Minggu, 18 Januari 2026

Gebyar Lansia Triwulanan, Semangat Usia Senja di Lapangan Desa Mendalanwangi

"It's not how old you are. It's how you are old."  -- Jules Renard

Ahad (18/01) pagi ini, suasana Lapangan Desa Mendalanwangi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, tampak semarak meski awan mendung menggelayuti langit. Sejak dini hari, tepatnya bakda Subuh, satu per satu rombongan lansia mulai berdatangan dari berbagai kecamatan di Kabupaten Malang. 

Mereka hadir dengan wajah ceria dan semangat yang menyala untuk mengikuti Gebyar Lansia Triwulanan, sebuah kegiatan rutin yang digelar oleh Perwakilan Yayasan Gerontologi Abiyoso (PYGA) Kabupaten Malang.

Sambutan dari Perwakilan Bupati Malang

Di sepanjang lapangan desa, suasana kian hidup dengan hadirnya para pedagang dadakan yang berjajar rapi. Aneka jajanan, minuman, hingga kebutuhan sederhana turut memeriahkan kegiatan yang menjadi ajang silaturahmi dan kebugaran bagi para lanjut usia ini. 

Lapangan Mendalanwangi pagi itu bukan sekadar ruang terbuka, melainkan ruang perjumpaan, perayaan, dan bukti bahwa usia senja tetap bisa dijalani dengan aktif dan bermakna.

Meja registrasi peserta Senam Lansia Triwulanan di Lapangan Desa Mendalanwangi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang

Yayasan Gerontologi Abiyoso Kabupaten Malang sendiri dikenal sebagai organisasi yang fokus pada kesejahteraan lansia. Beragam kegiatan rutin seperti senam lansia, sosialisasi kesehatan, hingga studi banding ke daerah lain menjadi ikhtiar nyata untuk meningkatkan kualitas hidup lansia. Pada kesempatan kali ini, PYGA menggelar Senam Lansia Triwulanan se-Kabupaten Malang dengan skala yang cukup besar.

Menurut Koordinator PYGA Kecamatan Bululawang, Sandi Cahyadi, jumlah peserta yang diundang mencapai 2.065 orang. Dari Kecamatan Bululawang sendiri hadir 208 peserta, sementara Kecamatan Wagir sebagai tuan rumah menjadi penyumbang peserta terbanyak dengan sekitar 500 lansia. 

Senam Lansia Bersama dengan Instruktur

Kegiatan ini juga dihadiri oleh KLPI Kabupaten, Forkopimcam Wagir, seluruh Kepala Desa se-Kecamatan Wagir, insan kesehatan dari Puskesmas Wagir, kader kesehatan Desa Mendalanwangi, sejumlah outlet di dalam lapangan, serta salah seorang anggota Tim SMARThealth Universitas Brawijaya (UB).

Acara diawali dengan registrasi peserta dan persiapan senam, dilanjutkan dengan pembukaan resmi melalui lantunan lagu Indonesia Raya dan Mars Lansia. Tepat pukul 07.07 WIB, Ketua Panitia yang juga Kepala Desa Mendalanwangi, Muhammad Sharoni, S.Pt., menyampaikan sambutannya. Selanjutnya, sambutan disampaikan oleh perwakilan Bupati Malang. Meski Bupati Malang berhalangan hadir karena agenda penting lainnya, pesan yang disampaikan tetap mengundang apresiasi.

Kepala Desa dan Ketua TP PKK Desa Mendalanwangi turut serta dalam Senam Lansia Bersama

Dalam sambutannya, perwakilan Bupati Malang menyebut bahwa Gebyar Lansia Triwulanan ini kemungkinan menjadi satu-satunya kegiatan rutin berskala kabupaten yang secara konsisten diperuntukkan bagi lansia, tidak hanya di Kabupaten Malang, tetapi juga disinyalir jarang ditemui di daerah lain di Indonesia. 

Usai sambutan, momen haru pun tercipta ketika perwakilan Bupati membagikan uang ratusan ribu rupiah kepada para lansia berusia di atas 90 tahun, langsung di depan panggung utama.

