Selasa, 30 Desember 2025

Skrining CKG di Pabrik Rokok BST: Kolaborasi untuk Deteksi Dini Kesehatan Pekerja

In union there is strength.” -- Aesop

Komitmen terhadap kesehatan pekerja kembali diwujudkan melalui kegiatan skrining CKG yang digelar di Pabrik Rokok (PR) Berca Sauti Tobacco (BST). Selama tiga hari tidak berturut-turut, Puskesmas Sumberpucung berkolaborasi dengan PR BST melaksanakan skrining CKG bagi karyawan langsung di tempat kerja, tepatnya di Jalan Ir. Soekarno RT 15 RW 04 Desa Jatiguwi, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang.

Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 15, 22, dan 29 Desember 2025. Pelaksanaan selama tiga hari dipilih dengan pertimbangan jumlah pekerja yang mencapai sekitar 750 orang, sehingga proses pemeriksaan dapat berjalan tertib, menyeluruh, dan tetap memperhatikan kelancaran aktivitas produksi pabrik.

Bagi PR BST, pelaksanaan skrining CKG ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan bentuk kepedulian nyata terhadap kesehatan pekerja. Deteksi dini menjadi kunci agar potensi gangguan kesehatan dapat dikenali lebih awal dan ditangani secara tepat. Sementara itu, Puskesmas Sumberpucung bersama institusi kesehatan lain melihat kegiatan ini sebagai wujud pelayanan promotif dan preventif yang menyentuh langsung masyarakat pekerja.

Tim Kesehatan Puskesmas Sumberpucung dan kader berpose di depan PR BST Desa Jatiguwi, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang

Koordinator pelaksanaan skrining CKG ini adalah Istitik Wahyuni, A.Md.Keb., S.Kep.Ners, selaku Penanggung Jawab Program Penyakit Tidak Menular (Pj PTM) Puskesmas Sumberpucung. Adapun pengaturan alur pemeriksaan di lapangan dikoordinasikan oleh bagian K3 PR BST yang terdiri dari Gigo Bimby, S.Psi., Gigih May Siswantoro, S.Pd., M.Pd., serta didukung oleh bagian SDM, Nindy Oktavia Kartika Sari, ST.

Alur skrining dimulai ketika karyawan dipanggil oleh bagian K3 menuju meja pendaftaran. Proses pendaftaran dilayani oleh personel Puskesmas Sumberpucung, yakni Susi Wingga Wati, A.Md.RMIK, Yusvika, A.Md.Kep., dan Nur Khusniati, S.Tr.Keb. Setelah itu, karyawan menjalani pemeriksaan antropometri secara berurutan.

Pengukuran berat badan dilakukan oleh kader Tri Suhartatik, tinggi badan oleh Ahmad Ayrul Fatihah, S.M. (staf magang PR BST), serta lingkar perut oleh kader Winarsih. Selanjutnya, pengukuran tekanan darah dilaksanakan oleh kader Parlindani Rahayu, disusul pemeriksaan kadar gula darah oleh kader Yuli Prasetyorini.

Nakes berkoordinasi

Rangkaian pemeriksaan berlanjut dengan pengukuran CO Analyzer yang dilakukan oleh kader Mela Fitringtyas, serta pemeriksaan kesehatan mata (visus) oleh Ikrima Ifada, S.ST. Untuk layanan papsmear, Puskesmas Sumberpucung menggandeng Tim Laboratorium Patimura Malang yang diperkuat oleh Deny Suryap., A.Md.Kep., Nining Setyowati, A.Md.Kep., Nur Hidayati Kusumaningrum, dan Eli Ning Kabibah, A.Md.Kep. Pemeriksaan sadanis ditangani oleh Riska, S.Tr.Keb.

Sementara itu, pemeriksaan EKG dilaksanakan dengan dukungan Tim Klinik PACCE, yang terdiri dari dr. Maudy Putri Saraswati, Septiara Balqisya Awan, S.Tr.Kes., dan Rezky Putri M., A.Md.Kep. Dukungan juga datang dari Optik Natural, yang ditangani oleh Suliono dan Aunila Aida, khususnya dalam pelayanan kesehatan mata.

