01

Namun, pelayanan tidak berhenti di balai. Komitmen kader melampaui batas ruang pertemuan. Usai acara, dua kader yang duduknya tadi mengapit staf Puskesmas, Agustin Shintowati dan Kristien Mariana, langsung melanjutkan tugas dengan melakukan kunjungan pendampingan kepada ibu hamil di daerah timur rel Stasiun Kepanjen. Sebuah bukti bahwa perhatian dan pendampingan ini bersifat menyeluruh, menjangkau mereka yang mungkin tak bisa hadir.

Posyandu Anggrek 2 Kepanjen binaan Astagraphia adalah mozaik indah. Di dalamnya, ada sentuhan tanggung jawab sosial korporasi, ada dedikasi tanpa lelah para kader kesehatan akar rumput, ada arahan profesional dari tenaga kesehatan, dan ada partisipasi aktif masyarakat. Kolaborasi ini tidak hanya menimbang berat badan balita, tetapi juga menguatkan pondasi kesehatan komunitas untuk masa depan yang lebih cerah. *** [150126]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Selasa, 30 Desember 2025

Skrining CKG di Pabrik Rokok BST: Kolaborasi untuk Deteksi Dini Kesehatan Pekerja

In union there is strength.” -- Aesop

Komitmen terhadap kesehatan pekerja kembali diwujudkan melalui kegiatan skrining CKG yang digelar di Pabrik Rokok (PR) Berca Sauti Tobacco (BST). Selama tiga hari tidak berturut-turut, Puskesmas Sumberpucung berkolaborasi dengan PR BST melaksanakan skrining CKG bagi karyawan langsung di tempat kerja, tepatnya di Jalan Ir. Soekarno RT 15 RW 04 Desa Jatiguwi, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang.

Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 15, 22, dan 29 Desember 2025. Pelaksanaan selama tiga hari dipilih dengan pertimbangan jumlah pekerja yang mencapai sekitar 750 orang, sehingga proses pemeriksaan dapat berjalan tertib, menyeluruh, dan tetap memperhatikan kelancaran aktivitas produksi pabrik.

Bagi PR BST, pelaksanaan skrining CKG ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan bentuk kepedulian nyata terhadap kesehatan pekerja. Deteksi dini menjadi kunci agar potensi gangguan kesehatan dapat dikenali lebih awal dan ditangani secara tepat. Sementara itu, Puskesmas Sumberpucung bersama institusi kesehatan lain melihat kegiatan ini sebagai wujud pelayanan promotif dan preventif yang menyentuh langsung masyarakat pekerja.

Tim Kesehatan Puskesmas Sumberpucung dan kader berpose di depan PR BST Desa Jatiguwi, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang

Koordinator pelaksanaan skrining CKG ini adalah Istitik Wahyuni, A.Md.Keb., S.Kep.Ners, selaku Penanggung Jawab Program Penyakit Tidak Menular (Pj PTM) Puskesmas Sumberpucung. Adapun pengaturan alur pemeriksaan di lapangan dikoordinasikan oleh bagian K3 PR BST yang terdiri dari Gigo Bimby, S.Psi., Gigih May Siswantoro, S.Pd., M.Pd., serta didukung oleh bagian SDM, Nindy Oktavia Kartika Sari, ST.

Alur skrining dimulai ketika karyawan dipanggil oleh bagian K3 menuju meja pendaftaran. Proses pendaftaran dilayani oleh personel Puskesmas Sumberpucung, yakni Susi Wingga Wati, A.Md.RMIK, Yusvika, A.Md.Kep., dan Nur Khusniati, S.Tr.Keb. Setelah itu, karyawan menjalani pemeriksaan antropometri secara berurutan.

Pengukuran berat badan dilakukan oleh kader Tri Suhartatik, tinggi badan oleh Ahmad Ayrul Fatihah, S.M. (staf magang PR BST), serta lingkar perut oleh kader Winarsih. Selanjutnya, pengukuran tekanan darah dilaksanakan oleh kader Parlindani Rahayu, disusul pemeriksaan kadar gula darah oleh kader Yuli Prasetyorini.

Nakes berkoordinasi

Rangkaian pemeriksaan berlanjut dengan pengukuran CO Analyzer yang dilakukan oleh kader Mela Fitringtyas, serta pemeriksaan kesehatan mata (visus) oleh Ikrima Ifada, S.ST. Untuk layanan papsmear, Puskesmas Sumberpucung menggandeng Tim Laboratorium Patimura Malang yang diperkuat oleh Deny Suryap., A.Md.Kep., Nining Setyowati, A.Md.Kep., Nur Hidayati Kusumaningrum, dan Eli Ning Kabibah, A.Md.Kep. Pemeriksaan sadanis ditangani oleh Riska, S.Tr.Keb.