Lansia berkebaya pink itu tak kalah gemulainya dengan yang lainnya

Kemeriahan berlanjut dengan penampilan senam kreasi yang dibawakan oleh peserta berkostum tradisional berwarna merah dengan mahkota, menambah nuansa budaya dan keanggunan usia senja. Setelah itu, Senam Lansia Bersama (Senam Lansia Bugar) menjadi puncak kegiatan, diikuti oleh ribuan peserta dan tamu undangan dengan penuh antusias.

Sepanjang pengamatan salah seorang anggota Tim SMARThealth UB yang aktif berkeliling lokasi, tampak para peserta mengenakan seragam khas masing-masing kelompok. Sebagian terlihat mengenakan kaos Klub Jantung Sehat Kabupaten Malang.

Kepala Puskesmas Wagir memimpin langsung nakes dan kader kesehatan di Posyankes yang didirikan di pojok lapangan

Di sudut barat daya lapangan, sekelompok lansia tampil mencuri perhatian dengan kebaya pink yang anggun. Gerakan mereka tetap gemulai, penuh semangat, dan tak kalah energik dibanding peserta lainnya.

Tak hanya soal kebugaran, aspek kesehatan juga mendapat perhatian serius. Di salah satu sudut lapangan, berdiri stand Posyankes yang dipimpin langsung oleh Kepala Puskesmas Wagir, dr. Siti Hariyanti. Di stand ini, dilaksanakan kegiatan Posbindu PTM oleh kader kesehatan Desa Mendalanwangi bersama tenaga kesehatan Ponkesdes dan nakes lainnya dari lingkungan Puskesmas Wagir. Layanan yang diberikan meliputi skrining faktor risiko penyakit tidak menular pada lansia, hingga pemeriksaan mata.

Skrining PTM di Posyankes yang dilakukan oleh kader dan nakes

Gebyar Lansia Triwulanan di Mendalanwangi pagi itu menjadi gambaran nyata bahwa usia lanjut bukanlah batas untuk berhenti bergerak, berkarya, dan bersosialisasi. Seperti ungkapan penulis Prancis Jules Renard (1864-1910):

“Bukan berapa umurmu yang penting, tapi bagaimana kamu menjalani hidupmu di usia tua itu.”

Di bawah langit mendung di Lapangan Mendalanwangi, para lansia Kabupaten Malang membuktikan bahwa hidup di usia senja tetap bisa dijalani dengan sehat, bahagia, dan penuh semangat. *** [180126

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Kamis, 15 Januari 2026

Posyandu Anggrek 2 Kepanjen, Sinergi Kader, Korporasi, dan Kesehatan Masyarakat

Pagi tadi, Kamis (15/01), Balai RW 01 Kepanjen cukup ramai. Suasana berbeda dari rutinitas biasa. Bukan seperti biasanya berupa giat Posbindu SMARThealth Anggrek 2, akan tetapi ada giat Posyandu Anggrek 2 yang menjadi binaan PT Astra Graphia Tbk (Astagraphia).

Semangat pagi itu terasa hangat dan penuh makna, menandai kolaborasi apik antara dunia korporasi, dedikasi kader kesehatan, dan tenaga kesehatan dalam membangun generasi sehat dari tingkat paling dasar.

Nakes, kader, ibu balita, bumil dan balita berpose bersama dalam acara Posyandu Anggrek 2 Kepanjen

Sejak Juli 2025, kepercayaan dan dukungan telah diberikan oleh Astagraphia kepada kader kesehatan Kelurahan Kepanjen. Dukungan ini mengukuhkan komitmen mereka dalam menjalankan program Posyandu yang holistik, mencakup pemantauan balita, pemeriksaan ibu hamil, hingga pemberian makanan tambahan (PMT). Seorang anggota Tim SMARThealth Universitas Brawijaya (UB) yang diundang dalam kegiatan tersebut menyaksikan dengan seksama perwujudan nyata program kemitraan ini.

Posyandu Anggrek 2 Kepanjen binaan Astagraphia merupakan sebuah upaya konsolidasi. Ia merangkul cakupan yang lebih luas di wilayah RW 01, Kelurahan Kepanjen, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. “Tujuannya agar sasarannya menjadi lebih banyak, baik balitanya maupun ibu hamilnya (Bumil),” jelas salah seorang kader penggagas. 