Di sela-sela skrining CKG juga terdapat pembinaan GP2SP (Gerakan Pekerja Perempuan Sehat produktif) yang dilakukan oleh Pj Upaya Kesehatan Kerja (UKK) Puskesmas Sumberpucung, Ikrima Ifada, S.ST.

Pengukuran tekanan darah oleh kader

Agar seluruh hasil pemeriksaan terdokumentasi dengan baik, proses entry data CKG Online dibantu oleh peserta magang PR BST, yaitu Halimatul Qutsiyah, S.Tr.Kes. dan Rhegita Cahyani Ayudya Pramesti, A.Md.T.

Keseluruhan kegiatan skrining CKG ini menjadi gambaran nyata kuatnya kolaborasi lintas sektor antara fasilitas pelayanan kesehatan, institusi kesehatan pendukung, dan dunia industri. 

Seperti kata bijak dari Aesop (620 SM – 564 SM), penulis fabel Yunani: 

“Dalam persatuan terdapat kekuatan.” 

Kolaborasi yang terjalin antara Puskesmas Sumberpucung, PR BST, dan berbagai mitra kesehatan membuktikan bahwa upaya menjaga kesehatan pekerja akan lebih efektif ketika dilakukan bersama-sama, saling mendukung, dan terkoordinasi dengan baik. *** [301225]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Minggu, 02 November 2025

Kebaya, Kampuh, dan Semangat Sehat di Sidorahayu: Skrining PTM Menyapa WHDI Wagir

Mentari pagi itu bersinar cerah, menyinari kesibukan yang berbeda dari biasanya di Dukuh Ampelsari. Ahad (02/11) itu, bukan hanya Gunung Kawi yang menjulang, melainkan juga riuh rendah semangat kesehatan yang menyelimuti halaman rumah Bapak Jamal di RT 26 RW 06, Desa Sidorahayu, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang.

Di pagi yang menyapa lereng perbukitan di kaki Gunung Kawi sisi timur, perawat Desa Sidorahayu, Dimas Kurniawan, A.Md.Keb., didampingi empat kader Posbindu yang tangguh - Satik, Sumartiani, Warsini, dan Wawuk - telah bersiap. 

WHDI Dukuh Ampelsari terima para tamu di rumah Bapak Jamal di Dukuh Ampelsari RT 26 RW 06 Desa Sidorahayu, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang

Mereka bukan hendak menghadiri pesta, melainkan menggelar sebuah misi penting: skrining atau pemeriksaan dini Penyakit Tidak Menular (PTM). Lokasinya strategis, ditempatkan di halaman rumah Bapak Jamal, yang menjadi titik kumpul sebelum para anggota Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) se-Kecamatan Wagir menuju pertemuan rutin mereka di Pura Satya Graha Bakti yang letaknya bersebelahan.

WHDI, organisasi yang berkhidmat dalam pemberdayaan perempuan Hindu Indonesia, hari itu memusatkan pertemuannya di Ampelsari. Sekitar 80 undangan dari berbagai penjuru Wagir diharapkan hadir. 

Nuansa adat dan kebersamaan terpancar jelas. Sebagai tuan rumah, WHDI Ampelsari tampil memukau dengan balutan kebaya, kampuh, dan jarik bagi perempuan, serta beskap, iket, dan jarik bagi laki-laki. 

Peserta pertemuan WHDI se-Kecamatan Wagir mengantre pengukuran antropometri

Tamu undangan umumnya mengenakan seragam organisasi, dengan kampuh - selendang yang menurut bidan Dwi Ida Susanti, A.Md.Keb., dari Puskesmas Wagir, melambangkan penyatuan jasmani-rohani dan pengikat sadripu (enam musuh yang ada di dalam diri) - menjadi ikon yang menyatukan.