Sementara itu, pemeriksaan EKG dilaksanakan dengan dukungan Tim Klinik PACCE, yang terdiri dari dr. Maudy Putri Saraswati, Septiara Balqisya Awan, S.Tr.Kes., dan Rezky Putri M., A.Md.Kep. Dukungan juga datang dari Optik Natural, yang ditangani oleh Suliono dan Aunila Aida, khususnya dalam pelayanan kesehatan mata.

Di sela-sela skrining CKG juga terdapat pembinaan GP2SP (Gerakan Pekerja Perempuan Sehat produktif) yang dilakukan oleh Pj Upaya Kesehatan Kerja (UKK) Puskesmas Sumberpucung, Ikrima Ifada, S.ST.

Pengukuran tekanan darah oleh kader

Agar seluruh hasil pemeriksaan terdokumentasi dengan baik, proses entry data CKG Online dibantu oleh peserta magang PR BST, yaitu Halimatul Qutsiyah, S.Tr.Kes. dan Rhegita Cahyani Ayudya Pramesti, A.Md.T.

Keseluruhan kegiatan skrining CKG ini menjadi gambaran nyata kuatnya kolaborasi lintas sektor antara fasilitas pelayanan kesehatan, institusi kesehatan pendukung, dan dunia industri. 

Seperti kata bijak dari Aesop (620 SM – 564 SM), penulis fabel Yunani: 

“Dalam persatuan terdapat kekuatan.” 

Kolaborasi yang terjalin antara Puskesmas Sumberpucung, PR BST, dan berbagai mitra kesehatan membuktikan bahwa upaya menjaga kesehatan pekerja akan lebih efektif ketika dilakukan bersama-sama, saling mendukung, dan terkoordinasi dengan baik. *** [301225]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Minggu, 02 November 2025

Kebaya, Kampuh, dan Semangat Sehat di Sidorahayu: Skrining PTM Menyapa WHDI Wagir

Mentari pagi itu bersinar cerah, menyinari kesibukan yang berbeda dari biasanya di Dukuh Ampelsari. Ahad (02/11) itu, bukan hanya Gunung Kawi yang menjulang, melainkan juga riuh rendah semangat kesehatan yang menyelimuti halaman rumah Bapak Jamal di RT 26 RW 06, Desa Sidorahayu, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang.

Di pagi yang menyapa lereng perbukitan di kaki Gunung Kawi sisi timur, perawat Desa Sidorahayu, Dimas Kurniawan, A.Md.Keb., didampingi empat kader Posbindu yang tangguh - Satik, Sumartiani, Warsini, dan Wawuk - telah bersiap. 

WHDI Dukuh Ampelsari terima para tamu di rumah Bapak Jamal di Dukuh Ampelsari RT 26 RW 06 Desa Sidorahayu, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang

Mereka bukan hendak menghadiri pesta, melainkan menggelar sebuah misi penting: skrining atau pemeriksaan dini Penyakit Tidak Menular (PTM). Lokasinya strategis, ditempatkan di halaman rumah Bapak Jamal, yang menjadi titik kumpul sebelum para anggota Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) se-Kecamatan Wagir menuju pertemuan rutin mereka di Pura Satya Graha Bakti yang letaknya bersebelahan.

WHDI, organisasi yang berkhidmat dalam pemberdayaan perempuan Hindu Indonesia, hari itu memusatkan pertemuannya di Ampelsari. Sekitar 80 undangan dari berbagai penjuru Wagir diharapkan hadir. 

Nuansa adat dan kebersamaan terpancar jelas. Sebagai tuan rumah, WHDI Ampelsari tampil memukau dengan balutan kebaya, kampuh, dan jarik bagi perempuan, serta beskap, iket, dan jarik bagi laki-laki. 

Peserta pertemuan WHDI se-Kecamatan Wagir mengantre pengukuran antropometri

Tamu undangan umumnya mengenakan seragam organisasi, dengan kampuh - selendang yang menurut bidan Dwi Ida Susanti, A.Md.Keb., dari Puskesmas Wagir, melambangkan penyatuan jasmani-rohani dan pengikat sadripu (enam musuh yang ada di dalam diri) - menjadi ikon yang menyatukan.