Meski kolaborasi ini lahir berkat ubed-nya kader kesehatan, setiap langkahnya senantiasa terkoordinasi rapi dengan tenaga kesehatan (nakes) setempat lewat kemandiriannya bukan instruksional belaka. Penentuan sasaran penerima PMT, misalnya, melalui rekomendasi bidan yang diajukan ke Puskesmas, begitu pula dengan penunjukan kader pendamping.

Suasana giat Posyandu Anggrek 2 Kepanjen, Kabupaten Malang

Semangat kebersamaan benar-benar menjadi napas kegiatan ini. Proses mulai dari memasak, packing, hingga mengantarkan PMT dikerjakan secara bergotong-royong oleh para kader. Laporan bulanan pun disampaikan secara daring, menunjukkan adaptasi dengan sistem digital.

Runtutan kegiatan pagi itu berjalan tertib dan penuh perhatian. Di teras depan, dua kader, Indri Astutik dan Wiwin Waluyaningsih, melayani pendaftaran dengan ramah. Setelah terdaftar, balita mendapatkan layanan pengukuran komprehensif: berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, dan lingkar lengan atas (LILA) oleh tiga kader, yakni Sapta Yulia, Wiwik, dan Wiji Lestari. Data yang terkumpul kemudian dicatat dengan cermat ke dalam Buku Hasil Pengukuran Balita oleh Dewi Kartika dan Sri Handayani.

Namun, Posyandu ini bukan sekadar tempat pengukuran. Ia juga menjadi ruang belajar. Di sela kegiatan, edukasi dan penyuluhan digelar oleh Aries Styowati, SKL, staf Puskesmas Kepanjen, didampingi kader penyuluhan Luluk Tamawati. Metodenya interaktif dan menarik, yaitu circle conversation

Salah seorang ibu balita dalam permainan edukasi

Sejumlah ibu balita diajak memberikan komentar atas gambar-gambar yang disediakan, berdasarkan pengetahuan mereka masing-masing. Dari sanalah, Aries memantik penyuluhan kesehatan yang kontekstual.

Misalnya, dari gambar dua telapak tangan, Aries menjelaskan pentingnya cuci tangan pakai sabun bagi Bumil dan balita. “Tangan termasuk salah satu sarana penularan penyakit. Penularan ini bisa dihentikan dengan cuci tangan memakai air mengalir dan sabun,” jelasnya. 

Topik lain yang mengemuka adalah tentang lalat. Ibu-ibu diingatkan untuk menjaga kebersihan sampah di rumah dan lingkungan, serta menggunakan tudung saji agar makanan terhindar dari kontaminasi.

Usai penyuluhan yang hidup itu, suasana semakin cair dengan sesi foto bersama. Kemudian, langsung dibagikan PMT yang telah disiapkan. Untuk pertemuan kali ini, menu andalan adalah Puding Roti Tawar dan Pisang, menyajikan nutrisi dalam bentuk yang disukai anak.

Kotak PMT mengakhiri giat Posyandu Anggrek 2 Kepanjen di Balai RW 01

Namun, pelayanan tidak berhenti di balai. Komitmen kader melampaui batas ruang pertemuan. Usai acara, dua kader yang duduknya tadi mengapit staf Puskesmas, Agustin Shintowati dan Kristien Mariana, langsung melanjutkan tugas dengan melakukan kunjungan pendampingan kepada ibu hamil di daerah timur rel Stasiun Kepanjen. Sebuah bukti bahwa perhatian dan pendampingan ini bersifat menyeluruh, menjangkau mereka yang mungkin tak bisa hadir.

Posyandu Anggrek 2 Kepanjen binaan Astagraphia adalah mozaik indah. Di dalamnya, ada sentuhan tanggung jawab sosial korporasi, ada dedikasi tanpa lelah para kader kesehatan akar rumput, ada arahan profesional dari tenaga kesehatan, dan ada partisipasi aktif masyarakat. Kolaborasi ini tidak hanya menimbang berat badan balita, tetapi juga menguatkan pondasi kesehatan komunitas untuk masa depan yang lebih cerah. *** [150126]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Selasa, 30 Desember 2025

Skrining CKG di Pabrik Rokok BST: Kolaborasi untuk Deteksi Dini Kesehatan Pekerja

In union there is strength.” -- Aesop

Komitmen terhadap kesehatan pekerja kembali diwujudkan melalui kegiatan skrining CKG yang digelar di Pabrik Rokok (PR) Berca Sauti Tobacco (BST). Selama tiga hari tidak berturut-turut, Puskesmas Sumberpucung berkolaborasi dengan PR BST melaksanakan skrining CKG bagi karyawan langsung di tempat kerja, tepatnya di Jalan Ir. Soekarno RT 15 RW 04 Desa Jatiguwi, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang.

Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 15, 22, dan 29 Desember 2025. Pelaksanaan selama tiga hari dipilih dengan pertimbangan jumlah pekerja yang mencapai sekitar 750 orang, sehingga proses pemeriksaan dapat berjalan tertib, menyeluruh, dan tetap memperhatikan kelancaran aktivitas produksi pabrik.

Bagi PR BST, pelaksanaan skrining CKG ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan bentuk kepedulian nyata terhadap kesehatan pekerja. Deteksi dini menjadi kunci agar potensi gangguan kesehatan dapat dikenali lebih awal dan ditangani secara tepat. Sementara itu, Puskesmas Sumberpucung bersama institusi kesehatan lain melihat kegiatan ini sebagai wujud pelayanan promotif dan preventif yang menyentuh langsung masyarakat pekerja.

Tim Kesehatan Puskesmas Sumberpucung dan kader berpose di depan PR BST Desa Jatiguwi, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang

Koordinator pelaksanaan skrining CKG ini adalah Istitik Wahyuni, A.Md.Keb., S.Kep.Ners, selaku Penanggung Jawab Program Penyakit Tidak Menular (Pj PTM) Puskesmas Sumberpucung. Adapun pengaturan alur pemeriksaan di lapangan dikoordinasikan oleh bagian K3 PR BST yang terdiri dari Gigo Bimby, S.Psi., Gigih May Siswantoro, S.Pd., M.Pd., serta didukung oleh bagian SDM, Nindy Oktavia Kartika Sari, ST.

Alur skrining dimulai ketika karyawan dipanggil oleh bagian K3 menuju meja pendaftaran. Proses pendaftaran dilayani oleh personel Puskesmas Sumberpucung, yakni Susi Wingga Wati, A.Md.RMIK, Yusvika, A.Md.Kep., dan Nur Khusniati, S.Tr.Keb. Setelah itu, karyawan menjalani pemeriksaan antropometri secara berurutan.

Pengukuran berat badan dilakukan oleh kader Tri Suhartatik, tinggi badan oleh Ahmad Ayrul Fatihah, S.M. (staf magang PR BST), serta lingkar perut oleh kader Winarsih. Selanjutnya, pengukuran tekanan darah dilaksanakan oleh kader Parlindani Rahayu, disusul pemeriksaan kadar gula darah oleh kader Yuli Prasetyorini.

Nakes berkoordinasi

Rangkaian pemeriksaan berlanjut dengan pengukuran CO Analyzer yang dilakukan oleh kader Mela Fitringtyas, serta pemeriksaan kesehatan mata (visus) oleh Ikrima Ifada, S.ST. Untuk layanan papsmear, Puskesmas Sumberpucung menggandeng Tim Laboratorium Patimura Malang yang diperkuat oleh Deny Suryap., A.Md.Kep., Nining Setyowati, A.Md.Kep., Nur Hidayati Kusumaningrum, dan Eli Ning Kabibah, A.Md.Kep. Pemeriksaan sadanis ditangani oleh Riska, S.Tr.Keb.

Sementara itu, pemeriksaan EKG dilaksanakan dengan dukungan Tim Klinik PACCE, yang terdiri dari dr. Maudy Putri Saraswati, Septiara Balqisya Awan, S.Tr.Kes., dan Rezky Putri M., A.Md.Kep. Dukungan juga datang dari Optik Natural, yang ditangani oleh Suliono dan Aunila Aida, khususnya dalam pelayanan kesehatan mata.

Di sela-sela skrining CKG juga terdapat pembinaan GP2SP (Gerakan Pekerja Perempuan Sehat produktif) yang dilakukan oleh Pj Upaya Kesehatan Kerja (UKK) Puskesmas Sumberpucung, Ikrima Ifada, S.ST.