Begitu disambut hangat tuan rumah, para tamu dipersilakan untuk menikmati sarapan. Namun, antusiasme mereka terhadap kesehatan langsung terlihat. Sebagian memilih untuk langsung mengantre di meja skrining yang telah disiapkan, sebuah langkah cerdas untuk menghindari penumpukan.

Suasana pemeriksaan skrining PTM bagi panitia pertemuan WHDI se-Kecamatan Wagir, berkebaya dan berkampuh

Di bawah koordinasi Perawat Dimas, keempat kader yang telah terlatih itu bergerak lincah. Prosesnya sederhana namun penuh makna. Setelah mengisi daftar hadir, para wanita dan ibu-ibu anggota WHDI ini menjalani pemeriksaan antropometri (tinggi/berat badan dan lingkar perut) oleh kader Satik dan Warsini. Lalu, mereka bergeser ke meja sisi selatan untuk pengukuran tekanan darah oleh kader Sumartiani dan pengecekan kadar gula darah oleh kader Wawuk.

Rantai pelayanan tidak berhenti di angka-angka hasil pengukuran. Usai pemeriksaan fisik, para peserta menuju sebuah meja di sisi timur, dengan latar belakang tanaman wijaya kusuma yang sedang berkuncup. 

Usai berikan KIE, perawat Desa Sidorahayu akan memberikan obat bila pasien terindikasi memiliki faktor risiko tinggi (highrisk)

Di sinilah perawat Dimas menunggu, siap memberikan KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi) dan memberikan obat maupun vitamin. Momen ini menjadi jantung dari kegiatan, di mana data yang terkumpul diubah menjadi pemahaman, pesan kesehatan disampaikan, dan perilaku hidup sehat diharapkan tertanam.

Antusiasme tak pernah surut, bahkan ketika hujan singkat turun membasahi bumi. Mereka tetap rela mengantre dengan sabar dan senyum. Semangat ini diperkuat oleh sambutan Ketua WHDI Kecamatan Wagir, Ibu Suci, yang mengingatkan bahwa skrining kesehatan ini adalah bagian dari program pemerintah. "Mari kita umat Hindu aktif berpartisipasi agar kesehatan kita terpantau terus," serunya, sebuah ajakan yang disambut dengan tekad bulat oleh para anggota.

Usai ikut skrining PTM di bawah tenda biru, peserta pertemuan WHDI se-Kecamatan Wagir langsung menuju ke Pura Satya Graha Bakti yang ada di sebelahnya

Selesai pemeriksaan atau sarapan, para peserta kemudian beriringan menuju Pura Satya Graha Bakti untuk melanjutkan acara inti pertemuan. Sementara itu, petugas dan Tim SMARThealth Universitas Brawijaya (UB) yang turut hadir, dipersilakan oleh tuan rumah untuk bersantap sebelum kembali membuka meja pemeriksaan bagi warga sekitar yang ingin memeriksakan diri.

Hingga acara ditutup pukul 12.30 WIB, sebanyak 67 orang telah berhasil diskrining. Sebuah angka yang bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari komitmen kolektif untuk hidup lebih sehat. Pagi itu di Dukuh Ampelsari, Desa Sidorahayu, di antara indahnya balutan kain kebaya dan kampuh, di tengah semangat persaudaraan WHDI, langkah kecil pencegahan PTM telah diukir. Membuktikan bahwa upaya menjaga kesehatan bisa berjalan beriringan dengan pelestarian budaya dan penguatan komunitas, dimulai dari sebuah halaman rumah yang penuh cerita. *** [021025]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Jumat, 24 Oktober 2025

Menjalin Harmoni Ilmu dan Masyarakat: Edukasi dan Pengembangan Terapi Khusus bagi Penderita Hipertensi di Desa Karangduren

Suasana pagi di Balai Desa Karangduren, Jalan Raya Golek No. 60–62, Kecamatan Pakisaji,Kabupaten Malang, terasa berbeda pada Jumat (24/10). Sejak pukul 08.00 WIB, warga sudah berdatangan dengan semangat, mengikuti kegiatan Community Development: Edukasi dan Pengembangan Terapi Khusus bagi Penderita Hipertensi, yang digagas oleh Departemen Farmasi, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) melalui dukungan Dana Kemitraan Sains Internasional atau International Science Partnerships Fund (ISPF).