Begitu disambut hangat tuan rumah, para tamu dipersilakan untuk menikmati sarapan. Namun, antusiasme mereka terhadap kesehatan langsung terlihat. Sebagian memilih untuk langsung mengantre di meja skrining yang telah disiapkan, sebuah langkah cerdas untuk menghindari penumpukan.

Suasana pemeriksaan skrining PTM bagi panitia pertemuan WHDI se-Kecamatan Wagir, berkebaya dan berkampuh

Di bawah koordinasi Perawat Dimas, keempat kader yang telah terlatih itu bergerak lincah. Prosesnya sederhana namun penuh makna. Setelah mengisi daftar hadir, para wanita dan ibu-ibu anggota WHDI ini menjalani pemeriksaan antropometri (tinggi/berat badan dan lingkar perut) oleh kader Satik dan Warsini. Lalu, mereka bergeser ke meja sisi selatan untuk pengukuran tekanan darah oleh kader Sumartiani dan pengecekan kadar gula darah oleh kader Wawuk.

Rantai pelayanan tidak berhenti di angka-angka hasil pengukuran. Usai pemeriksaan fisik, para peserta menuju sebuah meja di sisi timur, dengan latar belakang tanaman wijaya kusuma yang sedang berkuncup. 

Usai berikan KIE, perawat Desa Sidorahayu akan memberikan obat bila pasien terindikasi memiliki faktor risiko tinggi (highrisk)

Di sinilah perawat Dimas menunggu, siap memberikan KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi) dan memberikan obat maupun vitamin. Momen ini menjadi jantung dari kegiatan, di mana data yang terkumpul diubah menjadi pemahaman, pesan kesehatan disampaikan, dan perilaku hidup sehat diharapkan tertanam.

Antusiasme tak pernah surut, bahkan ketika hujan singkat turun membasahi bumi. Mereka tetap rela mengantre dengan sabar dan senyum. Semangat ini diperkuat oleh sambutan Ketua WHDI Kecamatan Wagir, Ibu Suci, yang mengingatkan bahwa skrining kesehatan ini adalah bagian dari program pemerintah. "Mari kita umat Hindu aktif berpartisipasi agar kesehatan kita terpantau terus," serunya, sebuah ajakan yang disambut dengan tekad bulat oleh para anggota.

Usai ikut skrining PTM di bawah tenda biru, peserta pertemuan WHDI se-Kecamatan Wagir langsung menuju ke Pura Satya Graha Bakti yang ada di sebelahnya

Selesai pemeriksaan atau sarapan, para peserta kemudian beriringan menuju Pura Satya Graha Bakti untuk melanjutkan acara inti pertemuan. Sementara itu, petugas dan Tim SMARThealth Universitas Brawijaya (UB) yang turut hadir, dipersilakan oleh tuan rumah untuk bersantap sebelum kembali membuka meja pemeriksaan bagi warga sekitar yang ingin memeriksakan diri.

Hingga acara ditutup pukul 12.30 WIB, sebanyak 67 orang telah berhasil diskrining. Sebuah angka yang bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari komitmen kolektif untuk hidup lebih sehat. Pagi itu di Dukuh Ampelsari, Desa Sidorahayu, di antara indahnya balutan kain kebaya dan kampuh, di tengah semangat persaudaraan WHDI, langkah kecil pencegahan PTM telah diukir. Membuktikan bahwa upaya menjaga kesehatan bisa berjalan beriringan dengan pelestarian budaya dan penguatan komunitas, dimulai dari sebuah halaman rumah yang penuh cerita. *** [021025]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Jumat, 24 Oktober 2025

Menjalin Harmoni Ilmu dan Masyarakat: Edukasi dan Pengembangan Terapi Khusus bagi Penderita Hipertensi di Desa Karangduren

Suasana pagi di Balai Desa Karangduren, Jalan Raya Golek No. 60–62, Kecamatan Pakisaji,Kabupaten Malang, terasa berbeda pada Jumat (24/10). Sejak pukul 08.00 WIB, warga sudah berdatangan dengan semangat, mengikuti kegiatan Community Development: Edukasi dan Pengembangan Terapi Khusus bagi Penderita Hipertensi, yang digagas oleh Departemen Farmasi, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) melalui dukungan Dana Kemitraan Sains Internasional atau International Science Partnerships Fund (ISPF).