Pengukuran tekanan darah oleh kader

Agar seluruh hasil pemeriksaan terdokumentasi dengan baik, proses entry data CKG Online dibantu oleh peserta magang PR BST, yaitu Halimatul Qutsiyah, S.Tr.Kes. dan Rhegita Cahyani Ayudya Pramesti, A.Md.T.

Keseluruhan kegiatan skrining CKG ini menjadi gambaran nyata kuatnya kolaborasi lintas sektor antara fasilitas pelayanan kesehatan, institusi kesehatan pendukung, dan dunia industri. 

Seperti kata bijak dari Aesop (620 SM – 564 SM), penulis fabel Yunani: 

“Dalam persatuan terdapat kekuatan.” 

Kolaborasi yang terjalin antara Puskesmas Sumberpucung, PR BST, dan berbagai mitra kesehatan membuktikan bahwa upaya menjaga kesehatan pekerja akan lebih efektif ketika dilakukan bersama-sama, saling mendukung, dan terkoordinasi dengan baik. *** [301225]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Minggu, 02 November 2025

Kebaya, Kampuh, dan Semangat Sehat di Sidorahayu: Skrining PTM Menyapa WHDI Wagir

Mentari pagi itu bersinar cerah, menyinari kesibukan yang berbeda dari biasanya di Dukuh Ampelsari. Ahad (02/11) itu, bukan hanya Gunung Kawi yang menjulang, melainkan juga riuh rendah semangat kesehatan yang menyelimuti halaman rumah Bapak Jamal di RT 26 RW 06, Desa Sidorahayu, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang.

Di pagi yang menyapa lereng perbukitan di kaki Gunung Kawi sisi timur, perawat Desa Sidorahayu, Dimas Kurniawan, A.Md.Keb., didampingi empat kader Posbindu yang tangguh - Satik, Sumartiani, Warsini, dan Wawuk - telah bersiap. 

WHDI Dukuh Ampelsari terima para tamu di rumah Bapak Jamal di Dukuh Ampelsari RT 26 RW 06 Desa Sidorahayu, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang

Mereka bukan hendak menghadiri pesta, melainkan menggelar sebuah misi penting: skrining atau pemeriksaan dini Penyakit Tidak Menular (PTM). Lokasinya strategis, ditempatkan di halaman rumah Bapak Jamal, yang menjadi titik kumpul sebelum para anggota Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) se-Kecamatan Wagir menuju pertemuan rutin mereka di Pura Satya Graha Bakti yang letaknya bersebelahan.

WHDI, organisasi yang berkhidmat dalam pemberdayaan perempuan Hindu Indonesia, hari itu memusatkan pertemuannya di Ampelsari. Sekitar 80 undangan dari berbagai penjuru Wagir diharapkan hadir. 

Nuansa adat dan kebersamaan terpancar jelas. Sebagai tuan rumah, WHDI Ampelsari tampil memukau dengan balutan kebaya, kampuh, dan jarik bagi perempuan, serta beskap, iket, dan jarik bagi laki-laki. 

Peserta pertemuan WHDI se-Kecamatan Wagir mengantre pengukuran antropometri

Tamu undangan umumnya mengenakan seragam organisasi, dengan kampuh - selendang yang menurut bidan Dwi Ida Susanti, A.Md.Keb., dari Puskesmas Wagir, melambangkan penyatuan jasmani-rohani dan pengikat sadripu (enam musuh yang ada di dalam diri) - menjadi ikon yang menyatukan.

Begitu disambut hangat tuan rumah, para tamu dipersilakan untuk menikmati sarapan. Namun, antusiasme mereka terhadap kesehatan langsung terlihat. Sebagian memilih untuk langsung mengantre di meja skrining yang telah disiapkan, sebuah langkah cerdas untuk menghindari penumpukan.