Kegiatan ini merupakan bagian dari penelitian bertajuk Deteksi Polimorfisme Pasien Hipertensi sebagai Pendekatan Personalisasi Terapi - sebuah langkah ilmiah untuk mengenali perbedaan genetik pada pasien hipertensi agar terapi yang diberikan bisa lebih tepat sasaran, sesuai dengan karakter biologi masing-masing individu.

Sambutan Kaur Pelayanan Desa Karangduren, mewakili Kades

Seperti kata pelukis Prancis Georges Braque (1882-1963), “Seni itu polimorfik. Sebuah gambar tampak berbeda bagi setiap pengamatnya.” Begitu pula dengan dunia medis: satu penyakit dapat tampak serupa di permukaan, namun memiliki keragaman mendasar dalam tubuh setiap orang. Polimorfisme inilah yang menjadi kunci terapi personal yang efektif dan manusiawi.

Kolaborasi Ilmu dan Empati

Tim Farmasi FKUB yang dipimpin oleh dr. Bayu Lestari, M.Biomed., Ph.D dan apt. Favian Rafif Firdaus, S.Farm., M.Farm. ini berjumlah 16 orang - termasuk tenaga medis dari Klinik UB - hadir di lokasi sejak pagi untuk menjalankan berbagai tahapan kegiatan. Mereka bertugas mengambil sampel darah, sementara kader SMARThealth Karangduren turut berperan penting dalam pengukuran tekanan darah, serta membantu warga dan tamu selama kegiatan berlangsung. Sedangkan, antropometri ditangani oleh mahasiswa Farmasi yang turut dalam Tim Farmasi FKUB tersebut.

Pengukuran tekanan darah oleh kader SMARThealth

Alur kegiatan disusun dengan rapi: mulai dari pendaftaran, pengukuran antropometri dan tekanan darah, pemeriksaan sampel darah, hingga edukasi kesehatan. Semua proses berjalan dengan suasana akrab dan penuh antusiasme warga yang mengikuti dari awal hingga akhir.

Menjelang pukul 08.41 WIB, kegiatan semakin semarak dengan sambutan dari Kepala Urusan (Kaur) Pelayanan Desa Karangduren, Jaka Laksana, yang mewakili Kepala Desa. Dalam sambutannya, Jaka menyampaikan apresiasi mendalam terhadap kegiatan ini.

“Kami sangat berterima kasih kepada tim Farmasi UB atas kepedulian dan dedikasinya. Semoga warga Karangduren dapat memanfaatkan kegiatan ini sebaik mungkin dan mengikuti pemeriksaan hingga tuntas,” ujarnya.

Warga menunggu giliran dipanggil dalam pemeriksaan

Membangun Kesadaran, Mewujudkan Kesehatan

Setelah sambutan, kegiatan berlanjut dengan pemeriksaan dan edukasi hingga pukul 10.08 WIB. Dari target 47 orang, sebanyak 27 warga berhasil diperiksa. Meski sebagian warga berhalangan hadir karena berbagai alasan - mulai dari kondisi kesehatan, perjalanan, hingga pekerjaan - semangat yang tercipta dari kegiatan ini menjadi langkah awal yang berharga menuju masyarakat yang lebih sadar kesehatan.

Bagi Tim Farmasi FKUB, kegiatan ini bukan sekadar pengabdian masyarakat, tetapi juga bentuk nyata dari integrasi antara ilmu pengetahuan, penelitian, dan pelayanan sosial. Dengan memahami keragaman genetik setiap pasien, diharapkan terapi hipertensi di masa depan dapat disesuaikan dengan karakteristik individu, sehingga lebih efektif dan berkelanjutan.