Kegiatan ini merupakan bagian dari penelitian bertajuk Deteksi Polimorfisme Pasien Hipertensi sebagai Pendekatan Personalisasi Terapi - sebuah langkah ilmiah untuk mengenali perbedaan genetik pada pasien hipertensi agar terapi yang diberikan bisa lebih tepat sasaran, sesuai dengan karakter biologi masing-masing individu.

Sambutan Kaur Pelayanan Desa Karangduren, mewakili Kades

Seperti kata pelukis Prancis Georges Braque (1882-1963), “Seni itu polimorfik. Sebuah gambar tampak berbeda bagi setiap pengamatnya.” Begitu pula dengan dunia medis: satu penyakit dapat tampak serupa di permukaan, namun memiliki keragaman mendasar dalam tubuh setiap orang. Polimorfisme inilah yang menjadi kunci terapi personal yang efektif dan manusiawi.

Kolaborasi Ilmu dan Empati

Tim Farmasi FKUB yang dipimpin oleh dr. Bayu Lestari, M.Biomed., Ph.D dan apt. Favian Rafif Firdaus, S.Farm., M.Farm. ini berjumlah 16 orang - termasuk tenaga medis dari Klinik UB - hadir di lokasi sejak pagi untuk menjalankan berbagai tahapan kegiatan. Mereka bertugas mengambil sampel darah, sementara kader SMARThealth Karangduren turut berperan penting dalam pengukuran tekanan darah, serta membantu warga dan tamu selama kegiatan berlangsung. Sedangkan, antropometri ditangani oleh mahasiswa Farmasi yang turut dalam Tim Farmasi FKUB tersebut.

Pengukuran tekanan darah oleh kader SMARThealth

Alur kegiatan disusun dengan rapi: mulai dari pendaftaran, pengukuran antropometri dan tekanan darah, pemeriksaan sampel darah, hingga edukasi kesehatan. Semua proses berjalan dengan suasana akrab dan penuh antusiasme warga yang mengikuti dari awal hingga akhir.

Menjelang pukul 08.41 WIB, kegiatan semakin semarak dengan sambutan dari Kepala Urusan (Kaur) Pelayanan Desa Karangduren, Jaka Laksana, yang mewakili Kepala Desa. Dalam sambutannya, Jaka menyampaikan apresiasi mendalam terhadap kegiatan ini.

“Kami sangat berterima kasih kepada tim Farmasi UB atas kepedulian dan dedikasinya. Semoga warga Karangduren dapat memanfaatkan kegiatan ini sebaik mungkin dan mengikuti pemeriksaan hingga tuntas,” ujarnya.

Warga menunggu giliran dipanggil dalam pemeriksaan

Membangun Kesadaran, Mewujudkan Kesehatan

Setelah sambutan, kegiatan berlanjut dengan pemeriksaan dan edukasi hingga pukul 10.08 WIB. Dari target 47 orang, sebanyak 27 warga berhasil diperiksa. Meski sebagian warga berhalangan hadir karena berbagai alasan - mulai dari kondisi kesehatan, perjalanan, hingga pekerjaan - semangat yang tercipta dari kegiatan ini menjadi langkah awal yang berharga menuju masyarakat yang lebih sadar kesehatan.

Bagi Tim Farmasi FKUB, kegiatan ini bukan sekadar pengabdian masyarakat, tetapi juga bentuk nyata dari integrasi antara ilmu pengetahuan, penelitian, dan pelayanan sosial. Dengan memahami keragaman genetik setiap pasien, diharapkan terapi hipertensi di masa depan dapat disesuaikan dengan karakteristik individu, sehingga lebih efektif dan berkelanjutan.

Pemeriksaan sampel darah oleh tenaga kesehatan dari Klinik UB

Sebuah Langkah Menuju Personalisasi Terapi

Melalui kegiatan ini, Departemen Farmasi FKUB menunjukkan bahwa sains tidak hanya hidup di laboratorium, tetapi juga berdenyut bersama masyarakat. Polimorfisme genetik bukan lagi konsep abstrak, melainkan pintu menuju masa depan kesehatan yang lebih adil dan manusiawi - di mana setiap individu dipahami sebagai pribadi yang unik.