Suasana pemeriksaan skrining PTM bagi panitia pertemuan WHDI se-Kecamatan Wagir, berkebaya dan berkampuh

Di bawah koordinasi Perawat Dimas, keempat kader yang telah terlatih itu bergerak lincah. Prosesnya sederhana namun penuh makna. Setelah mengisi daftar hadir, para wanita dan ibu-ibu anggota WHDI ini menjalani pemeriksaan antropometri (tinggi/berat badan dan lingkar perut) oleh kader Satik dan Warsini. Lalu, mereka bergeser ke meja sisi selatan untuk pengukuran tekanan darah oleh kader Sumartiani dan pengecekan kadar gula darah oleh kader Wawuk.

Rantai pelayanan tidak berhenti di angka-angka hasil pengukuran. Usai pemeriksaan fisik, para peserta menuju sebuah meja di sisi timur, dengan latar belakang tanaman wijaya kusuma yang sedang berkuncup. 

Usai berikan KIE, perawat Desa Sidorahayu akan memberikan obat bila pasien terindikasi memiliki faktor risiko tinggi (highrisk)

Di sinilah perawat Dimas menunggu, siap memberikan KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi) dan memberikan obat maupun vitamin. Momen ini menjadi jantung dari kegiatan, di mana data yang terkumpul diubah menjadi pemahaman, pesan kesehatan disampaikan, dan perilaku hidup sehat diharapkan tertanam.

Antusiasme tak pernah surut, bahkan ketika hujan singkat turun membasahi bumi. Mereka tetap rela mengantre dengan sabar dan senyum. Semangat ini diperkuat oleh sambutan Ketua WHDI Kecamatan Wagir, Ibu Suci, yang mengingatkan bahwa skrining kesehatan ini adalah bagian dari program pemerintah. "Mari kita umat Hindu aktif berpartisipasi agar kesehatan kita terpantau terus," serunya, sebuah ajakan yang disambut dengan tekad bulat oleh para anggota.

Usai ikut skrining PTM di bawah tenda biru, peserta pertemuan WHDI se-Kecamatan Wagir langsung menuju ke Pura Satya Graha Bakti yang ada di sebelahnya

Selesai pemeriksaan atau sarapan, para peserta kemudian beriringan menuju Pura Satya Graha Bakti untuk melanjutkan acara inti pertemuan. Sementara itu, petugas dan Tim SMARThealth Universitas Brawijaya (UB) yang turut hadir, dipersilakan oleh tuan rumah untuk bersantap sebelum kembali membuka meja pemeriksaan bagi warga sekitar yang ingin memeriksakan diri.

Hingga acara ditutup pukul 12.30 WIB, sebanyak 67 orang telah berhasil diskrining. Sebuah angka yang bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari komitmen kolektif untuk hidup lebih sehat. Pagi itu di Dukuh Ampelsari, Desa Sidorahayu, di antara indahnya balutan kain kebaya dan kampuh, di tengah semangat persaudaraan WHDI, langkah kecil pencegahan PTM telah diukir. Membuktikan bahwa upaya menjaga kesehatan bisa berjalan beriringan dengan pelestarian budaya dan penguatan komunitas, dimulai dari sebuah halaman rumah yang penuh cerita. *** [021025]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Jumat, 24 Oktober 2025

Menjalin Harmoni Ilmu dan Masyarakat: Edukasi dan Pengembangan Terapi Khusus bagi Penderita Hipertensi di Desa Karangduren

Suasana pagi di Balai Desa Karangduren, Jalan Raya Golek No. 60–62, Kecamatan Pakisaji,Kabupaten Malang, terasa berbeda pada Jumat (24/10). Sejak pukul 08.00 WIB, warga sudah berdatangan dengan semangat, mengikuti kegiatan Community Development: Edukasi dan Pengembangan Terapi Khusus bagi Penderita Hipertensi, yang digagas oleh Departemen Farmasi, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) melalui dukungan Dana Kemitraan Sains Internasional atau International Science Partnerships Fund (ISPF).

Kegiatan ini merupakan bagian dari penelitian bertajuk Deteksi Polimorfisme Pasien Hipertensi sebagai Pendekatan Personalisasi Terapi - sebuah langkah ilmiah untuk mengenali perbedaan genetik pada pasien hipertensi agar terapi yang diberikan bisa lebih tepat sasaran, sesuai dengan karakter biologi masing-masing individu.