Pemeriksaan sampel darah oleh tenaga kesehatan dari Klinik UB

Sebuah Langkah Menuju Personalisasi Terapi

Melalui kegiatan ini, Departemen Farmasi FKUB menunjukkan bahwa sains tidak hanya hidup di laboratorium, tetapi juga berdenyut bersama masyarakat. Polimorfisme genetik bukan lagi konsep abstrak, melainkan pintu menuju masa depan kesehatan yang lebih adil dan manusiawi - di mana setiap individu dipahami sebagai pribadi yang unik.

Karena seperti halnya seni yang “polimorfik” menurut Georges Braque, setiap manusia pun adalah karya hidup dengan bentuk dan makna yang berbeda. Dan memahami perbedaan itulah, sejatinya, wujud tertinggi dari ilmu dan kemanusiaan. *** [241025]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Kamis, 23 Oktober 2025

Pemeriksaan Kesehatan Gratis di Desa Pandanrejo: Upaya Deteksi Dini Demi Masyarakat Wagir Sehat

Since the reduction of risk factors is the scientific basis for primary prevention, the World Health Organization promotes the development of an integrated strategy for prevention of several diseases, rather than focusing on individual ones.” — Gro Harlem Brundtland

Kamis (23/10) pagi ini, niat awal saya sederhana, yaitu mengantar surat tembusan izin penelitian MLTC sekaligus berkoordinasi mengenai kegiatan ISPF di Puskesmas Wagir. Namun, setibanya di sana, saya mendapat kabar bahwa Kepala Puskesmas Wagir, dr. Siti Hariyanti, tengah meninjau kegiatan Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG) di Pendopo Balai Desa Pandanrejo, yang beralamat di Jalan Gondowarso No. 1, Dusun Pandansari RT 05 RW 01, Desa Pandanrejo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang.

Tanpa berpikir panjang, saya pun meluncur ke lokasi. Seperti pepatah mengatakan, “Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.” Di tempat itu, saya tidak hanya berhasil menyerahkan surat langsung kepada Kapus, tetapi juga dapat berkoordinasi dengan Dimas Kurniawan, A.Md.Kep., perawat Desa Sidorahayu, terkait pelaksanaan ISPF. Dan yang tak kalah berkesan, saya berkesempatan menyaksikan langsung implementasi PKG di lapangan - suatu kegiatan yang mencerminkan semangat pelayanan kesehatan berbasis masyarakat.

Balai Desa Pandanrejo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, yang megah

Menjaga Sehat, Mendeteksi Dini

Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG) merupakan program strategis pemerintah yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin dan deteksi dini penyakit. Program ini fokus pada identifikasi faktor risiko, deteksi kondisi pra-penyakit, dan penemuan penyakit pada tahap awal agar dapat ditangani secara cepat dan tepat, sehingga komplikasi dapat dicegah.

Kegiatan di Desa Pandanrejo dimulai pukul 07.30 WIB dan melibatkan delapan tenaga kesehatan (nakes) dari Puskesmas Wagir dan Ponkesdes Pandanrejo. Mereka menjalankan tugas sesuai bidang masing-masing.

Kapus Wagir meninjau pelaksanaan PKG di Balai Desa Pandanrejo

Rizaura, A.Md.Kep., Fenny Noviana, A.Md.Kep., dan Frida, A.Md.Kep. menangani pendaftaran ePus, spreadsheet, dan aplikasi ASIK. Siti Chemilia, A.Md.Kep., bersama dokter muda (koas) dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FKUB), menangani ePus kunjungan sakit. Rahayu Tri, A.Md.Keb. bertugas melakukan skrining mandiri ASIK. Lisya Enis, A.Md.Keb. dan Okki Linda, A.Md.Keb. melaksanakan pemeriksaan IVA Sadanis.

Mereka dibantu oleh 5 kader Posbindu dan 1 kader Yabisa, yang berperan dalam pengukuran antropometri, tekanan darah, serta pemeriksaan kadar gula darah, dengan pendampingan dari Ekti Wulandari, A.Md.Kep., perawat Desa Pandanrejo.