Karena seperti halnya seni yang “polimorfik” menurut Georges Braque, setiap manusia pun adalah karya hidup dengan bentuk dan makna yang berbeda. Dan memahami perbedaan itulah, sejatinya, wujud tertinggi dari ilmu dan kemanusiaan. *** [241025]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Kamis, 23 Oktober 2025

Pemeriksaan Kesehatan Gratis di Desa Pandanrejo: Upaya Deteksi Dini Demi Masyarakat Wagir Sehat

Since the reduction of risk factors is the scientific basis for primary prevention, the World Health Organization promotes the development of an integrated strategy for prevention of several diseases, rather than focusing on individual ones.” — Gro Harlem Brundtland

Kamis (23/10) pagi ini, niat awal saya sederhana, yaitu mengantar surat tembusan izin penelitian MLTC sekaligus berkoordinasi mengenai kegiatan ISPF di Puskesmas Wagir. Namun, setibanya di sana, saya mendapat kabar bahwa Kepala Puskesmas Wagir, dr. Siti Hariyanti, tengah meninjau kegiatan Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG) di Pendopo Balai Desa Pandanrejo, yang beralamat di Jalan Gondowarso No. 1, Dusun Pandansari RT 05 RW 01, Desa Pandanrejo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang.

Tanpa berpikir panjang, saya pun meluncur ke lokasi. Seperti pepatah mengatakan, “Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.” Di tempat itu, saya tidak hanya berhasil menyerahkan surat langsung kepada Kapus, tetapi juga dapat berkoordinasi dengan Dimas Kurniawan, A.Md.Kep., perawat Desa Sidorahayu, terkait pelaksanaan ISPF. Dan yang tak kalah berkesan, saya berkesempatan menyaksikan langsung implementasi PKG di lapangan - suatu kegiatan yang mencerminkan semangat pelayanan kesehatan berbasis masyarakat.

Balai Desa Pandanrejo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, yang megah

Menjaga Sehat, Mendeteksi Dini

Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG) merupakan program strategis pemerintah yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin dan deteksi dini penyakit. Program ini fokus pada identifikasi faktor risiko, deteksi kondisi pra-penyakit, dan penemuan penyakit pada tahap awal agar dapat ditangani secara cepat dan tepat, sehingga komplikasi dapat dicegah.

Kegiatan di Desa Pandanrejo dimulai pukul 07.30 WIB dan melibatkan delapan tenaga kesehatan (nakes) dari Puskesmas Wagir dan Ponkesdes Pandanrejo. Mereka menjalankan tugas sesuai bidang masing-masing.

Kapus Wagir meninjau pelaksanaan PKG di Balai Desa Pandanrejo

Rizaura, A.Md.Kep., Fenny Noviana, A.Md.Kep., dan Frida, A.Md.Kep. menangani pendaftaran ePus, spreadsheet, dan aplikasi ASIK. Siti Chemilia, A.Md.Kep., bersama dokter muda (koas) dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FKUB), menangani ePus kunjungan sakit. Rahayu Tri, A.Md.Keb. bertugas melakukan skrining mandiri ASIK. Lisya Enis, A.Md.Keb. dan Okki Linda, A.Md.Keb. melaksanakan pemeriksaan IVA Sadanis.

Mereka dibantu oleh 5 kader Posbindu dan 1 kader Yabisa, yang berperan dalam pengukuran antropometri, tekanan darah, serta pemeriksaan kadar gula darah, dengan pendampingan dari Ekti Wulandari, A.Md.Kep., perawat Desa Pandanrejo.

Pengukuran tekanan darah

Mendeteksi Dini, Menyelamatkan Banyak Nyawa

Menurut Fenny Noviana, A.Md.Kep., selaku Penanggung Jawab Program PTM Puskesmas Wagir, sasaran kegiatan PKG kali ini meliputi 30 orang dengan risiko Diabetes Melitus (DM) dan Hipertensi (HT), serta peserta lain yang menjalani pemeriksaan kadar gula darah, profil lipid, dan skrining fungsi ginjal melalui pemeriksaan ureum dan kreatinin.

Pemeriksaan ginjal ini penting untuk menilai fungsi penyaringan ginjal. Kadar ureum dan kreatinin yang tinggi dalam darah dapat menjadi indikator adanya gangguan ginjal, baik akut maupun kronis. Pemeriksaan dilakukan dengan tes darah sederhana, namun berperan besar dalam deteksi dini penyakit ginjal yang seringkali tanpa gejala pada tahap awal.

Pengecekan kadar gula darah

Sementara itu, bagi perempuan berusia 30–69 tahun, dilakukan pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) dan Sadanis (Pemeriksaan Payudara Klinis) di ruang periksa Ponkesdes Pandanrejo yang berada satu atap dengan balai desa. Dua metode ini terbukti efektif untuk deteksi dini kanker serviks dan kanker payudara, dua penyakit tidak menular yang masih menjadi momok bagi perempuan Indonesia.