Sambutan Kaur Pelayanan Desa Karangduren, mewakili Kades

Seperti kata pelukis Prancis Georges Braque (1882-1963), “Seni itu polimorfik. Sebuah gambar tampak berbeda bagi setiap pengamatnya.” Begitu pula dengan dunia medis: satu penyakit dapat tampak serupa di permukaan, namun memiliki keragaman mendasar dalam tubuh setiap orang. Polimorfisme inilah yang menjadi kunci terapi personal yang efektif dan manusiawi.

Kolaborasi Ilmu dan Empati

Tim Farmasi FKUB yang dipimpin oleh dr. Bayu Lestari, M.Biomed., Ph.D dan apt. Favian Rafif Firdaus, S.Farm., M.Farm. ini berjumlah 16 orang - termasuk tenaga medis dari Klinik UB - hadir di lokasi sejak pagi untuk menjalankan berbagai tahapan kegiatan. Mereka bertugas mengambil sampel darah, sementara kader SMARThealth Karangduren turut berperan penting dalam pengukuran tekanan darah, serta membantu warga dan tamu selama kegiatan berlangsung. Sedangkan, antropometri ditangani oleh mahasiswa Farmasi yang turut dalam Tim Farmasi FKUB tersebut.

Pengukuran tekanan darah oleh kader SMARThealth

Alur kegiatan disusun dengan rapi: mulai dari pendaftaran, pengukuran antropometri dan tekanan darah, pemeriksaan sampel darah, hingga edukasi kesehatan. Semua proses berjalan dengan suasana akrab dan penuh antusiasme warga yang mengikuti dari awal hingga akhir.

Menjelang pukul 08.41 WIB, kegiatan semakin semarak dengan sambutan dari Kepala Urusan (Kaur) Pelayanan Desa Karangduren, Jaka Laksana, yang mewakili Kepala Desa. Dalam sambutannya, Jaka menyampaikan apresiasi mendalam terhadap kegiatan ini.

“Kami sangat berterima kasih kepada tim Farmasi UB atas kepedulian dan dedikasinya. Semoga warga Karangduren dapat memanfaatkan kegiatan ini sebaik mungkin dan mengikuti pemeriksaan hingga tuntas,” ujarnya.

Warga menunggu giliran dipanggil dalam pemeriksaan

Membangun Kesadaran, Mewujudkan Kesehatan

Setelah sambutan, kegiatan berlanjut dengan pemeriksaan dan edukasi hingga pukul 10.08 WIB. Dari target 47 orang, sebanyak 27 warga berhasil diperiksa. Meski sebagian warga berhalangan hadir karena berbagai alasan - mulai dari kondisi kesehatan, perjalanan, hingga pekerjaan - semangat yang tercipta dari kegiatan ini menjadi langkah awal yang berharga menuju masyarakat yang lebih sadar kesehatan.

Bagi Tim Farmasi FKUB, kegiatan ini bukan sekadar pengabdian masyarakat, tetapi juga bentuk nyata dari integrasi antara ilmu pengetahuan, penelitian, dan pelayanan sosial. Dengan memahami keragaman genetik setiap pasien, diharapkan terapi hipertensi di masa depan dapat disesuaikan dengan karakteristik individu, sehingga lebih efektif dan berkelanjutan.

Pemeriksaan sampel darah oleh tenaga kesehatan dari Klinik UB

Sebuah Langkah Menuju Personalisasi Terapi

Melalui kegiatan ini, Departemen Farmasi FKUB menunjukkan bahwa sains tidak hanya hidup di laboratorium, tetapi juga berdenyut bersama masyarakat. Polimorfisme genetik bukan lagi konsep abstrak, melainkan pintu menuju masa depan kesehatan yang lebih adil dan manusiawi - di mana setiap individu dipahami sebagai pribadi yang unik.

Karena seperti halnya seni yang “polimorfik” menurut Georges Braque, setiap manusia pun adalah karya hidup dengan bentuk dan makna yang berbeda. Dan memahami perbedaan itulah, sejatinya, wujud tertinggi dari ilmu dan kemanusiaan. *** [241025]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo
Editor: Budiarto Eko Kusumo

Share:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Risk Checker

Risk Checker

Indeks Massa Tubuh

Supplied by BMI Calculator Canada

Statistik Blog

Sahabat eKader

Label

Arsip Blog