Pengukuran tekanan darah

Mendeteksi Dini, Menyelamatkan Banyak Nyawa

Menurut Fenny Noviana, A.Md.Kep., selaku Penanggung Jawab Program PTM Puskesmas Wagir, sasaran kegiatan PKG kali ini meliputi 30 orang dengan risiko Diabetes Melitus (DM) dan Hipertensi (HT), serta peserta lain yang menjalani pemeriksaan kadar gula darah, profil lipid, dan skrining fungsi ginjal melalui pemeriksaan ureum dan kreatinin.

Pemeriksaan ginjal ini penting untuk menilai fungsi penyaringan ginjal. Kadar ureum dan kreatinin yang tinggi dalam darah dapat menjadi indikator adanya gangguan ginjal, baik akut maupun kronis. Pemeriksaan dilakukan dengan tes darah sederhana, namun berperan besar dalam deteksi dini penyakit ginjal yang seringkali tanpa gejala pada tahap awal.

Pengecekan kadar gula darah

Sementara itu, bagi perempuan berusia 30–69 tahun, dilakukan pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) dan Sadanis (Pemeriksaan Payudara Klinis) di ruang periksa Ponkesdes Pandanrejo yang berada satu atap dengan balai desa. Dua metode ini terbukti efektif untuk deteksi dini kanker serviks dan kanker payudara, dua penyakit tidak menular yang masih menjadi momok bagi perempuan Indonesia.

Untuk usia produktif (uspro) tanpa DM-HT, pemeriksaan meliputi kadar gula darah dan kolesterol, sedangkan anak berusia dua tahun diperiksa kadar gula darah dan hemoglobinnya (Hb).

Pemeriksaan profil lipid

Antusiasme dan Semangat Gotong Royong

Kegiatan PKG di Desa Pandanrejo bersifat insidental, sebagai bagian dari upaya percepatan program pemeriksaan kesehatan masyarakat. Namun dari pantauan Tim SMARThealth UB yang turut hadir, antusiasme warga begitu tinggi. Masyarakat tampak bersemangat mengikuti setiap tahapan pemeriksaan, dari pengukuran awal hingga konsultasi hasil.

Acara berlangsung hingga pukul 12.30 WIB dan berhasil menyaring 62 orang peserta. Jumlah yang cukup signifikan mengingat rangkaian pemeriksaan cukup panjang dan menyeluruh. 

Suasana PKG di Pendopo Balai Desa Pandanrejo

Seperti dikatakan oleh Gro Harlem Brundtland, mantan Direktur Jenderal WHO:

“Karena pengurangan faktor risiko merupakan dasar ilmiah untuk pencegahan primer, Organisasi Kesehatan Dunia mendorong pengembangan strategi terpadu untuk pencegahan beberapa penyakit, daripada berfokus pada penyakit individual.” 

Kata-kata ini menjadi refleksi penting atas kegiatan PKG di Pandanrejo - bahwa kesehatan masyarakat tidak cukup dijaga dengan pengobatan, melainkan harus dimulai dari pencegahan yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Input data ke banyak aplikasi oleh nakes Puskesmas Wagir

Dari Pandanrejo untuk Wagir yang Sehat

Kegiatan Pemeriksaan Kesehatan Gratis di Desa Pandanrejo tidak hanya menjadi bentuk pelayanan kesehatan, tetapi juga cerminan kolaborasi lintas sektor—antara pemerintah desa, puskesmas, kader, dan tenaga kesehatan.