Untuk usia produktif (uspro) tanpa DM-HT, pemeriksaan meliputi kadar gula darah dan kolesterol, sedangkan anak berusia dua tahun diperiksa kadar gula darah dan hemoglobinnya (Hb).

Pemeriksaan profil lipid

Antusiasme dan Semangat Gotong Royong

Kegiatan PKG di Desa Pandanrejo bersifat insidental, sebagai bagian dari upaya percepatan program pemeriksaan kesehatan masyarakat. Namun dari pantauan Tim SMARThealth UB yang turut hadir, antusiasme warga begitu tinggi. Masyarakat tampak bersemangat mengikuti setiap tahapan pemeriksaan, dari pengukuran awal hingga konsultasi hasil.

Acara berlangsung hingga pukul 12.30 WIB dan berhasil menyaring 62 orang peserta. Jumlah yang cukup signifikan mengingat rangkaian pemeriksaan cukup panjang dan menyeluruh. 

Suasana PKG di Pendopo Balai Desa Pandanrejo

Seperti dikatakan oleh Gro Harlem Brundtland, mantan Direktur Jenderal WHO:

“Karena pengurangan faktor risiko merupakan dasar ilmiah untuk pencegahan primer, Organisasi Kesehatan Dunia mendorong pengembangan strategi terpadu untuk pencegahan beberapa penyakit, daripada berfokus pada penyakit individual.” 

Kata-kata ini menjadi refleksi penting atas kegiatan PKG di Pandanrejo - bahwa kesehatan masyarakat tidak cukup dijaga dengan pengobatan, melainkan harus dimulai dari pencegahan yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Input data ke banyak aplikasi oleh nakes Puskesmas Wagir

Dari Pandanrejo untuk Wagir yang Sehat

Kegiatan Pemeriksaan Kesehatan Gratis di Desa Pandanrejo tidak hanya menjadi bentuk pelayanan kesehatan, tetapi juga cerminan kolaborasi lintas sektor—antara pemerintah desa, puskesmas, kader, dan tenaga kesehatan.

Dari Pandanrejo, semangat hidup sehat itu terus bergulir. Karena menjaga kesehatan bukan sekadar tugas tenaga medis, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. *** [231025]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Rabu, 08 Oktober 2025

Menyapa Pasien di Rumah: Upaya Pelacakan untuk Menjaga Validitas Penelitian Pengendalian Hipertensi

"The best research you can do is talk to people."  -- Sir Terry Pratchett

Dalam penelitian Pengembangan Model Health Coaching untuk Pengendalian Hipertensi di Layanan Primer, keberadaan setiap responden menjadi bagian penting untuk memastikan keutuhan data, validitas temuan, dan keberhasilan intervensi. Namun, seperti lazimnya di lapangan, tidak semua pasien dapat hadir dalam setiap sesi yang telah dijadwalkan. Di sinilah pelacakan atau tracking memainkan peran sentral.

Pelacakan responden yang tidak hadir bukan sekadar langkah administratif. Ia merupakan upaya aktif untuk mencegah potensi bias - karena mereka yang absen bisa jadi memiliki karakteristik atau tantangan berbeda dari yang hadir. 

Tanpa pelacakan, hasil penelitian berisiko kehilangan relevansi dan kekuatan generalisasinya. Oleh karena itu, tim lapangan memastikan bahwa tidak ada suara yang tertinggal, termasuk mereka yang terhalang hadir karena kondisi personal maupun sosial.

Home visit di Desa Wonokerso 

Pada Rabu (08/10), sekitar pukul 08.30 WIB, Field Supervisor bertolak dari Puskesmas Pakisaji untuk melakukan home visit. Dipandu langsung oleh Penanggung Jawab Promosi Kesehatan Pj Promkes) Puskesmas Pakisaji, Mochamad Faizin, SKM, perjalanan menuju rumah dua pasien hipertensi dari kelompok intervensi pun dimulai. Lokasi yang dituju tersebar di dua dusun di Kecamatan Pakisaji: Dusun Segegeng, Desa Wonokerso dan Dusun Pakisaji, Desa Pakisaji.

Pasien pertama adalah seorang perempuan berusia 41 tahun yang tinggal di Dusun Segegeng RT 14 RW 03. Ketika dikunjungi, ia menyambut dengan ramah. Ia menjelaskan bahwa ketidakhadirannya dalam sesi health coaching kedua disebabkan oleh tanggung jawab mengasuh bayi yang tidak bisa ditinggal. 

Meskipun demikian, ia sempat hadir pada sesi pertama dan menerima kunjungan lanjutan dari Pj Promkes serta kader kesehatan setempat untuk sesi kedua. Komitmen semacam ini menunjukkan pentingnya pendekatan personal dalam memastikan keberlanjutan intervensi.

Pasien kedua adalah seorang perempuan lansia berumur 72 tahun yang tinggal di Dusun Pakisaji RT 05 RW 01. Ketidakhadirannya dalam sesi ketiga terjadi karena bertepatan dengan acara pernikahan anaknya. Meski demikian, ia tetap membuka diri saat tim datang dan memberikan informasi yang dibutuhkan.

Home visit di Desa Pakisaji

Kunjungan ini membuktikan bahwa berbicara langsung dengan responden memberikan pemahaman yang lebih dalam dibanding sekadar mencatat absensi. Seperti yang dikatakan oleh Sir Terry Pratchett (1948-2015), seorang humoris, satiris, dan penulis novel fantasi dalam bahasa Inggris:

"Penelitian terbaik yang dapat Anda lakukan adalah berbicara langsung dengan orang lain." 

Kalimat bijak ini menjadi fondasi dari pendekatan lapangan dalam penelitian ini - menjadikan manusia bukan hanya sebagai objek studi, tetapi sebagai mitra aktif dalam perubahan kesehatan.

Pelacakan responden secara langsung ke rumah tidak hanya menyelamatkan data. Ia juga menciptakan kepercayaan, meningkatkan keterlibatan peserta, dan memastikan bahwa intervensi health coaching benar-benar menjangkau mereka yang paling membutuhkan. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menghasilkan temuan yang valid, tetapi juga dampak yang nyata. *** [081025]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Jumat, 03 Oktober 2025

Kisah Dua Riset NIHR di Perbatasan Desa yang Berdampingan

Train yourselves. Don’t wait to be fed knowledge out of a book. Get out and seek it. Make explorations. Do your own research work. Train your hands and your mind. Become curious. Invent your own problems and solve them. You can see things going on all about you. Inquire into them. Seek out answers to your own questions.” – Irving Langmuir

Usai menyelesaikan putaran terakhir health coaching di Puskesmas Ngajum dan menyaksikan semangat para pasien kontrol di Posyandu Cempaka, Desa Maguan, pada Rabu (01/10), Fasilitator NIHR Universitas Brawijaya (UB) melanjutkan langkah menuju ke rumah Ibu Umi Hanah di Dusun Bekur, Desa Sumberejo, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang, yang menjadi basecamp bagi Tim NIHR Global Health Research Group on Sustainable Care for Anxiety and Depression in Indonesia (NIHR-GHG STAND).

Basecamp tersebut terlihat terasa nyaman dan bersahaja. Sebuah rumah dengan halaman luas yang di depannya berdiri kokoh sebuah mushola kecil. Suasana tenang dan teduh, seolah mencerminkan semangat tim yang sedang menggarap proyek besar di bidang kesehatan mental ini. 

Basecamp bagi para enumerator bukan sekadar tempat tidur; ia adalah posko komando, ruang berbagi cerita, tempat memulihkan tenaga, dan pusat koordinasi sebelum mereka kembali menyebar untuk mengumpulkan data (data collecting).

Namun, yang menarik perhatian bukanlah fisik basecamp tersebut, melainkan letak geografisnya. Daerah kerja atau enumeration area (EA) kedua untuk Tim GHG STAND di Malang adalah Desa Karangsari. 

Anehnya, mereka memilih basecamp di Dusun Bekur, yang secara administratif berada di Desa Sumberejo. Di sinilah keunikannya terungkap. Sejumlah personilnya kebetulan pernah membuat basecamp bayangan di rumah Ibu Umi Hanah ketika melakukan Household Listing (HH Listing), dan kebetulan daerah Desa Karangsari yang berada di bagian utara dekat dengan Dusun Bekur.

Fasad basecamp Tim Enumerator NIHR-GHG STAND Kabupaten Malang 

Dusun Bekur sebenarnya adalah EA bagi penelitian kesehatan lainnya, yaitu NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC). 