Dari Pandanrejo, semangat hidup sehat itu terus bergulir. Karena menjaga kesehatan bukan sekadar tugas tenaga medis, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. *** [231025]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Rabu, 08 Oktober 2025

Menyapa Pasien di Rumah: Upaya Pelacakan untuk Menjaga Validitas Penelitian Pengendalian Hipertensi

"The best research you can do is talk to people."  -- Sir Terry Pratchett

Dalam penelitian Pengembangan Model Health Coaching untuk Pengendalian Hipertensi di Layanan Primer, keberadaan setiap responden menjadi bagian penting untuk memastikan keutuhan data, validitas temuan, dan keberhasilan intervensi. Namun, seperti lazimnya di lapangan, tidak semua pasien dapat hadir dalam setiap sesi yang telah dijadwalkan. Di sinilah pelacakan atau tracking memainkan peran sentral.

Pelacakan responden yang tidak hadir bukan sekadar langkah administratif. Ia merupakan upaya aktif untuk mencegah potensi bias - karena mereka yang absen bisa jadi memiliki karakteristik atau tantangan berbeda dari yang hadir. 

Tanpa pelacakan, hasil penelitian berisiko kehilangan relevansi dan kekuatan generalisasinya. Oleh karena itu, tim lapangan memastikan bahwa tidak ada suara yang tertinggal, termasuk mereka yang terhalang hadir karena kondisi personal maupun sosial.

Home visit di Desa Wonokerso 

Pada Rabu (08/10), sekitar pukul 08.30 WIB, Field Supervisor bertolak dari Puskesmas Pakisaji untuk melakukan home visit. Dipandu langsung oleh Penanggung Jawab Promosi Kesehatan Pj Promkes) Puskesmas Pakisaji, Mochamad Faizin, SKM, perjalanan menuju rumah dua pasien hipertensi dari kelompok intervensi pun dimulai. Lokasi yang dituju tersebar di dua dusun di Kecamatan Pakisaji: Dusun Segegeng, Desa Wonokerso dan Dusun Pakisaji, Desa Pakisaji.

Pasien pertama adalah seorang perempuan berusia 41 tahun yang tinggal di Dusun Segegeng RT 14 RW 03. Ketika dikunjungi, ia menyambut dengan ramah. Ia menjelaskan bahwa ketidakhadirannya dalam sesi health coaching kedua disebabkan oleh tanggung jawab mengasuh bayi yang tidak bisa ditinggal. 

Meskipun demikian, ia sempat hadir pada sesi pertama dan menerima kunjungan lanjutan dari Pj Promkes serta kader kesehatan setempat untuk sesi kedua. Komitmen semacam ini menunjukkan pentingnya pendekatan personal dalam memastikan keberlanjutan intervensi.

Pasien kedua adalah seorang perempuan lansia berumur 72 tahun yang tinggal di Dusun Pakisaji RT 05 RW 01. Ketidakhadirannya dalam sesi ketiga terjadi karena bertepatan dengan acara pernikahan anaknya. Meski demikian, ia tetap membuka diri saat tim datang dan memberikan informasi yang dibutuhkan.

Home visit di Desa Pakisaji

Kunjungan ini membuktikan bahwa berbicara langsung dengan responden memberikan pemahaman yang lebih dalam dibanding sekadar mencatat absensi. Seperti yang dikatakan oleh Sir Terry Pratchett (1948-2015), seorang humoris, satiris, dan penulis novel fantasi dalam bahasa Inggris:

"Penelitian terbaik yang dapat Anda lakukan adalah berbicara langsung dengan orang lain." 

Kalimat bijak ini menjadi fondasi dari pendekatan lapangan dalam penelitian ini - menjadikan manusia bukan hanya sebagai objek studi, tetapi sebagai mitra aktif dalam perubahan kesehatan.

Pelacakan responden secara langsung ke rumah tidak hanya menyelamatkan data. Ia juga menciptakan kepercayaan, meningkatkan keterlibatan peserta, dan memastikan bahwa intervensi health coaching benar-benar menjangkau mereka yang paling membutuhkan. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menghasilkan temuan yang valid, tetapi juga dampak yang nyata. *** [081025]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Risk Checker

Risk Checker

Indeks Massa Tubuh

Supplied by BMI Calculator Canada

Statistik Blog

Sahabat eKader

Label

Arsip Blog