Kebetulan lokasinya persis berbatasan dengan Desa Karangsari. Bayangkan, dua proyek penelitian global di bawah payung NIHR yang sama, beroperasi di EA yang saling berdampingan, namun dengan fokus yang berbeda. Di satu sisi, GHRC NCDs & EC, yang ditangani Universitas Brawijaya, meneliti Penyakit Tidak Menular (PTM) dan dampak polusi udara. Di sisi lain, GHG STAND, dikelola oleh Universitas Indonesia, berkonsentrasi pada deteksi dan tata laksana kecemasan serta depresi.

Meski pelaksana lapangannya berbeda dan temanya terpisah, ada benang merah yang menarik terkait kolaborasi internasional. Dr. Asri Maharani, MMRS, Ph.D, tercatat sebagai peneliti kunci dalam kedua proyek besar ini. Sebuah sinergi yang menunjukkan kompleksitas dan keterkaitan antara kesehatan fisik dan mental.

Kunjungan Fasilitator NIHR UB ini menjadi ajang silaturahmi dengan personil tim yang telah dikenalnya. Dalam suasana santai di basecamp, cerita-cerita lapangan mulai mengalir. Mereka bercerita tentang perpindahan mereka dari basecamp sebelumnya di Desa Kasembon, Kecamatan Bululawang, dengan menyicil barang pada Rabu (24/09). 

Setelah mengambil libur sehari, pada Jumat (26/09) mereka mulai berdatangan ke Bekur dan langsung bersilaturahmi dengan perangkat desa hingga ketua RT setempat serta EA Karangsari. Sabtu (27/09) adalah hari pertama mereka turun ke masyarakat untuk melakukan wawancara.

Tim Enumerator NIHR-GHG STAND UI di Kabupaten Malang

“Target responden kami ada sekitar 1.600 orang, dan kami targetkan selesai hingga Ahad, 19 Oktober,” ujar Field Supervisor, yang langsung diamini oleh beberapa enumerator. Itu artinya, kurang lebih dua minggu mereka akan berkeliling, menyapa, dan menggali cerita warga di EA tersebut.

Mendengar gambaran working plan mereka, Fasilitator NIHR UB pun berbagi cerita. “Lokasi basecamp Tim NIHR-GHG STAND ini sendiri merupakan EA untuk NCDs & EC. Sebentar lagi, akan ada tim enumerator lain yang bertugas di desa ini.” Informasi ini memantik diskusi ringan, meski kemungkinan ketika data collecting di Desa Sumberejo, Tim Enumerator NIHR-GHRC NCDs & EC sudah tak bisa menjumpai Tim NIHR-GHG STAND.

Di tengah obrolan tentang tantangan dan dinamika lapangan, kutipan (quote) dari Irving Langmuir (1881-1957), seorang peraih Nobel Kimia asal Amerika, terasa sangat relevan: 

"Latihlah dirimu. Jangan menunggu untuk mendapatkan pengetahuan dari buku. Keluarlah dan carilah. Lakukan eksplorasi. Lakukan risetmu sendiri. Latihlah tangan dan pikiranmu. Jadilah orang yang ingin tahu. Ciptakan masalahmu sendiri dan selesaikanlah. Kamu dapat melihat hal-hal yang terjadi di sekitarmu. Selidikilah. Carilah jawaban atas pertanyaan-pertanyaanmu sendiri."

Semangat inilah yang mengilhami Tim Enumerator NIHR-GHG STAND. Mereka tidak hanya duduk di belakang meja di basecamp, tetapi keluar, menjelajah, dan melatih diri langsung di masyarakat. Mereka menciptakan ‘masalah’ - dalam artian pertanyaan penelitian - lalu berusaha menjawabnya dengan data yang dikumpulkan langsung dari sumbernya. Setiap wawancara, setiap pertemuan dengan warga, adalah wujud dari eksplorasi dan keingintahuan yang diajarkan Langmuir.

Pertemuan siang itu diakhiri dengan makan siang bersama yang penuh tawa. Sebuah momen singkat yang berharga, di mana silaturahmi dan semangat penelitian menyatu, mengisi energi sebelum para enumerator kembali melanjutkan ‘pelatihan’ mereka yang sesungguhnya: di lapangan, di tengah masyarakat, mencari jawaban untuk kesehatan mental Indonesia yang lebih baik. *** [031025]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Risk Checker

Risk Checker

Indeks Massa Tubuh

Supplied by BMI Calculator Canada

Statistik Blog

Sahabat eKader

Label

Arsip Blog